Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 62


Untuk menghadapi bahaya penyerangan musuh, Sang Prabu Erlangga sendiri juga siap untuk turun tangan, mengingat bahwa pihak musuh mempunyai banyak orang sakti mandraguna. Bahkan Sang Prabu Erlangga mengutus Ki Patih Narotama sendiri untuk mengundang Empu Bharada di Tanah Perdikan Lemah Citra, dan Empu Kanwa yang tinggal di dusun Margarejo di luar kota raja, di lereng daerah perbukitan yang sunyi. Pada hari itu juga, Empu Bharada dan Empu Kanwa datang menghadap Sang Prabu Erlangga bersama Ki Patih Narotama. Mereka berempat duduk bercakap-cakap di ruangan pustaka.
Ki Patih Narotama sudah menceritakan kepada dua orang Empu itu akan peristiwa semalam yang menimpa kota raja Kahuripan, maka ketika menghadap Sang Prabu Erlangga, Empu Bharada lalu berkata setelah dipersilakan duduk dan menerima penghormatan raja yang menganggapnya sebagai sesepuh itu.
"Puteranda Kanjeng Sinuwun, saya telah mendengar akan malapetaka yang menimpa kerajaan Paduka semalam, juga tentang tercurinya Pusaka Cupu Manik Maya dan terculiknya Cucunda Raden Joko Pekik Satyabudhi dari Gedung Kepatihan. Saya ikut merasa prihatin, akan tetapi tentu Paduka sudah dapat menerimanya dengan sabar karena semua ini sudah dikehendaki Sang Hyang Widhi."
"Saya juga ikut merasa prihatin, Kanjeng Sinuwun, dan Kakang Empu Bharada benar. Kalau kita dapat menerima segala kejadian ini dengan sabar dan ikhlas dan memperkuat iman dan penyerahan diri kita kepada Dia Yang Maha Kuasa, saya kira kita akan diberi pengampunan dan jalan keluar dari semua musibah."
"Terima kasih, Paman Empu Bharada dan Paman Empu Kanwa. Kami menyadari akan hal itu dan semoga kami semua dapat menerima semua musibah ini dengan penuh kesabaran, keikhlasan dan penyerahan seperti yang Paman berdua maksudkan. Sekarang saya hendak mohon bantuan Paman berdua. Karena musuh menyebar racun yang menjadi wabah penyakit dan menimbulkan banyak korban pada rakyat, maka kami mohon kepada Paman Empu Kanwa yang ahli dalam soal pengobatan, untuk menanggulangi wabah ini dan membebaskan rakyat dari ancaman dan gangguan wabah penyakit itu. Dan permohonan kami kepada Paman Empu Bharada, mengingat bahwa besar kemungkinan sewaktu-waktu musuh yang sudah menghimpun kekuatan itu akan menyerang dan mereka memiliki banyak tokoh sakti ahli ilmu sihir, maka mohon Paman Empu Bharada suka memperkuat pertahanan kami untuk menghadapi serangan ilmu hitam."

