Andaikata mereka berdua tidak disertai Warok Surogeni, Wirobento dan Wirobandrek tidak akan berani menyerang Puspa Dewi karena mereka sudah mendengar akan kesaktian gadis itu yang kabarnya memiliki ketangguhan yang setingkat dengan Adipati Linggawijaya sendiri. Akan tetapi karena ada Warok Surogeni di situ, mereka menjadi berani dan mendengar atasan mereka mengeluarkan perintah itu, mereka berdua dengan sikap gagah lalu menerjang maju, menyerang Puspa Dewi dari kanan kiri.
Puspa Dewi
tidak ingin memberi hati, begitu dua orang itu menyerangnya dari kanan kiri, ia
sudah mendahului gerakan mereka. Tubuhnya melesat ke depan menyambut kedua
orang itu dengan tendangan beruntun ke kanan kiri dengan kedua kakinya.
"Wuut...
suuuttt... desss! Desss!" Dua orang jagoan Wengker itu terlempar dan jatuh
berguling-guling terkena sambaran kedua kaki Puspa Dewi yang cepat dan
mengandung kekuatan dahsyat itu. Mereka terbanting dan merasa pening, juga dada
mereka sesak karena tendangan tadi mengenai dada mereka. Puspa Dewi menendang
sambil melompat tinggi, kedua kakinya menendang ke kanan kiri dan gerakan ini
cepat bukan main sehingga tidak dapat diikuti dengan pandang mata. Melihat ini,
Ki Surogeni menjadi terkejut juga. Dia tahu bahwa memang tingkat kepandaian dua
orang anak buahnya itu belum berapa tinggi, akan tetapi kalau dibandingkan
dengan para prajurit biasa, mereka berdua itu sudah termasuk jagoan yang cukup
digdaya dan tangguh. Masa, dalam segebrakan saja mereka berdua sudah dapat
dirobohkan oleh gadis itu, hal ini membuktikan bahwa gadis itu memang memiliki
kesaktian yang luar biasa. Bagaimanapun juga, dia masih memandang rendah. Gadis
itu tampak sakti sekali karena dua orang anak buahnya itu yang lemah dan bodoh.
Maka dia lalu melangkah maju menghampiri Puspa Dewi dan tersenyum, masih
memandang rendah.
"Puspa
Dewi, jangan mengira bahwa karena sudah mampu mengalahkan Wirobento dan
Wirobandrek, engkau akan dapat merajalela di Kadipaten Wengker. Hanya karena
merasa malu melawan seorang gadis muda, maka aku tadi menyuruh dua orang anak
buahku itu maju melawanmu. Nah, sekarang aku sendiri maju dan ingin aku melihat
sampai di mana tingginya kesaktianmu."
“Ki Surogeni,
sekali lagi aku tegaskan bahwa sungguh aku tidak bermaksud mencari permusuhan
di Wengker. Aku hanya ingin mencari Adikku Niken Harni. Marilah, kalau Andika
hendak mengajak aku pergi menghadap Adipati Linggawijaya, karena memang aku
ingin bertemu dengan dia untuk mencari Adikku. Akan tetapi aku hanya mau pergi
sebagai seorang tamu, bukan sebagai seorang tawanan."
"Hemm,
Puspa Dewi. Sudah lama aku mendengar bahwa Andika seorang gadis yang digdaya
dan angkuh. Keangkuhanmu sudah kulihat sekarang, akan tetapi kesaktianmu belum.
Sekarang mari kita bertanding mengukur keampuhan aji masing-masing. Kalau
Andika mampu mengalahkan aku, barulah aku akan mengiringimu sebagai seorang
tamu Kadipaten Wengker. Sebaliknya kalau Andika kalah, Andika akan menjadi
tawananku."
Puspa Dewi
mengerutkan alisnya. Bagaimanapun juga, seandainya Niken Harni benar-benar
berada di Kadipaten Wengker, tentu ia harus siap menghadapi tantangan kekerasan
dari Adipati Linggawijaya. Mereka tentu tidak akan mudah begitu saja melepaskan
Niken Harni. Maka, tantangan ayah dari Permaisuri Wengker ini harus diterimanya
untuk memperlihatkan mereka bahwa ia bersungguh-sungguh ingin membebaskan
adiknya itu, dan bahwa ia siap menentang dengan kekerasan kalau Kadipaten
Wengker menolak untuk menyerahkan Niken Harni kepadanya. Keterangan Ki Surogeni
bahwa adiknya itu menjadi tamu di Wengker, membuat ia curiga dan khawatir.
