Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 52


Kita tua sama tua dan mari kita bertaruh. Kalau dalam pertandingan kita engkau kalah, engkau harus memenuhi permintaanku tadi dan permintaan Niken, yaitu engkau harus mencuri Cupu Manik Maya dari Istana Kahuripan dan engkau harus membebaskan Woro Sumarni dari penyiksaanmu untuk melampiaskan dendam dan cemburumu."
"Dan kalau aku yang menang, aku boleh bersikap sesuka hatiku terhadap isteriku, dan Niken Harni harus menjadi isteriku. Bagaimana, Gayatri, pertaruhan ini telah adil, bukan?"
"Baik! Kalau engkau kalah, engkau harus memenuhi permintaan kami tadi. Sebaliknya kalau aku yang kalah, aku tidak akan menghalangi apa yang hendak kau lakukan terhadap Woro Sumarni dan terhadap Niken Harni."
"Bagus! Mari kita lakukan pertandingan itu sekarang juga! Aku ingin cepat-cepat dapat menikmati pengantinan dengan Niken Harni. Gayatri, terus terang saja, aku belum pernah tertarik wanita lain, kecuali isteriku dan dulu aku pernah tergila-gila kepadamu. Sekarang, muridmu ini menjadi penggantimu. Ha-ha-ha-hal"
"Ruangan ini pun cukup luas untuk kita bertanding, Dibya. Mari kita mulai agar cepat selesai!" Nini Bumigarbo meninggalkan kursinya.

