"Kalau boleh saya mengetahui, siapakah Niken Harni itu, Den Roro?” tanya Wiyanti.
Puspa Dewi
menghela napas panjang,
"Ia
Adikku."
Karena Puspa Dewi
tidak bicara lebih lanjut mengenai Niken Harni, suami isteri itu pun tidak
berani banyak bertanya.
"Den
Roro, setelah Drohawisa Andika beri hajaran keras, dia pasti akan mengerahkan
kawan-kawannya dan saya khawatir malam ini juga mereka akan datang ke sini
untuk melakukan pembalasan. Apakah tidak sebaiknya kalau kita pergi saja malam
ini juga meninggalkan tempat ini?"
Mendengar
ucapan suaminya yang mengandung ketakutan itu, Wiyanti malah menangis lagi.
"Ahh....
bagaimana baiknya, Kakang? Den Roro, tolonglah kami, Den Roro Puspa
Dewi...."
"Jangan
kalian khawatir. Malam ini, kalau benar ada yang berani datang mengganggumu,
aku yang akan menghadapi mereka!"
"Akan
tetapi, Den Roro.... Drohawisa itu berbahaya sekali. Dia mempunyai kawan-kawan
jagoan yang juga menjadi gurunya, yaitu Wirobento dan Wirobandrek, dua orang
warok muda yang tersohor kedigdayaannya. Bahkan dua orang warok muda itu
merupakan pembantu-pembantu atau anak buah dari Ki Surogeni, warok terkenal di
Wengker karena dia adalah Ayah dari Sang Ratu Mayangsari. Saya tidak ingin
menyusahkah Andika, Den Roro. Saya sendiri tidak takut mati, akan tetapi saya
tidak dapat membayangkan isteri saya ini terjatuh ke tangan mereka...."
Suara Garino penuh kegelisahan.
"Hemm,
jangan khawatir. Biar Ratu Mayangsari sendiri yang datang, kalau ia membela
keparat macam Drohawisa tadi, akan kuhadapi dan kulawan!" kata Puspa Dewi.
Sikapnya yang gagah dan suaranya yang mantap itu melegakan hati suami isteri
itu.
"Wiyanti,
mengapa engkau tidak cepat menyiapkan makan malam untuk Den Roro Puspa
Dewi?"
"Wah, aku
sampai lupa! Biar sekarang juga aku menyiapkan makan malam." kata Wiyanti
sambil bangkit dari amben di mana ia duduk sambil memijiti kaki suaminya.
"Biar aku
membantumu, Mbakayu. Tutup dan palangi saja pintu depan agar aku mendengar
kalau ada orang datang ke rumah ini." kata Puspa Dewi.
Wiyanti lalu
menutupkan daun pintu dan memasang palangnya. Setelah itu, dua orang wanita itu
sibuk di dapur, Wiyanti menyembelih seekor ayam peliharaannya dan mereka lalu
menanak nasi dan memasak lauk.
Ternyata tidak
terjadi sesuatu seperti yang dikhawatirkan suami isteri itu pada malam itu.
Pada keesokan harinya, Garino yang sudah agak pulih kesehatannya bersama
Wiyanti sudah berkemas, membawa pakaian dan barang-barang yang dianggap berharga
dan tidak berat, siap meninggalkan rumah mereka. Setelah mandi Puspa Dewi
melihat dua orang suami isteri itu berdiri di depan pondok mereka dengan wajah
muram, bahkan tampak keduanya habis menangis. Puspa Dewi dapat memaklumi
kesedihan hati mereka. Mereka harus meninggalkan segala yang mereka miliki,
rumah dan sawah ladang, dan pergi dari situ untuk tidak kembali lagi. Menurut
pembicaraan mereka semalam, mereka bahkan belum tahu kemana mereka akan pergi
dan bagaimana nasib mereka kemudian.
"Apakah kalian
hendak pergi sekarang? Sepagi Ini?" tanyanya.
