Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 69


"Syuuuttt... plakk!"
Dua tangan bertemu dan keduanya terpental. Kakek itu terkejut dan dia baru maklum bahwa pemuda ini tidak percuma pernah mendapat pendidikan Bhagawan Ekadenta karena ternyata memiliki tenaga sakti yang mampu menandinginya! Tongkatnya kini sudah menyambar lagi setelah dia mundur dua langkah. Ujung tongkatnya menusuk ke arah ulu hati pemuda itu. Kembali tangan Nurseta bergerak, yang kiri menangkis dari dalam, membuat tongkat itu terpental dan tusukan ke arah ulu hati itu gagal. Nurseta kini merasa sudah tiba saatnya untuk membalas karena kalau mengalah terus dan membiarkan dirinya dihujani serangan hal itu akan merugikan diri sendiri.
Dari samping, kakinya mencuat dan menendang ke arah lutut lawan. Dia masih rikuh (sungkan) untuk menendang perut atau dada, maka yang ditendangnya lutut kanan lawan. Akan tetapi kalau tendangan itu mengenai sasaran, mungkin sambungan tulang pada lutut akan terlepas! Akan tetapi dengan sigapnya Wiku Ktut Bumi Setra melompat ke belakang menghindarkan lututnya dari ancaman tendangan. Kemudian dia menerjang lagi dan mengerahkan tongkat lebih cepat sehingga tongkat itu berubah menjadi gulungan sinar hitam.
Nurseta adalah seorang pemuda yang mendapat gemblengan dari gurunya, mendiang Empu Dewamurti, kemudian selama tiga bulan dia menerima petunjuk-petunjuk dari Bhagawan Ekadenta. Selama ini, Nurseta tidak pernah mempergunakan senjata, melainkan hanya mengandalkan kecepatan gerak tubuhnya dan keampuhan dua pasang kaki tangannya. Maka, keris pusaka Kyai Kolomisani pemberian Ki Patih Narotarna hanya terselip di pinggangnya dan hampir tidak pernah dia menggunakannya. Sekarangpun, biar menghadapi serangan bertubi dari Sang Wiku yang bersenjatakan sebatang tongkat ular hitam, dia pun hanya mengandalkan kaki tangannya untuk mengelak, menangkis, dan membalas serangan lawan. Akan tetapi karena lawannya itu memang seorang datuk dari Bali-dwipa yang amat tangguh, maka Nurseta harus mengerahkan seluruh tenaga dan tak pernah melepaskan gerakan dari Aji Bayu Sakti yang membuat tubuhnya dapat bergerak seperti angin, dan menggerakkan kaki tangannya dengan ilmu silat Baka Denta (Bangau Putih). Kedua lengannya seperti sayap bangau menangkis atau menampar, kedua kakinya seperti kaki bangau yang menendang-nendang, dan terkadang jari tangannya seperti paruh bangau yang menotok dan menusuk. Pertandingan berjalan seru. Mereka saling bertukar serangan, saling tendang dan tangkis. Tubuh mereka seolah menjadi dua bayangan yang bergerak cepat diselimuti gulungan sinar hitam dan tongkat yang dimainkan Wiku Ktut Bumi Setra.
Kini Niken Harni memandang dengan sepasang mata yang tak pernah berkedip dan kagum. Ia menyaksikan pertandingan adu kesaktian tingkat tinggi yang menegangkan. Ia sendiri agak sukar mengikuti gerakan dua orang itu dan ia melihat Nini Bumigarbo juga menonton pertandingan dan beberapa kali gurunya itu mengangguk-angguk seperti orang memuji. Semakin kuat dorongan hasrat hati Niken Harni untuk mempelajari dan menguasai ilmu-ilmu tinggi dari Nini Bumigarbo. Ia tidak dapat menilai siapa yang lebih unggul dan tidak tahu siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Setelah kurang lebih setengah jam mereka bertanding, saling serang dan mengeluarkan semua jurus yang mereka kuasai, namun belum juga dapat mengalahkan lawan, Wiku Ktut Bumi Setra menjadi penasaran juga. Segala gerak tipu ilmu silat telah dia pergunakan, semua tenaga sakti telah dia kerahkan, namun dia tidak mampu mengalahkan lawannya. Jangankan mengalahkan, mendesak pun tidak dapat. Biarpun sudah tiga kali sebuah tamparan tangan kirinya dan dua kali hantaman tongkat ularnya menyerempet tubuh pemuda itu, namun hal itu seolah tidak dirasakan oleh Nurseta yang melindungi dirinya dengan kekebalan. Dia sendiri juga menerima dua kali tamparan Nurseta yang mengenai pundak dan pangkal lengannya, namun juga tidak membuatnya goyah karena dia melindungi bagian yang terpukul dengan kekebalan.
