Dengan mengeluarkan gerengan yang dahsyat, Leyak itu mulai menyerang ke depan, kedua tangannya yang berkuku panjang itu menyambar yang kanan ke arah kepala Nurseta, yang kiri ke arah lehernya. Tangan-tangan besar berkuku panjang itu pasti akan meremukkan kepala dan mematahkan batang leher. Namun Nurseta yang sudah siap siaga itu dengan cepat sekali sudah mengelak ke belakang, lalu dengan loncatan memutar kaki kirinya mencuat dan menendang ke arah dada mahluk itu.
"Dess...!"
Kaki itu tepat
menendang perut, dan Leyak itu hanya mundur dua langkah. Nurseta menyusul
dengan tusukan kerisnya, juga ke arah perut yang besar itu.
"Tukk!"
Tusukan itu
tepat mengenai perut Leyak yang gerakannya kaku dan lamban itu, akan tetapi
tusukan itu yang mengenai perut seolah menusuk air saja, sama sekali tidak
dirasakan Leyak itu! Bahkan tangan kiri Leyak itu menyambar dari samping.
Nurseta tidak sempat mengelak hanya miringkan tubuh sehingga bukan dadanya yang
terpukul melainkan pundaknya. Dia terhuyung, merasa seperti dipukul palu godam
yang amat kuat! Terjadilah perkelahian yang seru. Leyak itu lamban dan kaku,
namun tubuhnya kebal. Terkadang keris dan tamparan tangan kiri Nurseta seperti
mengenai air dan tembus tanpa melukai, akan tetapi terkadang seperti bertemu
baja yang keras sehingga tangan atau kerisnya terpental! Nurseta memang jauh
lebih cepat gerakannya, akan tetapi karena semua serangannya gagal, dan
sebaliknya kalau sampai pukulan tangan Leyak itu mengenainya, dapat
mencelakakannya, maka dia berhati-hati sekali. Leyak itu memiliki tenaga yang
luar biasa sekali. Juga api yang menyambar-nyambar dari mulutnya itu bukan api
biasa, dan lebih panas daripada api biasa. Nurseta mulai terdesak dan Leyak itu
yang juga selalu gagal dengan serangannya karena gerakan Nurseta terlalu cepat
baginya, kini berusaha untuk menangkap tubuh lawan yang hanya setengah besar
dan tinggi tubuhnya itu. Nurseta mulai maklum bahwa kalau dia terus melawan
dengan mengandalkan kecepatannya, tanpa mampu membalas karena semua serangannya
tidak terasa oleh Leyak itu, dia akan terancam bahaya. Sekali saja tubuhnya
dapat diringkus tangan-tangan berkuku panjang dan kokoh kuat itu, berarti dia
kalah, bahkan mungkin saja dia akan mengalami cedera berat, atau bahkan tewas.
Setelah mempertahankan diri beberapa lamanya, akhirnya Nurseta mengambil
keputusan untuk mempergunakan aji pamungkas yang sebetulnya tidak boleh
sembarangan dia pergunakan. Sekali ini karena terpaksa, maka dia mengambil
keputusan untuk mempergunakannya. Dia melompat cepat ke belakang, bersedakap,
mencurahkan segala perhatian dan kekuatan batinnya, membanting kaki tiga kali
ke atas tanah dan tiba-tiba mengepul uap putih dan tubuhnya berubah menjadi
besar sekali, sebesar Pohon Beringin, jauh lebih besar beberapa kali lipat
dibandingkan besar tubuh Leyak.
"Hemm,
bocah ini bahkan menguasai Aji Triwikrama! Bukan main!" kata Nini
Bumigarbo kagum.
