Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 59


Setelah berpesta pora, disuguhi tarian menggairahkan dari penari-penari wanita muda belia yang cantik-cantik, mereka lalu mengadakan perundingan di dalam ruangan tertutup. Di sini, Adipati Linggawijaya dan empat orang penguasa Kerajaan Siluman Laut Kidul itu membuat rencana untuk bersama-sama menghancurkan Kerajaan Kahuripan. Seperti yang telah dia rundingkan dan setujui dengan Kerajaan Parang Siluman, Adipati Linggawijaya menyampaikan undangan agar Ratu Mayang Gupita menghadiri rapat besar yang akan diadakan di Kerajaan Wengker pada malam bulan purnama siddhi. Rapat itu akan dihadiri oleh Kerajaan Wengker sebagai tuan rumah, Kerajaan Wura-Wuri, Parang Siluman, dan Siluman Laut Kidul. Juga akan hadir penguasa daerah-daerah kecil yang secara terang-terangan atau diam-diam menentang kekuasaan Kerajaan Kahuripan. Setelah mengadakan perundingan yang memuaskan kedua pihak, Adipati Linggawijaya bermalam di Kerajaan Siluman Laut Kidul dan pada keesokan harinya dia kembali ke Kerajaan Wengker, dikawal dua lusin prajurit yang selalu mengawalnya dalam perjalanannya mengunjungi Parang Siluman dan Siluman Laut Kidul.

Pada waktu yang bersamaan, Dewi Mayangsari yang juga dikawal dua lusin prajurit pilihan, melakukan kunjungan ke Kerajaan Wura-Wuri di daerah timur. Perjalanan yang dilakukan Dewi Mayangsari ini lebih jauh daripada perjalanan yang dilakukan suaminya, Adipati Linggawijaya yang mengunjungi dua kerajaan lain. Bahkan perjalanan Dewi Mayangsari ini cukup berbahaya karena ia harus melewati daerah kekuasaan Kerajaan Kahuripan. Kedatangan Dewi Mayangsari sebagai Permaisuri Kerajaan Wengker diterima dengan senang oleh Adipati Bhismaprabhawa dan permaisurinya, yaitu Nyi Dewi Durgakumala. Karena Kerajaan Wengker dianggap sebagai kawan lama dan sekutu Wura-Wuri dalam perjuangan mereka menentang Kerajaan Kahuripan, maka kunjungan Dewi Mayangsari disambut dengan hormat dan dengan pesta besar. Adipati Bhismaprabhawa, didampingi isterinya, Nyi Dewi Durgakumala, dan empat orang senopatinya, yaitu Kala Muka, Kala Manik, Kala Teja yang dikenal sebagai Tri Kala (Tiga Kala), dan Ki Gandarwo, senopati muda tampan gagah yang menjadi kekasih gelap Nyi Dewi Durgakumala, mengelu-elukan tamu mereka yang dihormati itu. Ketika Dewi Mayangsari menyampaikan niat ia dan suaminya untuk mengadakan rapat pertemuan dengan semua kadipaten yang menentang Kahuripan dan memperbarui persekutuan dan usaha mereka, Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala menyambut gembira. Mereka lalu mengambil keputusan untuk mengadakan rapat besar itu pada malam bulan purnama siddhi di Wengker. Setelah perundingan itu diterima dan disetujui kedua belah pihak, mereka lalu bicara tentang Nyi Lasmi yang gagal dibawa ke Wura-Wuri.
"Sungguh sayang sekali pengiriman kami, yaitu Nyi Lasmi, ke Wura-Wuri digagalkan Ki Patih Narotama! Kami tahu bahwa Nyi Lasmi merupakan orang penting bagi Wura-Wuri, karena dengan wanita itu sebagai sandera, tentu akan mudah menundukkan Puspa Dewi." kata Dewi Mayangsari.
"Hemm, memang menggemaskan sekali Puspa Dewi itu. Bocah yang tidak mengenal budi! Sejak kecil kudidik dan kusayang sebagai anakku sendiri, kuangkat ia menjadi Sekar Kedaton di kerajaan ini, ternyata ia malah berkhianat sehingga usaha kita merobohkan Kahuripan gagal. Memang, kalau Nyi Lasmi berada di tangan kami, kami akan dapat memaksa anak kurang ajar itu untuk kembali ke sini."
"Kembali Ki Patih Narotama yang menggagalkan usaha kita. Karena itu, sekali ini kita harus benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan Kahuripan." kata Dewi Mayangsari.
“Ki Patih Narotama itu memang jahat sekali, akan tetapi harus diakui bahwa dia sakti mandraguna. Maka, dalam rapat besar nanti kita harus dapat mencari siasat yang paling baik dan ampuh untuk menghancurkan Narotama dan Erlanggal" kata Nyi Dewi Durgakumala dengan gemas.
"Kalau kita hanya mengandalkan kekuatan melawan mereka berdua, tentu kita akan gagal. Kita menyusun dan menyatukan semua kekuatan kita, lalu membuat rencana siasat yang baik, baru kita dapat berhasil dengan gebrakan-gebrakan yang mengejutkan."
Setelah mengadakan perundingan yang kesemuanya ditujukan untuk menghancurkan Kahuripan, Dewi Mayangsari lalu mengajak pasukan pengawalnya pulang ke Kerajaan Wengker. Setibanya di Wengker, ia melihat suaminya, Adipati Linggawijaya sudah pulang. Mereka lalu membuat persiapan untuk mengadakan pertemuan dan rapat besar di antara para pemerintah daerah yang sehaluan.

