Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 70


Dengan mengeluarkan gerengan yang dahsyat, Leyak itu mulai menyerang ke depan, kedua tangannya yang berkuku panjang itu menyambar yang kanan ke arah kepala Nurseta, yang kiri ke arah lehernya. Tangan-tangan besar berkuku panjang itu pasti akan meremukkan kepala dan mematahkan batang leher. Namun Nurseta yang sudah siap siaga itu dengan cepat sekali sudah mengelak ke belakang, lalu dengan loncatan memutar kaki kirinya mencuat dan menendang ke arah dada mahluk itu.
"Dess...!"
Kaki itu tepat menendang perut, dan Leyak itu hanya mundur dua langkah. Nurseta menyusul dengan tusukan kerisnya, juga ke arah perut yang besar itu.
"Tukk!"
Tusukan itu tepat mengenai perut Leyak yang gerakannya kaku dan lamban itu, akan tetapi tusukan itu yang mengenai perut seolah menusuk air saja, sama sekali tidak dirasakan Leyak itu! Bahkan tangan kiri Leyak itu menyambar dari samping. Nurseta tidak sempat mengelak hanya miringkan tubuh sehingga bukan dadanya yang terpukul melainkan pundaknya. Dia terhuyung, merasa seperti dipukul palu godam yang amat kuat! Terjadilah perkelahian yang seru. Leyak itu lamban dan kaku, namun tubuhnya kebal. Terkadang keris dan tamparan tangan kiri Nurseta seperti mengenai air dan tembus tanpa melukai, akan tetapi terkadang seperti bertemu baja yang keras sehingga tangan atau kerisnya terpental! Nurseta memang jauh lebih cepat gerakannya, akan tetapi karena semua serangannya gagal, dan sebaliknya kalau sampai pukulan tangan Leyak itu mengenainya, dapat mencelakakannya, maka dia berhati-hati sekali. Leyak itu memiliki tenaga yang luar biasa sekali. Juga api yang menyambar-nyambar dari mulutnya itu bukan api biasa, dan lebih panas daripada api biasa. Nurseta mulai terdesak dan Leyak itu yang juga selalu gagal dengan serangannya karena gerakan Nurseta terlalu cepat baginya, kini berusaha untuk menangkap tubuh lawan yang hanya setengah besar dan tinggi tubuhnya itu. Nurseta mulai maklum bahwa kalau dia terus melawan dengan mengandalkan kecepatannya, tanpa mampu membalas karena semua serangannya tidak terasa oleh Leyak itu, dia akan terancam bahaya. Sekali saja tubuhnya dapat diringkus tangan-tangan berkuku panjang dan kokoh kuat itu, berarti dia kalah, bahkan mungkin saja dia akan mengalami cedera berat, atau bahkan tewas. Setelah mempertahankan diri beberapa lamanya, akhirnya Nurseta mengambil keputusan untuk mempergunakan aji pamungkas yang sebetulnya tidak boleh sembarangan dia pergunakan. Sekali ini karena terpaksa, maka dia mengambil keputusan untuk mempergunakannya. Dia melompat cepat ke belakang, bersedakap, mencurahkan segala perhatian dan kekuatan batinnya, membanting kaki tiga kali ke atas tanah dan tiba-tiba mengepul uap putih dan tubuhnya berubah menjadi besar sekali, sebesar Pohon Beringin, jauh lebih besar beberapa kali lipat dibandingkan besar tubuh Leyak.
"Hemm, bocah ini bahkan menguasai Aji Triwikrama! Bukan main!" kata Nini Bumigarbo kagum.