Niken Harni memasuki Wengker untuk menyelamatkan Nyi Lasmi yang diculik anak
buah Ki Suramenggala yang kini kabarnya telah diangkat menjadi seorang
Tumenggung di Wengker. Maka, kiranya tidak mungkin kalau Niken Harni diterima
sebagai tamu dan diperlakukan dengan baik. Apalagi mengingat bahwa watak Niken
Harni amat berani dan galak. Besar kemungkinan adiknya itu menjadi tawanan.
Maka ia harus siap melawan dan kalau memang benar kekhawatirannya bahwa Niken
Harni tertawan, ia akan menggunakan kekerasan untuk membebaskannya.
Ia tahu bahwa
ia berada di guha harimau, berada di Kerajaan Wengker di mana terdapat banyak
orang sakti mandraguna dan terdapat banyak sekali Pasukan. Tak mungkin ia
seorang diri akan mampu melawan mereka semua. Namun, demi keselamatan Niken
Harni, ia siap menghadapi bahaya bagi dirinya sendiri.
"Baik,
tantanganmu kuterima, Ki Surogeni! Aku percaya bahwa ayah seorang permaisuri
tidak akan bertindak curang dan melanggar janji. Kalau aku dapat mengalahkan
Andika, aku akan berkunjung ke istana Kerajaan Wengker sebagai seorang tamu dan
Andika mengantarku."
Diam-diam
warok besar itu merasa kagum juga. Gadis ini sungguh memiliki keberanian luar
biasa. Seorang diri berani memasuki daerah yang mungkin memusuhinya! Jarang ada
orang, bahkan seorang senopati sekalipun mungkin tidak ada, yang berani begitu
nekat memasuki daerah lawan seorang diri saja, menghadapi kemungkinan dikeroyok
puluhan ribu orang pasukan. Sudah lama dia yang berusia lima puluh tahun hidup
menduda. Kalau saja dia dapat memiliki gadis seperti ini menjadi isterinya,
wah, alangkah senangnya! Harta dan kedudukan dia sudah tidak butuh lagi karena
dia tidak kekurangan harta benda, dan dia adalah ayah mertua Sang Adipati
Wengker, berarti kedudukannya sudah tinggi dan dihormati seluruh orang Wengker.
Akan tetapi sisihan atau teman hidup yang akan memuaskan hatinya dia belum
punya. Dia dapat setiap saat bersenang-senang dengan wanita yang dipilihnya,
namun belum pernah ada seorang wanita secantik Puspa Dewi. Isterinya dulu, ibu
kandung Dewi Mayangsari, juga seorang wanita cantik, akan tetapi isterinya itu
telah meninggal dunia karena sakit. Tentu saja dia tidak sungguh-sungguh ketika
berjanji bahwa dia akan menghadapkan gadis ini sebagai tawanan ke Kadipaten
Wengker. Baru saja dia mendengar bahwa Niken Harni menjadi tamu kadipaten itu
dan pada saat ini, baik Sang Adipati Linggawijaya maupun Dewi Mayangsari, tidak
berada di istana mereka. Adipati LinggaVijaya pergi ke Parang Siluman dan
Kerajaan Siluman Laut Kidul untuk mengajak kedua kadipaten itu untuk bekerja
sama meruntuhkan Kahuripan. Adapun Dewi Mayangsari juga pergi ke Kerajaan
Wura-Wuri dengan maksud yang sama. Empat kerajaan kecil itu hendak mengadakan
persekutuan lagi untuk mengulang usaha mereka yang dulu gagal, yaitu membunuh
Sang Prabu Erlangga dan Kl Patih Narotama, menghancurkan Kerajaan Kahuripan
yang menjadi musuh bebuyutan mereka.
"Puspa
Dewi, sebaliknya Andika tentu tidak akan mengingkari janji bahwa kalau Andika
kalah, Andika menjadi tawanan dan akan kubawa ke kadipaten."
