Kita tua sama tua dan mari kita bertaruh. Kalau dalam pertandingan kita engkau kalah, engkau harus memenuhi permintaanku tadi dan permintaan Niken, yaitu engkau harus mencuri Cupu Manik Maya dari Istana Kahuripan dan engkau harus membebaskan Woro Sumarni dari penyiksaanmu untuk melampiaskan dendam dan cemburumu."
"Dan
kalau aku yang menang, aku boleh bersikap sesuka hatiku terhadap isteriku, dan
Niken Harni harus menjadi isteriku. Bagaimana, Gayatri, pertaruhan ini telah
adil, bukan?"
"Baik!
Kalau engkau kalah, engkau harus memenuhi permintaan kami tadi. Sebaliknya
kalau aku yang kalah, aku tidak akan menghalangi apa yang hendak kau lakukan
terhadap Woro Sumarni dan terhadap Niken Harni."
"Bagus!
Mari kita lakukan pertandingan itu sekarang juga! Aku ingin cepat-cepat dapat
menikmati pengantinan dengan Niken Harni. Gayatri, terus terang saja, aku belum
pernah tertarik wanita lain, kecuali isteriku dan dulu aku pernah tergila-gila
kepadamu. Sekarang, muridmu ini menjadi penggantimu. Ha-ha-ha-hal"
"Ruangan
ini pun cukup luas untuk kita bertanding, Dibya. Mari kita mulai agar cepat
selesai!" Nini Bumigarbo meninggalkan kursinya.
Niken Harni
dan Woro Sumarni juga bangkit berdiri dan Niken cepat mendorong meja penuh
hidangan itu ke pinggir sehingga ruangan itu menjadi semakin luas. Nini
Bumigarbo sudah berdiri di tengah ruangan itu. Sambil menyeringai dan bersikap
memandang rendah, Ki Dibya Krendasakti juga melangkah dan menghampiri Nini
Bumigarbo. Tidak aneh kalau kakek itu memandang ringan calon lawannya. Bukan
karena dia berwatak sombong, akan tetapi karena memang dulu, ketika mereka
masih muda dan sudah saling mengenal, tingkat kepandaian Dibya Krendasakti
memang lebih tinggi dibandingkan tingkat kepandaian Nini Bumigarbo. Pada waktu
itu, kepandaian Dibya Krendasakti sudah tinggi dan setingkat dengan Ekadenta.
Dan sejak itu, Dibya Krendasakti terus memperdalam imu-ilmunya sehingga kini
dia menganggap ringan kepandaian Gayatri yang telah menjadi Nini Bumigarbo.
Tentu saja dia tidak tahu betapa karena ditolak cintanya oleh Ekadenta dan
dalam usahanya yang tiada hentinya ingin mengungguli kepandaian kakak
seperguruannya itu, Nini Bumigarbo terus meningkatkan kepandaiannya, biarpun ia
sudah semakin tua. Niken Harni yang merasa iba kepada Woro Sumarni, menarik dua
buah kursi ke dekat dinding, menjauhi meja dimana terdapat tengkorak itu. Lalu
dengan halus ia menggandeng tangan wanita itu dan mengajaknya duduk di atas
kursi itu, menonton pertandingan. Akan tetapi setelah mereka duduk
berdampingan, Woro Sumarni berkata lirih, suaranya penuh teguran.
"Niken,
mengapa engkau lakukan ini? Engkau membuat aku susah saja."
"Eh?
Bibi, aku melakukan ini untuk membelamu!"
"Tidak,
Niken. Pertandingan itu akibatnya akan membuat aku susah. Kalau Mbakayu Gayatri
menang, kemudian suamiku membiarkan aku pergi dan berpisah darinya, hidupku
tidak ada artinya lagi. Kalau suamiku yang menang dan mengambilmu sebagai
isteri, hal itu pun akan menghancurkan hatiku. Lebih baik aku mati daripada
harus berpisah dari dia atau melihat dia mencinta wanita lain."
Niken
terbelalak. Hati gadis muda ini terkejut dan heran, juga tidak mengerti.
"Bibi....
engkau.... engkau begitu amat mencintainya?"
"Tentu
saja aku mencintainya, Anak bodoh."