Perwujudan raksasa itu berdiri tegak, kedua kakinya terpentang lebar, kedua tangan bertolak pinggang, dari mulutnya terdengar gerengan yang menggetar seluruh permukaan gunung, bahkan terasa oleh para penduduk di dusun-dusun yang berada di lereng bawah. Leyak itu kalah wibawa. Dia gemetar dan terhuyung ke belakang sampai belasan langkah. Tubuhnya menyusut, semakin kecil dan akhirnya berubah kembali menjadi Wiku Ktut Bumi Setra. Hal ini tidaklah mengherankan. Aji Malih Leyak ini merupakan aji yang berasal dari Bathari Durga yang menjadi Ratu Iblis, adapun Aji Triwikrama berasal dari Sang Hyang Wisnu! Begitu Leyak kembali menjadi Wiku Ktut Bumi Setra, "raksasa" itu pun menyusut dan berubah kembali menjadi Nurseta. Wiku Ktut Bumi Setra berdiri dengan wajah agak pucat, lalu tiba-tiba wajahnya berubah kemerahan.
"Gayatri, aku pamit!" Dan tubuhnya sudah berkelebat pergi dari situ.
"Paman Wiku, maafkan saya!" Nurseta berkata, menyesal bahwa dia telah mengalahkan datuk itu sehingga membuat hatinya tersinggung.
"Nurseta, sampaikan salamku kepada Bhagawan Ekadenta!" terdengar jawaban dari bayangan Wiku Ktut Bumi Setra yang sudah menuruni puncak dengan cepatnya.

Setelah sisa ketegangan pertandingan tadi menghilang dan suasana menjadi tenang dan sunyi kembali, Nurseta menghampiri Nini Bumigarbo dan memberi hormat dengan sembah.
"Mohon maaf apabila pertandingan tadi mengganggu ketenteraman tempat tinggal Bibi di sini, akan tetapi saya dipaksa membela diri oleh Paman Wiku Ktut Bumi Setra tadi."
"Hemm, Nurseta. Kalau tidak ingat bahwa engkau pernah menjadi murid Bhagawan Ekadanta, aku akan senang sekali mengadu kesaktian denganmu! Sekarang katakan, apa kehendakmu?"
"Maaf, Bibi. Saya mohon sukalah kiranya Andika membebaskan Niken Harni yang Andika tahan di sini agar saya dapat mengantarkannya pulang ke rumah orang tuanya."
"Huh, ucapanmu lancang, Nurseta! Siapa yang menahan Niken Harni di sini? Tanyakan saja sendiri padanya!" Setelah berkata demikian, Nini Bumigarbo bersila menegakkan tubuh dan memejamkan kedua matanya.
Nurseta menghampiri Niken Harni yang masih duduk di atas batu. Gadis itu masih terkagum-kagum menonton pertandingan yang hebat tadi. Ia kagum kepada Nurseta yang mampu mengalahkan Wiku Ktut Bumi Setra yang demikian sakti mandraguna. Kini keinginannya untuk menimba ilmu dari Nini Bumigarbo semakin kuat. Ketika Nurseta menghampirinya, ia menatap dengan sinar mata tajam.
"Nimas Ken Harni, Andika ditunggu-tunggu orang tua dan seluruh keluarga Andika yang merasa cemas memikirkan keselamatan Andika. Marilah Andika kuantar pulang, Nimas."
"Apakah Andika diutus orang tuaku untuk mengajak aku pulang?" tanya Niken Harni.
"Tidak, Nimas. Aku hanya membantu Puspa Dewi untuk mencarimu di Wengker dan di sana aku mendengar bahwa Andika dibawa pergi Bibi Nini Bumigarbo, maka aku menyusul ke sini dan mengajak Andika pulang."
"Hemm, kalau begitu, Andika tidak perlu mencampuri urusanku. Aku memang ingin ikut Bibi Nini Bumigarbo dan menjadi muridnya. Andika atau siapa saja tidak boleh menghalangi kehendakku ini. Pergilah dan jangan ganggu kami di sini! Kalau bertemu keluargaku, katakan bahwa kalau sudah selesai belajar, aku akan pulang dan tidak perlu mencari aku!"
Nurseta tertegun. Sama sekali, tidak disangkanya bahwa gadis ini memang ikut Nini Bumigarbo dengan suka rela karena ingin menjadi murid nenek berpakaian serba hitam itu! Dia merasa kecelik. Kalau mengetahui bahwa Niken Harni memang ingin mengikuti nenek itu, tentu dia tidak akan bersusah payah mencarinya. Dan dia pun tahu bahwa gadis ini benar-benar ingin menjadi murid nenek itu. Sekiranya gadis itu dipegaruhi sihir atau ada daya yang tidak wajar, pasti dia dapat merasakannya sekarang. Dia merasa malu sendiri.
