Untuk menghadapi bahaya penyerangan musuh, Sang Prabu Erlangga sendiri juga siap untuk turun tangan, mengingat bahwa pihak musuh mempunyai banyak orang sakti mandraguna. Bahkan Sang Prabu Erlangga mengutus Ki Patih Narotama sendiri untuk mengundang Empu Bharada di Tanah Perdikan Lemah Citra, dan Empu Kanwa yang tinggal di dusun Margarejo di luar kota raja, di lereng daerah perbukitan yang sunyi. Pada hari itu juga, Empu Bharada dan Empu Kanwa datang menghadap Sang Prabu Erlangga bersama Ki Patih Narotama. Mereka berempat duduk bercakap-cakap di ruangan pustaka.
Ki Patih
Narotama sudah menceritakan kepada dua orang Empu itu akan peristiwa semalam
yang menimpa kota raja Kahuripan, maka ketika menghadap Sang Prabu Erlangga,
Empu Bharada lalu berkata setelah dipersilakan duduk dan menerima penghormatan
raja yang menganggapnya sebagai sesepuh itu.
"Puteranda
Kanjeng Sinuwun, saya telah mendengar akan malapetaka yang menimpa kerajaan
Paduka semalam, juga tentang tercurinya Pusaka Cupu Manik Maya dan terculiknya
Cucunda Raden Joko Pekik Satyabudhi dari Gedung Kepatihan. Saya ikut merasa
prihatin, akan tetapi tentu Paduka sudah dapat menerimanya dengan sabar karena
semua ini sudah dikehendaki Sang Hyang Widhi."
"Saya
juga ikut merasa prihatin, Kanjeng Sinuwun, dan Kakang Empu Bharada benar.
Kalau kita dapat menerima segala kejadian ini dengan sabar dan ikhlas dan
memperkuat iman dan penyerahan diri kita kepada Dia Yang Maha Kuasa, saya kira
kita akan diberi pengampunan dan jalan keluar dari semua musibah."
"Terima
kasih, Paman Empu Bharada dan Paman Empu Kanwa. Kami menyadari akan hal itu dan
semoga kami semua dapat menerima semua musibah ini dengan penuh kesabaran,
keikhlasan dan penyerahan seperti yang Paman berdua maksudkan. Sekarang saya
hendak mohon bantuan Paman berdua. Karena musuh menyebar racun yang menjadi
wabah penyakit dan menimbulkan banyak korban pada rakyat, maka kami mohon
kepada Paman Empu Kanwa yang ahli dalam soal pengobatan, untuk menanggulangi
wabah ini dan membebaskan rakyat dari ancaman dan gangguan wabah penyakit itu.
Dan permohonan kami kepada Paman Empu Bharada, mengingat bahwa besar
kemungkinan sewaktu-waktu musuh yang sudah menghimpun kekuatan itu akan
menyerang dan mereka memiliki banyak tokoh sakti ahli ilmu sihir, maka mohon
Paman Empu Bharada suka memperkuat pertahanan kami untuk menghadapi serangan
ilmu hitam."
Dua orang
pertapa itu menyanggupi dan menyatakan kesediaan mereka untuk memenuhi
permintaan Sang Prabu Erlangga. Empu Bharada lalu berkata dengan nada serius.
"Puteranda
Kanjeng Sinuwun, kalau saya tidak salah ingat, disini terdapat
senopati-senopati yang cukup digdaya untuk melawan musuh yang berbahaya, pula,
selain Paduka sendiri dan Ananda Patih Narotama ini, masih terdapat beberapa
orang muda yang sakti mandraguna. Di antaranya adalah Ni Puspa Dewi dan
terutama sekali Nurseta. Saya kira mereka itu dapat dimintai bantuan untuk
menghadapi lawan yang menggunakan ilmu hitam dan sihir." Empu Bharada
teringat akan pertanda yang dilihatnya dahulu bahwa Kahuripan akan tertimpa
malapetaka dan diselimuti awan gelap, ada pun yang akan dapat menghalau
pengaruh jahat itu adalah Sinar Putih atau Nurseta. Tentu saja? bukan pemuda itu
seorang diri yang diberi tugas melawan semua musuh, akan tetapi bantuannya
tentu akan dapat diandalkan dan berguna sekali bagi keselamatan Kahuripan.
