"Nyi Dewi Durgakumala! Perlihatkan dulu puteraku Joko Pekik Satyabudhi, baru kami percaya omonganmu dan akan mempertimbangkan permintaanmu!"
"Tidak
perlu kami perlihatkan! Pendeknya, Joko Pekik Satyabudhi berada di tangan kami
dan kalau pasukanmu maju, kami akan lebih dulu membunuh anak itu!" teriak
Nyi Dewi Durgakumala.
Ki Patih
Narotama masih ragu. Dia melihat bahwa putranya itu berada di tangan Lasmini di
Parang Siluman. Bagaimana mungkin berada di Wura-Wuri? Selagi dia meragu,
tiba-tiba terdengar teriakan lantang.
"Gusti
Patih, jangan percaya omongannya. Ia bohong, putera Paduka tidak berada di
Istana Wura-Wuri!"
Tiba-tiba dari
atas tembok benteng Wura-Wuri tampak bayangan orang berkelebat dan Nurseta
telah melayang turun dan kini berada di dekat Ki Patih Narotama.
"Nurseta...!!"
Seruan ini keluar dari mulut Ki Patih Narotama dan Puspa Dewi.
"Hamba
sudah melakukan penyelidikan ke dalam istana dan memaksa para dayang istana dan
memang putera Paduka tidak berada di sana. Nyi Dewi Durgakumala
berbohong!"
Ki Patih
Narotama melompat turun dari atas punggung kudanya.
"Nyi Dewi
Durgakumala, atas nama Sang Prabu Erlangga, Raja Kahuripan, kami perintahkan
kalian para pemimpin Wura-Wuri untuk menyerah agar kami tidak perlu menggunakan
kekerasan mengorbankan nyawa banyak prajurit!".
Tiba-tiba
terdengar suara tawa bergelak dan muncullah dua orang yang serupa
segala-galanya, wajahnya, bentuk tubuhnya, pakaiannya! Mereka adalah datuk
kembar dari Blambangan itu.
"Ha-ha-ha,
inikah yang bernama Ki Patih Narotama yang kabarnya sombong sekali, dari orang
gunung nang-nung, orang desa klutuk di Bali-dwipa, sekarang mendapat kedudukan
patih menjadi besar kepala?" kata Menak Gambir Anom.
"Heh-eh!
Ingin tahu aku sampai di mana kemampuannya. Apakah kesaktiannya sebesar nama
dan kesombongannya? Hei, Narotama, sebelum pasukan kita saling bertempur,
beranikah kau melawan kami, Menak Gambir Anom dan Menak Gambir Sawit, datuk
kembar dari Blambangan?" kata Menak Gambir Sawit.
Ki Patih
Narotama pernah mendengar nama besar Datuk Kembar Blambangan ini dan maklum
bahwa dia berhadapan dengan dua orang yang sakti mandraguna. Akan tetapi tentu
saja dia tidak gentar sedikit pun. Apalagi ketika itu, dia menjadi pemimpin
barisan Kahuripan. Pantang untuk takut atau mundur.
"Majulah
pantang bagi Narotama menghindari tantangan musuh dalam perang!" katanya
dengan tegas namun tetap tenang dan waspada.
Dua datuk
kembar itu lalu menggerak-gerakkan kedua lengan bersilang dan kedua lengannya
itu menggetar dan perlahan-lahan kedua lengan mereka berubah menghitam! Mereka
mulai mengerahkan Aji Hasta Langking (Tangan Hitam) dan setelah kedua lengan
tangan itu menghitam, maka pukulan atau tamparan tangan itu mengandung bisa
yang amat ampuh dan jahat. Kalau pukulan tangan itu mengenai badan lawan, maka
bagian badan yang terpukul itu dapat menjadi hitam dan membusuk! Setelah kedua
lengan mereka menjadi hitam legam, keduanya lalu menyerang sambil berteriak
nyaring.
"Hooooohhh!"
"Haaaaahhh!"
Tangan-tangan
hitam itu menyambar-nyambar secara bertubi-tubi ke arah tubuh Narotama. Akan
tetapi Narotama menggunakan kecepatan gerakan tubuhnya, menghindarkan diri
dengan elakan-elakan. Terkadang dia menangkis dengan lengannya yang kebal
terhadap segala hawa beracun, dan membalas serangan kedua orang pengeroyoknya.
