Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 68


"Benar, Gayatri dan wah... dasar perutku sedang beruntung, Si Dibya itu agaknya sedang berbahagia sekali. Sepanjang malam dia mengajak aku berpesta pora didampingi isterinya yang semakin cantik saja, dia tertawa-tawa dan bertingkah seperti anak kecil saking senangnya, ha..ha..ha!"
"Paman Ktut Bumi Setra, mengapa Paman Dibya Krendasakti bersenang-senang?" tanya Niken Harni yang ingin tahu sekali.
"Heh? Oh? Lho, engkau sudah mengenal namaku, bocah ayu?"
"Huh, makin tua engkau makin bodoh saja, Ktut! Tadi sudah kusebut namamu tentu saja Niken Harni mengetahui namamu!"
"Waduh! Namanya Niken Harni? Sungguh tepat, namanya sama manisnya dengan orangnya."
"Sudahlah, Paman. Tidak ada gunanya Paman memuji-mujiku. Pertanyaanku tadi belum dijawab!" kata Niken Harni ketus.
"Walah-waiah! Sama galaknya dengan gurunya, ha-ha-ha! Baiklah, cah ayu, Si Dibya Krendasakti itu agaknya menjadi muda kembali. Dia begitu mesra dengan isterinya, tampak sekali mereka bermesraan seperti sepasang kekasih remaja, ha-ha. Dan selain itu, dia juga memamerkan hasilnya mengambil Cupu Manik Maya dari kedaton (istana) Kahuripan! Hebat tidak Si Tua Bangka itu?"
"He-he! jadi Si Dibya itu sudah berhasil mengambil Cupu Manik Maya? Bagus, bagus sekali! Ah, Si Erlangga tentu kebingungan seperti kebakaran jenggot, he-he-he!"
"Sang Prabu Erlangga tidak berjenggot. Wajahnya bersih halus!" tiba-tiba Niken Harni berseru membelanya.
"Lho! Bagaimana ini? Mengapa guru dan murid berbeda pendapat?" tegur Wiku Ktut Bumi Setra heran.
"Huh, aku benci Erlangga dan Narotama!" kata Nini Bumigarbo sambil cemberut.
"Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama adalah pepundenku (junjunganku)! Sebagai kawula Kahuripan tentu aku membela mereka!" kata pula Niken Harni.
"Ha-ha-ha, kalian lucu. Berbeda pendapat seperti bumi dan langit akan tetapi sama kerasnya seperti batu gunungl" Wiku Ktut Bumi Setra tertawa.
"Dibya Krendasakti bercerita banyak. Malam itu dia menyaksikan betapa Kadipaten Kahuripan diserbu banyak tokoh empat kadipaten."
"Ahhh...!" Niken Harni berseru kaget.
"Ha ha, bagus sekali! Lalu bagaiman ceritanya, Ktut?" tanya Nini Bumigarbo dengan wajah berseri.
"Akhirnya muncul Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama yang berhasil mengusir para penyerbu, akan tetapi para penyerbu itu telah membunuh banyak perajurit, dan bahkan Dibya Krendasakti sempat melihat putera Patih Narotama dibawa lari oleh para penyerbu."
