Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 71


"Nyi Dewi Durgakumala! Perlihatkan dulu puteraku Joko Pekik Satyabudhi, baru kami percaya omonganmu dan akan mempertimbangkan permintaanmu!"
"Tidak perlu kami perlihatkan! Pendeknya, Joko Pekik Satyabudhi berada di tangan kami dan kalau pasukanmu maju, kami akan lebih dulu membunuh anak itu!" teriak Nyi Dewi Durgakumala.
Ki Patih Narotama masih ragu. Dia melihat bahwa putranya itu berada di tangan Lasmini di Parang Siluman. Bagaimana mungkin berada di Wura-Wuri? Selagi dia meragu, tiba-tiba terdengar teriakan lantang.
"Gusti Patih, jangan percaya omongannya. Ia bohong, putera Paduka tidak berada di Istana Wura-Wuri!"
Tiba-tiba dari atas tembok benteng Wura-Wuri tampak bayangan orang berkelebat dan Nurseta telah melayang turun dan kini berada di dekat Ki Patih Narotama.
"Nurseta...!!" Seruan ini keluar dari mulut Ki Patih Narotama dan Puspa Dewi.
"Hamba sudah melakukan penyelidikan ke dalam istana dan memaksa para dayang istana dan memang putera Paduka tidak berada di sana. Nyi Dewi Durgakumala berbohong!"
Ki Patih Narotama melompat turun dari atas punggung kudanya.
"Nyi Dewi Durgakumala, atas nama Sang Prabu Erlangga, Raja Kahuripan, kami perintahkan kalian para pemimpin Wura-Wuri untuk menyerah agar kami tidak perlu menggunakan kekerasan mengorbankan nyawa banyak prajurit!".

Tiba-tiba terdengar suara tawa bergelak dan muncullah dua orang yang serupa segala-galanya, wajahnya, bentuk tubuhnya, pakaiannya! Mereka adalah datuk kembar dari Blambangan itu.
"Ha-ha-ha, inikah yang bernama Ki Patih Narotama yang kabarnya sombong sekali, dari orang gunung nang-nung, orang desa klutuk di Bali-dwipa, sekarang mendapat kedudukan patih menjadi besar kepala?" kata Menak Gambir Anom.
"Heh-eh! Ingin tahu aku sampai di mana kemampuannya. Apakah kesaktiannya sebesar nama dan kesombongannya? Hei, Narotama, sebelum pasukan kita saling bertempur, beranikah kau melawan kami, Menak Gambir Anom dan Menak Gambir Sawit, datuk kembar dari Blambangan?" kata Menak Gambir Sawit.
Ki Patih Narotama pernah mendengar nama besar Datuk Kembar Blambangan ini dan maklum bahwa dia berhadapan dengan dua orang yang sakti mandraguna. Akan tetapi tentu saja dia tidak gentar sedikit pun. Apalagi ketika itu, dia menjadi pemimpin barisan Kahuripan. Pantang untuk takut atau mundur.
"Majulah pantang bagi Narotama menghindari tantangan musuh dalam perang!" katanya dengan tegas namun tetap tenang dan waspada.
Dua datuk kembar itu lalu menggerak-gerakkan kedua lengan bersilang dan kedua lengannya itu menggetar dan perlahan-lahan kedua lengan mereka berubah menghitam! Mereka mulai mengerahkan Aji Hasta Langking (Tangan Hitam) dan setelah kedua lengan tangan itu menghitam, maka pukulan atau tamparan tangan itu mengandung bisa yang amat ampuh dan jahat. Kalau pukulan tangan itu mengenai badan lawan, maka bagian badan yang terpukul itu dapat menjadi hitam dan membusuk! Setelah kedua lengan mereka menjadi hitam legam, keduanya lalu menyerang sambil berteriak nyaring.
"Hooooohhh!"
"Haaaaahhh!"
Tangan-tangan hitam itu menyambar-nyambar secara bertubi-tubi ke arah tubuh Narotama. Akan tetapi Narotama menggunakan kecepatan gerakan tubuhnya, menghindarkan diri dengan elakan-elakan. Terkadang dia menangkis dengan lengannya yang kebal terhadap segala hawa beracun, dan membalas serangan kedua orang pengeroyoknya. Terjadilah pertempuran yang amat seru. Kalau dua orang itu maju satu demi satu, mereka bukanlah lawan Ki Patih Narotama. Akan tetapi kini mereka maju berdua dan tentu saja mereka menjadi kuat sekali sehingga dapat mengimbangi kesaktian Ki Patih Narotama.
Melihat dua orang datuk kembar itu sudah bertanding melawan Ki Patih Narotama, dan patih itu dikeroyokdua, Nurseta tidak merasa senang. Sungguh curang orang-orang Wura-Wuri, bertanding dengan cara mengeroyok.