Terjadilah pertempuran yang amat seru. Kalau dua orang itu maju satu demi satu,
mereka bukanlah lawan Ki Patih Narotama. Akan tetapi kini mereka maju berdua
dan tentu saja mereka menjadi kuat sekali sehingga dapat mengimbangi kesaktian
Ki Patih Narotama.
Melihat dua
orang datuk kembar itu sudah bertanding melawan Ki Patih Narotama, dan patih
itu dikeroyokdua, Nurseta tidak merasa senang. Sungguh curang orang-orang
Wura-Wuri, bertanding dengan cara mengeroyok.
Seperti telah
diketahui, Nurseta meninggalkan Puncak Gunung Kelud setelah mendengar pengakuan
Niken Harni bahwa gadis itu memang ingin menjadi murid Nini Bumigarbo dan
bukannya menjadi tawanan nenek itu. Di tengah perjalanan dia mendengar akan
perang yang terjadi ketika Empat Kerajaan menyerbu Kahuripan dan dipukul mundur
oleh Pasukan Kahuripan. Dia mendengar pula bahwa sebuah pusaka Keraton
Kahuripan dicuri musuh, bahkan putera Ki Patih Narotama juga diculik pihak
musuh. Mendengar ini Nurseta menjadi marah sekali. Alangkah curangnya mereka
yang memusuhi Kahuripan. Karena di antara Empat Kerajaan musuh itu yang
terdekat adalah Wura-Wuri, maka dia langsung pergi ke Wura-Wuri. Di sini dia
melakukan penyelidikan sampai berhasil menyusup ke dalam istana untuk mencari
putera Ki Patih Narotama. Akan tetapi dia tidak dapat menemukan anak itu dan
menurut keterangan para dayang keraton anak itu memang tidak berada di istana
Wura-Wuri. Kebetulan sekali pada saat itu, pasukan Kahuripan datang. Nurseta
menyaksikan kesibukan dan kegemparan dalam kota raja, dan ketika dia menyelinap
dan membaur dengan para prajurit, dia mendengar percakapan antara Ki Patih
Narotama dengan Nyi Dewi Durgakumala, maka dia langsung melompat keluar dan
menggabungkan diri dengan Pasukan Kahuripan.
Kini melihat
Ki Patih Narotama dikeroyok dua orang yang memiliki kepandaian tinggi, Nurseta
sudah maju dengan niat membantu Ki Patih. Akan tetapi tiba-tiba dari pihak
musuh muncul dua orang menghadangnya. Mereka ini bukan lain adalah Ki Gandarwo
dan kakak seperguruannya, Cekel Aksomolo yang bentuk tubuh dan mukanya seperti
Bhagawan Durna!
"Rrrik-tik-tik-tikkk....!"
Cekel Aksomolo
menggerakkan tasbehnya sehingga terdengar bunyi nyaring berkeritikan yang dapat
menggetarkan jantung lawan. Ki Gandarwo juga sudah mencabut senjata andalannya,
yaitu sebatang pedang. Mereka berdua, tanpa banyak cakap sudah menerjang dan
menyerang Nurseta. Seperti biasa, pemuda ini hanya mengandalkan kaki tangannya
saja untuk membela diri. Dengan gerak silat Baka Denta, didasari Aji Bayu
Sakti, dia dapat dengan mudah menghindarkan hujan serangan dua orang itu dengan
elakan atau terkadang dia menangkis dengan tangannya yang kebal dan berani
menangkis senjata baja yang tajam sekalipun. Dia pun membalas dengan tamparan
dan tendangan yang tidak kalah dahsyatnya dibandingkan serangan kedua orang
pengeroyoknya.
Sejak tadi
Puspa Dewi hanya menonton saja. Ia tidak merasa khawatir melihat Ki Patih
Narotama dan Nurseta masing-masing dikeroyok dua orang lawan yang tangguh. Ia
yakin akan kemampuan dua orang itu. Kini ia melihat Nyi Dewi Durgakumala,
wanita yang pernah menjadi gurunya merangkap ibu angkatnya itu. Juga permaisuri
Wura-Wuri itu memandang kepadanya dan bibir wanita yang masih cantik itu
tersenyum mengejek.
