Selain itu, juga ada tiga ribu orang perajurit tewas atau tertawan. Sedangkan Kerajaan Siluman Laut Kidul, kematian Nagarodra dan Nagajaya, juga beberapa orang perwira dan tiga ribu prajurit yang tewas atau tertawan. Akan tetapi, dalam pertempuran mati-matian, perang campuh itu, Kerajaan Kahuripan juga menderita kerugian yang cukup banyak. Tidak kurang dari delapan ribu prajurit tewas dan terluka, juga ada dua puluhan orang lebih perwira tewas. Selain itu, yang membuat para pemimpin berkabung dan berduka adalah tewasnya Senopati Sindukerta dan Tumenggung Jayatanu. Selain itu, wabah penyakit masih merajalela dan sedang ditanggulangi oleh Empu Kanwa. Kini ditambah lagi mengurus mayat-mayat yang bergelimpangan dan yang ribuan orang banyaknya, mengurus mereka yang terluka dan membutuhkan perawatan. Pendeknya, biarpun memperoleh kemenangan dalam perang dan berhasil mengusir musuh, namun Kerajaan Kahuripan tetap saja sedang dilanda musibah besar-besaran. Lebih-lebih lagi karena putera Ki Patih Narotama hilang diculik orang dan Pusaka Cupu Manik Maya sebagai lambang kebesaran kerajaan juga hilang dicuri orang. Para prajurit Kahuripan kini sibuk mengurus para jenazah korban perang, baik kawan maupun lawan. Juga merawat yang terluka. Memang sikap pengampun ini yang ditekankan Sang Prabu Erlangga kepada mereka yang memusuhinya. Yang tewas dikuburkan sebagaimana mestinya, yang luka dirawat dan yang tertawan dibebaskan kembali sehingga selanjutnya mereka yang diperlakukan dengan baik dan dibebaskan itu tidak mau lagi menjadi anggota pasukan yang dipergunakan untuk memusuhi Kerajaan Kahuripan.
Di rumah
keluarga Senopati Sindukerta semua anggauta keluarga berkabung. Ki Dharmaguna
dan Endang Sawitri, ayah ibu Nurseta merasa sedih sekali karena Senopati
Sindukerta gugur dalam perang tanpa mendapat bantuan putera mereka. Mereka
tidak tahu di mana adanya Nurseta sekarang dan merasa menyesal bahwa Nureta
tidak membantu ketika Kahuripan diserang musuh sehingga Senopati Sindukerta
gugur. Juga keluarga Tumenggung Jayatanu berkabung. Untung luka di pundak yang
diderita Senopati Yudajaya tidaklah parah. Senopati Yudajaya dan dua orang
isterinya, Nyi Lasmi dan Dyah Mularsih bersama Nyi Tumenggung dan semua
keluarga, berduka atas gugurnya Tumenggung Jayatanu. Akan tetapi yang paling
merasa menyesal adalah Puspa Dewi. Ia merasa menyesal bahwa ia tidak berhasil
menemukan adiknya, Niken Harni, dan tidak berhasil pula melindungi kakeknya
dalam perang karena mereka berpisah dengan pasukan masing-masing. Kalau
mendiang Tumenggung Jayatanu memimpin pasukan bagian belakang bersama mendiang
Senopati Sindukerta dan Senopati Wiradana, Puspa Dewi memimpin pasukan di sayap
kiri.
Keluarga Senopati
Sindukerta dan keluarga Tumenggung Jayatanu saling mengunjungi, saling
menyatakan ikut berbelasungkawa, saling menghibur. Biarpun ia merupakan anggota
keluarga yang paling muda, tetapi justru Puspa Dewi yang menghibur para anggota
kedua keluarga itu! Mereka sedang berkumpul karena keluarga Sindukerta sedang
datang berkunjung ke rumah keluarga Jayatanu.
"Saya
harap Andika sekalian dapat menerima kenyataan ini dan tidak larut dalam
kedukaan. Bagaimanapun juga, kita patut berbangga dan bersukur bahwa Eyang
Senopati Sindukerta dan Eyang Tumenggung Jayatanu gugur sebagai satria-satria
utama, gugur dalam membela negara, tewas secara gagah perkasa. Kita sepatutnya
ingat bahwa bukan eyang berdua saja yang berkorban nyawa dalam membela negara,
melainkan ada ribuan orang perwira dan prajurit yang juga gugur sebagai
pahlawan bunga bangsa."