Seperti telah diketahui, Nurseta meninggalkan Puncak Gunung Kelud setelah mendengar pengakuan Niken Harni bahwa gadis itu memang ingin menjadi murid Nini Bumigarbo dan bukannya menjadi tawanan nenek itu. Di tengah perjalanan dia mendengar akan perang yang terjadi ketika Empat Kerajaan menyerbu Kahuripan dan dipukul mundur oleh Pasukan Kahuripan. Dia mendengar pula bahwa sebuah pusaka Keraton Kahuripan dicuri musuh, bahkan putera Ki Patih Narotama juga diculik pihak musuh. Mendengar ini Nurseta menjadi marah sekali. Alangkah curangnya mereka yang memusuhi Kahuripan. Karena di antara Empat Kerajaan musuh itu yang terdekat adalah Wura-Wuri, maka dia langsung pergi ke Wura-Wuri. Di sini dia melakukan penyelidikan sampai berhasil menyusup ke dalam istana untuk mencari putera Ki Patih Narotama. Akan tetapi dia tidak dapat menemukan anak itu dan menurut keterangan para dayang keraton anak itu memang tidak berada di istana Wura-Wuri. Kebetulan sekali pada saat itu, pasukan Kahuripan datang. Nurseta menyaksikan kesibukan dan kegemparan dalam kota raja, dan ketika dia menyelinap dan membaur dengan para prajurit, dia mendengar percakapan antara Ki Patih Narotama dengan Nyi Dewi Durgakumala, maka dia langsung melompat keluar dan menggabungkan diri dengan Pasukan Kahuripan.
Kini melihat Ki Patih Narotama dikeroyok dua orang yang memiliki kepandaian tinggi, Nurseta sudah maju dengan niat membantu Ki Patih. Akan tetapi tiba-tiba dari pihak musuh muncul dua orang menghadangnya. Mereka ini bukan lain adalah Ki Gandarwo dan kakak seperguruannya, Cekel Aksomolo yang bentuk tubuh dan mukanya seperti Bhagawan Durna!
"Rrrik-tik-tik-tikkk....!"
Cekel Aksomolo menggerakkan tasbehnya sehingga terdengar bunyi nyaring berkeritikan yang dapat menggetarkan jantung lawan. Ki Gandarwo juga sudah mencabut senjata andalannya, yaitu sebatang pedang. Mereka berdua, tanpa banyak cakap sudah menerjang dan menyerang Nurseta. Seperti biasa, pemuda ini hanya mengandalkan kaki tangannya saja untuk membela diri. Dengan gerak silat Baka Denta, didasari Aji Bayu Sakti, dia dapat dengan mudah menghindarkan hujan serangan dua orang itu dengan elakan atau terkadang dia menangkis dengan tangannya yang kebal dan berani menangkis senjata baja yang tajam sekalipun. Dia pun membalas dengan tamparan dan tendangan yang tidak kalah dahsyatnya dibandingkan serangan kedua orang pengeroyoknya.
Sejak tadi Puspa Dewi hanya menonton saja. Ia tidak merasa khawatir melihat Ki Patih Narotama dan Nurseta masing-masing dikeroyok dua orang lawan yang tangguh. Ia yakin akan kemampuan dua orang itu. Kini ia melihat Nyi Dewi Durgakumala, wanita yang pernah menjadi gurunya merangkap ibu angkatnya itu. Juga permaisuri Wura-Wuri itu memandang kepadanya dan bibir wanita yang masih cantik itu tersenyum mengejek.
