Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 72


Untuk mengimbangi kecepatan dan kekompakan gerakan dua orang Datuk Kembar Blambangan itu, Ki Patih Narotama bersilat dengan Ilmu Silat Kukilo Sakti. Akan tetapi dengan ilmu silat ini, dia masih terdesak sehingga dia lalu mengubah gerakannya. Kini tubuhnya berkelebatan seperti beterbangan di antara dua orang pengeroyoknya, menjadi bayangan putih yang cepat sekali. Inilah Ilmu Silat Bramoro Seto (Lebah Putih) dan dengan ilmu silat ini, baru dia dapat mengimbangi pengeroyokan Datuk Kembar Blambangan itu. Pertandingan di antara mereka terjadi dengan dahsyatnya, masing-masing mengeluarkan jurus-jurus simpanan terampuh. Sepasang Datuk Kembar itu merasa penasaran bukan main. Baru maju sendiri saja sudah jarang ada orang yang mampu menandingi masing-masing. Kini mereka maju bersama berarti kekuatan mereka menjadi berlipat ganda. Namun sebegitu lamanya mereka masih belum mampu melukai tubuh Ki Patih Narotama, apalagi merobohkannya! Bahkan beberapa kali mereka terkejut dan nyaris celaka terkena sambaran pukulan Ki Patih Narotama yang menggunakan Aji Bojrodahono (Api Halilintar) sehingga mereka merasa panas sekali dan terkejut sekali. Setelah pertandingan berlangsung cukup lama dan Sepasang Datuk Kembar itu merasa bahwa dengan mengandalkan ilmu silat dan pertandingan kekuatan tubuh, tebalnya kulit dan kerasnya tulang, mereka tidak akan menang. Maka setelah saling memberi isyarat, mereka berdua berloncatan ke belakang, lalu menyimpan ruyung masing-masing digantungkan di pinggang. Tangan kanan Menak Gambir Sawit memegang tangan kiri Menak Gambir Anom, lalu Menak Gambir Anom menghantamkan telapak tangan kanannya ke arah Narotama. Dengan cara itu, mereka berdua menggabungkan tenaga-sakti mereka lewat tangan yang saling berpegangan kemudian tenaga sakti yang tergabung itu dikeluarkan melalui tangan kanan Menak Gambir Anom untuk menyerang Narotama.
"Wuuuuuttt...!"
Telapak tangan kana Menak Gambir Anom itu mengeluarkan uap putih yang dingin sekali. Bahkan keadaan sekelilingnya terasa ada angin yang amat dingin menyambar. Itulah Aji Ampak-ampak Petak, pukulan jarak jauh yang mengandung hawa dingin seperti salju. Sambaran angin berhawa dingin itu menyambar ke arah Ki Patih Narotama yang segera dapat mengetahui bahwa dia diserang secara hebat oleh tenaga sakti gabungan Dua Datuk Kembar dari Blambangan itu. Serangan ini merupakan serangan maut yang amat berbahaya, terlalu besar resikonya kalau dihadapi dengan elakan atau tangkisan karena serangan itu mengandung daya kekuatan yang luas. Satu-satunya jalan adalah menyambutnya dengan kekerasan dan mengadu tenaga sakti. Maka Ki Patih Narotama berkemak-kemik membaca doa, mohon ampun dan bimbingan Sang Hyang Widhi, lalu dia mengerahkan tenaga Bojrodahono yang panas untuk melawan serangan hawa dingin itu. Lalu dia menekuk lutut depan, menjulurkan kaki belakang dan mendorong dengan tangan kirinya menyambut pukulan tangan kanan Menak Gambir Anom yang mengandung tenaga gabungan Sepasang Datuk Kembar itu.
