Setelah tiba di luar gedung yang penuh mayat para perajurit itu, Lasmini dan Nyi Dewi Durgakumala lalu mulai melakukan pembakaran-pembakaran di sudut-sudut gedung.
Kota raja
Kahuripan geger ketika terdengar bentakan-bentakan mengguntur. Itulah
lengkingan-lengkingan yang dilakukan oleh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih
Narotama! Dua orang sakti itu terkejut dan terbangun ketika terjadi kebakaran.
Mereka berdua segera merasakan adanya getaran asing yang amat kuat dan tahulah
mereka bahwa ada kekuatan sihir menyerbu istana kediaman mereka. Keduanya
keluar dari kamar dan melihat para pelayan dan prajurit pengawal berserakan,
tewas dalam keadaan mengerikan.
Tentu saja
mereka terkejut dan cepat berkelebat keluar. Setelah berada di luar dan
mendapatkan seluruh kota raja dalam keadaan sepi, semua tersirep oleh hawa
panyirepan yang kuat, dan melihat api mulai membakar sebagian tempat kediaman
mereka, raja dan patih yang sakti mandraguna ini lalu mengerahkan kekuatan
batin mereka mengeluarkan bentakan-bentakan melengking. Suara mereka yang amat
berpengaruh mengandung tenaga sakti itu membobolkan dan membuyarkan semua
pengaruh Aji Panyirepan yang dikerahkan para penyerang dari musuh yang
menyerbu. Seketika pengaruh sihir itu hilang bagaikan awan tertiup angin.
Bahkan bentakan-bentakan membuat semua orang, termasuk para prajurit, yang
tadinya tertidur karena sihir, kini tersentak bangun. Tentu saja mereka segera berlarian
keluar. Para perwira segera mengerahkan para prajurit untuk menanggulangi
kekacauan yang terjadi karena kebakaran-kebakaran pada istana raja dan gedung
kepatihan. Juga sebagian lagi dengan keadaan masih kacau menyambut penyerbuan
ratusan orang prajurit yang berpakaian serba putih itu. Inilah para perajurit
yang membentuk Pasukan Siluman yang dipimpin oleh Bhagawan Kundolomuka. Pasukan
ini diperkuat ilmu hitam yang bersumber pada kekuasaan gelap atau iblis
sehingga sepak terjangnya menggiriskan. Bersama mereka muncul binatang-binatang
berbisa seperti ular, kalajengking, kelabang, kelelawar dan sebagainya. Para
prajurit Kahuripan tentu saja ngeri melihat ini dan banyak di antara mereka
roboh oleh serbuan beberapa ratus perajurit Pasukan Siluman itu.
Akan tetapi,
Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama turun tangan. Selain menyadarkan
mereka yang terbius Aji Panyirepan, dua orang priya agung yang sakti ini
memunahkan semua daya sihir yang menyerang para prajurit. Daya sihir Aji
Panyirepan itu memang luar biasa kuatnya karena dikerahkan banyak tokoh sesat,
bahkan diperkuat pula oleh Aji Panyirepan yang dilepas Dibya Krendasakti secara
kebetulan berbareng dengan penyerangan persekutuan yang memusuhi Kahuripan.
Bukan hanya para prajurit dan perwira saja yang tidak tahan dan terbius, bahkan
para senopati yang cukup sakti dari Kerajaan Kahuripan tidak dapat menolaknya
dan ikut pula jatuh pulas. Di antara mereka itu termasuk Senopati Wiradana,
Senopati Sindukerta, Tumenggung Jayatanu, Senopati Muda Yudajaya dan lain-lain.
Mereka semua ikut jatuh pulas dan baru mereka terbangun ketika Sang Prabu
Erlangga dan Ki Patih Narotama berhasil membuyarkan semua daya panyirepan yang
ampuh itu. Setelah terbangun dan berlari keluar, para senopati itu segera
memimpin pasukan untuk menyambut serangan ratusan orang prajurit musuh yang
berpakaian serba putih itu. Karena maksud penyergapan malam itu hanya untuk
mengadakan kekacauan dan usaha mereka berhasil baik, maka pimpinan Pasukan
Siluman lalu memberi aba-aba kepada pasukannya untuk meninggalkan kota raja.