Niken Harni dan Woro Sumarni juga bangkit berdiri dan Niken cepat mendorong meja penuh hidangan itu ke pinggir sehingga ruangan itu menjadi semakin luas. Nini Bumigarbo sudah berdiri di tengah ruangan itu. Sambil menyeringai dan bersikap memandang rendah, Ki Dibya Krendasakti juga melangkah dan menghampiri Nini Bumigarbo. Tidak aneh kalau kakek itu memandang ringan calon lawannya. Bukan karena dia berwatak sombong, akan tetapi karena memang dulu, ketika mereka masih muda dan sudah saling mengenal, tingkat kepandaian Dibya Krendasakti memang lebih tinggi dibandingkan tingkat kepandaian Nini Bumigarbo. Pada waktu itu, kepandaian Dibya Krendasakti sudah tinggi dan setingkat dengan Ekadenta. Dan sejak itu, Dibya Krendasakti terus memperdalam imu-ilmunya sehingga kini dia menganggap ringan kepandaian Gayatri yang telah menjadi Nini Bumigarbo. Tentu saja dia tidak tahu betapa karena ditolak cintanya oleh Ekadenta dan dalam usahanya yang tiada hentinya ingin mengungguli kepandaian kakak seperguruannya itu, Nini Bumigarbo terus meningkatkan kepandaiannya, biarpun ia sudah semakin tua. Niken Harni yang merasa iba kepada Woro Sumarni, menarik dua buah kursi ke dekat dinding, menjauhi meja dimana terdapat tengkorak itu. Lalu dengan halus ia menggandeng tangan wanita itu dan mengajaknya duduk di atas kursi itu, menonton pertandingan. Akan tetapi setelah mereka duduk berdampingan, Woro Sumarni berkata lirih, suaranya penuh teguran.
"Niken, mengapa engkau lakukan ini? Engkau membuat aku susah saja."
"Eh? Bibi, aku melakukan ini untuk membelamu!"
"Tidak, Niken. Pertandingan itu akibatnya akan membuat aku susah. Kalau Mbakayu Gayatri menang, kemudian suamiku membiarkan aku pergi dan berpisah darinya, hidupku tidak ada artinya lagi. Kalau suamiku yang menang dan mengambilmu sebagai isteri, hal itu pun akan menghancurkan hatiku. Lebih baik aku mati daripada harus berpisah dari dia atau melihat dia mencinta wanita lain."
Niken terbelalak. Hati gadis muda ini terkejut dan heran, juga tidak mengerti.
"Bibi.... engkau.... engkau begitu amat mencintainya?"
"Tentu saja aku mencintainya, Anak bodoh."
Niken Harni tertegun dan bingung sehingga ia tidak mampu berkata-kata lagi. Apakah suami isteri itu keduanya sudah gila? Demikian pikirnya kebingungan. Woro Sumarni begitu mencinta suaminya sehingga biarpun sudah dua puluh lima tahun disiksa batinnya seperti itu, masih tetap mencintanya. Akan tetapi mengapa dulu ia menyeleweng dengan laki-laki lain? Sebaliknya Dibya Krendasakti sampai sekarang masih amat mencintai isterinya sehingga tidak mau membagi cintanya dengan wanita lain. Akan tetapi mengapa dia tidak mau memaafkan kesalahan isterinya itu dan menyiksa batinnya sedemikian kejamnya? Beginikah cinta? Ataukah mereka gila? Renungannya terhenti karena pada saat itu, Nini Bumigarbo sudah mulai mengadu kesaktian melawan Dibya Krendasakti. Dua orang datuk yang sakti mandraguna itu berdiri saling berhadapan dalam jarak sekitar sepuluh langkah. Nini Bumigarbo tersenyum mengejek dan berkata dengan suara tenang.
"Dibya Krendasakti, mulailah dan keluarkan semua aji kesaktianmu. Hendak kulihat sampai di mana sekarang kemajuanmu!"
Dibya Krendasakti menggerakkan kedua tangannya seperti menyembah di depan dada, kemudian matanya memandang dengan sinar mencorong dan mulutnya berkemak-kemik. Setelah beberapa lamanya, dia lalu membuka kedua lengannya, diangkat ke atas seperti orang berdoa dan dia lalu memukulkan kedua telapak tangannya ke depan dan berteriak lantang.
"Gayatri, sambutlah Aji Bajra Langking!"
Tiba-tiba terdengar suara seperti angin menderu dan banyak sinar hitam meluncur seperti puluhan batang anak panah menuju ke tubuh Nini Bumigarbo. Melihat serangan aji pukulan yang mengandung ilmu sihir ini, Nini Bumigarbo lalu menyambut dengan dorongan kedua telapak tangan ke depan sambil mengerahkan tenaga saktinya, juga diperkuat dengan daya sihirnya. Dari kedua telapak tangannya menyambar angin yang berpusing.
"Wuuuttt.... byarrr....!!" Dua tenaga sakti yang diperkuat ilmu sihir itu bertemu di udara, menggetarkan seluruh ruangan itu, bahkan Niken Harni merasa tubuhnya terguncang oleh getaran yang amat kuat sehingga ia harus menahan napas mengerahkan tenaga sakti untuk melindungi tubuhnya, terutama jantungnya. Ia melihat betapa Woro Sumarni tampak duduk tenang saja. Hal ini membuatnya kagum karena ia dapat menduga bahwa wanita cantik itu juga memiliki kesaktian sehingga mampu menahan getaran yang amat kuat itu.

