Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 54


Wanita itu terbanting jatuh dan mengeluh kesakitan menangis lalu merangkak menjauhi laki-laki itu, duduk bersandar batang pohon dan menangis.
"Wah! Bidadari dari mana datang menemuiku? Cantik sekali engkau. Aduh .... beruntung sekali aku hari ini, mendapatkan seorang bidadari!"
Dahulu, Puspa Dewi adalah seorang gadis yang berwatak keras dan ganas. Hal ini adalah karena selama lima tahun ia digembleng dalam pendidikan Nyi Dewi Durgakumala yang sesat. Dulu, kalau bertemu orang yang dianggapnya musuh, tentu ia akan menurunkan tangan besi dan menghajar orang itu tanpa banyak bertanya lagi. Akan tetapi semenjak ia mendapat pendidikan Sang Maha Resi Satyadharma selama tiga bulan, wataknya berubah banyak. Biarpun kini ia marah sekali melihat Drohawisa menculik dan hendak memperkosa Wiyanti, namun la menahan diri sebelum mengetahui duduknya perkara. Maka, ia tidak mempedulikan ucapan Drohawisa tadi dan menghampiri Wiyanti yang duduk menangis sambil bersandar pada batang pohon itu.

Wanita itu berusia sekitar dua puluh lima tahun. Seperti kebanyakan wanita daerah Wengker, wanita ini pun memiliki bentuk tubuh yang tegap dan besar. Wajahnya termasuk sedang saja bagi wanita pada umumnya, namun bagi orang-orang Wengker, ia sudah dapat disebut manis dan menarik.
"Mbakayu, ceritakanlah apa yang telah terjadi? Jangan takut, aku akan melindungimu."
Dengan terisak-isak Wiyanti menceritakan betapa Drohawisa selalu menggoda dan membujuk-rayunya. Wiyanti yang sudah bersuami tentu saja menolak dan siang tadi, ketika Drohawisa menggodanya lagi, suami Wiyanti yang bernama Garino pulang dan menegur Drohawisa dengan marah melihat laki-laki itu menggoda isterinya. Terjadi perkelahian dan Garino dihajar oleh Drohawisa yang tentu saja jauh lebih kuat karena dia adalah seorang jagoan, murid seorang warok muda terkenal bernama Wirobento. Drohawisa menangkap dan melarikan Wiyanti, meninggalkan Garino yang roboh pingsan dengan tubuh menderita luka-luka akibat pukulan dan tendangan Drohawisa.
"Demikianlah, Mas Roro.... dia membawa aku sampai ke tempat ini.... dan aku tidak tahu bagaimana dengan nasib suamiku...."
Wiyanti mengakhiri ceritanya sambil menangis. Mendengar ini, sepasang mata Puspa Dewi mencorong ketika ia membalik dan menghadapi Drohawisa. Ia melihat betapa laki-laki berusia sekitar tiga puluh lima tahun yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam itu menyeringai dengan pandang mata seolah hendak menelan bulat-bulat gadis cantik jelita yang berdiri di depannya itu.
"Ha-ha-ha, sekarang juga akan membebaskanmu, Wiyanti. Aku tidak membutuhkan engkau lagi. Sepuluh orang seperti engkau pun akan kutukarkan dengan gadis bidadari ini, hehheh-heh!"
"Jahanam busuk! Orang macam engkau ini tidak pantas hidup di dunia ini!"
"Ha-ha, aku mau hidup di neraka asalkan bersama engkau, perawan denok montrok, ayu manis merak ati! Mari kupondong engkau, dewiku!"
Drohawisa adalah seorang hamba nafsu yang selalu melakukan perbuatan apa pun untuk melampiaskan nafsu nafsunya. Tidak ada perbuatan yang dipantangnya dan sudah terbiasa memaksakan kehendaknya. Orang seperti dia itu berwatak sombong dan mengagulkan kekuatan sendiri, memandang rendah kepada semua orang. Kalau bertemu orang yang lebih kuat dia tidak segan untuk merangkak dan menjilat-jilat seperti anjing mencari perhatian, sebaliknya terhadap yang lemah dia selalu menindas dan memandang rendah. Tentu saja dia memandang rendah seorang gadis muda seperti Puspa Dewi. Setelah berkata demikian, sambil menyeringai dia sudah menubruk maju dengan cepat untuk menangkap gadis yang kecantikannya membuat dia tergila-gila itu. Sudah gatal-gatal tangannya untuk mendekap dan membelai gadis itu. Kedua lengannya yang panjang dikembangkan, jari-jari tangannya terbuka dan kedua tangan itu dari kanan kiri menyambar ke arah tubuh Puspa Dewi untuk menangkapnya. Puspa Dewi yang sudah marah tidak mau memberi hati lagi. Cepat seperti kilat menyambar, kaki kirinya mencuat ke depan dan sebelum kedua tangan Drohawisa sempat menyentuhnya, kakinya telah lebih dulu menghantam perut laki-laki tinggi besar bermuka hitam itu.
"Syuuutt.... desss....!"
"Hekk....l” Tubuh tinggi besar itu terjengkang dan roboh. Drohawisa menggunakan dua tangan untuk menekan-nekan perutnya yang terasa nyeri dan mulas sekali. Mungkin usus buntunya terkena tendangan kaki Puspa Dewi. Akan tetapi dasar orang sombong, hajaran itu masih belum menyadarkannya bahwa dia berhadapan dengan orang yang jauh lebih tangguh daripada dia. Sambil menahan rasa, nyeri dengan kemarahan luar biasa dia bangkit, meringis dan sudah menerjang ke arah Puspa Dewi. Kini terjangannya bukan didorong nafsu berahi untuk merangkul dan mendekap, melainkan didorong nafsu amarah. Tangan kanannya yang dikepal sebesar kepala Puspa Dewi itu menyambar, agaknya hendak memukul pecah kepala gadis yang tadi membuat dia tergila-gila itu.
Dengan tenang Puspa Dewi menangkis pukulan itu dengan tangan kirinya yang bergerak dari dalam keluar dan berbareng tangan kanannya dengan jari-jari terbuka memukul ke arah dada lawan.
"Piakk....l Desss....!!" Drohawisa mengeluarkan suara aneh, tubuhnya sekali lagi terjengkang dan dia roboh, terduduk. Dia terengah-engah, sukar bernapas karena dadanya terasa seolah disambar palu godam, membuat napasnya sesak. Juga pergelangan tangan kanannya seolah tadi ditangkis sepotong baja yang membuat lengannya terasa ngilu sampai ke tulangnya. Hajaran keras ini tetap saja belum menembus kekebalan otak Drohawisa, bukan membuat dia sadar bahkan membuat dia semakin marah dan penasaran, juga malu karena dia telah dirobohkan dua kali oleh seorang gadis muda. Biarpun perutnya masih terasa mulas dan dadanya sesak, dia memaksa diri bangkit dan mencabut sebatang golok yang terselip di pinggangnya. Golok besar itu berkilauan saking tajamnya.
"Perempuan setan, engkau sudah bosan hidup Mampuslah!" bentaknya dan dia sudah melompat ke depan dan menyerang dengan bacokan buas ke arah kepala Puspa Dewi. Gadis ini maklum bahwa lawannya menyerang untuk membunuhnya. Seorang yang jahat dan kejam, pikirnya dan orang macam ini tidak akan pernah kapok (bertaubat) kalau tidak diberi hajaran yang amat keras. Maka, begitu golok itu menyambar ke arah kepalanya, ia menggeser kaki dan miringkan tubuhnya. Golok menyambar dari atas, lewat samping tubuhnya dan secepat kilat kedua tangan Puspa Dewi bergerak, yang kiri mengetuk siku kanan lawan dan begitu siku terketuk dan lumpuh sehingga golok terlepas, tangan kanannya sudah merampas golok itu! Demikian cepat peristiwa itu terjadi sehingga Drohawisa tidak dapat mengerti mengapa goloknya dapat terampas. Tiba-tiba tampak sinar golok berkelebat dua kali.
"Crak-crak...., aduhhh....!!" Drohawisa terpelanting roboh dan bangkit duduk, merintih-rintih dan tangan kirinya sibuk menekan lengan kanan yang buntung sebatas pergelangan lalu berpindah ke kaki kiri yang terbabat buntung separuh, sehingga semua jari kaki kiri itu buntung! Darah bercucuran dan laki-laki tinggi besar bermuka hitam itu merintih dan menangis saking nyeri dan takutnya.
"Manusia jahat dan kejami" Puspa Dewi berkata.
"Lain kali kalau engkau tidak mengubah watakmu yang jahat, aku akan membuntungi lehermu!" Setelah berkata demikian, Puspa Dewi menggunakan kedua tangan menekuk dan terdengar suara nyaring ketika golok itu patah menjadi dua potong lalu dilemparkan ke atas tanah oleh Puspa Dewi.

