Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 55


"Kalau boleh saya mengetahui, siapakah Niken Harni itu, Den Roro?” tanya Wiyanti.
Puspa Dewi menghela napas panjang,
"Ia Adikku."

Karena Puspa Dewi tidak bicara lebih lanjut mengenai Niken Harni, suami isteri itu pun tidak berani banyak bertanya.
"Den Roro, setelah Drohawisa Andika beri hajaran keras, dia pasti akan mengerahkan kawan-kawannya dan saya khawatir malam ini juga mereka akan datang ke sini untuk melakukan pembalasan. Apakah tidak sebaiknya kalau kita pergi saja malam ini juga meninggalkan tempat ini?"
Mendengar ucapan suaminya yang mengandung ketakutan itu, Wiyanti malah menangis lagi.
"Ahh.... bagaimana baiknya, Kakang? Den Roro, tolonglah kami, Den Roro Puspa Dewi...."
"Jangan kalian khawatir. Malam ini, kalau benar ada yang berani datang mengganggumu, aku yang akan menghadapi mereka!"
"Akan tetapi, Den Roro.... Drohawisa itu berbahaya sekali. Dia mempunyai kawan-kawan jagoan yang juga menjadi gurunya, yaitu Wirobento dan Wirobandrek, dua orang warok muda yang tersohor kedigdayaannya. Bahkan dua orang warok muda itu merupakan pembantu-pembantu atau anak buah dari Ki Surogeni, warok terkenal di Wengker karena dia adalah Ayah dari Sang Ratu Mayangsari. Saya tidak ingin menyusahkah Andika, Den Roro. Saya sendiri tidak takut mati, akan tetapi saya tidak dapat membayangkan isteri saya ini terjatuh ke tangan mereka...." Suara Garino penuh kegelisahan.
"Hemm, jangan khawatir. Biar Ratu Mayangsari sendiri yang datang, kalau ia membela keparat macam Drohawisa tadi, akan kuhadapi dan kulawan!" kata Puspa Dewi. Sikapnya yang gagah dan suaranya yang mantap itu melegakan hati suami isteri itu.
"Wiyanti, mengapa engkau tidak cepat menyiapkan makan malam untuk Den Roro Puspa Dewi?"
"Wah, aku sampai lupa! Biar sekarang juga aku menyiapkan makan malam." kata Wiyanti sambil bangkit dari amben di mana ia duduk sambil memijiti kaki suaminya.
"Biar aku membantumu, Mbakayu. Tutup dan palangi saja pintu depan agar aku mendengar kalau ada orang datang ke rumah ini." kata Puspa Dewi.
Wiyanti lalu menutupkan daun pintu dan memasang palangnya. Setelah itu, dua orang wanita itu sibuk di dapur, Wiyanti menyembelih seekor ayam peliharaannya dan mereka lalu menanak nasi dan memasak lauk.

