Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 57


Pasti Wiro-bento dan Wirobandrek yang telah memberi laporan dan Linggawijaya yang sekarang menjadi Adipati Linggawijaya itu telah membuat persiapan!
Namun hal ini tidak mambuat hati Puspa Dewi menjadi jerih. Ketika Puspa Dewi dan Ki Surogeni memasuki ruangan tamu yang luas dan mewah itu, di situ telah menunggu Resi Bajrasakti dan Ki Tumenggung Suramenggala. Tentu saja Puspa Dewi mengenal baik dua orang laki-laki tua ini. Ki Suramenggala adalah bekas Lurah Dusun Karang Tirta, bahkan pernah menjadi ayah tirinya karena ibunya menjadi selir bekas lurah ini. Mengingat bahwa ibu kandungnya baru-baru ini diculik oleh orang-orang Ki Suramenggala, sepasang mata gadis itu memandang kepada Ki Suramenggala dengan kilatan marah. Ki Suramenggala diam-diam bergidik ngeri dan tak dapat bertahan lama beradu pandang, segera ia menundukkan pandang matanya. Kemudian Puspa Dewi menatap wajah Resi Bajarasakti. Tentu saja ia pun mengenal baik pertapa sesat ini. Kurang lebih tujuh tahun yang lalu, ia pernah diculik dan dilarikan Resi Bajrasakti ini. Akan tetapi kemudian ia terjatuh ke tangan Nyi Dewi Durgakumala, dan sebaliknya Linggawijaya yang diculik Nyi Dewi Durgakumala terjatuh ke tangan Sang Resi Bajrasakti. Kemudian ia menjadi murid Nyi Dewi Durgakumala sedangkan Linggajaya menjadi murid Resi Bajrasakti. Maka ia pun memandang kepada resi itu dengan mata mencorong. Dulu ia masih gadis remaja ketika diculik Resi Bajrasakti dan nyaris menjadi korban kekejian pendeta sesat ini. Akan tetapi Resi Bajrasakti tersenyum dan berkata,
"Selamat datang di Istana Wengker, Ni Puspa Dewi. Silakan duduk!"
Akan tetapi Puspa Dewi tetap berdiri dan ia berkata dengan sikap angkuh dan tegas.
"Aku datang berkunjung untuk bertemu dan bicara dengan Adipati Wengker, bukan dengan sembarang orang!"
Tumenggung Suramenggala bangkit berdiri dan berkata dengan wajah tersenyum cerah.
"Wahai, Anakku Puspa Dewi yang manis dan gagah perkasa. Apakah engkau tidak mengenal lagi aku, Tumenggung Suramenggala, Ayah tirimu yang menyayangmu?"
Puspa Dewi memandang ke arah bekas ayah tirinya itu dengan pandang mata tajam menusuk.
"Ki Suramenggala, tidak perlu Andika banyak cakap lagi! Kalau saja aku belum menemukan kembali Ibuku dalam keadaan selamat, sekarang juga aku pasti sudah turun tangan menghajar Andika!"
Mendengar ucapan Ini, Suramenggala menjadi pucat dan tidak mengeluarkan kata-kata lagi. Kini Resi Bajrasakti tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha! Puspa Dewi, kalau Andika hendak bertemu dengan Kanjeng Adipati Llnggawijaya, keinginanmu itu sia-sia karena beliau sedang tidak berada di Istana."

