Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 56


Andaikata mereka berdua tidak disertai Warok Surogeni, Wirobento dan Wirobandrek tidak akan berani menyerang Puspa Dewi karena mereka sudah mendengar akan kesaktian gadis itu yang kabarnya memiliki ketangguhan yang setingkat dengan Adipati Linggawijaya sendiri. Akan tetapi karena ada Warok Surogeni di situ, mereka menjadi berani dan mendengar atasan mereka mengeluarkan perintah itu, mereka berdua dengan sikap gagah lalu menerjang maju, menyerang Puspa Dewi dari kanan kiri.
Puspa Dewi tidak ingin memberi hati, begitu dua orang itu menyerangnya dari kanan kiri, ia sudah mendahului gerakan mereka. Tubuhnya melesat ke depan menyambut kedua orang itu dengan tendangan beruntun ke kanan kiri dengan kedua kakinya.
"Wuut... suuuttt... desss! Desss!" Dua orang jagoan Wengker itu terlempar dan jatuh berguling-guling terkena sambaran kedua kaki Puspa Dewi yang cepat dan mengandung kekuatan dahsyat itu. Mereka terbanting dan merasa pening, juga dada mereka sesak karena tendangan tadi mengenai dada mereka. Puspa Dewi menendang sambil melompat tinggi, kedua kakinya menendang ke kanan kiri dan gerakan ini cepat bukan main sehingga tidak dapat diikuti dengan pandang mata. Melihat ini, Ki Surogeni menjadi terkejut juga. Dia tahu bahwa memang tingkat kepandaian dua orang anak buahnya itu belum berapa tinggi, akan tetapi kalau dibandingkan dengan para prajurit biasa, mereka berdua itu sudah termasuk jagoan yang cukup digdaya dan tangguh. Masa, dalam segebrakan saja mereka berdua sudah dapat dirobohkan oleh gadis itu, hal ini membuktikan bahwa gadis itu memang memiliki kesaktian yang luar biasa. Bagaimanapun juga, dia masih memandang rendah. Gadis itu tampak sakti sekali karena dua orang anak buahnya itu yang lemah dan bodoh. Maka dia lalu melangkah maju menghampiri Puspa Dewi dan tersenyum, masih memandang rendah.
"Puspa Dewi, jangan mengira bahwa karena sudah mampu mengalahkan Wirobento dan Wirobandrek, engkau akan dapat merajalela di Kadipaten Wengker. Hanya karena merasa malu melawan seorang gadis muda, maka aku tadi menyuruh dua orang anak buahku itu maju melawanmu. Nah, sekarang aku sendiri maju dan ingin aku melihat sampai di mana tingginya kesaktianmu."
“Ki Surogeni, sekali lagi aku tegaskan bahwa sungguh aku tidak bermaksud mencari permusuhan di Wengker. Aku hanya ingin mencari Adikku Niken Harni. Marilah, kalau Andika hendak mengajak aku pergi menghadap Adipati Linggawijaya, karena memang aku ingin bertemu dengan dia untuk mencari Adikku. Akan tetapi aku hanya mau pergi sebagai seorang tamu, bukan sebagai seorang tawanan."
"Hemm, Puspa Dewi. Sudah lama aku mendengar bahwa Andika seorang gadis yang digdaya dan angkuh. Keangkuhanmu sudah kulihat sekarang, akan tetapi kesaktianmu belum. Sekarang mari kita bertanding mengukur keampuhan aji masing-masing. Kalau Andika mampu mengalahkan aku, barulah aku akan mengiringimu sebagai seorang tamu Kadipaten Wengker. Sebaliknya kalau Andika kalah, Andika akan menjadi tawananku."
Puspa Dewi mengerutkan alisnya. Bagaimanapun juga, seandainya Niken Harni benar-benar berada di Kadipaten Wengker, tentu ia harus siap menghadapi tantangan kekerasan dari Adipati Linggawijaya. Mereka tentu tidak akan mudah begitu saja melepaskan Niken Harni. Maka, tantangan ayah dari Permaisuri Wengker ini harus diterimanya untuk memperlihatkan mereka bahwa ia bersungguh-sungguh ingin membebaskan adiknya itu, dan bahwa ia siap menentang dengan kekerasan kalau Kadipaten Wengker menolak untuk menyerahkan Niken Harni kepadanya. Keterangan Ki Surogeni bahwa adiknya itu menjadi tamu di Wengker, membuat ia curiga dan khawatir. Niken Harni memasuki Wengker untuk menyelamatkan Nyi Lasmi yang diculik anak buah Ki Suramenggala yang kini kabarnya telah diangkat menjadi seorang Tumenggung di Wengker. Maka, kiranya tidak mungkin kalau Niken Harni diterima sebagai tamu dan diperlakukan dengan baik. Apalagi mengingat bahwa watak Niken Harni amat berani dan galak. Besar kemungkinan adiknya itu menjadi tawanan. Maka ia harus siap melawan dan kalau memang benar kekhawatirannya bahwa Niken Harni tertawan, ia akan menggunakan kekerasan untuk membebaskannya.

