"Benar, Gayatri dan wah... dasar perutku sedang beruntung, Si Dibya itu agaknya sedang berbahagia sekali. Sepanjang malam dia mengajak aku berpesta pora didampingi isterinya yang semakin cantik saja, dia tertawa-tawa dan bertingkah seperti anak kecil saking senangnya, ha..ha..ha!"
"Paman
Ktut Bumi Setra, mengapa Paman Dibya Krendasakti bersenang-senang?" tanya
Niken Harni yang ingin tahu sekali.
"Heh? Oh?
Lho, engkau sudah mengenal namaku, bocah ayu?"
"Huh,
makin tua engkau makin bodoh saja, Ktut! Tadi sudah kusebut namamu tentu saja
Niken Harni mengetahui namamu!"
"Waduh!
Namanya Niken Harni? Sungguh tepat, namanya sama manisnya dengan orangnya."
"Sudahlah,
Paman. Tidak ada gunanya Paman memuji-mujiku. Pertanyaanku tadi belum
dijawab!" kata Niken Harni ketus.
"Walah-waiah!
Sama galaknya dengan gurunya, ha-ha-ha! Baiklah, cah ayu, Si Dibya Krendasakti
itu agaknya menjadi muda kembali. Dia begitu mesra dengan isterinya, tampak
sekali mereka bermesraan seperti sepasang kekasih remaja, ha-ha. Dan selain
itu, dia juga memamerkan hasilnya mengambil Cupu Manik Maya dari kedaton
(istana) Kahuripan! Hebat tidak Si Tua Bangka itu?"
"He-he!
jadi Si Dibya itu sudah berhasil mengambil Cupu Manik Maya? Bagus, bagus
sekali! Ah, Si Erlangga tentu kebingungan seperti kebakaran jenggot,
he-he-he!"
"Sang
Prabu Erlangga tidak berjenggot. Wajahnya bersih halus!" tiba-tiba Niken
Harni berseru membelanya.
"Lho!
Bagaimana ini? Mengapa guru dan murid berbeda pendapat?" tegur Wiku Ktut
Bumi Setra heran.
"Huh, aku
benci Erlangga dan Narotama!" kata Nini Bumigarbo sambil cemberut.
"Sang
Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama adalah pepundenku (junjunganku)! Sebagai
kawula Kahuripan tentu aku membela mereka!" kata pula Niken Harni.
"Ha-ha-ha,
kalian lucu. Berbeda pendapat seperti bumi dan langit akan tetapi sama kerasnya
seperti batu gunungl" Wiku Ktut Bumi Setra tertawa.
"Dibya
Krendasakti bercerita banyak. Malam itu dia menyaksikan betapa Kadipaten
Kahuripan diserbu banyak tokoh empat kadipaten."
"Ahhh...!"
Niken Harni berseru kaget.
"Ha ha,
bagus sekali! Lalu bagaiman ceritanya, Ktut?" tanya Nini Bumigarbo dengan
wajah berseri.
"Akhirnya
muncul Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang berhasil mengusir para
penyerbu, akan tetapi para penyerbu itu telah membunuh banyak perajurit, dan
bahkan Dibya Krendasakti sempat melihat putera Patih Narotama dibawa lari oleh
para penyerbu."
"Wah,
bagus! Bagus sekali!" Nini Bumigarbo berteriak kegirangan.
"Huh,
para penyerbu pengecut! Kalah menghadapi orang tuanya, mengapa menculik anak
kecil yang tidak tahu apa-apa?" seru Niken Harni penasaran sekali. Ia
pernah melihat Joko Pekik Satyabudhi, putera tunggal Ki Patih Narotarna. Anak berusia
setahun lebih itu amat lucu dan mungil dan sekarang diculik oleh orang-orang
jahat! Agaknya hati Wiku Ktut Bumi Setra senang melihat betapa ceritanya
mendatangkan perasaan yang berlawanan pada guru dan murid itu.
"Dalam
perjalananku ke sini, aku lewat Kahuripan dan mendengar bahwa baru saja,
Kahuripan diserang secara besar-besaran oleh laksaan perajurit dari Wengker,
Wurawuri, Parang Siluman, dan Siluman Laut Kidul. Mereka berempat itu menyerang
dari empat jurusan, mengepung Kahuripan!"
