Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 66


Setelah memberi kesempatan ayah itu melihat keadaan anaknya, Lasmini memberi isyarat dengan tangannya ke atas dan Ki Nagakumala mengiringkan biyung emban yang memondong Joko Pekik itu menghilang lagi ke dalam menara.
"Nah, Kakangmas Narotarna, engkau lihat sendiri bahwa aku tidak berbohong. Puteramu berada dalam keadaan baik-baik dan sehat. Kami akan merawatnya dengan baik selama engkau memenuhi persyaratan kami."
"Katakan apa syaratmu!" kata Ki Patih Narotama singkat.
"Akan tetapi awas jangan minta aku berkhianat dan memusuhi Sang Prabu Erlangga! Aku rela mengorbankan anakku dan diriku untuk membelanya, dan anakku akan mati bersama kalian semua. Tidak ada seorang pun dari kalian akan terlepas dari pembalasan kalau kalian membunuh anakku!"
"Tenang dan sabarlah, Kakangmas Narotama yang ganteng! Kami hanya minta agar engkau menjamin bahwa Kahuripan tidak akan menyerang dan menaklukkan Parang Siluman. Kalau sampai kami diserang Kahuripan, terpaksa anakmu akan kami bunuh dan menghadapi segala akibatnya."
"Hemm, bagaimana kalau aku dapat mengusahakan agar Parang Siluman tidak sampai diserang oleh Kahuripan?"
"Kami akan merawat Joko Pekik secara baik-baik dan menjamin keselamatannyal"
"Lasmini, aku sudah mengenal kelicikanmu! Janjimu tidak dapat kupercaya. Sampai kapan engkau akan menahan anakku?"
"Begini, Kakangmas Narotarna! Engkau boleh tidak percaya padaku, akan tetapi aku percaya padamu. Karena itu, untuk sementara kami akan merawat puteramu Joko Pekik dan selama Kahuripan tidak menyerang Parang Siluman, puteramu dijamin keselamatannya. Setelah lewat lima tahun dan Kahuripan sama kali tidak mengganggu kami, Joko Pekik Satyabudhi akan kami kembalikan kepadamu dalam keadaan sehat dan selamat. Sekarang terserah kepadamu keputusan apa yang kau pilih. Puteramu selamat dan kami pun selamat, atau kita sama-sama hancur binasa berikut puteramu!"