Puspa Dewi sudah mengenal bekas gurunya ini. Senyum seperti itu menandakan bahwa wanita itu marah sekali. Ia pernah melihat Nyi Durgakumala membunuh orang sambil mengembangkan senyum seperti itu! Ia melihat Nyi Dewi Durgakumala memberi isyarat kepada Adipati Bhismaprabhawa. Adipati yang bertubuh tinggi kurus itu mengangguk dan mencabut klewang (golok) bergagang emas, lalu bersama Nyi Dewi Durgakumala menghampiri Puspa Dewi.
"Anak durhaka, murid tak mengenal budi!" Nyi Dewi Durgakumala memaki.
"Tidak malu engkau membawa pedangku? Kembalikan pedang Candrasa Langking itu kepadaku!"
Wajah Puspa Dewi menjadi merah mendengar ucapan bekas gurunya itu. Dia cepat mengambil pedang hitam berikut sarungnya dan menyerahkannya kepada Nyi Dewi Durgakumala.
"Dulu aku tidak minta, engkau sendiri yang memberikannya kepadaku. Sekarang engkau memintanya kembali. Mari, terimalah!"
Dengan gerakan cepat Nyi Dewi Durgakumala merenggut pedang itu dari tangan Puspa Dewi, lalu sambil mencabut pedang itu ia berseru dengan suara mengandung kemarahan.
"Puspa Dewi, bersiaplah untuk mampus, engkau bocah tak mengenal budi!" Pedang di tangannya berubah menjadi sinar hitam yang menyambar bagaikan kilat ke arah leher Puspa Dewi ketika Permaisuri Wura-Wuri itu menyerang dengan ganas. Puspa Dewi yang sudah siap cepat menghindar. Pada saat itu, Adipati Bhisniaprabhawa juga menerjang dan membacokkan klewangnya ke arah pinggang dara itu.
Kembali Puspa Dewi menggunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak. Bagaimanapun juga, Puspa Dewi tidak lupa bahwa dua orang ini pernah memperlakukannya dengan baik sekali, terutama Nyi Dewi Durgakumala. Mereka bahkan pernah mengangkatnya menjadi Sekar kedaton, diakui sebagai puteri mereka yang dihormati dan dimuliakan rakyat Kadipaten Wura-Wuri. Maka sampai belasan jurus ia hanya menghindar saja. kemudian ia teringat bahwa ia merupakan seorang yang dipercaya oleh Ki Patih Narotama memimpin Pasukan Pelopor, maka ia pun paham bahwa kalau ia kini bertanding melawan Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala, pertandingan itu bukan untuk urusan pribadi, melainkan masing-masing membela kerajaannya. Mulailah ia membalas, menggunakan Sang Cundrik Arum, yaitu sebatang keris mungil pemberian Sang Prabu Erlangga. Biarpun hanya kecil, namun Cundrik Arum merupakan sebuah pusaka Kahuripan yang ampuh.
"Tranggg...!"
Klewang besar yang menyambar itu ditangkis Puspa Dewi dengan cundriknya. Bunga api berpijar dan Adipati Bhismaprabhawa terkejut melihat betapa ujung klewang yang beradu dengan cundrik kecil tadi telah somplak! Saking kagetnya, Sang Adipati melangkah mundur dengan mata terbelalak. Melihat ini, Nyi Dewi Durgakumala kembali menyerang dengan hebatnya. Sinar pedang hitam menyambar ke arah kepala Puspa Dewi.
"Cringggg...!"
Pedang terpental ketika bertemu dengan cundrik yang menangkis dengan tenaga yang amat kuat. Setelah rnenerima gemblengan Sang Maha Resi Satyadharma, kini kekuatan dan kepandaian Puspa Dewi sudah jauh melampaui kesaktian bekas gurunya itu.