"Semua
sudah mempersiapkan diri, Paman Empu Bharada. Juga Puspa Dewi baru saja pulang
setelah terjadi penyerangan gelap malam itu. Sekarang ia juga sudah
mempersiapkan diri memperkuat pertahanan Kahuripan. Akan tetapi sungguh sayang,
Nurseta masih belum kembali ke kota raja karena dia sedang mencari puteri
Senopati Yudajaya yang pergi ke Wengker dan menurut keterangan Puspa Dewi,
adiknya Niken Harni itu telah dibawa pergi Nini Bumigarbo. Nurseta tidak
mengetahui akan hal itu dan sampai sekarang dia belum kembali."
Empu Bharada
menghela napas panjang. Segala sesuatu yang menimpa diri manusia tidak terlepas
dari ikatan karma, semua bersumber dari diri pribadi. Berdasarkan hukum sebab
akibat ini, maka segala sesuatu terjadi. Mujur tak dapat diraih, malang tak
dapat ditolak. Manusia hanya wajib berikhtiar sekuat tenaga sebesar
kemampuannya, namun akhirnya dia harus dan hanya dapat menerima segala sesuatu
yang terjadi kepadanya, suka atau tidak! Dia mengerti bahwa semua yang menimpa
Kerajaan Kahuripan ini menjadi akibat dari masuknya Ni Lasmini dan Ni Mandari,
dua orang puteri Kerajaan Parang Siluman itu sebagai selir Sang Prabu Erlangga
dan Ki Patih Narotama. Apa yang dikhawatirkan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih
Narotama terjadi tiga hari kemudian. Pagi-pagi sekali, baru saja fajar
menyingsing membangunkan ayam-ayam jantan yang berkeruyuk saling bersahutan
dengan nyaring sehingga menggugah burung-burung di pepohonan, membuat mereka
ramai saling memberi salam pagi yang ribut namun merdu, pasukan gabungan empat
kerajaan yang dibantu beberapa raja muda daerah yang kecil, mengadakan serangan
besar-besaran. Jumlah perajurit dalam pasukan gabungan itu tidak kurang dari
tiga laksa orang! Mereka menyerbu dari empat jurusan dan selain mengerahkan
seluruh pasukan, mereka pun mengerahkan semua tokoh yang memiliki aji kesaktian
untuk memimpin pasukan yang dibagi empat itu. Empat kerajaan yang amat membenci
Kahuripan yang menjadi musuh bebuyutan mereka itu tidak mau kepalang tanggung
dan tidak mau gagal lagi. Mereka mengerahkan semua tenaga. Pasukan pertama
terdiri dari sepuluh ribu orang prajurit Wengker bergerak dari depan dan pasukan
terbesar ini dipimpin sendiri oleh para pimpinan Wengker lengkap, yaitu Adipati
Linggawijaya, Dewi Mayangsari, Resi Bajrasakti, Warok Surogeni, Wirobento, dan
Wirobandrek! Pasukan ke dua yang bergerak menyerang dari sayap kiri terdiri
dari sepuluh ribu orang perajurit Wura-Wuri, dipimpin sendiri oleh Adipati
Bhismaprabhawa, Permaisuri Dewi Durgakumala, Kala Muka, Kala Manik, Kala Teja,
dan Ki Gandarwo. Pasukan ke tiga bergerak menyerang dari sayap kanan, terdiri
dari sekitar lima ribu orang perajurit Parang Siluman, dipimpin oleh Ratu
Durgamala, Bhagawan Kundolomuko, Ni Lasmini, Ni Mandari , dan Ki Nagakumala.
Pasukan ke empat bergerak dari belakang, terdiri sekitar lima ribu orang
perajurit Siluman Laut Kidul, dipimpin oieh Ratu Mayang Gupita sendiri, dibantu
oleh Bhagawan Kalamisani, Nagarodra, dan Nagajaya. Semua itu masih diperkuat
oleh para perwira kerajaan masing-masing yang memimpin pasukan di bawah komando
para pimpinan tertinggi itu. Dan juga ada Pasukan Siluman yang dibentuk oleh
Bagawan Kundolomuko dari Parang Siuman, penyembah Bathari Durga dan ahli sihir
yang berilmu tinggi itu. Pasukan Siluman yang berpakaian serba putih ini
terdiri dari tiga ratus orang, akan tetapi karena mereka itu digerakkan oleh
iImu hitam yang dahsyat, maka kekuatannya juga menggiriskan.
