Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 60


Maka, Dibya Krendasakti merasakan adanya hawa yang aneh menggetarkan dan menguasai seluruh kota raja Kahuripan. Inilah pula sebabnya mengapa Aji Panyirepan Dibya Krendasakti demikian ampuh sehingga seolah ajiannya itu mempengaruhi seluruh penduduk kota raja itu! Padahal sesungguhnya, bukan hanya Krendasakti yang mengerahkan Aji Panyirepan pada malam hari itu, melainkan banyak sekali tokoh sakti dari persekutuan itu juga mengerahkan Aji Panyirepan mereka sehingga seluruh penghuni kota raja itu terpengaruh, kecuali mereka yang memang memiliki kekuatan batin yang kuat sehingga tidak terpengaruh. Akan tetapi karena pada malam hari itu, selain cuaca gelap pekat, juga hawanya dingin, maka semua orang, baik yang terpengaruh sihir maupun yang tidak, telah jatuh pulas.

Di sebuah rumah yang terletak di sebelah belakang kompleks istana, tiba-tiba terdengar tangis bayi. Anak yang baru berusia satu tahun itu menangis. Dia tidak terpengaruh kekuatan sihir dan anak-anak yang jiwanya belum tertutup nafsu daya rendah menjadi peka. Ada sesuatu yang membuat bayi itu menangis, bukan tangis karena ulah hati pikiran, melainkan tangis yang tidak dapat dicari penyebabnya oleh akal pikiran. Tangis yang nyaring ini memiliki getaran yang melemahkan pengaruh Aji Panyirepan sehingga penghuni rumah itu yang mendengar tangis ini, yaitu ayah, ibu, dan dua orang kakaknya, terbangun dari tidur. Akan tetapi pada saat itu, banyak bayangan orang menyelinap dari rumah ke rumah dan mereka menyebarkan kembang dan rempa-rempa ke atas atap setiap rumah. Terdapat sedikit pasir di antara bunga-bunga itu. Rumah di mana penghuninya terbangun dari tidur oleh tangis anak berusia setahun itu juga tidak luput dari lemparan kembang pasir dan rempa-rempa itu. Tiba-tiba ibu yang kini memondong anak yang berhenti menangis, mengeluh dan terhuyung. Suaminya terkejut dan merangkulnya, akan tetapi dia pun mengeluh dan merasa kepalanya pening seperti dipukul. Juga dua orang anak mereka, berusia dua belas dan tujuh tahun, yang tadinya masih tidur, mengeluh dan menjadi gelisah, mengatakan bahwa kepala mereka pening dan perut mereka mulas. Ayah dan dua orang anaknya yang sudah agak besar itu terserang penyakit dengan tiba-tiba dan hanya anak berusia setahun itu saja yang tidak jatuh sakit. Dan hal aneh seperti ini terjadi hampir di setiap rumah yang dilempari bunga-bunga sebagai sarana penyerangan melalui sihir seperti santet atau tenung. Yang bertugas melakukan penyebaran santet yang mendatangkan wabah penyakit ini adalah orang-orang Kerajaan Siluman Laut Kidul yang dipimpin Bhagawan Kalamisani yang ahli sihir itu. Juga pada saat yang bersamaan, dan hal ini memang sudah diatur dan direncanakan sebelumnya, terjadi hal yang gawat di Istana Sang Prabu Erlangga dan Gedung Kepatihan tempat tinggal Ki Patih Narotama. Dua bayangan orang yang gerakannya tiada ubahnya dua mahluk golongan iblis karena hanya tampak bayangan-bayangan itu berkelebat memasuki istana yang sudah tidak ada penghuninya yang tidak tidur.
Setelah tiba di ruangan dalam di mana terdapat lampu-lampu penerangan dan dua bayangan berhenti dan berdiri diam, tampak bahwa mereka itu adalah Puteri Mandari dari Parang Siluman yang cantik jelita, bersama Resi Bajrasakti, datuk Wengker yang seperti raksasa brewok hitam itu. Puteri Parang Siluman dan Datuk Wengker ini adalah dua orang yang memiliki kesaktian tinggi dan Mandari yang pernah menjadi selir Sang Prabu Erlangga dan tinggal di dalam istana, bertugas untuk membunuh Sang Prabu Erlangga, dibantu oleh Sang Resi Bajrasakti. Mereka baru berani bergerak setelah para tokoh sakti dari Wengker, Wura-Wuri, Parang Siluman, dan Siluman Laut Kidul menghimpun kekuatan sihir mereka dan menyebarkan Aji Panyirepan sehingga pengaruh kekuatan sihir itu kuat bukan main dan akibatnya, seluruh penghuni kota raja Kahuripan jatuh pulas.

