Maka, Dibya Krendasakti merasakan adanya hawa yang aneh menggetarkan dan menguasai seluruh kota raja Kahuripan. Inilah pula sebabnya mengapa Aji Panyirepan Dibya Krendasakti demikian ampuh sehingga seolah ajiannya itu mempengaruhi seluruh penduduk kota raja itu! Padahal sesungguhnya, bukan hanya Krendasakti yang mengerahkan Aji Panyirepan pada malam hari itu, melainkan banyak sekali tokoh sakti dari persekutuan itu juga mengerahkan Aji Panyirepan mereka sehingga seluruh penghuni kota raja itu terpengaruh, kecuali mereka yang memang memiliki kekuatan batin yang kuat sehingga tidak terpengaruh. Akan tetapi karena pada malam hari itu, selain cuaca gelap pekat, juga hawanya dingin, maka semua orang, baik yang terpengaruh sihir maupun yang tidak, telah jatuh pulas.
Di sebuah
rumah yang terletak di sebelah belakang kompleks istana, tiba-tiba terdengar
tangis bayi. Anak yang baru berusia satu tahun itu menangis. Dia tidak
terpengaruh kekuatan sihir dan anak-anak yang jiwanya belum tertutup nafsu daya
rendah menjadi peka. Ada sesuatu yang membuat bayi itu menangis, bukan tangis
karena ulah hati pikiran, melainkan tangis yang tidak dapat dicari penyebabnya oleh
akal pikiran. Tangis yang nyaring ini memiliki getaran yang melemahkan pengaruh
Aji Panyirepan sehingga penghuni rumah itu yang mendengar tangis ini, yaitu
ayah, ibu, dan dua orang kakaknya, terbangun dari tidur. Akan tetapi pada saat
itu, banyak bayangan orang menyelinap dari rumah ke rumah dan mereka
menyebarkan kembang dan rempa-rempa ke atas atap setiap rumah. Terdapat sedikit
pasir di antara bunga-bunga itu. Rumah di mana penghuninya terbangun dari tidur
oleh tangis anak berusia setahun itu juga tidak luput dari lemparan kembang
pasir dan rempa-rempa itu. Tiba-tiba ibu yang kini memondong anak yang berhenti
menangis, mengeluh dan terhuyung. Suaminya terkejut dan merangkulnya, akan
tetapi dia pun mengeluh dan merasa kepalanya pening seperti dipukul. Juga dua
orang anak mereka, berusia dua belas dan tujuh tahun, yang tadinya masih tidur,
mengeluh dan menjadi gelisah, mengatakan bahwa kepala mereka pening dan perut
mereka mulas. Ayah dan dua orang anaknya yang sudah agak besar itu terserang
penyakit dengan tiba-tiba dan hanya anak berusia setahun itu saja yang tidak
jatuh sakit. Dan hal aneh seperti ini terjadi hampir di setiap rumah yang
dilempari bunga-bunga sebagai sarana penyerangan melalui sihir seperti santet
atau tenung. Yang bertugas melakukan penyebaran santet yang mendatangkan wabah
penyakit ini adalah orang-orang Kerajaan Siluman Laut Kidul yang dipimpin
Bhagawan Kalamisani yang ahli sihir itu. Juga pada saat yang bersamaan, dan hal
ini memang sudah diatur dan direncanakan sebelumnya, terjadi hal yang gawat di
Istana Sang Prabu Erlangga dan Gedung Kepatihan tempat tinggal Ki Patih
Narotama. Dua bayangan orang yang gerakannya tiada ubahnya dua mahluk golongan
iblis karena hanya tampak bayangan-bayangan itu berkelebat memasuki istana yang
sudah tidak ada penghuninya yang tidak tidur.
