Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 61


Setelah tiba di luar gedung yang penuh mayat para perajurit itu, Lasmini dan Nyi Dewi Durgakumala lalu mulai melakukan pembakaran-pembakaran di sudut-sudut gedung.

Kota raja Kahuripan geger ketika terdengar bentakan-bentakan mengguntur. Itulah lengkingan-lengkingan yang dilakukan oleh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama! Dua orang sakti itu terkejut dan terbangun ketika terjadi kebakaran. Mereka berdua segera merasakan adanya getaran asing yang amat kuat dan tahulah mereka bahwa ada kekuatan sihir menyerbu istana kediaman mereka. Keduanya keluar dari kamar dan melihat para pelayan dan prajurit pengawal berserakan, tewas dalam keadaan mengerikan.
Tentu saja mereka terkejut dan cepat berkelebat keluar. Setelah berada di luar dan mendapatkan seluruh kota raja dalam keadaan sepi, semua tersirep oleh hawa panyirepan yang kuat, dan melihat api mulai membakar sebagian tempat kediaman mereka, raja dan patih yang sakti mandraguna ini lalu mengerahkan kekuatan batin mereka mengeluarkan bentakan-bentakan melengking. Suara mereka yang amat berpengaruh mengandung tenaga sakti itu membobolkan dan membuyarkan semua pengaruh Aji Panyirepan yang dikerahkan para penyerang dari musuh yang menyerbu. Seketika pengaruh sihir itu hilang bagaikan awan tertiup angin. Bahkan bentakan-bentakan membuat semua orang, termasuk para prajurit, yang tadinya tertidur karena sihir, kini tersentak bangun. Tentu saja mereka segera berlarian keluar. Para perwira segera mengerahkan para prajurit untuk menanggulangi kekacauan yang terjadi karena kebakaran-kebakaran pada istana raja dan gedung kepatihan. Juga sebagian lagi dengan keadaan masih kacau menyambut penyerbuan ratusan orang prajurit yang berpakaian serba putih itu. Inilah para perajurit yang membentuk Pasukan Siluman yang dipimpin oleh Bhagawan Kundolomuka. Pasukan ini diperkuat ilmu hitam yang bersumber pada kekuasaan gelap atau iblis sehingga sepak terjangnya menggiriskan. Bersama mereka muncul binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, kelabang, kelelawar dan sebagainya. Para prajurit Kahuripan tentu saja ngeri melihat ini dan banyak di antara mereka roboh oleh serbuan beberapa ratus perajurit Pasukan Siluman itu.
Akan tetapi, Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama turun tangan. Selain menyadarkan mereka yang terbius Aji Panyirepan, dua orang priya agung yang sakti ini memunahkan semua daya sihir yang menyerang para prajurit. Daya sihir Aji Panyirepan itu memang luar biasa kuatnya karena dikerahkan banyak tokoh sesat, bahkan diperkuat pula oleh Aji Panyirepan yang dilepas Dibya Krendasakti secara kebetulan berbareng dengan penyerangan persekutuan yang memusuhi Kahuripan. Bukan hanya para prajurit dan perwira saja yang tidak tahan dan terbius, bahkan para senopati yang cukup sakti dari Kerajaan Kahuripan tidak dapat menolaknya dan ikut pula jatuh pulas. Di antara mereka itu termasuk Senopati Wiradana, Senopati Sindukerta, Tumenggung Jayatanu, Senopati Muda Yudajaya dan lain-lain. Mereka semua ikut jatuh pulas dan baru mereka terbangun ketika Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama berhasil membuyarkan semua daya panyirepan yang ampuh itu. Setelah terbangun dan berlari keluar, para senopati itu segera memimpin pasukan untuk menyambut serangan ratusan orang prajurit musuh yang berpakaian serba putih itu. Karena maksud penyergapan malam itu hanya untuk mengadakan kekacauan dan usaha mereka berhasil baik, maka pimpinan Pasukan Siluman lalu memberi aba-aba kepada pasukannya untuk meninggalkan kota raja. Bhagawan Kundolomuka dan para tokoh sakti lain tahu benar bahwa setelah kini Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama bersama para senopati keluar, keadaan mereka sebaliknya terancam bahaya. Maka mereka cepat kabur meninggalkan kota raja yang masih berada dalam keadaan panik dan bingung karena jatuhnya banyak korban. Apalagi karena musuh meninggalkan santet dan tenung yang menimbulkan wabah penyakit yang menular menggerayangi banyak korban, munculnya penyakit yang aneh dan berbahaya.

