Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 73


Ketika memasuki ruangan istana, Ki Patih Narotama baru menyadari bahwa Nurseta tidak ikut rombongannya masuk, bahkan ketika dia menoleh dan mencari, dia tidak melihat pemuda itu bersama mereka.
"Eh, Puspa Dewi, aku tidak melihat Nurseta. Di mana dia?"
"Dia berada di luar, Gusti Patih. Baru saja saya menceritakan tentang Eyang Senopati Sindukerta yang gugur."
Ki Patih Narotama mengerutkan alisnya dan menghela napas panjang.
"Ya, perang memang kejam, merupakan titik terendah dari kejatuhan manusia ke dalam jurang dosa. Perang membuat orang menjadi buas, nyawa manusia tidak lebih dihargai daripada nyawa seekor lalat. Perang membuat manusia mampu menari-nari di atas mayat musuh-musuhnya. Perang menimbulkan kekejaman, kepuasan nafsu binatang, dendam kebencian, sorak-sorai mereka yang mabok kemenangan di antara ratap tangis mereka yang kematian keluarganya."
Ki Patih Narotama melanjutkan langkahnya memasuki istana Wura-Wuri, diikuti para pembantunya. Mengadakan pemeriksaan ke seluruh istana. Ternyata Nyi Dewi Durgakumala sudah pergi meninggalkan istana, menurut keterangan para dayang, membawa harta bendanya berupa perhiasan. Juga Cekel Aksomolo yang terhindar dari kematian sudah pergi meninggalkan Wura-Wuri. Ki Patih Narotama bersikap lembut terhadap semua pekerja di istana Wura-Wuri.
Dia lalu menunjuk beberapa orang perwira Kahuripan untuk menjadi pejabat-pejabat sementara agar roda pemerintahan Kadipaten Wura-Wuri dapat berjalan seperti biasa. Tentu saja banyak kebijaksanaan pemerintah lama yang diubah dan diganti sehingga peraturan-peraturan tidak ada lagi yang menekan rakyat, disesuaikan dengan peraturan pemerintahan Kerajaan Kahuripan. Bahkan para prajurit yang tidak melarikan diri dan dengan suka rela mengakui kedaulatan Kahuripan, masih diterima menjadi anggota pasukan baru yang dibentuk dan dipimpin oleh seorang senopati Kahuripan yang diangkat sebagai komandan sementara oleh Ki Patih Narotama.
Tadinya, Ki Patih Narotama minta kepada Puspa Dewi yang pernah menjadi Sekar Kedaton Wura-Wuri dan sudah banyak dikenal oleh para perwira dan prajurit Wura-Wuri untuk menjabat komandan pasukan sementara, akan tetapi dengan hormat Puspa Dewi menolak.
"Gusti Patih, bukan semata-mata saya menentang dan menolak kehendak Paduka, akan tetapi saya tidak dapat menerima tugas itu karena pertama : Akan timbul anggapan para prajurit Wura-Wuri bahwa saya ikut memusuhi pimpinan Wura-Wuri karena ingin menjadi penguasa di sini. Kedua kalinya, memang sejak dulu saya tidak ingin terikat dengan sebuah jabatan. Saya lebih suka bebas dari ikatan, Gusti Patih, walaupun saya selalu siap apabila sewaktu-waktu tenaga saya dibutuhkan untuk membela Kahuripan, sebagai kawula Kahuripan."
Mendengar alasan yang kuat itu, Ki Patih Narotama tidak memaksanya dan menunjuk seorang senopati Kahuripan untuk jabatan itu. Semua orang yang dia angkat sebagai pejabat sementara diperingatkan agar bertugas dengan baik, menaati perintah atasan dan jujur. Juga mereka diberitahu bahwa jabatan mereka hanya sementara, sambil menanti keputusan dari Sang Prabu Erlangga sendiri yang akan menunjuk para pejabat baru untuk mengatur roda pemerintahan Kahuripan. Juga untuk menunjuk seorang adipati baru, harus menaati keputusan dari Sang Prabu Erlangga sendiri. Karena sikap bijaksana Ki Patih Narotama ini, maka penalukan Wura-Wuri berlangsung cepat dan tenang, tanpa mengakibatkan banyak korban. Juga suasana segera menjadi tenteram kembali karena peristiwa penalukan itu tidak mendatangkan perubahan besar kepada kehidupan rakyat jelata, bahkan kalaupun diadakan beberapa perubahan peraturan, perubahan itu membela kepentingan dan menguntungkan rakyat.