Ucapan dara
perkasa yang penuh semangat itu banyak menolong dan menghibur hati para
keluarga yang merasa kehilangan dan berduka. Dalam kesempatan selagi anggauta
kedua keluarga itu berkumpul, Puspa Dewi yang teringat akan wejangan Maha Resi
Satyadharma tentang kedukaan, lalu berkata dengan hati-hati kepada para orang
tua yang hadir.
"Apa yang
akan saya katakan ini sama sekali bukan gagasan saya sendiri. Saya hanya
mengulang apa yang diwejangkan Eyang Resi Satyadharma kepada saya. Bahwa
perasaan yang kita alami saat ini, yaitu duka hanyalah menjadi saudara kembar
atau keimbalbalikan dari suka. Suka dan duka tak terpisahkan seperti telapak
dan punggung sebuah tangan. Tak pernah muncul bersama di permukaan, namun tak
pernah terpisah dan bermunculan secara bergantian dalami kehidupan kita.
Seperti tawa dan tangis tidak pernah muncul berbarengan, namun tak terpisahkan,
muncul dari mulut dan sama-sama mengeluarkan air mata. Tidak akan ada duka
kalau tidak ada suka, dan sebaliknya. Baik suka maupun duka terbentuk oleh
pikiran yang mengaku-aku sebagai sang aku. Kalau sang aku dirugikan timbullah
duka, kalau diuntungkan timbullah suka. Maka, suka duka bukan timbuj karena
peristiwa yang terjadi, melainkan bagaimana pikiran menerimanya. Tanggapan
pikiran terhadap peristiwa yang terjadi dan menimpa kita itulah yang
menimbulkan suka atau duka. Begitu pikiran tidak bekerja, dalam tidur misalnya,
maka rasa suka ataupun duka itu pun lenyap."
"Jagad Dewa
Bathara...!" Ki Dharmaguna berkata dan memandang kagum kepada Puspa Dewi.
"Wejangan
Paman Maha Resi Satyadharma itu sungguh tak dapat disangkal kebenarannya.
Apakah itu berarti bahwa kita tidak boleh berduka kalau tertimpa musibah,
misalnya kematian orang yang kita kasihi seperti sekarang ini, Puspa
Dewi?"
Puspa Dewi
tersenyum.
"Untung
sekali, Paman Dharmaguna, dahulu saya pun bertanya seperti itu kepada Eyang
Resi Satyadharma sehingga sekarang saya dapat menjawab pertanyaan Paman itu,
sesuai dengan jawaban Eyang Resi waktu itu. Begini, Paman, menurut Eyang Resi,
segala macam masalah, segala macam emosi, timbul dari nafsu-nafsu daya rendah
yang menguasai pikiran, membentuk sang aku. Kita manusia tidak mungkin dapat
membebaskan diri sendiri dari pengaruh nafsu. Adalah manusiawi kalau kita masih
terkadang merasa bersuka atau berduka. Kita tidak mungkin mematikan nafsu. Akan
tetapi kalau kita sudah mengerti bahwa suka dan duka hanya permainan sang aku
dalam pikiran, maka kita tidak terlalu tenggelam dalam suka maupun duka. Kita
tidak menjadi budak permainan segala nafsu daya rendah yang berada dalam diri
kita sendiri."
"Wah,
Puspa Dewi, kata-katamu mengingatkan aku akan ucapan anakku Nurseta. Pernah dia
bicara senada dengan apa yang kau katakan tadi dan dia menekankan bahwa dalam
segala keadaan, baik keadaan itu menguntungkan atau merugikan, menyenangkan
atau menyusahkan, kita sepatutnya bersukur kepada Sang Hyang Widhi dan
senantiasa mendasari semua perbuatan kita dengan penyerahan diri kepada Nya.
Karena, menurut dia, hanya Sang Hyang Widhi yang mampu menundukkan nafsu-nafsu
kita sehingga menjadi alat dan hamba kita, bukan memperalat dan memperhamba
kita."
Puspa Dewi
tersenyum dan mengangguk.