Ketika dua tenaga sakti itu bertemu di udara, sinar kecil-kecil seperti puluhan batang anak panah itu terdorong dan membalik, lenyap kembali ke dalam kedua tangan Dibya Krendasakti. Nini Bumigarbo juga menarik kembali tenaganya dan tersenyum.
"Apakah masih ada lainnya, Dibya Krendasakti? Keluarkan semua ilmumu!"
Dibya Krendasakti terkejut bukan main. Dia tadi telah mengerahkan Aji Pukulan Bajra Langking, akan tetapi ternyata lawannya dapat menyambut dan membuyarkan serangannya. Tak disangkanya Gayatri kini memiliki tenaga sakti yang sedemikian kuatnya. Dia merasa penasaran sekali, maklum bahwa menggunakan aji pukulan yang mengandung sihir itu tidak ada gunanya dan tidak akan dapat mengalahkan lawan. Maka dia lalu mengerahkan serangan yang menggempur lawan melalui suara. Dia menekuk kedua lututnya, membuka mulutnya dan keluarlah gerengan yang amat dahsyat, menggetar dan menggelora. Tidak lantang benar, namun suara pekik itu seperti gelombang lautan yang datang menerjang, mula-mula perlahan, namun semakin lama menjadi semakin kuat dan getarannya membuat perabot ruangan itu bergoyang. Kembali Niken Harni harus mengerahkan seluruh tenaga saktinya untuk melindungi dirinya. Bahkan ia terpaksa memejamkan kedua matanya dan menulikan pendengarannya, memusatkan tenaga untuk melindungi otak dan jantungnya. Menghadapi serangan pekik yang dahsyat itu, Nini Bumigarbo tiba-tiba tertawa cekikikan. Akan tetapi suara tawa ini juga mengandung getaran hebat yang menyambut dan menolak pengaruh pekik yang dikeluarkan lawannya. Dua suara yang berlainan itu seolah saling mendorong dan saling menyerang. Akhirnya perlahan-lahan pekik itu melemah dan suara tawa Nini Bumigarbo juga ikut melemah dan keduanya berhenti. Suasana menjadi lengang setelah dua suara itu berhenti. Namun dalam telinga Niken Harni yang menghentikan pengerahan tenaganya, masih terngiang-ngiang.
"Bagaimana, Dibya? Masih ada lagi?" tanya Nun Bumigarbo dengan senyum mengejek.
Ki Dibya Krendasakti semakin terkejut dan penasaran. Tahulah dia bahwa dalam hal daya sihir dan tenaga sakti, dia tidak akan mampu mengalahkan lawannya. Maka dia akan mengajak nenek itu bertanding lewat ketangkasan dan keahlian dalam gerakan silat. Dia lalu menyambar gendewa besar yang tadi dia letakkan di atas meja.
"Gayatri, kalau memang engkau sakti, mari kita menguji tebalnya kulit kerasnya tulang dan ketangkasan ilmu silat kita! Keluarkan senjatamu untuk menandingi senjata pusaka gendewaku Ini!"
Nini Bumigarbo adalah seorang datuk yang sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali dalam aji kanuragan, maka ia hampir tidak pernah menggunakan senjata untuk memperkuat dirinya. Seluruh tubuhnya, kaki tangan, balikan rambutnya, dapat menjadi senjata yang amat ampuh. Juga ia memiliki senjata rahasia berupa segenggam pasir yang amat ampuh karena setiap butir pasir sakti ini sudah cukup untuk meracuni tubuh lawan dan membinasakannya. Akan tetapi kini ia menghadapi Dibya Krendasakti dan ia tahu bahwa gendewa di tangan lawan ini amat ampuh. Gendewa itu adalah sebuah senjata yang termasuk keras. Maka ia lalu melolos sehelai sabuk hitam yang panjangnya hanya sekitar lima kaki, sabuk dari kain tebal yang kuat. Sebetulnya ini hanyalah sabuk biasa, bukan senjata. Akan tetapi bagi nenek yang sakti ini, setiap benda apa saja dapat ia pergunakan sebagai senjata, ia memilih sabuk yang lemas untuk menandingi gendewa lawan yang keras. Sambil merentangkan sabuk hitam itu dengan kedua tangannya, Nini Bumigarbo berkata,
"Dibya, majulah. Ingin aku membuktikan betapa ampuhnya gendewa di tanganmu itu!"
Ki Dibya Krendasakti mengeluarkan bentakan nyaring dan menerjang maju dengan serangan yang dahsyat. Karena dia maklum betul betapa saktinya Nini Bumigarbo, maka begitu menyerang dia langsung mengeluarkan jurus-jurus terampuhnya. Namun, dengan gerakan lincah dan tenang saja Nini Bumigarbo menyambut serangan itu dengan sabuk hitamnya. Mereka saling serang dengan dahsyatnya, menggerakkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua jurus terampuh dan aji pamungkas mereka. Namun, keduanya memiliki pertahanan yang kokoh kuat, tidak mudah didesak lawan. Niken Hami sampai merasa pening menyaksikan pertandingan yang amat hebat itu. Seluruh ruangan itu seolah terguncang. Seakan-akan ada dua ekor gajah yang sedang berkelahi mati-matian di ruangan itu, bukan seorang kakek dan seorang nenek! Dua orang itu lenyap tidak tampak bentuknya lagi. Yang tampak hanya bayangan dua orang berkelebatan telah menjadi banyak, diselubungi sinar hitam sabuk di tangan Nini Bumigarbo dan sinar keabuan dari gendewa Dibya Krendasakti. Suara yang terdengar hanya desiran angin, terkadang bersuitan dan berdesingan seperti suara senjata tajam meluncur. Terkadang terdengar bunyi nyaring ketika sabuk bertemu gendewa dan tampak bunga api perpijar-pijar!

