"Haiiii Para prajurit dan para perwira! Dengar perintah kami! Jangan halangi Puspa Dewi keluar dari kota raja!"
Setelah
berteriak demikian Resi Bajrasakti berkata kepada Puspa Dewi.
"Nah,
Puspa Dewi, Andika boleh pergi, akan tetapi Andika harus memegang janji dan
membebaskan Ki Tumenggung Suramenggala."
"Resi
Bajrasakti, aku bukan orang yang suka melanggar janji. Biarpun Ki Suramenggala
pantas dihukum atas kejahatannya terhadap Ibuku, namun aku akan membebaskannya
kalau aku sudah terlepas dari kepungan pasukanmu."
Setelah
berkata demikian, dengan sikap tenang namun waspada, Puspa Dewi mendorong Ki
Suramenggala dan melangkah keluar dari pendapa istana, kemudian terus
menyeberangi alun-alun di antara deretan perajurit yang berkumpul di kanan
kiri. Para prajurit itu hanya dapat memandang dengan kagum akan tetapi tidak
ada yang berani bergerak. Juga ketika Puspa Dewi yang menodong Ki Suramenggala
itu keluar dari pintu gerbang kota kadipaten, tidak ada seorang pun berani
menghalanginya. Sebetulnya banyak para perwira dan senopati merasa penasaran
karena mereka merasa yakin bahwa apabila mereka diperbolehkan dan maju
menyerbu, mustahil gadis itu mampu lolos dari pengeroyokan ratusan, bahkan
ribuan orang prajurit! Akan tetapi, tentu saja mereka tidak berani melanggar
perintah Resi Bajrasakti tadi. Juga mereka semua merasa ngeri, kalau sampai Ki
Suramenggala tewas dan mereka dipersalahkan sebagai penyebabnya, tentu Sang
Adipati akan marah sekali dan menghukum mereka. Maka, biarpun di situ berkumpul
banyak sekali prajurit, tak seorang pun berani bergerak menghalangi gadis yang
keluar dari kota Kadipaten Wengker itu.
Setelah tiba
di luar kota dan tidak ada lagi prajurit berjaga, Puspa Dewi melepaskan Ki
Suramenggala dan berkata,
"Ki
Suramenggala, kalau Andika berani lagi mengganggu Ibuku, aku tidak akan
mengampunimu!" Setelah berkata demikian, Puspa Dewi melompat jauh dan
berlari cepat meninggalkan Ki Suramenggala yang kini dapat bernapas lega. Dia
terbebas dari ancaman maut, akan tetapi juga dia merasa kehilangan muka karena
tadinya Ki Tumenggung Suramenggala dikenal selain sebagai ayah kandung Sang
Adipati Wengker, juga sebagai seorang yang sakti! Maka, dia tidak kembali ke
istana, melainkan diam-diam pulang ke rumahnya sendiri.
Pada awal
kisah ini, Empu Bharada dalam samadhinya menerima wangsit (penglihatan batin)
betapa hawa angkara murka dan nafsu-nafsu daya rendah menimbulkan kegelapan
menyelimuti Kahuripan. Penglihatan batin ini dia artikan sebagai malapetaka
yang mengancam Kahuripan, membuat hati sang pertapa yang arif bijaksana ini
khawatir sungguhpun dia menyerahkan segalanya kepada Kekuasaan Sang Hyang Widhi
dan merasa yakin bahwa Yang Maha Kuasa pasti akan menolong dan membebaskan
Kahuripan dari kehancuran akibat serangan bencana itu. Apa yang dikhawatirkan
Sang Empu Bharada akhirnya terjadi juga. Adipati Wengker, Linggawijaya dan
isterinya, Dewi Mayangsari, pergi untuk membujuk kerajaan-kerajaan kecil lainnya
untuk sekali lagi berusaha menghancurkan Kahuripan, musuh bebuyutan mereka.