"Syuuuuuttt.... blaarrrr...!”
Hebat bukan main pertemuan dua tenaga sakti yang berlawanan, satu amat dingin dan yang lain amat panas itu. Tanah di sekitarnya terasa guncang oleh pertemuan dua tenaga raksasa itu. Tubuh Ki Patih Narotama terhuyung beberapa langkah ke belakang, akan tetapi tubuh dua orang datuk itu terlempar dan roboh. Dari mulut, hidung, dan telinga Menak Gambir Sawit keluar darah dan dia tewas seketika, sedangkan Menak Gambir Anom hanya merasa dadanya sesak. Ternyata akibat benturan tenaga itu, yang paling parah menanggung akibatnya adalah Menak Gambir Sawit yang berada di belakang atau di ujung penggabungan tenaga sakti itu, sedangkan Menak Gambir Anom hanya menjadi penyambung dan dilewati getaran hebat dari tenaga sakti yang membalik. Tenaga sakti itu langsung dan sepenuhnya menghantam balik tubuh Menak Gambir Sawit sehingga dia tewas seketika. Melihat saudara kembarnya tewas, Menak Gambir Anom terkejut dan tanpa mempedulikan dadanya yang sesak dia memondong jenazah saudaranya lalu membawanya lari memasuki barisannya dan terdengar dia meraung dalam tangisnya!
Ki Patih Narotama berdiri dan menghirup napas dalam-dalam untuk menenangkan isi dadanya yang sempat terguncang. Lalu dia menghela napas beberapa kali, timbul penyesalannya bahwa orang sesakti Menak Gambir Sawit harus berkorban nyawa membela Wura-Wuri yang dipimpin orang-orang yang berwatak angkara murka. Dia lalu menoleh dan memandang ke arah Nurseta dan Puspa Dewi yang masing-masing masih menghadapi pengeroyokan dua orang lawan. Ki Patih Narotama tidak membantu mereka karena dia dapat melihat bahwa dua orang muda itu tidak membutuhkan bantuan dan tidak akan kalah.
Perhitungan Ki Patih Narotama memang benar. Biarpun sampai saat itu Nurseta belum dapat merobohkan Ki Gandarwo dan Cekel Aksomolo yang mengeroyoknya, namun dia mulai mendesak kedua orang kakak beradik seperguruan itu, yang membuat Nurseta agak repot dan belum dapat mengalahkan mereka adalah serangan-serangan yang amat hebat dan berbahaya dari Cekel Aksomolo. Orang yang tinggi kurus bongkok dan tampaknya lemah ini ternyata amat berbahaya dengan senjatanya yang istimewa, yaitu seuntai tasbeh hitam. Biji-biji tasbeh hitam itu mengeluarkan bau aneh yang memuakkan dan mengandung racun jahat. Juga ketika digerakkan sebagai senjata, tasbeh itu mengeluarkan suara berkerotokan memekakkan telinga dan mengguncang jantung menimbulkan rasa nyeri dalam dada. Nurseta merasa seolah-olah dikeroyok banyak lebah dan merasa terganggu sekali sehingga tidak dapat memusatkan perhatian yang selalu tergoda dan terkecoh oleh suara berkerotoknya biji-biji tasbeh.

