Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 63


Narotama adalah seorang yang tidak mau sembarangan membunuh dan baginya merupakan pantangan membunuh. Biasanya, lawan yang dihadapinya hanya dikalahkan dan dirobohkan tanpa membunuh. Akan tetapi bagaimanapun juga, dia hanya seorang manusia biasa, seorang ayah yang menjadi marah dan mata gelap melihat puteranya diculik orang.
Karena maklum betapa saktinya Ki Patih Narotama, maka Adipati Bhismaprabhawa dan Dewi Durgakumala tidak banyak cakap lagi. Teriakan dahsyat tadi membuat hati mereka menjadi gentar juga. Mereka memberi isyarat kepada empat orang pembantu mereka dan segera enam orang sakti ini menerjang dan mengeroyok Ki Patih Narotama. Terjadilah pertempuran yang hebat. Dengan keris pusaka Megantoro di tangan, Ki Patih Narotama menghadapi pengeroyokan enam orang sakti itu. Adipati Bhismaprabhawa bersenjatakan sebatang klewang bergagang emas, Dewi Durgakumala menggunakan sebatang pedang, Kala Muka memegang sebatang keris, Kala Manik sebatang klewang, Kala Tejo sebatang ruyung dan Ki Candarwo bersenjatakan pedang. Enam orang itu bagaikan enam ekor srigala mengeroyok dan menyerang seekor harimau. Terjadilah perkelahian mati-matian dan Ki Patih Narotama harus mengeluarkan semua ilmu dan mengerahkan semua tenaga untuk melawan enam orang pengeroyok yang tangguh itu. Akan tetapi pasukannya yang berjumlah selaksa orang sudah bertempur melawan selaksa orang perajurit Wura-Wuri. Perang campuh yang hebat terjadi, sama seru dan ramainya seperti pasukan yang bertempur di bagian depan kota raja.

Lima ribu orang perajurit dalam Pasukan Parang Siluman yang dipimpin Ratu Durgakumala, disambut pasukan Kahuripan yang dipimpin Puspa Dewi! Karena Bhagawan Kundolomuka yang memimpin Pasukan Siluman membantu penyerangan dari depan, maka kini yang membantu Ratu Durgamala adalah Lasmini, Mandari, dan Ki Nagakumala. Sungguh merupakan pimpinan yang amat kuat. Akan tetapi Puspa Dewi yang didampingi ayahnya, Senopati Yudajaya, tidak gentar dan dengan tenang saja ia menyambut lawan-lawan yang amat tangguh itu. Mereka berhadapan dan saling pandang dengan sinar mata mencorong. Terutama sekali Mandari dan Lasmini. Mereka memandang wajah Puspa Dewi dengan penuh kebencian karena gadis itu merupakan satu di antara penyebab penting gagalnya usaha mereka dahulu untuk menjatuhkan Kahuripan.
"Perempuan rendah Pengkhianat, tidak malu engkau memperlihatkan mukamu kepada kami?" bentak Mandari sambil menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Puspa Dewi.
"Puspa Dewi bocah desa melarat Engkau sudah dimuliakan, diangkat derajatmu menjadi Sekar Kedaton di Wura-Wuri, akan tetapi malah mengkhianati kami! Sekarang sudah saatnya engkau menerima hukuman, kupenggal batang lehermu, kurobek dadamu dan kucabut keluar jantungmu!" Lasmini juga memaki-maki marah.
Setelah menerima penggemblengan selama tiga bulan dari Maha Resi Satyadharma, Puspa Dewi telah mampu menjinakkan hatinya dan mampu mengendalikan perasaannya sehingga dihina seperti itu, ia tersenyum saja dan tidak menjadi marah.
"Lasmini dan Mandari, bukan aku yang berkhianat karena aku memang kawula Kahuripan yang sudah sepatutnya membela, apalagi karena Gusti Sinuwun Erlangga dan Gusti Patih Narotama memang merupakan manusia-manusia arif bijaksana yang sudah semestinya kubela. Sebaliknya kamu berdua yang berkhianat dan tidak tahu malu. Sudah mau menyerahkan diri menjadi selir Sang Prabu dan Ki Patih, ternyata itu hanya siasat untuk melakukan pemberontakan."
"Keparat, mampuslah!" Lasmini sudah menerjang dengan marah sekali, menghujamkan kerisnya ke arah dada Puspa Dewi. Akan tetapi dengan tenang Puspa Dewi menggeser kaki mengelak ke belakang sambil mencabut pedangnya. Sinar hitam tampak ketika Pedang Gandrasa Langking tercabut. Mandari, Ratu Durgamala, dan Ki Nagakumala juga berlompatan ke depan untuk mengeroyok. Akan tetapi Ki Yudajaya sudah memberi aba-aba kepada para perwira pembantu untuk maju membantu Puspa Dewi. Terjadilah pertempuran hebat. Puspa Dewi dikeroyok tiga oleh Lasmini, Mandari, dan Ki Nagakumala. Ia harus mengeluarkan semua ilmunya dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menandingi tiga orang lawan yang teramat tangguh itu. Ratu Durgamala sendiri dihadapi oleh Senopati Yudajaya yang dibantu oleh tiga orang perwira. Akan tetapi, biarpun para pimpinan pasukan ini agak kewalahan menghadapi lawan-lawan yang sakti, sebaliknya pasukan Parang Siluman yang hanya lima ribu orang jumlahnya itu, menjadi kewalahan melawan sepuluh ribu orang perajurit Kahuripan. Dengan sendirinya tiga orang yang mengeroyok Puspa Dewi terkadang harus memecah perhatiannya dan terpaksa seringkali meninggalkan Puspa Dewi untuk membantu anak buah yang terdesak oleh pasukan Kahuripan yang jumlahnya dua kali lipat itu. Hal ini tentu saja meringankan Puspa Dewi yang kewalahan juga dikeroyok tiga orang sakti itu. Terutama Ki Nagakumala merupakan lawan yang amat tangguh. Kalau kakek ini maju seorang diri, tentu saja tidak sukar bagi Puspa Dewi untuk mengalahkannya. Namun dua orang kakak beradik Lasmini dan Mandari itu pun memiliki tingkat kepandaian yang sudah hampir mencapai tingkat guru atau paman mereka, yaitu Ki Nagakumala.