"Wah,
bagus sekali! Mampus kalian sekarang, murid-murid Resi Satyadharma!
He-he-hl-hik!" Nini Bumigarbo tertawa senang.
"Kabarnya
terjadi perang besar yang amat hebat, mendatangkan korban beribu-ribu orang di
kedua pihak."
"Dan
Kahuripan dapat diduduki dan ditaklukkan, Erlangga dan Narotama ditawan atau
dibunuh?” tanya Nini Bumigarbo. penuh harapan.
Wlku Ktut Bumi
Setra menggeleng kepalanya.
"Tidak
mudah menundukkan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Setelah perang
besar yang menjatuhkan banyak korban kedua pihak, kabarnya pasukan Kahuripan
dapat memukul mundur semua pasukan keempat kerajaan yang mengepung dan
menyerangnya."
"Huh,
menyebalkan. Mereka semua tolol, tidak becus!" Nini Bumigarbo mengomel
dengan kecewa.
"Hore…
Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama memang hebat! Kahuripan amat kuat,
siapa yang mampu mengalahkannya?" teriak Niken Harni kegirangan mendengar
bahwa Kahuripan menang perang. Biarpun mereka berdua sudah saling berjanji
bahwa Niken Harni tidak akan dibawa dalam permusuhan Nini Bumigarbo terhadap
raja dan patih Kahuripan itu, tetap saja Nini Bumigarbo panas hatinya melihat
gadis itu kegirangan sedangkan ia sebaliknya merasa kecewa dan marah sekail.
"Huh,
kalau saja aku tidak terikat janji dengan Ekadenta, kepala Erlangga dan
Narotama tentu sudah kupenggal dari tubuh mereka!"
"Hei,
Gayatri! Mengapa engkau begitu membenci Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih
Narotarna?" tanya Wiku Ktut Bumi Setra.
Nini Bumigarbo
yang sedang jengkel mendengar kegagalan empat kerajaan menundukkan Kahuripan,
menjawab ketus.
”Bukan
urusanmu! Hemm, Ktut, sebetulnya engkau datang ke sini ada keperluan apakah?
Hayo katakan karena aku tidak suka kalau engkau datang tanpa keperluan apa-apa.
Aku tidak suka diganggu!"
"Ho-ho,
mengapa engkau bersikap galak terhadap aku, Gayatri? Bukankah sejak dahulu kita
bersahabat dan saling bertukar ilmu? Terus terang saja, selama perantauanku ke
Nusa Jawa ini, aku belum pernah menemui tandingan yang dapat mengalahkan aku.
Maka aku teringat kepadamu dan aku menduga-duga apakah sekarang ilmu kepandaianmu
sudah meningkat hebat? Aku ingin sekali menguji kesaktianmu, Gayatri. Itulah
keperluanku datang berkunjung ini!"
Tiba-tiba
terdengar seruan dari bawah puncak, suaranya nyaring terdengar dari tempat itu.
"Bibi
Nini Bumigarbo, maafkan kelancangan saya yang datang berkunjung tanpa
diundang!"
Tiga orang itu
memandang ke arah suara di bawah puncak dan mereka melihat seorang pemuda
mendaki puncak dengan cepat dan mudah, seperti yang dilakukan Wiku Ktut Bumi
Setra tadi, ini menandakan bahwa pemuda yang sedang mendaki puncak itu bukan
orang sembarangan. Nini Bumigarbo memandang dengan alis berkerut, tanda bahwa
hatinya tidak senang menerima kunjungan orang yang tidak diundangnya. Akan
tetapi Wiku Ktut Bumi Setra memandang dengan wajah berseri.
"Wah,
pemuda itu pantas untuk kuajak menguji kesaktian!"
