Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 58


"Haiiii Para prajurit dan para perwira! Dengar perintah kami! Jangan halangi Puspa Dewi keluar dari kota raja!"
Setelah berteriak demikian Resi Bajrasakti berkata kepada Puspa Dewi.
"Nah, Puspa Dewi, Andika boleh pergi, akan tetapi Andika harus memegang janji dan membebaskan Ki Tumenggung Suramenggala."
"Resi Bajrasakti, aku bukan orang yang suka melanggar janji. Biarpun Ki Suramenggala pantas dihukum atas kejahatannya terhadap Ibuku, namun aku akan membebaskannya kalau aku sudah terlepas dari kepungan pasukanmu."

Setelah berkata demikian, dengan sikap tenang namun waspada, Puspa Dewi mendorong Ki Suramenggala dan melangkah keluar dari pendapa istana, kemudian terus menyeberangi alun-alun di antara deretan perajurit yang berkumpul di kanan kiri. Para prajurit itu hanya dapat memandang dengan kagum akan tetapi tidak ada yang berani bergerak. Juga ketika Puspa Dewi yang menodong Ki Suramenggala itu keluar dari pintu gerbang kota kadipaten, tidak ada seorang pun berani menghalanginya. Sebetulnya banyak para perwira dan senopati merasa penasaran karena mereka merasa yakin bahwa apabila mereka diperbolehkan dan maju menyerbu, mustahil gadis itu mampu lolos dari pengeroyokan ratusan, bahkan ribuan orang prajurit! Akan tetapi, tentu saja mereka tidak berani melanggar perintah Resi Bajrasakti tadi. Juga mereka semua merasa ngeri, kalau sampai Ki Suramenggala tewas dan mereka dipersalahkan sebagai penyebabnya, tentu Sang Adipati akan marah sekali dan menghukum mereka. Maka, biarpun di situ berkumpul banyak sekali prajurit, tak seorang pun berani bergerak menghalangi gadis yang keluar dari kota Kadipaten Wengker itu.
Setelah tiba di luar kota dan tidak ada lagi prajurit berjaga, Puspa Dewi melepaskan Ki Suramenggala dan berkata,
"Ki Suramenggala, kalau Andika berani lagi mengganggu Ibuku, aku tidak akan mengampunimu!" Setelah berkata demikian, Puspa Dewi melompat jauh dan berlari cepat meninggalkan Ki Suramenggala yang kini dapat bernapas lega. Dia terbebas dari ancaman maut, akan tetapi juga dia merasa kehilangan muka karena tadinya Ki Tumenggung Suramenggala dikenal selain sebagai ayah kandung Sang Adipati Wengker, juga sebagai seorang yang sakti! Maka, dia tidak kembali ke istana, melainkan diam-diam pulang ke rumahnya sendiri.

