Narotama adalah seorang yang tidak mau sembarangan membunuh dan baginya merupakan pantangan membunuh. Biasanya, lawan yang dihadapinya hanya dikalahkan dan dirobohkan tanpa membunuh. Akan tetapi bagaimanapun juga, dia hanya seorang manusia biasa, seorang ayah yang menjadi marah dan mata gelap melihat puteranya diculik orang.
Karena maklum
betapa saktinya Ki Patih Narotama, maka Adipati Bhismaprabhawa dan Dewi
Durgakumala tidak banyak cakap lagi. Teriakan dahsyat tadi membuat hati mereka
menjadi gentar juga. Mereka memberi isyarat kepada empat orang pembantu mereka
dan segera enam orang sakti ini menerjang dan mengeroyok Ki Patih Narotama.
Terjadilah pertempuran yang hebat. Dengan keris pusaka Megantoro di tangan, Ki
Patih Narotama menghadapi pengeroyokan enam orang sakti itu. Adipati
Bhismaprabhawa bersenjatakan sebatang klewang bergagang emas, Dewi Durgakumala
menggunakan sebatang pedang, Kala Muka memegang sebatang keris, Kala Manik
sebatang klewang, Kala Tejo sebatang ruyung dan Ki Candarwo bersenjatakan
pedang. Enam orang itu bagaikan enam ekor srigala mengeroyok dan menyerang
seekor harimau. Terjadilah perkelahian mati-matian dan Ki Patih Narotama harus
mengeluarkan semua ilmu dan mengerahkan semua tenaga untuk melawan enam orang
pengeroyok yang tangguh itu. Akan tetapi pasukannya yang berjumlah selaksa
orang sudah bertempur melawan selaksa orang perajurit Wura-Wuri. Perang campuh
yang hebat terjadi, sama seru dan ramainya seperti pasukan yang bertempur di
bagian depan kota raja.
Lima ribu
orang perajurit dalam Pasukan Parang Siluman yang dipimpin Ratu Durgakumala,
disambut pasukan Kahuripan yang dipimpin Puspa Dewi! Karena Bhagawan Kundolomuka
yang memimpin Pasukan Siluman membantu penyerangan dari depan, maka kini yang
membantu Ratu Durgamala adalah Lasmini, Mandari, dan Ki Nagakumala. Sungguh
merupakan pimpinan yang amat kuat. Akan tetapi Puspa Dewi yang didampingi
ayahnya, Senopati Yudajaya, tidak gentar dan dengan tenang saja ia menyambut
lawan-lawan yang amat tangguh itu. Mereka berhadapan dan saling pandang dengan
sinar mata mencorong. Terutama sekali Mandari dan Lasmini. Mereka memandang
wajah Puspa Dewi dengan penuh kebencian karena gadis itu merupakan satu di
antara penyebab penting gagalnya usaha mereka dahulu untuk menjatuhkan
Kahuripan.
"Perempuan
rendah Pengkhianat, tidak malu engkau memperlihatkan mukamu kepada kami?"
bentak Mandari sambil menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Puspa Dewi.
"Puspa
Dewi bocah desa melarat Engkau sudah dimuliakan, diangkat derajatmu menjadi
Sekar Kedaton di Wura-Wuri, akan tetapi malah mengkhianati kami! Sekarang sudah
saatnya engkau menerima hukuman, kupenggal batang lehermu, kurobek dadamu dan
kucabut keluar jantungmu!" Lasmini juga memaki-maki marah.
Setelah
menerima penggemblengan selama tiga bulan dari Maha Resi Satyadharma, Puspa
Dewi telah mampu menjinakkan hatinya dan mampu mengendalikan perasaannya
sehingga dihina seperti itu, ia tersenyum saja dan tidak menjadi marah.
"Lasmini
dan Mandari, bukan aku yang berkhianat karena aku memang kawula Kahuripan yang
sudah sepatutnya membela, apalagi karena Gusti Sinuwun Erlangga dan Gusti Patih
Narotama memang merupakan manusia-manusia arif bijaksana yang sudah semestinya
kubela. Sebaliknya kamu berdua yang berkhianat dan tidak tahu malu. Sudah mau
menyerahkan diri menjadi selir Sang Prabu dan Ki Patih, ternyata itu hanya
siasat untuk melakukan pemberontakan."
