Wanita itu terbanting jatuh dan mengeluh kesakitan menangis lalu merangkak menjauhi laki-laki itu, duduk bersandar batang pohon dan menangis.
"Wah!
Bidadari dari mana datang menemuiku? Cantik sekali engkau. Aduh .... beruntung
sekali aku hari ini, mendapatkan seorang bidadari!"
Dahulu, Puspa
Dewi adalah seorang gadis yang berwatak keras dan ganas. Hal ini adalah karena
selama lima tahun ia digembleng dalam pendidikan Nyi Dewi Durgakumala yang
sesat. Dulu, kalau bertemu orang yang dianggapnya musuh, tentu ia akan
menurunkan tangan besi dan menghajar orang itu tanpa banyak bertanya lagi. Akan
tetapi semenjak ia mendapat pendidikan Sang Maha Resi Satyadharma selama tiga
bulan, wataknya berubah banyak. Biarpun kini ia marah sekali melihat Drohawisa
menculik dan hendak memperkosa Wiyanti, namun la menahan diri sebelum
mengetahui duduknya perkara. Maka, ia tidak mempedulikan ucapan Drohawisa tadi
dan menghampiri Wiyanti yang duduk menangis sambil bersandar pada batang pohon
itu.
Wanita itu
berusia sekitar dua puluh lima tahun. Seperti kebanyakan wanita daerah Wengker,
wanita ini pun memiliki bentuk tubuh yang tegap dan besar. Wajahnya termasuk
sedang saja bagi wanita pada umumnya, namun bagi orang-orang Wengker, ia sudah
dapat disebut manis dan menarik.
"Mbakayu,
ceritakanlah apa yang telah terjadi? Jangan takut, aku akan melindungimu."
Dengan
terisak-isak Wiyanti menceritakan betapa Drohawisa selalu menggoda dan
membujuk-rayunya. Wiyanti yang sudah bersuami tentu saja menolak dan siang
tadi, ketika Drohawisa menggodanya lagi, suami Wiyanti yang bernama Garino
pulang dan menegur Drohawisa dengan marah melihat laki-laki itu menggoda
isterinya. Terjadi perkelahian dan Garino dihajar oleh Drohawisa yang tentu
saja jauh lebih kuat karena dia adalah seorang jagoan, murid seorang warok muda
terkenal bernama Wirobento. Drohawisa menangkap dan melarikan Wiyanti,
meninggalkan Garino yang roboh pingsan dengan tubuh menderita luka-luka akibat
pukulan dan tendangan Drohawisa.
"Demikianlah,
Mas Roro.... dia membawa aku sampai ke tempat ini.... dan aku tidak tahu
bagaimana dengan nasib suamiku...."
Wiyanti
mengakhiri ceritanya sambil menangis. Mendengar ini, sepasang mata Puspa Dewi
mencorong ketika ia membalik dan menghadapi Drohawisa. Ia melihat betapa
laki-laki berusia sekitar tiga puluh lima tahun yang bertubuh tinggi besar
bermuka hitam itu menyeringai dengan pandang mata seolah hendak menelan
bulat-bulat gadis cantik jelita yang berdiri di depannya itu.
"Ha-ha-ha,
sekarang juga akan membebaskanmu, Wiyanti. Aku tidak membutuhkan engkau lagi.
Sepuluh orang seperti engkau pun akan kutukarkan dengan gadis bidadari ini,
hehheh-heh!"
"Jahanam
busuk! Orang macam engkau ini tidak pantas hidup di dunia ini!"
"Ha-ha,
aku mau hidup di neraka asalkan bersama engkau, perawan denok montrok, ayu
manis merak ati! Mari kupondong engkau, dewiku!"