"Baik,
aku telah siap, Ki Surogeni!" kata Puspa Dewi dan gadis ini berdiri tenang
dan santai di depan calon lawannya, dalam jarak sekitar tiga tombak.
"Puspa
Dewi, sambut ini !" Warok Ki Surogeni mengangkat kedua tangannya yang
membentuk cakar harimau, seluruh tubuhnya tergetar dan bergoyang-goyang,
mulutnya meringis dan bibir atasnya bergerak-gerak, lalu terdengar gerengan
yang amat dahsyat dan menggetarkan. Tiga ekor kuda tunggangan mereka meringkik
ketakutan, mengangkat kaki depan ke atas lalu melarikan diri keluar dari
pekarangan. Bahkan kuda yang ditunggangi Drohawisa juga meringkik ketakutan.
Sia-sia saja tangan kiri Drohawisa berusaha menenangkan kuda dengan menarik
kendali. Bahkan kuda itu ikut melompat-lompat melarikan diri sehingga tubuh
Drohawisa yang masih lemah itu terlempar dari punggung kuda dan terbanting
jatuh ke atas tanah! Itulah Aji Sanghara Macan, yaitu serangan melalui suara yang
amat kuat dan mengandung getaran bergelombang yang dapat melumpuhkan lawan,
seperti auman harimau yang dapat melumpuhkan korban yang menjadi calon
mangsanya.
Akan tetapi
getaran suara yang dahsyat itu seolah tidak terasa oleh Puspa Dewi, padahal ia
yang diserang secara langsung. Serangan itu bagaikan gelombang samudera yang
menghantam batu karang, setelah gelombang itu lewat, batu karang masih berdiri
tegak. Atau seperti angin badai menerjang bukit karang. Angin lewat, bukit
karang tetap tak terpengaruh. Melihat serangannya dengan Aji Sanghara Macan itu
sama sekali tidak mempengaruhi lawan, Ki Surogeni merasa penasaran. Kini dia
melompat ke depan dan berseru nyaring,
"Sambut
seranganku!" Dia sudah menerjang dengan tamparan telapak tangan kirinya, disusul
pukulan ke arah perut. Tamparan tangan kiri itu menyambar ke arah kepala Puspa
Dewi. Gadis ini dengan tenang namun lincah sekali mengelak sehingga dua pukulan
lawan itu luput. Puspa Dewi membalas dengan dua kali tendangan, namun Ki
Surogeni juga dapat menangkis dua tendangan ini lalu menyerang lagi semakin
ganas. Terjadilah pertandingan yang seru. Akan tetapi. Puspa Dewi yang pernah
menerima gemblengan Sang Bhagawan Satyadharma, kini memiliki tingkat kepandaian
yang tinggi. Kalau ia menghendaki, ia akan mampu mengalahkan KI Surogeni dalam
waktu yang tidak terlalu lama, yaitu dengan menggunakan aji yang paling ampuh.
Namun, ia tidak ingin membunuh orang, apalagi lawannya ini adalah ayah Dewi
Mayangsari permaisuri Wengker. Maka, Puspa Dewi membatasi tenaganya sehingga
pertandingan itu berlangsung seru. Akan tetapi diam-diam Ki Surogeni terkejut
bukan main dan mulai merasa gentar. Semua serangannya tidak mampu menyentuh
ujung baju gadis itu dan setiap serangan gadis itu tak dapat dia elakkan dan
terpaksa dia tangkis. Akan tetapi setiap kali lengannya beradu dengan tangan
gadis itu ketika dia menangkis, dia merasa lengannya tergetar hebat yang
menjalar ke seluruh tubuhnya!
Sebenarnya, Ki
Surogeni kini maklum bahwa nama besar Puspa Dewi sebagai seorang gadis yang
sakti mandraguna, bukan nama kosong belaka. Akan tetapi untuk mengaku bahwa dia
kalah atau takut, dia merasa malu. Dia adalah seorang jagoan warok yang
terkenal di Wengker. Masa dia harus mengaku kalah terhadap seorang gadis muda
belia ini? Karena merasa bahwa dalam adu ilmu silat dia akhirnya tentu kalah
karena selain kalah kuat tenaga saktinya, juga gerakannya kalah cepat dan
lincah, maka tiba-tiba Ki Surogeni melompat ke belakang dan menggunakan aji
pukulan mautnya.