Perwujudan
raksasa itu berdiri tegak, kedua kakinya terpentang lebar, kedua tangan
bertolak pinggang, dari mulutnya terdengar gerengan yang menggetar seluruh
permukaan gunung, bahkan terasa oleh para penduduk di dusun-dusun yang berada
di lereng bawah. Leyak itu kalah wibawa. Dia gemetar dan terhuyung ke belakang
sampai belasan langkah. Tubuhnya menyusut, semakin kecil dan akhirnya berubah
kembali menjadi Wiku Ktut Bumi Setra. Hal ini tidaklah mengherankan. Aji Malih
Leyak ini merupakan aji yang berasal dari Bathari Durga yang menjadi Ratu
Iblis, adapun Aji Triwikrama berasal dari Sang Hyang Wisnu! Begitu Leyak
kembali menjadi Wiku Ktut Bumi Setra, "raksasa" itu pun menyusut dan
berubah kembali menjadi Nurseta. Wiku Ktut Bumi Setra berdiri dengan wajah agak
pucat, lalu tiba-tiba wajahnya berubah kemerahan.
"Gayatri,
aku pamit!" Dan tubuhnya sudah berkelebat pergi dari situ.
"Paman
Wiku, maafkan saya!" Nurseta berkata, menyesal bahwa dia telah mengalahkan
datuk itu sehingga membuat hatinya tersinggung.
"Nurseta,
sampaikan salamku kepada Bhagawan Ekadenta!" terdengar jawaban dari
bayangan Wiku Ktut Bumi Setra yang sudah menuruni puncak dengan cepatnya.
Setelah sisa
ketegangan pertandingan tadi menghilang dan suasana menjadi tenang dan sunyi
kembali, Nurseta menghampiri Nini Bumigarbo dan memberi hormat dengan sembah.
"Mohon
maaf apabila pertandingan tadi mengganggu ketenteraman tempat tinggal Bibi di
sini, akan tetapi saya dipaksa membela diri oleh Paman Wiku Ktut Bumi Setra
tadi."
"Hemm,
Nurseta. Kalau tidak ingat bahwa engkau pernah menjadi murid Bhagawan Ekadanta,
aku akan senang sekali mengadu kesaktian denganmu! Sekarang katakan, apa
kehendakmu?"
"Maaf,
Bibi. Saya mohon sukalah kiranya Andika membebaskan Niken Harni yang Andika
tahan di sini agar saya dapat mengantarkannya pulang ke rumah orang
tuanya."
"Huh,
ucapanmu lancang, Nurseta! Siapa yang menahan Niken Harni di sini? Tanyakan
saja sendiri padanya!" Setelah berkata demikian, Nini Bumigarbo bersila
menegakkan tubuh dan memejamkan kedua matanya.
Nurseta
menghampiri Niken Harni yang masih duduk di atas batu. Gadis itu masih
terkagum-kagum menonton pertandingan yang hebat tadi. Ia kagum kepada Nurseta
yang mampu mengalahkan Wiku Ktut Bumi Setra yang demikian sakti mandraguna.
Kini keinginannya untuk menimba ilmu dari Nini Bumigarbo semakin kuat. Ketika
Nurseta menghampirinya, ia menatap dengan sinar mata tajam.
"Nimas
Ken Harni, Andika ditunggu-tunggu orang tua dan seluruh keluarga Andika yang
merasa cemas memikirkan keselamatan Andika. Marilah Andika kuantar pulang,
Nimas."
"Apakah
Andika diutus orang tuaku untuk mengajak aku pulang?" tanya Niken Harni.
"Tidak,
Nimas. Aku hanya membantu Puspa Dewi untuk mencarimu di Wengker dan di sana aku
mendengar bahwa Andika dibawa pergi Bibi Nini Bumigarbo, maka aku menyusul ke
sini dan mengajak Andika pulang."
"Hemm,
kalau begitu, Andika tidak perlu mencampuri urusanku. Aku memang ingin ikut
Bibi Nini Bumigarbo dan menjadi muridnya. Andika atau siapa saja tidak boleh
menghalangi kehendakku ini. Pergilah dan jangan ganggu kami di sini! Kalau
bertemu keluargaku, katakan bahwa kalau sudah selesai belajar, aku akan pulang
dan tidak perlu mencari aku!"
Nurseta
tertegun. Sama sekali, tidak disangkanya bahwa gadis ini memang ikut Nini
Bumigarbo dengan suka rela karena ingin menjadi murid nenek berpakaian serba
hitam itu! Dia merasa kecelik. Kalau mengetahui bahwa Niken Harni memang ingin
mengikuti nenek itu, tentu dia tidak akan bersusah payah mencarinya. Dan dia
pun tahu bahwa gadis ini benar-benar ingin menjadi murid nenek itu. Sekiranya
gadis itu dipegaruhi sihir atau ada daya yang tidak wajar, pasti dia dapat
merasakannya sekarang. Dia merasa malu sendiri.