Ternyata tidak terjadi sesuatu seperti yang dikhawatirkan suami isteri itu pada malam itu. Pada keesokan harinya, Garino yang sudah agak pulih kesehatannya bersama Wiyanti sudah berkemas, membawa pakaian dan barang-barang yang dianggap berharga dan tidak berat, siap meninggalkan rumah mereka. Setelah mandi Puspa Dewi melihat dua orang suami isteri itu berdiri di depan pondok mereka dengan wajah muram, bahkan tampak keduanya habis menangis. Puspa Dewi dapat memaklumi kesedihan hati mereka. Mereka harus meninggalkan segala yang mereka miliki, rumah dan sawah ladang, dan pergi dari situ untuk tidak kembali lagi. Menurut pembicaraan mereka semalam, mereka bahkan belum tahu kemana mereka akan pergi dan bagaimana nasib mereka kemudian.
"Apakah kalian hendak pergi sekarang? Sepagi Ini?" tanyanya.
"Kami harus pergi sekarang, Den Roro. Kami khawatir kalau mereka datang sebelum kami pergi." jawab Garino.
"Kalian sudah memutuskan hendak ke mana?"
"Sudah, Den Roro." jawab Wiyanti dengan suara serak karena semalam ia menangis terus,
"Saya teringat mempunyai seorang paman jauh yang tinggal di pantai selatan. Kami akan pergi ke sana."
Suami Isteri itu agaknya membawa barang-barang mereka yang mereka anggap berharga dan dapat mereka bawa. Wiyanti menggendong buntalan besar, agaknya terisi pakaian mereka. Garino membawa sepikul barang-barang perabot dapur dan alat pertanian. Betapa sederhana kehidupan mereka, pikir Puspa Dewi. Betapa sedikit kebutuhan mereka. Ia merasa terharu karena mereka terpaksa berpisah dengan milik mereka yang paling berharga, yaitu rumah tempat mereka tinggal dan sawah ladang yang menjadi sumber nafkah mereka. Puspa Dewi mengeluarkan bungkusan kain dari ikat pinggangnya, membuka bungkusan terisi perhiasan itu lalu menyerahkan sepasang subang emas terhias permata indah kepada Wiyanti.
"Mbakayu Wiyanti, terimalah pemberianku ini. Kalau kalian tiba di tempat baru, juallah ini untuk membeli sawah ladang dan rumah."
Suami isteri itu terbelalak. Perhiasan itu amat indah dan tentu mahal sekali harganya, lebih mahal dari harga rumah dan sawah ladang yang mereka tinggalkan. Sebagai orang-orang dusun yang polos dan lugu, mereka merasa bingung dan sungkan sekali.
"Akan tetapi, Den Roro...." kata Wiyanti sambil menatap sepasang subang itu dengan mata terbelalak.
"Terima sajalah, Mbakayu, tidak usah ragu. Benda ini adalah milikku sendiri. Kalian tentu memerlukannya untuk membeli tanah dan rumah baru."
"Aduh, terima kasih, Den Roro. Andika bukan hanya telah menyelamatkan nyawa kami, bahkan juga menyerahkan benda berharga kepada kami. Bagaimana kami dapat membalas kebaikan budi Den Roro?"
"Aku tidak minta dan tidak berhak menerima balasan, Mbakayu Wiyanti. Yang kalian terima merupakan berkah dari Sang Hyang Widhi, oleh karena itu kalian berkewajiban membalas berkah-Nya dengan cara melaksanakan hidup yang baik dan benar sebagai bakti kalian kepada-Nya. Nah, selamat berpisah dan selamat jalan."
Suami isteri itu memberi hormat dengan sembah kepada gadis yang telah melimpahkan kebaikan kepada mereka, lalu mereka pergi ke arah selatan. Halimun pagi segera menyelimuti dan menyembunyikan mereka dari pandangan Puspa Dewi yang masih berdiri di depan pondok, ia memang sengaja menanti di situ, menjaga kalau-kalau benar terjadi apa yang dikhawatirkan suami isteri itu.

