Setelah memberi kesempatan ayah itu melihat keadaan anaknya, Lasmini memberi isyarat dengan tangannya ke atas dan Ki Nagakumala mengiringkan biyung emban yang memondong Joko Pekik itu menghilang lagi ke dalam menara.
"Nah,
Kakangmas Narotarna, engkau lihat sendiri bahwa aku tidak berbohong. Puteramu
berada dalam keadaan baik-baik dan sehat. Kami akan merawatnya dengan baik
selama engkau memenuhi persyaratan kami."
"Katakan
apa syaratmu!" kata Ki Patih Narotama singkat.
"Akan
tetapi awas jangan minta aku berkhianat dan memusuhi Sang Prabu Erlangga! Aku
rela mengorbankan anakku dan diriku untuk membelanya, dan anakku akan mati
bersama kalian semua. Tidak ada seorang pun dari kalian akan terlepas dari
pembalasan kalau kalian membunuh anakku!"
"Tenang
dan sabarlah, Kakangmas Narotama yang ganteng! Kami hanya minta agar engkau
menjamin bahwa Kahuripan tidak akan menyerang dan menaklukkan Parang Siluman.
Kalau sampai kami diserang Kahuripan, terpaksa anakmu akan kami bunuh dan
menghadapi segala akibatnya."
"Hemm,
bagaimana kalau aku dapat mengusahakan agar Parang Siluman tidak sampai
diserang oleh Kahuripan?"
"Kami
akan merawat Joko Pekik secara baik-baik dan menjamin keselamatannyal"
"Lasmini,
aku sudah mengenal kelicikanmu! Janjimu tidak dapat kupercaya. Sampai kapan
engkau akan menahan anakku?"
"Begini,
Kakangmas Narotarna! Engkau boleh tidak percaya padaku, akan tetapi aku percaya
padamu. Karena itu, untuk sementara kami akan merawat puteramu Joko Pekik dan
selama Kahuripan tidak menyerang Parang Siluman, puteramu dijamin
keselamatannya. Setelah lewat lima tahun dan Kahuripan sama kali tidak
mengganggu kami, Joko Pekik Satyabudhi akan kami kembalikan kepadamu dalam
keadaan sehat dan selamat. Sekarang terserah kepadamu keputusan apa yang kau
pilih. Puteramu selamat dan kami pun selamat, atau kita sama-sama hancur binasa
berikut puteramu!"
Narotarna
menghela napas panjang. Terbayang olehnya betapa akan hancur hati Listyarini
kalau sampai putera mereka itu terbunuh! Dan bagaimanapun juga, dia masih
sangsi apakah dia benar-benar akan tega mengamuk dan membunuhi semua orang di
Parang Siluman. Dia merasa kaki tangannya diikat oleh Lasmini yang cerdik itu. Bagaimanapun
juga Lasmini ternyata dapat menyelami hatinya dan tidak minta agar dia memusuhi
Sang Prabu Erlangga, hal yang tidak mungkin dia lakukan, biarpun harus
berkorban segalanya.
"Baiklah,
Lasmini, kita lihat saja siapa di antara kita yang melanggar janji. Akan tetapi
tentu saja Parang Siluman juga tidak boleh mengacau dan mengganggu daerah
Kahuripan lagi."
"Tentu
saja, Kakangmas."
"Awas
orang-orang Parang Siluman pegang janjimu dan jangan ganggu puteraku Joko Pekik
Satyabudhi!" Narotama berteriak lantang, dan tiba-tiba tubuhnya lenyap,
menjadi kabut karena dia telah mengerahkan Aji Panglimunan! Tentu saja Lasmini
cepat memberi isyarat kepada semua orang untuk waspada dan terutama sekali Ki
Nagakumala menjaga Joko Pekik dengan ketat dan berlapis agar jangan sampai
kecolongan oleh Narotama. Akan tetapi, Narotama adalah seorang satria yang
teguh memegang janjinya. Bagi dia, melanggar janji berarti menghancurkan
kehormatan diri dan merupakan pantangan yang hina baginya. Dia pulang dan
menceritakan semua pengalamannya kepada Llstyarini, lalu menghibur isterinya
tercinta itu.