"Keparat,
mampuslah!" Lasmini sudah menerjang dengan marah sekali, menghujamkan
kerisnya ke arah dada Puspa Dewi. Akan tetapi dengan tenang Puspa Dewi
menggeser kaki mengelak ke belakang sambil mencabut pedangnya. Sinar hitam
tampak ketika Pedang Gandrasa Langking tercabut. Mandari, Ratu Durgamala, dan
Ki Nagakumala juga berlompatan ke depan untuk mengeroyok. Akan tetapi Ki
Yudajaya sudah memberi aba-aba kepada para perwira pembantu untuk maju membantu
Puspa Dewi. Terjadilah pertempuran hebat. Puspa Dewi dikeroyok tiga oleh
Lasmini, Mandari, dan Ki Nagakumala. Ia harus mengeluarkan semua ilmunya dan
mengerahkan seluruh tenaganya untuk menandingi tiga orang lawan yang teramat
tangguh itu. Ratu Durgamala sendiri dihadapi oleh Senopati Yudajaya yang
dibantu oleh tiga orang perwira. Akan tetapi, biarpun para pimpinan pasukan ini
agak kewalahan menghadapi lawan-lawan yang sakti, sebaliknya pasukan Parang
Siluman yang hanya lima ribu orang jumlahnya itu, menjadi kewalahan melawan
sepuluh ribu orang perajurit Kahuripan. Dengan sendirinya tiga orang yang mengeroyok
Puspa Dewi terkadang harus memecah perhatiannya dan terpaksa seringkali
meninggalkan Puspa Dewi untuk membantu anak buah yang terdesak oleh pasukan
Kahuripan yang jumlahnya dua kali lipat itu. Hal ini tentu saja meringankan
Puspa Dewi yang kewalahan juga dikeroyok tiga orang sakti itu. Terutama Ki
Nagakumala merupakan lawan yang amat tangguh. Kalau kakek ini maju seorang
diri, tentu saja tidak sukar bagi Puspa Dewi untuk mengalahkannya. Namun dua
orang kakak beradik Lasmini dan Mandari itu pun memiliki tingkat kepandaian
yang sudah hampir mencapai tingkat guru atau paman mereka, yaitu Ki Nagakumala.
Pasukan
Kerajaan Siluman Laut Kidul yang dipimpin sendiri oleh Ratu Mayang Gupita,
raseksi yang menyeramkan dan sakti, dibantu Bhagawan Kalamisani paman gurunya,
dan dua orang adik seperguruannya yaitu Nagarodra dan Nagajaya, menyerang dari
belakang dengan lima ribu orang perajuritnya. Mereka disambut sepuluh ribu
orang perajurit Kahuripan yang dipimpin oleh Senopati Wiradana, Senopati
Sindukerta, dan Tumenggung Jayatanu, dibantu pula oleh beberapa orang perwira
tinggi. Biarpun pasukan ini yang jumlahnya dua kali lipat jumlah pasukan
penyerbu dapat menekan pasukan musuh, namun para pimpinan mereka kewalahan
menghadapi empat orang yang sakti mandraguna dari Siluman Laut Kidul itu.
Sampai tengah hari pertempuran masih berjalan seru. Kedua pihak sudah
kehilangan banyak prajurit yang tewas atau terluka. Namun pihak penyerang tidak
mau menghentikan serbuan mereka, tidak mau mundur karena mereka tahu bahwa
kalau sekali ini penyerbuan mereka gagal, akan sulitlah untuk melakukan
penyerangan lagi. Maka mereka terus mendesak dan para pimpinan memberi aba-aba
agar pasukan mereka maju terus! Sang Prabu Erlangga prihatin melihat banyaknya
prajurit yang tewas, baik perajurit Kahuripan maupun para prajurit pihak musuh.
Sedih hatinya melihat Kahuripan banjir darah dan menjadi tempat pembantaian
antar manusia. Hal ini membuat dia marah kepada para pimpinan empat kerajaan
itu. Kemarahan ini membangkitkan Aji Triwikrama yang dikuasainya. Aji
Triwikrama adalah aji kesaktian dari Sang Hyang Whisnu.
