Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 53


"Tidak, Kakangmas. Aku tidak pernah meninggalkanmu, sampai aku mati...!"
"Diajeng.... aduh, baru sekarang aku menyadari betapa kejamnya aku kepadamu. Diajeng, maukah engkau mengampuni aku...? Aku tidak ingin kehilangan engkau, Diajeng, kalau engkau pergi meninggalkan aku, aku tidak akan menghalangi, akan tetapi berarti engkau membunuh aku...."
"Tidak, Kakangmas, tidak....!" Suami isteri itu berangkulan dan bertangisan.
Niken Harni bengong terlongong menyaksikan ini.
"He-he-hi-hi-hik! Bertangis-tangisan! Alangkah mesranya, alangkah mengharukan! Dibya, engkau mengaku kalah?" Nini Bumigarbo bertanya.
Sambil merangkul pinggang isterinya dengan tangan kiri dan membawa isterinya duduk kembali ke kursinya, Dibya Krendasakti menjawab.
"Aku mengaku kalah, Gayatri. Engkau memang hebat sekali. Bahkan aku tahu, kalau engkau menghendaki, agaknya sudah sejak tadi aku roboh dan tewas di tanganmu."
"Ihh, tidak begitu mudah, Dibya. Engkaulah lawanku yang paling tangguh selama ini, tentu saja di bawah kesaktian Bhagawan Ekadenta. Nah, sekarang engkau mau memenuhi permintaan kami berdua, bukan?"
"Tentu saja, Gayatri!" Dibya Krendasakti lalu bertepuk tangan tiga kali.