Tak lama
kemudian Nurseta telah berdiri, berhadapan dengan tiga orang yang masih duduk
di atas batu itu. Dia sudah pernah melihat Nini Bumigarbo ketika nenek itu
bertanding melawan Bhagawan Ekadenta. Akan tetapi dia tidak mengenal kakek yang
tinggi kurus bermuka burik (bopeng) berpakaian serba putih, kedua pergelangan
tangan dilingkari akar bahar hitam besar dan tangannya memegang sebatang
tongkat ular itu. Wajah kakek itu menyeramkan karena matanya mencorong aneh.
Ketika dia melihat gadis jelita yang duduk di atas batu memandang kepadanya,
Nurseta juga tidak mengenalnya, akan tetapi dia menduga mungkin gadis ini adik
Puspa Dewi yang bernama Niken Harni.
"Apakah
Andika Nimas Niken Harni, adik Puspa Dewi?" tanyanya dengan lembut sambil
memandang gadis itu.
Karena tidak
mengenal Nurseta, Niken Harni tidak segera menjawab, melainkan memandang dengan
sinar mata tajam penuh selidik. Nini Bumigarbo berkata dengan ketus.
"Bocah
lancang, kalau ia benar Niken Harni, lalu engkau mau apa? Berani engkau datang
ke tempatku ini tanpa diundang? Apa engkau sudah bosan hidup?"
Nurseta
merangkap kedua tangan di depan dada, memberi sembah dengar hormat ke arah Nini
Bumigarbo yang dia tahu merupakan wanita yang disayang oleh Bhagawan Ekadenta,
maka patut dihormatinya.
"Bibi
yang mulia, saya ulangi lagi permohonan maaf saya bahwa saya telah berani
bertindak lancang datang berkunjung tanpa dipanggil. Kedatangan saya menghadap
Bibi adalah untuk mohon agar Bibi sudi membebaskan Niken Harni."
"Huh
berani engkau mencampuri urusanku? Sudah terlalu tinggi kesaktianmu maka engkau
berani menentangku?"
"Maaf,
Bibi. Saya sama sekali tidak berani menentang Bibi, saya sebagai orang yang
pernah mendapat kebahagiaan menerima pendidikan Bapa Guru Bhagawan Ekadenta,
tidak berani kurang ajar terhadap Bibi."
"Hemm,
murid Ekadenta?" Nini Bumigarbo meragu.
Tentu saja ia
merasa tidak enak kalau harus membunuh murid Ekadenta, apalagi membunuh,
melukai berat saja ia merasa sungkan,
"Heh,
Wiku Ktut, engkau tadi menantang aku. Nah, lawanlah murid Bhagawan Ekadenta
ini, kalau engkau dapat menang, baru engkau ada harganya melawan aku!"
Dengan cara
ini, Nini Bumigarbo hendak menghukum Nurseta akan tetapi ia lepas tangan. Kalau
Nurseta terbunuh atau terluka, Ktut Bumi Setra yang disalahkan, bukan ia!
Mendengar ini, Wiku Ktut Bumi Setra bangkit berdiri, turun dari batu yang
didudukinya, lalu menghampiri Nurseta dan berdiri di depan pemuda itu. Dia
mengamati wajah pemuda itu dan menyeringai dengan sikap mengejek.
"Orang
muda, engkau murid Bhagawan Ekadenta?"
"Saya
tidak berani mengaku murid penuh, namun saya pernah menerima petunjuk beliau,
Paman."
"Siapa
namamu, orang muda?" tanya Wiku Ktut Bumi Setra, agak senang hatinya
karena pemuda itu bersikap sopan dan halus.
"Nama
saya Nurseta."
Mendengar ini,
Niken Harni memandang penuh perhatian. Ia belum pernah bertemu Nurseta, akan
tetapi tentu saja ia pernah mendengar namanya. Nama Nurseta ini menjadi buah
percakapan para pamong praja di kota raja, bahkan ayah dan kakeknya memuji-muji
nama ini. Sekarang pemuda yang terkenal setia dan berjasa terhadap Kahuripan
itu datang menempuh bahaya untuk membebaskannya!
