Setelah berpesta pora, disuguhi tarian menggairahkan dari penari-penari wanita muda belia yang cantik-cantik, mereka lalu mengadakan perundingan di dalam ruangan tertutup. Di sini, Adipati Linggawijaya dan empat orang penguasa Kerajaan Siluman Laut Kidul itu membuat rencana untuk bersama-sama menghancurkan Kerajaan Kahuripan. Seperti yang telah dia rundingkan dan setujui dengan Kerajaan Parang Siluman, Adipati Linggawijaya menyampaikan undangan agar Ratu Mayang Gupita menghadiri rapat besar yang akan diadakan di Kerajaan Wengker pada malam bulan purnama siddhi. Rapat itu akan dihadiri oleh Kerajaan Wengker sebagai tuan rumah, Kerajaan Wura-Wuri, Parang Siluman, dan Siluman Laut Kidul. Juga akan hadir penguasa daerah-daerah kecil yang secara terang-terangan atau diam-diam menentang kekuasaan Kerajaan Kahuripan. Setelah mengadakan perundingan yang memuaskan kedua pihak, Adipati Linggawijaya bermalam di Kerajaan Siluman Laut Kidul dan pada keesokan harinya dia kembali ke Kerajaan Wengker, dikawal dua lusin prajurit yang selalu mengawalnya dalam perjalanannya mengunjungi Parang Siluman dan Siluman Laut Kidul.
Pada waktu
yang bersamaan, Dewi Mayangsari yang juga dikawal dua lusin prajurit pilihan,
melakukan kunjungan ke Kerajaan Wura-Wuri di daerah timur. Perjalanan yang
dilakukan Dewi Mayangsari ini lebih jauh daripada perjalanan yang dilakukan
suaminya, Adipati Linggawijaya yang mengunjungi dua kerajaan lain. Bahkan
perjalanan Dewi Mayangsari ini cukup berbahaya karena ia harus melewati daerah
kekuasaan Kerajaan Kahuripan. Kedatangan Dewi Mayangsari sebagai Permaisuri
Kerajaan Wengker diterima dengan senang oleh Adipati Bhismaprabhawa dan
permaisurinya, yaitu Nyi Dewi Durgakumala. Karena Kerajaan Wengker dianggap
sebagai kawan lama dan sekutu Wura-Wuri dalam perjuangan mereka menentang
Kerajaan Kahuripan, maka kunjungan Dewi Mayangsari disambut dengan hormat dan
dengan pesta besar. Adipati Bhismaprabhawa, didampingi isterinya, Nyi Dewi
Durgakumala, dan empat orang senopatinya, yaitu Kala Muka, Kala Manik, Kala
Teja yang dikenal sebagai Tri Kala (Tiga Kala), dan Ki Gandarwo, senopati muda
tampan gagah yang menjadi kekasih gelap Nyi Dewi Durgakumala, mengelu-elukan
tamu mereka yang dihormati itu. Ketika Dewi Mayangsari menyampaikan niat ia dan
suaminya untuk mengadakan rapat pertemuan dengan semua kadipaten yang menentang
Kahuripan dan memperbarui persekutuan dan usaha mereka, Adipati Bhismaprabhawa
dan Nyi Dewi Durgakumala menyambut gembira. Mereka lalu mengambil keputusan
untuk mengadakan rapat besar itu pada malam bulan purnama siddhi di Wengker.
Setelah perundingan itu diterima dan disetujui kedua belah pihak, mereka lalu
bicara tentang Nyi Lasmi yang gagal dibawa ke Wura-Wuri.
"Sungguh
sayang sekali pengiriman kami, yaitu Nyi Lasmi, ke Wura-Wuri digagalkan Ki
Patih Narotama! Kami tahu bahwa Nyi Lasmi merupakan orang penting bagi
Wura-Wuri, karena dengan wanita itu sebagai sandera, tentu akan mudah menundukkan
Puspa Dewi." kata Dewi Mayangsari.
"Hemm,
memang menggemaskan sekali Puspa Dewi itu. Bocah yang tidak mengenal budi!