Setelah menalukkan Wura-Wuri tanpa mengorbankan banyak perajuritnya, Ki Patih Narotama mempersiapkan pasukannya untuk melanjutkan tugasnya melakukan pembersihan atau hukuman terhadap kerajaan-kerajaan kecil lainnya yang selalu memusuhi Kahuripan dan seringkali melakukan pengacauan. Tiga kerajaan yang harus ditundukkan agar mereka tidak lagi mengganggu Kahuripan itu adalah, Kerajaan Wengker, Parang Siluman, dan Kerajaan Siluman Laut Kidul. Tanpa diketahui orang lain, bahkan dia tidak melaporkan hal itu kepada Sang Prabu Erlangga, Ki Patih Narotama sudah terikat janji dengan Kerajaan Parang Siluman bahwa dia tidak akan menyerbu Parang Siluman karena putera-nya, Joko Pekik Satyabudhi yang baru berusia satu setengah tahun, ditawan dan dijadikan sandera di Parang Siluman. Oleh karena itu, sasaran berikutnya yang akan dia tundukkan adalah Kerajaan Siluman Laut Kidul. Dibandingkan yang lain, kerajaan atau kadipaten ini yang paling kecil, pasukannya juga tidak banyak jumlahnya walaupun harus diakui bahwa Siluman Laut Kidul dipimpin oleh ratunya yang sakti mandraguna, yaitu Ratu Mayang Gupita yang rupanya saja sudah menyeramkan sebagai seorang raseksi. Juga ia dibantu oleh paman gurunya sendiri yang sakti dan ahli sihir, yaitu Bhagawan Kalamisani. Akan tetapi Ki Patih Narotama merasa yakin bahwa dia dan Puspa Dewi berdua akan mampu menandingi dan mengalahkan dua orang sakti itu, dan pasukannya juga jauh lebih besar daripada pasukan Kadipaten Siluman Laut Kidul. Dia lalu memanggil Nurseta dan diajaknya pemuda itu untuk bicara berdua saja dengannya.
"Nurseta, aku ikut merasa prihatin atas gugurnya Kakekmu, yaitu Paman Senopati Sindukerta. Mudah-mudahaan engkau tidak terlalu berduka mendengar berita itu."
Nurseta menghela napas panjang dan menyembah dengan hormat.
"Gusti Patih, bagaimana mungkin seorang manusia biasa seperti saya tidak akan merasa kehilangan dan bersedih mendengar kematian Eyang Sindukerta? Akan tetapi saya dapat menghibur hati dengan adanya kenyataan bahwa Eyang Sindukerta meninggal dunia sebagai seorang pahlawan pembela negara. Saya sudah dapat menguasai hati dan tidak lagi tertekan kedukaan, Gusti Patih."
"Sukurlah kalau begitu, Nurseta. Sekarang aku ingin minta tolong padamu, Nurseta. Aku sedang terhimpit suatu masalah dan kiranya hanya engkau yang akan dapat menolongku."
Nurseta terkejut. Bagaimana mungkin Ki Patih Narotama yang demikian sakti mandraguna dan arif bijaksana itu membutuhkan pertolongannya?
“Gusti Patih, saya selalu siap untuk melaksanakan perintah Paduka yang mewakili Gusti Sinuwun. Apa yang harus saya lakukan?"
Ki Patih menghela napas panjang.
"Inilah soalnya, Nurseta. Kalau mengenai urusan perjuangan membela Kahuripan, engkau tidak akan kuajak bicara berdua saja, melainkan di depan semua pembantuku. Akan tetapi urusan ini adalah urusan pribadiku, Nurseta. Urusan pribadi yang kurahasiakan terhadap siapa pun, bahkan tidak kulaporkan kepada Gusti Sinuwun. Akan tetapi akan kuceritakan padamu karena aku ingin minta pertolonganmu. Urusan ini mengenai puteraku, Joko Pekik Satyabudhi yang diculik musuh."