Setelah matahari pagi mengusir bersih halimun yang menyelimuti bumi sehingga cuaca menjadi terang dan sinar matahari menghidupi semua yang berada di permukaan bumi, Puspa Dewi juga bersiap-siap untuk pergi meninggalkan tempat itu. Ia sudah meringkas pakaiannya dalam buntalan kain hendak meninggalkan pondok kosong itu ketika ia mendengar derap kaki kuda makin lama semakin nyaring, menandakan bahwa ada beberapa orang penunggang kuda menuju ke pondok itu. Puspa Dewi meletakkan buntalan pakaiannya ke atas bangku bambu di depan pintu pondok, dan berdiri menanti dengan sikap tenang. Tak lama kemudian tampaklah empat orang penunggang kuda datang memasuki pekarangan pondok itu. Puspa Dewi melihat Drohawisa berada bersama tiga orang lain. Agaknya ada yang merawat Drohawisa sehingga kini dia mampu menunggang kuda, walaupun kendali hanya dia pegang dengan tangan kiri saja. Tangan kanan dan kaki kiri yang buntung itu telah dibalut. Diam-diam Puspa Dewi merasa gemas. Ternyata hajaran yang diberikannya kepada Drohawisa tidak membuat orang itu kapok! Sekarang dia bahkan datang bersama tiga orang yang tampaknya menyeramkan dan buas. Ia tidak mengenal siapa tiga orang itu. Ketika tiga orang itu berlompatan turun dari atas kuda mereka, ia mengamati penuh perhatian. Drohawisa sendiri tidak turun dari atas punggung kudanya. Agaknya, dalam keadaan buntung tangan kanan dan kaki kirinya itu, untuk naik turun kuda dia harus dibantu orang lain.
Orang pertama adalah seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan ternyata laki-laki ini berwajah cukup tampan kalau dibandingkan dengan para pria pada umumnya di Wengker. Pakaiannya indah seperti pakaian bangsawan dan wajahnya yang tampan itu menunjukkan keangkuhan. Sepasang matanya membayangkan kegenitan seorang laki-laki mata keranjang ketika dia memandang kepada Puspa Dewi dengan kagum. Laki-laki ini bukan lain adalah Ki Warok Surogeni, ayah dari Ratu Mayangsari! Warok Surogeni adalah seorang warok yang terkenal di Wengker dan ditakuti orang, apalagi setelah puterinya, Mayangsari, menjadi permaisuri, isteri Sang Adipati Wengker, mendiang Adipati Adhamapanuda dan kemudian diperisteri Adipati Wengker yang baru, yaitu Adipati Linggawijaya. Orang ke dua adalah seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun, bertubuh tinggi besar, wajahnya serba tebal dan kasar. Pinggangnya terbelit sebatang pecut yang ujungnya dipasangi potongan besi kecil-kecil dan runcing tajam. Inilah Ki Wirobento, seorang warok muda yang menjadi anak buah Warok Surogeni. Orang ke tiga juga seorang warok muda berusia sekitar dua puluh delapan tahun, juga bertubuh tinggi besar dan dia menggunakan sabuk kolor merah yang besar dan kuat karena kolor itu merupakan senjata ampuhnya. Dia ini bernama Ki Wirobandrek, adik dari Wirobento.
Ketika Drohawisa yang terluka memberitahu sahabat dan juga gurunya, Ki Wirobento, warok ini menjadi marah akan tetapi juga terkejut bukan main mendengar bahwa yang melukai Drohawisa adalah Puspa Dewi! Wirobento dan Wirobandrek merasa jerih menghadapi Puspa Dewi sendiri, maka mereka lalu melapor dan minta bantuan Warok Surogeni. Ki Warok Surogeni tentu saja sudah mendengar nama Puspa Dewi sebagai seorang yang dimusuhi Kadipaten Wengker. Akan tetapi dia belum pernah bertemu dan belum tahu akan kesaktian gadis itu. Biarpun dia mendengar bahwa Puspa Dewi seorang gadis yang sakti mandraguna, namun dia memandang remeh. Sampai di mana sih kehebatan seorang gadis muda? Juga dia mendengar bahwa Puspa Dewi cantik jelita seperti bidadari kahyangan! Maka dia lalu cepat mengajak Wirobento dan Wirobandrek untuk mengikuti Drohawisa sebagai penunjuk jalan, pergi mencari Puspa Dewi di rumah Garino.

