Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 67


"Bersabarlah, Diajeng. Kalau kita menuruti nafsu amarah dan menyerang Parang Siluman, berarti di antara kita terjadi bentrokan sendiri yang akhirnya hanya melemahkan kita. Padahal kita sama-sama terancam oleh Kahuripan."
Para senopati mendukung ucapan Adipati Bhismaprabhawa ini sehingga akhirnya Nyi Dewi Durgakumala mengalah.
"Baiklah, Kakangmas Adipati, saya tidak akan menuruti amarah dan menyerang sekutu sendiri, akan tetapi Parang Siluman sungguh mau enaknya sendiri saja. Saya akan mencoba untuk mengancam Narotarna agar dia tidak menyerang kita atau akan membunuh puteranya! Kalau dia tidak percaya dan tetap menyerang, kita harus mempertahankan diri. Untuk itu kita harus memperkuat diri dan saya akan mengundang dua orang kakak seperguruan saya, dua orang saudara kembar yang menjadi datuk-datuk Blambangan, yaitu Menak Gambir Anom dan Menak Gambir Sawit. Sudah puluhan tahun kami tidak saling jumpa, akan tetapi kalau saya mengirim utusan ke sana memanggil mereka, pasti mereka akan datang dan membantu kita. Kedua kakak seperguruan saya itu memiliki kesaktian yang boleh diandalkan."
Adipati Bhismaprabhawa menjadi girang sekali dan Nyi Dewi Durgakumala segera mengirim utusan mengundang dua orang datuk Blambangan itu.