Di dalam rapat besar persekutuan yang menentang Kahuripan itu, telah dibagi-bagi tugas kepada para tokoh yang sakti. Puteri Mandari malam itu bertugas memasuki istana Kahuripan dan melakukan pembasmian terhadap penghuni istana, termasuk Sang Prabu Erlangga. Akan tetapi karena semua tokoh itu yakin akan ketinggian ilmu-ilmu Sang Prabu Erlangga yang sakti mandraguna dan sukar dikalahkan, maka Puteri Mandari diperingatkan agar jangan sekali-kali mencoba membunuh Sang Prabu Erlangga secara langsung. Begitu memasuki istana dan melihat keadaan istana yang mewah, di mana ia pernah tinggal sebagai selir terkasih, timbul iri hati dan penyesalan di hati puteri itu karena ia terpaksa meninggalkan istana itu. Melihat empat orang prajurit pengawal duduk bersandar dinding dalam keadaan tidur, Mandari menghampiri mereka dan empat kali tangan kirinya menyambar, mengenai kepala empat orang perajurit itu dan mereka berempat tidak akan dapat bangun kembali karena tamparan yang tampaknya tidak keras itu telah menghancurkan isi kepala dan mereka tewas seketika!
“Puteri Mandari, mari kita cepat melaksanakan tugas kita, membakar istana seperti telah direncanakan." bisik Resi Bajrasakti.
Memang menurut rencana mereka harus membakar istana agar semua penghuni yang tertidur di dalam akan mati terbakar semua, berikut Sang Prabu Erlangga kalau mungkin.
"Nanti dulu, Paman Resi, aku belum puas kalau tidak membunuh mereka dengan tanganku sendiri!" bisik kembali Puteri Mandari.
Resi Bajrasakti mengerutkan alisnya, dan menggeleng kepalanya.
"Itu berbahaya sekali! Sudah diputuskan dalam rapat bahwa kita tidak boleh sembrono (gegabah) terhadap Sang Prabu Erlangga!"
"Jangan khawatir. Aku tidak akan mencoba untuk membunuh dia, melainkan permaisuri dan putera-puteranya! Baru akan puas hatiku!"
Melihat kenekatan Mandari, Resi Bajrasakti menghela napas dan terpaksa mengikuti puteri itu yang menuju ke kamar di mana ia tahu para pangeran yang masih kecil-kecil itu tidur. Ketika menuju ke kamar itu, setiap kali melihat prajurit pengawal atau pelayan yang tertidur, Puteri Mandari tidak melewatkan mereka sebelum turun tangan membunuh mereka. Dalam waktu sebentar saja, tidak kurang dari lima belas orang perajurit pengawal dan pelayan telah tewas di tangan Mandari!

