"Tidak, Kakangmas. Aku tidak pernah meninggalkanmu, sampai aku mati...!"
"Diajeng....
aduh, baru sekarang aku menyadari betapa kejamnya aku kepadamu. Diajeng, maukah
engkau mengampuni aku...? Aku tidak ingin kehilangan engkau, Diajeng, kalau
engkau pergi meninggalkan aku, aku tidak akan menghalangi, akan tetapi berarti
engkau membunuh aku...."
"Tidak,
Kakangmas, tidak....!" Suami isteri itu berangkulan dan bertangisan.
Niken Harni
bengong terlongong menyaksikan ini.
"He-he-hi-hi-hik!
Bertangis-tangisan! Alangkah mesranya, alangkah mengharukan! Dibya, engkau
mengaku kalah?" Nini Bumigarbo bertanya.
Sambil
merangkul pinggang isterinya dengan tangan kiri dan membawa isterinya duduk
kembali ke kursinya, Dibya Krendasakti menjawab.
"Aku
mengaku kalah, Gayatri. Engkau memang hebat sekali. Bahkan aku tahu, kalau
engkau menghendaki, agaknya sudah sejak tadi aku roboh dan tewas di
tanganmu."
"Ihh,
tidak begitu mudah, Dibya. Engkaulah lawanku yang paling tangguh selama ini,
tentu saja di bawah kesaktian Bhagawan Ekadenta. Nah, sekarang engkau mau
memenuhi permintaan kami berdua, bukan?"
"Tentu
saja, Gayatri!" Dibya Krendasakti lalu bertepuk tangan tiga kali.
Lima orang
anak buah laki-laki bermunculan dari pintu. Mereka tadi tidak berani menonton
atau mendengarkan, namun tepuk tangan yang nyaring tiga kali ini merupakan
perintah panggilan yang harus mereka taati.
"Hayo
kalian cepat bawa pergi tengkorak itu dan kuburkan di dalam makam Kunarpo di
bukit kecil itu. Kalian sudah tahu dimana makam itu. Kubur baik-baik dan dengan
penuh penghormatan!"
Lima orang
murid itu menyanggupi dan mereka lalu membawa tengkorak bersama bakinya keluar
dari ruangan itu. Niken Harni melihat betapa kini wajah Woro Surnarni
berseri-seri dan tampak semakin cantik. Agaknya kehidupan baru yang gemilang
dan bahagia menanti di depannya. Juga wajah Dibya Krendasaktl tampak berseri,
sepasang matanya bersinar-sinar penuh kegembiraan.
"Gayatri,
Niken Harni, sekarang marilah kita makan minum dulu, baru nanti kita bicara!
Diajeng Woro Sumarni, sekarang tidak perlu lagi memanggil pelayan. Mereka hanya
mengganggu saja. Biar tanganmu sendiri yang melayani aku dan tamu-tamu kita
ini."
Woro Sumarni tersenyum
dan menyentuh pundak Nini Bumigarbo.
"Mbakayu
Gayatri, aku sungguh merasa girang sekali bahwa engkau masih ingat kepada kami
dan suka datang berkunjung. Terima kasih, Mbakayu, terima kasih. Ternyata
kunjunganrnu mendatangkan berkah dan kami berdua merasa mendapatkan hidup baru
yang cerah."
"Benar
kata isteriku, Gayatri. Kini tidak ada lagi penghalang di antara cinta kami
berdua. Semua halangan itu merupakan masa lalu yang sudah kami lupakan
semua."
Gayatri
tersenyum, akan tetapi senyumnya masam.
"Aku
tetap saja tidak percaya kepada laki-laki. Semua omongan laki-laki terhadap
wanita itu gombal belaka, merayu dan mengambil hati, akan tetapi sebetulnya
palsu!"
"Akan
tetapi suamiku tidak, Mbakayu.....”