Telah lama kita berpisah dari Nurseta dan sekarang kita ikuti perjalanan pemuda perkasa yang pergi mencari Niken Harni dan Puspa Dewi itu. Pada suatu pagi, Nurseta berjalan memasuki kota Kadipaten Wengker yang sunyi. Pada waktu itu, kota kadipaten itu memang sepi karena ditinggalkan para pimpinan Kadipaten Wengker berikut para perwira pembantu mereka dan memimpin pasukan sebanyak selaksa orang prajurit lebih, bergabung dengan para kadipaten lain melakukan penyerbuan terhadap Kerajaan Kahuripan! Para prajurit pasukan yang ditinggalkan untuk menjaga kadipaten tidak ada yang mengenal Nurseta, maka pemuda itu dapat memasuki kadipaten dengan aman tanpa ada yang mengganggu, karena Nurseta memakai pakaian sederhana, dan biasa seperti para pemuda lainnya. Karena semua senopati dan perwira dikerahkan untuk ikut dalam pasukan yang menyerang ke Kahuripan, maka yang bertugas menjaga kota kadipaten adalah Tumenggung Suramenggala. Ki Suramenggala ini diangkat menjadi tumenggung bukan karena kepandaiannya, bukan karena kedigdayaannya yang tidak seberapa, melainkan karena dia adalah ayah kandung Adipati Linggawijaya. Maka dia tidak diikutkan dalam perang. Dasar watak Ki Suramenggala ini memang buruk. Dia sudah sejak mudanya selalu mengagulkan diri sendiri, penuh dikusaai daya rendah nafsu-nafsunya sehingga dirinya sepenuhnya menjadi budak nafsu yang selalu haus akan kesenangan dan mengejar-ngejar kesenangan, tidak pantang bersikap sewenang-wenang. Maka, kini mendapat kesempatan menjadi penguasa sementara di Wengker, tidak ada orang lain yang lebih tinggi kedudukannya daripada dia, maka dia merasa seolah menjadi raja besar di Kerajaan Wengker. Sama sekali dia tidak ikut prihatin, tidak mendoakan agar penyerangan Wengker ke Kahuripan berhasil. Bahkan setiap hari dia berpesta pora dengan dua orang gadis dayang yang diambilnya dari istana Adipati Linggawijaya dan dijadikan selirnya, penambah kumpulan selirnya yang sudah banyak itu, tanpa menanti kembalinya Adipati Linggawijaya untuk minta persetujuannya. Pada siang hari itu, selagi dia berpesta pora sambil menonton tarian menggairahkan para penari, minum arak sampai mabok dilayani dua orang selirnya yang baru, tiba-tiba terdengar suara gaduh di depan gedungnya yang mewah menyaingi kemewahan istana kadipaten sendiri. Tumenggung Suramenggala mengerutkan alisnya dan kemarahannya bangkit karena dia merasa terganggu dalam kesenangannya. Menuruti wataknya yang keras dan siap memberi hukuman berat kepada pengganggunya, dia lalu bangkit berdiri meninggalkan dua orang selir barunya itu dan melangkah lebar berjalan keluar. Seorang prajurit pengawal hampir menabraknya.
"Heh, mengapa kamu menabrak-nabrak! Matamu buta, ya?" bentak Tumenggung Suramenggala.
"Ampunkan hamba, Gusti Tumenggung. Di luar ada seorang laki-laki hendak memasuki gedung. Hamba dan kawan kawan sudah melarangnya, akan tetapi dia hendak nekat sehingga terjadi keributan.” Prajurit itu melapor.
"Jahanam! Minta mampus dia!" Tumenggung Suramenggala setengah berlari keluar agar dapat cepat menghukum pengacau itu. Setibanya di pendapa, dia melihat belasan orang prajurit pengawalnya sudah rebah malang melintang dan mengaduh-aduh, ada yang bengkak pipinya, ada yang salah urat, ada yang mulas perutnya, ada pula yang pening kepalanya. Mereka semua baru saja menerima hajaran, tamparan atau tendangan.
Tumenggung Suramenggala terkejut dan matanya terbelalak mencari-cari karena dia tidak melihat orang yang membikin kacau di gedungnya.
"Ki Suramenggala, Andika mencariku?" Tiba-tiba ada suara di belakangnya.
Ki Suramenggala cepat membalikkan tubuhnya dan matanya terbelalak kaget ketika dia melihat dan mengenal pemuda yang berdiri tersenyum memandangnya.
"Nurseta...! Engkau..., mau apa kau membikin kacau disini?" Tumenggung Suramenggala sudah menoleh hendak berteriak memanggil bala bantuan, akan tetapi Nurseta cepat berseru.
"Tidak perlu, Ki Suramenggala. Sebelum pasukanmu tiba disini, Andika tentu akan kurobohkan lebih dulu. Aku datang bukan untuk membuat ribut! Aku hanya menuntut agar Andika menjawab sejujurnya. Di mana Niken Harni dan Puspa Dewi yang beberapa waktu yang lalu berkunjung ke sini? Jawab sejujurnya dan aku tidak akan menggunakan kekerasan!"
Agak lega hati Ki Suramenggala yang tadinya sudah amat ketakutan itu.
"Ah, itukah yang engkau tanyakan, Nurseta? Belum lama ini, Puspa Dewi juga datang ke sini menanyakan tentang adiknya yang bernama Niken Harni itu dan aku sudah memberitahu kepadanya di mana adanya Niken Harni."
"Hemm, katakan kepadaku, Ki Suramenggala, di mana adanya Niken Harni?"
"Seperti sudah kuberitahukan Puspa Dewi, ketika itu Niken Harni memang menjadi tamu di sini. Akan tetapi pada suatu malam datang Nini Bumigarbo dan nenek sakti itu membawa pergi Niken Harni. Tidak ada seorang pun yang berani menentangnya!"
"Hemm, benarkah keteranganmu itu?"
"Aku bersumpah!"
"Siapa percaya kepada sumpahmu, Ki Suramenggala? Kalau engkau memberi keterangan seperti itu kepada Puspa Dewi, lalu ke mana perginya Puspa Dewi sekarang?"
"Aku tidak tahu, Nurseta. Ia tidak mengatakannya. Setelah mendapat keterangan itu, ia lalu pergi lagi. Aku bersumpah memang begitulah keadaannya, aku tidak berbohong!"
"Sekarang katakan, kemana Niken Harni dibawa pergi oleh Nini Bumigarbo? Aku mendengar bahwa permaisuri Wengker, Dewi Mayangsari, adalah murid Nini Bumigarbo. Nah, tentu kalian tahu di mana tempat tinggal Nini Bumigarbo. Katakan dimana tempat tinggalnya!" Suara Nurseta mengandung ancaman dan Ki Suramenggala yang sudah maklum akan kedigdayaan pemuda itu bergidik.
"Ah, Nurseta. Siapa yang dapat melacak di mana adanya wanita sakti mandraguna seperti Nini Bumigarbo? Hanya aku pernah mendengar Dewi Mayangsari berkata bahwa gurunya itu mempunyai pesanggrahan di puncak Gunung Kelud."
"Biarlah kali ini aku percaya kepadamu, Ki Suramenggala. Akan tetapi kalau ternyata kau bohong, aku akan kembali dan minta pertanggungan jawabmu! Selamat tinggal!" Setelah berkata demikian, Nurseta keluar dari situ, dan dia pun melakukan perjalanan cepat menuju ke Gunung Kelud. Keadaan Wengker yang sunyi tadinya membuat dia merasa heran. Akan tetapi dari seorang prajurit yang dia paksa mengaku dia mendengar bahwa para pimpinan Wengker membawa pasukan besar menyerang Kahuripan. Dia merasa kecewa bahwa dia terlambat untuk ikut mempertahankan Kahuripan dari penyerangan itu, akan tetapi dia merasa bahwa mencari dan menolong Niken Harni dan mungkin juga Puspa Dewi pada saat itu lebih penting. Mendengar bahwa Niken Harni dibawa pergi Nini Bumigarbo, dia merasa khawatir sekali. Nenek itu seorang yang luar biasa sekali, sakti mandraguna dan berwatak aneh. Membayangkan Niken Harni berada dalam kekuasaan nenek yang aneh itu, sungguh membuat hatinya khawatir. Apalagi besar kemungkinan Puspa Dewi juga menyusul ke sana. Biarpun dia tahu bahwa Puspa Dewi sakti dan tangguh, namun menghadapi Nini Bumigarbo sulitlah bagi gadis itu untuk mampu menandinginya. Inilah sebabnya maka Nurseta tetap melakukan pencarian ke Gunung Kelud, walaupun hatinya juga merasa tidak enak dan kecewa bahwa pada saat Kahuripan terancam bahaya penyerangan Wengker, dia tidak dapat membantu dan membela.