Akhirnya mereka tiba di depan kamar di mana dua orang pangeran, yaitu Pangeran Samara Wijaya yang berusia hampir lima tahun dan Pangeran Budidharma yang berusia sekitar empat tahun biasa tidur ditemani dua orang emban (inang pengasuh). Dengan mudah Puteri Mandari mendorong daun pintu terbuka. Ia hati-hati sekali karena maklum bahwa kamar di mana Sang Prabu Erlangga tidur, berada di samping kamar para pangeran itu. Ia melihat dua orang emban telah tertidur di lantai kamar bertilamkan permadani, dan dua orang pangeran yang masih kecil itu tidur di atas sebuah pembaringan besar. Mereka tidur berjajar dalam keadaan pulas. Resi Bajrasakti mendongkol sekali melihat betapa Puteri Mandari melanggar tugas mereka dan membuat keadaan menjadi berbahaya. Dia berbisik lirih sekali.
"Paduka lakukan sendiri, saya hendak melaksanakan pembakaran seperti direncanakan. Kalau selesai, harap Paduka cepat keluar."
Mandari mengangguk dan Resi Bajrasakti lalu keluar dari kamar dengan cepat. Alat-alat untuk melakukan pembakaran memang sudah tersedia dan mulailah dia melakukan pembakaran pada bagian belakang istana, dekat kandang kuda di mana terdapat banyak jerami kering. Sementara itu, Puteri Mandari cepat membunuh dua orang emban yang sedang pulas itu. Mereka mati sebagai kelanjutan dari tidur mereka, tidak sempat terbangun. Kemudian ia melangkah menghampiri pembaringan di mana kedua orang pangeran itu tidur pulas.
Akan tetapi kedua orang pangeran itu agaknya sudah dikehendaki oleh Sang Hyang Widhi Wasa untuk kelak menjadi raja melanjutkan kedudukan ayah mereka dan mungkin belum tiba waktunya mereka itu mati. Atau mungkin juga jiwa kedua orang anak kecil itu masih bersih sehingga peka sekali. Tiba-tiba saja kedua orang pangeran itu tersentak kaget dan terbangung dari tidur mereka. Mereka terbelalak memandang kepada Puteri Mandari dan anehnya, melihat wajah Puteri Mandari yang cantik jelita itu agaknya mereka melihat wajah yang amat menyeramkan. Mereka terbelalak dan menjerit-jerit sambil menangis.
"Kanjeng Rama... Kanjeng Ibu..." dua orang pangeran itu menjerit-jerit memanggil ayah ibunya.
Puteri Mandari terkejut sekali.
"Keparat...!" ia memaki, akan tetapi ia juga ketakutan dan cepat melompat keluar dari kamar itu dan lari secepatnya menuju ke belakang istana di mana Resi Bajrasakti mulai melakukan pembakaran.