Lima orang anak buah laki-laki bermunculan dari pintu. Mereka tadi tidak berani menonton atau mendengarkan, namun tepuk tangan yang nyaring tiga kali ini merupakan perintah panggilan yang harus mereka taati.
"Hayo kalian cepat bawa pergi tengkorak itu dan kuburkan di dalam makam Kunarpo di bukit kecil itu. Kalian sudah tahu dimana makam itu. Kubur baik-baik dan dengan penuh penghormatan!"
Lima orang murid itu menyanggupi dan mereka lalu membawa tengkorak bersama bakinya keluar dari ruangan itu. Niken Harni melihat betapa kini wajah Woro Surnarni berseri-seri dan tampak semakin cantik. Agaknya kehidupan baru yang gemilang dan bahagia menanti di depannya. Juga wajah Dibya Krendasaktl tampak berseri, sepasang matanya bersinar-sinar penuh kegembiraan.
"Gayatri, Niken Harni, sekarang marilah kita makan minum dulu, baru nanti kita bicara! Diajeng Woro Sumarni, sekarang tidak perlu lagi memanggil pelayan. Mereka hanya mengganggu saja. Biar tanganmu sendiri yang melayani aku dan tamu-tamu kita ini."
Woro Sumarni tersenyum dan menyentuh pundak Nini Bumigarbo.
"Mbakayu Gayatri, aku sungguh merasa girang sekali bahwa engkau masih ingat kepada kami dan suka datang berkunjung. Terima kasih, Mbakayu, terima kasih. Ternyata kunjunganrnu mendatangkan berkah dan kami berdua merasa mendapatkan hidup baru yang cerah."
"Benar kata isteriku, Gayatri. Kini tidak ada lagi penghalang di antara cinta kami berdua. Semua halangan itu merupakan masa lalu yang sudah kami lupakan semua."
Gayatri tersenyum, akan tetapi senyumnya masam.
"Aku tetap saja tidak percaya kepada laki-laki. Semua omongan laki-laki terhadap wanita itu gombal belaka, merayu dan mengambil hati, akan tetapi sebetulnya palsu!"
"Akan tetapi suamiku tidak, Mbakayu.....”
"Ah, sudahlah. Aku tidak mau bicara lagi tentang kepalsuan laki-laki. Hayo kita makan setelah itu baru kita bicara tentang kesanggupan Dibya Krendasaktil"
Mereka lalu makan minum dan Niken Harni melihat betapa Woro Surnarni benar-benar tampak gembira dan bahagia, melayani suaminya dengan sikap lembut dan mesra. Juga wajah Dibya Krendasakti tampak bahagia, terlihat dari sinar matanya yang terang, tidak seperti tadi yang suram mengandung kekerasan. Sehabis makan, Nini Bumigarbo segera mengajak Dibya Krendasakti bicara.
"Aku akan memegang teguh janjiku, Gayatri. Aku sudah kalah dan aku telah pula memenuhi permintaan Niken Harni, yaitu memberi kebebasan kepada isteriku. Sekarang, kita bicara tentang permintaanmu agar aku mencuri pusaka Kahuripan, yaitu Cupu Manik Maya."
"Memang seharusnya begitu, Dibya. Lebih dulu perlu engkau ketahui tentang bangunan istana dan di mana pusaka yang kumaksudkan itu di simpan. Nah, dengarkan baik-baik, akan kugambarkan keadaan istana Kahnripan." Nini Bumigarbo lalu memberi penjelasan tentang keadaan Istana Kahuripan, dari mana Dibya Krendasakti dapat masuk tanpa banyak halangan dan di mana pula letaknya Gedung Pusaka. Setelah Nini Bumigarbo selesai memberi keterangan, Ki Dibya Krendasakti mengangguk-angguk.
"Aku sudah paham, Gayatri dan percayalah, aku pasti akan berhasil mencuri pusaka Cupu Manik Maya itu dari Gedung Pusaka Istana Kahuripan. Akan tetapi sebelum aku pergi memenuhi permintaanmu, aku masih merasa penasaran, Gayatri. Engkau memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi daripada aku. Kalau engkau turun tangan sendiri mengambil pusaka itu, tentu akan dapat kau lakukan dengan mudah. Akan tetapi mengapa engkau malah minta bantuan kepadaku?"
"Seperti telah kukatakan tadi, aku tidak bisa turun tangan sendiri karena aku sudah berjanji untuk tidak mengganggu Erlangga dan Narotama dengan tanganku sendiri. Aku sudah berjanji kepada.... Bhagawan Ekadenta yang melindungi raja dan patihnya itu. Nah, sudah jangan banyak bertanya lagi. Kapan engkau akan berangkat melaksanakan pengambilan pusaka seperti yang sudah kau janjikan itu?"
"Hari ini juga aku berangkat, Gayatri!"
"Kakangmas Dibya, aku ikut. Aku akan membantumu!" kata Woro Surnarni.
"Aku dapat membelamu kalau engkau terancam bahaya, Kakangmas. Aku mendengar bahwa Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama adalah orang yang sakti mandraguna. Aku khawatir engkau akan mengalami bencana."
"Hiah ha ha, Waduh, sikapmu ini membuat aku merasa bahagia sekali, Diajeng! Ternyata engkau memang amat mencintaku, siap membelaku. Terima kasih, Diajeng Woro Surnarni, aku berjanji, mulai saat ini, aku akan lebih mencintamu dengan seluruh jiwa ragaku! Akan tetapi, jangan khawatir. Mencuri pusaka dari Gedung Pusaka Istana Kahuripan hanya merupakan permainan kanak-kanak bagiku!"
"Dibya Krendasakti, seperti yang telah kukatakan kepadamu, setelah engkau berhasil mencuri Cupu Manik Maya, benda pusaka itu boleh kau miliki. Aku tidak membutuhkannya. Tentu saja engkau harus menjaganya sendiri dan menghadapi segala akibatnya."
"Ha-ha-ha, tentu saja, Gayatri."
"Nah, sekarang aku dan Niken akan meninggalkan Nusa Barung, tolong kau sediakan perahu penyeberangan ke daratan."
Dibya Krendasakti memberi perintah kepada anak buahnya. Nini Bumigarbo dan Niken Harni lalu berpamit kepada suami isteri itu, dan tak lama kemudian mereka berdua sudah duduk dalam sebuah perahu yang didayung oleh dua orang anak buah Nusa Barung dengan cepat.

