Pasti Wiro-bento dan Wirobandrek yang telah memberi laporan dan Linggawijaya yang sekarang menjadi Adipati Linggawijaya itu telah membuat persiapan!
Namun hal ini
tidak mambuat hati Puspa Dewi menjadi jerih. Ketika Puspa Dewi dan Ki Surogeni
memasuki ruangan tamu yang luas dan mewah itu, di situ telah menunggu Resi
Bajrasakti dan Ki Tumenggung Suramenggala. Tentu saja Puspa Dewi mengenal baik
dua orang laki-laki tua ini. Ki Suramenggala adalah bekas Lurah Dusun Karang
Tirta, bahkan pernah menjadi ayah tirinya karena ibunya menjadi selir bekas
lurah ini. Mengingat bahwa ibu kandungnya baru-baru ini diculik oleh
orang-orang Ki Suramenggala, sepasang mata gadis itu memandang kepada Ki
Suramenggala dengan kilatan marah. Ki Suramenggala diam-diam bergidik ngeri dan
tak dapat bertahan lama beradu pandang, segera ia menundukkan pandang matanya.
Kemudian Puspa Dewi menatap wajah Resi Bajarasakti. Tentu saja ia pun mengenal
baik pertapa sesat ini. Kurang lebih tujuh tahun yang lalu, ia pernah diculik
dan dilarikan Resi Bajrasakti ini. Akan tetapi kemudian ia terjatuh ke tangan
Nyi Dewi Durgakumala, dan sebaliknya Linggawijaya yang diculik Nyi Dewi Durgakumala
terjatuh ke tangan Sang Resi Bajrasakti. Kemudian ia menjadi murid Nyi Dewi
Durgakumala sedangkan Linggajaya menjadi murid Resi Bajrasakti. Maka ia pun
memandang kepada resi itu dengan mata mencorong. Dulu ia masih gadis remaja
ketika diculik Resi Bajrasakti dan nyaris menjadi korban kekejian pendeta sesat
ini. Akan tetapi Resi Bajrasakti tersenyum dan berkata,
"Selamat
datang di Istana Wengker, Ni Puspa Dewi. Silakan duduk!"
Akan tetapi
Puspa Dewi tetap berdiri dan ia berkata dengan sikap angkuh dan tegas.
"Aku
datang berkunjung untuk bertemu dan bicara dengan Adipati Wengker, bukan dengan
sembarang orang!"
Tumenggung
Suramenggala bangkit berdiri dan berkata dengan wajah tersenyum cerah.
"Wahai,
Anakku Puspa Dewi yang manis dan gagah perkasa. Apakah engkau tidak mengenal
lagi aku, Tumenggung Suramenggala, Ayah tirimu yang menyayangmu?"
Puspa Dewi
memandang ke arah bekas ayah tirinya itu dengan pandang mata tajam menusuk.
"Ki
Suramenggala, tidak perlu Andika banyak cakap lagi! Kalau saja aku belum menemukan
kembali Ibuku dalam keadaan selamat, sekarang juga aku pasti sudah turun tangan
menghajar Andika!"
Mendengar
ucapan Ini, Suramenggala menjadi pucat dan tidak mengeluarkan kata-kata lagi.
Kini Resi Bajrasakti tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha!
Puspa Dewi, kalau Andika hendak bertemu dengan Kanjeng Adipati Llnggawijaya,
keinginanmu itu sia-sia karena beliau sedang tidak berada di Istana."
Mendengar
ucapan Resi Bajrasakti yang nadanya sungguh-sungguh itu, Puspa Dewi menduga
bahwa kakek itu tidak berbohong.
"Kalau
begitu, biarkan aku bertemu dan bicara dengan isterinya, Dewi Mayangsaril"
"Sayang
sekali, juga beliau sedang bepergian, tidak berada di istana." Jawab Resi
Bajrasakti.