"Tahan dulu...!" Seru Wiku Ktut Bumi Setra.
Ketika Nurseta menghentikan gerakannya, Sang Wiku melompat ke belakang. Dia menahan diri agar tidak tampak betapa napasnya mulai terengah-engah. Biarpun dia tidak terdesak atau kalah, usia tuanya membuat daya tahan tubuhnya kurang kuat.
"Terima kasih, Paman Wiku. Memang sebaiknya kalau kita sudahi saja pertandingan yang tidak ada gunanya ini." Kata Nurseta agak lega. Dia tidak ingin melukai Sang Wiku, akan tetapi tentu saja dia pun tidak ingin dirinya dilukai.
"Nurseta, dalam pertandingan tadi, ternyata engkau tidak mengecewakan menjadi murid Bhagawan Ekadenta..."
"Paman Wiku, guru saya adalah mendiang Empu Dewamurti, adapun Paman Bhagawan Ekadenta hanya memberi petunjuk selama beberapa waktu saja."
"Bagus, Empu Dewamurti juga seorang pertapa yang sakti mandraguna. Aku pernah mendengar nama besarnya. Bukankah dia dahulu bertapa di Gunung Arjuna? Akan tetapi, Nurseta, dalam pertandingan tadi aku belum kalah. Sekarang, cobalah engkau sambut serangan ilmu sihirku!"

Nurseta tidak dapat membujuknya lagi dan pemuda ini pun tahu bahwa dia harus waspada karena lawannya bukanlah orang sembarangan. Biarpun dia percaya bahwa Wiku Ktut Bumi Setra tidak berniat untuk mencelakainya melainkan hanya hendak menguji ilmu, namun serangannya dapat mencelakakan kalau dia tidak waspada dan benar-benar mencurahkan perhatian dan kekuatannya untuk membela diri. Kini Wiku Ktut Bumi Setra berdiri tegak, kepalanya ditundukkan, mulutnya berkemak-kemik membaca mantra, kemudian tubuhnya menggetar dan dia mengangkat mukanya memandang kepada Nurseta, matanya mencorong berkilat, tangan kanan yang memegang tongkat diangkat ke atas. Lalu terdengar suaranya, lirih namun mengandung gema yang menggetarkan jantung,
"Nurseta, lawanlah Si Naga Langking ini!" Tiba-tiba saja muncul kabut atau semacam asap tebal berwarna kelabu bergerak perlahan dari datuk Bali itu ke arah Nurseta, dibarengi datangnya angin seperti badai dan muncul pula kilat geledek bergemuruh menyambar-nyambar ke arah Nurseta! Kemudian, tongkat di tangan Sang Wiku seolah hidup dan terbang dari tangan yang memegangnya, kini menjadi besar, merupakan seekor ular atau naga sebesar paha manusia dewasa, mulutnya menyemburkan api, mendengus-dengus dengan dahsyatnya, terbang meluncur ke arah Nurseta!
Nurseta melipat kedua lengan depan dada, dan perlahan-lahan tubuhnya semakin kabur seolah perlahan-lahan lenyap dan hanya tampak bayangannya saja, itu pun samar-samar.
"Hemm, bocah itu telah menguasai Aji Sirna Sarira!" seru Nini Bumigarbo lirih namun suaranya mengandung kekaguman. Sepengetahuannya, hanya ada beberapa orang saja yang menguasai aji kesaktian ini dan di antara mereka, termasuk ia dan Bhagawan Ekadenta!