Setelah tiba
di ruangan dalam di mana terdapat lampu-lampu penerangan dan dua bayangan
berhenti dan berdiri diam, tampak bahwa mereka itu adalah Puteri Mandari dari
Parang Siluman yang cantik jelita, bersama Resi Bajrasakti, datuk Wengker yang
seperti raksasa brewok hitam itu. Puteri Parang Siluman dan Datuk Wengker ini
adalah dua orang yang memiliki kesaktian tinggi dan Mandari yang pernah menjadi
selir Sang Prabu Erlangga dan tinggal di dalam istana, bertugas untuk membunuh
Sang Prabu Erlangga, dibantu oleh Sang Resi Bajrasakti. Mereka baru berani
bergerak setelah para tokoh sakti dari Wengker, Wura-Wuri, Parang Siluman, dan
Siluman Laut Kidul menghimpun kekuatan sihir mereka dan menyebarkan Aji
Panyirepan sehingga pengaruh kekuatan sihir itu kuat bukan main dan akibatnya,
seluruh penghuni kota raja Kahuripan jatuh pulas.
Di dalam rapat
besar persekutuan yang menentang Kahuripan itu, telah dibagi-bagi tugas kepada
para tokoh yang sakti. Puteri Mandari malam itu bertugas memasuki istana
Kahuripan dan melakukan pembasmian terhadap penghuni istana, termasuk Sang
Prabu Erlangga. Akan tetapi karena semua tokoh itu yakin akan ketinggian
ilmu-ilmu Sang Prabu Erlangga yang sakti mandraguna dan sukar dikalahkan, maka
Puteri Mandari diperingatkan agar jangan sekali-kali mencoba membunuh Sang
Prabu Erlangga secara langsung. Begitu memasuki istana dan melihat keadaan
istana yang mewah, di mana ia pernah tinggal sebagai selir terkasih, timbul iri
hati dan penyesalan di hati puteri itu karena ia terpaksa meninggalkan istana
itu. Melihat empat orang prajurit pengawal duduk bersandar dinding dalam
keadaan tidur, Mandari menghampiri mereka dan empat kali tangan kirinya
menyambar, mengenai kepala empat orang perajurit itu dan mereka berempat tidak
akan dapat bangun kembali karena tamparan yang tampaknya tidak keras itu telah
menghancurkan isi kepala dan mereka tewas seketika!
“Puteri
Mandari, mari kita cepat melaksanakan tugas kita, membakar istana seperti telah
direncanakan." bisik Resi Bajrasakti.
Memang menurut
rencana mereka harus membakar istana agar semua penghuni yang tertidur di dalam
akan mati terbakar semua, berikut Sang Prabu Erlangga kalau mungkin.
"Nanti
dulu, Paman Resi, aku belum puas kalau tidak membunuh mereka dengan tanganku
sendiri!" bisik kembali Puteri Mandari.
Resi
Bajrasakti mengerutkan alisnya, dan menggeleng kepalanya.
"Itu
berbahaya sekali! Sudah diputuskan dalam rapat bahwa kita tidak boleh sembrono
(gegabah) terhadap Sang Prabu Erlangga!"
"Jangan
khawatir. Aku tidak akan mencoba untuk membunuh dia, melainkan permaisuri dan
putera-puteranya! Baru akan puas hatiku!"
Melihat
kenekatan Mandari, Resi Bajrasakti menghela napas dan terpaksa mengikuti puteri
itu yang menuju ke kamar di mana ia tahu para pangeran yang masih kecil-kecil
itu tidur. Ketika menuju ke kamar itu, setiap kali melihat prajurit pengawal
atau pelayan yang tertidur, Puteri Mandari tidak melewatkan mereka sebelum
turun tangan membunuh mereka. Dalam waktu sebentar saja, tidak kurang dari lima
belas orang perajurit pengawal dan pelayan telah tewas di tangan Mandari!
Akhirnya
mereka tiba di depan kamar di mana dua orang pangeran, yaitu Pangeran Samara
Wijaya yang berusia hampir lima tahun dan Pangeran Budidharma yang berusia
sekitar empat tahun biasa tidur ditemani dua orang emban (inang pengasuh).
Dengan mudah Puteri Mandari mendorong daun pintu terbuka. Ia hati-hati sekali
karena maklum bahwa kamar di mana Sang Prabu Erlangga tidur, berada di samping
kamar para pangeran itu. Ia melihat dua orang emban telah tertidur di lantai
kamar bertilamkan permadani, dan dua orang pangeran yang masih kecil itu tidur
di atas sebuah pembaringan besar. Mereka tidur berjajar dalam keadaan pulas.