Setelah musuh melarikan diri, para senopati mengadakan pemeriksaan dan perhitungan. Mereka terkejut sekali dan segera melaporkan keadaan yang mereka temukan kepada Sang Prabu Erlangga. Juga Ki Patih Narotama merasa batinnya tertusuk ketika melihat semua penderitaan dan kerugian yang menimpa Kahuripan, terutama sekali hilangnya puteranya yang terculik. Dia melaporkannya kepada Sang Prabu Erlangga yang juga merasa terpukul. Setelah, dilakukan penelitian, maka kerugian mereka cukup hebat.
Pertama, Joko Pekik Satyabudhi, putera Ki Patih Narotama hilang diculik orang. Ke dua, pusaka istana Cupu Manik Maya hilang pula dicuri orang. Ke tiga, biarpun hanya sedikit, namun ada bagian Istana Sang Prabu Erlangga dan Gedung Kepatihan terbakar. Ke empat, tidak kurang dari seratus orang perajurit dan belasan orang pelayan di kedua istana itu terbunuh. Dan ke lima, Kahuripan mulai diserang wabah penyakit yang menewaskan banyak rakyat.
Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama pada pagi hari itu juga, mengadakan persidangan dan memanggil semua senopati dan perwira tinggi. Wajah raja dan patih itu tampak agak muram, tanda bahwa mereka merasa prihatin sekali. Setelah Sang Prabu menerima laporan lengkap tentang kerugian yang diderita akibat serangan semalam, dia lalu memerintahkan para senopati untuk melakukan penjagaan yang ketat karena agaknya kerajaan-kerajaan kecil yang memusuhi Kahuripan kini sudah mulai melakukan kegiatan mereka memusuhi Kahuripan lagi.
"Mereka sungguh tidak tahu diri," kata Sang Prabu Erlangga.
"Selama ini kami bersikap lunak, memaafkan semua kejahatan mereka yang lalu, bahkan menjulurkan tangan mengajak hidup damai untuk menyejahterakan rakyat masing-masing. Ternyata mereka kembali mengacau dan mungkin mereka yang telah bersekutu itu akan mengadakan serangan. Akan tetapi, melihat kekuatan sihir Aji Panyirepan mereka, harus diakui bahwa mereka agaknya memiliki banyak tokoh ahli sihir yang sakti sehingga bahkan para senopati tidak kuasa menolak kekuatan sihir mereka. Kami jadi teringat kepada dua orang muda sakti yang dapat diharapkan bantuan mereka, yaitu Nurseta dan Puspa Dewi. Paman Senopati Sindukerta, mengapa Nurseta tidak muncul ketika terjadi keributan semalam? Di mana dia?"