Pasukan Kerajaan Siluman Laut Kidul yang dipimpin sendiri oleh Ratu Mayang Gupita, raseksi yang menyeramkan dan sakti, dibantu Bhagawan Kalamisani paman gurunya, dan dua orang adik seperguruannya yaitu Nagarodra dan Nagajaya, menyerang dari belakang dengan lima ribu orang perajuritnya. Mereka disambut sepuluh ribu orang perajurit Kahuripan yang dipimpin oleh Senopati Wiradana, Senopati Sindukerta, dan Tumenggung Jayatanu, dibantu pula oleh beberapa orang perwira tinggi. Biarpun pasukan ini yang jumlahnya dua kali lipat jumlah pasukan penyerbu dapat menekan pasukan musuh, namun para pimpinan mereka kewalahan menghadapi empat orang yang sakti mandraguna dari Siluman Laut Kidul itu. Sampai tengah hari pertempuran masih berjalan seru. Kedua pihak sudah kehilangan banyak prajurit yang tewas atau terluka. Namun pihak penyerang tidak mau menghentikan serbuan mereka, tidak mau mundur karena mereka tahu bahwa kalau sekali ini penyerbuan mereka gagal, akan sulitlah untuk melakukan penyerangan lagi. Maka mereka terus mendesak dan para pimpinan memberi aba-aba agar pasukan mereka maju terus! Sang Prabu Erlangga prihatin melihat banyaknya prajurit yang tewas, baik perajurit Kahuripan maupun para prajurit pihak musuh. Sedih hatinya melihat Kahuripan banjir darah dan menjadi tempat pembantaian antar manusia. Hal ini membuat dia marah kepada para pimpinan empat kerajaan itu. Kemarahan ini membangkitkan Aji Triwikrama yang dikuasainya. Aji Triwikrama adalah aji kesaktian dari Sang Hyang Whisnu.
Sang Prabu Erlangga melangkah tiga kali menjejakkan kaki dan tiba-tiba terdengar suara gerengan yang menggetarkan bumi Kahuripan! Enam orang pengeroyoknya, Adipati Linggawijaya, Dewi Mayangsari, Resi Bajrasakti, Warok Surogeni, Wirobento dan Wirobandrek terkejut setengah mati dan mata mereka terbelalak melihat betapa lawan mereka itu tiba-tiba tampak membesar seperti sebatang pohon Waringin! Enam orang yang sakti ini terkejut, namun mereka masih nekat.
"Ini hanya ilmu sihirl Serang!" bentak Warok Surogeni kepada dua orang warok lain, yaitu Wirobento dan Wlrobandrek. Tiga orang warok ini lalu menerjang maju, menggerakkan senjata mereka menyerang "raksasa" itu.
"Wuut-wuut-wuut... blaarrrr...!" Sang Prabu Erlangga mengibaskan tangannya dan tiga orang itu terlempar jauh dan terbanting keras tanpa dapat bangun kembali karena mereka telah tewas. Serangan mereka tadi dihantam kekuatan yang luar biasa sehingga membalik dan mengenai tubuh mereka sendiri sehingga mereka tewas seketika!
"Bapa...!!" Dewi Mayangsari berlari menubruk tubuh ayahnya, akan tetapi Warok Surogeni sudah tewas.
Permaisuri itu sambil menangis memondong jenazah ayahnya dan menghilang di antara para prajuritnya. Adipati Linggawijaya juga cepat menyelinap ketakutan bersembunyi di antara para prajuritnya yang sudah terdesak hebat oleh pasukan lawan yang kini mendapat hati dan semakin bersemangat itu. Otomatis para perwira pembantunya juga jerih dan memberi aba-aba kepada pasukan Wengker untuk mundur meninggalkan kawan-kawan yang tewas dan yang terluka.

