Penduduk Parang Siluman yang bertemu dengan Narotama di tengah jalan sama sekali tidak mempedulikannya karena mereka tidak mengenalnya dan menganggap dia seorang penduduk biasa. Rakyat Parang Siluman hanya mengenal nama Ki Patih Narotama, jarang ada yang pernah melihat orangnya. Akan tetapi, begitu ada prajurit melihat dan mengenalnya, berita tentang munculnya Ki Patih Narotama di Parang Siluman tersiar luas dan tentu saja menimbulkan kegemparan. Tidak ada prajurit berani menghadang atau mengganggunya. Ketika berita itu memasuki istana Parang Siluman, Ratu Durgamala segera mengadakan perundingan dengan kedua orang puterinya, Lasmini dan Mandari, dihadiri pula oleh Ki Nagakumala dan beberapa orang senopati Parang Siluman.
Sang Ratu
Durgamala yang masih merasa berduka dan marah karena kegagalan usaha gabungan
empat kerajaan untuk menjatuhkan Kahuripan, bahkan Parang Siluman kehilangan
Bhagawan Kundolomuko, bekas suaminya yang merupakan orang andalan di Parang
Siluman, dan kehilangan ribuan orang perajurit, ketika mendengar berita bahwa
Ki Patih Narotama datang seorang diri di Parang Siluman, lalu berkata dengan
muka merah dan kedua tangan terkepal.
"Kita
kerahkan seluruh tenaga dan bunuh Si Keparat Narotama itu! Kita kepung dia,
jangan sampai lolos! Mustahil dia akan mampu mengalahkan pengeroyokan ribuan
orang prajurit!"
"Nanti
dulu, Kanjeng Ibu!" kata Lasmini.
"Saya
mempunyai gagasan yang lebih baik. Ki Patih Narotama adalah seorang yang sakti
mandraguna. Kalau kita menggunakan kekerasan, mungkin dia akan dapat dibunuh,
akan tetapi tentu akan banyak sekali orang kita yang terbunuh oleh amukannya.
Pula, kalau dia mati, apa gunanya bagi kita? Kahuripan akan tetap berdiri
kokoh."
"Wah,
Mbakayu Lasmini agaknya masih cinta dan sayang kepada Ki Patih Narotama maka
hendak menghalangi kalau dia dibunuh!" kata Mandari.
"Hemm,
dia memang seorang pria yang patut digandrungi setiap orang wanita. Akan tetapi
bukan itu maksudku. Daripada mengeroyok dan membunuhnya dengan mengorbankan
banyak orang kita, lebih baik kita manfaatkan Ki Patih Narotama untuk menjamin
keselamatan Parang Siluman."
“Menjamin
keselamatan kita? Apa maksudmu, Lasmini?" tanya Ratu Durgakumala.
"Begini,
Kanjeng Ibu. Seperti sudah saya ceritakan, saya dan bibi Dewi Durgakumala
berhasil menculik putera Ki patih Narotarna, yaitu Joko Pekik Satyabudhi yang
kini dibawa ke Wura-Wuri oleh Kanjeng Bibi Durgakumala. Tadinya saya hendak
membunuh anak itu, akan tetapi Kanjeng Bibi Dewi Durgakumala melarang dan
mengatakan bahwa lebih baik anak itu dijadikan sandera, dan anak itu lalu
dibawanya ke Wura-Wuri. Sekarang, siasatnya itu benar dan dapat kita pergunakan
untuk menundukkan Ki Patih Narotarna.
"Bagaimana
siasat itu?" Ratu Durgamala bertanya tertarik.
"Ki Patih
Narotarna datang seorang diri ke sini tentu ada hubungannya dengar kehilangan
puteranya. Mungkin dia dapat menduga bahwa saya yang menculik Joko Pekik
Satyabudhi, maka dia datang ke sini untuk minta kembali puteranya. Nah kalau
dia datang, saya akan mengancam untuk membunuh Joko Pekik kalau dia membuat
ulah. Saya akan memaksa dia berjanji untuk melindungi Parang Siluman dari
serangan Kahuripan dengan imbalan puteranya tidak akan kita bunuh dan kelak
kita kembalikan kepadanya. Nah bukankah gagasan ini jauh lebih menguntungkan
daripada membunuhnya dan kita kehilangan banyak sekali prajurit, bahkan ada bahayanya dia akan dapat
meloloskan diri? Ingat, Kanjeng Ibu, Ki Patih Narotarna itu sakti mandraguna
dan memiliki Aji Panglimunan yang membuat dia mudah meloloskan diri."