"Wah, bagus! Bagus sekali!" Nini Bumigarbo berteriak kegirangan.
"Huh, para penyerbu pengecut! Kalah menghadapi orang tuanya, mengapa menculik anak kecil yang tidak tahu apa-apa?" seru Niken Harni penasaran sekali. Ia pernah melihat Joko Pekik Satyabudhi, putera tunggal Ki Patih Narotarna. Anak berusia setahun lebih itu amat lucu dan mungil dan sekarang diculik oleh orang-orang jahat! Agaknya hati Wiku Ktut Bumi Setra senang melihat betapa ceritanya mendatangkan perasaan yang berlawanan pada guru dan murid itu.
"Dalam perjalananku ke sini, aku lewat Kahuripan dan mendengar bahwa baru saja, Kahuripan diserang secara besar-besaran oleh laksaan perajurit dari Wengker, Wurawuri, Parang Siluman, dan Siluman Laut Kidul. Mereka berempat itu menyerang dari empat jurusan, mengepung Kahuripan!"
"Wah, bagus sekali! Mampus kalian sekarang, murid-murid Resi Satyadharma! He-he-hl-hik!" Nini Bumigarbo tertawa senang.
"Kabarnya terjadi perang besar yang amat hebat, mendatangkan korban beribu-ribu orang di kedua pihak."
"Dan Kahuripan dapat diduduki dan ditaklukkan, Erlangga dan Narotama ditawan atau dibunuh?” tanya Nini Bumigarbo. penuh harapan.
Wlku Ktut Bumi Setra menggeleng kepalanya.
"Tidak mudah menundukkan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Setelah perang besar yang menjatuhkan banyak korban kedua pihak, kabarnya pasukan Kahuripan dapat memukul mundur semua pasukan keempat kerajaan yang mengepung dan menyerangnya."
"Huh, menyebalkan. Mereka semua tolol, tidak becus!" Nini Bumigarbo mengomel dengan kecewa.
"Hore… Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama memang hebat! Kahuripan amat kuat, siapa yang mampu mengalahkannya?" teriak Niken Harni kegirangan mendengar bahwa Kahuripan menang perang. Biarpun mereka berdua sudah saling berjanji bahwa Niken Harni tidak akan dibawa dalam permusuhan Nini Bumigarbo terhadap raja dan patih Kahuripan itu, tetap saja Nini Bumigarbo panas hatinya melihat gadis itu kegirangan sedangkan ia sebaliknya merasa kecewa dan marah sekail.
"Huh, kalau saja aku tidak terikat janji dengan Ekadenta, kepala Erlangga dan Narotama tentu sudah kupenggal dari tubuh mereka!"
"Hei, Gayatri! Mengapa engkau begitu membenci Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotarna?" tanya Wiku Ktut Bumi Setra.

