"Bersabarlah, Diajeng. Kalau kita menuruti nafsu amarah dan menyerang Parang Siluman, berarti di antara kita terjadi bentrokan sendiri yang akhirnya hanya melemahkan kita. Padahal kita sama-sama terancam oleh Kahuripan."
Para senopati
mendukung ucapan Adipati Bhismaprabhawa ini sehingga akhirnya Nyi Dewi
Durgakumala mengalah.
"Baiklah,
Kakangmas Adipati, saya tidak akan menuruti amarah dan menyerang sekutu
sendiri, akan tetapi Parang Siluman sungguh mau enaknya sendiri saja. Saya akan
mencoba untuk mengancam Narotarna agar dia tidak menyerang kita atau akan
membunuh puteranya! Kalau dia tidak percaya dan tetap menyerang, kita harus
mempertahankan diri. Untuk itu kita harus memperkuat diri dan saya akan
mengundang dua orang kakak seperguruan saya, dua orang saudara kembar yang
menjadi datuk-datuk Blambangan, yaitu Menak Gambir Anom dan Menak Gambir Sawit.
Sudah puluhan tahun kami tidak saling jumpa, akan tetapi kalau saya mengirim
utusan ke sana memanggil mereka, pasti mereka akan datang dan membantu kita.
Kedua kakak seperguruan saya itu memiliki kesaktian yang boleh
diandalkan."
Adipati
Bhismaprabhawa menjadi girang sekali dan Nyi Dewi Durgakumala segera mengirim
utusan mengundang dua orang datuk Blambangan itu.
Telah lama
kita berpisah dari Nurseta dan sekarang kita ikuti perjalanan pemuda perkasa
yang pergi mencari Niken Harni dan Puspa Dewi itu. Pada suatu pagi, Nurseta
berjalan memasuki kota Kadipaten Wengker yang sunyi. Pada waktu itu, kota
kadipaten itu memang sepi karena ditinggalkan para pimpinan Kadipaten Wengker
berikut para perwira pembantu mereka dan memimpin pasukan sebanyak selaksa
orang prajurit lebih, bergabung dengan para kadipaten lain melakukan penyerbuan
terhadap Kerajaan Kahuripan! Para prajurit pasukan yang ditinggalkan untuk
menjaga kadipaten tidak ada yang mengenal Nurseta, maka pemuda itu dapat
memasuki kadipaten dengan aman tanpa ada yang mengganggu, karena Nurseta memakai
pakaian sederhana, dan biasa seperti para pemuda lainnya. Karena semua senopati
dan perwira dikerahkan untuk ikut dalam pasukan yang menyerang ke Kahuripan,
maka yang bertugas menjaga kota kadipaten adalah Tumenggung Suramenggala. Ki
Suramenggala ini diangkat menjadi tumenggung bukan karena kepandaiannya, bukan
karena kedigdayaannya yang tidak seberapa, melainkan karena dia adalah ayah
kandung Adipati Linggawijaya. Maka dia tidak diikutkan dalam perang. Dasar
watak Ki Suramenggala ini memang buruk. Dia sudah sejak mudanya selalu
mengagulkan diri sendiri, penuh dikusaai daya rendah nafsu-nafsunya sehingga
dirinya sepenuhnya menjadi budak nafsu yang selalu haus akan kesenangan dan
mengejar-ngejar kesenangan, tidak pantang bersikap sewenang-wenang. Maka, kini
mendapat kesempatan menjadi penguasa sementara di Wengker, tidak ada orang lain
yang lebih tinggi kedudukannya daripada dia, maka dia merasa seolah menjadi
raja besar di Kerajaan Wengker. Sama sekali dia tidak ikut prihatin, tidak
mendoakan agar penyerangan Wengker ke Kahuripan berhasil. Bahkan setiap hari
dia berpesta pora dengan dua orang gadis dayang yang diambilnya dari istana
Adipati Linggawijaya dan dijadikan selirnya, penambah kumpulan selirnya yang
sudah banyak itu, tanpa menanti kembalinya Adipati Linggawijaya untuk minta
persetujuannya. Pada siang hari itu, selagi dia berpesta pora sambil menonton
tarian menggairahkan para penari, minum arak sampai mabok dilayani dua orang
selirnya yang baru, tiba-tiba terdengar suara gaduh di depan gedungnya yang
mewah menyaingi kemewahan istana kadipaten sendiri. Tumenggung Suramenggala
mengerutkan alisnya dan kemarahannya bangkit karena dia merasa terganggu dalam
kesenangannya. Menuruti wataknya yang keras dan siap memberi hukuman berat
kepada pengganggunya, dia lalu bangkit berdiri meninggalkan dua orang selir
barunya itu dan melangkah lebar berjalan keluar. Seorang prajurit pengawal
hampir menabraknya.