Sejak kecil kudidik dan kusayang sebagai anakku sendiri, kuangkat ia menjadi
Sekar Kedaton di kerajaan ini, ternyata ia malah berkhianat sehingga usaha kita
merobohkan Kahuripan gagal. Memang, kalau Nyi Lasmi berada di tangan kami, kami
akan dapat memaksa anak kurang ajar itu untuk kembali ke sini."
"Kembali
Ki Patih Narotama yang menggagalkan usaha kita. Karena itu, sekali ini kita
harus benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan Kahuripan."
kata Dewi Mayangsari.
“Ki Patih
Narotama itu memang jahat sekali, akan tetapi harus diakui bahwa dia sakti
mandraguna. Maka, dalam rapat besar nanti kita harus dapat mencari siasat yang
paling baik dan ampuh untuk menghancurkan Narotama dan Erlanggal" kata Nyi
Dewi Durgakumala dengan gemas.
"Kalau
kita hanya mengandalkan kekuatan melawan mereka berdua, tentu kita akan gagal.
Kita menyusun dan menyatukan semua kekuatan kita, lalu membuat rencana siasat
yang baik, baru kita dapat berhasil dengan gebrakan-gebrakan yang
mengejutkan."
Setelah
mengadakan perundingan yang kesemuanya ditujukan untuk menghancurkan Kahuripan,
Dewi Mayangsari lalu mengajak pasukan pengawalnya pulang ke Kerajaan Wengker.
Setibanya di Wengker, ia melihat suaminya, Adipati Linggawijaya sudah pulang.
Mereka lalu membuat persiapan untuk mengadakan pertemuan dan rapat besar di
antara para pemerintah daerah yang sehaluan.
Malapetaka itu
datang bagaikan mendung hitam tebal di musim kemarau. Datang pada malam terang
bulan. Tadinya, bulan bersinar penuh dan tiba-tiba saja, menjelang tengah
malam, muncul awan mendung yang demikian tebalnya sehingga cuaca di kota raja
Kahuripan menjadi hitam pekat dan gelap gulita. Sesuatu yang luar biasa
terjadi. Ketika mendung mulai menyembunyikan bulan dan bintang di baliknya,
malam hitam mulai merayap, angin semilir dan semua orang yang belum tidur
tiba-tiba merasa gelisah. Bulu tengkuk mereka meremang dan ada perasaan ngeri
menyerang perasaan hati mereka. Angin lembut yang meniup atap rumah-rumah dan
pohon-pohonan menimbulkan suara berkelisik dan berbisikbisik seperti para
lelembut keluar berkeliaran dan saling bicara dalam bahasa yang seperti
mendesis-desis. Dan, tanpa mereka rasakan, orang-orang yang belum tidur itu
tahu-tahu telah tertidur pulas. Tidur yang tidak wajar karena mereka yang
sedang duduk, tertidur begitu saja sambil duduk. Bahkan para perajurit yang
melakukan tugas jaga, semua tertidur pulas. Yang berjaga sambil duduk, bahkan
yang berdiri pun kini tertidur sambil bersandar kepada dinding gardu penjagaan.
Tidak terkecuali, di dalam Istana Kerajaan Kahuripan, suasana menjadi sunyi
sekali karena semua orang tertidur pulas. Bukan hanya para dayang dan abdi,
bahkan para prajurit pengawal, semuanya tertidur. Ada beberapa orang perwira
pasukan pengawal yang memiliki aji kanuragan, tiba-tiba menyadari bahwa mereka
terserang semacam hawa yang amat kuat pengaruhnya, yang membuat tubuh mereka
menjadi lemas dan mata mereka tiba-tiba mengantuk sekali. Mereka segera
menyadari bahwa ada kekuatan sihir Aji Panyirepan tengah menyerang mereka.
Cepat mereka mengerahkan tenaga batin mereka untuk menolak serangan ini. Akan
tetapi, kekuatan serangan Aji Panyirepan itu kuat bukan main dan datangnya
bergelombang sehingga usaha mereka untuk bertahan gagal. Semua pertahanan
mereka bobol dan mereka pun jatuh tertidur pulas seperti yang lain.
Dua orang yang
sakti di kota raja Kahuripan itu, yaitu Sang Prabu Erlangga sendiri dan Ki
Patih Narotama, juga tidur pulas. Andaikata penyerangan Aji Panyirepan itu
datang pada saat mereka berdua belum tidur, tentu mereka akan mampu menolaknya.