Maka, biarpun dia dapat menghindarkan semua serangan tasbeh yang dibantu serangan pedang Ki Gandarwo yang ganas, serangan baliknya kurang terpusat dan tidak begitu kuat, sehingga dia belum juga mampu mengalahkan dua orang pengeroyoknya itu. Kakak beradik seperguruan itu pun merasa penasaran bukan main. Terutama sekali Cekel Aksomolo yang wataknya tinggi hati dan memandang rendah lawan, mengagulkan diri sendiri. Ketika Nurseta membalas dengan tusukan keris pusaka Kolomisani, Cekel Aksomolo miringkan tubuhnya dan secepat kilat tasbehnya menyambar dan tasbeh itu berhasil dikalungkan pada keris di tangan Nurseta dan membelit keris itu! Nurseta berusaha menarik lepas kerisnya, namun Cekel Aksomolo mempertahankan. Selagi kedua orang ini bersitegang, Ki Gandarwo membacokkan pedangnya ke arah kepala Nurseta! Melihat dirinya terancam bahaya maut, Nurseta mengeluarkan teriakan mengguntur dan tangan kirinya menyambut pedang itu dengan pukulan telapak tangannya.
"Wuuttt... plakk!!"
Pedang itu mental dan membalik, membacok kepala Ki Gandarwo sendiri. Senopati muda Wura-Wuri yang menjadi kekasih gelap Nyi Dewi Durgakumala ini hanya sempat menjerit satu kali lalu roboh dan tewas karena kepalanya terbacok pedangnya sendiri sampai dalam!
"Rrrrttt...!"
Nurseta merenggut kerisnya dan tasbeh itu putus, biji tasbehnya sebagian masih digenggam Cekel Aksomolo, sebagian lagi tercecer di atas tanah. Cekel Aksomolo terkejut sekali, terutama melihat tewasnya Ki Gandarwo. Dia menjerit seperti seorang wanita, melompat ke dalam barisannya dan tiba-tiba dia menggerakkan tangan dan beberapa buah ganatri (biji tasbeh) meluncur ke arah Nurseta, mengeluarkan bunyi berdengung seperti tawon. Nurseta mengelak dan menampar jatuh beberapa buah ganatri, akan tetapi dua buah yang luput dan lewat di dekat tubuhnya, tiba-tiba membalik seperti mahluk hidup dan menyambar lagi ke arah kepalanya! Nurseta memukul runtuh dua buah ganatri ini dan ketika dia memandang ke depan, Cekel Aksomolo telah menghilang dalam barisan Wura-Wuri.
Pada saat yang hampir bersamaan, Puspa Dewi juga berhasil menendang roboh Adipati Bhismaprabhawa. Pada kesempatan selagi Puspa Dewi melakukan tendangan, Nyi Dewi Durgakumala mengelebatkan pedang hitamnya ke arah leher Puspa Dewi. Gadis itu cepat menggunakan Cundrik Arum untuk menangkis.
"Cringgg...!"
Pedang terpental dan hampir saja terlepas dari tangan Nyi Dewi Durgakumala yang menjadi marah melihat suaminya tertendang roboh. Ia mengeluarkan pekik melengking dan tangan kirinya menyerang dengan Aji Wisakenaka dari jarak dekat. Kuku jari-jari tangan permaisuri Wura-Wuri itu mencengkeram dan kalau sampai kulit Puspa Dewi tercakar dan terluka, maka racun dari kuku-kuku itu akan dapat mencelakakannya. Akan tetapi tentu saja Puspa Dewi sudah hafal akan aji ini yang juga sudah dikuasainya dengan baik, maka ia menangkis dari samping sambil mengerahkan tenaga saktinya yang sudah diperkuat oleh Sang Maha Resi Satyadharma.
"Plakk...!"
Tangkisan itu membuat tubuh Nyi Dewi Durgakumala terpelanting roboh. Puspa Dewi mengejar dan menangkap pundak bekas gurunya yang roboh miring, tangan kanan mengangkat cundrik (keris kecil atau belati) untuk ditusukkan. Nyi Dewi Durgakumala tak mampu menghindar lagi karena ketika roboh, tangannya yang memegang pedang tertindih tubuhnya. Ia hanya menanti kematian dengan mata terbelalak. Pada saat itu, Adipati Bhismaprabhawa yang tadi tertendang jatuh, kini bangkit dan dengan pedangnya dia melompat dan menyerang Puspa Dewi dari belakang!
"Singgg... cappp!!"