"Kalau begitu, terserah Andika." kata Nurseta yang segera menghampiri Nini Bumigarbo, memberi hormat dan berkata,
"Bibi Nini Bumigarbo, saya mohon maaf atas persangkaan saya tadi bahwa Bibi yang membawa pergi dan menawan Niken Harni. Sekarang saya mohon pamit meninggalkan tempat ini."
Akan tetapi Nini Bumigarbo tidak menjawab, tetap duduk bersila dalam keadaan samadhi. Setelah menanti beberapa lamanya nenek berpakaian serba hitam itu tetap tidak bergerak dan tidak menjawab, Nurseta lalu bangkit berdiri dan pergi meninggalkan puncak itu dengan cepat. Bayangannya diikuti pandang mata Niken Harni.

Pagi itu Kerajaan Wura-Wuri gempar. Pasukan besar Kahuripan ketika memasuki tapal batas daerah Wura-Wuri, tidak menemui hambatan. Rakyat Wura-Wuri ketakutan karena biasanya, apabila terjadi perang, para prajurit musuh selalu menimbulkan kekacauan dengan perbuatan-perbuatan yang kejam dan biadab. Merampok, membunuh, memperkosa. Semua nafsu setan mereka diumbar, sebagian memang karena didorong nafsu hendak memuaskan diri, sebagian lagi dilakukan sebagai siasat mengacaukan pertahanan musuh. Akan tetapi sekali ini, pasukan Kahuripan sama sekali tidak mengganggu rakyat daerah Wura-Wuri. Tidak ada penganiayaan, tidak ada pembunuhan, pembakaran rumah, pencurian maupun gangguan wanita. Pasukan besar itu lewat saja melalui dusun-dusun tanpa mengganggu sehingga berita ini segera tersiar dan akibatnya, di sepanjang perjalanan, pasukan Kahuripan bahkan disambut rakyat dengan suguhan dawegan (kelapa muda), pisang, dan buah-buahan lain.
Ibu kota Wura-wuri gempar ketika para pamong praja mendengar bahwa pasukan besar Kahuripan sudah mulai memasuki daerah mereka dan sedang menuju ke kota raja, dipelopori seribu orang perajurit yang dipimpin oleh Puspa Dewi. Pada waktu itu, dua orang kakak seperguruan Nyi Dewi Durgakumala yang diundang oleh permaisuri itu telah tiba di kota raja Wura-Wuri. Mereka adalah dua orang saudara kembar berusia sekitar lima puluh lima tahun. Orang akan merasa heran dan bingung kalau berhadapan dengan mereka berdua. Menak Gambir Anom dan Menak Gambir Sawit yang kembar ini serupa benar, baik wajah mereka yang kurus tubuh mereka yang tinggi kurus sampai bentuk rambut dan pakaian mereka. Sebagai kakak-kakak seperguruan Nyi Dewi Durgakumala, dapat dibayangkan betapa saktinya dua orang saudara kembar ini. Mereka merupakan dua di antara para datuk yang terkenal di daerah Blambangan. Senjata ruyung (penggada) merupakan senjata andalan mereka, dinamakan Kyai Rujak Polo! Di samping ilmu silat mereka yang tangguh, kedua orang saudara kembar ini pun memiliki ilmu sihir yang ampuh.