Namun pihak
Kerajaan Kahuripan sudah siap siaga sehingga ketika musuh datang dari empat
penjuru, dengan tenang pasukan yang sudah siap dibagi menjadi empat itu
menyambut mereka. Kekuatan pasukan Kerajaan Kahuripan berjumlah sekitar empat
laksa orang. Selaksa orang dipimpin sendiri oleh Sang Prabu Erlangga yang
berdampingan dengan Empu Bharada dan beberapa orang perwira tinggi, menjaga
bagian depan yang merupakan gapura terbesar. Selaksa orang perajurit dipimpin
oleh Ki Patih Narotama yang juga dibantu beberapa orang perwira, menjaga
sebelah kanan. Selaksa orang perajurit yang lain dipimpin oleh Puspa Dewi,
dibantu ayahnya, Senopati Yudajaya dan beberapa orang perwira, menjaga sebelah
kiri. Adapun sisanya, kurang lebih selaksa orang perajurit, dipimpin oleh
Senopati Sepuh Wiradana, Senopati Sindukerta, dan Tumenggung Jayatanu dibantu
beberapa orang perwira. Maka begitu musuh datang menyerbu! dari empat penjuru,
pasukan-pasukan Kahuripan keluar dari pintu gerbang dan menyambut dengan gegap-gempita
hingga terjadilah pertempuran hebat di luar kota raja, di empat penjuru. Perang
campuh terjadi, hiruk-pikuk dan gegap-gempita suara puluhan ribu mulut
berteriak marah, saling maki, juga teriakan kesakitan, bercampur suara
beradunya senjata pedang, golok, tombak, keris dan sebagainya, berdentingan
nyaring, hentakan puluhan ribu kaki berdebukan, debu mengepul tebal dan
membubung tinggi, dengan napas terengah-engah, darah mulai muncrat dan
berceceran, tubuh tanpa nyawa atau terluka mulai berpelantingan, terkapar dan
berserakan, malang melintang terinjak kaki kawan maupun lawan! Perang!
Peristiwa terkutuk. Puncak kebuasan mahluk yang dinamai manusia. Nafsu amarah,
dendam, kebencian, menggetarkan udara. Buas seperti binatang liar, haus darah,
yang ada dalam benak pikiran hanya membunuh atau dibunuh. Hanya satu keinginan
semua pihak. Menang! Mencari- kemenangan dengan cara apapun juga. Terhapuslah
sudah semua peradaban, kebudayaan, dan sifat luhur manusia. Tawa bergelak
setiap kali merobohkan lawan, memenggal leher, merobek perut, menusuk, dada.
Jerit rintih kematian lawan seolah gamelan paling merdu bagi telinganya. Bahkan
matahari pun agaknya ngeri menyaksikan kekejaman ini dan matahari bersembunyi
di balik awan-awan yang berarak di angkasa.
Sang Prabu
Erlangga yang memimpin pasukannya bertemu dengan pasukan Wengker. Adipati
Linggawijaya, Permaisuri Dewi Mayangsari dan Resi Bajrasakti segera maju
mengeroyok Raja Kahuripan ini. Raja yang mereka anggap sebagai musuh besar.
Mereka bertiga maju dengan harapan akan mampu mengalahkan menawan atau membunuh
Sang Prabu Erlangga, karena kalau raja ini tewas atau tertawan, tentu pasukan
Kahuripan akan menyerah. Akan tetapi, mereka bertiga terkejut bukan main. Sang
Prabu Erlangga benar-benar sakti mandraguna. Semua serangan mereka bertiga,
bahkan ketika mereka menyatukan tenaga sakti menghantam ke arah Sang Prabu
Erlangga, Raja Kahuripan ini menyambut dengan dorongan tangan kirinya dan hawa
sakti yang menyambut serangan tiga orang itu sedemikian kuatnya sehingga tiga
orang itu hampir terjengkang dan terhuyung ke belakang! Juga semua aji
kesaktian mereka kerahkan, namun semua dapat ditangkis Sang Prabu Erlangga.
