Ketika memasuki ruangan istana, Ki Patih Narotama baru menyadari bahwa Nurseta tidak ikut rombongannya masuk, bahkan ketika dia menoleh dan mencari, dia tidak melihat pemuda itu bersama mereka.
"Eh,
Puspa Dewi, aku tidak melihat Nurseta. Di mana dia?"
"Dia
berada di luar, Gusti Patih. Baru saja saya menceritakan tentang Eyang Senopati
Sindukerta yang gugur."
Ki Patih
Narotama mengerutkan alisnya dan menghela napas panjang.
"Ya,
perang memang kejam, merupakan titik terendah dari kejatuhan manusia ke dalam
jurang dosa. Perang membuat orang menjadi buas, nyawa manusia tidak lebih
dihargai daripada nyawa seekor lalat. Perang membuat manusia mampu menari-nari
di atas mayat musuh-musuhnya. Perang menimbulkan kekejaman, kepuasan nafsu
binatang, dendam kebencian, sorak-sorai mereka yang mabok kemenangan di antara
ratap tangis mereka yang kematian keluarganya."
Ki Patih
Narotama melanjutkan langkahnya memasuki istana Wura-Wuri, diikuti para
pembantunya. Mengadakan pemeriksaan ke seluruh istana. Ternyata Nyi Dewi
Durgakumala sudah pergi meninggalkan istana, menurut keterangan para dayang,
membawa harta bendanya berupa perhiasan. Juga Cekel Aksomolo yang terhindar
dari kematian sudah pergi meninggalkan Wura-Wuri. Ki Patih Narotama bersikap
lembut terhadap semua pekerja di istana Wura-Wuri.
Dia lalu
menunjuk beberapa orang perwira Kahuripan untuk menjadi pejabat-pejabat
sementara agar roda pemerintahan Kadipaten Wura-Wuri dapat berjalan seperti
biasa. Tentu saja banyak kebijaksanaan pemerintah lama yang diubah dan diganti
sehingga peraturan-peraturan tidak ada lagi yang menekan rakyat, disesuaikan
dengan peraturan pemerintahan Kerajaan Kahuripan. Bahkan para prajurit yang
tidak melarikan diri dan dengan suka rela mengakui kedaulatan Kahuripan, masih
diterima menjadi anggota pasukan baru yang dibentuk dan dipimpin oleh seorang
senopati Kahuripan yang diangkat sebagai komandan sementara oleh Ki Patih
Narotama.
Tadinya, Ki
Patih Narotama minta kepada Puspa Dewi yang pernah menjadi Sekar Kedaton
Wura-Wuri dan sudah banyak dikenal oleh para perwira dan prajurit Wura-Wuri
untuk menjabat komandan pasukan sementara, akan tetapi dengan hormat Puspa Dewi
menolak.
"Gusti Patih,
bukan semata-mata saya menentang dan menolak kehendak Paduka, akan tetapi saya
tidak dapat menerima tugas itu karena pertama : Akan timbul anggapan para
prajurit Wura-Wuri bahwa saya ikut memusuhi pimpinan Wura-Wuri karena ingin
menjadi penguasa di sini. Kedua kalinya, memang sejak dulu saya tidak ingin
terikat dengan sebuah jabatan. Saya lebih suka bebas dari ikatan, Gusti Patih,
walaupun saya selalu siap apabila sewaktu-waktu tenaga saya dibutuhkan untuk
membela Kahuripan, sebagai kawula Kahuripan."
Mendengar
alasan yang kuat itu, Ki Patih Narotama tidak memaksanya dan menunjuk seorang
senopati Kahuripan untuk jabatan itu. Semua orang yang dia angkat sebagai
pejabat sementara diperingatkan agar bertugas dengan baik, menaati perintah
atasan dan jujur. Juga mereka diberitahu bahwa jabatan mereka hanya sementara,
sambil menanti keputusan dari Sang Prabu Erlangga sendiri yang akan menunjuk
para pejabat baru untuk mengatur roda pemerintahan Kahuripan. Juga untuk
menunjuk seorang adipati baru, harus menaati keputusan dari Sang Prabu Erlangga
sendiri. Karena sikap bijaksana Ki Patih Narotama ini, maka penalukan Wura-Wuri
berlangsung cepat dan tenang, tanpa mengakibatkan banyak korban. Juga suasana
segera menjadi tenteram kembali karena peristiwa penalukan itu tidak
mendatangkan perubahan besar kepada kehidupan rakyat jelata, bahkan kalaupun
diadakan beberapa perubahan peraturan, perubahan itu membela kepentingan dan
menguntungkan rakyat.
