"Syuuuttt... plakk!"
Dua tangan
bertemu dan keduanya terpental. Kakek itu terkejut dan dia baru maklum bahwa
pemuda ini tidak percuma pernah mendapat pendidikan Bhagawan Ekadenta karena
ternyata memiliki tenaga sakti yang mampu menandinginya! Tongkatnya kini sudah
menyambar lagi setelah dia mundur dua langkah. Ujung tongkatnya menusuk ke arah
ulu hati pemuda itu. Kembali tangan Nurseta bergerak, yang kiri menangkis dari
dalam, membuat tongkat itu terpental dan tusukan ke arah ulu hati itu gagal.
Nurseta kini merasa sudah tiba saatnya untuk membalas karena kalau mengalah
terus dan membiarkan dirinya dihujani serangan hal itu akan merugikan diri sendiri.
Dari samping,
kakinya mencuat dan menendang ke arah lutut lawan. Dia masih rikuh (sungkan)
untuk menendang perut atau dada, maka yang ditendangnya lutut kanan lawan. Akan
tetapi kalau tendangan itu mengenai sasaran, mungkin sambungan tulang pada lutut
akan terlepas! Akan tetapi dengan sigapnya Wiku Ktut Bumi Setra melompat ke
belakang menghindarkan lututnya dari ancaman tendangan. Kemudian dia menerjang
lagi dan mengerahkan tongkat lebih cepat sehingga tongkat itu berubah menjadi
gulungan sinar hitam.
Nurseta adalah
seorang pemuda yang mendapat gemblengan dari gurunya, mendiang Empu Dewamurti,
kemudian selama tiga bulan dia menerima petunjuk-petunjuk dari Bhagawan
Ekadenta. Selama ini, Nurseta tidak pernah mempergunakan senjata, melainkan
hanya mengandalkan kecepatan gerak tubuhnya dan keampuhan dua pasang kaki
tangannya. Maka, keris pusaka Kyai Kolomisani pemberian Ki Patih Narotarna
hanya terselip di pinggangnya dan hampir tidak pernah dia menggunakannya.
Sekarangpun, biar menghadapi serangan bertubi dari Sang Wiku yang bersenjatakan
sebatang tongkat ular hitam, dia pun hanya mengandalkan kaki tangannya untuk
mengelak, menangkis, dan membalas serangan lawan. Akan tetapi karena lawannya
itu memang seorang datuk dari Bali-dwipa yang amat tangguh, maka Nurseta harus
mengerahkan seluruh tenaga dan tak pernah melepaskan gerakan dari Aji Bayu
Sakti yang membuat tubuhnya dapat bergerak seperti angin, dan menggerakkan kaki
tangannya dengan ilmu silat Baka Denta (Bangau Putih). Kedua lengannya seperti
sayap bangau menangkis atau menampar, kedua kakinya seperti kaki bangau yang
menendang-nendang, dan terkadang jari tangannya seperti paruh bangau yang
menotok dan menusuk. Pertandingan berjalan seru. Mereka saling bertukar
serangan, saling tendang dan tangkis. Tubuh mereka seolah menjadi dua bayangan
yang bergerak cepat diselimuti gulungan sinar hitam dan tongkat yang dimainkan
Wiku Ktut Bumi Setra.
Kini Niken
Harni memandang dengan sepasang mata yang tak pernah berkedip dan kagum. Ia
menyaksikan pertandingan adu kesaktian tingkat tinggi yang menegangkan. Ia
sendiri agak sukar mengikuti gerakan dua orang itu dan ia melihat Nini
Bumigarbo juga menonton pertandingan dan beberapa kali gurunya itu
mengangguk-angguk seperti orang memuji. Semakin kuat dorongan hasrat hati Niken
Harni untuk mempelajari dan menguasai ilmu-ilmu tinggi dari Nini Bumigarbo. Ia
tidak dapat menilai siapa yang lebih unggul dan tidak tahu siapa yang akan
keluar sebagai pemenang. Setelah kurang lebih setengah jam mereka bertanding,
saling serang dan mengeluarkan semua jurus yang mereka kuasai, namun belum juga
dapat mengalahkan lawan, Wiku Ktut Bumi Setra menjadi penasaran juga. Segala
gerak tipu ilmu silat telah dia pergunakan, semua tenaga sakti telah dia
kerahkan, namun dia tidak mampu mengalahkan lawannya. Jangankan mengalahkan,
mendesak pun tidak dapat. Biarpun sudah tiga kali sebuah tamparan tangan
kirinya dan dua kali hantaman tongkat ularnya menyerempet tubuh pemuda itu,
namun hal itu seolah tidak dirasakan oleh Nurseta yang melindungi dirinya
dengan kekebalan. Dia sendiri juga menerima dua kali tamparan Nurseta yang
mengenai pundak dan pangkal lengannya, namun juga tidak membuatnya goyah karena
dia melindungi bagian yang terpukul dengan kekebalan.