Malapetaka itu datang bagaikan mendung hitam tebal di musim kemarau. Datang pada malam terang bulan. Tadinya, bulan bersinar penuh dan tiba-tiba saja, menjelang tengah malam, muncul awan mendung yang demikian tebalnya sehingga cuaca di kota raja Kahuripan menjadi hitam pekat dan gelap gulita. Sesuatu yang luar biasa terjadi. Ketika mendung mulai menyembunyikan bulan dan bintang di baliknya, malam hitam mulai merayap, angin semilir dan semua orang yang belum tidur tiba-tiba merasa gelisah. Bulu tengkuk mereka meremang dan ada perasaan ngeri menyerang perasaan hati mereka. Angin lembut yang meniup atap rumah-rumah dan pohon-pohonan menimbulkan suara berkelisik dan berbisikbisik seperti para lelembut keluar berkeliaran dan saling bicara dalam bahasa yang seperti mendesis-desis. Dan, tanpa mereka rasakan, orang-orang yang belum tidur itu tahu-tahu telah tertidur pulas. Tidur yang tidak wajar karena mereka yang sedang duduk, tertidur begitu saja sambil duduk. Bahkan para perajurit yang melakukan tugas jaga, semua tertidur pulas. Yang berjaga sambil duduk, bahkan yang berdiri pun kini tertidur sambil bersandar kepada dinding gardu penjagaan. Tidak terkecuali, di dalam Istana Kerajaan Kahuripan, suasana menjadi sunyi sekali karena semua orang tertidur pulas. Bukan hanya para dayang dan abdi, bahkan para prajurit pengawal, semuanya tertidur. Ada beberapa orang perwira pasukan pengawal yang memiliki aji kanuragan, tiba-tiba menyadari bahwa mereka terserang semacam hawa yang amat kuat pengaruhnya, yang membuat tubuh mereka menjadi lemas dan mata mereka tiba-tiba mengantuk sekali. Mereka segera menyadari bahwa ada kekuatan sihir Aji Panyirepan tengah menyerang mereka. Cepat mereka mengerahkan tenaga batin mereka untuk menolak serangan ini. Akan tetapi, kekuatan serangan Aji Panyirepan itu kuat bukan main dan datangnya bergelombang sehingga usaha mereka untuk bertahan gagal. Semua pertahanan mereka bobol dan mereka pun jatuh tertidur pulas seperti yang lain.
Dua orang yang sakti di kota raja Kahuripan itu, yaitu Sang Prabu Erlangga sendiri dan Ki Patih Narotama, juga tidur pulas. Andaikata penyerangan Aji Panyirepan itu datang pada saat mereka berdua belum tidur, tentu mereka akan mampu menolaknya. Akan tetapi karena tidak menduga akan datangnya serangan ini, mereka telah tidur pulas ketika gelombang Aji Panyirepan itu datang menyerang seluruh kota raja Kahuripan sehingga raja dan patihnya yang sakti ini pun tidak mengetahui apa yang terjadi. Mereka tidur pulas seperti biasa.
Gedung pusaka kerajaan berada di sebelah kiri Istana Kahuripan. Gedung pusaka ini menyimpan pusaka-pusaka yang dikeramatkan, pusaka-pusaka peninggalan Kerajaan Syailendra dan Kerajaan Mataram yang kemudian menurunkan Kerajaan Kahuripan. Karena gedung pusaka ini merupakan tempat yang amat penting, maka selalu dijaga oleh pasukan pilihan terdiri dari tiga losin prajurit dipimpin oleh dua orang perwira tinggi yang memiliki kesaktian. Para perajurit itu selalu berjaga secara bergantian di sekeliling gedung pusaka itu sehingga tidak memungkinkan pencuri dapat memasuki gedung.