Setelah
menalukkan Wura-Wuri tanpa mengorbankan banyak perajuritnya, Ki Patih Narotama
mempersiapkan pasukannya untuk melanjutkan tugasnya melakukan pembersihan atau
hukuman terhadap kerajaan-kerajaan kecil lainnya yang selalu memusuhi Kahuripan
dan seringkali melakukan pengacauan. Tiga kerajaan yang harus ditundukkan agar
mereka tidak lagi mengganggu Kahuripan itu adalah, Kerajaan Wengker, Parang
Siluman, dan Kerajaan Siluman Laut Kidul. Tanpa diketahui orang lain, bahkan
dia tidak melaporkan hal itu kepada Sang Prabu Erlangga, Ki Patih Narotama
sudah terikat janji dengan Kerajaan Parang Siluman bahwa dia tidak akan
menyerbu Parang Siluman karena putera-nya, Joko Pekik Satyabudhi yang baru
berusia satu setengah tahun, ditawan dan dijadikan sandera di Parang Siluman.
Oleh karena itu, sasaran berikutnya yang akan dia tundukkan adalah Kerajaan
Siluman Laut Kidul. Dibandingkan yang lain, kerajaan atau kadipaten ini yang
paling kecil, pasukannya juga tidak banyak jumlahnya walaupun harus diakui
bahwa Siluman Laut Kidul dipimpin oleh ratunya yang sakti mandraguna, yaitu
Ratu Mayang Gupita yang rupanya saja sudah menyeramkan sebagai seorang raseksi.
Juga ia dibantu oleh paman gurunya sendiri yang sakti dan ahli sihir, yaitu
Bhagawan Kalamisani. Akan tetapi Ki Patih Narotama merasa yakin bahwa dia dan
Puspa Dewi berdua akan mampu menandingi dan mengalahkan dua orang sakti itu,
dan pasukannya juga jauh lebih besar daripada pasukan Kadipaten Siluman Laut
Kidul. Dia lalu memanggil Nurseta dan diajaknya pemuda itu untuk bicara berdua
saja dengannya.
"Nurseta,
aku ikut merasa prihatin atas gugurnya Kakekmu, yaitu Paman Senopati
Sindukerta. Mudah-mudahaan engkau tidak terlalu berduka mendengar berita
itu."
Nurseta
menghela napas panjang dan menyembah dengan hormat.
"Gusti
Patih, bagaimana mungkin seorang manusia biasa seperti saya tidak akan merasa
kehilangan dan bersedih mendengar kematian Eyang Sindukerta? Akan tetapi saya
dapat menghibur hati dengan adanya kenyataan bahwa Eyang Sindukerta meninggal
dunia sebagai seorang pahlawan pembela negara. Saya sudah dapat menguasai hati
dan tidak lagi tertekan kedukaan, Gusti Patih."
"Sukurlah
kalau begitu, Nurseta. Sekarang aku ingin minta tolong padamu, Nurseta. Aku
sedang terhimpit suatu masalah dan kiranya hanya engkau yang akan dapat
menolongku."
Nurseta
terkejut. Bagaimana mungkin Ki Patih Narotama yang demikian sakti mandraguna
dan arif bijaksana itu membutuhkan pertolongannya?
“Gusti Patih,
saya selalu siap untuk melaksanakan perintah Paduka yang mewakili Gusti
Sinuwun. Apa yang harus saya lakukan?"
Ki Patih
menghela napas panjang.
"Inilah
soalnya, Nurseta. Kalau mengenai urusan perjuangan membela Kahuripan, engkau
tidak akan kuajak bicara berdua saja, melainkan di depan semua pembantuku. Akan
tetapi urusan ini adalah urusan pribadiku, Nurseta. Urusan pribadi yang
kurahasiakan terhadap siapa pun, bahkan tidak kulaporkan kepada Gusti Sinuwun.