Sementara itu, di gedung kepatihan juga datang dua orang yang ditugaskan oleh persekutuan untuk mencelakai Ki Patih Narotama. Dan siapa lagi yang mendapatkan tugas ini selain Puteri Lasmini yang cantik jelita, yang pernah menjadi selir tersayang Ki Patih Narotama dan tinggal di gedung kepatihan itu. Ia tentu saja sudah tahu benar akan keadaan di gedung kepatihan dan selain itu, juga ia amat mendendam kepada Ki Patih Narotama sekeluarganya. Karena itu maka Puteri Lasmini yang mendapatkan tugas itu dan untuk melaksanakan tugas berbahaya ini ia ditemani oleh Nyi Dewi Durgakumala sendiri, Permaisuri Wura-Wuri. Dengan demikian, para tokoh puncak dari Wengker, Wura-Wuri, Parang Siluman, dan Siluman Laut Kidul pada saat yang sama malam itu melakukan penyerangan secara serentak! Seperti juga Mandari, Lasmini tahu benar bahwa tidak mungkin ia dapat membunuh Ki Patih Narotama begitu saja. Ki Patih Narotama terlampau sakti baginya dan ia pun dapat menduga bahwa Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna itu tentu tidak akan dapat terpengaruh kekuatan sihir Aji Panyirepan. Maka, tugasnya bersama Nyi Dewi Durkumala adalah membinasakan Listyarini, isteri Narotama yang dulu menjadi madunya dan amat dibencinya, bersama putera mereka yang baru berusia setahun lebih beberapa bulan. Putera tunggal itu diberi nama Joko Pekik Satyabudhi dan biasa disebut Joko Pekik. Selain membunuh Listyarini dan Joko Pekik, juga Lasmini dan Nyi Dewi Durgakumala bertugas untuk melakukan pembakaran gedung kepatihan. Dengan mudah Lasmini dan Nyi Durgakumala memasuki gedung kepatihan karena para prajurit yang berada di situ sudah tertidur dipengaruhi Aji Panyirepan mereka. Dengan kejamnya Lasmini membunuh para perajurit pengawal yang sedang pulas sehingga mereka tewas tanpa dapat atau sempat mengeluarkan suara sedikit pun. Juga Nyi Durgakumaia yang membenci Narotama ikut berpesta ria membantai puluhan orang prajurit pengawal itu. Banjir darah terjadi malam itu di gedung kepatihan. Akan tetapi, biarpun pembunuhan ini mereka lakukan dengan mudah karena sama sekali tidak mendapatkan perlawanan, tetap saja dua orang wanita cantik namun kejam seperti iblis itu bergerak dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Bagaimanapun juga, keduanya tetap khawatir kalau-kalau Ki Patih Narotama akan terbangun sewaktu-waktu dan memergoki mereka. Betapapun saktinya kedua orang wanita ini, mereka masih merasa gentar kalau harus berhadapan dengan Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna. Mereka pun dapat menduga bahwa Ki Patih pasti tidak terpengaruh oleh Aji Panyirepan mereka dan berada dalam keadaan tidur yang wajar.
Lasmini yang sudah hafal akan keadaan di istana kepatihan itu, tahu benar di mana adanya kamar Listyarini, Isteri Ki Patih Narotama. Maka ia langsung saja memasuki kamar itu. Setelah membuka daun pintu kamar itu, ia hanya mendapatkan Joko Pekik Satyabudhi yang berusia kurang lebih satu setengah tahun tidur di atas pembaringan besar, pembaringan ibunya. Yang menemaninya hanya dua orang pelayan wanita, yaitu Biyung Emban (Inang Pengasuh) dan seorang pelayan lain. Dua orang pelayan ini pun tidur pulas terpengaruh Aji Panyirepan. Akan tetapi tidak tampak Listyarini di dalam kamar itu. Tempat tidurnya tidak ada bekas ditiduri. Jelas bahwa Joko Pekik tidur seorang diri di pembaringan itu, dijaga Biyung Emban dan seorang pelayan yang tertidur di atas permadani. Wajah Lasmini berubah merah dan matanya mencorong, hatinya panas, karena ia tahu benar apa artinya ini. Ia sudah tahu akan kebiasaan Ki Patih Narotama yang selalu tidur seorang diri dalam kamarnya. Kalau Listyarini tidak berada di kamarnya sendiri bersama anaknya, hal itu hanya berarti bahwa Listyarini tentu "mengungsi" ke kamar Patih Narotama, bertugas untuk menemani dan melayani suami tercinta! Hati Lasmini yang sebenarnya masih mengandung perasaan cinta kepada bekas suaminya itu kini penuh dengan cemburu iri hati, yang membuat ia marah sekail. Ia sudah melolos senjatanya yang ampuh, yaitu Cambuk Sarpokenoko dan mendekati tempat tidur, bermaksud membunuh Joko Pekik. Akan tetapi Nyi Dewi Durgakumala menyentuh lengannya dan menggelengkan kepalanya.
“Terlalu enak kalau dibunuh," bisiknya,
"Lebih baik kita culik, kelak dapat kita jadikan sandera untuk memaksa Narotama menyerah!"
Lasmini tersenyum dan mengangguk, ia menyimpan kembali sabuknya dililitkan di pinggang. Kemudian ia menggerakkan tangannya ke arah dua orang wanita pelayan itu yang tewas seketika tanpa sempat berteriak. Kemudian, ia membungkuk dan menepuk ke arah punggung Joko Pekik, membuat anak yang sedang tidur itu pingsan lalu memondongnya. Keduanya melangkah keluar dari gedung kepatihan tanpa menimbulkan suara. Hati Lasmini kecewa karena tidak menemukah Listyarini di kamarnya sehingga ia tidak mampu membunuh bekas madu yang dibencinya itu. Kalau Listyarini tidur bersama Ki Patih Narotama, tidak mungkin ia dapat atau berani mengganggunya.

<<< Bagian 59                                                                                          Bagian 61 >>>

No comments:

Post a Comment