"Ah,
sudahlah. Aku tidak mau bicara lagi tentang kepalsuan laki-laki. Hayo kita
makan setelah itu baru kita bicara tentang kesanggupan Dibya Krendasaktil"
Mereka lalu
makan minum dan Niken Harni melihat betapa Woro Surnarni benar-benar tampak
gembira dan bahagia, melayani suaminya dengan sikap lembut dan mesra. Juga
wajah Dibya Krendasakti tampak bahagia, terlihat dari sinar matanya yang
terang, tidak seperti tadi yang suram mengandung kekerasan. Sehabis makan, Nini
Bumigarbo segera mengajak Dibya Krendasakti bicara.
"Aku akan
memegang teguh janjiku, Gayatri. Aku sudah kalah dan aku telah pula memenuhi
permintaan Niken Harni, yaitu memberi kebebasan kepada isteriku. Sekarang, kita
bicara tentang permintaanmu agar aku mencuri pusaka Kahuripan, yaitu Cupu Manik
Maya."
"Memang
seharusnya begitu, Dibya. Lebih dulu perlu engkau ketahui tentang bangunan
istana dan di mana pusaka yang kumaksudkan itu di simpan. Nah, dengarkan
baik-baik, akan kugambarkan keadaan istana Kahnripan." Nini Bumigarbo lalu
memberi penjelasan tentang keadaan Istana Kahuripan, dari mana Dibya
Krendasakti dapat masuk tanpa banyak halangan dan di mana pula letaknya Gedung
Pusaka. Setelah Nini Bumigarbo selesai memberi keterangan, Ki Dibya Krendasakti
mengangguk-angguk.
"Aku
sudah paham, Gayatri dan percayalah, aku pasti akan berhasil mencuri pusaka
Cupu Manik Maya itu dari Gedung Pusaka Istana Kahuripan. Akan tetapi sebelum
aku pergi memenuhi permintaanmu, aku masih merasa penasaran, Gayatri. Engkau
memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi daripada aku. Kalau engkau turun
tangan sendiri mengambil pusaka itu, tentu akan dapat kau lakukan dengan mudah.
Akan tetapi mengapa engkau malah minta bantuan kepadaku?"
"Seperti
telah kukatakan tadi, aku tidak bisa turun tangan sendiri karena aku sudah
berjanji untuk tidak mengganggu Erlangga dan Narotama dengan tanganku sendiri.
Aku sudah berjanji kepada.... Bhagawan Ekadenta yang melindungi raja dan
patihnya itu. Nah, sudah jangan banyak bertanya lagi. Kapan engkau akan
berangkat melaksanakan pengambilan pusaka seperti yang sudah kau janjikan itu?"
"Hari ini
juga aku berangkat, Gayatri!"
"Kakangmas
Dibya, aku ikut. Aku akan membantumu!" kata Woro Surnarni.
"Aku
dapat membelamu kalau engkau terancam bahaya, Kakangmas. Aku mendengar bahwa
Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama adalah orang yang sakti mandraguna.
Aku khawatir engkau akan mengalami bencana."
"Hiah ha
ha, Waduh, sikapmu ini membuat aku merasa bahagia sekali, Diajeng! Ternyata
engkau memang amat mencintaku, siap membelaku. Terima kasih, Diajeng Woro
Surnarni, aku berjanji, mulai saat ini, aku akan lebih mencintamu dengan
seluruh jiwa ragaku! Akan tetapi, jangan khawatir. Mencuri pusaka dari Gedung
Pusaka Istana Kahuripan hanya merupakan permainan kanak-kanak bagiku!"
"Dibya
Krendasakti, seperti yang telah kukatakan kepadamu, setelah engkau berhasil
mencuri Cupu Manik Maya, benda pusaka itu boleh kau miliki. Aku tidak
membutuhkannya. Tentu saja engkau harus menjaganya sendiri dan menghadapi
segala akibatnya."
"Ha-ha-ha,
tentu saja, Gayatri."
"Nah,
sekarang aku dan Niken akan meninggalkan Nusa Barung, tolong kau sediakan
perahu penyeberangan ke daratan."
Dibya
Krendasakti memberi perintah kepada anak buahnya. Nini Bumigarbo dan Niken
Harni lalu berpamit kepada suami isteri itu, dan tak lama kemudian mereka
berdua sudah duduk dalam sebuah perahu yang didayung oleh dua orang anak buah
Nusa Barung dengan cepat.