"Akan
tetapi, ketahuilah, Puspa Dewi, kalau Andika memang ada kepentingan, Andika
dapat membicarakan dengan kami bertiga. Aku adalah wakil Kanjeng Adipati dalam
urusan pemerintahan Wengker. Ki Tumenggung Suramenggala ini adalah Ayahanda
Kanjeng Adipati sehingga beliau dapat mewakili puteranya. Adapun Ki Surogeni
ini adaiah Ayahanda Permaisuri Dewi Mayangsari sehingga beliau dapat mewakili
puterinya. Nah, kalau kedatanganmu ini membawa urusan penting, kami bertiga
dapat mewakili Kanjeng Adipati Linggawijaya yang Andika tahu juga adalah
muridku. Katakanlah, apa yang Andika kehendaki, Puspa Dewi?"
"Hemm,
aku tidak mempunyai kepentingan pribadi dengan Andika, Resi Bajrasakti, atau
dengan Ki Suramenggaia ataupun Ki Surogeni. Aku hanya ingin mencari Adikku
Niken Harni karena aku tahu bahwa ia memasuki Wengker dan menurut keterangan Ki
Surogeni, ia berada di Istana Wengker. Sekarang, kalian katakan di mana Adikku
itu. Aku datang tidak dengan niat bermusuhan. Akan tetapi kalau kalian tidak
menyerahkan Adikku, atau kalau kalian mengganggu Adikku, aku tidak akan
berhenti sebelum membuat Wengker menjadi karang abang (lautan api)l"
Ucapan Puspa
Dewi dikeluarkan dengan suara lembut, namun terdengar kering dan mengerikan.
Tiga orang tua itu merasakan betapa dalam suara itu terkandung ancaman-ancaman
yang sungguh-sungguh, bukan sekadar gertakan.
"Heh,
tenanglah, Puspa Dewi. Sebenarnya, mengingat bahwa Andika adalah murid Nyi Dewi
Durgakumala yang kini menjadi Permaisuri Wura-Wuri dan Andika dianggap sebagai
puterinya dan menjadi Sekar Kedaton Wura-Wuri, Andika bukanlah orang luar dan
di antara kita ada hubungan. Wura-Wuri selalu bersahabat dengan Wengker. Karena
itu, marilah kita bicara seperti sahabat dan duduklah, Puspa Dewi."
"Hemm,
aku tidak ada urusan dengan Wengker maupun Wura-Wuri, Resi Bajrasakti. Katakan
saja di mana adanya Niken Harni."
"Hemm,
kalau Andika tidak mau menganggap kami sebagai kawan, lalu apa artinya Andika
bertanya kepada kami? Kalaupun kami menjawabnya, kalau Andika menganggap kami
sebagai musuh, Andika bagaimana dapat percaya keterangan kami? Ingat, terhadap
musuh orang dapat saja berbohong, sebaliknya terhadap teman tentu orang tidak
akan berbohong."
"Sesukamu
akan menganggap aku kawan atau lawan, Resi Bajrasakti. Akan tetapi, mengingat
bahwa Andika menjadi seorang yang berkedudukan tinggi dan berkuasa di Wengker,
dan Andika berada di sarang sendiri sehingga tidak mendapat tekanan dariku,
maka mustahil kalau Andika mau merendahkan diri menjadi seorang pengecut yang
berbohong. Aku percaya Andika akan bicara sejujurnya tentang adikku Niken
Harni."
Wajah Resi
Bajrasakti berubah merah, matanya melotot dan dia marah sekali. Memang tidak
ada alasan baginya untuk berbohong karena dia tidak takut kepada Puspa Dewi,
bahkan dapat dibilang bahwa saat itu dia yang menguasai keadaan dan dapat
menangkap bahkan membunuh gadis itu kalau dia kehendaki. Dia marah mendengar
Puspa Dewi bersikap demikian berani dan penuh tantangan.
"Huh, aku
pun tidak sudi berbohong kepadamu karena aku tidak takut untuk bicara terus
terang. Nah, dengarlah, Puspa Dewi. Niken Harni memang pernah menjadi tamu di
Istana Wengker, akan tetapi beberapa hari yang lalu ia dibawa pergi oleh Nini
Bumigarbo! Nah, percaya atau tidak, terserah!"
Sepasang mata
Puspa Dewi mencorong dan seolah hendak menembus mata Resi Bajrasakti untuk
menjenguk isi hatinya. Ia berkata,
"Aku
percaya kepada Andika, Resi Bajrasakti. Mengapa Nini Bumigarbo membawa pergi
Niken Harni, dan ke mana Adikku dibawa pergi?"