Semua orang
tertegun mendengar gagasan yang dikemukakan Lasmini itu. Mereka tahu bahwa Aji
Panglimunan membuat orang dapat menghilang dan mudah untuk melarikan diri.
Kalau Bhagawan Kundolomuko masih ada, mungkin pendeta itu dapat membuyarkan Aji
Panglimunan itu. Akan tetapi dia sudah tidak ada dan kalau benar Ki Patih
Narotarna mempergunakan ajian itu, akan sulitlah bagi mereka untuk dapat
menangkapnya atau membunuhnya.
"Apa yang
dikemukakan Ni Lasmini itu benar sekali." Kata Ki Nagakumala, kakak dari
Ratu Durgamala.
"Kukira,
setelah usaha serangan kita bersama tiga kerajaan lain terhadap Kahuripan
gagal, Sang Prabu Erlangga pasti tidak akan tinggal diam dan akan mengirim
pasukannya untuk menyerang balik dan menundukkan kita. Dengan bergabung saja
kita tidak mampu mengalahkan Kahuripan, apalagi kalau pasukan Kahuripan
menyerbu ke sini, bagaimana mungkin kita akan dapat mempertahankan diri? Maka,
gagasan Ni Lasmini tadi tepat sekali. Kita ancam Ki Patih Narotarna bahwa kalau
dia mengamuk dan tidak mau menjamin agar Kahuripan tidak menyerang dan
menaklukkan Parang Siluman, kita akan bunuh puteranya itu!"
Ratu Durgamala
mengangguk-angguk.
"Agaknya
memang itu merupakan siasat terbaik, Kakang Nagakumala. Akan tetapi siapa yang
akan menghadapi Ki Patih Narotama dan bicara dengan dia? Dia berbahaya sekali,
tangan dan kakinya dapat menyebar maut yang mengerikan!"
"Jangan
khawatir, Kanjeng Ibu. Saya yang akan menghadapi dan bicara dengannya. Saya yakin
bahwa Ki Patih Narotama tidak akan tega membunuh saya. Saya yakin dia masih
mempunyai perasaan sayang kepada saya."
Demikianlah,
rapat kilat itu memutuskan agar Lasmini yang akan menghadapi Ki Patih Narotama,
sementara itu yang lain akan mempersiapkan diri, menyiapkan pula pasukan, untuk
mengepung dan mengeroyok kalau Ki Patih Narotama yang ditakuti itu akan
mengamuk. Sementara itu, Lasmini minta bantuan uwanya, juga gurunya, Ki
Nagakumala untuk mengambil dan "meminjam" Joko Pekik Satyabudhi.
Menurut persetujuan antara Lasmini dan Permaisuri Wura-Wuri, Dewi Durgakumala,
putera Ki Patih Narotama itu disembunyikan disebuah tempat, yaitu di dalam
Dusun Ketanggungan yang terletak di perbatasan utara Kerajaan Parang Siluman
dan Kerajaan Wura-Wuri, dalam asuhan seorang biyung emban (inang pengasuh) yang
setia dan dipercaya dari Kerajaan Wura-Wuri, dan dijaga oleh dua orang perwira
dan diawasi oleh Senopati Gandarwo sendiri yang kadang-kadang datang ke Dusun
Ketanggungan untuk melihat keadaan anak itu. Ki Nagakumala lalu cepat berangkat
ke Dusun Ketanggungan untuk "meminjam" anak itu agar dapat
dipergunakan untuk mengancam dan memaksa Ki Patih Narotama menurut keinginan
Lasmini.