Dengan ilmunya
berlari cepat yang membuat Puspa Dewi dapat berlari seperti terbang, gadis itu
yang mencari adik tirinya, Niken Harni, memasuki daerah Kerajaan Wengker. Ia
tahu bahwa daerah itu berbahaya. Di situ terdapat banyak orang sakti. Apalagi
kini yang menjadi adipati adalah Linggajaya, seorang pria yang jahat namun
sakti dan yang menjadi satu di antara musuh-musuhnya. Setelah dulu dalam
gerakan persekutuan antara tiga kerajaan kecil yang membantu pemberontakan di
Kahuripan, ia telah berbalik membela Kahuripan sehingga dianggap pengkhianat
oleh persekutuan, ia dianggap musuh oleh empat kerajaan itu. Kerajaan Wengker
dengan adipatinya Linggawijaya, Kerajaan Wura-Wuri dengan adipatinya Bhismaprabhawa
di mana gurunya, Nyi Dewi Durgakumala, kini menjadi permaisuri Wura-Wuri. Yang
ke tiga adalah Kerajaan Parang Siluman dengan adipatinya Ratu Wanita Durgamala
yang memiliki banyak pembantu sakti, di antaranya puteri-puterinya sendiri, Ni
Lasmini dan Ni Mandari, dan yang ke empat adalah Kerajaan Siluman Laut Kidul
dengan penguasanya Ratu Mayang Gupita, raksasa wanita yang sakti itu. Kini ia
memasuki wilayah Kerajaan Wengker, sebuah diantara empat kerajaan itu dan
Wengker dapat dikatakan sebagai yang terbesar dan terkuat di samping Kerajaan
Parang Siluman. Akan tetapi ia tidak merasa gentar. Ia harus dapat menemukan
Niken Harni dan kalau perlu ia akan menemui Adipati Linggawijaya sendiri untuk
minta agar adiknya itu dibebaskan, seandainya Niken Harni memang tertawan di
Wengker. Kerajaan Wengker adalah sebuah kerajaan yang cukup luas dan di daerah
itu memiliki ciri yang khas, yaitu bahwa para penduduknya sebagian besar
terdiri dari orang-orang yang pembawaannya kasar dan jarang terdapat wanita
cantik. Para prianya kebanyakan tinggi besar dan bertubuh kokoh kuat,
pembawaannya gagah dan keras. Jarang terdapat wanita cantik di antara penduduk
Wengker asli. Karena itu, ketika Puspa Dewi melakukan perjalanan memasuki
daerah Wengker, orang-orang yang bertemu dengannya memandang penuh perhatian
dan mereka merasa kagum sekali. Tentu saja Puspa Dewi tidak mempedulikan mereka
dan langsung saja ia melakukan perjalanan cepat menuju ke kota Kadipaten
Wengker.
Pada suatu
sore ia tiba di sebuah dusun di tepi sebuah sungai yaitu Kali Ngebel. Dusun
Nguter itu merupakan sebuah dusun yang cukup besar karena penduduknya dapat
hidup cukup makmur dengan hasil sawah ladang mereka yang subur karena
mendapatkan air yang cukup dari Kali Ngebel. Seperti juga di setiap tempat yang
ia lalui, ketika ia memasuki dusun itu pun, orang-orang yang melihatnya,
terutama orang-orang lelaki, memandangnya dengan tertarik dan penuh kagum.
Mereka jarang melihat wanita secantik Puspa Dewi dan mereka tahu bahwa gadis
ini adalah seorang asing karena di antara mereka tidak ada yang mengenalnya.
Puspa Dewi terpaksa menunda perjalanannya. Senja telah datang, ia harus
melewatkan malam di tempat ini. Ia tidak ingin ada orang di dusun itu yang
mencurigainya sehingga perjalanannya ke kota kadipaten akan mengalami banyak
gangguan. Karena itu, ia memilih tempat yang terpencil dan jauh dari perumahan,
di tepi sungai. Akan tetapi perutnya terasa lapar sekali. Ketika ia berjalan
perlahan di tepi sungai, ia melihat berkilatnya kulit ikan yang meluncur di
dalam air sungai yang bening itu. Sepasang matanya berkilat, wajahnya berseri.