"Hoa-ha-ha-ha!"
Resi Bajrasakti tertawa bergelak.
"Apakah
Andika belum mendengar tentang watak aneh luar biasa dari Nini Bumigarbo, Puspa
Dewi? Siapa yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya dan mengapa ia
melakukan sesuatu? Ia datang dan membawa pergi Niken Harni, siapa yang dapat
melarang dan siapa pula yang dapat bertanya? Ia datang dan pergi begitu saja.
Yang kami ketahui hanyalah bahwa Niken Harni dibawa pergi Nini Bumigarbo. Kalau
Andika ingin mengetahui sebabnya, carilah Nini Bumigarbo dan tanyalah sendiri
kepadanya!"
Puspa Dewi
mengerutkan alisnya. Tentu saja ia sudah mendengar akan nama besar Nini
Bumigarbo, seorang datuk wanita yang dikabarkan orang sebagai manusia setengah
dewa atau setengah iblis yang memiliki kesaktian yang luar biasa. Bahkan ketika
ia digembleng Sang Maha Resi Satyadharma, pertapa itu pernah berkata kepadanya
bahwa di antara para tokoh sakti pada waktu itu, kiranya yang dapat dianggap
paling tinggi ilmu kepandaiannya adalah Sang Bhagawan Ekadenta dan Nini
Bumigarbo! Akan tetapi sungguh aneh sekali, mengapa Nini Bumigarbo membawa
pergi Niken Harni? Resi Bajrasakti benar ketika berkata bahwa tidak ada yang tahu
apa yang dilakukan nenek aneh itu dan mengapa ia melakukannya.
"Hemm,
baiklah. Aku percaya keterangan Andika bahwa Adikku itu telah dibawa pergi Nini
Bumigarbo, Resi Bajrasakti. Aku akan mencarinya. Akan tetapi, aku teringat
bahwa kabarnya Dewi Mayangsari adalah murid Nini Bumigarbo. Tentu ia tahu
mengapa dan ke mana Niken Harni dibawa pergi Nini Bumigarbo."
"Agaknya
Andika belum tahu benar siapa Nini Bumigarbo. Bahkan kepada muridnya sendiri
pun ia tidak pernah memberitahu. Sepengetahuanku, Kanjeng Puteri Dewi
Mayangsari juga tidak tahu ke mana Niken Harni dibawa Nini Bumigarbo."
"Sudahlah,
aku tidak ingin merepotkanmu lebih jauh. Aku pamit pergi dan terima kasih atas
keteranganmu, Resi Bajrasakti!" Setelah berkata demikian, Puspa Dewi
memutar tubuh dan melangkah keluar dari ruangan tamu.
"Puspa
Dewi, engkau sudah berani memasuki Wengker, tidak boleh pergi begitu saja!
Engkau harus tunggu pulangnya Adipati Linggawijaya dan isterinya" kata Ki
Suramenggala.
Akan tetapi
Puspa Dewi tidak mempedulikan ucapan bekas ayah tirinya itu dan melangkah
keluar. Akan tetapi setibanya di pendapa istana, ia melihat ratusan orang
perajurit sudah siap siaga dengan senjata tombak, golok, atau pedang di tangan,
menutup semua jalan keluar. Bahkan di sana, di halaman yang merupakan
alun-alun, masih terdapat sedikitnya seribu orang perjurit.
"Ha-ha-ha-ha!"
Resi Bajrasakti tertawa-tawa dan muncul dari dalam ruangan tamu bersama Ki
Surogeni dan Tumenggung Suramenggala. Mereka bertiga tertawa-tawa.
"Puspa
Dewi, Andika tidak boleh pergi sebelum Sang Adipati dan istennya pulang!
Andaikata Andika bersayap sekalipun, tidak mungkin Andika dapat terbang lolos
dari Wengker, haha-ha!"
"Untuk
keluar dari Wengker, aku tidak perlu terbang, Resi Bajrasakti!
Haiiitttt....!" Tiba-tiba Puspa Dewi mengeluarkan pekik melengking.