Adipati Linggawijaya pergi berkunjung ke Kerajaan Parang Siluman dan diterima
dengan gembira Ratu Parang-Siluman, yaitu Nyi Durgamala yang biarpun usianya
sudah lebih dari empat puluh tahun, namun masih tampak cantik seperti kedua
orang anak perempuannya, yaitu Lasmini, bekas selir Ki Patih Narotama yang
berusia dua puluh empat tahun dan Mandari, bekas selir Sang Prabu Erlangga yang
berusia dua puluh dua tahun. Tentu saja uluran tangan Adipati Wengker untuk
bekerja sama menghancurkan Kahuripan itu diterima baik oleh tiga orang wanita
cantik yang menjadi penguasa di Kerajaan Parang Siluman itu. Kahuripan atau
lebih tepat lagi, Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama merupakan
musuh-musuh besar mereka. Kalau Raja dan Patih Kahuripan itu mengambil mereka
sebagai selir karena kecantik-jelitaan yang luar biasa dari kakak-beradik ini
dan juga karena Sang Prabu Erlangga berniat mengakhiri permusuhan itu dengan
jalan pernikahan, sebaliknya dua orang kakak-beradik itu mau menjadi selir
mereka dengan maksud untuk menghancurkan Raja dan Patih itu dari dalam! Memang
kedua orang gadis itu kemudian jatuh cinta kepada suami mereka, namun mereka
tetap melaksanakan cita-cita mereka menghancurkan Kahuripan. Namun usaha yang
didukung kerajaan-kerajaan lain itu ternyata gagal dan mereka berdua bahkan
diusir dari Kahuripan. Tentu saja Lasmini dan Mandari yang memiliki kesaktian
itu menjadi sakit hati, dan mendendam kepada Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih
Narotama. Hanya saja, mereka tidak mampu berbuat sesuatu karena Raja dan Patih
Kahuripan itu sakti mandraguna, memiliki banyak senopati yang sakti, didukung
pula oleh para satria yang setia kepada Kahuripan, serta memiliki pasukan yang
kuat. Maka, ketika Linggawijaya, Adipati Wengker datang berkunjung dan
menawarkan kerjasama, mereka menyambutnya dengan gembira. Timbul pula harapan
baru dalam hati mereka untuk dapat membalas dendam dan menghancurkan Kahuripan,
apalagi kini mereka menganggap Kerajaan Wengker menjadi kuat setelah adipatinya
baru, yaitu Linggawijaya yang dulu pernah pula mengadakan hubungan gelap dengan
Lasminil Hal ini diceritakan dalam kisah Sang Megatantra. Baik Lasmini maupun
Mandari sudah tahu akan kesaktian Linggawijaya yang dulu bernama Linggajaya,
murid Resi Bajrasakti itu.
Sejak diusir
dari Kahuripan, Lasmini dan Mandari kembali ke Parang Siluman dan membantu Ratu
Durgamala, ibu mereka yang janda, mengurus Kerajaan Parang Siluman. Dua orang
puteri itu setelan diusir dari Kahuripan, menuruti watak mereka yang cabul
seperti ibu mereka. Mereka adalah hamba-hamba dari nafsu mereka sendiri, dan
setelah berpisah dari Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang menjadi
suami mereka, kakak beradik ini tidak tahan untuk hidup sendiri tanpa pria.
Mulailah mereka mengumbar nafsu, mencari dan berganti-ganti kekasih karena
mereka memang pembosan. Ibu mereka, Ratu Durgamala, membiarkan saja kelakuan
dua orang pulennya karena ia sendiripun berwatak seperti itu. Berpisah dari
suaminya yang kini menjadi Bhagawan Kundolomuko, Ratu Durgamala juga
berganti-ganti kekasih, pemuda-pemuda tampan. Bahkan ibu dan dua orang
puterinya itu kini menjadi penyembah-penyembah Bathari Durga, agama yang
dipimpin oleh bekas suami ratu itu sendiri, yaitu Bhagawan Kundolomuko. Mereka
juga menambah ilmu mereka dengan ilmu sihir yang menjadi keistimewaan Bhagawan
Kundolomuko sebagai penyembah Bathari Durga.
Pada waktu
itu, Kerajaan Parang Siluman yang sebetulnya wilayahnya lebih kecil
dibandingkan Wengker atau Wura-Wuri, merupakan kerajaan kecil atau kadipaten
yang kuat karena memiliki banyak orang yang sakti mandraguna. Ratu Durgamala
sendiri adalah seorang janda cantik yang sakti. Kedua orang puterinya, Lasmini
dan Mandari, juga memiliki tingkat kepandaian yang bahkan lebih tinggi
dibandingkan tingkat ibu mereka. Masih ada lagi bekas suami Sang Ratu, yaitu
Bhagawan Kundolomuko yang kini menjadi Ketua Agama Durgadharma di kerajaan itu.