Ada makanan tersedia di dalam air sungai, pikirnya. Puspa Dewi lalu mencari
sebatang ranting pohon dan meruncingi ujungnya. Setelah itu ia lalu berjalan
perlahan menyusuri tepi Kali Ngebet sambil memperhatikan ke arah air dengan
ranting runcing siap di tangan kanan. Tiba-tiba ia melihat bayangan beberapa
ekor ikan berenang di depannya. Cepat sekali ranting runcing itu meluncur dan
ujungnya yang kecil runcing sudah menembus kepala seekor ikan! Dengan girang
Puspa Dewi mengambil ikan itu dari tongkat runcingnya. Kemudian ia mengintai
lagi. Sedikitnya ia harus mendapatkan tiga ekor ikan untuk dapat mengenyangkan
perutnya yang lapar karena ikan itu pun tidak terlalu besar, hanya sebesar
pergeiangan tangannya. Akan tetapi agaknya gerakan di air ketika ia menangkap
seekor ikan tadi membuat ikan-ikan di dekat situ ketakutan. Terpaksa ia harus
berjalan terus, mencari ke bagian lain. Akhirnya ia berhasil memperoleh tiga
ekor ikan. Gadis yang sudah biasa melakukan perantauan ini dengan girang lalu
membuang isi perut ikan dan memanggang ikan-ikan itu di tepi sungai. Biarpun
ikan-ikan itu tidak diberi bumbu, dipanggang begitu saja, namun terasa cukup
lezat dan sebentar saja tiga ekor ikan itu tinggal kepala dan tulang saja yang
ia lemparkan ke dalam sungai. Puspa Dewi membersihkan tangan, lalu mencuci muka
dan kaki lengannya. Lalu ia mulai mencari tempat yang enak untuk melewatkan
malam. Ketika ia sedang mencari-cari tempat untuk mengaso melewatkan malam,
tiba-tiba ia mendengar jeritan suara wanita yang datangnya dari dalam hutan
kecil di tepi sungai. Cepat ia melompat dan berlari memasuki hutan kecil itu.
Tak jauh ia
berlari, ia melihat seorang laki laki bertubuh tinggi besar bermuka hitam,
berusia sekitar tiga puluh lima tahun, menarik-narik lengan seorang wanita muda
dan menyeretnya menuju ke sebuah guha yang berada di situ.
"Jangan....!
Lepaskan aku, lepaskan...! Tolooongggg....!!” Wanita muda itu menjerit-jerit.
"Ha-ha,
tidak ada yang akan mendengarmu. Andaikata ada pun siapa berani mencampuri
urusan Drohawisa? Diamlah dan aku tidak akan bertindak kasar terhadap
dirimu!" Tiba-tiba laki-laki tinggi besar itu menggerakkan kedua tangan
dan tahu-tahu dia telah memondong tubuh wanita yang meronta-ronta dan menjerit-jerit
itu.
"Lepaskan
aku....! Aku mau menolong suamiku.... lepaskan aku, kasihanilah aku....
suamiku.... ah, engkau telah membunuhnya...!" Wanita itu menangis.
"Ha-ha,
Wiyanti, engkau menurut saja padaku dan engkau akan hidup senang. Suamimu berani
menentangku, maka kubunuh dia dan kalau engkau selalu menolakku, akan kukirim
kau menyusul suamimu!"
"Bunuh
saja aku! Bunuh....!"
"Ha-ha-ha,
sayang kalau dibunuh!"
Tiba-tiba
terdengar bentakan nyaring.
"Jahanam
busuk!" dan Puspa Dewi telah berdiri menghadang di depan laki-laki yang
memondong tubuh wanita itu dan hendak memasuki guha.
Laki-laki yang
tadi mengaku bernama Drohawisa itu terkejut dan marah sekali melihat ada orang
berani menentangnya. Akan tetapi ketika dia melihat bahwa yang menghadang dan
memakinya itu adalah seorang gadis yang cantik jelita, dia terbelalak kagum dan
segera melepaskan tubuh wanita yang dipondongnya dengan kasar, seperti membuang
sebuah benda yang tidak berharga.
No comments:
Post a Comment