Nini Bumigarbo yang sedang jengkel mendengar kegagalan empat kerajaan menundukkan Kahuripan, menjawab ketus.
”Bukan urusanmu! Hemm, Ktut, sebetulnya engkau datang ke sini ada keperluan apakah? Hayo katakan karena aku tidak suka kalau engkau datang tanpa keperluan apa-apa. Aku tidak suka diganggu!"
"Ho-ho, mengapa engkau bersikap galak terhadap aku, Gayatri? Bukankah sejak dahulu kita bersahabat dan saling bertukar ilmu? Terus terang saja, selama perantauanku ke Nusa Jawa ini, aku belum pernah menemui tandingan yang dapat mengalahkan aku. Maka aku teringat kepadamu dan aku menduga-duga apakah sekarang ilmu kepandaianmu sudah meningkat hebat? Aku ingin sekali menguji kesaktianmu, Gayatri. Itulah keperluanku datang berkunjung ini!"
Tiba-tiba terdengar seruan dari bawah puncak, suaranya nyaring terdengar dari tempat itu.
"Bibi Nini Bumigarbo, maafkan kelancangan saya yang datang berkunjung tanpa diundang!"
Tiga orang itu memandang ke arah suara di bawah puncak dan mereka melihat seorang pemuda mendaki puncak dengan cepat dan mudah, seperti yang dilakukan Wiku Ktut Bumi Setra tadi, ini menandakan bahwa pemuda yang sedang mendaki puncak itu bukan orang sembarangan. Nini Bumigarbo memandang dengan alis berkerut, tanda bahwa hatinya tidak senang menerima kunjungan orang yang tidak diundangnya. Akan tetapi Wiku Ktut Bumi Setra memandang dengan wajah berseri.
"Wah, pemuda itu pantas untuk kuajak menguji kesaktian!"
Tak lama kemudian Nurseta telah berdiri, berhadapan dengan tiga orang yang masih duduk di atas batu itu. Dia sudah pernah melihat Nini Bumigarbo ketika nenek itu bertanding melawan Bhagawan Ekadenta. Akan tetapi dia tidak mengenal kakek yang tinggi kurus bermuka burik (bopeng) berpakaian serba putih, kedua pergelangan tangan dilingkari akar bahar hitam besar dan tangannya memegang sebatang tongkat ular itu. Wajah kakek itu menyeramkan karena matanya mencorong aneh. Ketika dia melihat gadis jelita yang duduk di atas batu memandang kepadanya, Nurseta juga tidak mengenalnya, akan tetapi dia menduga mungkin gadis ini adik Puspa Dewi yang bernama Niken Harni.
"Apakah Andika Nimas Niken Harni, adik Puspa Dewi?" tanyanya dengan lembut sambil memandang gadis itu.
Karena tidak mengenal Nurseta, Niken Harni tidak segera menjawab, melainkan memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik. Nini Bumigarbo berkata dengan ketus.
"Bocah lancang, kalau ia benar Niken Harni, lalu engkau mau apa? Berani engkau datang ke tempatku ini tanpa diundang? Apa engkau sudah bosan hidup?"
Nurseta merangkap kedua tangan di depan dada, memberi sembah dengar hormat ke arah Nini Bumigarbo yang dia tahu merupakan wanita yang disayang oleh Bhagawan Ekadenta, maka patut dihormatinya.
"Bibi yang mulia, saya ulangi lagi permohonan maaf saya bahwa saya telah berani bertindak lancang datang berkunjung tanpa dipanggil. Kedatangan saya menghadap Bibi adalah untuk mohon agar Bibi sudi membebaskan Niken Harni."
"Huh berani engkau mencampuri urusanku? Sudah terlalu tinggi kesaktianmu maka engkau berani menentangku?"
"Maaf, Bibi. Saya sama sekali tidak berani menentang Bibi, saya sebagai orang yang pernah mendapat kebahagiaan menerima pendidikan Bapa Guru Bhagawan Ekadenta, tidak berani kurang ajar terhadap Bibi."
"Hemm, murid Ekadenta?" Nini Bumigarbo meragu.
Tentu saja ia merasa tidak enak kalau harus membunuh murid Ekadenta, apalagi membunuh, melukai berat saja ia merasa sungkan,
"Heh, Wiku Ktut, engkau tadi menantang aku. Nah, lawanlah murid Bhagawan Ekadenta ini, kalau engkau dapat menang, baru engkau ada harganya melawan aku!"