Mendengar berita bahwa pasukan Kahuripan sudah datang menuju kota Kadipaten Wura-Wuri, Adipati Bhismaprabhawa bersama permaisurinya, Nyi Dewi Durgakumala, lalu membuat persiapan mengatur barisan untuk menyambut pasukan musuh. Kedua orang saudara kembar, Menak Gambir Anom dan Menak Gambir Sawit, diangkat menjadi senopati yang akan menghadapi para pimpinan pasukan Kahuripan yang sakti, dan mereka berdua itu dibantu oleh Ki Gandarwo dan Cekel Aksomolo yang juga sudah berada di Wura-Wuri, diundang oleh adik seperguruannya, Ki Gandarwo, untuk membantu Wura-Wuri. Sisa pasukan Wura-Wuri yang dapat lolos ketika mereka menyerbu Kahuripan, dikerahkan. Namun diam-diam semangat para prajurit ini sudah menguncup, jerih menghadapi pasukan Kahuripan yang tangguh dan dipimpin orang-orang sakti mandraguna. Ketika menyerbu ke Kahuripan, mereka bergabung dengan tiga kerajaan lain, namun masih kalah. Apalagi sekarang mereka harus menghadapi pasukan Kahuripan sendirian saja! Para perwiranya saja sudah patah semangat. Akan tetapi, Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala mengadakan peraturan keras. Kalau ada prajurit melarikan diri dan tidak menyambut serbuan musuh, mereka akan dibunuh sendiri oleh pasukan khusus yang berada di belakang! Karena pasukan Wura-Wuri sudah kehilangan banyak prajurit ketika menyerbu Kahuripan, maka Adipati Bhismaprabhawa tidak berani melakukan penghadangan jauh dari kota raja, melainkan mengerahkan seluruh pasukan untuk mempertahankan kota raja Kadipaten Wura-Wuri.
Beberapa hari kemudian, pada suatu pagi setelah matahari naik cukup tinggi, tibalah saat yang dinanti-nantikan dengan penuh ketegangan itu. Pasukan Kahuripan tiba di luar tembok benteng kota raja Wura-Wuri, dipelopori seribu orang perajurit. Pasukan pelopor itu dipimpin oleh Puspa Dewi yang menunggang seekor kuda pancal panggung (keempat ujung kakinya berwarna putih), dan tampak gagah sekali. Kedua pihak telah siap dan masing-masing pasukan sudah saling berhadapan, menanti perintah untuk mulai menyerbu.
Pasukan Wura-Wuri berbaris di luar pintu gerbang. Tiba-tiba dari barisan Wura-Wuri muncul Nyi Dewi Durgakumala. Wanita setengah tua masih cantik ini mengenakan pakaian gemerlapan. Permaisuri itu kini mengenakan pakaian perang sebagai seorang senopati wanita yang cantik dan gagah. Ia mengangkat tangan tanda bahwa ia ingin bicara. Kemudian terdengar suaranya yang lantang.
"Hai, orang-orang Kahuripan, dengarlah! Aku, Permaisuri Dewi Durgakumala, sebagai senopati perang mewakili Sang Adipati Bhismaprabhawa, minta agar Ki Patih Narotama maju kesini karena kami ingin bicara!"
Ki Patih Narotama yang berada di belakang Pasukan Pelopor pimpinan Puspa Dewi, menggeprak kudanya dan maju sehingga berada di depan pasukan itu.
"Dewi Durgakumala, apalagi yang hendak dibicarakan? Kami minta agar Wura-Wuri menyerah agar kami tidak perlu memukul dengan kekerasan yang mengakibatkan tewasnya banyak prajurit Wura-wuri!" kata Narotama, suaranya menggelegar terdengar oleh seluruh pasukan Wura-Wuri.
"Heh, Ki Patih Narotama, kalian tidak dapat menggertak kami! Ketahuilah bahwa puteramu Joko Pekik Satyabudhi telah berada di tangan kami! Kalau Andika tetap hendak menyerbu kami, sebelum ada seorang pun prajurit kami tewas, lebih dulu puteramu akan kami bunuh! Maka, kalau Andika sayang kepada puteramu, tariklah mundur pasukan kalian dan jangan memaksa kami untuk membunuh anak kecil itu!"
Mendengar ini, Puspa Dewi mengerutkan alisnya.
"Orang Wura-Wuri pengecut! Curang dan licik menculik anak kecil yang tidak tahu apa-apa dijadikan sandera!" Ia membentak marah.
Akan tetapi Ki Patih Narotama memajukan kudanya.

<<< Bagian 69                                                                                          Bagian 71 >>>

No comments:

Post a Comment