Bhagawan Kundolomuka dan para tokoh sakti lain tahu benar bahwa setelah kini
Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama bersama para senopati keluar, keadaan
mereka sebaliknya terancam bahaya. Maka mereka cepat kabur meninggalkan kota
raja yang masih berada dalam keadaan panik dan bingung karena jatuhnya banyak
korban. Apalagi karena musuh meninggalkan santet dan tenung yang menimbulkan
wabah penyakit yang menular menggerayangi banyak korban, munculnya penyakit
yang aneh dan berbahaya.
Setelah musuh
melarikan diri, para senopati mengadakan pemeriksaan dan perhitungan. Mereka
terkejut sekali dan segera melaporkan keadaan yang mereka temukan kepada Sang
Prabu Erlangga. Juga Ki Patih Narotama merasa batinnya tertusuk ketika melihat
semua penderitaan dan kerugian yang menimpa Kahuripan, terutama sekali
hilangnya puteranya yang terculik. Dia melaporkannya kepada Sang Prabu Erlangga
yang juga merasa terpukul. Setelah, dilakukan penelitian, maka kerugian mereka
cukup hebat.
Pertama, Joko
Pekik Satyabudhi, putera Ki Patih Narotama hilang diculik orang. Ke dua, pusaka
istana Cupu Manik Maya hilang pula dicuri orang. Ke tiga, biarpun hanya
sedikit, namun ada bagian Istana Sang Prabu Erlangga dan Gedung Kepatihan
terbakar. Ke empat, tidak kurang dari seratus orang perajurit dan belasan orang
pelayan di kedua istana itu terbunuh. Dan ke lima, Kahuripan mulai diserang
wabah penyakit yang menewaskan banyak rakyat.
Sang Prabu
Erlangga dan Ki Patih Narotama pada pagi hari itu juga, mengadakan persidangan
dan memanggil semua senopati dan perwira tinggi. Wajah raja dan patih itu
tampak agak muram, tanda bahwa mereka merasa prihatin sekali. Setelah Sang
Prabu menerima laporan lengkap tentang kerugian yang diderita akibat serangan
semalam, dia lalu memerintahkan para senopati untuk melakukan penjagaan yang
ketat karena agaknya kerajaan-kerajaan kecil yang memusuhi Kahuripan kini sudah
mulai melakukan kegiatan mereka memusuhi Kahuripan lagi.
"Mereka
sungguh tidak tahu diri," kata Sang Prabu Erlangga.
"Selama
ini kami bersikap lunak, memaafkan semua kejahatan mereka yang lalu, bahkan
menjulurkan tangan mengajak hidup damai untuk menyejahterakan rakyat
masing-masing. Ternyata mereka kembali mengacau dan mungkin mereka yang telah
bersekutu itu akan mengadakan serangan. Akan tetapi, melihat kekuatan sihir Aji
Panyirepan mereka, harus diakui bahwa mereka agaknya memiliki banyak tokoh ahli
sihir yang sakti sehingga bahkan para senopati tidak kuasa menolak kekuatan
sihir mereka. Kami jadi teringat kepada dua orang muda sakti yang dapat
diharapkan bantuan mereka, yaitu Nurseta dan Puspa Dewi. Paman Senopati
Sindukerta, mengapa Nurseta tidak muncul ketika terjadi keributan semalam? Di
mana dia?"
Senopati
Sindukerta saling bertukar pandang dengan Tumenggung Jayatanu, lalu dia
menyembah dan menjawab.
"Gusti
Sinuwun, cucu hamba Nurseta beberapa hari yang lalu meninggalkan kota raja
untuk mencari Niken Harni."
Sang Prabu
Erlangga berpaling memandang kepada Senopati Yudajaya.
"Kakang
Senopati Yudajaya, ke mana perginya puterimu Niken Harni? Dan di mana pula
adanya Puspa Dewi yang juga tidak muncul malam tadi?"