Ia tahu bahwa ia berada di guha harimau, berada di Kerajaan Wengker di mana terdapat banyak orang sakti mandraguna dan terdapat banyak sekali Pasukan. Tak mungkin ia seorang diri akan mampu melawan mereka semua. Namun, demi keselamatan Niken Harni, ia siap menghadapi bahaya bagi dirinya sendiri.
"Baik, tantanganmu kuterima, Ki Surogeni! Aku percaya bahwa ayah seorang permaisuri tidak akan bertindak curang dan melanggar janji. Kalau aku dapat mengalahkan Andika, aku akan berkunjung ke istana Kerajaan Wengker sebagai seorang tamu dan Andika mengantarku."
Diam-diam warok besar itu merasa kagum juga. Gadis ini sungguh memiliki keberanian luar biasa. Seorang diri berani memasuki daerah yang mungkin memusuhinya! Jarang ada orang, bahkan seorang senopati sekalipun mungkin tidak ada, yang berani begitu nekat memasuki daerah lawan seorang diri saja, menghadapi kemungkinan dikeroyok puluhan ribu orang pasukan. Sudah lama dia yang berusia lima puluh tahun hidup menduda. Kalau saja dia dapat memiliki gadis seperti ini menjadi isterinya, wah, alangkah senangnya! Harta dan kedudukan dia sudah tidak butuh lagi karena dia tidak kekurangan harta benda, dan dia adalah ayah mertua Sang Adipati Wengker, berarti kedudukannya sudah tinggi dan dihormati seluruh orang Wengker. Akan tetapi sisihan atau teman hidup yang akan memuaskan hatinya dia belum punya. Dia dapat setiap saat bersenang-senang dengan wanita yang dipilihnya, namun belum pernah ada seorang wanita secantik Puspa Dewi. Isterinya dulu, ibu kandung Dewi Mayangsari, juga seorang wanita cantik, akan tetapi isterinya itu telah meninggal dunia karena sakit. Tentu saja dia tidak sungguh-sungguh ketika berjanji bahwa dia akan menghadapkan gadis ini sebagai tawanan ke Kadipaten Wengker. Baru saja dia mendengar bahwa Niken Harni menjadi tamu kadipaten itu dan pada saat ini, baik Sang Adipati Linggawijaya maupun Dewi Mayangsari, tidak berada di istana mereka. Adipati LinggaVijaya pergi ke Parang Siluman dan Kerajaan Siluman Laut Kidul untuk mengajak kedua kadipaten itu untuk bekerja sama meruntuhkan Kahuripan. Adapun Dewi Mayangsari juga pergi ke Kerajaan Wura-Wuri dengan maksud yang sama. Empat kerajaan kecil itu hendak mengadakan persekutuan lagi untuk mengulang usaha mereka yang dulu gagal, yaitu membunuh Sang Prabu Erlangga dan Kl Patih Narotama, menghancurkan Kerajaan Kahuripan yang menjadi musuh bebuyutan mereka.
"Puspa Dewi, sebaliknya Andika tentu tidak akan mengingkari janji bahwa kalau Andika kalah, Andika menjadi tawanan dan akan kubawa ke kadipaten."
"Baik, aku telah siap, Ki Surogeni!" kata Puspa Dewi dan gadis ini berdiri tenang dan santai di depan calon lawannya, dalam jarak sekitar tiga tombak.
"Puspa Dewi, sambut ini !" Warok Ki Surogeni mengangkat kedua tangannya yang membentuk cakar harimau, seluruh tubuhnya tergetar dan bergoyang-goyang, mulutnya meringis dan bibir atasnya bergerak-gerak, lalu terdengar gerengan yang amat dahsyat dan menggetarkan. Tiga ekor kuda tunggangan mereka meringkik ketakutan, mengangkat kaki depan ke atas lalu melarikan diri keluar dari pekarangan. Bahkan kuda yang ditunggangi Drohawisa juga meringkik ketakutan. Sia-sia saja tangan kiri Drohawisa berusaha menenangkan kuda dengan menarik kendali. Bahkan kuda itu ikut melompat-lompat melarikan diri sehingga tubuh Drohawisa yang masih lemah itu terlempar dari punggung kuda dan terbanting jatuh ke atas tanah! Itulah Aji Sanghara Macan, yaitu serangan melalui suara yang amat kuat dan mengandung getaran bergelombang yang dapat melumpuhkan lawan, seperti auman harimau yang dapat melumpuhkan korban yang menjadi calon mangsanya.