Dua orang pertapa itu menyanggupi dan menyatakan kesediaan mereka untuk memenuhi permintaan Sang Prabu Erlangga. Empu Bharada lalu berkata dengan nada serius.
"Puteranda Kanjeng Sinuwun, kalau saya tidak salah ingat, disini terdapat senopati-senopati yang cukup digdaya untuk melawan musuh yang berbahaya, pula, selain Paduka sendiri dan Ananda Patih Narotama ini, masih terdapat beberapa orang muda yang sakti mandraguna. Di antaranya adalah Ni Puspa Dewi dan terutama sekali Nurseta. Saya kira mereka itu dapat dimintai bantuan untuk menghadapi lawan yang menggunakan ilmu hitam dan sihir." Empu Bharada teringat akan pertanda yang dilihatnya dahulu bahwa Kahuripan akan tertimpa malapetaka dan diselimuti awan gelap, ada pun yang akan dapat menghalau pengaruh jahat itu adalah Sinar Putih atau Nurseta. Tentu saja? bukan pemuda itu seorang diri yang diberi tugas melawan semua musuh, akan tetapi bantuannya tentu akan dapat diandalkan dan berguna sekali bagi keselamatan Kahuripan.
"Semua sudah mempersiapkan diri, Paman Empu Bharada. Juga Puspa Dewi baru saja pulang setelah terjadi penyerangan gelap malam itu. Sekarang ia juga sudah mempersiapkan diri memperkuat pertahanan Kahuripan. Akan tetapi sungguh sayang, Nurseta masih belum kembali ke kota raja karena dia sedang mencari puteri Senopati Yudajaya yang pergi ke Wengker dan menurut keterangan Puspa Dewi, adiknya Niken Harni itu telah dibawa pergi Nini Bumigarbo. Nurseta tidak mengetahui akan hal itu dan sampai sekarang dia belum kembali."
Empu Bharada menghela napas panjang. Segala sesuatu yang menimpa diri manusia tidak terlepas dari ikatan karma, semua bersumber dari diri pribadi. Berdasarkan hukum sebab akibat ini, maka segala sesuatu terjadi. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Manusia hanya wajib berikhtiar sekuat tenaga sebesar kemampuannya, namun akhirnya dia harus dan hanya dapat menerima segala sesuatu yang terjadi kepadanya, suka atau tidak! Dia mengerti bahwa semua yang menimpa Kerajaan Kahuripan ini menjadi akibat dari masuknya Ni Lasmini dan Ni Mandari, dua orang puteri Kerajaan Parang Siluman itu sebagai selir Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Apa yang dikhawatirkan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama terjadi tiga hari kemudian. Pagi-pagi sekali, baru saja fajar menyingsing membangunkan ayam-ayam jantan yang berkeruyuk saling bersahutan dengan nyaring sehingga menggugah burung-burung di pepohonan, membuat mereka ramai saling memberi salam pagi yang ribut namun merdu, pasukan gabungan empat kerajaan yang dibantu beberapa raja muda daerah yang kecil, mengadakan serangan besar-besaran. Jumlah perajurit dalam pasukan gabungan itu tidak kurang dari tiga laksa orang! Mereka menyerbu dari empat jurusan dan selain mengerahkan seluruh pasukan, mereka pun mengerahkan semua tokoh yang memiliki aji kesaktian untuk memimpin pasukan yang dibagi empat itu. Empat kerajaan yang amat membenci Kahuripan yang menjadi musuh bebuyutan mereka itu tidak mau kepalang tanggung dan tidak mau gagal lagi. Mereka mengerahkan semua tenaga. Pasukan pertama terdiri dari sepuluh ribu orang prajurit Wengker bergerak dari depan dan pasukan terbesar ini dipimpin sendiri oleh para pimpinan Wengker lengkap, yaitu Adipati Linggawijaya, Dewi Mayangsari, Resi Bajrasakti, Warok Surogeni, Wirobento, dan Wirobandrek! Pasukan ke dua yang bergerak menyerang dari sayap kiri terdiri dari sepuluh ribu orang perajurit Wura-Wuri, dipimpin sendiri oleh Adipati Bhismaprabhawa, Permaisuri Dewi Durgakumala, Kala Muka, Kala Manik, Kala Teja, dan Ki Gandarwo. Pasukan ke tiga bergerak menyerang dari sayap kanan, terdiri dari sekitar lima ribu orang perajurit Parang Siluman, dipimpin oleh Ratu Durgamala, Bhagawan Kundolomuko, Ni Lasmini, Ni Mandari , dan Ki Nagakumala. Pasukan ke empat bergerak dari belakang, terdiri sekitar lima ribu orang perajurit Siluman Laut Kidul, dipimpin oieh Ratu Mayang Gupita sendiri, dibantu oleh Bhagawan Kalamisani, Nagarodra, dan Nagajaya. Semua itu masih diperkuat oleh para perwira kerajaan masing-masing yang memimpin pasukan di bawah komando para pimpinan tertinggi itu. Dan juga ada Pasukan Siluman yang dibentuk oleh Bagawan Kundolomuko dari Parang Siuman, penyembah Bathari Durga dan ahli sihir yang berilmu tinggi itu. Pasukan Siluman yang berpakaian serba putih ini terdiri dari tiga ratus orang, akan tetapi karena mereka itu digerakkan oleh iImu hitam yang dahsyat, maka kekuatannya juga menggiriskan.