"Mohon
ompun, Gusti SInuwun. Belum lama ini terjadi penculikan atas diri isteri hamba
Nyi Lasmi, Ibu kandung Puspa Dewi, dilakukan oleh orang-orang Wengker. Puspa
Dewi melakukan pengejaran, kemudian Nlken Harni juga melakukan pengejaran.
Ternyata, atas pertolongan Gusti Patih, Nyi Lasmi dapat dibebaskan dari
orang-orang Wengker dan diantar pulang oleh Puspa Dewi. Akan tetapi melihat
adiknya, Ken Harni, belum pulang dan mendengar ia melakukan pengejaran ke
Wengker, Puspa Dewi merasa khawatir lalu melakukan pencarian ke sana.
Demikianlah, Gusti Sinuwun, maka malam tadi Puspa Dewi tidak muncul karena dia
tidak berada di sini."
Sang Prabu
Erlangga mengangguk-angguk.
"Dan
Nurseta juga pergi mencari Niken Harni, Paman Senopati Sindukerta?"
"Benar,
Gusti. Karena merasa khawatir akan keselamatan Niken Harni dan Puspa Dewi yang
memasuki daerah Wengker yang berbahaya, maka cucu hamba Nurseta beberapa hari
yang lalu pergi mencari mereka ke Kerajaan Wengker."
Sang Prabu
Erlangga menghela napas panjang.
"Jagad
Dewa Bathara! Agaknya memang sudah digariskan bahwa Kahuripan harus mengalami
musibah ini sehingga ketika serangan ilmu hitam itu datang, Nurseta dan Puspa
Dewi yang dapat diandalkan tidak berada di sini."
"Hamba
mohon ampun, Gusti Sinuwun, bahwa hamba semalam tertidur dan tidak dapat
melakukan kewajiban hamba menjaga ketenteraman kota raja." kata Ki Patih
Narotama dengan nada suara penuh penyesalan.
"Hemm,
tidak ada yang bersalah melalaikan kewajiban dalam peristiwa semalam, Kakang
Patih. Aku sendiri juga tertidur. Hal ini membuktikan bahwa musuh-musuh kita
mempunyai ilmu kepandaian yang tinggi. Aku tidak menyalahkan Andika, Kakang,
apalagi Andika sendiri telah kehilangan putera. Aku ikut prihatin bahwa Joko
Pekik terculik. Tahukan Andika siapa kiranya yang menculik puteramu itu?"
"Kalau
hamba tidak salah, bukan mustahil kalau Lasmini yang berada di belakang
penculikan ini, Gusti."
"Kami
kira tepat dugaanmu itu, Kakang. Aku sendiri mempunyai dugaan bahwa yang
memasuki Istana tentulah si Mandari. Kalau bukan ia, siapa lagi yang mampu
memasuki istana dengan cara yang begitu diperhitungkan dan hati-hati sehingga
aku sampai tidak terbangun karena tidak mendengar suara apa pun? Pasti Mandari
dan Lasmini berada. di antara mereka yang semalam mengacau di kota raja."
Pada saat ini,
seorang prajurit pengawal datang melapor bahwa di luar datang Puspa Dewi mohon
diperkenankan menghadap. Semua orang, termasuk Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih
Narotama menjadi girang dan wajah mereka berseri mendengar laporan ini.
"Pengawal,
cepat persilakan Puspa Dewi masuk menghadap!" kata Sang Prabu Erlangga.
Pengawal
memberi hormat dan keluar. Tak lama kemudian Puspa Dewi memasuki ruangan dan
cepat menghaturkan hormat dengan sembah. Tumenggung Jayatanu dan Senopati
Yudajaya memandang dengan girang kepada cucu dan puteri mereka, akan tetapi
karena mereka sedang menghadap Sang Prabu Erlangga, mereka pun diam saja dan
hanya memperlihatkan kegembiraan hati mereka melalui seyum dan pandang mata.
"Ni Puspa
Dewi, dari mana saja Andika? Ceritakan kepada kami bagaimana Andika pergi
mencari Niken Harni." Tanya Sang Prabu Erlangga. Puspa Dewi memandang
kepada ayahnya dan kakeknya, maklum bahwa tentu Sang Prabu Erlangga telah
mendengar dari mereka akan Kepergiannya mencari Niken Harni.