"Kalau
begitu, terserah Andika." kata Nurseta yang segera menghampiri Nini
Bumigarbo, memberi hormat dan berkata,
"Bibi
Nini Bumigarbo, saya mohon maaf atas persangkaan saya tadi bahwa Bibi yang
membawa pergi dan menawan Niken Harni. Sekarang saya mohon pamit meninggalkan
tempat ini."
Akan tetapi
Nini Bumigarbo tidak menjawab, tetap duduk bersila dalam keadaan samadhi.
Setelah menanti beberapa lamanya nenek berpakaian serba hitam itu tetap tidak
bergerak dan tidak menjawab, Nurseta lalu bangkit berdiri dan pergi
meninggalkan puncak itu dengan cepat. Bayangannya diikuti pandang mata Niken
Harni.
Pagi itu
Kerajaan Wura-Wuri gempar. Pasukan besar Kahuripan ketika memasuki tapal batas
daerah Wura-Wuri, tidak menemui hambatan. Rakyat Wura-Wuri ketakutan karena
biasanya, apabila terjadi perang, para prajurit musuh selalu menimbulkan
kekacauan dengan perbuatan-perbuatan yang kejam dan biadab. Merampok, membunuh,
memperkosa. Semua nafsu setan mereka diumbar, sebagian memang karena didorong
nafsu hendak memuaskan diri, sebagian lagi dilakukan sebagai siasat mengacaukan
pertahanan musuh. Akan tetapi sekali ini, pasukan Kahuripan sama sekali tidak
mengganggu rakyat daerah Wura-Wuri. Tidak ada penganiayaan, tidak ada
pembunuhan, pembakaran rumah, pencurian maupun gangguan wanita. Pasukan besar
itu lewat saja melalui dusun-dusun tanpa mengganggu sehingga berita ini segera
tersiar dan akibatnya, di sepanjang perjalanan, pasukan Kahuripan bahkan
disambut rakyat dengan suguhan dawegan (kelapa muda), pisang, dan buah-buahan
lain.
Ibu kota
Wura-wuri gempar ketika para pamong praja mendengar bahwa pasukan besar
Kahuripan sudah mulai memasuki daerah mereka dan sedang menuju ke kota raja,
dipelopori seribu orang perajurit yang dipimpin oleh Puspa Dewi. Pada waktu
itu, dua orang kakak seperguruan Nyi Dewi Durgakumala yang diundang oleh
permaisuri itu telah tiba di kota raja Wura-Wuri. Mereka adalah dua orang
saudara kembar berusia sekitar lima puluh lima tahun. Orang akan merasa heran
dan bingung kalau berhadapan dengan mereka berdua. Menak Gambir Anom dan Menak
Gambir Sawit yang kembar ini serupa benar, baik wajah mereka yang kurus tubuh
mereka yang tinggi kurus sampai bentuk rambut dan pakaian mereka. Sebagai
kakak-kakak seperguruan Nyi Dewi Durgakumala, dapat dibayangkan betapa saktinya
dua orang saudara kembar ini. Mereka merupakan dua di antara para datuk yang
terkenal di daerah Blambangan. Senjata ruyung (penggada) merupakan senjata
andalan mereka, dinamakan Kyai Rujak Polo! Di samping ilmu silat mereka yang
tangguh, kedua orang saudara kembar ini pun memiliki ilmu sihir yang ampuh.