Juga masih diperkuat oleh Ki Nagakumala, yaitu kakak kandung Ratu Durgamala
yang juga memberi gemblengan kesaktian kepada Lasmini dan Mandari, dua orang
keponakannya. Ki Nagakumala ini adalah bekas suami Ratu Mayang Gupita dari
Kerajaan Siluman Laut Kidul. Maka, biarpun Kerajaan Parang Siluman tidak berapa
besar, pasukannya yang tidak besar jumlahnya itu amat kuat karena para
prajuritnya membentuk pasukan-pasukan siluman yang pandai menyerang dengan ilmu
sihir dan tenung.
Kerajaan
Parang Siluman dengan para tokohnya yang sejak turun-temurun menjadi musuh
keturunan Mataram yang sekarang menjadi Kerajaan Kahuripan. Maka, kunjungan
Adipati Linggawijaya dari Kerajaan Wengker tentu saja disambut gembira oleh
para pimpinan Parang Siluman, terutama sekali Ratu Durgamala dan kedua orang
puterinya, Lasmini dan Mandari. Mereka menyambut adipati muda yang tampan itu
dengan pesta. Kebetulan sekali pada malamnya adalah malam bulan purnama dan
seperti biasa, pada bulan purnama diadakan upacara pemujaan Bathari Durga.
Sambil berpesta, Adipati Linggawijaya disuguhi tari-tarian yang menggairahkan,
bahkan dalam kesempatan itu, Puteri Lasmini dan Mandari yang cantik molek itu
memamerkan kepandaian mereka menari. Dengan pakaian indah namun menggairahkan
karena pakaian tembus pandang itu membuat tubuh mereka yang menggairahkan,
dengan lekuk-lengkung sempurna itu tampak jelas. Apalagi tari-tari yang
dilakukan dengan tubuh yang lentur dan indah itu menggeliat-geliat bagaikan
ular kepanasan, membuat Linggawijaya yang menonton menjadi terangsang. Ditambah
lagi dengan minuman keras yang memabokkan. Akan tetapi, dia tidak mempunyai
pilihan lain karena sejak dia datang, Ratu Durgamala sudah mengambil keputusan
untuk tidak menyia-nyiakan kehadiran adipati yang gagah dan tampan ini untuk
diajak bersenang-senang setelah ada persetujuan bekerjasama menghancurkan
Kahuripan. Sehabis pesta malam itu, Ratu Durgamala menyekap Linggawijaya dalam
kamarnya. Lasmini dan Mandari tentu saja harus mengalah terhadap ibunya dan
mereka mencari pasangan lain terdiri dari para pemuda yang selalu siap untuk
melayani mereka.
Sampai tiga
hari tiga malam Adipati Linggawijaya tinggal di Istana Parang Siluman. Selain
setiap hari bersenang-senang dengan Ratu Durgamala dan kedua orang puterinya,
Linggawijaya juga mengadakan perundingan untuk mengadakan pertemuan besar
antara semua kadipaten atau kerajaan kecil yang menentang Kahuripan. Setelah
itu, dia lalu melanjutkan perjalanannya ke Kadipaten Siluman Laut Kidul.
Dibandingkan
tiga buah kerajaan lain, yaitu Kerajaan Wengker, Kerajaan Wura-Wuri, dan
Kerajaan Parang Siluman, maka kerajaan di tepi laut yang disebut Kerajaan
Siluman Laut Kidul dapat dibilang kecil. Daerahnya tidak luas, hanya sepanjang
pantai sampai ke pegunungan, memanjang dari barat ke timur, di sebelah timur
Kerajaan Parang Siluman. Namun, kerajaan ini dipimpin keluarga seperguruan yang
sakti mandraguna.