"Tahan
dulu...!" Seru Wiku Ktut Bumi Setra.
Ketika Nurseta
menghentikan gerakannya, Sang Wiku melompat ke belakang. Dia menahan diri agar
tidak tampak betapa napasnya mulai terengah-engah. Biarpun dia tidak terdesak
atau kalah, usia tuanya membuat daya tahan tubuhnya kurang kuat.
"Terima
kasih, Paman Wiku. Memang sebaiknya kalau kita sudahi saja pertandingan yang
tidak ada gunanya ini." Kata Nurseta agak lega. Dia tidak ingin melukai
Sang Wiku, akan tetapi tentu saja dia pun tidak ingin dirinya dilukai.
"Nurseta,
dalam pertandingan tadi, ternyata engkau tidak mengecewakan menjadi murid
Bhagawan Ekadenta..."
"Paman
Wiku, guru saya adalah mendiang Empu Dewamurti, adapun Paman Bhagawan Ekadenta
hanya memberi petunjuk selama beberapa waktu saja."
"Bagus,
Empu Dewamurti juga seorang pertapa yang sakti mandraguna. Aku pernah mendengar
nama besarnya. Bukankah dia dahulu bertapa di Gunung Arjuna? Akan tetapi,
Nurseta, dalam pertandingan tadi aku belum kalah. Sekarang, cobalah engkau
sambut serangan ilmu sihirku!"
Nurseta tidak
dapat membujuknya lagi dan pemuda ini pun tahu bahwa dia harus waspada karena
lawannya bukanlah orang sembarangan. Biarpun dia percaya bahwa Wiku Ktut Bumi
Setra tidak berniat untuk mencelakainya melainkan hanya hendak menguji ilmu,
namun serangannya dapat mencelakakan kalau dia tidak waspada dan benar-benar
mencurahkan perhatian dan kekuatannya untuk membela diri. Kini Wiku Ktut Bumi
Setra berdiri tegak, kepalanya ditundukkan, mulutnya berkemak-kemik membaca
mantra, kemudian tubuhnya menggetar dan dia mengangkat mukanya memandang kepada
Nurseta, matanya mencorong berkilat, tangan kanan yang memegang tongkat
diangkat ke atas. Lalu terdengar suaranya, lirih namun mengandung gema yang
menggetarkan jantung,
"Nurseta,
lawanlah Si Naga Langking ini!" Tiba-tiba saja muncul kabut atau semacam
asap tebal berwarna kelabu bergerak perlahan dari datuk Bali itu ke arah
Nurseta, dibarengi datangnya angin seperti badai dan muncul pula kilat geledek
bergemuruh menyambar-nyambar ke arah Nurseta! Kemudian, tongkat di tangan Sang
Wiku seolah hidup dan terbang dari tangan yang memegangnya, kini menjadi besar,
merupakan seekor ular atau naga sebesar paha manusia dewasa, mulutnya
menyemburkan api, mendengus-dengus dengan dahsyatnya, terbang meluncur ke arah
Nurseta!
Nurseta
melipat kedua lengan depan dada, dan perlahan-lahan tubuhnya semakin kabur
seolah perlahan-lahan lenyap dan hanya tampak bayangannya saja, itu pun
samar-samar.
"Hemm,
bocah itu telah menguasai Aji Sirna Sarira!" seru Nini Bumigarbo lirih
namun suaranya mengandung kekaguman. Sepengetahuannya, hanya ada beberapa orang
saja yang menguasai aji kesaktian ini dan di antara mereka, termasuk ia dan
Bhagawan Ekadenta!