Akan tetapi akan kuceritakan padamu karena aku ingin minta pertolonganmu.
Urusan ini mengenai puteraku, Joko Pekik Satyabudhi yang diculik musuh."
"Akan
tetapi hal itu bukan rahasia lagi, Gusti Patih. Semua orang sudah mengetahui
dan saya sendiri sudah mendengar semua yang terjadi di Kahuripan dari Puspa
Dewi."
"Benar,
Nurseta, akan tetapi tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi selanjutnya.
Ketahuilah bahwa setelah perang usai dan puteraku dilarikan musuh, aku lalu
melakukan pencarian dan aku yakin bahwa puteraku tentu diculik oleh bekas
selirku, Lasmini, puteri Parang Siluman itu. Setelah aku tiba di Parang
Siluman, benar saja. Puteraku berada di sana dan aku terpaksa mengadakan
perjanjian dengan Lasmini bahwa aku tidak akan membawa pasukan menyerang Parang
Siluman. Kalau aku melanggar, maka mereka akan lebih dulu membunuh Joko
Pekik!"
"Hemm,
licik sekali! Jadi, putera Paduka yang masih kecil itu dijadikan sandera untuk
memaksa Paduka agar tidak memusuhi atau menyerang Parang Siluman?"
"Begitulah,
dan aku merahasiakan hal ini. Aku merasa malu kalau diketahui Sang Prabu
Erlangga. Karena itu, sekarang aku lebih dulu menyerang dan menaklukkan
kadipaten yang lain. Setelah menaklukkan Wura-Wuri, aku akan memimpin pasukan
menaklukkan Kadipaten Siluman Laut Kidul, kemudian Kadipaten Wengker. Aku tidak
dapat menyerang Kadipaten Parang Siluman sebelum puteraku dapat terlepas dari
tahanan mereka."
"Lalu
apakah yang dapat saya lakukan?"
"Nurseta,
bantulah aku, bebaskan anakku dari Parang Siluman. Hanya engkau yang dapat
menolongnya."
Nurseta
mengangguk.
"Baiklah,
Gusti Patih. Saya akan berusaha semampu saya untuk memasuki Parang Siluman dan
membebaskan putera Paduka. Akan tetapi saya tidak berani menjamin keberhasilan
saya karena tentu Paduka juga mengetahui bahwa di sana terdapat banyak orang
yang sakti mandraguna dan tentu putera Paduka dijaga amat ketat."
"Aku
mengerti, Nurseta. Kewajiban manusia hanyalah berusaha sekuat tenaga mengenai
keberhasilannya hanya berada dalam kekuasaan Sang Hyang Widhi. Ada satu hal
lagi yang kuminta darimu."
"Apakah
itu, Gusti Patih? Saya siap melaksanakan perintah Paduka."
"Nurseta,
berikan kembali kepadaku Kyai Kolomisani, keris yang dulu kuhadiahkan kepadamu
itu. Saat ini aku amat membutuhkannya. Ketahuilah, Nurseta, di Kadipaten
Siluman Laut Kidul yang dipimpin ratunya, Ratu Mayang Gupita, terdapat paman
guru ratu itu, yang amat sakti. Orang itu memakai nama Bhagawan Kalamisani dan
sudah menjadi sumpahnya sendiri bahwa dia hanya dapat tewas oleh Keris Pusaka
Kolomisani yang dulu kuberikan kepadamu itu. Ceritanya begini. Dulu, puluhan
tahun lalu ketika masih muda, Bhagawan Kalamisani pernah tinggal di Bali-dwipa
dengan nama Kartika Jenar. Dia banyak mempelajari banyak aji kanuragan dari
para pendeta dan pertapa. Di antara para pendeta yang menggemblengnya terdapat
pula guruku, yaitu Sang Maha Resi Satyadharma. Pada suatu hari, Kartika Jenar
baru belajar selama beberapa bulan saja, Maha Resi Satyadharma kehilangan
sebuah pusakanya, yaitu Kyai Kolomisani itu. Maha Resi Satyadharma mengetahui
bahwa Kartika Jenar mencuri pusaka itu, akan tetapi ketika ditanya, Kartika