"Tenang
dan bersabarlah, Diajeng. Percayalah bahwa Sang Hyang Widhi akan selalu
Melindungi anak kita dan nanti pasti ada jalan untuk mengembalikan Joko Pekik
ke pangkuanmu tanpa harus melanggar janjiku kepada Parang Siluman."
Setelah menghibur isterinya, Ki Patih Narotama lalu menghadap Sang Prabu
Erlangga.
"Bagaimana
hasil pencarianmu, Kakang Patih Narotama? Sudahkah Andika berhasil menemukan
puteramu?"
Narotama
mengangguk dan menyembah.
"Mendapat
pangestu (restu) Paduka, hamba telah melihat Joko Pekik dan dia berada dalam
keadaan sehat dan selamat di Parang Siluman, Sinuwun."
"Tapi,
mengapa tidak Andika bawa pulang?"
"Belum
bisa, Sinuwun, Anak itu dijaga ketat sehingga belum mungkin dapat hamba rebut
kembali. Akan tetapi setidaknya, dia berada dalam keadaan selamat." Kata
Narotarna. Dia merasa malu untuk menceritakan tentang ikatan janjinya dengan
Lasmini. Inilah kesalahan besar yang sama sekali tidak disadari Narotarna.
Perasaan malunya untuk mengaku kepada Sang Prahu Erlangga tentang perjanjiannya
dengan Lasmin menempatkan dia dalam keadaan yang akan menyulitkan.
"Kalau
begitu, bagaimana dengan rencana penyerbuan kita, Kakang Patih?"
"Sebaiknya
dilaksanakan sekarang sebelum mereka sempat memperkuat diri, Sinuwun."
kata Narotama dan para senopati yang hadir di situ menyatakan setuju.
"Baiklah,
kalau begitu, kami menyerahkan kekuasaan kepada Andika, Kakang Patih, untuk
memimpin para senopati, perwira, dan pasukan untuk menyerang dan menaklukkan
mereka agar lain kali mereka tidak akan berani mengganggu kita lagi. Nah,
buatlah persiapan secukupnya dan segera berangkat!"
Lega juga hati
Narotarna ketika dia diserahi kekuasaan untuk memimpin penyerangan karena
dengan demikian, tentu saja dia dapat melewati Parang Siluman atau setidaknya
menunda niat penyerangan Kahuripan ke Parang Siluman. Setelah mempersiapkan
pasukan yang cukup besar, Ki Patih Narotama mengundang para senopati dan
perwira bawahannya dan memberitahu bahwa yang pertama kali mereka serang adalah
Kerajaan Wura-Wuri.
"Wura-Wuri
merupakan lawan yang cukup kuat dan kerajaan ini yang terdekat, maka akan kita
serbu lebih dulu. Puspa Dewi, karena engkau lebih mengenal daerah Wura-Wuri,
maka engkau kami angkat menjadi pemimpin pasukan pelopor yang terdiri dari
seribu orang prajurit. Tugasmu adalah melakukan pendobrakan pertama,
menyelidiki keadaan musuh dan membuka jalan bagi pasukan besar. Ingat, dan juga
para senopati dan perwira harus ingat betul bahwa tugas kita semua seperti yang
ditekankan Gusti Sinuwun bukanlah untuk merusak atau membunuh, melainkan hanya
menaklukkan. Maka, dilarang keras untuk sembarangan membunuh, kecuali kalau
membela diri, dilarang keras mengambil barang berharga penduduk Wura-Wuri, dan
dilarang keras menyiksa dan mengganggu wanita. Siapa yang melanggar akan
mendapat hukuman keras, sebaliknya yang menaati perintah dan melaksanakan
dengan baik, tentu akan memperoleh ganjaran dari Gusti Sinuwun."