"Kami
harus pergi sekarang, Den Roro. Kami khawatir kalau mereka datang sebelum kami
pergi." jawab Garino.
"Kalian
sudah memutuskan hendak ke mana?"
"Sudah,
Den Roro." jawab Wiyanti dengan suara serak karena semalam ia menangis
terus,
"Saya
teringat mempunyai seorang paman jauh yang tinggal di pantai selatan. Kami akan
pergi ke sana."
Suami Isteri
itu agaknya membawa barang-barang mereka yang mereka anggap berharga dan dapat
mereka bawa. Wiyanti menggendong buntalan besar, agaknya terisi pakaian mereka.
Garino membawa sepikul barang-barang perabot dapur dan alat pertanian. Betapa
sederhana kehidupan mereka, pikir Puspa Dewi. Betapa sedikit kebutuhan mereka.
Ia merasa terharu karena mereka terpaksa berpisah dengan milik mereka yang
paling berharga, yaitu rumah tempat mereka tinggal dan sawah ladang yang
menjadi sumber nafkah mereka. Puspa Dewi mengeluarkan bungkusan kain dari ikat
pinggangnya, membuka bungkusan terisi perhiasan itu lalu menyerahkan sepasang subang
emas terhias permata indah kepada Wiyanti.
"Mbakayu
Wiyanti, terimalah pemberianku ini. Kalau kalian tiba di tempat baru, juallah
ini untuk membeli sawah ladang dan rumah."
Suami isteri
itu terbelalak. Perhiasan itu amat indah dan tentu mahal sekali harganya, lebih
mahal dari harga rumah dan sawah ladang yang mereka tinggalkan. Sebagai
orang-orang dusun yang polos dan lugu, mereka merasa bingung dan sungkan
sekali.
"Akan
tetapi, Den Roro...." kata Wiyanti sambil menatap sepasang subang itu
dengan mata terbelalak.
"Terima
sajalah, Mbakayu, tidak usah ragu. Benda ini adalah milikku sendiri. Kalian
tentu memerlukannya untuk membeli tanah dan rumah baru."
"Aduh,
terima kasih, Den Roro. Andika bukan hanya telah menyelamatkan nyawa kami,
bahkan juga menyerahkan benda berharga kepada kami. Bagaimana kami dapat
membalas kebaikan budi Den Roro?"
"Aku
tidak minta dan tidak berhak menerima balasan, Mbakayu Wiyanti. Yang kalian
terima merupakan berkah dari Sang Hyang Widhi, oleh karena itu kalian
berkewajiban membalas berkah-Nya dengan cara melaksanakan hidup yang baik dan
benar sebagai bakti kalian kepada-Nya. Nah, selamat berpisah dan selamat
jalan."
Suami isteri
itu memberi hormat dengan sembah kepada gadis yang telah melimpahkan kebaikan
kepada mereka, lalu mereka pergi ke arah selatan. Halimun pagi segera
menyelimuti dan menyembunyikan mereka dari pandangan Puspa Dewi yang masih
berdiri di depan pondok, ia memang sengaja menanti di situ, menjaga kalau-kalau
benar terjadi apa yang dikhawatirkan suami isteri itu.