"Saya
mengenal... Kakangmas Nurseta, Bibi Endang Sawitri, dan saya tahu bahwa dia
memang seorang sakti mandraguna yang bijaksana."
Dengan adanya
percakapan seperti itu, dua keluarga itu merasa terhibur dan tidak membiarkan
diri terlalu disiksa perasaan sendiri karena kematian Senopati Sindukerta dan
Tumenggung Jayatanu.
Sang Prabu
Erlangga merasa prihatin sekali. Hatinya sedih melihat demikian banyaknya
manusia terbantai, tewas dalam perang campuh itu. Dia bukan hanya menyedihi
kematian banyak prajuritnya, melainkan juga kematian para prajurit
kerajaan-kerajaan yang memusuhi Kahuripan dan melakukan penyerangan. Empu Kanwa
yang dibantu Empu Bharada dapat mengurangi jumlah korban wabah penyakit dan
berhasil menyingkirkan wabah itu. Akan tetapi wajah Sang Prabu Erlangga masih
murung ketika dia mengadakan persidangan dengan para pembantunya. Yang hadir
dalam persidangan itu adalah Ki Patih Narotama yang juga berwajah muram, Empu
Bharada, Empu Kanwa, Senopati Wiradana, beberapa orang perwira tinggi dan tidak
ketinggalan Bancak dan Doyok, dua orang abdi kinasih (hamba tersayang) Sang
Prabu Erlangga. Setelah mendengar laporan lengkap tentang keadaan kota raja
sehabis perang, Sang Prabu Erlangga lalu minta nasihat Empu Bharada yang
dianggap sebagai pinisepuh (tua-tua) dan penasihat, apa yang sebaiknya harus
dilakukan pemerintahannya.
"Paman
Empu, kami sungguh merasa ragu apa yang harus kita lakukan terhadap empat
kerajaan yang selalu memusuhi kita, bahkan telah memusuhi nenek moyang kita
sejak jaman Mataram dahulu."
"Puteranda
Kanjeng Sinuwun, sebetulnya sudah berulang-ulang Paduka melakukan pendekatan
dalam usaha untuk mengajak mereka hidup damai, bahkan Paduka sudah bertindak
demikian jauh bersama Ki Patih Narotama mengawini puteri-puteri Wura-Wuri. Akan
tetapi semua itu gagal karena memang pada dasarnya mereka itu menaruh dendam kebencian
kepada Paduka dan Kerajaan Kahuripan. Sudah beberapa kali mereka menggunakan
kekerasan untuk menyerang dan membasmi Kahuripan, baik sendiri-sendiri maupun
bergabung dengan pemberontak seperti yang dilakukan mereka beberapa tahun yang
lalu. Berkali-kali mereka dipukul mundur, akan tetapi mereka bahkan semakin
nekat dan yang terakhir ini mereka bergabung dan menyerang sehingga biarpun
mereka berhasil dipukul mundur, namun perang itu menewaskan ribuan orang
manusia. Kalau dibiarkan lebih lanjut, saya kita mereka tidak akan pernah
merasa jera dan kalau mereka sudah dapat menyusun kembali kekuatan mereka,
tentu mereka akan melakukan kekacauan dan penyerangan lagi. Oleh karena itu,
sekaranglah saatnya Paduka bertindak, Sinuwun. Selagi mereka masih rapuh karena
kekalahan mereka, sebelum mereka dapat bersatu kembali, Paduka kirim bala
tentara untuk menyerang dan menundukan mereka satu demi satu. Mereka sedang
dalam keadaan lemah, tentu tidak dapat melawan dengan gigih sehingga Paduka
dapat menaklukkan mereka satu demi satu tanpa harus banyak menjatuhkan korban.
Kalau mereka sudah ditundukkan dan ditaklukkan, tentu keadaan menjadi aman dan
tidak akan terjadi bentrokan lagi. Demikianlah, Sinuwun, yang dapat saya
usulkan."
"Terima
kasih, Paman Empu Bharada. Bagaimana pendapat Andika sekalian, para senopati
dan perwira?"
Para senopati
dan perwira mengangguk-angguk menyatakan persetujuan mereka dan Senopati
Wiradana yang tertua di antara para panglima, mewakili mereka dan berkata,
"Usul itu
sungguh tepat dan baik sekali, Gusti Sinuwun. Hamba kira kami semua menyetujui
karena hal itu merupakan jalan terbaik."