Drohawisa
adalah seorang hamba nafsu yang selalu melakukan perbuatan apa pun untuk
melampiaskan nafsu nafsunya. Tidak ada perbuatan yang dipantangnya dan sudah
terbiasa memaksakan kehendaknya. Orang seperti dia itu berwatak sombong dan
mengagulkan kekuatan sendiri, memandang rendah kepada semua orang. Kalau
bertemu orang yang lebih kuat dia tidak segan untuk merangkak dan
menjilat-jilat seperti anjing mencari perhatian, sebaliknya terhadap yang lemah
dia selalu menindas dan memandang rendah. Tentu saja dia memandang rendah
seorang gadis muda seperti Puspa Dewi. Setelah berkata demikian, sambil menyeringai
dia sudah menubruk maju dengan cepat untuk menangkap gadis yang kecantikannya
membuat dia tergila-gila itu. Sudah gatal-gatal tangannya untuk mendekap dan
membelai gadis itu. Kedua lengannya yang panjang dikembangkan, jari-jari
tangannya terbuka dan kedua tangan itu dari kanan kiri menyambar ke arah tubuh
Puspa Dewi untuk menangkapnya. Puspa Dewi yang sudah marah tidak mau memberi
hati lagi. Cepat seperti kilat menyambar, kaki kirinya mencuat ke depan dan
sebelum kedua tangan Drohawisa sempat menyentuhnya, kakinya telah lebih dulu
menghantam perut laki-laki tinggi besar bermuka hitam itu.
"Syuuutt....
desss....!"
"Hekk....l”
Tubuh tinggi besar itu terjengkang dan roboh. Drohawisa menggunakan dua tangan
untuk menekan-nekan perutnya yang terasa nyeri dan mulas sekali. Mungkin usus
buntunya terkena tendangan kaki Puspa Dewi. Akan tetapi dasar orang sombong,
hajaran itu masih belum menyadarkannya bahwa dia berhadapan dengan orang yang
jauh lebih tangguh daripada dia. Sambil menahan rasa, nyeri dengan kemarahan
luar biasa dia bangkit, meringis dan sudah menerjang ke arah Puspa Dewi. Kini
terjangannya bukan didorong nafsu berahi untuk merangkul dan mendekap,
melainkan didorong nafsu amarah. Tangan kanannya yang dikepal sebesar kepala
Puspa Dewi itu menyambar, agaknya hendak memukul pecah kepala gadis yang tadi
membuat dia tergila-gila itu.
Dengan tenang
Puspa Dewi menangkis pukulan itu dengan tangan kirinya yang bergerak dari dalam
keluar dan berbareng tangan kanannya dengan jari-jari terbuka memukul ke arah
dada lawan.
"Piakk....l
Desss....!!" Drohawisa mengeluarkan suara aneh, tubuhnya sekali lagi
terjengkang dan dia roboh, terduduk. Dia terengah-engah, sukar bernapas karena
dadanya terasa seolah disambar palu godam, membuat napasnya sesak. Juga pergelangan
tangan kanannya seolah tadi ditangkis sepotong baja yang membuat lengannya
terasa ngilu sampai ke tulangnya. Hajaran keras ini tetap saja belum menembus
kekebalan otak Drohawisa, bukan membuat dia sadar bahkan membuat dia semakin
marah dan penasaran, juga malu karena dia telah dirobohkan dua kali oleh
seorang gadis muda. Biarpun perutnya masih terasa mulas dan dadanya sesak, dia
memaksa diri bangkit dan mencabut sebatang golok yang terselip di pinggangnya.
Golok besar itu berkilauan saking tajamnya.
"Perempuan
setan, engkau sudah bosan hidup Mampuslah!" bentaknya dan dia sudah
melompat ke depan dan menyerang dengan bacokan buas ke arah kepala Puspa Dewi.
Gadis ini maklum bahwa lawannya menyerang untuk membunuhnya. Seorang yang jahat
dan kejam, pikirnya dan orang macam ini tidak akan pernah kapok (bertaubat)
kalau tidak diberi hajaran yang amat keras. Maka, begitu golok itu menyambar ke
arah kepalanya, ia menggeser kaki dan miringkan tubuhnya. Golok menyambar dari
atas, lewat samping tubuhnya dan secepat kilat kedua tangan Puspa Dewi
bergerak, yang kiri mengetuk siku kanan lawan dan begitu siku terketuk dan
lumpuh sehingga golok terlepas, tangan kanannya sudah merampas golok itu!