Pada awal kisah ini, Empu Bharada dalam samadhinya menerima wangsit (penglihatan batin) betapa hawa angkara murka dan nafsu-nafsu daya rendah menimbulkan kegelapan menyelimuti Kahuripan. Penglihatan batin ini dia artikan sebagai malapetaka yang mengancam Kahuripan, membuat hati sang pertapa yang arif bijaksana ini khawatir sungguhpun dia menyerahkan segalanya kepada Kekuasaan Sang Hyang Widhi dan merasa yakin bahwa Yang Maha Kuasa pasti akan menolong dan membebaskan Kahuripan dari kehancuran akibat serangan bencana itu. Apa yang dikhawatirkan Sang Empu Bharada akhirnya terjadi juga. Adipati Wengker, Linggawijaya dan isterinya, Dewi Mayangsari, pergi untuk membujuk kerajaan-kerajaan kecil lainnya untuk sekali lagi berusaha menghancurkan Kahuripan, musuh bebuyutan mereka. Adipati Linggawijaya pergi berkunjung ke Kerajaan Parang Siluman dan diterima dengan gembira Ratu Parang-Siluman, yaitu Nyi Durgamala yang biarpun usianya sudah lebih dari empat puluh tahun, namun masih tampak cantik seperti kedua orang anak perempuannya, yaitu Lasmini, bekas selir Ki Patih Narotama yang berusia dua puluh empat tahun dan Mandari, bekas selir Sang Prabu Erlangga yang berusia dua puluh dua tahun. Tentu saja uluran tangan Adipati Wengker untuk bekerja sama menghancurkan Kahuripan itu diterima baik oleh tiga orang wanita cantik yang menjadi penguasa di Kerajaan Parang Siluman itu. Kahuripan atau lebih tepat lagi, Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama merupakan musuh-musuh besar mereka. Kalau Raja dan Patih Kahuripan itu mengambil mereka sebagai selir karena kecantik-jelitaan yang luar biasa dari kakak-beradik ini dan juga karena Sang Prabu Erlangga berniat mengakhiri permusuhan itu dengan jalan pernikahan, sebaliknya dua orang kakak-beradik itu mau menjadi selir mereka dengan maksud untuk menghancurkan Raja dan Patih itu dari dalam! Memang kedua orang gadis itu kemudian jatuh cinta kepada suami mereka, namun mereka tetap melaksanakan cita-cita mereka menghancurkan Kahuripan. Namun usaha yang didukung kerajaan-kerajaan lain itu ternyata gagal dan mereka berdua bahkan diusir dari Kahuripan. Tentu saja Lasmini dan Mandari yang memiliki kesaktian itu menjadi sakit hati, dan mendendam kepada Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Hanya saja, mereka tidak mampu berbuat sesuatu karena Raja dan Patih Kahuripan itu sakti mandraguna, memiliki banyak senopati yang sakti, didukung pula oleh para satria yang setia kepada Kahuripan, serta memiliki pasukan yang kuat. Maka, ketika Linggawijaya, Adipati Wengker datang berkunjung dan menawarkan kerjasama, mereka menyambutnya dengan gembira. Timbul pula harapan baru dalam hati mereka untuk dapat membalas dendam dan menghancurkan Kahuripan, apalagi kini mereka menganggap Kerajaan Wengker menjadi kuat setelah adipatinya baru, yaitu Linggawijaya yang dulu pernah pula mengadakan hubungan gelap dengan Lasminil Hal ini diceritakan dalam kisah Sang Megatantra. Baik Lasmini maupun Mandari sudah tahu akan kesaktian Linggawijaya yang dulu bernama Linggajaya, murid Resi Bajrasakti itu.