Ketika mendapat laporan bahwa pasukan bagian belakang yang dipimpin tiga orang senopati kewalahan menghadapi sepak terjang para pimpinan pasukan Siluman Laut Kidul, Sang Prabu Erlangga menyerahkan pimpinan kepada para perwira pembantu dan dia sendiri berlari menuju ke pertempuran di bagian belakang. Dilihatnya betapa pasukan Kahuripan yang dua kali lipat lebih banyak jumlahnya itu dapat menekan dan mendesak pasukan Siluman Laut Kidul, akan tetapi Senopati Wiradana, Senopati Sindukerta, dan Tumenggung Jayatanu terdesak hebat sekali. Bahkan ketika Sang Prabu Erlangga tiba di tengah pertempuran itu, dia melihat tubuh Senopati Sindukerta dan tubuh Tumenggung Jayatanu sudah menderita luka-luka dan berlepotan darah. Akan tetapi dengan gagah perkasa, dua orang senopati yang sudah tua ini terus melakukan perlawanan! Melihat Ini, Sang Prabu Erlangga terkejut dan marah. Tubuhnya melompat ke depan dan begitu kedua tangannya bergerak-gerak menyerang, hawa pukulan yang dahsyat sekali seperti badai menerjang pihak musuh.
"Wuuuutttt... wessss... plak-plak....!"
Tubuh Ratu Mayang Gupita yang tinggi besar itu terlempar ke belakang. Juga tubuh Bhagawan Kalamisani terlempar. Akan tetapi mereka berdua yang terbanting jatuh itu lalu bergulingan dan dapat berlompatan bangun, wajah mereka pucat dan mata mereka terbelalak. Mereka gentar sekali dan cepat menyelinap di antara para prajurit dan memberi aba-aba untuk mundur. Adapun tubuh Nagarodra dan Nagajaya terpelanting roboh dan tewas karena tenaga serangan mereka membalik dan memukul diri sendiri. Akan tetapi, walaupun pertempuran di bagian belakang ini juga dimenangkan pasukan Kahuripan dan pihak musuh melarikan diri, namun Kahuripan kehilangan dua orang senopatinya yang sudah tua dan setia, yaitu Senopati Sindukerta dan Tumenggung Jayatanu!
Sementara itu, Narotama yang dibantu beberapa orang perwira juga mendesak lawan. Biarpun dia dikeroyok enam orang pimpinan pasukan Wura-Wuri yang rata-rata sakti, namun Ki Patih Narotama yang mengamuk seperti banteng terluka karena teringat akan puteranya yang diculik musuh, akhirnya dapat merobohkan Tri Kala, yaitu Kala Muka, Kala Manik, dan Kala Teja. Melihat sepak terjang Ki Patih Narotama yang dahsyat itu, Dewi Durgakumala memberi tanda kepada suaminya, yaitu Adipati Bhismaprabhawa, untuk mundur. Sang Adipati, Dewi Durgakumala, dan Ki Gandarwo lalu melarikan diri, menyusup di antara para prajurit dan mereka juga bergerak mundur bersama sisa pasukan mereka. Ki Patih Narotama juga kehilangan enam orang perwira pembantunya karena mereka tadi mencoba untuk membantunya dan semua tewas di tangan Ratu Mayang Gupita dan Bhagawan Kalamisani.