"Heh,
mengapa kamu menabrak-nabrak! Matamu buta, ya?" bentak Tumenggung
Suramenggala.
"Ampunkan
hamba, Gusti Tumenggung. Di luar ada seorang laki-laki hendak memasuki gedung.
Hamba dan kawan kawan sudah melarangnya, akan tetapi dia hendak nekat sehingga
terjadi keributan.” Prajurit itu melapor.
"Jahanam!
Minta mampus dia!" Tumenggung Suramenggala setengah berlari keluar agar
dapat cepat menghukum pengacau itu. Setibanya di pendapa, dia melihat belasan
orang prajurit pengawalnya sudah rebah malang melintang dan mengaduh-aduh, ada
yang bengkak pipinya, ada yang salah urat, ada yang mulas perutnya, ada pula
yang pening kepalanya. Mereka semua baru saja menerima hajaran, tamparan atau
tendangan.
Tumenggung
Suramenggala terkejut dan matanya terbelalak mencari-cari karena dia tidak
melihat orang yang membikin kacau di gedungnya.
"Ki
Suramenggala, Andika mencariku?" Tiba-tiba ada suara di belakangnya.
Ki
Suramenggala cepat membalikkan tubuhnya dan matanya terbelalak kaget ketika dia
melihat dan mengenal pemuda yang berdiri tersenyum memandangnya.
"Nurseta...!
Engkau..., mau apa kau membikin kacau disini?" Tumenggung Suramenggala
sudah menoleh hendak berteriak memanggil bala bantuan, akan tetapi Nurseta
cepat berseru.
"Tidak
perlu, Ki Suramenggala. Sebelum pasukanmu tiba disini, Andika tentu akan
kurobohkan lebih dulu. Aku datang bukan untuk membuat ribut! Aku hanya menuntut
agar Andika menjawab sejujurnya. Di mana Niken Harni dan Puspa Dewi yang
beberapa waktu yang lalu berkunjung ke sini? Jawab sejujurnya dan aku tidak
akan menggunakan kekerasan!"
Agak lega hati
Ki Suramenggala yang tadinya sudah amat ketakutan itu.
"Ah, itukah
yang engkau tanyakan, Nurseta? Belum lama ini, Puspa Dewi juga datang ke sini
menanyakan tentang adiknya yang bernama Niken Harni itu dan aku sudah
memberitahu kepadanya di mana adanya Niken Harni."
"Hemm,
katakan kepadaku, Ki Suramenggala, di mana adanya Niken Harni?"
"Seperti
sudah kuberitahukan Puspa Dewi, ketika itu Niken Harni memang menjadi tamu di
sini. Akan tetapi pada suatu malam datang Nini Bumigarbo dan nenek sakti itu
membawa pergi Niken Harni. Tidak ada seorang pun yang berani menentangnya!"
"Hemm,
benarkah keteranganmu itu?"
"Aku
bersumpah!"
"Siapa
percaya kepada sumpahmu, Ki Suramenggala? Kalau engkau memberi keterangan
seperti itu kepada Puspa Dewi, lalu ke mana perginya Puspa Dewi sekarang?"
"Aku
tidak tahu, Nurseta. Ia tidak mengatakannya. Setelah mendapat keterangan itu,
ia lalu pergi lagi. Aku bersumpah memang begitulah keadaannya, aku tidak
berbohong!"