Puspa Dewi
sudah mengenal bekas gurunya ini. Senyum seperti itu menandakan bahwa wanita
itu marah sekali. Ia pernah melihat Nyi Durgakumala membunuh orang sambil
mengembangkan senyum seperti itu! Ia melihat Nyi Dewi Durgakumala memberi
isyarat kepada Adipati Bhismaprabhawa. Adipati yang bertubuh tinggi kurus itu
mengangguk dan mencabut klewang (golok) bergagang emas, lalu bersama Nyi Dewi
Durgakumala menghampiri Puspa Dewi.
"Anak
durhaka, murid tak mengenal budi!" Nyi Dewi Durgakumala memaki.
"Tidak
malu engkau membawa pedangku? Kembalikan pedang Candrasa Langking itu
kepadaku!"
Wajah Puspa
Dewi menjadi merah mendengar ucapan bekas gurunya itu. Dia cepat mengambil
pedang hitam berikut sarungnya dan menyerahkannya kepada Nyi Dewi Durgakumala.
"Dulu aku
tidak minta, engkau sendiri yang memberikannya kepadaku. Sekarang engkau
memintanya kembali. Mari, terimalah!"
Dengan gerakan
cepat Nyi Dewi Durgakumala merenggut pedang itu dari tangan Puspa Dewi, lalu
sambil mencabut pedang itu ia berseru dengan suara mengandung kemarahan.
"Puspa
Dewi, bersiaplah untuk mampus, engkau bocah tak mengenal budi!" Pedang di
tangannya berubah menjadi sinar hitam yang menyambar bagaikan kilat ke arah
leher Puspa Dewi ketika Permaisuri Wura-Wuri itu menyerang dengan ganas. Puspa
Dewi yang sudah siap cepat menghindar. Pada saat itu, Adipati Bhisniaprabhawa
juga menerjang dan membacokkan klewangnya ke arah pinggang dara itu.
Kembali Puspa
Dewi menggunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak. Bagaimanapun juga, Puspa
Dewi tidak lupa bahwa dua orang ini pernah memperlakukannya dengan baik sekali,
terutama Nyi Dewi Durgakumala. Mereka bahkan pernah mengangkatnya menjadi Sekar
kedaton, diakui sebagai puteri mereka yang dihormati dan dimuliakan rakyat
Kadipaten Wura-Wuri. Maka sampai belasan jurus ia hanya menghindar saja.
kemudian ia teringat bahwa ia merupakan seorang yang dipercaya oleh Ki Patih
Narotama memimpin Pasukan Pelopor, maka ia pun paham bahwa kalau ia kini
bertanding melawan Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala,
pertandingan itu bukan untuk urusan pribadi, melainkan masing-masing membela
kerajaannya. Mulailah ia membalas, menggunakan Sang Cundrik Arum, yaitu
sebatang keris mungil pemberian Sang Prabu Erlangga. Biarpun hanya kecil, namun
Cundrik Arum merupakan sebuah pusaka Kahuripan yang ampuh.
"Tranggg...!"
Klewang besar
yang menyambar itu ditangkis Puspa Dewi dengan cundriknya. Bunga api berpijar
dan Adipati Bhismaprabhawa terkejut melihat betapa ujung klewang yang beradu
dengan cundrik kecil tadi telah somplak! Saking kagetnya, Sang Adipati
melangkah mundur dengan mata terbelalak. Melihat ini, Nyi Dewi Durgakumala
kembali menyerang dengan hebatnya. Sinar pedang hitam menyambar ke arah kepala
Puspa Dewi.
"Cringggg...!"
Pedang
terpental ketika bertemu dengan cundrik yang menangkis dengan tenaga yang amat
kuat. Setelah rnenerima gemblengan Sang Maha Resi Satyadharma, kini kekuatan
dan kepandaian Puspa Dewi sudah jauh melampaui kesaktian bekas gurunya itu.