Akan tetapi getaran suara yang dahsyat itu seolah tidak terasa oleh Puspa Dewi, padahal ia yang diserang secara langsung. Serangan itu bagaikan gelombang samudera yang menghantam batu karang, setelah gelombang itu lewat, batu karang masih berdiri tegak. Atau seperti angin badai menerjang bukit karang. Angin lewat, bukit karang tetap tak terpengaruh. Melihat serangannya dengan Aji Sanghara Macan itu sama sekali tidak mempengaruhi lawan, Ki Surogeni merasa penasaran. Kini dia melompat ke depan dan berseru nyaring,
"Sambut seranganku!" Dia sudah menerjang dengan tamparan telapak tangan kirinya, disusul pukulan ke arah perut. Tamparan tangan kiri itu menyambar ke arah kepala Puspa Dewi. Gadis ini dengan tenang namun lincah sekali mengelak sehingga dua pukulan lawan itu luput. Puspa Dewi membalas dengan dua kali tendangan, namun Ki Surogeni juga dapat menangkis dua tendangan ini lalu menyerang lagi semakin ganas. Terjadilah pertandingan yang seru. Akan tetapi. Puspa Dewi yang pernah menerima gemblengan Sang Bhagawan Satyadharma, kini memiliki tingkat kepandaian yang tinggi. Kalau ia menghendaki, ia akan mampu mengalahkan KI Surogeni dalam waktu yang tidak terlalu lama, yaitu dengan menggunakan aji yang paling ampuh. Namun, ia tidak ingin membunuh orang, apalagi lawannya ini adalah ayah Dewi Mayangsari permaisuri Wengker. Maka, Puspa Dewi membatasi tenaganya sehingga pertandingan itu berlangsung seru. Akan tetapi diam-diam Ki Surogeni terkejut bukan main dan mulai merasa gentar. Semua serangannya tidak mampu menyentuh ujung baju gadis itu dan setiap serangan gadis itu tak dapat dia elakkan dan terpaksa dia tangkis. Akan tetapi setiap kali lengannya beradu dengan tangan gadis itu ketika dia menangkis, dia merasa lengannya tergetar hebat yang menjalar ke seluruh tubuhnya!
Sebenarnya, Ki Surogeni kini maklum bahwa nama besar Puspa Dewi sebagai seorang gadis yang sakti mandraguna, bukan nama kosong belaka. Akan tetapi untuk mengaku bahwa dia kalah atau takut, dia merasa malu. Dia adalah seorang jagoan warok yang terkenal di Wengker. Masa dia harus mengaku kalah terhadap seorang gadis muda belia ini? Karena merasa bahwa dalam adu ilmu silat dia akhirnya tentu kalah karena selain kalah kuat tenaga saktinya, juga gerakannya kalah cepat dan lincah, maka tiba-tiba Ki Surogeni melompat ke belakang dan menggunakan aji pukulan mautnya.
"Aji Bala Latul!" Ketika kedua tangannya yang terbuka itu mendorong ke arah Puspa Dewi, ada uap panas sekali menyambar ke arah Puspa Dewi.
Melihat aji pukulan yang ampuh ini, Puspa Dewi menyambut dengan dorongan kedua tangannya pula, akan tetapi ia membatasi tenaganya karena maklum bahwa kalau terlalu kuat ia menyambut pukulan maut Ki Surogeni itu dapat membalik dan mungkin membunuhnya.
"Wuuuuttt.... byarrr....!!" Tubuh Kl Surogeni terdorong ke belakang sampai dia terhuyung-huyung. Pukulannya membalik dan dia merasa dadanya panas dan sesak, wajahnya pucat dan setelah dapat berdiri tegak dia memejamkan mata dan menarik napas panjang-panjang untuk melindungi dadanya. Kemudian dia membuka matanya memandang kepada Puspa Dewi yang masih berdiri santai dan tersenyum kepadanya.
"Bagaimana, Ki Surogeni? Apakah Andika sekarang mau mengantar aku sebagai tamu yang berkunjung ke Kadipaten Wengker?"
Tentu saja Ki Surogeni tidak dapat menolak dan mengingkari janji. Pula, ini merupakan kesempatan baik baginya untuk membalas kekalahannya. Puterinya, Dewi Mayangsari, sedang tidak berada di istana. Demikian pula Adipati Linggawijaya, mantunya. Akan tetapi di sana terdapat para senopati yang memiliki kepandaian tinggi, terutama sekali Resi Bajrasakti, guru dari Adipati Linggawijaya. Kalau sudah berada di kadipaten dan berhadapan dengan Resi Bajrasakti, maka Sang Resi tentu akan dapat bertindak dan membereskan gadis yang berbahaya ini!
"Andika memang sakti mandraguna dan pantas menjadi tamu Istana Wengker, Puspa Dewi. Mari, kuantar Andika ke sana." Ki Surogeni memberikan kuda yang tadi ditunggangi Drohawisa kepada Puspa Dewi, lalu bersama Wirobento dan Wirobandrek dia mengantar Puspa Dewi menuju ke Kadipaten Wengker. Drohawisa yang ditinggalkan menyumpah-nyumpah, akan tetapi setelah tiga orang atasan itu pergi jauh. Terpaksa dia terpincang-pincang berjalan kaki sambil menahan rasa nyeri pada tangan kanan dan kaki kirinya yang buntung.