Setelah
matahari pagi mengusir bersih halimun yang menyelimuti bumi sehingga cuaca
menjadi terang dan sinar matahari menghidupi semua yang berada di permukaan
bumi, Puspa Dewi juga bersiap-siap untuk pergi meninggalkan tempat itu. Ia
sudah meringkas pakaiannya dalam buntalan kain hendak meninggalkan pondok
kosong itu ketika ia mendengar derap kaki kuda makin lama semakin nyaring,
menandakan bahwa ada beberapa orang penunggang kuda menuju ke pondok itu. Puspa
Dewi meletakkan buntalan pakaiannya ke atas bangku bambu di depan pintu pondok,
dan berdiri menanti dengan sikap tenang. Tak lama kemudian tampaklah empat
orang penunggang kuda datang memasuki pekarangan pondok itu. Puspa Dewi melihat
Drohawisa berada bersama tiga orang lain. Agaknya ada yang merawat Drohawisa
sehingga kini dia mampu menunggang kuda, walaupun kendali hanya dia pegang
dengan tangan kiri saja. Tangan kanan dan kaki kiri yang buntung itu telah
dibalut. Diam-diam Puspa Dewi merasa gemas. Ternyata hajaran yang diberikannya
kepada Drohawisa tidak membuat orang itu kapok! Sekarang dia bahkan datang
bersama tiga orang yang tampaknya menyeramkan dan buas. Ia tidak mengenal siapa
tiga orang itu. Ketika tiga orang itu berlompatan turun dari atas kuda mereka,
ia mengamati penuh perhatian. Drohawisa sendiri tidak turun dari atas punggung
kudanya. Agaknya, dalam keadaan buntung tangan kanan dan kaki kirinya itu,
untuk naik turun kuda dia harus dibantu orang lain.
Orang pertama
adalah seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun, bertubuh tinggi kurus
dan ternyata laki-laki ini berwajah cukup tampan kalau dibandingkan dengan para
pria pada umumnya di Wengker. Pakaiannya indah seperti pakaian bangsawan dan
wajahnya yang tampan itu menunjukkan keangkuhan. Sepasang matanya membayangkan
kegenitan seorang laki-laki mata keranjang ketika dia memandang kepada Puspa
Dewi dengan kagum. Laki-laki ini bukan lain adalah Ki Warok Surogeni, ayah dari
Ratu Mayangsari! Warok Surogeni adalah seorang warok yang terkenal di Wengker
dan ditakuti orang, apalagi setelah puterinya, Mayangsari, menjadi permaisuri,
isteri Sang Adipati Wengker, mendiang Adipati Adhamapanuda dan kemudian
diperisteri Adipati Wengker yang baru, yaitu Adipati Linggawijaya. Orang ke dua
adalah seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun, bertubuh tinggi
besar, wajahnya serba tebal dan kasar. Pinggangnya terbelit sebatang pecut yang
ujungnya dipasangi potongan besi kecil-kecil dan runcing tajam. Inilah Ki
Wirobento, seorang warok muda yang menjadi anak buah Warok Surogeni. Orang ke
tiga juga seorang warok muda berusia sekitar dua puluh delapan tahun, juga
bertubuh tinggi besar dan dia menggunakan sabuk kolor merah yang besar dan kuat
karena kolor itu merupakan senjata ampuhnya. Dia ini bernama Ki Wirobandrek,
adik dari Wirobento.
Ketika Drohawisa
yang terluka memberitahu sahabat dan juga gurunya, Ki Wirobento, warok ini
menjadi marah akan tetapi juga terkejut bukan main mendengar bahwa yang melukai
Drohawisa adalah Puspa Dewi! Wirobento dan Wirobandrek merasa jerih menghadapi
Puspa Dewi sendiri, maka mereka lalu melapor dan minta bantuan Warok Surogeni.
Ki Warok Surogeni tentu saja sudah mendengar nama Puspa Dewi sebagai seorang
yang dimusuhi Kadipaten Wengker. Akan tetapi dia belum pernah bertemu dan belum
tahu akan kesaktian gadis itu. Biarpun dia mendengar bahwa Puspa Dewi seorang
gadis yang sakti mandraguna, namun dia memandang remeh. Sampai di mana sih
kehebatan seorang gadis muda? Juga dia mendengar bahwa Puspa Dewi cantik jelita
seperti bidadari kahyangan! Maka dia lalu cepat mengajak Wirobento dan
Wirobandrek untuk mengikuti Drohawisa sebagai penunjuk jalan, pergi mencari
Puspa Dewi di rumah Garino.
Demikianlah,
pagi itu mereka bertiga yang mengikuti Drohawisa sebagai penunjuk jalan telah
memasuki pekarangan dan tiga orang itu sudah berlompatan turun dari atas kuda
dan Drohawisa segera berseru.
"Itulah
ia Puspa Dewi!"