"Akan tetapi hal itu bukan rahasia lagi, Gusti Patih. Semua orang sudah mengetahui dan saya sendiri sudah mendengar semua yang terjadi di Kahuripan dari Puspa Dewi."
"Benar, Nurseta, akan tetapi tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Ketahuilah bahwa setelah perang usai dan puteraku dilarikan musuh, aku lalu melakukan pencarian dan aku yakin bahwa puteraku tentu diculik oleh bekas selirku, Lasmini, puteri Parang Siluman itu. Setelah aku tiba di Parang Siluman, benar saja. Puteraku berada di sana dan aku terpaksa mengadakan perjanjian dengan Lasmini bahwa aku tidak akan membawa pasukan menyerang Parang Siluman. Kalau aku melanggar, maka mereka akan lebih dulu membunuh Joko Pekik!"
"Hemm, licik sekali! Jadi, putera Paduka yang masih kecil itu dijadikan sandera untuk memaksa Paduka agar tidak memusuhi atau menyerang Parang Siluman?"
"Begitulah, dan aku merahasiakan hal ini. Aku merasa malu kalau diketahui Sang Prabu Erlangga. Karena itu, sekarang aku lebih dulu menyerang dan menaklukkan kadipaten yang lain. Setelah menaklukkan Wura-Wuri, aku akan memimpin pasukan menaklukkan Kadipaten Siluman Laut Kidul, kemudian Kadipaten Wengker. Aku tidak dapat menyerang Kadipaten Parang Siluman sebelum puteraku dapat terlepas dari tahanan mereka."
"Lalu apakah yang dapat saya lakukan?"
"Nurseta, bantulah aku, bebaskan anakku dari Parang Siluman. Hanya engkau yang dapat menolongnya."
Nurseta mengangguk.
"Baiklah, Gusti Patih. Saya akan berusaha semampu saya untuk memasuki Parang Siluman dan membebaskan putera Paduka. Akan tetapi saya tidak berani menjamin keberhasilan saya karena tentu Paduka juga mengetahui bahwa di sana terdapat banyak orang yang sakti mandraguna dan tentu putera Paduka dijaga amat ketat."
"Aku mengerti, Nurseta. Kewajiban manusia hanyalah berusaha sekuat tenaga mengenai keberhasilannya hanya berada dalam kekuasaan Sang Hyang Widhi. Ada satu hal lagi yang kuminta darimu."
"Apakah itu, Gusti Patih? Saya siap melaksanakan perintah Paduka."
"Nurseta, berikan kembali kepadaku Kyai Kolomisani, keris yang dulu kuhadiahkan kepadamu itu. Saat ini aku amat membutuhkannya. Ketahuilah, Nurseta, di Kadipaten Siluman Laut Kidul yang dipimpin ratunya, Ratu Mayang Gupita, terdapat paman guru ratu itu, yang amat sakti. Orang itu memakai nama Bhagawan Kalamisani dan sudah menjadi sumpahnya sendiri bahwa dia hanya dapat tewas oleh Keris Pusaka Kolomisani yang dulu kuberikan kepadamu itu. Ceritanya begini. Dulu, puluhan tahun lalu ketika masih muda, Bhagawan Kalamisani pernah tinggal di Bali-dwipa dengan nama Kartika Jenar. Dia banyak mempelajari banyak aji kanuragan dari para pendeta dan pertapa. Di antara para pendeta yang menggemblengnya terdapat pula guruku, yaitu Sang Maha Resi Satyadharma. Pada suatu hari, Kartika Jenar baru belajar selama beberapa bulan saja, Maha Resi Satyadharma kehilangan sebuah pusakanya, yaitu Kyai Kolomisani itu. Maha Resi Satyadharma mengetahui bahwa Kartika Jenar mencuri pusaka itu, akan tetapi ketika ditanya, Kartika Jenar menyangkal, bahkan dia bersumpah bahwa kalau dia yang mencuri Kyai Kolomisani, biar dia kelak mati oleh keris pusaka itu! Kemudian, belasan