Jenar menyangkal, bahkan dia bersumpah bahwa kalau dia yang mencuri Kyai
Kolomisani, biar dia kelak mati oleh keris pusaka itu! Kemudian, belasan tahun
lewat dan ketika aku dan Gusti Sinuwun Sang Prabu Erlangga menjadi murid Maha
Resi Satyadharma, kami berdua yang ketika itu baru berusia sekitar delapan
belas tahun, diberi tugas oleh guru kami untuk merampas kembali keris pusaka
Kyai Kolomisani dari tangan Kartika Jenar yang ketika itu sudah menjadi seorang
pertapa dengan nama Bhagawan Kalamisani. Agaknya dia sengaja menggunakan nama
keris pusaka itu sebagai nama tua atau nama pendetanya. Nah, kami berdua
berhasil merampas kembali keris itu dan guru kami menghadiahkan keris pusaka
Kyai Kolomisani kepadaku dan Sang Prabu Erlangga mendapat hadiah keris pusaka
Kyai Brojol Luwuk. Nah, demikianlah, Nurseta. Sekarang aku hendak memimpin
pasukan menundukkan Kadipaten Siluman Laut Kidul dan Bhagawan Kalamisani
memperkuat kadipaten itu. Maka aku teringat akan pusaka Kyai Kolomisani yang
kuberikan kepadamu, maka sekarang aku minta agar engkau kembalikan pusaka itu
untuk kupergunakan menghadapi Bhagawan Kalamisani."
Nurseta
mengangguk.
"Baiklah,
Gusti Patih. Silakan menerima kembali Kyai Kolomisani!" kata Nurseta
sambil menyerahkan keris pusaka itu.
Ki Patih
Narotama tersenyum dan memandang kagum.
"Bagus!
Engkau adalah seorang satriya sejati, Nurseta. Nah, terimalah pusaka ini
sebagai gantinya. Ini adalah Tongkat Pusaka Tunggul Manik. Tongkat ini bukan
hanya dapat menjadi sebuah senjata yang ampuh dan dapat menandingi senjata
pusaka mana pun, akan tetapi juga ampuh sekali untuk mengobati segala luka
keracunan. Racun yang betapa jahat pun akan menjadi tawar kalau bertemu Kyai
Tunggul Manik ini. Rendaman airnya diminumkan, dan bagian yang keracunan
digosok tongkat ini, maka semua racun akan sirna."
Nurseta
menerima tongkat hitam yang tidak berapa besar itu. Hanya sepanjang lengan dan
besarnya tidak lebih dari ibu jari kaki orang dewasa. Akan tetapi tongkat
sederhana berwarna hitam itu mengeluarkan cahaya berkilau dan menyiarkan
keharuman yang aneh.
Demikianlah,
pada hari itu juga, Nurseta meninggalkan pasukan Kahuripan yang sudah membuat
persiapan di dalam Kadipaten Wura-Wuri dan kepada Puspa Dewi yang bertanya, dia
hanya mengatakan bahwa dia mendapat tugas dari Ki Patih Narotama untuk
melakukan penyelidikan ke Kadipaten Parang Siluman yang dinilai kuat. Pasukan
Kahuripan pada hari itu juga bergerak meninggalkan Wura-Wuri menuju ke
Kadipaten Siluman Laut Kidul. Seperti juga para pimpinan kadipaten lain, di
Kadipaten Siluman Laut Kidul, para pemimpinnya juga merasa gelisah. Kadipaten
yang tidak berapa besar dan kuat ini, dalam penyerbuan gabungan ke Kahuripan,
kehilangan hampir setengah jumlah prajuritnya. Bahkan dua orang senopatinya,
Nagarodra dan Nagajaya yang merupakan adik-adik seperguruan Ratu Mayang Gupita,
telah tewas dalam perang itu. Ratu Mayang Gupita merasa sedih dan juga marah.
Kebenciannnya terhadap Kerajaan Kahuripan semakin mendalam. Akan tetapi di
balik kemarahan dan kesedihannya, terdapat pula perasaan gentar. Kini yang
menjadi andalannya hanyalah paman gurunya, Bhagawan Kalamisani.
No comments:
Post a Comment