Saat yang
ditunggu-tunggu dengan jantung berdebar penuh ketegangan oleh para pimpinan
Parang Siluman itu akhirnya tiba. Pagi hari itu udara amat cerah, matahari
bersinar lembut dan terang. Derap kaki seekor kuda memecah kesunyian di halaman
istana Parang Siluman yang berupa sebuah alun-alun yang luas itu. Narotama
menjalankan kudanya dengan congklang, melintasi alun-alun menuju ke istana. Di
depan istana, Narotama melompat turun dari atas pelana kudanya dan menambatkan
kendali kuda pada sebatang pohon sawo kecik yang tumbuh di situ. Dia tidak
heran melihat suasana lengang di depan Istana. Dia dapat menduga bahwa tentu
Lasmini dan para pimpinan Parang Siluman sudah tahu akan kedatangannya dan
sudah siap menyambutnya, entah dengan cara bagaimana. Kesepian alun-alun dan
halaman kraton (istana) itu tentu merupakan siasat mereka, pikirnya. Kalau
belum diatur sebelumnya, tidak mungkin istana tidak dijaga seorang pun
prajurit! Perasaannya yang peka, pendengaran dan penglihatannya yang tajam
membuat dia tahu bahwa sekeliling tempat itu sudah terkepung banyak sekali
orang yang masih bersembunyi! Maka setelah menambatkan kudanya, Narotama
melangkah ke depan pendapa istana Parang Siluman, lalu mengerahkan tenaga
saktinya berseru sehingga suaranya melengking nyaring sekali sampai dapat
terdengar dari seluruh bagian dalam istana itu!
"Haiii!
Para penguasa di Parang Siluman! Keluarlah, tidak perlu sembunyi. Aku,
Narotarma, ingin bicara dengan Andika sekalian!"
Dari dalam
istana muncullah Ni Lasmini yang cantik jelita. Wanita ini mengenakan pakaian
baru dengan perhiasan yang serba indah, wajahnya segar dan rambutnya disisir
dan digelung rapi, wajahnya dirias sehingga tampak cantik berseri seperti
seorang mempelai wanita hendak menyambut suaminya, sang mempelai pria!
Langkahnya
seperti harimau kelaparan, dengan lenggang lenggok lemah gemulai dan lentur
seperti menari. Sedetik muncul perasaan rikuh juga dalam hati Narotama karena
dia sendiri berpakaian seperti seorang dusun. Harus diakui bahwa wanita yang
berwajah amat jelita dengan tubuh yang indah menggairahkan itu memiliki daya
tarik yang luar biasa dan begitu dia mengenangkan kehidupan antara mereka
dahulu, bangkit gairah berahinya. Akan tetapi segera dia dapat menekannya dan
menatap wanita yang melangkah maju dengan senyum manis itu dengan tenang.
Setelah tiba
di depan Narotama, dalam jarak sekitar tiga tombak, di luar pendapa istana,
masih di halaman, Lasmini mengangkat tangan kirinya ke atas dan Narotama
mendengar gerakan orang-orang di sekitarnya. Ketika dia menoleh tampaklah
banyak sekali prajurit telah mengepung tempat itu, siap dengan senjata lengkap.
Mungkin tidak kurang dari seribu orang yang berlapis-lapis mengepung alun-alun
kraton Parang Siluman itu!
Narotama
tersenyum.
"Hemm,
Lasmini, apa maumu dengan penyambutan seperti ini? Apa kau kira aku akan gentar
menghadapi pengepungan semacam ini?"
Lasmini
tersenyum manis.
"Kakangmas
Narotama, ingatlah bahwa sekarang kita berhadapan sebagai pemilik rumah dan
tamunya. Aku pemilik rumah dan engkau tamunya. Sebaiknya pertanyaanmu itu
dikembalikan kepadamu. Apa maumu datang berkunjung ke sini?"
"Lasmini,
sebenarnya, tanpa bertanyapun engkau pasti sudah tahu apa mauku datang
berkunjung ke sini. Akan tetapi karena engkau bertanya, baiklah aku akan
menjawab. Engkau telah menculik puteraku, Joko Pekik Satyabudhi. Anak kecil
berusia satu setengah tahun itu tidak tahu apa-apa, tidak bersalah apapun
terhadap dirimu, dan tidak ada sangkut pautnya dengan urusan permusuhan antara
kerajaan! Aku datang untuk minta kepadamu dan para penguasa di Parang Siluman.