"Nurseta.
agaknya kita memang berjodoh untuk saling menguji kesaktian. Aku Wiku Ktut Bumi
Setra dari Bali-dwipa berkunjung ke sini untuk menantang Nin Bumigarbo saling
menguji ilmu kepandaian. Dan engkau datang juga menantang Nini Bumigarbo untuk
membebaskan Niken Harni. Sekarang Nini Bumigarbo mewakilkan padaku untuk
melawanmu. Nah, mari Nurseta, kita main-main sebentar. Ingin aku menguji
kesaktian murid Bhagawan Ekadenta!"
Nurseta maklum
bahwa dia berhadapan dengan seorang tua yang sakti mandraguna. Seorang yang
sudah berani menantang Nini Bumigarbo sudah pasti memiliki ilmu kepandaian
tinggi. Dia bersikap hormat, menyembah dan berkata tanpa bermaksud menghindar
karena takut.
"Paman
Wjku Ktut Bumi Setra, saya datang ke sini bukan untuk menentang atau menantang
Bibi Nini Bumigarbo, juga tidak hendak menantang Andika. Saya tidak ingin
bermusuhan dengan Andika, Paman."
"Ha-ha-ho-ho-ho!
Tidak suka bermusuhan dan merendahkan hati, ciri khas Bhagawan Ekadenta! Akan
tetapi, Nurseta, kalau engkau tidak menantangku, sebaliknya akulah yang
menantangmu. Hayo!" tantang Wiku Ktut Bumi Setra.
"Saya
tidak ingin berkelahi dengan Andika, Paman Wiku."
"Ini
bukan berkelahi, melainkan saling menguji ilmu kepandaian" bantah kakek
dari Bali itu.
"Huhuh
Mengapa Bhagawan Ekadenta mempunyai murid seperti ini? Pengecut dan penakut!
Dia tentu akan merasa malu sekali kalau melihat sendiri betapa muridnya
ketakutan dan tidak berani menerima tantangan Wiku Ktut Bumi Setra!" kata
Nini Bumigarbo dengan suara mengejek.
Tiba-tiba
Niken Harni bicara dengan suara nyaring dan mengandung penasaran.
"Wih!
Namanya dikenal dan dipuji seluruh orang Kahuripan, akan tetapi nyatanya
ditantang seorang kakek kurus saja tidak berani. Sungguh memalukan!"
Mendengar
celaan-celaan itu, wajah Nurseta menjadi kemerahan.
"Nurseta,
mau atau tidak mau engkau harus melawan aku mengadu kesaktian. Nah, sambutlah
seranganku ini!" Setelah berkata demikian, Wiku Ktut Bumi Setra sudah
bergerak memutar tongkat ularnya lalu dengan Aji Garuda Anglayang, tubuhnya
seolah melayang dan meluncur ke arah Nurseta dan tongkat ularnya itu seolah
menjadi ular hidup dan ujungnya menusuk ke arah leher Nurseta! Gerakannya itu
selain cepat juga mengandung tenaga dalam yang amat kuat sehingga terdengar
bunyi angin bersiutan. Akan tetapi dengan pengerahan Aji Bayu Sakti, gerakan
Nurseta tidak kalah cepatnya dan dia sudah mengelak sehingga tusukan tongkat ular
hitam itu meluncur lewat di samping tubuhnya. Namun Nurseta masih belum mau
membalas. Bagaimanapun juga, melawan seorang datuk yang sudah mengenal baik
Nini Bumigarbo dan Bhagawan Ekadenta ini, dia merasa agak sungkan. Akan tetapi
agaknya Wiku Ktut Bumi Setra tidak ragu-ragu atau sungkan lagi. Begitu
tusukannya luput, kini tangan kirinya menyambar ke arah kepala Nurseta dengan
tamparan yang amat dahsyat. Gerakan tangan kiri yang dihias gelang akar bahar
hitam itu sedemikian cepatnya sehingga berubah menjadi bayangan hitam menyambar
kepala seperti geledek mengancam kepala Nurseta.
Sekali ini
Nurseta menggerakkan tangan kanan menangkis tamparan tangan kiri Sang Wiku
sambil mengerahkan tenaga sakti karena dia maklum betapa dahsyat tamparan itu,
walaupun tampaknya perlahan saja.
No comments:
Post a Comment