"Aji Bala
Latul!" Ketika kedua tangannya yang terbuka itu mendorong ke arah Puspa
Dewi, ada uap panas sekali menyambar ke arah Puspa Dewi.
Melihat aji
pukulan yang ampuh ini, Puspa Dewi menyambut dengan dorongan kedua tangannya
pula, akan tetapi ia membatasi tenaganya karena maklum bahwa kalau terlalu kuat
ia menyambut pukulan maut Ki Surogeni itu dapat membalik dan mungkin
membunuhnya.
"Wuuuuttt....
byarrr....!!" Tubuh Kl Surogeni terdorong ke belakang sampai dia
terhuyung-huyung. Pukulannya membalik dan dia merasa dadanya panas dan sesak,
wajahnya pucat dan setelah dapat berdiri tegak dia memejamkan mata dan menarik
napas panjang-panjang untuk melindungi dadanya. Kemudian dia membuka matanya
memandang kepada Puspa Dewi yang masih berdiri santai dan tersenyum kepadanya.
"Bagaimana,
Ki Surogeni? Apakah Andika sekarang mau mengantar aku sebagai tamu yang
berkunjung ke Kadipaten Wengker?"
Tentu saja Ki
Surogeni tidak dapat menolak dan mengingkari janji. Pula, ini merupakan
kesempatan baik baginya untuk membalas kekalahannya. Puterinya, Dewi Mayangsari,
sedang tidak berada di istana. Demikian pula Adipati Linggawijaya, mantunya.
Akan tetapi di sana terdapat para senopati yang memiliki kepandaian tinggi,
terutama sekali Resi Bajrasakti, guru dari Adipati Linggawijaya. Kalau sudah
berada di kadipaten dan berhadapan dengan Resi Bajrasakti, maka Sang Resi tentu
akan dapat bertindak dan membereskan gadis yang berbahaya ini!
"Andika
memang sakti mandraguna dan pantas menjadi tamu Istana Wengker, Puspa Dewi.
Mari, kuantar Andika ke sana." Ki Surogeni memberikan kuda yang tadi
ditunggangi Drohawisa kepada Puspa Dewi, lalu bersama Wirobento dan Wirobandrek
dia mengantar Puspa Dewi menuju ke Kadipaten Wengker. Drohawisa yang
ditinggalkan menyumpah-nyumpah, akan tetapi setelah tiga orang atasan itu pergi
jauh. Terpaksa dia terpincang-pincang berjalan kaki sambil menahan rasa nyeri
pada tangan kanan dan kaki kirinya yang buntung.
Dengan sikap
tenang dan angkuh, Puspa Dewi tampak gagah ketika ia memasuki istana Kadipaten
Wengker bersama Kl Surogeni. Tentu saja sebelum Puspa Dewi diajak memasuki
istana Wengker, lebih dulu Wirobento dan Wirobandrek cepat melaporkan tentang
kedatangan Puspa Dewi itu kepada Resi Bajrasakti dan Ki Tumenggung
Suramenggala.
Para perajurit
pengawal yang berjaga di Istana itu berdiri tegak dalam keadaan siap. Akan
tetapi mata mereka memandang penuh kagum dan gentar terhadap gadis cantik
jelita yang melangkah tenang di samping Ki Surogeni, memasuki ruangan tamu di
sebelah pendapa istana Kadipaten Wengker. Banyaknya prajurit pengawal yang
berada di sekitar istana, memenuhi halaman istana yang luas dan berjaga di
sepanjang lorong sampai ke pendapa, sama sekali tidak membuat Puspa Dewi merasa
gentar. Sebagai seorang yang pernah menjadi Sekar Kedaton Kerajaan Wura-Wuri,
Puspa Dewi tentu saja tidak merasa asing dengan kemewahan yang terdapat di
istana Wengker itu. Akan tetapi ia pun tahu bahwa banyaknya prajurit pengawal
di luar dan dalam istana itu tidaklah wajar. Ia menduga bahwa pihak istana
berada dalam keadaan siap siaga dan bahwa istana itu setidaknya bagian pendapa
dan ruang tamunya, telah dikepung pasukan!
No comments:
Post a Comment