Demikian cepat peristiwa itu terjadi sehingga Drohawisa tidak dapat mengerti
mengapa goloknya dapat terampas. Tiba-tiba tampak sinar golok berkelebat dua
kali.
"Crak-crak....,
aduhhh....!!" Drohawisa terpelanting roboh dan bangkit duduk,
merintih-rintih dan tangan kirinya sibuk menekan lengan kanan yang buntung
sebatas pergelangan lalu berpindah ke kaki kiri yang terbabat buntung separuh,
sehingga semua jari kaki kiri itu buntung! Darah bercucuran dan laki-laki
tinggi besar bermuka hitam itu merintih dan menangis saking nyeri dan takutnya.
"Manusia
jahat dan kejami" Puspa Dewi berkata.
"Lain
kali kalau engkau tidak mengubah watakmu yang jahat, aku akan membuntungi
lehermu!" Setelah berkata demikian, Puspa Dewi menggunakan kedua tangan
menekuk dan terdengar suara nyaring ketika golok itu patah menjadi dua potong
lalu dilemparkan ke atas tanah oleh Puspa Dewi.
Drohawisa
terbelalak. Demikian kaget dia sehingga sejenak rasa nyerinya hampir tidak
terasa lagi. Baru sekarang matanya terbuka dan dia sadar bahwa dia berhadapan
dengan seorang wanita yang sakti mandragunal Akan tetapi dasar jahat. Yang
timbul dalam hatinya bukan penyesalan dan kesadaran untuk bertaubat, melainkan
dendam sakit hati dan dia harus membalas dendam dengan mengerahkan bantuan
kawan-kawannya! Dengan susah payah dia bangkit berdiri, memandang gadis itu
dengan mata yang masih basah oleh tangis kesakitan tadi.
"Katakan,
siapa engkau dan tunggu pembalasanku!" bentaknya.
Puspa Dewi
tersenyum.
"Setiap
saat akan kutunggu pembalasanmu. Namaku Puspa Dewi."
Wajah
Drohawisa berubah pucat dan matanya terbelalak semakin lebar mendengar nama ini
dan bagaikan dikejar setan dia lalu melarikan diri, terpincang pincang,
terjatuh, merangkak lalu berlari lagi berloncatan dengan sebelah kaki karena
kaki kirinya terasa nyeri bukan main kalau dipakai menginjak tanah.
Puspa Dewi
tidak mempedulikan lagi laki-laki itu dan menghampiri Wiyanti. Wanita itu kini
bangkit dan lari menghampiri Puspa Dewi lalu menjatuhkan diri berlutut dan
menyembah-nyembah.
"Aduh,
terima kasih atas pertolonganmu, Den Roro....”
"Bangkitlah,
Mbakayu Wiyanti dan mari kita lihat keadaan suamimu."
Wiyanti lalu
berjalan cepat setengah berlari menuju ke sebuah rumah terpencil yang berada di
luar hutan itu. Daerah itu memang masih belum padat penduduknya dan setiap
keluarga memiliki tanah pekarangan yang amat luas sehingga jauh dari tetangga.
Ketika mereka tiba di rumah Wiyanti, cuaca sudah mulai remang senja. Mereka
melihat seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun duduk di atas lantai
pendapa bersandar dinding bambu dan mukanya matang biru membengkak bekas
pukulan. Melihat Wiyanti datang, Garino, laki-laki itu dengan susah payah
memaksa diri bangkit berdiri.
"Wiyanti....
engkau.... engkau pulang dengan selamat....?"
"Kakang
Garino....!" Suami isteri itu berangkulan dan Wiyanti menangis.
"Mbakayu
Wiyanti, kukira suamimu perlu beristirahat." Kata Puspa Dewi.