Dengan sikap tenang dan angkuh, Puspa Dewi tampak gagah ketika ia memasuki istana Kadipaten Wengker bersama Kl Surogeni. Tentu saja sebelum Puspa Dewi diajak memasuki istana Wengker, lebih dulu Wirobento dan Wirobandrek cepat melaporkan tentang kedatangan Puspa Dewi itu kepada Resi Bajrasakti dan Ki Tumenggung Suramenggala.
Para perajurit pengawal yang berjaga di Istana itu berdiri tegak dalam keadaan siap. Akan tetapi mata mereka memandang penuh kagum dan gentar terhadap gadis cantik jelita yang melangkah tenang di samping Ki Surogeni, memasuki ruangan tamu di sebelah pendapa istana Kadipaten Wengker. Banyaknya prajurit pengawal yang berada di sekitar istana, memenuhi halaman istana yang luas dan berjaga di sepanjang lorong sampai ke pendapa, sama sekali tidak membuat Puspa Dewi merasa gentar. Sebagai seorang yang pernah menjadi Sekar Kedaton Kerajaan Wura-Wuri, Puspa Dewi tentu saja tidak merasa asing dengan kemewahan yang terdapat di istana Wengker itu. Akan tetapi ia pun tahu bahwa banyaknya prajurit pengawal di luar dan dalam istana itu tidaklah wajar. Ia menduga bahwa pihak istana berada dalam keadaan siap siaga dan bahwa istana itu setidaknya bagian pendapa dan ruang tamunya, telah dikepung pasukan!

<<< Bagian 55                                                                                          Bagian 57 >>>

No comments:

Post a Comment