Sejak diusir dari Kahuripan, Lasmini dan Mandari kembali ke Parang Siluman dan membantu Ratu Durgamala, ibu mereka yang janda, mengurus Kerajaan Parang Siluman. Dua orang puteri itu setelan diusir dari Kahuripan, menuruti watak mereka yang cabul seperti ibu mereka. Mereka adalah hamba-hamba dari nafsu mereka sendiri, dan setelah berpisah dari Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang menjadi suami mereka, kakak beradik ini tidak tahan untuk hidup sendiri tanpa pria. Mulailah mereka mengumbar nafsu, mencari dan berganti-ganti kekasih karena mereka memang pembosan. Ibu mereka, Ratu Durgamala, membiarkan saja kelakuan dua orang pulennya karena ia sendiripun berwatak seperti itu. Berpisah dari suaminya yang kini menjadi Bhagawan Kundolomuko, Ratu Durgamala juga berganti-ganti kekasih, pemuda-pemuda tampan. Bahkan ibu dan dua orang puterinya itu kini menjadi penyembah-penyembah Bathari Durga, agama yang dipimpin oleh bekas suami ratu itu sendiri, yaitu Bhagawan Kundolomuko. Mereka juga menambah ilmu mereka dengan ilmu sihir yang menjadi keistimewaan Bhagawan Kundolomuko sebagai penyembah Bathari Durga.
Pada waktu itu, Kerajaan Parang Siluman yang sebetulnya wilayahnya lebih kecil dibandingkan Wengker atau Wura-Wuri, merupakan kerajaan kecil atau kadipaten yang kuat karena memiliki banyak orang yang sakti mandraguna. Ratu Durgamala sendiri adalah seorang janda cantik yang sakti. Kedua orang puterinya, Lasmini dan Mandari, juga memiliki tingkat kepandaian yang bahkan lebih tinggi dibandingkan tingkat ibu mereka. Masih ada lagi bekas suami Sang Ratu, yaitu Bhagawan Kundolomuko yang kini menjadi Ketua Agama Durgadharma di kerajaan itu. Juga masih diperkuat oleh Ki Nagakumala, yaitu kakak kandung Ratu Durgamala yang juga memberi gemblengan kesaktian kepada Lasmini dan Mandari, dua orang keponakannya. Ki Nagakumala ini adalah bekas suami Ratu Mayang Gupita dari Kerajaan Siluman Laut Kidul. Maka, biarpun Kerajaan Parang Siluman tidak berapa besar, pasukannya yang tidak besar jumlahnya itu amat kuat karena para prajuritnya membentuk pasukan-pasukan siluman yang pandai menyerang dengan ilmu sihir dan tenung.
Kerajaan Parang Siluman dengan para tokohnya yang sejak turun-temurun menjadi musuh keturunan Mataram yang sekarang menjadi Kerajaan Kahuripan. Maka, kunjungan Adipati Linggawijaya dari Kerajaan Wengker tentu saja disambut gembira oleh para pimpinan Parang Siluman, terutama sekali Ratu Durgamala dan kedua orang puterinya, Lasmini dan Mandari. Mereka menyambut adipati muda yang tampan itu dengan pesta. Kebetulan sekali pada malamnya adalah malam bulan purnama dan seperti biasa, pada bulan purnama diadakan upacara pemujaan Bathari Durga. Sambil berpesta, Adipati Linggawijaya disuguhi tari-tarian yang menggairahkan, bahkan dalam kesempatan itu, Puteri Lasmini dan Mandari yang cantik molek itu memamerkan kepandaian mereka menari. Dengan pakaian indah namun menggairahkan karena pakaian tembus pandang itu membuat tubuh mereka yang menggairahkan, dengan lekuk-lengkung sempurna itu tampak jelas. Apalagi tari-tari yang dilakukan dengan tubuh yang lentur dan indah itu menggeliat-geliat bagaikan ular kepanasan, membuat Linggawijaya yang menonton menjadi terangsang. Ditambah lagi dengan minuman keras yang memabokkan. Akan tetapi, dia tidak mempunyai pilihan lain karena sejak dia datang, Ratu Durgamala sudah mengambil keputusan untuk tidak menyia-nyiakan kehadiran adipati yang gagah dan tampan ini untuk diajak bersenang-senang setelah ada persetujuan bekerjasama menghancurkan Kahuripan. Sehabis pesta malam itu, Ratu Durgamala menyekap Linggawijaya dalam kamarnya. Lasmini dan Mandari tentu saja harus mengalah terhadap ibunya dan mereka mencari pasangan lain terdiri dari para pemuda yang selalu siap untuk melayani mereka.
Sampai tiga hari tiga malam Adipati Linggawijaya tinggal di Istana Parang Siluman. Selain setiap hari bersenang-senang dengan Ratu Durgamala dan kedua orang puterinya, Linggawijaya juga mengadakan perundingan untuk mengadakan pertemuan besar antara semua kadipaten atau kerajaan kecil yang menentang Kahuripan. Setelah itu, dia lalu melanjutkan perjalanannya ke Kadipaten Siluman Laut Kidul.
Dibandingkan tiga buah kerajaan lain, yaitu Kerajaan Wengker, Kerajaan Wura-Wuri, dan Kerajaan Parang Siluman, maka kerajaan di tepi laut yang disebut Kerajaan Siluman Laut Kidul dapat dibilang kecil. Daerahnya tidak luas, hanya sepanjang pantai sampai ke pegunungan, memanjang dari barat ke timur, di sebelah timur Kerajaan Parang Siluman. Namun, kerajaan ini dipimpin keluarga seperguruan yang sakti mandraguna.