Demikianlah,
setelah membagi-bagi tugas, tiga hari kemudian Ki Patih Narotama memimpin
pasukan Kahuripan menuju ke Wura-Wuri. Seperti juga keadaan di Parang Siluman
dan dua kerajaan yang lain, para pimpinan Kerajaan Wura-Wuri juga mengalami
kedukaan dan kekecewaan karena dalam perang melawan Kahuripan itu mereka
menderita kekalahan besar. Tiga orang senopati andalan mereka, yaitu Tri Kala
yang terdiri dari Kala Muka, Kala Manik, dan Kala Teja, telah tewas dalam
pertempuran. Juga mereka kehilangan ribuan orang perajurit. Pimpinan tertinggi
di Wura-Wuri adalah Adipati Bhismaprabhawa, permaisurinya yaitu Nyi Dewi
Durgakumala, dan Senopati Muda Ki Gandarwo. Setelah menderita kekalahan,
kehilangan Tri Kala, Adipati Bhismaprabhawa lalu mengutus Ki Gandarwo untuk
mengundang orang pandai agar dapat menggantikan tiga orang Tri Kala yang tewas,
dan memperkuat Wura-Wuri. Ki Gandarwo segera mengundang lagi kakak
seperguruannya, yaitu Cekel Aksomolo. Dahulu, Cekel Aksomolo juga pernah
membantu Wura-Wuri melalui Ki Gandarwo, akan tetapi dia lalu kembali ke tempat
pertapaannya, yaitu di Hutan Werdo, lereng Gunung Wilis. Ketika didatangi Ki
Gandarwo, Cekel Aksomolo yang berusia sekitar tiga puluh satu tahun itu
menerima undangan Adipati Wura-Wuri dan dia pun ikut bersama Ki Gandarwo
menghadap Adipati Wura-Wuri. Cekel Aksomolo yang sakti dan cerdik itu diterima
dengan gembira dan hormat oleh Adipati Bhismaprabhawa dan karena Sang Adipati
sudah mengetahui kesenangan Cekel Aksomolo, maka pertapa muda ini lalu diberi
sebuah rumah mungil indah dan mewah. Dan tidak lupa, Adipati Bhismaprabhawa
menyediakan beberapa orang pemuda perjaka remaja yang tampan wajahnya untuk
melayaninya. Pertapa muda yang tinggi kurus bongkok, mukanya seperti Pendeta
Durna, dan suaranya tinggi kecil seperti suara wanita ini mempunyai watak yang
aneh. Dia sama sekali tidak suka kepada wanita, akan tetapi dia suka sekali
kepada pemuda-pemuda remaja yang ganteng yang dia jadikan kekasihnya! Pada
suatu pagi, Adipati Bhismaprabhawa mengadakan persidangan dengan isterinya, Nyi
Dewi Durgakumala dan para pembantunya, yaitu Ki Gandarwo, Cekel Aksomolo, dan
beberapa orang perwira pembantu. Dalam rapat ini, Adipati Bhismaprabhawa
menyatakan kekhawatirannya bahwa Kahuripan tentu akan melakukan serangan
balasan ke Wura-Wuri, padahal Wura-Wuri baru saja mengalami kekalahan, banyak
prajurit tewas dan sisa para prajurit menurun semangatnya karena kekalahan itu.
"Kalau
Kahuripan menyerang selagi kita berada dalam keadaan lemah seperti sekarang
ini, tentu akan berbahaya sekail." Sang Adipati menyatakan
kekhawatirannya.
"Hi-hik-he-he-he!"
Cekel Aksomolo terkekeh genit lalu berkata dengan suaranya yang seperti wanita.
"Gusti
Adipati mengapa mengkhawatirkan hal itu? Harap Paduka tenang! Kalau Kahuripan
berani menyerang ke sini... ah, hal itu kecil saja! Ada saya, Cekel Aksomolo di
sini, dan tangan kakiku, kalau perlu tasbeh dan ganitri (biji tasbeh) saya ini
tentu akan membinasakan dan mengusir mereka! Heh-he-he-he!"
Mendengar
ucapan yang sombong ini, hati Adipati Bhismaprabhawa bukan menjadi tenang,
bahkan dia semakin gelisah. Dia tahu bahwa Cekel Aksomolo memang sakti, akan
tetapi kalau sikapnya demikian takaburnya, Sang Adipati meragukan kemampuannya.
Melihat
suaminya tampak gelisah, Nyi Dewi Durgakumala berkata dengan nada suara
menghibur.
"Kakangmas
Adipati. Paduka tenanglah. Saya telah memiliki senjata yang ampuh untuk
menghadapi Kahuripan. Kalau pasukan Kahuripan menyerang, biasanya yang menjadi
Manggala (Pemimpin) Agung tentu Ki Patih Narotama. Paduka tahu bahwa saya dan
Ni Lasmini telah berhasil menculik putera Ki Patih Narotama. Dengan adanya puteranya
di tangan kita, maka Ki patih Narotama tentu tidak berani menyerang kita. Kita
pergunakan anak itu sebagai sandera untuk memaksa Ki Patih Narotama menarik
mundur pasukannya dan selanjutnya tidak akan mengganggu kita lagi."