Drohawisa terbelalak. Demikian kaget dia sehingga sejenak rasa nyerinya hampir tidak terasa lagi. Baru sekarang matanya terbuka dan dia sadar bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita yang sakti mandragunal Akan tetapi dasar jahat. Yang timbul dalam hatinya bukan penyesalan dan kesadaran untuk bertaubat, melainkan dendam sakit hati dan dia harus membalas dendam dengan mengerahkan bantuan kawan-kawannya! Dengan susah payah dia bangkit berdiri, memandang gadis itu dengan mata yang masih basah oleh tangis kesakitan tadi.
"Katakan, siapa engkau dan tunggu pembalasanku!" bentaknya.
Puspa Dewi tersenyum.
"Setiap saat akan kutunggu pembalasanmu. Namaku Puspa Dewi."
Wajah Drohawisa berubah pucat dan matanya terbelalak semakin lebar mendengar nama ini dan bagaikan dikejar setan dia lalu melarikan diri, terpincang pincang, terjatuh, merangkak lalu berlari lagi berloncatan dengan sebelah kaki karena kaki kirinya terasa nyeri bukan main kalau dipakai menginjak tanah.
Puspa Dewi tidak mempedulikan lagi laki-laki itu dan menghampiri Wiyanti. Wanita itu kini bangkit dan lari menghampiri Puspa Dewi lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah.
"Aduh, terima kasih atas pertolonganmu, Den Roro....”
"Bangkitlah, Mbakayu Wiyanti dan mari kita lihat keadaan suamimu."
Wiyanti lalu berjalan cepat setengah berlari menuju ke sebuah rumah terpencil yang berada di luar hutan itu. Daerah itu memang masih belum padat penduduknya dan setiap keluarga memiliki tanah pekarangan yang amat luas sehingga jauh dari tetangga. Ketika mereka tiba di rumah Wiyanti, cuaca sudah mulai remang senja. Mereka melihat seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun duduk di atas lantai pendapa bersandar dinding bambu dan mukanya matang biru membengkak bekas pukulan. Melihat Wiyanti datang, Garino, laki-laki itu dengan susah payah memaksa diri bangkit berdiri.
"Wiyanti.... engkau.... engkau pulang dengan selamat....?"
"Kakang Garino....!" Suami isteri itu berangkulan dan Wiyanti menangis.
"Mbakayu Wiyanti, kukira suamimu perlu beristirahat." Kata Puspa Dewi.
Baru wanita itu menyadari dan ia pun memapah suaminya memasuki ruangan dalam dan membantu suaminya rebah di atas sebuah amben (pembaringan sederhana dari bambu). Garino rebah telentang dan Wiyanti segera menyalakan lampu, lalu mempersilakan Puspa Dewi duduk di atas bangku kayu sederhana yang berada di ruangan itu.