Itulah Aji
Jerit Guruh Bairawa dan ia sudah mencabut pedangnya Kyai Candrasa Langking dan
memutarnya dengan cepat sambil menerjang ke arah Resi Bajrasakti dan Ki
Surogeni. Pedangnya lenyap berubah menjadi sinar hitam bergulung-gulung
dibarengi angin dahsyat menyambar-nyambar dan didorong pula oleh getaran pekik
yang amat hebat itu. Resi Bajrasakti cepat melompat ke belakang dan melindungi
dirinya dengan pengerahan tenaga sakti sambil mencabut dan memutar cambuknya
yang bergagang gading. Juga Ki Surageni yang sudah merasakan kehebatan gadis
itu, cepat melompat ke belakang sambil mencabut kerisnya. Akan tetapi ternyata
serangan dahsyat dari Puspa Dewi itu hanya gertakan belaka karena tahu-tahu ia
sudah menggunakan tangan kirinya untuk menghantam tengkuk Ki Suramenggala yang
sama sekali tidak menduganya karena tadi dia tidak diserang.
"Plakk!"
Tubuh Ki Suramenggala seketika menjadi lemas setengah lumpuh dan dia sama
sekail tidak berdaya ketika tangan kiri Puspa Dewi mencengkeram baju tumenggung
yang mewah dan tebal itu pada punggungnya. Sambil menempelkan pedang di leher
bekas ayah tirinya itu Puspa Dewi menghardik.
"Resi
Bajrasakti! Kalau Andika tidak memerintahkan semua prajurit agar mundur dan
tidak boleh mengganggu kepergianku, aku akan memenggal leher Ki Suramenggala
ini lebih dulu sebelum aku mengamuk dan menjadikan tempat ini sebagai banjir
darah!"
Tentu saja Ki
Suramenggala menjadi terkejut dan ketakutan. Sedikit saja pedang yang menempel
di kulit lehernya itu digoreskan, nyawanya tidak akan tertolong lagi dan dia
akan mati seperti ayam disembelih. Saking takutnya, tubuhnya yang setengah
lumpuh itu menggigil.
"Puspa
Dewi... ingat... aku adalah ayahmu... ampunilah aku, jangan bunuh aku, Puspa
Dewi...."
Puspa Dewi
tidak menjawab, akan tetapi tangan kirinya semakin kuat mencengkeram punggung
baju itu sehingga kini leher baju itu mencekik leher Ki Suramenggala sehingga
dia menjadi semakin ketakutan.
Resi
Bajrasakti dan Ki Surogeni terkejut dan saling pandang. Mereka berdua maklum
sepenuhnya bahwa tidak mungkin mereka membiarkan gadis itu membunuh Ki
Suramenggala. Kalau tumenggung itu tewas, tentu Adipati Linggawijaya akan marah
sekali dan menyalahkan mereka. Gadis itu bukan hanya menggertak kosong. Sekali
pedangnya bergerak, Ki Suramenggala tentu tewas dan kalaupun akhirnya mereka
mampu membunuh gadis itu dengan keroyokan ribuan pasukan, yang sudah pasti
gadis itu tidak akan roboh sebelum ia membunuh banyak sekali orang. Gertakannya
merupakan ancaman yang mengerikan. Akan benar-benar terjadi banjir darah di
Wengker kalau mereka tidak menuruti kehendaknya.
"Resi
Bajrasakti, bagaimana tanggapanmu? Jangan membuat aku kehilangan
kesabaran!" bentak Puspa Dewi sambil mendorong Ki Suramenggala keluar dari
pendapa.
Para prajurit
yang berada paling depan di pendapa itu hanya mengacung-acungkan senjata
mereka, akan tetapi tentu saja mereka tidak berani menyerang, pertama karena
meiihat Ki Tumenggung Suramenggala dijadikan sandera, kedua karena mereka tidak
mendapat perintah dari Resi Bajrasakti. Resi Bajrasakti merasa ngeri sendiri
membayangkan ada prajurit yang menyerang Puspa Dewi dan menyebabkan gadis itu
membunuh Tumenggung Suramenggala dan mengamuk. Dia lalu berseru nyaring
sehingga terdengar oleh semua perajurit, juga oleh mereka yang berkumpul di
alun-alun halaman istana.
No comments:
Post a Comment