"Ho-ha!
Ajimu itu tidak dapat menghindar dari serangan maut Naga Langking!" teriak
Wiku Ktut ia mengerahkan seluruh tenaga batinnya untuk memperkuat ciptaan
sihirnya itu.
Naga hitam itu
menyambar dan api yang dihembuskan dari mulutnya itu berkobar menyerang
bayangan Nurseta! Nurseta terkejut juga melihat betapa naga hitam jadi-jadian
itu demikian kuatnya sehingga masih mampir menyerangnya walaupun dia telah
bersembunyi dengan Aji Sirna Sarira. Maka, dia pun menyambut serangan naga
hitam yang menyemburkan api itu dengan mengerahkan tenaga sakti dan
mendorongkan kedua tangan ke depan.
"Wuuuttt....
blarrrr...!"
Hawa pukulan
yang amat dahsyat keluar dari sepasang tangan Nurseta, bertemu dengan naga
hitam itu. Naga hitam terpental dan bunga api yang amat besar berpijar-pijar,
akan tetapi naga hitam itu segera membalik dan menyerang lagi lebih dahsyat.
Terjadilah pertandingan yang amat dahsyat. Berkali-kali naga hitam itu bertemu
dengan pukulan jarak jauh sehingga terdengar ledakan-ledakan, namun hantaman
pukulan sakti Nurseta belum juga dapat mengalahkan naga hitam Itu. Ternyata
dalam adu tenaga sakti kekuatan mereka juga seimbang. Mungkin Wiku Ktut Bumi
Setra lebih kuat sedikit, akan tetapi kembali unsur usia memegang peran penting
dalam kekuatan tubuh manusia, terutama dalam daya tahan. Setelah berkali-kali
mengadu tenaga sakti, mulailah Wiku Ktut Bumi Setra terengah-engah dan wajahnya
agak pucat, dari ubun-ubun kepalanya mengepul uap putih! Sementara itu, biarpun
Nurseta juga sudah bermandi keringat, namun dia masih tegar dan napasnya masih
biasa. Akhirnya Sang Wiku menyadari bahwa dia harus tunduk terhadap ketuaannya
sendiri dan dia maklum bahwa kalau adu tenaga sakti itu dilanjutkan, akhirnya
dia akan celaka. Mengadu tenaga sakti jarak jauh seperti ini jauh lebih
menguras tenaga daripada adu tenaga melalui kaki tangan. Padahal Nurseta hanya
menangkis saja, tidak pernah balas menyerang. Hal ini sudah menunjukkan bahwa
pemuda itu tidak mempunyai niat untuk bermusuhan. Akan tetapi walaupun hanya
menangkis, tetap saja mereka berdua menggunakan tenaga yang sama besarnya dan
sama melelahkan. Tiba-tiba Wiku Ktut Bumi Setra menghentikan ilmu sihirnya dan
naga hitam itu melayang ke tangannya dan berubah menjadi tongkat ular hitam
lagi. Kabut hitam dan angin pun berhenti dan cuaca terang kembali.
Wiku Ktut Bumi
Setra menggunakan kain jubahnya untuk menghapus keringat dari muka dan
lehernya, mengatur pernapasannya, lalu berkata.
"Nurseta,
engkau memang hebat. Akan tetapi aku belum kalah dan kalau sekali ini engkau
mampu menandingi aji pamungkasku, barulah aku mengaku kalah!"
Nurseta diam
saja karena dia maklum bahwa mencegah atau membujuk kakek yang keras hati dan
suka bertanding ini akan percuma saja. Dia hanya siap untuk melayani lawan yang
amat tangguh ini, menunggu dan waspada memperhatikan apa yang hendak dilakukan
lawan yang belum mau mengaku kalah itu. Dengan tenang, Wiku Ktut Bumi Setra
mengeluarkan tiga batang dupa lidi, lalu dia mengambil sehelai daun kering dan
memukulkan ujung tongkatnya pada batu. Bunga api berpijar menyambar daun kering
yang dia dekatkan sehingga daun itu terbakar dan dia pun membakar ujung tiga
batang dupa lidi itu sehingga membara. Tiga batang dupa lidi membara itu lalu
dia selipkan di atas kain putih pengikat kepalanya. Setelah itu,Wiku Ktut Bumi
Setra lalu bersedakap (melipat kedua lengan depan dada), memejamkan mata dan
mulutnya membaca mantra berkepanjangan.