Setelah cuaca mulai terang oleh sinar lampu, Puspa Dewi melihat bahwa Garino adalah seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun, tubuhnya kokoh dan tinggi kurus, wajahnya sederhana namun tidak membayangkan watak yang kasar seperti kebanyakan orang laki-laki di Kerajaan Wengker. Ia juga dapat melihat bahwa Garino hanya menderita luka-luka karena pukulan dan tendangan, hanya bengkak-bengkak dan matang biru, akan tetapi agaknya tidak terdapat luka yang membahayakan nyawanya. Sebaliknya, ketika Garino memandang dan melihat bahwa wanita yang datang bersama isterinya adalah seorang gadis muda yang cantik jelita, dia merasa heran sekali.
"Wiyanti, siapakah gadis ini?"
"Kakang Garino, gadis inilah yang telah menyelematkan aku dari Drohawisa yang jahat dan kejam. Ia amat sakti mandraguna, Kakang, Drohawisa dihajar sampai sebuah tangan dan sebuah kakinya buntung!" Wiyanti menceritakan dengan wajah gembira.
"Inilah penolongku, namanya Raden Roro Puspa Dewi!"
Nama Puspa Dewi amat tersohor bagi para senopati dan perajurit Wengker. Akan tetapi Garino adalah seorang petani yang hidup di Lembah Kali Ngebel dan nama gadis itu asing baginya. Maka dia pun tidak terkejut seperti halnya Drohawisa mendengar nama Puspa Dewi, hanya memandang kagum dan dia segera bangkit duduk, dibantu isterinya.
"Den Roro, saya menghaturkan terima kasih atas pertolongan Andika kepada isteri saya."
"Sudahlah, tidak perlu berterima kasih. Penjahat macam Drohawisa itu memang sudah sepatutnya menerima hukuman. Sebaliknya, aku yang mengharapkan bantuan Andika berdua."
Suami isteri itu memandang heran.
"Bantuan dari kami? Bantuan apakah yang dapat diberikan suami isteri miskin dan lemah seperti kami?" tanya Wiyanti.
"Benar kata isteri saya, Den Roro. Bahkan setelah terjadinya peristiwa tadi, kami tidak berani lagi tinggal di sini. Besok pagi kami harus sudah pergi dari sini, pindah ke tempat yang tersembunyi dari mereka."
"Kalau kalian merasa lebih aman pergi dari sini, tentu saja hal itu yang terbaik. Akan tetapi aku hanya ingin minta bantuan dua hal kepada kalian. Pertama, aku ingin menumpang di sini untuk melewatkan malam ini...."
"Wah, tentu saja boleh, Den Roro!" suami isteri itu berseru hampir berbareng.
"Terima kasih dan bantuan ke dua, aku minta keterangan dari kalian, barangkali saja kalian mendengar tentang adanya seorang gadis bernama Niken Harni memasuki daerah Wengker baru-baru ini."
"Niken Harni? Saya tidak pernah mendengarnya, Den Roro." kata Wiyanti.
"Kakang, apakah engkau pernah mendengar nama itu?"
Suaminya menggeleng kepalanya.
"Saya juga belum pernah mendengar nama itu, Den Roro. Maaf, kami, tidak dapat membantu Andika dalam hai ini."
"Tidak mengapa kalau kalian tidak mengetahuinya. Biarlah malam ini aku menumpang di sini semalam dan besok pagi-pagi aku akan melanjutkan perjalanan mencari Niken Harni.”

<<< Bagian 53                                                                                          Bagian 55 >>>

No comments:

Post a Comment