Kembalikanlah puteraku Joko Pekik Satyabudhi kepadaku!"
Lasmini yang
cerdik merasa tidak perlu lagi menyangkal.
"Kakangmas
Narotama, bagaimana kalau tidak kami kembalikan?"
Sepasang alis
itu berkerut, sepasang mata mencorong mengeluarkan cahaya berkilat. Suaranya
terdengar menggetar ketika Narotarna berkata.
"Kalau sampai
puteraku dibunuh...!"
Dia lalu
mengeluarkan suara gerengan yang demikian dahsyatnya sehingga mengguncang
seluruh istana Parang Siluman, bahkan banyak prajurlt yang berdiri paling depan
terpelanting. Lasmini sendiri melangkah mundur beberapa kali karena tidak tahan
menghadapi getaran teriakan itu. Narotama menghentikan gerengannya dan berkata.
"Kalau
Joko Pekik Satyabudhi dibunuh, aku bersumpah akan melumatkan seluruh Parang
Siluman, tidak ada yang kubiarkan hidup!!"
Wajah Lasmini
agak pucat. Belum pernah ia, selama menjadi selir terkasih patih itu, melihat
Narotama marah sehebat itu. Akan tetapi ia tersenyum manis.
"Kakangmas
Narotama, siapa yang tega membunuh puteramu yang mungil itu? Jangan khawatir,
Kakangmas, Joko Pekik Satyabudhi berada dalam keadaan sehat dan terawat
baik-baik." Kemudian suara Lasmini berubah, ketus dan penuh ancaman.
"Akan
tetapi, kalau engkau membuat ulah dan tidak mau memenuhi syarat yang kami
ajukan, kami pasti akan membunuhnya sebelum engkau sempat melakukan
sesuatu!"
Narotama
mengenal benar siapa Lasmini. Wanita cantik jelita dengan daya tarik yang dapat
meluluhkan hati setiap orang pria ini amat cerdik dan dia tahu bahwa dalam
keadaan seperti itu, Lasmini pasti tidak akan berani mengeluarkan gertakan
kosong belaka.
"Buktikan
dulu bahwa dia berada dalam keadaan baik-baik dan sehat, baru kita
bicara." katanya tegas.
Lasmini
mengangguk dan tersenyum, lalu menoleh ke belakang, ke arah menara di atas
pintu gerbang pendapa dan memberi isyarat dengan lambaian tangan. Karena memang
sudah diatur sebelumnya, ketika Narotama memandang ke arah menara, tampak
muncul seorang biyung emban memondong seorang anak laki-laki berusia satu
setengah tahun, didampingi oleh seorang kakek berusia lima puluhan tahun,
berkumis lebat melintang dan bersikap gagah.
Narotama
mengenal anak itu yang bukan lain adalah puteranya, Joko Pekik Satyabudhi, dan
mengenal pula kakek itu yang terkenal sakti, yaitu Ki Nagakumala, uwa dan juga
guru Lasmini dan Mandari. Ki Nagakumala berbisik kepada biyung emban yang mengangkat
anak itu ke atas dan menuding ke bawah.
Joko Pekik
Satyabudhi baru berusia satu setengah tahun, melihat banyak orang di bawah
menara dia jadi gembira, tertawa-tawa dan melambaikan tangan. Melihat ini,
jantung Narotarna seperti ditusuk, akan tetapi dia menenangkan diri. Sudah
terbukti bahwa puteranya memang berada dalam keadaan sehat, bahkan dari sikap
anak yang tertawa-tawa itu dia tahu bahwa puteranya diperlakukan dengan baik.
Dia pun tahu bahva tidak ada gunanya kalau dia mencoba untuk merampas anak itu.
Sebelum ia melakukan sesuatu, Ki Nagakumala yang sakti itu tentu akan dengan
mudah lebih dulu membunuh Joko Pekik!
No comments:
Post a Comment