Resi Bajrasakti mendongkol sekali melihat betapa Puteri Mandari melanggar tugas
mereka dan membuat keadaan menjadi berbahaya. Dia berbisik lirih sekali.
"Paduka
lakukan sendiri, saya hendak melaksanakan pembakaran seperti direncanakan.
Kalau selesai, harap Paduka cepat keluar."
Mandari
mengangguk dan Resi Bajrasakti lalu keluar dari kamar dengan cepat. Alat-alat
untuk melakukan pembakaran memang sudah tersedia dan mulailah dia melakukan
pembakaran pada bagian belakang istana, dekat kandang kuda di mana terdapat
banyak jerami kering. Sementara itu, Puteri Mandari cepat membunuh dua orang
emban yang sedang pulas itu. Mereka mati sebagai kelanjutan dari tidur mereka,
tidak sempat terbangun. Kemudian ia melangkah menghampiri pembaringan di mana
kedua orang pangeran itu tidur pulas.
Akan tetapi
kedua orang pangeran itu agaknya sudah dikehendaki oleh Sang Hyang Widhi Wasa
untuk kelak menjadi raja melanjutkan kedudukan ayah mereka dan mungkin belum
tiba waktunya mereka itu mati. Atau mungkin juga jiwa kedua orang anak kecil
itu masih bersih sehingga peka sekali. Tiba-tiba saja kedua orang pangeran itu
tersentak kaget dan terbangung dari tidur mereka. Mereka terbelalak memandang
kepada Puteri Mandari dan anehnya, melihat wajah Puteri Mandari yang cantik
jelita itu agaknya mereka melihat wajah yang amat menyeramkan. Mereka
terbelalak dan menjerit-jerit sambil menangis.
"Kanjeng
Rama... Kanjeng Ibu..." dua orang pangeran itu menjerit-jerit memanggil
ayah ibunya.
Puteri Mandari
terkejut sekali.
"Keparat...!"
ia memaki, akan tetapi ia juga ketakutan dan cepat melompat keluar dari kamar
itu dan lari secepatnya menuju ke belakang istana di mana Resi Bajrasakti mulai
melakukan pembakaran.
Sementara itu,
di gedung kepatihan juga datang dua orang yang ditugaskan oleh persekutuan
untuk mencelakai Ki Patih Narotama. Dan siapa lagi yang mendapatkan tugas ini
selain Puteri Lasmini yang cantik jelita, yang pernah menjadi selir tersayang
Ki Patih Narotama dan tinggal di gedung kepatihan itu. Ia tentu saja sudah tahu
benar akan keadaan di gedung kepatihan dan selain itu, juga ia amat mendendam
kepada Ki Patih Narotama sekeluarganya. Karena itu maka Puteri Lasmini yang
mendapatkan tugas itu dan untuk melaksanakan tugas berbahaya ini ia ditemani
oleh Nyi Dewi Durgakumala sendiri, Permaisuri Wura-Wuri. Dengan demikian, para
tokoh puncak dari Wengker, Wura-Wuri, Parang Siluman, dan Siluman Laut Kidul
pada saat yang sama malam itu melakukan penyerangan secara serentak! Seperti
juga Mandari, Lasmini tahu benar bahwa tidak mungkin ia dapat membunuh Ki Patih
Narotama begitu saja. Ki Patih Narotama terlampau sakti baginya dan ia pun
dapat menduga bahwa Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna itu tentu tidak
akan dapat terpengaruh kekuatan sihir Aji Panyirepan. Maka, tugasnya bersama
Nyi Dewi Durkumala adalah membinasakan Listyarini, isteri Narotama yang dulu
menjadi madunya dan amat dibencinya, bersama putera mereka yang baru berusia
setahun lebih beberapa bulan. Putera tunggal itu diberi nama Joko Pekik
Satyabudhi dan biasa disebut Joko Pekik. Selain membunuh Listyarini dan Joko
Pekik, juga Lasmini dan Nyi Dewi Durgakumala bertugas untuk melakukan
pembakaran gedung kepatihan. Dengan mudah Lasmini dan Nyi Durgakumala memasuki
gedung kepatihan karena para prajurit yang berada di situ sudah tertidur
dipengaruhi Aji Panyirepan mereka. Dengan kejamnya Lasmini membunuh para perajurit
pengawal yang sedang pulas sehingga mereka tewas tanpa dapat atau sempat
mengeluarkan suara sedikit pun. Juga Nyi Durgakumaia yang membenci Narotama
ikut berpesta ria membantai puluhan orang prajurit pengawal itu. Banjir darah
terjadi malam itu di gedung kepatihan. Akan tetapi, biarpun pembunuhan ini
mereka lakukan dengan mudah karena sama sekali tidak mendapatkan perlawanan,
tetap saja dua orang wanita cantik namun kejam seperti iblis itu bergerak
dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Bagaimanapun juga,
keduanya tetap khawatir kalau-kalau Ki Patih Narotama akan terbangun
sewaktu-waktu dan memergoki mereka. Betapapun saktinya kedua orang wanita ini,
mereka masih merasa gentar kalau harus berhadapan dengan Ki Patih Narotama yang
sakti mandraguna. Mereka pun dapat menduga bahwa Ki Patih pasti tidak
terpengaruh oleh Aji Panyirepan mereka dan berada dalam keadaan tidur yang
wajar.