Niken Harni
tertegun dan bingung sehingga ia tidak mampu berkata-kata lagi. Apakah suami
isteri itu keduanya sudah gila? Demikian pikirnya kebingungan. Woro Sumarni
begitu mencinta suaminya sehingga biarpun sudah dua puluh lima tahun disiksa
batinnya seperti itu, masih tetap mencintanya. Akan tetapi mengapa dulu ia
menyeleweng dengan laki-laki lain? Sebaliknya Dibya Krendasakti sampai sekarang
masih amat mencintai isterinya sehingga tidak mau membagi cintanya dengan
wanita lain. Akan tetapi mengapa dia tidak mau memaafkan kesalahan isterinya
itu dan menyiksa batinnya sedemikian kejamnya? Beginikah cinta? Ataukah mereka
gila? Renungannya terhenti karena pada saat itu, Nini Bumigarbo sudah mulai
mengadu kesaktian melawan Dibya Krendasakti. Dua orang datuk yang sakti
mandraguna itu berdiri saling berhadapan dalam jarak sekitar sepuluh langkah.
Nini Bumigarbo tersenyum mengejek dan berkata dengan suara tenang.
"Dibya
Krendasakti, mulailah dan keluarkan semua aji kesaktianmu. Hendak kulihat
sampai di mana sekarang kemajuanmu!"
Dibya
Krendasakti menggerakkan kedua tangannya seperti menyembah di depan dada,
kemudian matanya memandang dengan sinar mencorong dan mulutnya berkemak-kemik.
Setelah beberapa lamanya, dia lalu membuka kedua lengannya, diangkat ke atas
seperti orang berdoa dan dia lalu memukulkan kedua telapak tangannya ke depan
dan berteriak lantang.
"Gayatri,
sambutlah Aji Bajra Langking!"
Tiba-tiba
terdengar suara seperti angin menderu dan banyak sinar hitam meluncur seperti
puluhan batang anak panah menuju ke tubuh Nini Bumigarbo. Melihat serangan aji
pukulan yang mengandung ilmu sihir ini, Nini Bumigarbo lalu menyambut dengan
dorongan kedua telapak tangan ke depan sambil mengerahkan tenaga saktinya, juga
diperkuat dengan daya sihirnya. Dari kedua telapak tangannya menyambar angin
yang berpusing.
"Wuuuttt....
byarrr....!!" Dua tenaga sakti yang diperkuat ilmu sihir itu bertemu di
udara, menggetarkan seluruh ruangan itu, bahkan Niken Harni merasa tubuhnya
terguncang oleh getaran yang amat kuat sehingga ia harus menahan napas
mengerahkan tenaga sakti untuk melindungi tubuhnya, terutama jantungnya. Ia
melihat betapa Woro Sumarni tampak duduk tenang saja. Hal ini membuatnya kagum
karena ia dapat menduga bahwa wanita cantik itu juga memiliki kesaktian
sehingga mampu menahan getaran yang amat kuat itu.
Ketika dua
tenaga sakti itu bertemu di udara, sinar kecil-kecil seperti puluhan batang
anak panah itu terdorong dan membalik, lenyap kembali ke dalam kedua tangan
Dibya Krendasakti. Nini Bumigarbo juga menarik kembali tenaganya dan tersenyum.
"Apakah
masih ada lainnya, Dibya Krendasakti? Keluarkan semua ilmumu!"
Dibya
Krendasakti terkejut bukan main. Dia tadi telah mengerahkan Aji Pukulan Bajra
Langking, akan tetapi ternyata lawannya dapat menyambut dan membuyarkan
serangannya. Tak disangkanya Gayatri kini memiliki tenaga sakti yang sedemikian
kuatnya. Dia merasa penasaran sekali, maklum bahwa menggunakan aji pukulan yang
mengandung sihir itu tidak ada gunanya dan tidak akan dapat mengalahkan lawan.
Maka dia lalu mengerahkan serangan yang menggempur lawan melalui suara. Dia
menekuk kedua lututnya, membuka mulutnya dan keluarlah gerengan yang amat dahsyat,
menggetar dan menggelora. Tidak lantang benar, namun suara pekik itu seperti
gelombang lautan yang datang menerjang, mula-mula perlahan, namun semakin lama
menjadi semakin kuat dan getarannya membuat perabot ruangan itu bergoyang.
