Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 64


Selain itu, juga ada tiga ribu orang perajurit tewas atau tertawan. Sedangkan Kerajaan Siluman Laut Kidul, kematian Nagarodra dan Nagajaya, juga beberapa orang perwira dan tiga ribu prajurit yang tewas atau tertawan. Akan tetapi, dalam pertempuran mati-matian, perang campuh itu, Kerajaan Kahuripan juga menderita kerugian yang cukup banyak. Tidak kurang dari delapan ribu prajurit tewas dan terluka, juga ada dua puluhan orang lebih perwira tewas. Selain itu, yang membuat para pemimpin berkabung dan berduka adalah tewasnya Senopati Sindukerta dan Tumenggung Jayatanu. Selain itu, wabah penyakit masih merajalela dan sedang ditanggulangi oleh Empu Kanwa. Kini ditambah lagi mengurus mayat-mayat yang bergelimpangan dan yang ribuan orang banyaknya, mengurus mereka yang terluka dan membutuhkan perawatan. Pendeknya, biarpun memperoleh kemenangan dalam perang dan berhasil mengusir musuh, namun Kerajaan Kahuripan tetap saja sedang dilanda musibah besar-besaran. Lebih-lebih lagi karena putera Ki Patih Narotama hilang diculik orang dan Pusaka Cupu Manik Maya sebagai lambang kebesaran kerajaan juga hilang dicuri orang. Para prajurit Kahuripan kini sibuk mengurus para jenazah korban perang, baik kawan maupun lawan. Juga merawat yang terluka. Memang sikap pengampun ini yang ditekankan Sang Prabu Erlangga kepada mereka yang memusuhinya. Yang tewas dikuburkan sebagaimana mestinya, yang luka dirawat dan yang tertawan dibebaskan kembali sehingga selanjutnya mereka yang diperlakukan dengan baik dan dibebaskan itu tidak mau lagi menjadi anggota pasukan yang dipergunakan untuk memusuhi Kerajaan Kahuripan.
Di rumah keluarga Senopati Sindukerta semua anggauta keluarga berkabung. Ki Dharmaguna dan Endang Sawitri, ayah ibu Nurseta merasa sedih sekali karena Senopati Sindukerta gugur dalam perang tanpa mendapat bantuan putera mereka. Mereka tidak tahu di mana adanya Nurseta sekarang dan merasa menyesal bahwa Nureta tidak membantu ketika Kahuripan diserang musuh sehingga Senopati Sindukerta gugur. Juga keluarga Tumenggung Jayatanu berkabung. Untung luka di pundak yang diderita Senopati Yudajaya tidaklah parah. Senopati Yudajaya dan dua orang isterinya, Nyi Lasmi dan Dyah Mularsih bersama Nyi Tumenggung dan semua keluarga, berduka atas gugurnya Tumenggung Jayatanu. Akan tetapi yang paling merasa menyesal adalah Puspa Dewi. Ia merasa menyesal bahwa ia tidak berhasil menemukan adiknya, Niken Harni, dan tidak berhasil pula melindungi kakeknya dalam perang karena mereka berpisah dengan pasukan masing-masing. Kalau mendiang Tumenggung Jayatanu memimpin pasukan bagian belakang bersama mendiang Senopati Sindukerta dan Senopati Wiradana, Puspa Dewi memimpin pasukan di sayap kiri.

Keluarga Senopati Sindukerta dan keluarga Tumenggung Jayatanu saling mengunjungi, saling menyatakan ikut berbelasungkawa, saling menghibur. Biarpun ia merupakan anggota keluarga yang paling muda, tetapi justru Puspa Dewi yang menghibur para anggota kedua keluarga itu! Mereka sedang berkumpul karena keluarga Sindukerta sedang datang berkunjung ke rumah keluarga Jayatanu.
"Saya harap Andika sekalian dapat menerima kenyataan ini dan tidak larut dalam kedukaan. Bagaimanapun juga, kita patut berbangga dan bersukur bahwa Eyang Senopati Sindukerta dan Eyang Tumenggung Jayatanu gugur sebagai satria-satria utama, gugur dalam membela negara, tewas secara gagah perkasa. Kita sepatutnya ingat bahwa bukan eyang berdua saja yang berkorban nyawa dalam membela negara, melainkan ada ribuan orang perwira dan prajurit yang juga gugur sebagai pahlawan bunga bangsa."