Baru wanita
itu menyadari dan ia pun memapah suaminya memasuki ruangan dalam dan membantu
suaminya rebah di atas sebuah amben (pembaringan sederhana dari bambu). Garino
rebah telentang dan Wiyanti segera menyalakan lampu, lalu mempersilakan Puspa
Dewi duduk di atas bangku kayu sederhana yang berada di ruangan itu.
Setelah cuaca
mulai terang oleh sinar lampu, Puspa Dewi melihat bahwa Garino adalah seorang
laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun, tubuhnya kokoh dan tinggi kurus,
wajahnya sederhana namun tidak membayangkan watak yang kasar seperti kebanyakan
orang laki-laki di Kerajaan Wengker. Ia juga dapat melihat bahwa Garino hanya
menderita luka-luka karena pukulan dan tendangan, hanya bengkak-bengkak dan
matang biru, akan tetapi agaknya tidak terdapat luka yang membahayakan
nyawanya. Sebaliknya, ketika Garino memandang dan melihat bahwa wanita yang
datang bersama isterinya adalah seorang gadis muda yang cantik jelita, dia
merasa heran sekali.
"Wiyanti,
siapakah gadis ini?"
"Kakang
Garino, gadis inilah yang telah menyelematkan aku dari Drohawisa yang jahat dan
kejam. Ia amat sakti mandraguna, Kakang, Drohawisa dihajar sampai sebuah tangan
dan sebuah kakinya buntung!" Wiyanti menceritakan dengan wajah gembira.
"Inilah penolongku,
namanya Raden Roro Puspa Dewi!"
Nama Puspa
Dewi amat tersohor bagi para senopati dan perajurit Wengker. Akan tetapi Garino
adalah seorang petani yang hidup di Lembah Kali Ngebel dan nama gadis itu asing
baginya. Maka dia pun tidak terkejut seperti halnya Drohawisa mendengar nama
Puspa Dewi, hanya memandang kagum dan dia segera bangkit duduk, dibantu
isterinya.
"Den
Roro, saya menghaturkan terima kasih atas pertolongan Andika kepada isteri
saya."
"Sudahlah,
tidak perlu berterima kasih. Penjahat macam Drohawisa itu memang sudah
sepatutnya menerima hukuman. Sebaliknya, aku yang mengharapkan bantuan Andika
berdua."
Suami isteri
itu memandang heran.
"Bantuan
dari kami? Bantuan apakah yang dapat diberikan suami isteri miskin dan lemah
seperti kami?" tanya Wiyanti.
"Benar
kata isteri saya, Den Roro. Bahkan setelah terjadinya peristiwa tadi, kami
tidak berani lagi tinggal di sini. Besok pagi kami harus sudah pergi dari sini,
pindah ke tempat yang tersembunyi dari mereka."
"Kalau
kalian merasa lebih aman pergi dari sini, tentu saja hal itu yang terbaik. Akan
tetapi aku hanya ingin minta bantuan dua hal kepada kalian. Pertama, aku ingin
menumpang di sini untuk melewatkan malam ini...."
"Wah,
tentu saja boleh, Den Roro!" suami isteri itu berseru hampir berbareng.
"Terima
kasih dan bantuan ke dua, aku minta keterangan dari kalian, barangkali saja
kalian mendengar tentang adanya seorang gadis bernama Niken Harni memasuki
daerah Wengker baru-baru ini."
"Niken
Harni? Saya tidak pernah mendengarnya, Den Roro." kata Wiyanti.
"Kakang,
apakah engkau pernah mendengar nama itu?"
Suaminya
menggeleng kepalanya.
"Saya
juga belum pernah mendengar nama itu, Den Roro. Maaf, kami, tidak dapat
membantu Andika dalam hai ini."
"Tidak
mengapa kalau kalian tidak mengetahuinya. Biarlah malam ini aku menumpang di
sini semalam dan besok pagi-pagi aku akan melanjutkan perjalanan mencari Niken
Harni.”
No comments:
Post a Comment