Sinar matahari yang mulai menghangat pada pagi hari itu perlahan-lahan mengusir halimun yang enggan meninggalkan bumi. Namun kehangatan sinar matahari mengusik mereka dan dibantu oleh angin pagi pegunungan yang semilir lembut, halimun mulai mengudara dan cuaca mulai menjadi terang. Kokok ayam jantan sudah lama berhenti, juga burung-burung sudah meninggalkan sarang. Dari puncak Gunung Kelud, pedusunan yang berada di lereng bawah, hanya tampak samar-samar atap rumah itu, akan tetapi pagi ini seperti biasa, asap yang membubung dari atap dapur rumah-rumah itu tampak jelas, menandakan bahwa di sana penghuni dusun mulai sibuk dengan pekerjaan mereka. Sejak fajar tadi Niken Harni sudah duduk di atas batu yang biasa ia pergunakan untuk duduk bersamadhi. Nini Bumigarbo duduk bersila di atas batu lain tak jauh darinya. Mereka berdua duduk berjajar, menghadapi lereng-lereng di bawah puncak di mana tampak jalan kecil buatan para penduduk pegunungan itu. Jalan itu berliku-liku seperti seekor ular besar yang membelit gunung. Tiba-tiba Niken Harni menuding ke bawah puncak dan berseru kepada Nira Bumigarbo,
"Di sana ada orang mendaki puncak, larinya cepat sekali"
Suaranya penuh ketegangan karena selama ia digembleng oleh Nini Bumigarbo, tidak pernah ada orang mampu mendaki puncak yang dikelilingi jurang-jurang amat dalam itu. Dan orang yang berpakaian serba putih itu mendaki dengan cepat sekali, bahkan jurang yang tidak berapa lebar, namun amat lebar bagi orang biasa, dia lompati begitu saja. Gerakannya bagaikan seekor burung garuda, jubah putihnya berkibar membenti sayap. Nini Bumigarbo mengangkat muka memandang dan ia terkekeh.
"Heh-heh-heh, hi-hik! Tentu saja dia dapat berlari cepat!"
"Bibi Bumigarbo, apakah Andika mengenal orang itu? Siapa dia?"
"Seperti Dibya Krendasakti, dia juga seorang sahabatku dua puluh tahun yang lalu. Namanya Wiku Ktut Bumisetra, seorang datuk dari Bali Dwipa." Nini Bumigarbo memandang penuh perhatian, lalu terkekeh lagi dan berkata,
"Tidak salah, pasti dia! Ajiannya berlari cepat itu tentu Aji Garuda Anglayang, tidak salah lagil"
Niken Harni mengamati gerakan orang yang mendaki puncak itu dengan pandang mata kagum. Ia sendiri setelah beberapa lamanya digembleng Nini Bumigarbo, masih belum berani naik turun puncak sambil berlari dan berloncatan seperti Itu. Tingkat kepandaian orang itu agaknya tidak berada di bawah tingkat Nini Bumigarbo! Dan setelah orang itu mencapai lereng di bawah puncak, Niken Harni mulai dapat melihat wajahnya dengan jelas. Orang itu mendaki dari barat sehingga sinar matahari sepenuhnya meneranginya. Kini ia dapat melihat bahwa orang itu adalah seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh lima tahun, tubuhnya tinggi kurus dengan kulit coklat kehitaman, rambutnya panjang diikat ke belakang dengan kain putih, tergantung sampai ke bawah punggung. Wajahnya yang kurus itu pentil bekas cacar sehingga tampak aneh, matanya berkilauan dan mengeluarkan sinar berkilat. Pakaiannya serba putih dengan jubah lebar. Kakinya mengenakan alas kaki dari kulit tebal, tangan kanannya memegang sebatang tongkat berbentuk ular dan pergelangan kedua tangannya terhias akar bahar besar dan hitam.