Akan tetapi karena tidak menduga akan datangnya serangan ini, mereka telah
tidur pulas ketika gelombang Aji Panyirepan itu datang menyerang seluruh kota
raja Kahuripan sehingga raja dan patihnya yang sakti ini pun tidak mengetahui
apa yang terjadi. Mereka tidur pulas seperti biasa.
Gedung pusaka
kerajaan berada di sebelah kiri Istana Kahuripan. Gedung pusaka ini menyimpan
pusaka-pusaka yang dikeramatkan, pusaka-pusaka peninggalan Kerajaan Syailendra
dan Kerajaan Mataram yang kemudian menurunkan Kerajaan Kahuripan. Karena gedung
pusaka ini merupakan tempat yang amat penting, maka selalu dijaga oleh pasukan
pilihan terdiri dari tiga losin prajurit dipimpin oleh dua orang perwira tinggi
yang memiliki kesaktian. Para perajurit itu selalu berjaga secara bergantian di
sekeliling gedung pusaka itu sehingga tidak memungkinkan pencuri dapat memasuki
gedung.
Pada malam
yang penuh rahasia itu, malam bulan purnama tanpa bulan, tiga lusin prajurit
itu pun tidak dapat terhindar dari gelombang pengaruh Aji Panyirepan itu.
Karena mereka merupakan prajurit pilihan, maka mereka pun merasakan adanya
pengaruh kuat yang menyerang mereka. Mereka mencoba untuk bertahan akan tetapi
tidak lama mereka dapat melawan pengaruh itu. Mereka segera tidur dan biarpun
perlawanan membuat mereka gelisah dan bergerak dalam tidur, namun akhirnya
mereka pulas juga. Dua orang perwira tinggi yang bertugas memimpin penjagaan
malam itu, juga memiliki aji kesaktian. Mereka juga terserang gelombang itu dan
bersikeras menahan diri dan melawan. Mereka bangkit berdiri, terhuyung dan
mengerahkan seluruh kekuatan batin mereka untuk melawan rasa kantuk yang amat
menekan mereka.
"Ha-ha-hal"
Tiba-tiba di depan mereka tampak seorang raksasa berusia sekitar enam puluh
tahun, gagah perkasa bermuka merah berpakaian indah, tangan kiri memegang
sebatang gendewa (busur) besar dan di punggungnya tergantung belasan batang
anak panah dalam sebuah bumbung. Kakek ini bukan lain adalah Dibya Krendasakti,
penguasa Pulau Nusa Barung. Dia sedang melaksanakan tugas yang dia janjikan
kepada Nini Bumigarbo untuk mencuri Cupu Manik Maya, sebuah di antara
pusaka-pusaka Kerajaan Kahuripan.
Dengan
pengerahan Aji Panyirepan yang kuat, dia telah membuat semua prajurit sebanyak
tiga lusin yang berjaga di gedung pusaka tertidur, kecuali dua orang perwira
tinggi pemimpin mereka yang masih dapat bertahan terhadap pengaruh Aji
Panyirepan. Dibya Krendasakti sempat terheran-heran karena dia juga merasakan
adanya hawa yang amat kuat dari Aji Panyirepan yang menguasai seluruh kota raja
Kahuripan! Padahal dia hanya mengerahkan ajiannya itu kepada mereka yang berada
di gedung pusaka dan sekitarnya. Melihat dua orang perwira tinggi itu belum
juga terpengaruh, dia muncul di depan mereka. Dua orang perwira tinggi itu
memang udah curiga dan menduga bahwa ada orang yang berniat jahat sedang
melepas Aji Panyirepan, maka begitu melihat kakek pembawa gendewa itu berdiri
di depan mereka, tanpa banyak cakap lagi mereka berdua mencabut pedang dan
menyerang Dibya Krendasakti. Kakek ini tertawa, gendewa di tangan kirinya
bergerak.
"Trang...!
Trang....!*' Dua batang pedang itu terlepas dari tangan dua orang perwira itu
saking kuatnya tangkisan gendewa dan membuat telapak tangan yang tadi memegang
pedang menjadi lecet terkelupas kulitnya. Selagi kedua orang perwira itu
terkejut dan melangkah ke belakang, Dibya Krendasakti sudah mendorongkan tangan
kanannya ke depan.