Melihat Ki
Patih Narotama hanya menundukkan muka dan diam saja, Sang Prabu Erlangga
bertanya,
"Bagaimana
menurut pendapatmu, Kakang Patih Narotama?"
Narotama mengangkat
mukanya yang agak pucat dan muram karena selama beberapa malam ini dia tidak
dapat tidur.
"Gusti
Sinuwun, apa yang diusulkan Paman Empu Bharada sungguh baik dan tepat sekali,
akan tetapi kalau sekiranya Paduka mengijinkan, hamba mohon agar penyerangan
ditunda beberapa hari lamanya untuk memberi kesempatan kepada hamba mencari dan
menyelamatkan anak hamba Joko Pekik Satiabudhi. Kalau sekarang Paduka
mengerahkan pasukan menyerang, hamba khawatir mereka akan membunuh Joko
Pekik."
Sang Prabu
Erlangga menghela napas panjang dan mengerutkan alisnya,
"Aduh,
maafkan kami, Kakang Patih! Kami terlalu prihatin melihat keadaan negara
sehingga sampai lupa akan penderitaan kehilangan puteramu Joko Pekik
Satyabudhi. Tentu saja, Kakang Patih, tentu saja kami akan menunda penyerangan
itu dan memberi kesempatan kepada Andika untuk menemukan kembali Joko
Pekik!"
"Beribu
terima kasih hamba haturkan kepada Paduka, Gusti, dan mohon beribu ampun bahwa
hamba seolah lebih mementingkan urusan pribadi daripada urusan negara."
"Ah,
tidak, Kakang. Andika tidak salah. Memang seharusnya Joko Pekik diselamatkan
lebih dulu, baru kita mengadakan serangan dan gerakan pembersihan agar mereka
tidak mengganggu kita lagi."
"Terima
kasih, Gusti Hamba akan mencari Joko Pekik dan juga akan menyelidiki siapa yang
telah mencuri Pusaka Cupu Manik Maya. Hamba mohon ijin berangkat hari ini juga,
Gusti."
"Baiklah,
Kakang Patih. Berangkatlah dan doaku mengikutimu. Yang penting selamatkan dulu
Joko Pekik. Soal Cupu Manik Maya dapat dicari kemudian."
Ki Patih
Narotama memberi hormat dan pamit pula pada para senopati yang hadir di situ,
mohon doa restu dari Empu Bharada dan Empu Kanwa. Kemudian dia meninggalkan
istana. Diantar tangis Listyarini yang merasa amat gelisah memikirkan puteranya
yang hilang diculik orang, Ki Patih Narotama berangkat meninggalkan Kahuripan.
Seperti biasa, kalau sedang melakukan perjalanan, apalagi untuk urusan pribadi,
Narotama lebih suka berpakaian seperti seorang penduduk biasa. Dia menunggang
seekor kuda lalu membalapkan kudanya, langsung saja dia menuju ke Kerajaan
Parang Siluman karena dia menduga bahwa puteranya pasti diculik oleh Lasmini,
atau setidaknya Lasmini berada di belakang peristiwa penculikan itu. Yang masih
membesarkan hatinya adalah bahwa puteranya itu hilang diculik. Itu berarti
bahwa Joko Pekik tidak dibunuh dan masih hidup. Kalau si penculik ingin
membunuhnya, tentu sudah dilakukannya malam itu. Untuk apa susah-susah
menculiknya kalau hanya untuk dibunuh? Dugaan ini membesarkan hatinya dan
menimbukan keyakinan bahwa puteranya itu tentu masih hidup! Dengan melakukan
perjalanan cepat siang malam, hanya berhenti kalau kudanya sudah terlalu lelah,
pada suatu hari Ki Patih Narotama telah tiba ditapal batas Kerajaan Parang
Siluman. Sudah beberapa kali dia berkunjung ke tempat tinggal Lasmini, bekas
selirnya tercinta itu, maka dia sudah hafal dan mengenal jalan. Setelah tiba di
tapai batas, dia langsung saja menuju ke kota Kadipaten.
No comments:
Post a Comment