Namun pihak Kerajaan Kahuripan sudah siap siaga sehingga ketika musuh datang dari empat penjuru, dengan tenang pasukan yang sudah siap dibagi menjadi empat itu menyambut mereka. Kekuatan pasukan Kerajaan Kahuripan berjumlah sekitar empat laksa orang. Selaksa orang dipimpin sendiri oleh Sang Prabu Erlangga yang berdampingan dengan Empu Bharada dan beberapa orang perwira tinggi, menjaga bagian depan yang merupakan gapura terbesar. Selaksa orang perajurit dipimpin oleh Ki Patih Narotama yang juga dibantu beberapa orang perwira, menjaga sebelah kanan. Selaksa orang perajurit yang lain dipimpin oleh Puspa Dewi, dibantu ayahnya, Senopati Yudajaya dan beberapa orang perwira, menjaga sebelah kiri. Adapun sisanya, kurang lebih selaksa orang perajurit, dipimpin oleh Senopati Sepuh Wiradana, Senopati Sindukerta, dan Tumenggung Jayatanu dibantu beberapa orang perwira. Maka begitu musuh datang menyerbu! dari empat penjuru, pasukan-pasukan Kahuripan keluar dari pintu gerbang dan menyambut dengan gegap-gempita hingga terjadilah pertempuran hebat di luar kota raja, di empat penjuru. Perang campuh terjadi, hiruk-pikuk dan gegap-gempita suara puluhan ribu mulut berteriak marah, saling maki, juga teriakan kesakitan, bercampur suara beradunya senjata pedang, golok, tombak, keris dan sebagainya, berdentingan nyaring, hentakan puluhan ribu kaki berdebukan, debu mengepul tebal dan membubung tinggi, dengan napas terengah-engah, darah mulai muncrat dan berceceran, tubuh tanpa nyawa atau terluka mulai berpelantingan, terkapar dan berserakan, malang melintang terinjak kaki kawan maupun lawan! Perang! Peristiwa terkutuk. Puncak kebuasan mahluk yang dinamai manusia. Nafsu amarah, dendam, kebencian, menggetarkan udara. Buas seperti binatang liar, haus darah, yang ada dalam benak pikiran hanya membunuh atau dibunuh. Hanya satu keinginan semua pihak. Menang! Mencari- kemenangan dengan cara apapun juga. Terhapuslah sudah semua peradaban, kebudayaan, dan sifat luhur manusia. Tawa bergelak setiap kali merobohkan lawan, memenggal leher, merobek perut, menusuk, dada. Jerit rintih kematian lawan seolah gamelan paling merdu bagi telinganya. Bahkan matahari pun agaknya ngeri menyaksikan kekejaman ini dan matahari bersembunyi di balik awan-awan yang berarak di angkasa.
Sang Prabu Erlangga yang memimpin pasukannya bertemu dengan pasukan Wengker. Adipati Linggawijaya, Permaisuri Dewi Mayangsari dan Resi Bajrasakti segera maju mengeroyok Raja Kahuripan ini. Raja yang mereka anggap sebagai musuh besar. Mereka bertiga maju dengan harapan akan mampu mengalahkan menawan atau membunuh Sang Prabu Erlangga, karena kalau raja ini tewas atau tertawan, tentu pasukan Kahuripan akan menyerah. Akan tetapi, mereka bertiga terkejut bukan main. Sang Prabu Erlangga benar-benar sakti mandraguna. Semua serangan mereka bertiga, bahkan ketika mereka menyatukan tenaga sakti menghantam ke arah Sang Prabu Erlangga, Raja Kahuripan ini menyambut dengan dorongan tangan kirinya dan hawa sakti yang menyambut serangan tiga orang itu sedemikian kuatnya sehingga tiga orang itu hampir terjengkang dan terhuyung ke belakang! Juga semua aji kesaktian mereka kerahkan, namun semua dapat ditangkis Sang Prabu Erlangga.
Sang Empu Bharada yang membantu Sang Prabu Erlangga dikeroyok oleh Warok Surogeni, Wirobento, dan Wirobandrek. Pertapa ini sebetulnya hampir tidak pernah berkelahi, namun dia adalah seorang yang sakti. Dengan Aji Bayu Sakti tubuhnya yang berpakaian serba hitam itu dapat menghindarkan diri dari sambaran keris di tangan Warok Surogeni, pecut berujung besi di tangan Warok Wirobento dan sepasang kolor merah yang menjadi senjata Warok Wirobandrek. Dia pun membalas dengan tamparan-tamparan yang mengandung Aji Gelap Musti sehingga tiga orang lawan itu sukar untuk dapat merobohkan Empu Bharada. Tiba-tiba tampak awan gelap seolah turun dari angkasa dan menggelapkan cuaca di tempat pertempuran bagian depan kota raja itu. Dan dari dalam kegelapan ini muncul suara-suara yang menyeramkan, tawa dan tangis yang bukan suara manusia, lalu muncul bentuk-bentuk mengerikan seolah ada ratusan iblis jadi-jadian muncul dari kegelapan dan mengancam para perajurit Kahuripan. Tentu saja para prajurit terkejut dan menjadi panik. Empu Bharada menggunakan Aji Bayu Sakti berkelebatan lenyap meninggalkan tiga orang lawannya dan dia sudah menuju ke pusat dari mana muncul awan gelap dan bayangan iblis itu. Kiranya tiga ratus prajurit dalam Pasukan Siluman itu mulai menyerbu, dipimpin oleh Bhagawan Kundolomuko yang melepas ilmu hitamnya. Melihat ini, Empu Bharada memberi isarat kepada lima ratus orang prajurit yang sudah dipilih untuk menghadapi pasukan ilmu hitam itu yang memang sudah diperhitungkan oleh pihak Kahuripan. Lima ratus orang prajurit ini mengenakan sehelai kain putih yang diikatkan di kepala dan kain itu sudah dirajah (diisi kekuatan gaib) oleh Empu Bharada. Lima ratus orang prajurit inilah yang menyambut serbuan tiga ratus perajurit Pasukan Siluman. Empu Bharada sendiri berdiri dan bersedakap (melipat kedua lengan di depan dada), mengerahkan aji kesaktiannya menyambut ilmu hitam yang dilepaskan Bhagawan Kundolomuko.