Lasmini yang
sudah hafal akan keadaan di istana kepatihan itu, tahu benar di mana adanya
kamar Listyarini, Isteri Ki Patih Narotama. Maka ia langsung saja memasuki
kamar itu. Setelah membuka daun pintu kamar itu, ia hanya mendapatkan Joko
Pekik Satyabudhi yang berusia kurang lebih satu setengah tahun tidur di atas
pembaringan besar, pembaringan ibunya. Yang menemaninya hanya dua orang pelayan
wanita, yaitu Biyung Emban (Inang Pengasuh) dan seorang pelayan lain. Dua orang
pelayan ini pun tidur pulas terpengaruh Aji Panyirepan. Akan tetapi tidak
tampak Listyarini di dalam kamar itu. Tempat tidurnya tidak ada bekas ditiduri.
Jelas bahwa Joko Pekik tidur seorang diri di pembaringan itu, dijaga Biyung
Emban dan seorang pelayan yang tertidur di atas permadani. Wajah Lasmini
berubah merah dan matanya mencorong, hatinya panas, karena ia tahu benar apa
artinya ini. Ia sudah tahu akan kebiasaan Ki Patih Narotama yang selalu tidur
seorang diri dalam kamarnya. Kalau Listyarini tidak berada di kamarnya sendiri
bersama anaknya, hal itu hanya berarti bahwa Listyarini tentu
"mengungsi" ke kamar Patih Narotama, bertugas untuk menemani dan
melayani suami tercinta! Hati Lasmini yang sebenarnya masih mengandung perasaan
cinta kepada bekas suaminya itu kini penuh dengan cemburu iri hati, yang
membuat ia marah sekail. Ia sudah melolos senjatanya yang ampuh, yaitu Cambuk
Sarpokenoko dan mendekati tempat tidur, bermaksud membunuh Joko Pekik. Akan
tetapi Nyi Dewi Durgakumala menyentuh lengannya dan menggelengkan kepalanya.
“Terlalu enak
kalau dibunuh," bisiknya,
"Lebih
baik kita culik, kelak dapat kita jadikan sandera untuk memaksa Narotama
menyerah!"
Lasmini
tersenyum dan mengangguk, ia menyimpan kembali sabuknya dililitkan di pinggang.
Kemudian ia menggerakkan tangannya ke arah dua orang wanita pelayan itu yang
tewas seketika tanpa sempat berteriak. Kemudian, ia membungkuk dan menepuk ke
arah punggung Joko Pekik, membuat anak yang sedang tidur itu pingsan lalu
memondongnya. Keduanya melangkah keluar dari gedung kepatihan tanpa menimbulkan
suara. Hati Lasmini kecewa karena tidak menemukah Listyarini di kamarnya
sehingga ia tidak mampu membunuh bekas madu yang dibencinya itu. Kalau
Listyarini tidur bersama Ki Patih Narotama, tidak mungkin ia dapat atau berani
mengganggunya.
No comments:
Post a Comment