Sang Empu
Bharada yang membantu Sang Prabu Erlangga dikeroyok oleh Warok Surogeni,
Wirobento, dan Wirobandrek. Pertapa ini sebetulnya hampir tidak pernah
berkelahi, namun dia adalah seorang yang sakti. Dengan Aji Bayu Sakti tubuhnya
yang berpakaian serba hitam itu dapat menghindarkan diri dari sambaran keris di
tangan Warok Surogeni, pecut berujung besi di tangan Warok Wirobento dan
sepasang kolor merah yang menjadi senjata Warok Wirobandrek. Dia pun membalas
dengan tamparan-tamparan yang mengandung Aji Gelap Musti sehingga tiga orang
lawan itu sukar untuk dapat merobohkan Empu Bharada. Tiba-tiba tampak awan
gelap seolah turun dari angkasa dan menggelapkan cuaca di tempat pertempuran
bagian depan kota raja itu. Dan dari dalam kegelapan ini muncul suara-suara
yang menyeramkan, tawa dan tangis yang bukan suara manusia, lalu muncul
bentuk-bentuk mengerikan seolah ada ratusan iblis jadi-jadian muncul dari
kegelapan dan mengancam para perajurit Kahuripan. Tentu saja para prajurit
terkejut dan menjadi panik. Empu Bharada menggunakan Aji Bayu Sakti
berkelebatan lenyap meninggalkan tiga orang lawannya dan dia sudah menuju ke pusat
dari mana muncul awan gelap dan bayangan iblis itu. Kiranya tiga ratus prajurit
dalam Pasukan Siluman itu mulai menyerbu, dipimpin oleh Bhagawan Kundolomuko
yang melepas ilmu hitamnya. Melihat ini, Empu Bharada memberi isarat kepada
lima ratus orang prajurit yang sudah dipilih untuk menghadapi pasukan ilmu
hitam itu yang memang sudah diperhitungkan oleh pihak Kahuripan. Lima ratus
orang prajurit ini mengenakan sehelai kain putih yang diikatkan di kepala dan
kain itu sudah dirajah (diisi kekuatan gaib) oleh Empu Bharada. Lima ratus
orang prajurit inilah yang menyambut serbuan tiga ratus perajurit Pasukan
Siluman. Empu Bharada sendiri berdiri dan bersedakap (melipat kedua lengan di
depan dada), mengerahkan aji kesaktiannya menyambut ilmu hitam yang dilepaskan
Bhagawan Kundolomuko.
Dahsyat bukan
main pertandingan adu sihir dan pertempuran antara dua pasukan yang sama-sama
telah diisi "rajah" oleh Bhagawan Kundolomuko dan Empu Bharada. Akan
tetapi karena jumlah pasukan Kahuripan lebih banyak maka tentu saja Pasukan
Siluman itu agak kewalahan, apalagi karena kekuatan gaib dari Bhagawan
Kundolomuko yang tadinya mendukung mereka itu kini terpaksa dialihkan untuk
bertanding melawan Empu Bharada. Sementara itu, Warok Surogeni, Wiro-bento, dan
Wirobandrek yang telah ditinggalkan Empu Bharada, kini membantu tiga orang
pimpinan Wengker yang masih mengeroyok Sang Prabu Erlangga. Raja itu kini
dikeroyok enam orang lawan yang tangguh! Pasukan sayap kanan dari Kahuripan
yang dipimpin Ki Patih Narotama bertemu di luar gapura dengan pasukan Wura-Wuri
yang dipimpin Adipati Bhismaprabhawa, Permaisuri Dewi Durgakumala, Kala Muka,
Kala Manik, Kala Teja, dan Gandarwo. Ki Patih Narotama yang telah memberi
petunjuk kepada para perwira pembantunya untuk memimpin pasukan menyambut pasukan
Wura-Wuri yang menyerbu, mengamuk. Dia marah dan khawatir sekali karena
puteranya diculik musuh.
"Hl-hi-hik!
Narotama, sekarang tiba saatnya engkau mati di tangan kami!" Dewi
Durgakumala tertawa mengejek.
"Hemm,
kalau engkau berani mengganggu puteraku Joko Pekik Satyabudhi dan tidak
mengembalikannya kepadaku, aku tidak peduli lagi akan pelanggaran dan akan
kubunuh kalian semua, akan kumusnahkan dan kubikin karang abang (lautan api)
kerajaan kalian, kubikin rata dengan tanah!" Suara Ki Patih Narotama
menggetarkan semua yang mendengarnya karena dia sudah dikuasai amarah yang
hebat.
No comments:
Post a Comment