Suami isteri penguasa Kerajaan Wura-Wuri itu mengeroyok Puspa Dewi. Mereka berdua amat membenci Puspa Dewi karena mereka yang telah mengangkat gadis itu menjadi Sekar Kedaton kini malah bertanding sebagai musuh dengan gadis itu. Terutama sekali Nyi Dewi Durgakumala. Ia amat benci kepada Puspa Dewi yang dulu sungguh disayangnya seperti anaknya sendiri. Wanita ini tidak pernah mempunyai anak dan ketika ia mengambil Puspa Dewi sebagai murid, ia merasa sayang sekali kepada murid yang wataknya keras seperti dirinya sendiri itu. Saking sayangnya, ia bukan saja menurunkan semua aji kesaktiannya kepada Puspa Dewi, bahkan mengangkatnya sebagai anak sendiri. Lebih dari itu, ia seringkali mengurungkan keinginannya yang ditentang oleh Puspa Dewi. Seperti ketika ia memberi syarat kepada Adipati Bhismaprabhawa untuk membunuh Dewi Gendari, isteri Adipati Bhismaprabhawa, sebelum ia menerima lamaran Sang Adipati itu. Akan tetapi Puspa Dewi melarangnya sehingga akhirnya Dewi Gendari tidak dibunuh, melainkan dipulangkan ke kampung halamannya dengan diberi bekal harta yang cukup banyak. Juga ketika beberapa kali Nyi Dewi Durgakumala menculik pemuda untuk dijadikan kekasihnya dan kemudian dibunuh, Puspa Dewi melarangnya dan ia pun kemudian membebaskan pemuda-pemuda itu, sungguhpun diam-diam ia melukai mereka dengan Aji Wisakenaka sehingga mereka akan tewas pula.
Biarpun merasa agak ragu harus bertanding melawan dua orang yang pernah bersikap baik kepadanya itu, namun mengingat bahwa ia kini bertanding sebagai seorang komandan pasukan Kahuripan melawan musuh Kerajaan itu, pula melihat betapa dua orang itu menyerangnya dengan sungguh-sungguh penuh kebencian dan semua serangan mereka merupakan serangan maut, akhirnya Puspa Dewi mulai membalas serangan mereka. Terjadilah pertandingan yang tidak kalah serunya dibandingkan petandingan yang dilakukan Nurseta dan Ki Patih Narotama.
Pasukan kedua pihak hanya menjadi penonton. Pasukan Wura-Wuri yang memang sudah gentar, tidak berani bergerak karena semua pemimpin mereka sedang bertanding mati-matian. Sementara itu, para perwira Kahuripan yang tidak ikut bertanding juga tidak berani sembarangan menggerakkan pasukan mereka tanpa aba-aba dari para pemimpin, terutama Ki Patih Narotama. Jadi, pasukan kedua pihak hanya menonton pertandingan yang amat dahsyat itu.
Kesaktian Ki Patih Narotama untuk kesekian kalinya teruji ketika dia menghadapi pengeroyokan dua saudara kembar dari Blambangan itu. Dua orang saudara kembar ini masing-masing menguasai ilmu-ilmu tingkat tinggi dan mungkin karena mereka kembar, ketika mereka berdua mengeroyok Ki Patih Narotama, terdapat kerja sama yang amat baik. Mereka itu seolah-olah dua tubuh yang dikendalikan satu hati dan satu pikiran. Masing-masing seolah dapat merasakan dan dapat mengetahui perkembangan gerakan yang dilakukan saudara kembarnya sehingga pengeroyokan terhadap Ki Patih Narotama dapat dilakukan secara kompak sekali. Mereka berdua seolah saling melindungi secara otomatis. Kalau serangan balasan Ki Patih Narotama membahayakan Menak Gambir Anom, maka Menak Gambir Sawit sudah siap menolong saudaranya dan demikian sebaliknya. Dengan adanya kerja sama yang amat kompak ini, kekuatan mereka seolah dipersatukan sehingga selain pertahanan mereka kokoh, juga penyerangan mereka yang saling dorong itu amat berbahaya, Ki Patih Narotama harus waspada sekali menghadapi lawan-lawan seperti ini.

<<< Bagian 70                                                                                          Bagian 72 >>>

No comments:

Post a Comment