Pada malam yang penuh rahasia itu, malam bulan purnama tanpa bulan, tiga lusin prajurit itu pun tidak dapat terhindar dari gelombang pengaruh Aji Panyirepan itu. Karena mereka merupakan prajurit pilihan, maka mereka pun merasakan adanya pengaruh kuat yang menyerang mereka. Mereka mencoba untuk bertahan akan tetapi tidak lama mereka dapat melawan pengaruh itu. Mereka segera tidur dan biarpun perlawanan membuat mereka gelisah dan bergerak dalam tidur, namun akhirnya mereka pulas juga. Dua orang perwira tinggi yang bertugas memimpin penjagaan malam itu, juga memiliki aji kesaktian. Mereka juga terserang gelombang itu dan bersikeras menahan diri dan melawan. Mereka bangkit berdiri, terhuyung dan mengerahkan seluruh kekuatan batin mereka untuk melawan rasa kantuk yang amat menekan mereka.
"Ha-ha-hal" Tiba-tiba di depan mereka tampak seorang raksasa berusia sekitar enam puluh tahun, gagah perkasa bermuka merah berpakaian indah, tangan kiri memegang sebatang gendewa (busur) besar dan di punggungnya tergantung belasan batang anak panah dalam sebuah bumbung. Kakek ini bukan lain adalah Dibya Krendasakti, penguasa Pulau Nusa Barung. Dia sedang melaksanakan tugas yang dia janjikan kepada Nini Bumigarbo untuk mencuri Cupu Manik Maya, sebuah di antara pusaka-pusaka Kerajaan Kahuripan.
Dengan pengerahan Aji Panyirepan yang kuat, dia telah membuat semua prajurit sebanyak tiga lusin yang berjaga di gedung pusaka tertidur, kecuali dua orang perwira tinggi pemimpin mereka yang masih dapat bertahan terhadap pengaruh Aji Panyirepan. Dibya Krendasakti sempat terheran-heran karena dia juga merasakan adanya hawa yang amat kuat dari Aji Panyirepan yang menguasai seluruh kota raja Kahuripan! Padahal dia hanya mengerahkan ajiannya itu kepada mereka yang berada di gedung pusaka dan sekitarnya. Melihat dua orang perwira tinggi itu belum juga terpengaruh, dia muncul di depan mereka. Dua orang perwira tinggi itu memang udah curiga dan menduga bahwa ada orang yang berniat jahat sedang melepas Aji Panyirepan, maka begitu melihat kakek pembawa gendewa itu berdiri di depan mereka, tanpa banyak cakap lagi mereka berdua mencabut pedang dan menyerang Dibya Krendasakti. Kakek ini tertawa, gendewa di tangan kirinya bergerak.
"Trang...! Trang....!*' Dua batang pedang itu terlepas dari tangan dua orang perwira itu saking kuatnya tangkisan gendewa dan membuat telapak tangan yang tadi memegang pedang menjadi lecet terkelupas kulitnya. Selagi kedua orang perwira itu terkejut dan melangkah ke belakang, Dibya Krendasakti sudah mendorongkan tangan kanannya ke depan.
"Wuuuuusssshhhh...!" Angin yang kuat sekali bertiup dan tubuh dua orang perwira itu terlempar, terjengkang dan terbanting roboh. Mereka tak mampu bangkit kembali karena seketika pingsan!
Dibya Krendasakti lalu memasuki pendapa gedung pusaka, menghampiri pintu depan. Dengan mudah dia membuka daun pintu yang terbuat dari kayu tebal dan berat itu, lalu memasuki tempat yang biasanya merupakan daerah terlarang dan terjaga ketat itu dengan santai. Terdapat banyak benda pusaka di dalam gedung itu. Tombak, perisai, pedang, keris, penggada, busur dan anak panah, dan banyak senjata lain. Juga ada benda-benda bekas milik para raja jaman dahulu yang dikeramatkan dan menjadi benda pusaka. Akan tetapi, pusaka-pusaka yang paling penting dan dekat dengan Sang Prabu Erlangga, tentu saja berada di kamar raja di istana. Adapun benda-benda pusaka yang paling dipuja dalam gedung itu, berada di tempat khusus terbuat dari almari kayu terukir indah. Di antara pusaka yang dianggap penting dan diistimewakan itu terdapat Cupu Manik Maya, sebuah cembul atau semacam cawan terbuat dari emas yang bertaburkan intan amat indahnya. Benda pusaka itu mengeluarkan sinar gemilang dan tampak seperti ratu dari semua benda yang terpajang dalam almari itu. Dibya Krendasakti yang sudah mendapat gambaran dari Nini Bumigarbo tentang cupu itu, terkekeh girang dan dia segera menjulurkan tangan untuk mengambil benda pusaka itu. Akan tetapi dia terkejut dan menarik kembali tangannya karena ketika tangan itu tiba dekat dengan Cupu Manik Maya, dia merasa betapa tangannya tergetar hebat. Dia memandang kagum dan segera dia mengerahkan perhatiannya, merangkap kedua tangan seperti sembah ke depan hidungnya, lalu mengerahkan tenaga saktinya dan menjulurkan kembali tangannya. Kini dia menggunakan kedua tangan setelah mengalungkan gendewanya di lehernya, Dia dapat menangkap Cupu Manik Maya dengan kedua tangannya, cepat memasukkannya ke dalam kain kuning yang diikatkan ke depan dada, lalu keluar dengan cepat dari gedung pusaka.