Mendengar ucapan Resi Bajrasakti yang nadanya sungguh-sungguh itu, Puspa Dewi menduga bahwa kakek itu tidak berbohong.
"Kalau begitu, biarkan aku bertemu dan bicara dengan isterinya, Dewi Mayangsaril"
"Sayang sekali, juga beliau sedang bepergian, tidak berada di istana." Jawab Resi Bajrasakti.
"Akan tetapi, ketahuilah, Puspa Dewi, kalau Andika memang ada kepentingan, Andika dapat membicarakan dengan kami bertiga. Aku adalah wakil Kanjeng Adipati dalam urusan pemerintahan Wengker. Ki Tumenggung Suramenggala ini adalah Ayahanda Kanjeng Adipati sehingga beliau dapat mewakili puteranya. Adapun Ki Surogeni ini adaiah Ayahanda Permaisuri Dewi Mayangsari sehingga beliau dapat mewakili puterinya. Nah, kalau kedatanganmu ini membawa urusan penting, kami bertiga dapat mewakili Kanjeng Adipati Linggawijaya yang Andika tahu juga adalah muridku. Katakanlah, apa yang Andika kehendaki, Puspa Dewi?"
"Hemm, aku tidak mempunyai kepentingan pribadi dengan Andika, Resi Bajrasakti, atau dengan Ki Suramenggaia ataupun Ki Surogeni. Aku hanya ingin mencari Adikku Niken Harni karena aku tahu bahwa ia memasuki Wengker dan menurut keterangan Ki Surogeni, ia berada di Istana Wengker. Sekarang, kalian katakan di mana Adikku itu. Aku datang tidak dengan niat bermusuhan. Akan tetapi kalau kalian tidak menyerahkan Adikku, atau kalau kalian mengganggu Adikku, aku tidak akan berhenti sebelum membuat Wengker menjadi karang abang (lautan api)l"
Ucapan Puspa Dewi dikeluarkan dengan suara lembut, namun terdengar kering dan mengerikan. Tiga orang tua itu merasakan betapa dalam suara itu terkandung ancaman-ancaman yang sungguh-sungguh, bukan sekadar gertakan.
"Heh, tenanglah, Puspa Dewi. Sebenarnya, mengingat bahwa Andika adalah murid Nyi Dewi Durgakumala yang kini menjadi Permaisuri Wura-Wuri dan Andika dianggap sebagai puterinya dan menjadi Sekar Kedaton Wura-Wuri, Andika bukanlah orang luar dan di antara kita ada hubungan. Wura-Wuri selalu bersahabat dengan Wengker. Karena itu, marilah kita bicara seperti sahabat dan duduklah, Puspa Dewi."
"Hemm, aku tidak ada urusan dengan Wengker maupun Wura-Wuri, Resi Bajrasakti. Katakan saja di mana adanya Niken Harni."
"Hemm, kalau Andika tidak mau menganggap kami sebagai kawan, lalu apa artinya Andika bertanya kepada kami? Kalaupun kami menjawabnya, kalau Andika menganggap kami sebagai musuh, Andika bagaimana dapat percaya keterangan kami? Ingat, terhadap musuh orang dapat saja berbohong, sebaliknya terhadap teman tentu orang tidak akan berbohong."
"Sesukamu akan menganggap aku kawan atau lawan, Resi Bajrasakti. Akan tetapi, mengingat bahwa Andika menjadi seorang yang berkedudukan tinggi dan berkuasa di Wengker, dan Andika berada di sarang sendiri sehingga tidak mendapat tekanan dariku, maka mustahil kalau Andika mau merendahkan diri menjadi seorang pengecut yang berbohong. Aku percaya Andika akan bicara sejujurnya tentang adikku Niken Harni."