"Huh, dia
akan mengeluarkan aji pamungkasnya yang mengerikan, yaitu Aji Malih
Leyak." kata Nini Bumigarbo kepada Niken Harni.
Gadis ini
pernah mendengar bahwa di Bali-dwipa terkenal dengan aji yang ada hubungannya
dengan pemujaan Sang Batari Durga, atau pemujaan setan ini, yang kabarnya amat
dahsyat dan jahat. Maka ia memandang dengan penuh perhatian dan merasa ngeri
melihat betapa kepala Wiku Ktut Bumi Setra mulai bergerak-gerak sehingga tiga
batang dupa lilin itu bergoyang-goyang dan asapnya membuat bentuk yang aneh.
Juga bau asap dupa lidi itu makin lama semakin memuakkan. Kalau tadinya berbau
wangi yang aneh, kini makin lama berubah menjadi bau busuk, seperti bau
bangkai. Tiba-tiba seluruh tubuh Wiku Ktut Bumi Setra menggigil dan dari
tubuhnya mengepul uap kehitaman tipis yang mengeluarkan bau apak dan busuk.
Tubuh yang menggigil itu menjadi semakin besar, hampir dua kali lipat besarnya
dan tampaklah wujud yang mengerikan sekali. Mahluk yang tinggi besarnya dua
kali manusia dewasa itu bukan manusia lagi, melainkan iblis yang menyeramkan.
Rambutnya gimbal dan mencuat ke sana-sini, matanya lebar dan melotot seperti
akan melompat keluar biji matanya yang besar-besar, alisnya tebal dan kaku
seperti juga rambutnya, mirip kawat. Lengannya berbulu dan panjang, dan
tangannya berkuku panjang. Hidungnya besar merekah dan mulutnya yang paling
menakutkan. Mulut itu ternganga, dengan gigi besar-besar dan ada taring di
kanan kiri, lidahnya terjulur keluar, panjang dan merah dan dari dalam mulutnya
tampak api keluar masuk, seolah dia bernapaskan api! Mahluk itulah yang dikenal
sebagai Leyak atau Iblis yang dipuja mereka yang meninggalkan jalan kebenaran.
Leyak itu terselimuti uap kehitaman yang tipis dan terdengarlah suara gemuruh
seperti suara ratusan mulut setan berteriak-teriak di belakang Leyak ini. Wujud
yang mengerikan itu kini melangkah maju menghampiri Nurseta sambil mengeluarkan
suara gerengan dahsyat.
Niken Harni
yang amat pemberani itu pun kini mengkirik (menggeliang-geliut) saking ngerinya
melihat mahluk yang menyeramkan itu. Apalagi tercium bau yang hampir tak
tertahankan saking busuknya. Mahluk itu sudah merupakan wujud lain dari Wiku
Ktut Bumi Setra. Sukar untuk percaya melihat Sang Wiku dapat berubah seperti
mahluk itu, akan tetapi bukti bahwa di atas pengikat rambut mahluk itu terdapat
tiga batang dupa lidi yang masih membara dan mengeluarkan asap putih, dan kedua
pergelangan tangan mahluk itu juga memakai gelang akar bahar hitam seperti yang
dipakai Wiku Ktut Bumi Setra, maka orang baru akan percaya bahwa Leyak itu
memang malihan (pergantian rupa) Sang Wiku. Nurseta juga terkejut dan sesaat
jantungnya berdebar tegang menghadapi mahluk yang selain menyeramkan, juga
mengeluarkan wibawa yang teramat kuat. Dia pernah mendengar tentang Aji Malih
Leyak ini, akan tetapi baru sekarang dia berhadapan dengan mahluk itu. Akan
tetapi dia segera dapat memulihkan ketenangannya dan karena dia tahu betapa
kuatnya mahluk ini, dia lalu mencabut Keris Pusaka Kolomisani pemberian Ki
Patih Narotama. Dengan keris pusaka di tangan kanan, dia menanti dengan tenang
namun waspada.
No comments:
Post a Comment