Dengan sebuah lompatan jauh seperti terbang, tubuh kakek itu melayang dan tiba di depan Nini Bumigarbo dan Niken Harni. Begitu berada di depan Nini Bumigarbo dan melihat nenek itu, dia terbelalak, memandang penuh perhatian lalu tertawa terbahak-bahak, dan telunjuk kirinya menuding ke arah Nini Bumigarbo,
"Ha..ha.. ha ..Tidak salah lagi. Engkau pasti Ni Gayatri, kembang Puncak Semeru itu! Lihat, tahi lalat di dagumu itu, pakaian serba hitam itu, dan wajahmu masih tetap ayu! Ha-haha, Dibya Krendasakti tidak salah! Nini Bumigarbo adalah Ni Gayatri yang cantik manis dulu itu. Heh, Ni Gayatri, pangling (lupa) ya kepada seorang di antara para pengagummu ini?"
"Huh, siapa yang lupa kepada orang sepertimu, Ktut Bumi Setra? Jadi engkau bertemu dengan Dibya Krendasakti di Nusa Barung dan dia yang menceritakan kepadamu tentang diriku?"
Kakek itu tanpa dipersilakan duduk di atas batu yang berada di depan Nini Bumigarbo dan Niken Harni. Dia tidak menjawab pertanyaan Nini Bumigarbo karena dia seperti terpesona memandang wajah Niken Harni sampai beberapa lamanya lalu berkata perlahan.
"Wadu-du-duuhh... ini muridmu, Gayatri? Benar Si Dibya Krendasakti. Muridmu ini sungguh ayu manis merak ati, juga berbakat baik sekali! Wah, aku akan senang sekali kalau mempunyai murid seperti ini! Heh-heh-eh-heh!”
"Huh, mata keranjangmu itu tidak juga berkurang! Hayo jawab pertanyaanku tadi, Ktut! Engkau berkunjung ke Nusa Barung?"

<<< Bagian 66                                                                                         Bagian 68 >>>

No comments:

Post a Comment