Wajah Resi Bajrasakti berubah merah, matanya melotot dan dia marah sekali. Memang tidak ada alasan baginya untuk berbohong karena dia tidak takut kepada Puspa Dewi, bahkan dapat dibilang bahwa saat itu dia yang menguasai keadaan dan dapat menangkap bahkan membunuh gadis itu kalau dia kehendaki. Dia marah mendengar Puspa Dewi bersikap demikian berani dan penuh tantangan.
"Huh, aku pun tidak sudi berbohong kepadamu karena aku tidak takut untuk bicara terus terang. Nah, dengarlah, Puspa Dewi. Niken Harni memang pernah menjadi tamu di Istana Wengker, akan tetapi beberapa hari yang lalu ia dibawa pergi oleh Nini Bumigarbo! Nah, percaya atau tidak, terserah!"
Sepasang mata Puspa Dewi mencorong dan seolah hendak menembus mata Resi Bajrasakti untuk menjenguk isi hatinya. Ia berkata,
"Aku percaya kepada Andika, Resi Bajrasakti. Mengapa Nini Bumigarbo membawa pergi Niken Harni, dan ke mana Adikku dibawa pergi?"
"Hoa-ha-ha-ha!" Resi Bajrasakti tertawa bergelak.
"Apakah Andika belum mendengar tentang watak aneh luar biasa dari Nini Bumigarbo, Puspa Dewi? Siapa yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya dan mengapa ia melakukan sesuatu? Ia datang dan membawa pergi Niken Harni, siapa yang dapat melarang dan siapa pula yang dapat bertanya? Ia datang dan pergi begitu saja. Yang kami ketahui hanyalah bahwa Niken Harni dibawa pergi Nini Bumigarbo. Kalau Andika ingin mengetahui sebabnya, carilah Nini Bumigarbo dan tanyalah sendiri kepadanya!"
Puspa Dewi mengerutkan alisnya. Tentu saja ia sudah mendengar akan nama besar Nini Bumigarbo, seorang datuk wanita yang dikabarkan orang sebagai manusia setengah dewa atau setengah iblis yang memiliki kesaktian yang luar biasa. Bahkan ketika ia digembleng Sang Maha Resi Satyadharma, pertapa itu pernah berkata kepadanya bahwa di antara para tokoh sakti pada waktu itu, kiranya yang dapat dianggap paling tinggi ilmu kepandaiannya adalah Sang Bhagawan Ekadenta dan Nini Bumigarbo! Akan tetapi sungguh aneh sekali, mengapa Nini Bumigarbo membawa pergi Niken Harni? Resi Bajrasakti benar ketika berkata bahwa tidak ada yang tahu apa yang dilakukan nenek aneh itu dan mengapa ia melakukannya.
"Hemm, baiklah. Aku percaya keterangan Andika bahwa Adikku itu telah dibawa pergi Nini Bumigarbo, Resi Bajrasakti. Aku akan mencarinya. Akan tetapi, aku teringat bahwa kabarnya Dewi Mayangsari adalah murid Nini Bumigarbo. Tentu ia tahu mengapa dan ke mana Niken Harni dibawa pergi Nini Bumigarbo."
"Agaknya Andika belum tahu benar siapa Nini Bumigarbo. Bahkan kepada muridnya sendiri pun ia tidak pernah memberitahu. Sepengetahuanku, Kanjeng Puteri Dewi Mayangsari juga tidak tahu ke mana Niken Harni dibawa Nini Bumigarbo."
"Sudahlah, aku tidak ingin merepotkanmu lebih jauh. Aku pamit pergi dan terima kasih atas keteranganmu, Resi Bajrasakti!" Setelah berkata demikian, Puspa Dewi memutar tubuh dan melangkah keluar dari ruangan tamu.
"Puspa Dewi, engkau sudah berani memasuki Wengker, tidak boleh pergi begitu saja! Engkau harus tunggu pulangnya Adipati Linggawijaya dan isterinya" kata Ki Suramenggala.
Akan tetapi Puspa Dewi tidak mempedulikan ucapan bekas ayah tirinya itu dan melangkah keluar. Akan tetapi setibanya di pendapa istana, ia melihat ratusan orang perajurit sudah siap siaga dengan senjata tombak, golok, atau pedang di tangan, menutup semua jalan keluar. Bahkan di sana, di halaman yang merupakan alun-alun, masih terdapat sedikitnya seribu orang perjurit.
"Ha-ha-ha-ha!" Resi Bajrasakti tertawa-tawa dan muncul dari dalam ruangan tamu bersama Ki Surogeni dan Tumenggung Suramenggala. Mereka bertiga tertawa-tawa.
"Puspa Dewi, Andika tidak boleh pergi sebelum Sang Adipati dan istennya pulang! Andaikata Andika bersayap sekalipun, tidak mungkin Andika dapat terbang lolos dari Wengker, haha-ha!"
"Untuk keluar dari Wengker, aku tidak perlu terbang, Resi Bajrasakti! Haiiitttt....!" Tiba-tiba Puspa Dewi mengeluarkan pekik melengking.
Itulah Aji Jerit Guruh Bairawa dan ia sudah mencabut pedangnya Kyai Candrasa Langking dan memutarnya dengan cepat sambil menerjang ke arah Resi Bajrasakti dan Ki Surogeni. Pedangnya lenyap berubah menjadi sinar hitam bergulung-gulung dibarengi angin dahsyat menyambar-nyambar dan didorong pula oleh getaran pekik yang amat hebat itu. Resi Bajrasakti cepat melompat ke belakang dan melindungi dirinya dengan pengerahan tenaga sakti sambil mencabut dan memutar cambuknya yang bergagang gading. Juga Ki Surageni yang sudah merasakan kehebatan gadis itu, cepat melompat ke belakang sambil mencabut kerisnya. Akan tetapi ternyata serangan dahsyat dari Puspa Dewi itu hanya gertakan belaka karena tahu-tahu ia sudah menggunakan tangan kirinya untuk menghantam tengkuk Ki Suramenggala yang sama sekali tidak menduganya karena tadi dia tidak diserang.
"Plakk!" Tubuh Ki Suramenggala seketika menjadi lemas setengah lumpuh dan dia sama sekail tidak berdaya ketika tangan kiri Puspa Dewi mencengkeram baju tumenggung yang mewah dan tebal itu pada punggungnya. Sambil menempelkan pedang di leher bekas ayah tirinya itu Puspa Dewi menghardik.
"Resi Bajrasakti! Kalau Andika tidak memerintahkan semua prajurit agar mundur dan tidak boleh mengganggu kepergianku, aku akan memenggal leher Ki Suramenggala ini lebih dulu sebelum aku mengamuk dan menjadikan tempat ini sebagai banjir darah!"