"Sekarang
katakan, kemana Niken Harni dibawa pergi oleh Nini Bumigarbo? Aku mendengar
bahwa permaisuri Wengker, Dewi Mayangsari, adalah murid Nini Bumigarbo. Nah,
tentu kalian tahu di mana tempat tinggal Nini Bumigarbo. Katakan dimana tempat
tinggalnya!" Suara Nurseta mengandung ancaman dan Ki Suramenggala yang
sudah maklum akan kedigdayaan pemuda itu bergidik.
"Ah,
Nurseta. Siapa yang dapat melacak di mana adanya wanita sakti mandraguna
seperti Nini Bumigarbo? Hanya aku pernah mendengar Dewi Mayangsari berkata
bahwa gurunya itu mempunyai pesanggrahan di puncak Gunung Kelud."
"Biarlah
kali ini aku percaya kepadamu, Ki Suramenggala. Akan tetapi kalau ternyata kau
bohong, aku akan kembali dan minta pertanggungan jawabmu! Selamat
tinggal!" Setelah berkata demikian, Nurseta keluar dari situ, dan dia pun
melakukan perjalanan cepat menuju ke Gunung Kelud. Keadaan Wengker yang sunyi
tadinya membuat dia merasa heran. Akan tetapi dari seorang prajurit yang dia
paksa mengaku dia mendengar bahwa para pimpinan Wengker membawa pasukan besar
menyerang Kahuripan. Dia merasa kecewa bahwa dia terlambat untuk ikut
mempertahankan Kahuripan dari penyerangan itu, akan tetapi dia merasa bahwa
mencari dan menolong Niken Harni dan mungkin juga Puspa Dewi pada saat itu
lebih penting. Mendengar bahwa Niken Harni dibawa pergi Nini Bumigarbo, dia
merasa khawatir sekali. Nenek itu seorang yang luar biasa sekali, sakti
mandraguna dan berwatak aneh. Membayangkan Niken Harni berada dalam kekuasaan
nenek yang aneh itu, sungguh membuat hatinya khawatir. Apalagi besar
kemungkinan Puspa Dewi juga menyusul ke sana. Biarpun dia tahu bahwa Puspa Dewi
sakti dan tangguh, namun menghadapi Nini Bumigarbo sulitlah bagi gadis itu
untuk mampu menandinginya. Inilah sebabnya maka Nurseta tetap melakukan
pencarian ke Gunung Kelud, walaupun hatinya juga merasa tidak enak dan kecewa
bahwa pada saat Kahuripan terancam bahaya penyerangan Wengker, dia tidak dapat
membantu dan membela.
Sinar matahari
yang mulai menghangat pada pagi hari itu perlahan-lahan mengusir halimun yang
enggan meninggalkan bumi. Namun kehangatan sinar matahari mengusik mereka dan
dibantu oleh angin pagi pegunungan yang semilir lembut, halimun mulai mengudara
dan cuaca mulai menjadi terang. Kokok ayam jantan sudah lama berhenti, juga
burung-burung sudah meninggalkan sarang. Dari puncak Gunung Kelud, pedusunan
yang berada di lereng bawah, hanya tampak samar-samar atap rumah itu, akan
tetapi pagi ini seperti biasa, asap yang membubung dari atap dapur rumah-rumah
itu tampak jelas, menandakan bahwa di sana penghuni dusun mulai sibuk dengan
pekerjaan mereka. Sejak fajar tadi Niken Harni sudah duduk di atas batu yang
biasa ia pergunakan untuk duduk bersamadhi. Nini Bumigarbo duduk bersila di
atas batu lain tak jauh darinya. Mereka berdua duduk berjajar, menghadapi
lereng-lereng di bawah puncak di mana tampak jalan kecil buatan para penduduk
pegunungan itu. Jalan itu berliku-liku seperti seekor ular besar yang membelit
gunung. Tiba-tiba Niken Harni menuding ke bawah puncak dan berseru kepada Nira
Bumigarbo,
"Di sana
ada orang mendaki puncak, larinya cepat sekali"
Suaranya penuh
ketegangan karena selama ia digembleng oleh Nini Bumigarbo, tidak pernah ada
orang mampu mendaki puncak yang dikelilingi jurang-jurang amat dalam itu. Dan
orang yang berpakaian serba putih itu mendaki dengan cepat sekali, bahkan
jurang yang tidak berapa lebar, namun amat lebar bagi orang biasa, dia lompati
begitu saja. Gerakannya bagaikan seekor burung garuda, jubah putihnya berkibar
membenti sayap. Nini Bumigarbo mengangkat muka memandang dan ia terkekeh.