"Hamba
telah berhasil memasuki Kerajaan Wengker dan mendengar keterangan dari Resi
Bajrasakti bahwa adik hamba Niken Harni telah dibawa oleh Nini Bumigarbo."
"Ahh...
" Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama berseru kaget. Mereka tahu
siapa Ninl Bumigarbo, seorang datuk wanita sakti mandraguna yang membenci guru
mereka dan membenci mereka akan tetapi tidak berani turun tangan mengganggu
mereka karena dilarang oleh Sang Bhagawan Ekadenta.
"Mengapa
Niken Harni dibawa datuk wanita itu?" Tanya Sang Prabu Erlangga.
"Hamba
tidak tahu, Gusti. Juga para pimpinan Wengker tidak ada yang
mengetahuinya."
"Ni Puspa
Dewi, Wengker memiliki banyak orang sakti, juga adipatinya yang baru adalah
Linggawijaya, permaisurinya Dewi Mayangsari yang kabarnya pernah digembleng
oleh Nini Bumigarbo. Bagai mana Andika seorang diri dapat masuk kesana dengan
leluasa dan selamat?"
"Sesungguhnya
hamba mendapat perlindungan Sang Hyang Widhi, Gusti. Ketika hamba tiba di sana,
Adipati Linggawijaya dan Dewi Mayangsari sedang tidak berada di Wengker. Hamba
dikeroyok dan tentu akan terancam malapetaka kalau hamba tidak bertindak cepat.
Hamba menangkap dan menyandera Tumenggung Suramenggala dan dengan cara itu
hamba dapat keluar dari Wengker dengan selamat. Setelah mendengar bahwa Niken
Harni dibawa Nini Bumigarbo, hamba masih berusaha mencarinya ke mana-mana.
Namun hamba tidak berhasil menemukan jejak Niken Harni maupun Nini
Bumigarbo."
"Hemm,
tidak aneh. Nini Bumigarbo memiliki tingkat kepandaian yang amat tinggi."
"Karena
tidak berhasil menemukan Niken Harni, hamba mengambil keputusan untuk pulang
lebih dulu agar keluarga hamba tidak merasa khawatir. Begitu memasuki kota
raja, hamba terkejut mendengar akan musibah yang menimpa kota raja. Hamba
pulang dan mendengar dari kedua Ibu hamba dan Nenek bahwa Kanjeng Rama dan
Kanjeng Eyang berada di sini menghadap Paduka, maka hamba lalu cepat menyusul
ke sini. Hamba mohon maaf bahwa hamba tidak dapat membantu melawan musuh ketika
serangan malam tadi datang, Gusti."
Ki Patih
Narotama merasa kagum dan girang sekali melihat sikap dan ucapan gadis itu yang
kini lembut dan penuh hormat, walaupun di dalam kelembutannya masih terkandung
kekerasan hati. Kiranya penggemblengan Maha Resi Satyadharma telah mengubah
watak keras liar gadis itu dan menanamkan kebijaksanaan.
"Bukan
kesalahan Andika atau kesalahan siapa pun, Ni Puspa Dewi. Semua telah terjadi
dan kami yakin bahwa yang terjadi sudah dikehendaki Sang Hyang Widhi dan pasti
mengandung hikmah yang dapat dipetik dan dimanfaatkan."
Ucapan Sang
Prabu Erlangga ini mengandung maksud yang hanya dimengerti oleh dia dan Ki
Patih Narotama. Mereka berdua menyadari bahwa semua peristiwa ini merupakan
akibat kesalahan tindakan mereka ketika mengambil Ni Lasmini dan Ni Mandari
menjadi selir. Walau niat itu baik untuk memperbaiki hubungan kedua kerajaan,
namun caranya yang salah. Caranya merupakan hasil dorongan nafsu.
Kedatangan
Puspa Dewi yang memperkuat barisan pertahanan mereka membuat para senopati
berbesar hati. Ki Patih Narotama diserahi tugas mengatur penjagaan dan
membagi-bagi tugas penjagaan kepada para senopatinya.
No comments:
Post a Comment