Dengan cara ini, Nini Bumigarbo hendak menghukum Nurseta akan tetapi ia lepas tangan. Kalau Nurseta terbunuh atau terluka, Ktut Bumi Setra yang disalahkan, bukan ia! Mendengar ini, Wiku Ktut Bumi Setra bangkit berdiri, turun dari batu yang didudukinya, lalu menghampiri Nurseta dan berdiri di depan pemuda itu. Dia mengamati wajah pemuda itu dan menyeringai dengan sikap mengejek.
"Orang muda, engkau murid Bhagawan Ekadenta?"
"Saya tidak berani mengaku murid penuh, namun saya pernah menerima petunjuk beliau, Paman."
"Siapa namamu, orang muda?" tanya Wiku Ktut Bumi Setra, agak senang hatinya karena pemuda itu bersikap sopan dan halus.
"Nama saya Nurseta."
Mendengar ini, Niken Harni memandang penuh perhatian. Ia belum pernah bertemu Nurseta, akan tetapi tentu saja ia pernah mendengar namanya. Nama Nurseta ini menjadi buah percakapan para pamong praja di kota raja, bahkan ayah dan kakeknya memuji-muji nama ini. Sekarang pemuda yang terkenal setia dan berjasa terhadap Kahuripan itu datang menempuh bahaya untuk membebaskannya!
"Nurseta. agaknya kita memang berjodoh untuk saling menguji kesaktian. Aku Wiku Ktut Bumi Setra dari Bali-dwipa berkunjung ke sini untuk menantang Nin Bumigarbo saling menguji ilmu kepandaian. Dan engkau datang juga menantang Nini Bumigarbo untuk membebaskan Niken Harni. Sekarang Nini Bumigarbo mewakilkan padaku untuk melawanmu. Nah, mari Nurseta, kita main-main sebentar. Ingin aku menguji kesaktian murid Bhagawan Ekadenta!"
Nurseta maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang tua yang sakti mandraguna. Seorang yang sudah berani menantang Nini Bumigarbo sudah pasti memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dia bersikap hormat, menyembah dan berkata tanpa bermaksud menghindar karena takut.
"Paman Wjku Ktut Bumi Setra, saya datang ke sini bukan untuk menentang atau menantang Bibi Nini Bumigarbo, juga tidak hendak menantang Andika. Saya tidak ingin bermusuhan dengan Andika, Paman."
"Ha-ha-ho-ho-ho! Tidak suka bermusuhan dan merendahkan hati, ciri khas Bhagawan Ekadenta! Akan tetapi, Nurseta, kalau engkau tidak menantangku, sebaliknya akulah yang menantangmu. Hayo!" tantang Wiku Ktut Bumi Setra.
"Saya tidak ingin berkelahi dengan Andika, Paman Wiku."
"Ini bukan berkelahi, melainkan saling menguji ilmu kepandaian" bantah kakek dari Bali itu.
"Huhuh Mengapa Bhagawan Ekadenta mempunyai murid seperti ini? Pengecut dan penakut! Dia tentu akan merasa malu sekali kalau melihat sendiri betapa muridnya ketakutan dan tidak berani menerima tantangan Wiku Ktut Bumi Setra!" kata Nini Bumigarbo dengan suara mengejek.
Tiba-tiba Niken Harni bicara dengan suara nyaring dan mengandung penasaran.
"Wih! Namanya dikenal dan dipuji seluruh orang Kahuripan, akan tetapi nyatanya ditantang seorang kakek kurus saja tidak berani. Sungguh memalukan!"
Mendengar celaan-celaan itu, wajah Nurseta menjadi kemerahan.
"Nurseta, mau atau tidak mau engkau harus melawan aku mengadu kesaktian. Nah, sambutlah seranganku ini!" Setelah berkata demikian, Wiku Ktut Bumi Setra sudah bergerak memutar tongkat ularnya lalu dengan Aji Garuda Anglayang, tubuhnya seolah melayang dan meluncur ke arah Nurseta dan tongkat ularnya itu seolah menjadi ular hidup dan ujungnya menusuk ke arah leher Nurseta! Gerakannya itu selain cepat juga mengandung tenaga dalam yang amat kuat sehingga terdengar bunyi angin bersiutan. Akan tetapi dengan pengerahan Aji Bayu Sakti, gerakan Nurseta tidak kalah cepatnya dan dia sudah mengelak sehingga tusukan tongkat ular hitam itu meluncur lewat di samping tubuhnya. Namun Nurseta masih belum mau membalas. Bagaimanapun juga, melawan seorang datuk yang sudah mengenal baik Nini Bumigarbo dan Bhagawan Ekadenta ini, dia merasa agak sungkan. Akan tetapi agaknya Wiku Ktut Bumi Setra tidak ragu-ragu atau sungkan lagi. Begitu tusukannya luput, kini tangan kirinya menyambar ke arah kepala Nurseta dengan tamparan yang amat dahsyat. Gerakan tangan kiri yang dihias gelang akar bahar hitam itu sedemikian cepatnya sehingga berubah menjadi bayangan hitam menyambar kepala seperti geledek mengancam kepala Nurseta.

Sekali ini Nurseta menggerakkan tangan kanan menangkis tamparan tangan kiri Sang Wiku sambil mengerahkan tenaga sakti karena dia maklum betapa dahsyat tamparan itu, walaupun tampaknya perlahan saja.

<<< Bagian 67                                                                                         Bagian 69 >>>

No comments:

Post a Comment