Sang Prabu
Erlangga melangkah tiga kali menjejakkan kaki dan tiba-tiba terdengar suara
gerengan yang menggetarkan bumi Kahuripan! Enam orang pengeroyoknya, Adipati
Linggawijaya, Dewi Mayangsari, Resi Bajrasakti, Warok Surogeni, Wirobento dan
Wirobandrek terkejut setengah mati dan mata mereka terbelalak melihat betapa
lawan mereka itu tiba-tiba tampak membesar seperti sebatang pohon Waringin!
Enam orang yang sakti ini terkejut, namun mereka masih nekat.
"Ini
hanya ilmu sihirl Serang!" bentak Warok Surogeni kepada dua orang warok
lain, yaitu Wirobento dan Wlrobandrek. Tiga orang warok ini lalu menerjang
maju, menggerakkan senjata mereka menyerang "raksasa" itu.
"Wuut-wuut-wuut...
blaarrrr...!" Sang Prabu Erlangga mengibaskan tangannya dan tiga orang itu
terlempar jauh dan terbanting keras tanpa dapat bangun kembali karena mereka
telah tewas. Serangan mereka tadi dihantam kekuatan yang luar biasa sehingga
membalik dan mengenai tubuh mereka sendiri sehingga mereka tewas seketika!
"Bapa...!!"
Dewi Mayangsari berlari menubruk tubuh ayahnya, akan tetapi Warok Surogeni
sudah tewas.
Permaisuri itu
sambil menangis memondong jenazah ayahnya dan menghilang di antara para
prajuritnya. Adipati Linggawijaya juga cepat menyelinap ketakutan bersembunyi
di antara para prajuritnya yang sudah terdesak hebat oleh pasukan lawan yang
kini mendapat hati dan semakin bersemangat itu. Otomatis para perwira
pembantunya juga jerih dan memberi aba-aba kepada pasukan Wengker untuk mundur
meninggalkan kawan-kawan yang tewas dan yang terluka.
Ketika
mendapat laporan bahwa pasukan bagian belakang yang dipimpin tiga orang
senopati kewalahan menghadapi sepak terjang para pimpinan pasukan Siluman Laut
Kidul, Sang Prabu Erlangga menyerahkan pimpinan kepada para perwira pembantu
dan dia sendiri berlari menuju ke pertempuran di bagian belakang. Dilihatnya
betapa pasukan Kahuripan yang dua kali lipat lebih banyak jumlahnya itu dapat
menekan dan mendesak pasukan Siluman Laut Kidul, akan tetapi Senopati Wiradana,
Senopati Sindukerta, dan Tumenggung Jayatanu terdesak hebat sekali. Bahkan
ketika Sang Prabu Erlangga tiba di tengah pertempuran itu, dia melihat tubuh
Senopati Sindukerta dan tubuh Tumenggung Jayatanu sudah menderita luka-luka dan
berlepotan darah. Akan tetapi dengan gagah perkasa, dua orang senopati yang
sudah tua ini terus melakukan perlawanan! Melihat Ini, Sang Prabu Erlangga
terkejut dan marah. Tubuhnya melompat ke depan dan begitu kedua tangannya
bergerak-gerak menyerang, hawa pukulan yang dahsyat sekali seperti badai
menerjang pihak musuh.
"Wuuuutttt...
wessss... plak-plak....!"
Tubuh Ratu
Mayang Gupita yang tinggi besar itu terlempar ke belakang. Juga tubuh Bhagawan
Kalamisani terlempar. Akan tetapi mereka berdua yang terbanting jatuh itu lalu
bergulingan dan dapat berlompatan bangun, wajah mereka pucat dan mata mereka
terbelalak. Mereka gentar sekali dan cepat menyelinap di antara para prajurit
dan memberi aba-aba untuk mundur. Adapun tubuh Nagarodra dan Nagajaya terpelanting
roboh dan tewas karena tenaga serangan mereka membalik dan memukul diri
sendiri. Akan tetapi, walaupun pertempuran di bagian belakang ini juga
dimenangkan pasukan Kahuripan dan pihak musuh melarikan diri, namun Kahuripan
kehilangan dua orang senopatinya yang sudah tua dan setia, yaitu Senopati
Sindukerta dan Tumenggung Jayatanu!