Suami isteri
penguasa Kerajaan Wura-Wuri itu mengeroyok Puspa Dewi. Mereka berdua amat
membenci Puspa Dewi karena mereka yang telah mengangkat gadis itu menjadi Sekar
Kedaton kini malah bertanding sebagai musuh dengan gadis itu. Terutama sekali
Nyi Dewi Durgakumala. Ia amat benci kepada Puspa Dewi yang dulu sungguh
disayangnya seperti anaknya sendiri. Wanita ini tidak pernah mempunyai anak dan
ketika ia mengambil Puspa Dewi sebagai murid, ia merasa sayang sekali kepada
murid yang wataknya keras seperti dirinya sendiri itu. Saking sayangnya, ia
bukan saja menurunkan semua aji kesaktiannya kepada Puspa Dewi, bahkan
mengangkatnya sebagai anak sendiri. Lebih dari itu, ia seringkali mengurungkan
keinginannya yang ditentang oleh Puspa Dewi. Seperti ketika ia memberi syarat
kepada Adipati Bhismaprabhawa untuk membunuh Dewi Gendari, isteri Adipati
Bhismaprabhawa, sebelum ia menerima lamaran Sang Adipati itu. Akan tetapi Puspa
Dewi melarangnya sehingga akhirnya Dewi Gendari tidak dibunuh, melainkan
dipulangkan ke kampung halamannya dengan diberi bekal harta yang cukup banyak.
Juga ketika beberapa kali Nyi Dewi Durgakumala menculik pemuda untuk dijadikan
kekasihnya dan kemudian dibunuh, Puspa Dewi melarangnya dan ia pun kemudian
membebaskan pemuda-pemuda itu, sungguhpun diam-diam ia melukai mereka dengan
Aji Wisakenaka sehingga mereka akan tewas pula.
Biarpun merasa
agak ragu harus bertanding melawan dua orang yang pernah bersikap baik
kepadanya itu, namun mengingat bahwa ia kini bertanding sebagai seorang
komandan pasukan Kahuripan melawan musuh Kerajaan itu, pula melihat betapa dua
orang itu menyerangnya dengan sungguh-sungguh penuh kebencian dan semua
serangan mereka merupakan serangan maut, akhirnya Puspa Dewi mulai membalas
serangan mereka. Terjadilah pertandingan yang tidak kalah serunya dibandingkan
petandingan yang dilakukan Nurseta dan Ki Patih Narotama.
Pasukan kedua
pihak hanya menjadi penonton. Pasukan Wura-Wuri yang memang sudah gentar, tidak
berani bergerak karena semua pemimpin mereka sedang bertanding mati-matian.
Sementara itu, para perwira Kahuripan yang tidak ikut bertanding juga tidak
berani sembarangan menggerakkan pasukan mereka tanpa aba-aba dari para
pemimpin, terutama Ki Patih Narotama. Jadi, pasukan kedua pihak hanya menonton
pertandingan yang amat dahsyat itu.
Kesaktian Ki
Patih Narotama untuk kesekian kalinya teruji ketika dia menghadapi pengeroyokan
dua saudara kembar dari Blambangan itu. Dua orang saudara kembar ini
masing-masing menguasai ilmu-ilmu tingkat tinggi dan mungkin karena mereka
kembar, ketika mereka berdua mengeroyok Ki Patih Narotama, terdapat kerja sama
yang amat baik. Mereka itu seolah-olah dua tubuh yang dikendalikan satu hati
dan satu pikiran. Masing-masing seolah dapat merasakan dan dapat mengetahui
perkembangan gerakan yang dilakukan saudara kembarnya sehingga pengeroyokan
terhadap Ki Patih Narotama dapat dilakukan secara kompak sekali. Mereka berdua
seolah saling melindungi secara otomatis. Kalau serangan balasan Ki Patih
Narotama membahayakan Menak Gambir Anom, maka Menak Gambir Sawit sudah siap
menolong saudaranya dan demikian sebaliknya. Dengan adanya kerja sama yang amat
kompak ini, kekuatan mereka seolah dipersatukan sehingga selain pertahanan
mereka kokoh, juga penyerangan mereka yang saling dorong itu amat berbahaya, Ki
Patih Narotama harus waspada sekali menghadapi lawan-lawan seperti ini.
No comments:
Post a Comment