Kembali Niken Harni harus mengerahkan seluruh tenaga saktinya untuk melindungi
dirinya. Bahkan ia terpaksa memejamkan kedua matanya dan menulikan
pendengarannya, memusatkan tenaga untuk melindungi otak dan jantungnya.
Menghadapi serangan pekik yang dahsyat itu, Nini Bumigarbo tiba-tiba tertawa
cekikikan. Akan tetapi suara tawa ini juga mengandung getaran hebat yang
menyambut dan menolak pengaruh pekik yang dikeluarkan lawannya. Dua suara yang
berlainan itu seolah saling mendorong dan saling menyerang. Akhirnya
perlahan-lahan pekik itu melemah dan suara tawa Nini Bumigarbo juga ikut
melemah dan keduanya berhenti. Suasana menjadi lengang setelah dua suara itu
berhenti. Namun dalam telinga Niken Harni yang menghentikan pengerahan
tenaganya, masih terngiang-ngiang.
"Bagaimana,
Dibya? Masih ada lagi?" tanya Nun Bumigarbo dengan senyum mengejek.
Ki Dibya
Krendasakti semakin terkejut dan penasaran. Tahulah dia bahwa dalam hal daya
sihir dan tenaga sakti, dia tidak akan mampu mengalahkan lawannya. Maka dia
akan mengajak nenek itu bertanding lewat ketangkasan dan keahlian dalam gerakan
silat. Dia lalu menyambar gendewa besar yang tadi dia letakkan di atas meja.
"Gayatri,
kalau memang engkau sakti, mari kita menguji tebalnya kulit kerasnya tulang dan
ketangkasan ilmu silat kita! Keluarkan senjatamu untuk menandingi senjata
pusaka gendewaku Ini!"
Nini Bumigarbo
adalah seorang datuk yang sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali dalam aji
kanuragan, maka ia hampir tidak pernah menggunakan senjata untuk memperkuat
dirinya. Seluruh tubuhnya, kaki tangan, balikan rambutnya, dapat menjadi
senjata yang amat ampuh. Juga ia memiliki senjata rahasia berupa segenggam
pasir yang amat ampuh karena setiap butir pasir sakti ini sudah cukup untuk
meracuni tubuh lawan dan membinasakannya. Akan tetapi kini ia menghadapi Dibya
Krendasakti dan ia tahu bahwa gendewa di tangan lawan ini amat ampuh. Gendewa
itu adalah sebuah senjata yang termasuk keras. Maka ia lalu melolos sehelai
sabuk hitam yang panjangnya hanya sekitar lima kaki, sabuk dari kain tebal yang
kuat. Sebetulnya ini hanyalah sabuk biasa, bukan senjata. Akan tetapi bagi
nenek yang sakti ini, setiap benda apa saja dapat ia pergunakan sebagai
senjata, ia memilih sabuk yang lemas untuk menandingi gendewa lawan yang keras.
Sambil merentangkan sabuk hitam itu dengan kedua tangannya, Nini Bumigarbo
berkata,
"Dibya,
majulah. Ingin aku membuktikan betapa ampuhnya gendewa di tanganmu itu!"
Ki Dibya
Krendasakti mengeluarkan bentakan nyaring dan menerjang maju dengan serangan
yang dahsyat. Karena dia maklum betul betapa saktinya Nini Bumigarbo, maka
begitu menyerang dia langsung mengeluarkan jurus-jurus terampuhnya. Namun,
dengan gerakan lincah dan tenang saja Nini Bumigarbo menyambut serangan itu
dengan sabuk hitamnya. Mereka saling serang dengan dahsyatnya, menggerakkan
seluruh tenaga dan mengeluarkan semua jurus terampuh dan aji pamungkas mereka.
Namun, keduanya memiliki pertahanan yang kokoh kuat, tidak mudah didesak lawan.
Niken Hami sampai merasa pening menyaksikan pertandingan yang amat hebat itu.