Puspa Dewi yang dikeroyok oleh Ki Nagakumala, Lasmini, dan Mandari, terdesak hebat. Tiga orang pengeroyoknya ini memang sakti mandraguna. Seandainya Puspa Dewi belum digembleng Maha Resi Satyadharma selama tiga bulan, kiranya tidak mungkin ia akan dapat menyelamatkan diri dari tekanan tiga orang pengeroyok itu. Gadis ini sungguh mengagumkan sekali. Selain kepandaiannya mencapai tingkat tinggi, juga ia memiliki semangat dan keberanian yang pantang mundur, la tetap bertahan dan pertahanannya seolah benteng baja yang sulit ditembus tiga orang pengeroyoknya. Akan tetapi, ayah kandungnya, Senopati Yudajaya, biarpun dibantu oleh beberapa orang perwira, tetap saja terdesak hebat oleh Ratu Durgamata. Tiga orang perwira yang membantunya telah roboh dan tewas, sedangkan dia sendiri sudah terluka pundak kirinya sehingga baju dan kulit pundak terobek dan berdarah. Akan tetapi, perwira-perwira lain berdatangan membantunya sehingga biarpun dihimpit terus oleh Ratu Durgamala, Senopati Yudajaya masih dapat melakukan perlawanan. Apalagi pasukannya yang dua kali lebih besar dari pasukan Parang Siluman, dapat mendesak terus pihak musuh. Pada saat yang gawat itu, datang Ki Patih Narotama yang sudah memperoleh kemenangan dlsayap kanan dan datang membantu Senopati Yudajaya. Melihat datangnya Ki Patih Narotama, Ratu Durgamala menjadi terkejut dan gentar. Ia lalu melompat ke belakang memberi isarat kepada Ki Nagakumala, Lasmini, dan Mandari untuk mundur. Tiga orang ini yang belum juga mampu mengalahkan Puspa Dewi, juga merasa jerih melihat munculnya Ki Patih Narotama, apalagi melihat pasukan mereka mendapat tekanan pihak musuh. Mereka lalu melarikan diri ke dalam pasukan dan memerintahkan Pasukan Parang Siluman untuk mundur dan meninggalkan pertempuran.

Demikianlah, semua pasukan Empat Kerajaan yang dibantu para penguasa daerah yang kecil-kecil, terpukul mundur dan sisa pasukan mereka melarikan diri kembali ke wilayah masing-masing, meninggalkan banyak korban yang tewas, terluka atau tertawan. Kerajaan Wengker kehilangan ayah kandung Dewi Mayangsari, yaitu Warok Surogeni, dan dua orang saudara seperguruannya, Warok Wirobento dan Warok Wirobandrek. Tiga orang ini tewas dan masih ada belasan orang perwira dan sedikitnya tiga ribu orang prajurit tewas atau tertawan. Kerajaan Wura-Wuri juga kehilangan Tri Kala yang tewas, dan hampir empat ribu orang perajurit dan perwira tewas atau tertawan. Kerajaan Parang Siluman kehilangan Bhagawan Kundolomuko, bekas suami Ratu Durgamala dan ayah kandung Lasmini dan Mandari. Bhagawan Kundolomuko tidak diketahui ke mana perginya, mungkin merasa malu atas kekalahannya dan melarikan diri.

<<< Bagian 62                                                                                         Bagian 64 >>>

No comments:

Post a Comment