Mendengar
berita bahwa pasukan Kahuripan sudah datang menuju kota Kadipaten Wura-Wuri,
Adipati Bhismaprabhawa bersama permaisurinya, Nyi Dewi Durgakumala, lalu
membuat persiapan mengatur barisan untuk menyambut pasukan musuh. Kedua orang
saudara kembar, Menak Gambir Anom dan Menak Gambir Sawit, diangkat menjadi
senopati yang akan menghadapi para pimpinan pasukan Kahuripan yang sakti, dan
mereka berdua itu dibantu oleh Ki Gandarwo dan Cekel Aksomolo yang juga sudah
berada di Wura-Wuri, diundang oleh adik seperguruannya, Ki Gandarwo, untuk
membantu Wura-Wuri. Sisa pasukan Wura-Wuri yang dapat lolos ketika mereka menyerbu
Kahuripan, dikerahkan. Namun diam-diam semangat para prajurit ini sudah
menguncup, jerih menghadapi pasukan Kahuripan yang tangguh dan dipimpin
orang-orang sakti mandraguna. Ketika menyerbu ke Kahuripan, mereka bergabung
dengan tiga kerajaan lain, namun masih kalah. Apalagi sekarang mereka harus
menghadapi pasukan Kahuripan sendirian saja! Para perwiranya saja sudah patah
semangat. Akan tetapi, Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala
mengadakan peraturan keras. Kalau ada prajurit melarikan diri dan tidak
menyambut serbuan musuh, mereka akan dibunuh sendiri oleh pasukan khusus yang
berada di belakang! Karena pasukan Wura-Wuri sudah kehilangan banyak prajurit
ketika menyerbu Kahuripan, maka Adipati Bhismaprabhawa tidak berani melakukan
penghadangan jauh dari kota raja, melainkan mengerahkan seluruh pasukan untuk
mempertahankan kota raja Kadipaten Wura-Wuri.
Beberapa hari
kemudian, pada suatu pagi setelah matahari naik cukup tinggi, tibalah saat yang
dinanti-nantikan dengan penuh ketegangan itu. Pasukan Kahuripan tiba di luar
tembok benteng kota raja Wura-Wuri, dipelopori seribu orang perajurit. Pasukan
pelopor itu dipimpin oleh Puspa Dewi yang menunggang seekor kuda pancal
panggung (keempat ujung kakinya berwarna putih), dan tampak gagah sekali. Kedua
pihak telah siap dan masing-masing pasukan sudah saling berhadapan, menanti
perintah untuk mulai menyerbu.
Pasukan
Wura-Wuri berbaris di luar pintu gerbang. Tiba-tiba dari barisan Wura-Wuri
muncul Nyi Dewi Durgakumala. Wanita setengah tua masih cantik ini mengenakan
pakaian gemerlapan. Permaisuri itu kini mengenakan pakaian perang sebagai
seorang senopati wanita yang cantik dan gagah. Ia mengangkat tangan tanda bahwa
ia ingin bicara. Kemudian terdengar suaranya yang lantang.
"Hai,
orang-orang Kahuripan, dengarlah! Aku, Permaisuri Dewi Durgakumala, sebagai
senopati perang mewakili Sang Adipati Bhismaprabhawa, minta agar Ki Patih
Narotama maju kesini karena kami ingin bicara!"
Ki Patih
Narotama yang berada di belakang Pasukan Pelopor pimpinan Puspa Dewi, menggeprak
kudanya dan maju sehingga berada di depan pasukan itu.
"Dewi
Durgakumala, apalagi yang hendak dibicarakan? Kami minta agar Wura-Wuri
menyerah agar kami tidak perlu memukul dengan kekerasan yang mengakibatkan
tewasnya banyak prajurit Wura-wuri!" kata Narotama, suaranya menggelegar
terdengar oleh seluruh pasukan Wura-Wuri.
"Heh, Ki
Patih Narotama, kalian tidak dapat menggertak kami! Ketahuilah bahwa puteramu
Joko Pekik Satyabudhi telah berada di tangan kami! Kalau Andika tetap hendak
menyerbu kami, sebelum ada seorang pun prajurit kami tewas, lebih dulu puteramu
akan kami bunuh! Maka, kalau Andika sayang kepada puteramu, tariklah mundur
pasukan kalian dan jangan memaksa kami untuk membunuh anak kecil itu!"
Mendengar ini,
Puspa Dewi mengerutkan alisnya.
"Orang
Wura-Wuri pengecut! Curang dan licik menculik anak kecil yang tidak tahu
apa-apa dijadikan sandera!" Ia membentak marah.
Akan tetapi Ki
Patih Narotama memajukan kudanya.
No comments:
Post a Comment