Senopati Sindukerta saling bertukar pandang dengan Tumenggung Jayatanu, lalu dia menyembah dan menjawab.
"Gusti Sinuwun, cucu hamba Nurseta beberapa hari yang lalu meninggalkan kota raja untuk mencari Niken Harni."
Sang Prabu Erlangga berpaling memandang kepada Senopati Yudajaya.
"Kakang Senopati Yudajaya, ke mana perginya puterimu Niken Harni? Dan di mana pula adanya Puspa Dewi yang juga tidak muncul malam tadi?"
"Mohon ompun, Gusti SInuwun. Belum lama ini terjadi penculikan atas diri isteri hamba Nyi Lasmi, Ibu kandung Puspa Dewi, dilakukan oleh orang-orang Wengker. Puspa Dewi melakukan pengejaran, kemudian Nlken Harni juga melakukan pengejaran. Ternyata, atas pertolongan Gusti Patih, Nyi Lasmi dapat dibebaskan dari orang-orang Wengker dan diantar pulang oleh Puspa Dewi. Akan tetapi melihat adiknya, Ken Harni, belum pulang dan mendengar ia melakukan pengejaran ke Wengker, Puspa Dewi merasa khawatir lalu melakukan pencarian ke sana. Demikianlah, Gusti Sinuwun, maka malam tadi Puspa Dewi tidak muncul karena dia tidak berada di sini."
Sang Prabu Erlangga mengangguk-angguk.
"Dan Nurseta juga pergi mencari Niken Harni, Paman Senopati Sindukerta?"
"Benar, Gusti. Karena merasa khawatir akan keselamatan Niken Harni dan Puspa Dewi yang memasuki daerah Wengker yang berbahaya, maka cucu hamba Nurseta beberapa hari yang lalu pergi mencari mereka ke Kerajaan Wengker."
Sang Prabu Erlangga menghela napas panjang.
"Jagad Dewa Bathara! Agaknya memang sudah digariskan bahwa Kahuripan harus mengalami musibah ini sehingga ketika serangan ilmu hitam itu datang, Nurseta dan Puspa Dewi yang dapat diandalkan tidak berada di sini."
"Hamba mohon ampun, Gusti Sinuwun, bahwa hamba semalam tertidur dan tidak dapat melakukan kewajiban hamba menjaga ketenteraman kota raja." kata Ki Patih Narotama dengan nada suara penuh penyesalan.
"Hemm, tidak ada yang bersalah melalaikan kewajiban dalam peristiwa semalam, Kakang Patih. Aku sendiri juga tertidur. Hal ini membuktikan bahwa musuh-musuh kita mempunyai ilmu kepandaian yang tinggi. Aku tidak menyalahkan Andika, Kakang, apalagi Andika sendiri telah kehilangan putera. Aku ikut prihatin bahwa Joko Pekik terculik. Tahukan Andika siapa kiranya yang menculik puteramu itu?"
"Kalau hamba tidak salah, bukan mustahil kalau Lasmini yang berada di belakang penculikan ini, Gusti."
"Kami kira tepat dugaanmu itu, Kakang. Aku sendiri mempunyai dugaan bahwa yang memasuki Istana tentulah si Mandari. Kalau bukan ia, siapa lagi yang mampu memasuki istana dengan cara yang begitu diperhitungkan dan hati-hati sehingga aku sampai tidak terbangun karena tidak mendengar suara apa pun? Pasti Mandari dan Lasmini berada. di antara mereka yang semalam mengacau di kota raja."