Dengan ilmunya berlari cepat yang membuat Puspa Dewi dapat berlari seperti terbang, gadis itu yang mencari adik tirinya, Niken Harni, memasuki daerah Kerajaan Wengker. Ia tahu bahwa daerah itu berbahaya. Di situ terdapat banyak orang sakti. Apalagi kini yang menjadi adipati adalah Linggajaya, seorang pria yang jahat namun sakti dan yang menjadi satu di antara musuh-musuhnya. Setelah dulu dalam gerakan persekutuan antara tiga kerajaan kecil yang membantu pemberontakan di Kahuripan, ia telah berbalik membela Kahuripan sehingga dianggap pengkhianat oleh persekutuan, ia dianggap musuh oleh empat kerajaan itu. Kerajaan Wengker dengan adipatinya Linggawijaya, Kerajaan Wura-Wuri dengan adipatinya Bhismaprabhawa di mana gurunya, Nyi Dewi Durgakumala, kini menjadi permaisuri Wura-Wuri. Yang ke tiga adalah Kerajaan Parang Siluman dengan adipatinya Ratu Wanita Durgamala yang memiliki banyak pembantu sakti, di antaranya puteri-puterinya sendiri, Ni Lasmini dan Ni Mandari, dan yang ke empat adalah Kerajaan Siluman Laut Kidul dengan penguasanya Ratu Mayang Gupita, raksasa wanita yang sakti itu. Kini ia memasuki wilayah Kerajaan Wengker, sebuah diantara empat kerajaan itu dan Wengker dapat dikatakan sebagai yang terbesar dan terkuat di samping Kerajaan Parang Siluman. Akan tetapi ia tidak merasa gentar. Ia harus dapat menemukan Niken Harni dan kalau perlu ia akan menemui Adipati Linggawijaya sendiri untuk minta agar adiknya itu dibebaskan, seandainya Niken Harni memang tertawan di Wengker. Kerajaan Wengker adalah sebuah kerajaan yang cukup luas dan di daerah itu memiliki ciri yang khas, yaitu bahwa para penduduknya sebagian besar terdiri dari orang-orang yang pembawaannya kasar dan jarang terdapat wanita cantik. Para prianya kebanyakan tinggi besar dan bertubuh kokoh kuat, pembawaannya gagah dan keras. Jarang terdapat wanita cantik di antara penduduk Wengker asli. Karena itu, ketika Puspa Dewi melakukan perjalanan memasuki daerah Wengker, orang-orang yang bertemu dengannya memandang penuh perhatian dan mereka merasa kagum sekali. Tentu saja Puspa Dewi tidak mempedulikan mereka dan langsung saja ia melakukan perjalanan cepat menuju ke kota Kadipaten Wengker.