"Ho-ha! Ajimu itu tidak dapat menghindar dari serangan maut Naga Langking!" teriak Wiku Ktut ia mengerahkan seluruh tenaga batinnya untuk memperkuat ciptaan sihirnya itu.
Naga hitam itu menyambar dan api yang dihembuskan dari mulutnya itu berkobar menyerang bayangan Nurseta! Nurseta terkejut juga melihat betapa naga hitam jadi-jadian itu demikian kuatnya sehingga masih mampir menyerangnya walaupun dia telah bersembunyi dengan Aji Sirna Sarira. Maka, dia pun menyambut serangan naga hitam yang menyemburkan api itu dengan mengerahkan tenaga sakti dan mendorongkan kedua tangan ke depan.
"Wuuuttt.... blarrrr...!"
Hawa pukulan yang amat dahsyat keluar dari sepasang tangan Nurseta, bertemu dengan naga hitam itu. Naga hitam terpental dan bunga api yang amat besar berpijar-pijar, akan tetapi naga hitam itu segera membalik dan menyerang lagi lebih dahsyat. Terjadilah pertandingan yang amat dahsyat. Berkali-kali naga hitam itu bertemu dengan pukulan jarak jauh sehingga terdengar ledakan-ledakan, namun hantaman pukulan sakti Nurseta belum juga dapat mengalahkan naga hitam Itu. Ternyata dalam adu tenaga sakti kekuatan mereka juga seimbang. Mungkin Wiku Ktut Bumi Setra lebih kuat sedikit, akan tetapi kembali unsur usia memegang peran penting dalam kekuatan tubuh manusia, terutama dalam daya tahan. Setelah berkali-kali mengadu tenaga sakti, mulailah Wiku Ktut Bumi Setra terengah-engah dan wajahnya agak pucat, dari ubun-ubun kepalanya mengepul uap putih! Sementara itu, biarpun Nurseta juga sudah bermandi keringat, namun dia masih tegar dan napasnya masih biasa. Akhirnya Sang Wiku menyadari bahwa dia harus tunduk terhadap ketuaannya sendiri dan dia maklum bahwa kalau adu tenaga sakti itu dilanjutkan, akhirnya dia akan celaka. Mengadu tenaga sakti jarak jauh seperti ini jauh lebih menguras tenaga daripada adu tenaga melalui kaki tangan. Padahal Nurseta hanya menangkis saja, tidak pernah balas menyerang. Hal ini sudah menunjukkan bahwa pemuda itu tidak mempunyai niat untuk bermusuhan. Akan tetapi walaupun hanya menangkis, tetap saja mereka berdua menggunakan tenaga yang sama besarnya dan sama melelahkan. Tiba-tiba Wiku Ktut Bumi Setra menghentikan ilmu sihirnya dan naga hitam itu melayang ke tangannya dan berubah menjadi tongkat ular hitam lagi. Kabut hitam dan angin pun berhenti dan cuaca terang kembali.

Wiku Ktut Bumi Setra menggunakan kain jubahnya untuk menghapus keringat dari muka dan lehernya, mengatur pernapasannya, lalu berkata.
"Nurseta, engkau memang hebat. Akan tetapi aku belum kalah dan kalau sekali ini engkau mampu menandingi aji pamungkasku, barulah aku mengaku kalah!"
Nurseta diam saja karena dia maklum bahwa mencegah atau membujuk kakek yang keras hati dan suka bertanding ini akan percuma saja. Dia hanya siap untuk melayani lawan yang amat tangguh ini, menunggu dan waspada memperhatikan apa yang hendak dilakukan lawan yang belum mau mengaku kalah itu. Dengan tenang, Wiku Ktut Bumi Setra mengeluarkan tiga batang dupa lidi, lalu dia mengambil sehelai daun kering dan memukulkan ujung tongkatnya pada batu. Bunga api berpijar menyambar daun kering yang dia dekatkan sehingga daun itu terbakar dan dia pun membakar ujung tiga batang dupa lidi itu sehingga membara. Tiga batang dupa lidi membara itu lalu dia selipkan di atas kain putih pengikat kepalanya. Setelah itu,Wiku Ktut Bumi Setra lalu bersedakap (melipat kedua lengan depan dada), memejamkan mata dan mulutnya membaca mantra berkepanjangan.