Narotarna menghela napas panjang. Terbayang olehnya betapa akan hancur hati Listyarini kalau sampai putera mereka itu terbunuh! Dan bagaimanapun juga, dia masih sangsi apakah dia benar-benar akan tega mengamuk dan membunuhi semua orang di Parang Siluman. Dia merasa kaki tangannya diikat oleh Lasmini yang cerdik itu. Bagaimanapun juga Lasmini ternyata dapat menyelami hatinya dan tidak minta agar dia memusuhi Sang Prabu Erlangga, hal yang tidak mungkin dia lakukan, biarpun harus berkorban segalanya.
"Baiklah, Lasmini, kita lihat saja siapa di antara kita yang melanggar janji. Akan tetapi tentu saja Parang Siluman juga tidak boleh mengacau dan mengganggu daerah Kahuripan lagi."
"Tentu saja, Kakangmas."
"Awas orang-orang Parang Siluman pegang janjimu dan jangan ganggu puteraku Joko Pekik Satyabudhi!" Narotama berteriak lantang, dan tiba-tiba tubuhnya lenyap, menjadi kabut karena dia telah mengerahkan Aji Panglimunan! Tentu saja Lasmini cepat memberi isyarat kepada semua orang untuk waspada dan terutama sekali Ki Nagakumala menjaga Joko Pekik dengan ketat dan berlapis agar jangan sampai kecolongan oleh Narotama. Akan tetapi, Narotama adalah seorang satria yang teguh memegang janjinya. Bagi dia, melanggar janji berarti menghancurkan kehormatan diri dan merupakan pantangan yang hina baginya. Dia pulang dan menceritakan semua pengalamannya kepada Llstyarini, lalu menghibur isterinya tercinta itu.
"Tenang dan bersabarlah, Diajeng. Percayalah bahwa Sang Hyang Widhi akan selalu Melindungi anak kita dan nanti pasti ada jalan untuk mengembalikan Joko Pekik ke pangkuanmu tanpa harus melanggar janjiku kepada Parang Siluman." Setelah menghibur isterinya, Ki Patih Narotama lalu menghadap Sang Prabu Erlangga.
"Bagaimana hasil pencarianmu, Kakang Patih Narotama? Sudahkah Andika berhasil menemukan puteramu?"
Narotama mengangguk dan menyembah.
"Mendapat pangestu (restu) Paduka, hamba telah melihat Joko Pekik dan dia berada dalam keadaan sehat dan selamat di Parang Siluman, Sinuwun."
"Tapi, mengapa tidak Andika bawa pulang?"
"Belum bisa, Sinuwun, Anak itu dijaga ketat sehingga belum mungkin dapat hamba rebut kembali. Akan tetapi setidaknya, dia berada dalam keadaan selamat." Kata Narotarna. Dia merasa malu untuk menceritakan tentang ikatan janjinya dengan Lasmini. Inilah kesalahan besar yang sama sekali tidak disadari Narotarna. Perasaan malunya untuk mengaku kepada Sang Prahu Erlangga tentang perjanjiannya dengan Lasmin menempatkan dia dalam keadaan yang akan menyulitkan.
"Kalau begitu, bagaimana dengan rencana penyerbuan kita, Kakang Patih?"
"Sebaiknya dilaksanakan sekarang sebelum mereka sempat memperkuat diri, Sinuwun." kata Narotama dan para senopati yang hadir di situ menyatakan setuju.
"Baiklah, kalau begitu, kami menyerahkan kekuasaan kepada Andika, Kakang Patih, untuk memimpin para senopati, perwira, dan pasukan untuk menyerang dan menaklukkan mereka agar lain kali mereka tidak akan berani mengganggu kita lagi. Nah, buatlah persiapan secukupnya dan segera berangkat!"
Lega juga hati Narotarna ketika dia diserahi kekuasaan untuk memimpin penyerangan karena dengan demikian, tentu saja dia dapat melewati Parang Siluman atau setidaknya menunda niat penyerangan Kahuripan ke Parang Siluman. Setelah mempersiapkan pasukan yang cukup besar, Ki Patih Narotama mengundang para senopati dan perwira bawahannya dan memberitahu bahwa yang pertama kali mereka serang adalah Kerajaan Wura-Wuri.
"Wura-Wuri merupakan lawan yang cukup kuat dan kerajaan ini yang terdekat, maka akan kita serbu lebih dulu. Puspa Dewi, karena engkau lebih mengenal daerah Wura-Wuri, maka engkau kami angkat menjadi pemimpin pasukan pelopor yang terdiri dari seribu orang prajurit. Tugasmu adalah melakukan pendobrakan pertama, menyelidiki keadaan musuh dan membuka jalan bagi pasukan besar. Ingat, dan juga para senopati dan perwira harus ingat betul bahwa tugas kita semua seperti yang ditekankan Gusti Sinuwun bukanlah untuk merusak atau membunuh, melainkan hanya menaklukkan. Maka, dilarang keras untuk sembarangan membunuh, kecuali kalau membela diri, dilarang keras mengambil barang berharga penduduk Wura-Wuri, dan dilarang keras menyiksa dan mengganggu wanita. Siapa yang melanggar akan mendapat hukuman keras, sebaliknya yang menaati perintah dan melaksanakan dengan baik, tentu akan memperoleh ganjaran dari Gusti Sinuwun."