Dahsyat bukan main pertandingan adu sihir dan pertempuran antara dua pasukan yang sama-sama telah diisi "rajah" oleh Bhagawan Kundolomuko dan Empu Bharada. Akan tetapi karena jumlah pasukan Kahuripan lebih banyak maka tentu saja Pasukan Siluman itu agak kewalahan, apalagi karena kekuatan gaib dari Bhagawan Kundolomuko yang tadinya mendukung mereka itu kini terpaksa dialihkan untuk bertanding melawan Empu Bharada. Sementara itu, Warok Surogeni, Wiro-bento, dan Wirobandrek yang telah ditinggalkan Empu Bharada, kini membantu tiga orang pimpinan Wengker yang masih mengeroyok Sang Prabu Erlangga. Raja itu kini dikeroyok enam orang lawan yang tangguh! Pasukan sayap kanan dari Kahuripan yang dipimpin Ki Patih Narotama bertemu di luar gapura dengan pasukan Wura-Wuri yang dipimpin Adipati Bhismaprabhawa, Permaisuri Dewi Durgakumala, Kala Muka, Kala Manik, Kala Teja, dan Gandarwo. Ki Patih Narotama yang telah memberi petunjuk kepada para perwira pembantunya untuk memimpin pasukan menyambut pasukan Wura-Wuri yang menyerbu, mengamuk. Dia marah dan khawatir sekali karena puteranya diculik musuh.
"Hl-hi-hik! Narotama, sekarang tiba saatnya engkau mati di tangan kami!" Dewi Durgakumala tertawa mengejek.
"Hemm, kalau engkau berani mengganggu puteraku Joko Pekik Satyabudhi dan tidak mengembalikannya kepadaku, aku tidak peduli lagi akan pelanggaran dan akan kubunuh kalian semua, akan kumusnahkan dan kubikin karang abang (lautan api) kerajaan kalian, kubikin rata dengan tanah!" Suara Ki Patih Narotama menggetarkan semua yang mendengarnya karena dia sudah dikuasai amarah yang hebat.

<<< Bagian 61                                                                                          Bagian 63 >>>

No comments:

Post a Comment