Adipati Bhismaprabhawa mengaduh dan jatuh terpelanting, sebatang tombak menembus punggungnya. Dia tewas seketika, tanpa mengetahui bahwa yang menewaskannya adalah sebatang tombak yang dilontarkan Ki Patih Narotama yang melihat kecurangan Sang Adipati Wura-Wuri itu. Dia cepat mengambil sebatang tombak di atas tanah dan meluncurlah tombak itu ke arah punggung Sang Adipati Bhismaprabhawa untuk menyelamatkan Puspa Dewi dari serangan gelap itu. Sementara itu, melihat Adipati Bhismaprabhawa telah tewas dan semua pemimpin Wura-Wuri kalah, Nyi Dewi Durgakumala yang masih ditodong Puspa Dewi berkata,
"Murid tak kenal budi, cepat bunuh aku agar kemurtadanmu lengkap!"
Akan tetapi Puspa Dewi melangkah mundur.
"Nyi Dewi Durgakumala, biarlah sekali ini aku membalas budimu dan kalau ada yang hendak membunuhmu, aku yang akan mencegahnya dan melindungimu. Pergilah!"
Nyi Dewi Durgakumala bangkit berdiri dan tersenyum mengejek.
"He-heh, ternyata engkau masih belum dapat menandingiku. Engkau masih lemah hati. Engkau melepaskan aku, tidak membunuhku, merupakan penghinaan yang tidak akan kulupakan. Lain waktu kita akan bertemu kembali dan aku akan menebus semua ini!" Setelah berkata demikian, Nyi Dewi Durgakumala melompat dan menghilang di balik barisannya.
Setelah semua pimpinan mereka kalah, ada yang tewas dan ada yang melarikan diri, hati para prajurit Wura-Wuri menjadi semakin gentar. Akan tetapi Ki Patih Narotama menaati pesan Sang Prabu Erlangga. Dia mengangkat tangan memberi isyarat agar pasukan Kahuripan diam di tempat dan tidak bergerak. Kemudian dia menancapkan dua batang tombak panjang yang banyak berserakan di tanah, dan bagaikan seekor burung dia melompat lalu berdiri di atas kedua batang tombak itu. Dia berdiri tegak seperti di atas tanah saja dan hal ini menunjukkan betapa ilmu meringankan tubuh Ki Patih Narotama sudah mencapai tingkat tinggi. Setelah berdiri tegak di atas dua batang tombak itu sehingga dia berada di tempat agak tinggi dan dapat dilihat para prajurit musuh, Ki Patih Narotama berseru dengan lantang. Suaranya mengandung getaran amat kuat sehingga terdengar sampai ke ujung kota raja.
"Haiii! Para perwira, prajurit, dan rakyat Wura-Wuri, dengarlah baik-baik! Kami, Ki Patih Narotama dan segenap Senopati Kahuripan diutus yang mulia Gusti Sinuwuh Sang Prabu Erlangga untuk memberitahu kepada Andika sekalian bahwa kami datang untuk memberi hukuman kepada para penguasa Wura-Wuri yang beberapa kali telah merongrong kewibawaan Kerajaan Kahuripan, membuat kekacauan dan melakukan penyerangan sehingga mengakibatkan tewasnya ribuan orang prajurit semua pihak yang berperang. Kami tidak ingin mengganggu rakyat jelata, dan kami datang tidak akan membunuh para prajurit Wura-Wuri, bahkan memberi kebebasan kepada Andika sekalian. Hanya mereka yang membuat onar dan kekacauan yang akan kami tindak dan kami hukum! Pasukan kami akan memasuki Kadipaten Wura-Wuri dengan damai!" Setelah berkata demikian, Ki Patih Narotama lalu memberi isyarat kepada para pembantunya untuk menggerakkan pasukan memasuki kota raja atau kadipaten dengan tertib.
Pasukan Wura-Wuri yang tadinya mengatur barisan di depan pintu gerbang benteng, begitu mendengar ucapan Ki Patih Narotama, sebagian besar lalu mundur, memasuki kadipaten dan tidak membuat perlawanan. Pasukan memasuki kota raja Wura-Wuri dengan aman dan hanya terjadi sedikit perlawanan di sana sini dari mereka yang setia kepada Wura-Wuri. Akan tetapi perlawanan mereka itu segera dapat ditindas dan diamankan.

Ki Patih Narotama, diikuti Puspa Dewi dan para perwira pembantu, memasuki istana Kadipaten Wura-Wuri. Para dayang dan pelayan yang tidak melarikan diri berlutut dengan hormat namun tidak ketakutan karena mereka sudah mendengar dari para prajurit bahwa pasukan Kahuripan yang dipimpin Ki Patih Narotama telah menduduki Wura-Wuri namun tidak akan mengganggu siapa saja di Wura-Wuri asalkan mereka tidak membuat kekacauan dan tidak melawan.

<<< Bagian 71                                                                                          Bagian 73 >>>

No comments:

Post a Comment