Ratu Mayang Gupita yang menjadi penguasa di Kerajaan Siluman Laut Kidul terkenal sekali dan disegani para pimpinan kerajaan lain. Ia seorang wanita berusia sekitar lima puluh dua tahun, dapat disebut seorang raseksi (raksasa wanita) karena tubuhnya tinggi besar dengan perut gendut. Wajahnya menyeramkan, berbentuk serba bulat dan besar, baik itu matanya, hidungnya, telinganya atau mulutnya. Bahkan di kedua sudut bibirnya tampak taring menonjol. Wanita tua dan jelek rupanya ini mewah sekali. Tubuhnya mengenakan pakaian yang serba indah dan perhiasan emas permata memenuhi kaki tangan dan lehernya. Juga lagaknya genit seperti seorang perawan manja. Akan tetapi ia sakti mandraguna, juga terkenal kejam terhadap musuh-musuhnya. Ratu Mayang Gupita telah janda, bercerai dari suaminya yang bukan lain adalah Ki Nagakumala, kakak Ratu Durgamala dari Parang Siluman yang juga menjadi guru Puteri Lasmini dan Mandari. Biarpun kini Ki Nagakumala berada di Parang Siluman dan membantu adiknya, namun hubungannya dengan bekas isterinya, masih tetap baik karena keduanya mempunyai musuh yang sama, yaitu Kerajaan Kahuripan. Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul ini tidak mempunyai anak, dan sesungguhnya sejak muda ia tidak begitu suka kepada pria, karena tidak pernah ada pria mengaguminya. Pernikahannya dahulu dengan Ki Nagakumala juga hanya untuk menyatukan kedua kerajaan agar kedudukan mereka kuat. Akan tetapi karena ratu raseksi yang biarpun pesolek dan genit ini tidak suka kepada pria, maka pemihakan itu akhirnya gagal dan ia bercerai dari suaminya yang lebih suka bermesraan dengan wanita lain daripada dengan isterinya yang berwajah menyeramkan itu. Ratu Mayang Gupita memerintahkan Kerajaan Siluman Laut Kidul dengan tangan besi. Ia dibantu tiga orang yang juga sakti mandraguna dan bersama Sang Ratu, mereka merupakan keluarga seperguruan yang kesemuanya selain ahli ilmu kanuragan, juga pandai ilmu sihir. Yang pertama adalah paman guru dari Sang Ratu bernama Bhagawan Kalamisani. Kakek ini berusia enam puluh lima tahun dan menjadi guru sihir Ratu Mayang Gupita. Tubuhnya kurus kecil dan bongkok, mirip Sang Bhagawan Durna dari kisah wayang Maha Bharata. Akan tetapi kakek ini merupakan lawan yang amat berbahaya karena memiliki bermacam-macam ilmu sihir yang dahsyat. Orang ke dua adalah Ki Naga jaya yang berusia empat puluh lima tahun, bertubuh kecil kurus. Dia adalah adik seperguruan Ratu Mayang Gupita, ahli bersilat dengan senjata ruyung dan juga pandai bermain sihir. Orang ke tiga adalah Ki Nagarodra, adik dari Nagajaya, berusia empat puluh tahun dan tubuhnya tinggi besar. Senjatanya sebuah klewang (golok) dan seperti kakaknya, dia pun ahli sihir dan menjadi adik seperguruan Sang Ratu. Demikianlah, empat orang anggauta keluarga seperguruan ini yang menjadi pemimpin di Kerajaan Siluman Laut Kidul. Tentu saja masih banyak terdapat para senopati dan perwira yang memimpin pasukan kerajaan itu. Biarpun jumlah pasukan Kerajaan Siluman Laut Kidul tidak besar, hanya kurang lebih lima ribu orang saja, namun pasukan ini dapat membentuk barisan yang mengandung daya sihir sehingga dapat melawan musuh yang jumlahnya lebih besar daripada jumlah mereka. Kerajaan Siluman Laut Kidul juga ikut bersekutu dengan tiga kerajaan lain, namun gerakan mereka yang sekongkol dengan pemberontak di Kahuripan telah mengalami kegagalan. Hal ini menambah perasaan dendam dan benci dalam hati para pimpinan Kerajaan Siluman Laut Kidul kepada Kahuripan. Karena itu, ketika Adipati Linggawijaya dari Wengker datang berkunjung, tentu saja Ratu Mayang Gupita dan tiga orang pembantunya menyambut dengan gembira. Mereka lalu mengadakan pesta penyambutan yang meriah untuk menghormati Adipati Linggawijaya.

<<< Bagian 57                                                                                          Bagian 59 >>>

No comments:

Post a Comment