Seluruh ruangan itu seolah terguncang. Seakan-akan ada dua ekor gajah yang
sedang berkelahi mati-matian di ruangan itu, bukan seorang kakek dan seorang
nenek! Dua orang itu lenyap tidak tampak bentuknya lagi. Yang tampak hanya
bayangan dua orang berkelebatan telah menjadi banyak, diselubungi sinar hitam
sabuk di tangan Nini Bumigarbo dan sinar keabuan dari gendewa Dibya
Krendasakti. Suara yang terdengar hanya desiran angin, terkadang bersuitan dan
berdesingan seperti suara senjata tajam meluncur. Terkadang terdengar bunyi
nyaring ketika sabuk bertemu gendewa dan tampak bunga api perpijar-pijar!
Tidak disangka
oleh Niken Harni bahwa pertandingan itu akan sedemikian hebatnya, ia sendiri
sampai mengeluarkan keringat dingin saking tegangnya. Kalau ia menoleh dan
memandang kepada Woro Surnarni, ia melihat wanita cantik itu menonton tanpa
berkedip. Sepasang alisnya berkerut dan wajahnya tampak tegang dan gelisah.
Diam-diam ia merasa semakin iba dan juga terheran-heran. Wanita ini sungguh
amat mencinta suaminya. Inikah yang disebut cinta yang sesungguhnya, ataukah ia
mencinta seperti itu karena merasa menyesal akan penyelewengannya dahulu? Ia
tidak tahu dan tidak akan pernah mengerti. Kini mulai terdengar pernapasan
Dibya Krendasakti yang terengah-engah. Sebaliknya, Nini Bumigarbo masih tenang
dan teguh seperti sebelum bertanding. Dari kenyataan ini saja dapat dimengerti
bahwa tingkat kepandaian Nini Bumigarbo masih lebih unggul. Sebetulnya kalau
dibuat perbandingan, tingkat ilmu yang mereka peiajari dan kuasai tidak banyak
selisihnya. Akan tetapi yang berbeda adalah daya tahan tubuh mereka. Hal ini
dapat dimengerti, Dibya Krendasokti telah beristeri selama hampir tiga puluh
tahun dan dia pun selama dua puluh lima tahun sebetulnya mengalami tekanan
batin yang amat hebat, namun ditahan dan disembunyikan di balik cintanya
terhadap isterinya. Juga dia jarang berlatih setelah hidup sebagai raja kecil
di Nusa Barung. Sebaliknya, Nini Bumigarbo adalah seorang wanita yang tidak
pernah menikah, seorang yang masih perawan, dan selain itu, sampai dua tahun
yang lalupun ia masih tekun berlatih untuk menambah ilmu dan memperkuat diri
dalam usahanya mengalahkan Bhagawan Ekadenta. Maka dalam pertandingan ini, Nini
Bumigarbo memiliki kelebihan dalam kekuatan dan daya tahan tubuh.
"Sambut
ini, Dibya!" terdengar bentakan nyaring.
"Syuuuuttt....
krakk...!" Tubuh Dibya Krendasakti terdorong ke belakang dan
terhuyung-huyung. Gendewanya patah dan wajahnya pucat, napasnya terengah-engah
dan dia menggunakan tangan kiri untuk menekan dadanya yang terasa sesak terkena
pukulan tangan kiri Nini Bumigarbo.
"Kakangmas....!!"
Woro Sumarni melompat dari tempat duduknya dan begitu dekat dengan suaminya, ia
merangkul dengan penuh kasih sayang dan kekhawatiran.
"Engkau
tidak apa-apa, Kakangmas... ...?" tanyanya sambil meraba dada suaminya.
Dibya
Krendasakti merangkul pundak isterinya.
"Tidak
apa-apa, Diajeng. Gayatri agaknya masih teringat akan persahabatan masa lalu
maka ia tidak menurunkan tangan maut kepadaku. Dan agaknya sudah tiba saatnya
bahwa aku harus membebaskanmu, Diajeng. Ah, biarlah aku menderita dan mati
kalau engkau tega meninggalkan aku, Diajeng Woro Surnarni..." Kakek yang
gagah perkasa itu kini tampak berduka dan memandang wajah isterinya penuh
permohonan.
No comments:
Post a Comment