"Huh, dia akan mengeluarkan aji pamungkasnya yang mengerikan, yaitu Aji Malih Leyak." kata Nini Bumigarbo kepada Niken Harni.
Gadis ini pernah mendengar bahwa di Bali-dwipa terkenal dengan aji yang ada hubungannya dengan pemujaan Sang Batari Durga, atau pemujaan setan ini, yang kabarnya amat dahsyat dan jahat. Maka ia memandang dengan penuh perhatian dan merasa ngeri melihat betapa kepala Wiku Ktut Bumi Setra mulai bergerak-gerak sehingga tiga batang dupa lilin itu bergoyang-goyang dan asapnya membuat bentuk yang aneh. Juga bau asap dupa lidi itu makin lama semakin memuakkan. Kalau tadinya berbau wangi yang aneh, kini makin lama berubah menjadi bau busuk, seperti bau bangkai. Tiba-tiba seluruh tubuh Wiku Ktut Bumi Setra menggigil dan dari tubuhnya mengepul uap kehitaman tipis yang mengeluarkan bau apak dan busuk. Tubuh yang menggigil itu menjadi semakin besar, hampir dua kali lipat besarnya dan tampaklah wujud yang mengerikan sekali. Mahluk yang tinggi besarnya dua kali manusia dewasa itu bukan manusia lagi, melainkan iblis yang menyeramkan. Rambutnya gimbal dan mencuat ke sana-sini, matanya lebar dan melotot seperti akan melompat keluar biji matanya yang besar-besar, alisnya tebal dan kaku seperti juga rambutnya, mirip kawat. Lengannya berbulu dan panjang, dan tangannya berkuku panjang. Hidungnya besar merekah dan mulutnya yang paling menakutkan. Mulut itu ternganga, dengan gigi besar-besar dan ada taring di kanan kiri, lidahnya terjulur keluar, panjang dan merah dan dari dalam mulutnya tampak api keluar masuk, seolah dia bernapaskan api! Mahluk itulah yang dikenal sebagai Leyak atau Iblis yang dipuja mereka yang meninggalkan jalan kebenaran. Leyak itu terselimuti uap kehitaman yang tipis dan terdengarlah suara gemuruh seperti suara ratusan mulut setan berteriak-teriak di belakang Leyak ini. Wujud yang mengerikan itu kini melangkah maju menghampiri Nurseta sambil mengeluarkan suara gerengan dahsyat.
Niken Harni yang amat pemberani itu pun kini mengkirik (menggeliang-geliut) saking ngerinya melihat mahluk yang menyeramkan itu. Apalagi tercium bau yang hampir tak tertahankan saking busuknya. Mahluk itu sudah merupakan wujud lain dari Wiku Ktut Bumi Setra. Sukar untuk percaya melihat Sang Wiku dapat berubah seperti mahluk itu, akan tetapi bukti bahwa di atas pengikat rambut mahluk itu terdapat tiga batang dupa lidi yang masih membara dan mengeluarkan asap putih, dan kedua pergelangan tangan mahluk itu juga memakai gelang akar bahar hitam seperti yang dipakai Wiku Ktut Bumi Setra, maka orang baru akan percaya bahwa Leyak itu memang malihan (pergantian rupa) Sang Wiku. Nurseta juga terkejut dan sesaat jantungnya berdebar tegang menghadapi mahluk yang selain menyeramkan, juga mengeluarkan wibawa yang teramat kuat. Dia pernah mendengar tentang Aji Malih Leyak ini, akan tetapi baru sekarang dia berhadapan dengan mahluk itu. Akan tetapi dia segera dapat memulihkan ketenangannya dan karena dia tahu betapa kuatnya mahluk ini, dia lalu mencabut Keris Pusaka Kolomisani pemberian Ki Patih Narotama. Dengan keris pusaka di tangan kanan, dia menanti dengan tenang namun waspada.

<<< Bagian 68                                                                                         Bagian 70 >>>

No comments:

Post a Comment