tahun lewat dan ketika aku dan Gusti Sinuwun Sang Prabu Erlangga menjadi murid Maha Resi Satyadharma, kami berdua yang ketika itu baru berusia sekitar delapan belas tahun, diberi tugas oleh guru kami untuk merampas kembali keris pusaka Kyai Kolomisani dari tangan Kartika Jenar yang ketika itu sudah menjadi seorang pertapa dengan nama Bhagawan Kalamisani. Agaknya dia sengaja menggunakan nama keris pusaka itu sebagai nama tua atau nama pendetanya. Nah, kami berdua berhasil merampas kembali keris itu dan guru kami menghadiahkan keris pusaka Kyai Kolomisani kepadaku dan Sang Prabu Erlangga mendapat hadiah keris pusaka Kyai Brojol Luwuk. Nah, demikianlah, Nurseta. Sekarang aku hendak memimpin pasukan menundukkan Kadipaten Siluman Laut Kidul dan Bhagawan Kalamisani memperkuat kadipaten itu. Maka aku teringat akan pusaka Kyai Kolomisani yang kuberikan kepadamu, maka sekarang aku minta agar engkau kembalikan pusaka itu untuk kupergunakan menghadapi Bhagawan Kalamisani."
Nurseta mengangguk.
"Baiklah, Gusti Patih. Silakan menerima kembali Kyai Kolomisani!" kata Nurseta sambil menyerahkan keris pusaka itu.
Ki Patih Narotama tersenyum dan memandang kagum.
"Bagus! Engkau adalah seorang satriya sejati, Nurseta. Nah, terimalah pusaka ini sebagai gantinya. Ini adalah Tongkat Pusaka Tunggul Manik. Tongkat ini bukan hanya dapat menjadi sebuah senjata yang ampuh dan dapat menandingi senjata pusaka mana pun, akan tetapi juga ampuh sekali untuk mengobati segala luka keracunan. Racun yang betapa jahat pun akan menjadi tawar kalau bertemu Kyai Tunggul Manik ini. Rendaman airnya diminumkan, dan bagian yang keracunan digosok tongkat ini, maka semua racun akan sirna."
Nurseta menerima tongkat hitam yang tidak berapa besar itu. Hanya sepanjang lengan dan besarnya tidak lebih dari ibu jari kaki orang dewasa. Akan tetapi tongkat sederhana berwarna hitam itu mengeluarkan cahaya berkilau dan menyiarkan keharuman yang aneh.

Demikianlah, pada hari itu juga, Nurseta meninggalkan pasukan Kahuripan yang sudah membuat persiapan di dalam Kadipaten Wura-Wuri dan kepada Puspa Dewi yang bertanya, dia hanya mengatakan bahwa dia mendapat tugas dari Ki Patih Narotama untuk melakukan penyelidikan ke Kadipaten Parang Siluman yang dinilai kuat. Pasukan Kahuripan pada hari itu juga bergerak meninggalkan Wura-Wuri menuju ke Kadipaten Siluman Laut Kidul. Seperti juga para pimpinan kadipaten lain, di Kadipaten Siluman Laut Kidul, para pemimpinnya juga merasa gelisah. Kadipaten yang tidak berapa besar dan kuat ini, dalam penyerbuan gabungan ke Kahuripan, kehilangan hampir setengah jumlah prajuritnya. Bahkan dua orang senopatinya, Nagarodra dan Nagajaya yang merupakan adik-adik seperguruan Ratu Mayang Gupita, telah tewas dalam perang itu. Ratu Mayang Gupita merasa sedih dan juga marah. Kebenciannnya terhadap Kerajaan Kahuripan semakin mendalam. Akan tetapi di balik kemarahan dan kesedihannya, terdapat pula perasaan gentar. Kini yang menjadi andalannya hanyalah paman gurunya, Bhagawan Kalamisani.

<<< Bagian 72                                                                                          Bagian 74 >>>

No comments:

Post a Comment