Tentu saja Ki Suramenggala menjadi terkejut dan ketakutan. Sedikit saja pedang yang menempel di kulit lehernya itu digoreskan, nyawanya tidak akan tertolong lagi dan dia akan mati seperti ayam disembelih. Saking takutnya, tubuhnya yang setengah lumpuh itu menggigil.
"Puspa Dewi... ingat... aku adalah ayahmu... ampunilah aku, jangan bunuh aku, Puspa Dewi...."
Puspa Dewi tidak menjawab, akan tetapi tangan kirinya semakin kuat mencengkeram punggung baju itu sehingga kini leher baju itu mencekik leher Ki Suramenggala sehingga dia menjadi semakin ketakutan.
Resi Bajrasakti dan Ki Surogeni terkejut dan saling pandang. Mereka berdua maklum sepenuhnya bahwa tidak mungkin mereka membiarkan gadis itu membunuh Ki Suramenggala. Kalau tumenggung itu tewas, tentu Adipati Linggawijaya akan marah sekali dan menyalahkan mereka. Gadis itu bukan hanya menggertak kosong. Sekali pedangnya bergerak, Ki Suramenggala tentu tewas dan kalaupun akhirnya mereka mampu membunuh gadis itu dengan keroyokan ribuan pasukan, yang sudah pasti gadis itu tidak akan roboh sebelum ia membunuh banyak sekali orang. Gertakannya merupakan ancaman yang mengerikan. Akan benar-benar terjadi banjir darah di Wengker kalau mereka tidak menuruti kehendaknya.
"Resi Bajrasakti, bagaimana tanggapanmu? Jangan membuat aku kehilangan kesabaran!" bentak Puspa Dewi sambil mendorong Ki Suramenggala keluar dari pendapa.
Para prajurit yang berada paling depan di pendapa itu hanya mengacung-acungkan senjata mereka, akan tetapi tentu saja mereka tidak berani menyerang, pertama karena meiihat Ki Tumenggung Suramenggala dijadikan sandera, kedua karena mereka tidak mendapat perintah dari Resi Bajrasakti. Resi Bajrasakti merasa ngeri sendiri membayangkan ada prajurit yang menyerang Puspa Dewi dan menyebabkan gadis itu membunuh Tumenggung Suramenggala dan mengamuk. Dia lalu berseru nyaring sehingga terdengar oleh semua perajurit, juga oleh mereka yang berkumpul di alun-alun halaman istana.

<<< Bagian 56                                                                                         Bagian 58 >>>

No comments:

Post a Comment