Demikianlah, setelah membagi-bagi tugas, tiga hari kemudian Ki Patih Narotama memimpin pasukan Kahuripan menuju ke Wura-Wuri. Seperti juga keadaan di Parang Siluman dan dua kerajaan yang lain, para pimpinan Kerajaan Wura-Wuri juga mengalami kedukaan dan kekecewaan karena dalam perang melawan Kahuripan itu mereka menderita kekalahan besar. Tiga orang senopati andalan mereka, yaitu Tri Kala yang terdiri dari Kala Muka, Kala Manik, dan Kala Teja, telah tewas dalam pertempuran. Juga mereka kehilangan ribuan orang perajurit. Pimpinan tertinggi di Wura-Wuri adalah Adipati Bhismaprabhawa, permaisurinya yaitu Nyi Dewi Durgakumala, dan Senopati Muda Ki Gandarwo. Setelah menderita kekalahan, kehilangan Tri Kala, Adipati Bhismaprabhawa lalu mengutus Ki Gandarwo untuk mengundang orang pandai agar dapat menggantikan tiga orang Tri Kala yang tewas, dan memperkuat Wura-Wuri. Ki Gandarwo segera mengundang lagi kakak seperguruannya, yaitu Cekel Aksomolo. Dahulu, Cekel Aksomolo juga pernah membantu Wura-Wuri melalui Ki Gandarwo, akan tetapi dia lalu kembali ke tempat pertapaannya, yaitu di Hutan Werdo, lereng Gunung Wilis. Ketika didatangi Ki Gandarwo, Cekel Aksomolo yang berusia sekitar tiga puluh satu tahun itu menerima undangan Adipati Wura-Wuri dan dia pun ikut bersama Ki Gandarwo menghadap Adipati Wura-Wuri. Cekel Aksomolo yang sakti dan cerdik itu diterima dengan gembira dan hormat oleh Adipati Bhismaprabhawa dan karena Sang Adipati sudah mengetahui kesenangan Cekel Aksomolo, maka pertapa muda ini lalu diberi sebuah rumah mungil indah dan mewah. Dan tidak lupa, Adipati Bhismaprabhawa menyediakan beberapa orang pemuda perjaka remaja yang tampan wajahnya untuk melayaninya. Pertapa muda yang tinggi kurus bongkok, mukanya seperti Pendeta Durna, dan suaranya tinggi kecil seperti suara wanita ini mempunyai watak yang aneh. Dia sama sekali tidak suka kepada wanita, akan tetapi dia suka sekali kepada pemuda-pemuda remaja yang ganteng yang dia jadikan kekasihnya! Pada suatu pagi, Adipati Bhismaprabhawa mengadakan persidangan dengan isterinya, Nyi Dewi Durgakumala dan para pembantunya, yaitu Ki Gandarwo, Cekel Aksomolo, dan beberapa orang perwira pembantu. Dalam rapat ini, Adipati Bhismaprabhawa menyatakan kekhawatirannya bahwa Kahuripan tentu akan melakukan serangan balasan ke Wura-Wuri, padahal Wura-Wuri baru saja mengalami kekalahan, banyak prajurit tewas dan sisa para prajurit menurun semangatnya karena kekalahan itu.
"Kalau Kahuripan menyerang selagi kita berada dalam keadaan lemah seperti sekarang ini, tentu akan berbahaya sekail." Sang Adipati menyatakan kekhawatirannya.
"Hi-hik-he-he-he!" Cekel Aksomolo terkekeh genit lalu berkata dengan suaranya yang seperti wanita.
"Gusti Adipati mengapa mengkhawatirkan hal itu? Harap Paduka tenang! Kalau Kahuripan berani menyerang ke sini... ah, hal itu kecil saja! Ada saya, Cekel Aksomolo di sini, dan tangan kakiku, kalau perlu tasbeh dan ganitri (biji tasbeh) saya ini tentu akan membinasakan dan mengusir mereka! Heh-he-he-he!"
Mendengar ucapan yang sombong ini, hati Adipati Bhismaprabhawa bukan menjadi tenang, bahkan dia semakin gelisah. Dia tahu bahwa Cekel Aksomolo memang sakti, akan tetapi kalau sikapnya demikian takaburnya, Sang Adipati meragukan kemampuannya.
Melihat suaminya tampak gelisah, Nyi Dewi Durgakumala berkata dengan nada suara menghibur.
"Kakangmas Adipati. Paduka tenanglah. Saya telah memiliki senjata yang ampuh untuk menghadapi Kahuripan. Kalau pasukan Kahuripan menyerang, biasanya yang menjadi Manggala (Pemimpin) Agung tentu Ki Patih Narotama. Paduka tahu bahwa saya dan Ni Lasmini telah berhasil menculik putera Ki Patih Narotama. Dengan adanya puteranya di tangan kita, maka Ki patih Narotama tentu tidak berani menyerang kita. Kita pergunakan anak itu sebagai sandera untuk memaksa Ki Patih Narotama menarik mundur pasukannya dan selanjutnya tidak akan mengganggu kita lagi."
Adipati Bhismaprabhawa mengangguki-angguk, lalu mengerutkan alisnya.
"Pendapatmu itu benar, Diajeng. Akan tetapi bagaimana kalau yang menjadi Manggala Perang bukan Ki Patih Narotama, melainan Sang Prabu Erlangga sendiri?"
Nyi Dewi Durgakumala menggeleng kepalanya.
"Rasanya tidak mungkin Sang Prabu Erlangga memimpin sendiri pasukannya. Biasanya dia tentu mewakilkannya kepada Ki Patih Narotama. Akan tetapi, andaikata Sang Prabu Erlangga sendiri yang memimpin, tetap saja kita dapat menggunakan Joko Pekik Satyabudhi itu sebagal sandera. Sang Prabu Erlangga amat menyayang dan menghormati Ki Patih Narotarna. Mereka berdua itu tunggal guru dan seperti saudara saja. Tentu dia tidak akan tega mengorbankan putera Ki Patih Narotarna."
"Akan tetapi anak itu sekarang tidak berada di sini. Bukankah tempo hari andika melaporkan bahwa anak itu dipinjam oleh Kerajaan Parang Siluman?" tanya Sang Adipati.
"Benar, Kakangmas. Saya dan Ni Lasmini bersepakat untuk menyembunyikan anak itu di suatu tempat yang tersembunyi dan aman, di perbatasan. Tempo hari Lasmini utusan Ki Nagakumala untuk meminjam dan mengambil Joko Pekik Satyabudhi."
"Kalau begitu sebaiknya kita mengutus orang untuk mengambilnya kembali dan agar untuk semenara anak itu berada di sini sehingga kalau sewaktu-waktu pasukan Kahuripan menyerang, kita dapat mempergunakan anak itu sebagai perisai!"
Nyi Dewi Durgakumala mengangguk dan tersenyum, lalu memandang kepada Ki Gandarwo.
"Senopati Gandarwo, Andika berangkatlah ke Kerajaan Parang Siluman, bawalah pesanku kepada Sang Ratu Durgamala dan kedua Puteri Lasmini dan Mandari, juga Ki Nagakumala, bahwa kami di sini membutuhkan kehadiran Joko Pekik Setyabudhi putera Ki Patih Narotama. Bawalah anak itu ke sini dan bawa prajurit secukupnya agar dapat mengawal anak itu sehingga dapat selamat sampai di sini."