Sementara itu,
Narotama yang dibantu beberapa orang perwira juga mendesak lawan. Biarpun dia
dikeroyok enam orang pimpinan pasukan Wura-Wuri yang rata-rata sakti, namun Ki
Patih Narotama yang mengamuk seperti banteng terluka karena teringat akan
puteranya yang diculik musuh, akhirnya dapat merobohkan Tri Kala, yaitu Kala
Muka, Kala Manik, dan Kala Teja. Melihat sepak terjang Ki Patih Narotama yang
dahsyat itu, Dewi Durgakumala memberi tanda kepada suaminya, yaitu Adipati
Bhismaprabhawa, untuk mundur. Sang Adipati, Dewi Durgakumala, dan Ki Gandarwo
lalu melarikan diri, menyusup di antara para prajurit dan mereka juga bergerak
mundur bersama sisa pasukan mereka. Ki Patih Narotama juga kehilangan enam
orang perwira pembantunya karena mereka tadi mencoba untuk membantunya dan
semua tewas di tangan Ratu Mayang Gupita dan Bhagawan Kalamisani.
Puspa Dewi
yang dikeroyok oleh Ki Nagakumala, Lasmini, dan Mandari, terdesak hebat. Tiga
orang pengeroyoknya ini memang sakti mandraguna. Seandainya Puspa Dewi belum
digembleng Maha Resi Satyadharma selama tiga bulan, kiranya tidak mungkin ia
akan dapat menyelamatkan diri dari tekanan tiga orang pengeroyok itu. Gadis ini
sungguh mengagumkan sekali. Selain kepandaiannya mencapai tingkat tinggi, juga
ia memiliki semangat dan keberanian yang pantang mundur, la tetap bertahan dan
pertahanannya seolah benteng baja yang sulit ditembus tiga orang pengeroyoknya.
Akan tetapi, ayah kandungnya, Senopati Yudajaya, biarpun dibantu oleh beberapa
orang perwira, tetap saja terdesak hebat oleh Ratu Durgamata. Tiga orang
perwira yang membantunya telah roboh dan tewas, sedangkan dia sendiri sudah
terluka pundak kirinya sehingga baju dan kulit pundak terobek dan berdarah.
Akan tetapi, perwira-perwira lain berdatangan membantunya sehingga biarpun
dihimpit terus oleh Ratu Durgamala, Senopati Yudajaya masih dapat melakukan
perlawanan. Apalagi pasukannya yang dua kali lebih besar dari pasukan Parang
Siluman, dapat mendesak terus pihak musuh. Pada saat yang gawat itu, datang Ki
Patih Narotama yang sudah memperoleh kemenangan dlsayap kanan dan datang
membantu Senopati Yudajaya. Melihat datangnya Ki Patih Narotama, Ratu Durgamala
menjadi terkejut dan gentar. Ia lalu melompat ke belakang memberi isarat kepada
Ki Nagakumala, Lasmini, dan Mandari untuk mundur. Tiga orang ini yang belum
juga mampu mengalahkan Puspa Dewi, juga merasa jerih melihat munculnya Ki Patih
Narotama, apalagi melihat pasukan mereka mendapat tekanan pihak musuh. Mereka
lalu melarikan diri ke dalam pasukan dan memerintahkan Pasukan Parang Siluman
untuk mundur dan meninggalkan pertempuran.
Demikianlah,
semua pasukan Empat Kerajaan yang dibantu para penguasa daerah yang
kecil-kecil, terpukul mundur dan sisa pasukan mereka melarikan diri kembali ke
wilayah masing-masing, meninggalkan banyak korban yang tewas, terluka atau
tertawan. Kerajaan Wengker kehilangan ayah kandung Dewi Mayangsari, yaitu Warok
Surogeni, dan dua orang saudara seperguruannya, Warok Wirobento dan Warok
Wirobandrek. Tiga orang ini tewas dan masih ada belasan orang perwira dan
sedikitnya tiga ribu orang prajurit tewas atau tertawan. Kerajaan Wura-Wuri
juga kehilangan Tri Kala yang tewas, dan hampir empat ribu orang perajurit dan
perwira tewas atau tertawan. Kerajaan Parang Siluman kehilangan Bhagawan
Kundolomuko, bekas suami Ratu Durgamala dan ayah kandung Lasmini dan Mandari.
Bhagawan Kundolomuko tidak diketahui ke mana perginya, mungkin merasa malu atas
kekalahannya dan melarikan diri.
No comments:
Post a Comment