Puspa Dewi
menghadapi tiga orang itu dengan sikap tenang. Kalau mungkin, ia tidak ingin
membuat keributan dan bertanding dengan orang-orang Wengker karena
kedatangannya adalah untuk mencari Niken Harni. Ia tidak mempunyai urusan
dengan tiga orang ini.
"Benar,
aku adalah Puspa Dewi. Andika siapakah dan ada keperluan apa mencari aku di
sini?"
Ki Surogeni
memandang kagum dan tangan kirinya meraba kumisnya yang tebal.
"Heh,
Puspa Dewi. Tentu Andika ini Sekar Kedaton Wura-Wuri yang dikabarkan berkhianat
itu! Ketahuilah, aku adalah Ki Surogeni, Ayah kandung Dewi Mayangsari,
permaisuri Wengker. Dua orang ini pembantuku Wirobento dan Wirobandrek. Kami
mendengar bahwa Andika telah melukai anak buah kami Drohawisa, karena itu kami
datang menemuimu!"
"Ah,
kiranya Andika adalah Ki Surogeni, Ayah dari Dewi Mayangsari! Aku memang
memberi hajaran kepada Drohawisa karena dia mengganggu seorang wanita. Aku
tidak percaya bahwa sebagai Ayah permaisuri Wengker Andika akan membela seorang
penjahat yang menjadi perusak pagar ayu, Ki Surogeni!"
Ki Surogeni
menggulung ujung kumisnya dengan ibu jari dan telunjuk kirinya sambil
mengerling ke arah Drohawisa yang masih duduk di atas kudanya dengan wajah pucat
mendengar ucapan Puspa Dewi tadi.
"Hemrn,
kami akan melakukan tlndakan kepada anak buah kami kalau dia bersalah, Puspa
Dewi. Akan tetapi, engkau telah melanggar wilayah kami, memasuki daerah Wengker
tanpa ijin."
"Ki
Surogeni, aku memasuki daerah Wengker bukan dengan niat bermusuhan. Aku ke sini
untuk mencari Adikku yang bernama Niken Harni. Kebetulan sekali Andika datang.
Andika tentu mengetahui di mana adanya Adikku Niken Harni, maka katakanlah
kepadaku, di mana ia?"
Tentu saja Ki
Surogeni telah mendengar bahwa Niken Harni menjadi tamu di Istana Kadipaten
Wengker, walaupun dia tidak tahu bahwa gadis itu kini telah dibawa pergi Nini
Bumigarbo.
"Hemm,
kiranya Andika mencari Niken Harni? Gadis itu kini menjadi tamu Istana
Kadipaten. Akan tetapi karena Andika memasuki wilayah kami tanpa ijin, bahkan
begitu datang membuat ribut dalam perkara orang Wengker yang sebenarnya Andika
tidak mempunyai hak untuk mencampuri, maka menyerahlah Andika untuk kami
tangkap dan kami hadapkan kepada Sang Adipati Wengker."
"Hemm,
aku telah sejak kecil mengenal Linggajaya yang kini menjadi Adipati Wengker.
Aku mau kalian antar menghadap dia, akan tetapi sebagai tamu yang hendak
mencari Adikku, bukan sebagai tawanan!"
"Puspa
Dewi! Andika memandang rendah kepadaku! Aku tidak ingin mempergunakan
kekerasan, maka menyerahlah untuk menjadi tangkapanku dan kuhadapkan Sang
Adipati."
"Ki
Surogeni, sekali lagi kutegaskan. Aku tidak mencari permusuhan, akan tetapi aku
juga tidak mau diperhina dan dijadikan tawanan. Baik secara halus maupun kasar,
aku tidak mau dijadikan tawanan. Aku akan menghadap Sang Adipati sebagai
seorang tamu! Terserah kalau Andika hendak menggunakan cara halus maupun
kasar!"
"Andika
menantang? Wirobento dan Wirobandrek, kalian tangkap gadis sombong ini!"
No comments:
Post a Comment