Ki Gandarwo, senopati muda tampan yang juga menjadi kekasih gelap Nyi Dewi Durgakumala, matur sendika (menaati) dan segera berangkat bersama seregu pasukan ke Parang Siluman. Akan tetapi, beberapa hari kemudian, Ki Gandarwo kembali melaporkan bahwa Parang Siluman tidak dapat menyerahkan Joko Pekik Satyabudhi karena mereka membutuhkan anak itu sendiri. Tentu saja Nyi Dewi Durgakumala menjadi marah sekali.
"Keparat Si Lasmini. Dulu ia hendak membunuh anak itu. Aku yang mempunyai gagasan agar anak itu dijadikan sandera untuk kepentingan Wura-Wuri dan Parang Siluman! Akan tetapi sekarang ia hendak menguasainya sendiri untuk kepentingan Parang Siluman! Apa mereka mengira Wura-Wuri takut melawan Parang Siluman yang kecil? Kita gempur saja dan minta anak itu dengan kekerasan!" Nyi Dewi Durgakumala berseru marah. Dengan wajah merah Nyi Dewi Durgakumala sudah bangkit dan hendak mengerahkan pasukan untuk menyerang Parang Siluman, untuk merampas Joko Pekik yang ditahan di Parang Siluman. Akan tetapi suaminya cepat bangkit, memegang pundaknya dan mengajaknya duduk kembali, berkata dengan halus.

<<< Bagian 65                                                                                          Bagian 67 >>>

No comments:

Post a Comment