Adipati
Bhismaprabhawa mengangguki-angguk, lalu mengerutkan alisnya.
"Pendapatmu
itu benar, Diajeng. Akan tetapi bagaimana kalau yang menjadi Manggala Perang
bukan Ki Patih Narotama, melainan Sang Prabu Erlangga sendiri?"
Nyi Dewi
Durgakumala menggeleng kepalanya.
"Rasanya
tidak mungkin Sang Prabu Erlangga memimpin sendiri pasukannya. Biasanya dia
tentu mewakilkannya kepada Ki Patih Narotama. Akan tetapi, andaikata Sang Prabu
Erlangga sendiri yang memimpin, tetap saja kita dapat menggunakan Joko Pekik
Satyabudhi itu sebagal sandera. Sang Prabu Erlangga amat menyayang dan
menghormati Ki Patih Narotarna. Mereka berdua itu tunggal guru dan seperti
saudara saja. Tentu dia tidak akan tega mengorbankan putera Ki Patih
Narotarna."
"Akan
tetapi anak itu sekarang tidak berada di sini. Bukankah tempo hari andika
melaporkan bahwa anak itu dipinjam oleh Kerajaan Parang Siluman?" tanya
Sang Adipati.
"Benar,
Kakangmas. Saya dan Ni Lasmini bersepakat untuk menyembunyikan anak itu di
suatu tempat yang tersembunyi dan aman, di perbatasan. Tempo hari Lasmini
utusan Ki Nagakumala untuk meminjam dan mengambil Joko Pekik Satyabudhi."
"Kalau
begitu sebaiknya kita mengutus orang untuk mengambilnya kembali dan agar untuk
semenara anak itu berada di sini sehingga kalau sewaktu-waktu pasukan Kahuripan
menyerang, kita dapat mempergunakan anak itu sebagai perisai!"
Nyi Dewi
Durgakumala mengangguk dan tersenyum, lalu memandang kepada Ki Gandarwo.
"Senopati
Gandarwo, Andika berangkatlah ke Kerajaan Parang Siluman, bawalah pesanku
kepada Sang Ratu Durgamala dan kedua Puteri Lasmini dan Mandari, juga Ki
Nagakumala, bahwa kami di sini membutuhkan kehadiran Joko Pekik Setyabudhi
putera Ki Patih Narotama. Bawalah anak itu ke sini dan bawa prajurit secukupnya
agar dapat mengawal anak itu sehingga dapat selamat sampai di sini."
Ki Gandarwo,
senopati muda tampan yang juga menjadi kekasih gelap Nyi Dewi Durgakumala,
matur sendika (menaati) dan segera berangkat bersama seregu pasukan ke Parang
Siluman. Akan tetapi, beberapa hari kemudian, Ki Gandarwo kembali melaporkan
bahwa Parang Siluman tidak dapat menyerahkan Joko Pekik Satyabudhi karena
mereka membutuhkan anak itu sendiri. Tentu saja Nyi Dewi Durgakumala menjadi
marah sekali.
"Keparat
Si Lasmini. Dulu ia hendak membunuh anak itu. Aku yang mempunyai gagasan agar
anak itu dijadikan sandera untuk kepentingan Wura-Wuri dan Parang Siluman! Akan
tetapi sekarang ia hendak menguasainya sendiri untuk kepentingan Parang
Siluman! Apa mereka mengira Wura-Wuri takut melawan Parang Siluman yang kecil?
Kita gempur saja dan minta anak itu dengan kekerasan!" Nyi Dewi
Durgakumala berseru marah. Dengan wajah merah Nyi Dewi Durgakumala sudah
bangkit dan hendak mengerahkan pasukan untuk menyerang Parang Siluman, untuk
merampas Joko Pekik yang ditahan di Parang Siluman. Akan tetapi suaminya cepat
bangkit, memegang pundaknya dan mengajaknya duduk kembali, berkata dengan
halus.
No comments:
Post a Comment