Tidak disangka oleh Niken Harni bahwa pertandingan itu akan sedemikian hebatnya, ia sendiri sampai mengeluarkan keringat dingin saking tegangnya. Kalau ia menoleh dan memandang kepada Woro Surnarni, ia melihat wanita cantik itu menonton tanpa berkedip. Sepasang alisnya berkerut dan wajahnya tampak tegang dan gelisah. Diam-diam ia merasa semakin iba dan juga terheran-heran. Wanita ini sungguh amat mencinta suaminya. Inikah yang disebut cinta yang sesungguhnya, ataukah ia mencinta seperti itu karena merasa menyesal akan penyelewengannya dahulu? Ia tidak tahu dan tidak akan pernah mengerti. Kini mulai terdengar pernapasan Dibya Krendasakti yang terengah-engah. Sebaliknya, Nini Bumigarbo masih tenang dan teguh seperti sebelum bertanding. Dari kenyataan ini saja dapat dimengerti bahwa tingkat kepandaian Nini Bumigarbo masih lebih unggul. Sebetulnya kalau dibuat perbandingan, tingkat ilmu yang mereka peiajari dan kuasai tidak banyak selisihnya. Akan tetapi yang berbeda adalah daya tahan tubuh mereka. Hal ini dapat dimengerti, Dibya Krendasokti telah beristeri selama hampir tiga puluh tahun dan dia pun selama dua puluh lima tahun sebetulnya mengalami tekanan batin yang amat hebat, namun ditahan dan disembunyikan di balik cintanya terhadap isterinya. Juga dia jarang berlatih setelah hidup sebagai raja kecil di Nusa Barung. Sebaliknya, Nini Bumigarbo adalah seorang wanita yang tidak pernah menikah, seorang yang masih perawan, dan selain itu, sampai dua tahun yang lalupun ia masih tekun berlatih untuk menambah ilmu dan memperkuat diri dalam usahanya mengalahkan Bhagawan Ekadenta. Maka dalam pertandingan ini, Nini Bumigarbo memiliki kelebihan dalam kekuatan dan daya tahan tubuh.
"Sambut ini, Dibya!" terdengar bentakan nyaring.
"Syuuuuttt.... krakk...!" Tubuh Dibya Krendasakti terdorong ke belakang dan terhuyung-huyung. Gendewanya patah dan wajahnya pucat, napasnya terengah-engah dan dia menggunakan tangan kiri untuk menekan dadanya yang terasa sesak terkena pukulan tangan kiri Nini Bumigarbo.
"Kakangmas....!!" Woro Sumarni melompat dari tempat duduknya dan begitu dekat dengan suaminya, ia merangkul dengan penuh kasih sayang dan kekhawatiran.
"Engkau tidak apa-apa, Kakangmas... ...?" tanyanya sambil meraba dada suaminya.
Dibya Krendasakti merangkul pundak isterinya.
"Tidak apa-apa, Diajeng. Gayatri agaknya masih teringat akan persahabatan masa lalu maka ia tidak menurunkan tangan maut kepadaku. Dan agaknya sudah tiba saatnya bahwa aku harus membebaskanmu, Diajeng. Ah, biarlah aku menderita dan mati kalau engkau tega meninggalkan aku, Diajeng Woro Surnarni..." Kakek yang gagah perkasa itu kini tampak berduka dan memandang wajah isterinya penuh permohonan.

<<< Bagian 51                                                                                          Bagian 53 >>>

No comments:

Post a Comment