"Wuuuuusssshhhh...!"
Angin yang kuat sekali bertiup dan tubuh dua orang perwira itu terlempar,
terjengkang dan terbanting roboh. Mereka tak mampu bangkit kembali karena
seketika pingsan!
Dibya
Krendasakti lalu memasuki pendapa gedung pusaka, menghampiri pintu depan.
Dengan mudah dia membuka daun pintu yang terbuat dari kayu tebal dan berat itu,
lalu memasuki tempat yang biasanya merupakan daerah terlarang dan terjaga ketat
itu dengan santai. Terdapat banyak benda pusaka di dalam gedung itu. Tombak,
perisai, pedang, keris, penggada, busur dan anak panah, dan banyak senjata
lain. Juga ada benda-benda bekas milik para raja jaman dahulu yang dikeramatkan
dan menjadi benda pusaka. Akan tetapi, pusaka-pusaka yang paling penting dan
dekat dengan Sang Prabu Erlangga, tentu saja berada di kamar raja di istana.
Adapun benda-benda pusaka yang paling dipuja dalam gedung itu, berada di tempat
khusus terbuat dari almari kayu terukir indah. Di antara pusaka yang dianggap
penting dan diistimewakan itu terdapat Cupu Manik Maya, sebuah cembul atau
semacam cawan terbuat dari emas yang bertaburkan intan amat indahnya. Benda
pusaka itu mengeluarkan sinar gemilang dan tampak seperti ratu dari semua benda
yang terpajang dalam almari itu. Dibya Krendasakti yang sudah mendapat gambaran
dari Nini Bumigarbo tentang cupu itu, terkekeh girang dan dia segera
menjulurkan tangan untuk mengambil benda pusaka itu. Akan tetapi dia terkejut
dan menarik kembali tangannya karena ketika tangan itu tiba dekat dengan Cupu
Manik Maya, dia merasa betapa tangannya tergetar hebat. Dia memandang kagum dan
segera dia mengerahkan perhatiannya, merangkap kedua tangan seperti sembah ke
depan hidungnya, lalu mengerahkan tenaga saktinya dan menjulurkan kembali
tangannya. Kini dia menggunakan kedua tangan setelah mengalungkan gendewanya di
lehernya, Dia dapat menangkap Cupu Manik Maya dengan kedua tangannya, cepat
memasukkannya ke dalam kain kuning yang diikatkan ke depan dada, lalu keluar
dengan cepat dari gedung pusaka.
Betapa pun
sakti mandraguna juragan dari Pulau Nusa Barung ini, dia dapat merasakan bahwa
dia memasuki tempat yang amat berbahaya dan sama sekali tidak boleh dipandang
rendah. Setelah tiba di luar gedung pusaka, kembali dia dapat merasakan bahwa
ada getaran pengaruh yang kuat sedang melanda hawa udara di Kahuripan. Dia tidak
mau mencampuri dan segera menggunakan kepandaiannya, berlari cepat menghilang
di dalam kegelapan dan tak lama kemudian dia sudah keluar dari kota raja
Kahuripan. Ketika dia melihat betapa sunyinya kota raja itu, dan mendengar
lolong anjing saling bersahutan, mendengar kelepak sayap banyak kelelawar dan
bercicitnya burung malam dan burung hantu, tahulah dia bahwa malam itu banyak
orang yang memiliki ilmu sihir yang amat kuat sedang merajalela di situ. Dia
cepatcepat pergi menuju pulang ke Pulau Nusa Barung. Memang, firasat yang
dirasakan Sang Empu Bharada beberapa waktu yang lalu benar-benar terjadi pada
malam bulan purnama yang gelap ini. Malapetaka datang beriringan. Sungguhpun
tidak ada janji atau kerja sama, namun secara kebetulan sekali malam itu Dibya
Krendasakti melaksanakan janjinya mencuri pusaka Cupu Manik Maya justru pada
malam yang ditentukan oleh persekutuan empat kerajaan Wengker, Wura-wuri,
Parang Siluman, dan Siluman Laut Kidul bersama beberapa buah kadipaten kecil
lainnya!
No comments:
Post a Comment