Ucapan dara perkasa yang penuh semangat itu banyak menolong dan menghibur hati para keluarga yang merasa kehilangan dan berduka. Dalam kesempatan selagi anggauta kedua keluarga itu berkumpul, Puspa Dewi yang teringat akan wejangan Maha Resi Satyadharma tentang kedukaan, lalu berkata dengan hati-hati kepada para orang tua yang hadir.
"Apa yang akan saya katakan ini sama sekali bukan gagasan saya sendiri. Saya hanya mengulang apa yang diwejangkan Eyang Resi Satyadharma kepada saya. Bahwa perasaan yang kita alami saat ini, yaitu duka hanyalah menjadi saudara kembar atau keimbalbalikan dari suka. Suka dan duka tak terpisahkan seperti telapak dan punggung sebuah tangan. Tak pernah muncul bersama di permukaan, namun tak pernah terpisah dan bermunculan secara bergantian dalami kehidupan kita. Seperti tawa dan tangis tidak pernah muncul berbarengan, namun tak terpisahkan, muncul dari mulut dan sama-sama mengeluarkan air mata. Tidak akan ada duka kalau tidak ada suka, dan sebaliknya. Baik suka maupun duka terbentuk oleh pikiran yang mengaku-aku sebagai sang aku. Kalau sang aku dirugikan timbullah duka, kalau diuntungkan timbullah suka. Maka, suka duka bukan timbuj karena peristiwa yang terjadi, melainkan bagaimana pikiran menerimanya. Tanggapan pikiran terhadap peristiwa yang terjadi dan menimpa kita itulah yang menimbulkan suka atau duka. Begitu pikiran tidak bekerja, dalam tidur misalnya, maka rasa suka ataupun duka itu pun lenyap."
"Jagad Dewa Bathara...!" Ki Dharmaguna berkata dan memandang kagum kepada Puspa Dewi.
"Wejangan Paman Maha Resi Satyadharma itu sungguh tak dapat disangkal kebenarannya. Apakah itu berarti bahwa kita tidak boleh berduka kalau tertimpa musibah, misalnya kematian orang yang kita kasihi seperti sekarang ini, Puspa Dewi?"
Puspa Dewi tersenyum.
"Untung sekali, Paman Dharmaguna, dahulu saya pun bertanya seperti itu kepada Eyang Resi Satyadharma sehingga sekarang saya dapat menjawab pertanyaan Paman itu, sesuai dengan jawaban Eyang Resi waktu itu. Begini, Paman, menurut Eyang Resi, segala macam masalah, segala macam emosi, timbul dari nafsu-nafsu daya rendah yang menguasai pikiran, membentuk sang aku. Kita manusia tidak mungkin dapat membebaskan diri sendiri dari pengaruh nafsu. Adalah manusiawi kalau kita masih terkadang merasa bersuka atau berduka. Kita tidak mungkin mematikan nafsu. Akan tetapi kalau kita sudah mengerti bahwa suka dan duka hanya permainan sang aku dalam pikiran, maka kita tidak terlalu tenggelam dalam suka maupun duka. Kita tidak menjadi budak permainan segala nafsu daya rendah yang berada dalam diri kita sendiri."
"Wah, Puspa Dewi, kata-katamu mengingatkan aku akan ucapan anakku Nurseta. Pernah dia bicara senada dengan apa yang kau katakan tadi dan dia menekankan bahwa dalam segala keadaan, baik keadaan itu menguntungkan atau merugikan, menyenangkan atau menyusahkan, kita sepatutnya bersukur kepada Sang Hyang Widhi dan senantiasa mendasari semua perbuatan kita dengan penyerahan diri kepada Nya. Karena, menurut dia, hanya Sang Hyang Widhi yang mampu menundukkan nafsu-nafsu kita sehingga menjadi alat dan hamba kita, bukan memperalat dan memperhamba kita."
Puspa Dewi tersenyum dan mengangguk.