Ratu Mayang
Gupita yang menjadi penguasa di Kerajaan Siluman Laut Kidul terkenal sekali dan
disegani para pimpinan kerajaan lain. Ia seorang wanita berusia sekitar lima
puluh dua tahun, dapat disebut seorang raseksi (raksasa wanita) karena tubuhnya
tinggi besar dengan perut gendut. Wajahnya menyeramkan, berbentuk serba bulat
dan besar, baik itu matanya, hidungnya, telinganya atau mulutnya. Bahkan di
kedua sudut bibirnya tampak taring menonjol. Wanita tua dan jelek rupanya ini
mewah sekali. Tubuhnya mengenakan pakaian yang serba indah dan perhiasan emas
permata memenuhi kaki tangan dan lehernya. Juga lagaknya genit seperti seorang
perawan manja. Akan tetapi ia sakti mandraguna, juga terkenal kejam terhadap
musuh-musuhnya. Ratu Mayang Gupita telah janda, bercerai dari suaminya yang
bukan lain adalah Ki Nagakumala, kakak Ratu Durgamala dari Parang Siluman yang
juga menjadi guru Puteri Lasmini dan Mandari. Biarpun kini Ki Nagakumala berada
di Parang Siluman dan membantu adiknya, namun hubungannya dengan bekas isterinya,
masih tetap baik karena keduanya mempunyai musuh yang sama, yaitu Kerajaan
Kahuripan. Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul ini tidak mempunyai anak, dan
sesungguhnya sejak muda ia tidak begitu suka kepada pria, karena tidak pernah
ada pria mengaguminya. Pernikahannya dahulu dengan Ki Nagakumala juga hanya
untuk menyatukan kedua kerajaan agar kedudukan mereka kuat. Akan tetapi karena
ratu raseksi yang biarpun pesolek dan genit ini tidak suka kepada pria, maka
pemihakan itu akhirnya gagal dan ia bercerai dari suaminya yang lebih suka
bermesraan dengan wanita lain daripada dengan isterinya yang berwajah
menyeramkan itu. Ratu Mayang Gupita memerintahkan Kerajaan Siluman Laut Kidul
dengan tangan besi. Ia dibantu tiga orang yang juga sakti mandraguna dan bersama
Sang Ratu, mereka merupakan keluarga seperguruan yang kesemuanya selain ahli
ilmu kanuragan, juga pandai ilmu sihir. Yang pertama adalah paman guru dari
Sang Ratu bernama Bhagawan Kalamisani. Kakek ini berusia enam puluh lima tahun
dan menjadi guru sihir Ratu Mayang Gupita. Tubuhnya kurus kecil dan bongkok,
mirip Sang Bhagawan Durna dari kisah wayang Maha Bharata. Akan tetapi kakek ini
merupakan lawan yang amat berbahaya karena memiliki bermacam-macam ilmu sihir
yang dahsyat. Orang ke dua adalah Ki Naga jaya yang berusia empat puluh lima
tahun, bertubuh kecil kurus. Dia adalah adik seperguruan Ratu Mayang Gupita,
ahli bersilat dengan senjata ruyung dan juga pandai bermain sihir. Orang ke
tiga adalah Ki Nagarodra, adik dari Nagajaya, berusia empat puluh tahun dan
tubuhnya tinggi besar. Senjatanya sebuah klewang (golok) dan seperti kakaknya,
dia pun ahli sihir dan menjadi adik seperguruan Sang Ratu. Demikianlah, empat
orang anggauta keluarga seperguruan ini yang menjadi pemimpin di Kerajaan
Siluman Laut Kidul. Tentu saja masih banyak terdapat para senopati dan perwira
yang memimpin pasukan kerajaan itu. Biarpun jumlah pasukan Kerajaan Siluman
Laut Kidul tidak besar, hanya kurang lebih lima ribu orang saja, namun pasukan
ini dapat membentuk barisan yang mengandung daya sihir sehingga dapat melawan
musuh yang jumlahnya lebih besar daripada jumlah mereka. Kerajaan Siluman Laut
Kidul juga ikut bersekutu dengan tiga kerajaan lain, namun gerakan mereka yang
sekongkol dengan pemberontak di Kahuripan telah mengalami kegagalan. Hal ini
menambah perasaan dendam dan benci dalam hati para pimpinan Kerajaan Siluman
Laut Kidul kepada Kahuripan. Karena itu, ketika Adipati Linggawijaya dari
Wengker datang berkunjung, tentu saja Ratu Mayang Gupita dan tiga orang
pembantunya menyambut dengan gembira. Mereka lalu mengadakan pesta penyambutan
yang meriah untuk menghormati Adipati Linggawijaya.
No comments:
Post a Comment