"Heh-heh-heh,
hi-hik! Tentu saja dia dapat berlari cepat!"
"Bibi
Bumigarbo, apakah Andika mengenal orang itu? Siapa dia?"
"Seperti
Dibya Krendasakti, dia juga seorang sahabatku dua puluh tahun yang lalu.
Namanya Wiku Ktut Bumisetra, seorang datuk dari Bali Dwipa." Nini
Bumigarbo memandang penuh perhatian, lalu terkekeh lagi dan berkata,
"Tidak
salah, pasti dia! Ajiannya berlari cepat itu tentu Aji Garuda Anglayang, tidak
salah lagil"
Niken Harni
mengamati gerakan orang yang mendaki puncak itu dengan pandang mata kagum. Ia
sendiri setelah beberapa lamanya digembleng Nini Bumigarbo, masih belum berani
naik turun puncak sambil berlari dan berloncatan seperti Itu. Tingkat
kepandaian orang itu agaknya tidak berada di bawah tingkat Nini Bumigarbo! Dan
setelah orang itu mencapai lereng di bawah puncak, Niken Harni mulai dapat
melihat wajahnya dengan jelas. Orang itu mendaki dari barat sehingga sinar
matahari sepenuhnya meneranginya. Kini ia dapat melihat bahwa orang itu adalah
seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh lima tahun, tubuhnya tinggi kurus
dengan kulit coklat kehitaman, rambutnya panjang diikat ke belakang dengan kain
putih, tergantung sampai ke bawah punggung. Wajahnya yang kurus itu pentil
bekas cacar sehingga tampak aneh, matanya berkilauan dan mengeluarkan sinar
berkilat. Pakaiannya serba putih dengan jubah lebar. Kakinya mengenakan alas
kaki dari kulit tebal, tangan kanannya memegang sebatang tongkat berbentuk ular
dan pergelangan kedua tangannya terhias akar bahar besar dan hitam.
Dengan sebuah
lompatan jauh seperti terbang, tubuh kakek itu melayang dan tiba di depan Nini
Bumigarbo dan Niken Harni. Begitu berada di depan Nini Bumigarbo dan melihat
nenek itu, dia terbelalak, memandang penuh perhatian lalu tertawa
terbahak-bahak, dan telunjuk kirinya menuding ke arah Nini Bumigarbo,
"Ha..ha..
ha ..Tidak salah lagi. Engkau pasti Ni Gayatri, kembang Puncak Semeru itu!
Lihat, tahi lalat di dagumu itu, pakaian serba hitam itu, dan wajahmu masih
tetap ayu! Ha-haha, Dibya Krendasakti tidak salah! Nini Bumigarbo adalah Ni
Gayatri yang cantik manis dulu itu. Heh, Ni Gayatri, pangling (lupa) ya kepada
seorang di antara para pengagummu ini?"
"Huh,
siapa yang lupa kepada orang sepertimu, Ktut Bumi Setra? Jadi engkau bertemu
dengan Dibya Krendasakti di Nusa Barung dan dia yang menceritakan kepadamu
tentang diriku?"
Kakek itu
tanpa dipersilakan duduk di atas batu yang berada di depan Nini Bumigarbo dan
Niken Harni. Dia tidak menjawab pertanyaan Nini Bumigarbo karena dia seperti
terpesona memandang wajah Niken Harni sampai beberapa lamanya lalu berkata
perlahan.
"Wadu-du-duuhh...
ini muridmu, Gayatri? Benar Si Dibya Krendasakti. Muridmu ini sungguh ayu manis
merak ati, juga berbakat baik sekali! Wah, aku akan senang sekali kalau
mempunyai murid seperti ini! Heh-heh-eh-heh!”
"Huh,
mata keranjangmu itu tidak juga berkurang! Hayo jawab pertanyaanku tadi, Ktut!
Engkau berkunjung ke Nusa Barung?"
No comments:
Post a Comment