Pada suatu sore ia tiba di sebuah dusun di tepi sebuah sungai yaitu Kali Ngebel. Dusun Nguter itu merupakan sebuah dusun yang cukup besar karena penduduknya dapat hidup cukup makmur dengan hasil sawah ladang mereka yang subur karena mendapatkan air yang cukup dari Kali Ngebel. Seperti juga di setiap tempat yang ia lalui, ketika ia memasuki dusun itu pun, orang-orang yang melihatnya, terutama orang-orang lelaki, memandangnya dengan tertarik dan penuh kagum. Mereka jarang melihat wanita secantik Puspa Dewi dan mereka tahu bahwa gadis ini adalah seorang asing karena di antara mereka tidak ada yang mengenalnya. Puspa Dewi terpaksa menunda perjalanannya. Senja telah datang, ia harus melewatkan malam di tempat ini. Ia tidak ingin ada orang di dusun itu yang mencurigainya sehingga perjalanannya ke kota kadipaten akan mengalami banyak gangguan. Karena itu, ia memilih tempat yang terpencil dan jauh dari perumahan, di tepi sungai. Akan tetapi perutnya terasa lapar sekali. Ketika ia berjalan perlahan di tepi sungai, ia melihat berkilatnya kulit ikan yang meluncur di dalam air sungai yang bening itu. Sepasang matanya berkilat, wajahnya berseri. Ada makanan tersedia di dalam air sungai, pikirnya. Puspa Dewi lalu mencari sebatang ranting pohon dan meruncingi ujungnya. Setelah itu ia lalu berjalan perlahan menyusuri tepi Kali Ngebet sambil memperhatikan ke arah air dengan ranting runcing siap di tangan kanan. Tiba-tiba ia melihat bayangan beberapa ekor ikan berenang di depannya. Cepat sekali ranting runcing itu meluncur dan ujungnya yang kecil runcing sudah menembus kepala seekor ikan! Dengan girang Puspa Dewi mengambil ikan itu dari tongkat runcingnya. Kemudian ia mengintai lagi. Sedikitnya ia harus mendapatkan tiga ekor ikan untuk dapat mengenyangkan perutnya yang lapar karena ikan itu pun tidak terlalu besar, hanya sebesar pergeiangan tangannya. Akan tetapi agaknya gerakan di air ketika ia menangkap seekor ikan tadi membuat ikan-ikan di dekat situ ketakutan. Terpaksa ia harus berjalan terus, mencari ke bagian lain. Akhirnya ia berhasil memperoleh tiga ekor ikan. Gadis yang sudah biasa melakukan perantauan ini dengan girang lalu membuang isi perut ikan dan memanggang ikan-ikan itu di tepi sungai. Biarpun ikan-ikan itu tidak diberi bumbu, dipanggang begitu saja, namun terasa cukup lezat dan sebentar saja tiga ekor ikan itu tinggal kepala dan tulang saja yang ia lemparkan ke dalam sungai. Puspa Dewi membersihkan tangan, lalu mencuci muka dan kaki lengannya. Lalu ia mulai mencari tempat yang enak untuk melewatkan malam. Ketika ia sedang mencari-cari tempat untuk mengaso melewatkan malam, tiba-tiba ia mendengar jeritan suara wanita yang datangnya dari dalam hutan kecil di tepi sungai. Cepat ia melompat dan berlari memasuki hutan kecil itu.

Tak jauh ia berlari, ia melihat seorang laki laki bertubuh tinggi besar bermuka hitam, berusia sekitar tiga puluh lima tahun, menarik-narik lengan seorang wanita muda dan menyeretnya menuju ke sebuah guha yang berada di situ.
"Jangan....! Lepaskan aku, lepaskan...! Tolooongggg....!!” Wanita muda itu menjerit-jerit.
"Ha-ha, tidak ada yang akan mendengarmu. Andaikata ada pun siapa berani mencampuri urusan Drohawisa? Diamlah dan aku tidak akan bertindak kasar terhadap dirimu!" Tiba-tiba laki-laki tinggi besar itu menggerakkan kedua tangan dan tahu-tahu dia telah memondong tubuh wanita yang meronta-ronta dan menjerit-jerit itu.
"Lepaskan aku....! Aku mau menolong suamiku.... lepaskan aku, kasihanilah aku.... suamiku.... ah, engkau telah membunuhnya...!" Wanita itu menangis.
"Ha-ha, Wiyanti, engkau menurut saja padaku dan engkau akan hidup senang. Suamimu berani menentangku, maka kubunuh dia dan kalau engkau selalu menolakku, akan kukirim kau menyusul suamimu!"
"Bunuh saja aku! Bunuh....!"
"Ha-ha-ha, sayang kalau dibunuh!"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Jahanam busuk!" dan Puspa Dewi telah berdiri menghadang di depan laki-laki yang memondong tubuh wanita itu dan hendak memasuki guha.
Laki-laki yang tadi mengaku bernama Drohawisa itu terkejut dan marah sekali melihat ada orang berani menentangnya. Akan tetapi ketika dia melihat bahwa yang menghadang dan memakinya itu adalah seorang gadis yang cantik jelita, dia terbelalak kagum dan segera melepaskan tubuh wanita yang dipondongnya dengan kasar, seperti membuang sebuah benda yang tidak berharga.

<<< Bagian 52                                                                                         Bagian 54 >>>

No comments:

Post a Comment