Betapa pun sakti mandraguna juragan dari Pulau Nusa Barung ini, dia dapat merasakan bahwa dia memasuki tempat yang amat berbahaya dan sama sekali tidak boleh dipandang rendah. Setelah tiba di luar gedung pusaka, kembali dia dapat merasakan bahwa ada getaran pengaruh yang kuat sedang melanda hawa udara di Kahuripan. Dia tidak mau mencampuri dan segera menggunakan kepandaiannya, berlari cepat menghilang di dalam kegelapan dan tak lama kemudian dia sudah keluar dari kota raja Kahuripan. Ketika dia melihat betapa sunyinya kota raja itu, dan mendengar lolong anjing saling bersahutan, mendengar kelepak sayap banyak kelelawar dan bercicitnya burung malam dan burung hantu, tahulah dia bahwa malam itu banyak orang yang memiliki ilmu sihir yang amat kuat sedang merajalela di situ. Dia cepatcepat pergi menuju pulang ke Pulau Nusa Barung. Memang, firasat yang dirasakan Sang Empu Bharada beberapa waktu yang lalu benar-benar terjadi pada malam bulan purnama yang gelap ini. Malapetaka datang beriringan. Sungguhpun tidak ada janji atau kerja sama, namun secara kebetulan sekali malam itu Dibya Krendasakti melaksanakan janjinya mencuri pusaka Cupu Manik Maya justru pada malam yang ditentukan oleh persekutuan empat kerajaan Wengker, Wura-wuri, Parang Siluman, dan Siluman Laut Kidul bersama beberapa buah kadipaten kecil lainnya!

<<< Bagian 58                                                                                         Bagian 60 >>>

No comments:

Post a Comment