"Saya mengenal... Kakangmas Nurseta, Bibi Endang Sawitri, dan saya tahu bahwa dia memang seorang sakti mandraguna yang bijaksana."
Dengan adanya percakapan seperti itu, dua keluarga itu merasa terhibur dan tidak membiarkan diri terlalu disiksa perasaan sendiri karena kematian Senopati Sindukerta dan Tumenggung Jayatanu.

Sang Prabu Erlangga merasa prihatin sekali. Hatinya sedih melihat demikian banyaknya manusia terbantai, tewas dalam perang campuh itu. Dia bukan hanya menyedihi kematian banyak prajuritnya, melainkan juga kematian para prajurit kerajaan-kerajaan yang memusuhi Kahuripan dan melakukan penyerangan. Empu Kanwa yang dibantu Empu Bharada dapat mengurangi jumlah korban wabah penyakit dan berhasil menyingkirkan wabah itu. Akan tetapi wajah Sang Prabu Erlangga masih murung ketika dia mengadakan persidangan dengan para pembantunya. Yang hadir dalam persidangan itu adalah Ki Patih Narotama yang juga berwajah muram, Empu Bharada, Empu Kanwa, Senopati Wiradana, beberapa orang perwira tinggi dan tidak ketinggalan Bancak dan Doyok, dua orang abdi kinasih (hamba tersayang) Sang Prabu Erlangga. Setelah mendengar laporan lengkap tentang keadaan kota raja sehabis perang, Sang Prabu Erlangga lalu minta nasihat Empu Bharada yang dianggap sebagai pinisepuh (tua-tua) dan penasihat, apa yang sebaiknya harus dilakukan pemerintahannya.
"Paman Empu, kami sungguh merasa ragu apa yang harus kita lakukan terhadap empat kerajaan yang selalu memusuhi kita, bahkan telah memusuhi nenek moyang kita sejak jaman Mataram dahulu."
"Puteranda Kanjeng Sinuwun, sebetulnya sudah berulang-ulang Paduka melakukan pendekatan dalam usaha untuk mengajak mereka hidup damai, bahkan Paduka sudah bertindak demikian jauh bersama Ki Patih Narotama mengawini puteri-puteri Wura-Wuri. Akan tetapi semua itu gagal karena memang pada dasarnya mereka itu menaruh dendam kebencian kepada Paduka dan Kerajaan Kahuripan. Sudah beberapa kali mereka menggunakan kekerasan untuk menyerang dan membasmi Kahuripan, baik sendiri-sendiri maupun bergabung dengan pemberontak seperti yang dilakukan mereka beberapa tahun yang lalu. Berkali-kali mereka dipukul mundur, akan tetapi mereka bahkan semakin nekat dan yang terakhir ini mereka bergabung dan menyerang sehingga biarpun mereka berhasil dipukul mundur, namun perang itu menewaskan ribuan orang manusia. Kalau dibiarkan lebih lanjut, saya kita mereka tidak akan pernah merasa jera dan kalau mereka sudah dapat menyusun kembali kekuatan mereka, tentu mereka akan melakukan kekacauan dan penyerangan lagi. Oleh karena itu, sekaranglah saatnya Paduka bertindak, Sinuwun. Selagi mereka masih rapuh karena kekalahan mereka, sebelum mereka dapat bersatu kembali, Paduka kirim bala tentara untuk menyerang dan menundukan mereka satu demi satu. Mereka sedang dalam keadaan lemah, tentu tidak dapat melawan dengan gigih sehingga Paduka dapat menaklukkan mereka satu demi satu tanpa harus banyak menjatuhkan korban. Kalau mereka sudah ditundukkan dan ditaklukkan, tentu keadaan menjadi aman dan tidak akan terjadi bentrokan lagi. Demikianlah, Sinuwun, yang dapat saya usulkan."
"Terima kasih, Paman Empu Bharada. Bagaimana pendapat Andika sekalian, para senopati dan perwira?"
Para senopati dan perwira mengangguk-angguk menyatakan persetujuan mereka dan Senopati Wiradana yang tertua di antara para panglima, mewakili mereka dan berkata,
"Usul itu sungguh tepat dan baik sekali, Gusti Sinuwun. Hamba kira kami semua menyetujui karena hal itu merupakan jalan terbaik."