Demikianlah, pagi itu mereka bertiga yang mengikuti Drohawisa sebagai penunjuk jalan telah memasuki pekarangan dan tiga orang itu sudah berlompatan turun dari atas kuda dan Drohawisa segera berseru.
"Itulah ia Puspa Dewi!"
Puspa Dewi menghadapi tiga orang itu dengan sikap tenang. Kalau mungkin, ia tidak ingin membuat keributan dan bertanding dengan orang-orang Wengker karena kedatangannya adalah untuk mencari Niken Harni. Ia tidak mempunyai urusan dengan tiga orang ini.
"Benar, aku adalah Puspa Dewi. Andika siapakah dan ada keperluan apa mencari aku di sini?"
Ki Surogeni memandang kagum dan tangan kirinya meraba kumisnya yang tebal.
"Heh, Puspa Dewi. Tentu Andika ini Sekar Kedaton Wura-Wuri yang dikabarkan berkhianat itu! Ketahuilah, aku adalah Ki Surogeni, Ayah kandung Dewi Mayangsari, permaisuri Wengker. Dua orang ini pembantuku Wirobento dan Wirobandrek. Kami mendengar bahwa Andika telah melukai anak buah kami Drohawisa, karena itu kami datang menemuimu!"
"Ah, kiranya Andika adalah Ki Surogeni, Ayah dari Dewi Mayangsari! Aku memang memberi hajaran kepada Drohawisa karena dia mengganggu seorang wanita. Aku tidak percaya bahwa sebagai Ayah permaisuri Wengker Andika akan membela seorang penjahat yang menjadi perusak pagar ayu, Ki Surogeni!"
Ki Surogeni menggulung ujung kumisnya dengan ibu jari dan telunjuk kirinya sambil mengerling ke arah Drohawisa yang masih duduk di atas kudanya dengan wajah pucat mendengar ucapan Puspa Dewi tadi.
"Hemrn, kami akan melakukan tlndakan kepada anak buah kami kalau dia bersalah, Puspa Dewi. Akan tetapi, engkau telah melanggar wilayah kami, memasuki daerah Wengker tanpa ijin."
"Ki Surogeni, aku memasuki daerah Wengker bukan dengan niat bermusuhan. Aku ke sini untuk mencari Adikku yang bernama Niken Harni. Kebetulan sekali Andika datang. Andika tentu mengetahui di mana adanya Adikku Niken Harni, maka katakanlah kepadaku, di mana ia?"
Tentu saja Ki Surogeni telah mendengar bahwa Niken Harni menjadi tamu di Istana Kadipaten Wengker, walaupun dia tidak tahu bahwa gadis itu kini telah dibawa pergi Nini Bumigarbo.
"Hemm, kiranya Andika mencari Niken Harni? Gadis itu kini menjadi tamu Istana Kadipaten. Akan tetapi karena Andika memasuki wilayah kami tanpa ijin, bahkan begitu datang membuat ribut dalam perkara orang Wengker yang sebenarnya Andika tidak mempunyai hak untuk mencampuri, maka menyerahlah Andika untuk kami tangkap dan kami hadapkan kepada Sang Adipati Wengker."
"Hemm, aku telah sejak kecil mengenal Linggajaya yang kini menjadi Adipati Wengker. Aku mau kalian antar menghadap dia, akan tetapi sebagai tamu yang hendak mencari Adikku, bukan sebagai tawanan!"
"Puspa Dewi! Andika memandang rendah kepadaku! Aku tidak ingin mempergunakan kekerasan, maka menyerahlah untuk menjadi tangkapanku dan kuhadapkan Sang Adipati."
"Ki Surogeni, sekali lagi kutegaskan. Aku tidak mencari permusuhan, akan tetapi aku juga tidak mau diperhina dan dijadikan tawanan. Baik secara halus maupun kasar, aku tidak mau dijadikan tawanan. Aku akan menghadap Sang Adipati sebagai seorang tamu! Terserah kalau Andika hendak menggunakan cara halus maupun kasar!"
"Andika menantang? Wirobento dan Wirobandrek, kalian tangkap gadis sombong ini!"

<<< Bagian 54                                                                                         Bagian 56 >>>

No comments:

Post a Comment