Pada saat ini, seorang prajurit pengawal datang melapor bahwa di luar datang Puspa Dewi mohon diperkenankan menghadap. Semua orang, termasuk Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama menjadi girang dan wajah mereka berseri mendengar laporan ini.
"Pengawal, cepat persilakan Puspa Dewi masuk menghadap!" kata Sang Prabu Erlangga.
Pengawal memberi hormat dan keluar. Tak lama kemudian Puspa Dewi memasuki ruangan dan cepat menghaturkan hormat dengan sembah. Tumenggung Jayatanu dan Senopati Yudajaya memandang dengan girang kepada cucu dan puteri mereka, akan tetapi karena mereka sedang menghadap Sang Prabu Erlangga, mereka pun diam saja dan hanya memperlihatkan kegembiraan hati mereka melalui seyum dan pandang mata.
"Ni Puspa Dewi, dari mana saja Andika? Ceritakan kepada kami bagaimana Andika pergi mencari Niken Harni." Tanya Sang Prabu Erlangga. Puspa Dewi memandang kepada ayahnya dan kakeknya, maklum bahwa tentu Sang Prabu Erlangga telah mendengar dari mereka akan Kepergiannya mencari Niken Harni.
"Hamba telah berhasil memasuki Kerajaan Wengker dan mendengar keterangan dari Resi Bajrasakti bahwa adik hamba Niken Harni telah dibawa oleh Nini Bumigarbo."
"Ahh... " Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama berseru kaget. Mereka tahu siapa Ninl Bumigarbo, seorang datuk wanita sakti mandraguna yang membenci guru mereka dan membenci mereka akan tetapi tidak berani turun tangan mengganggu mereka karena dilarang oleh Sang Bhagawan Ekadenta.
"Mengapa Niken Harni dibawa datuk wanita itu?" Tanya Sang Prabu Erlangga.
"Hamba tidak tahu, Gusti. Juga para pimpinan Wengker tidak ada yang mengetahuinya."
"Ni Puspa Dewi, Wengker memiliki banyak orang sakti, juga adipatinya yang baru adalah Linggawijaya, permaisurinya Dewi Mayangsari yang kabarnya pernah digembleng oleh Nini Bumigarbo. Bagai mana Andika seorang diri dapat masuk kesana dengan leluasa dan selamat?"
"Sesungguhnya hamba mendapat perlindungan Sang Hyang Widhi, Gusti. Ketika hamba tiba di sana, Adipati Linggawijaya dan Dewi Mayangsari sedang tidak berada di Wengker. Hamba dikeroyok dan tentu akan terancam malapetaka kalau hamba tidak bertindak cepat. Hamba menangkap dan menyandera Tumenggung Suramenggala dan dengan cara itu hamba dapat keluar dari Wengker dengan selamat. Setelah mendengar bahwa Niken Harni dibawa Nini Bumigarbo, hamba masih berusaha mencarinya ke mana-mana. Namun hamba tidak berhasil menemukan jejak Niken Harni maupun Nini Bumigarbo."
"Hemm, tidak aneh. Nini Bumigarbo memiliki tingkat kepandaian yang amat tinggi."
"Karena tidak berhasil menemukan Niken Harni, hamba mengambil keputusan untuk pulang lebih dulu agar keluarga hamba tidak merasa khawatir. Begitu memasuki kota raja, hamba terkejut mendengar akan musibah yang menimpa kota raja. Hamba pulang dan mendengar dari kedua Ibu hamba dan Nenek bahwa Kanjeng Rama dan Kanjeng Eyang berada di sini menghadap Paduka, maka hamba lalu cepat menyusul ke sini. Hamba mohon maaf bahwa hamba tidak dapat membantu melawan musuh ketika serangan malam tadi datang, Gusti."

Ki Patih Narotama merasa kagum dan girang sekali melihat sikap dan ucapan gadis itu yang kini lembut dan penuh hormat, walaupun di dalam kelembutannya masih terkandung kekerasan hati. Kiranya penggemblengan Maha Resi Satyadharma telah mengubah watak keras liar gadis itu dan menanamkan kebijaksanaan.
"Bukan kesalahan Andika atau kesalahan siapa pun, Ni Puspa Dewi. Semua telah terjadi dan kami yakin bahwa yang terjadi sudah dikehendaki Sang Hyang Widhi dan pasti mengandung hikmah yang dapat dipetik dan dimanfaatkan."
Ucapan Sang Prabu Erlangga ini mengandung maksud yang hanya dimengerti oleh dia dan Ki Patih Narotama. Mereka berdua menyadari bahwa semua peristiwa ini merupakan akibat kesalahan tindakan mereka ketika mengambil Ni Lasmini dan Ni Mandari menjadi selir. Walau niat itu baik untuk memperbaiki hubungan kedua kerajaan, namun caranya yang salah. Caranya merupakan hasil dorongan nafsu.
Kedatangan Puspa Dewi yang memperkuat barisan pertahanan mereka membuat para senopati berbesar hati. Ki Patih Narotama diserahi tugas mengatur penjagaan dan membagi-bagi tugas penjagaan kepada para senopatinya.

<<< Bagian 60                                                                                         Bagian 62 >>>

No comments:

Post a Comment