Melihat Ki Patih Narotama hanya menundukkan muka dan diam saja, Sang Prabu Erlangga bertanya,
"Bagaimana menurut pendapatmu, Kakang Patih Narotama?"
Narotama mengangkat mukanya yang agak pucat dan muram karena selama beberapa malam ini dia tidak dapat tidur.
"Gusti Sinuwun, apa yang diusulkan Paman Empu Bharada sungguh baik dan tepat sekali, akan tetapi kalau sekiranya Paduka mengijinkan, hamba mohon agar penyerangan ditunda beberapa hari lamanya untuk memberi kesempatan kepada hamba mencari dan menyelamatkan anak hamba Joko Pekik Satiabudhi. Kalau sekarang Paduka mengerahkan pasukan menyerang, hamba khawatir mereka akan membunuh Joko Pekik."
Sang Prabu Erlangga menghela napas panjang dan mengerutkan alisnya,
"Aduh, maafkan kami, Kakang Patih! Kami terlalu prihatin melihat keadaan negara sehingga sampai lupa akan penderitaan kehilangan puteramu Joko Pekik Satyabudhi. Tentu saja, Kakang Patih, tentu saja kami akan menunda penyerangan itu dan memberi kesempatan kepada Andika untuk menemukan kembali Joko Pekik!"
"Beribu terima kasih hamba haturkan kepada Paduka, Gusti, dan mohon beribu ampun bahwa hamba seolah lebih mementingkan urusan pribadi daripada urusan negara."
"Ah, tidak, Kakang. Andika tidak salah. Memang seharusnya Joko Pekik diselamatkan lebih dulu, baru kita mengadakan serangan dan gerakan pembersihan agar mereka tidak mengganggu kita lagi."
"Terima kasih, Gusti Hamba akan mencari Joko Pekik dan juga akan menyelidiki siapa yang telah mencuri Pusaka Cupu Manik Maya. Hamba mohon ijin berangkat hari ini juga, Gusti."
"Baiklah, Kakang Patih. Berangkatlah dan doaku mengikutimu. Yang penting selamatkan dulu Joko Pekik. Soal Cupu Manik Maya dapat dicari kemudian."
Ki Patih Narotama memberi hormat dan pamit pula pada para senopati yang hadir di situ, mohon doa restu dari Empu Bharada dan Empu Kanwa. Kemudian dia meninggalkan istana. Diantar tangis Listyarini yang merasa amat gelisah memikirkan puteranya yang hilang diculik orang, Ki Patih Narotama berangkat meninggalkan Kahuripan. Seperti biasa, kalau sedang melakukan perjalanan, apalagi untuk urusan pribadi, Narotama lebih suka berpakaian seperti seorang penduduk biasa. Dia menunggang seekor kuda lalu membalapkan kudanya, langsung saja dia menuju ke Kerajaan Parang Siluman karena dia menduga bahwa puteranya pasti diculik oleh Lasmini, atau setidaknya Lasmini berada di belakang peristiwa penculikan itu. Yang masih membesarkan hatinya adalah bahwa puteranya itu hilang diculik. Itu berarti bahwa Joko Pekik tidak dibunuh dan masih hidup. Kalau si penculik ingin membunuhnya, tentu sudah dilakukannya malam itu. Untuk apa susah-susah menculiknya kalau hanya untuk dibunuh? Dugaan ini membesarkan hatinya dan menimbukan keyakinan bahwa puteranya itu tentu masih hidup! Dengan melakukan perjalanan cepat siang malam, hanya berhenti kalau kudanya sudah terlalu lelah, pada suatu hari Ki Patih Narotama telah tiba ditapal batas Kerajaan Parang Siluman. Sudah beberapa kali dia berkunjung ke tempat tinggal Lasmini, bekas selirnya tercinta itu, maka dia sudah hafal dan mengenal jalan. Setelah tiba di tapai batas, dia langsung saja menuju ke kota Kadipaten.

<<< Bagian 63                                                                                         Bagian 65 >>>

No comments:

Post a Comment