Memang ada belasan orang perwira, namun kesaktian mereka belum dapat diandalkan. Mereka ini hanya bertugas memimpin sisa pasukan yang terhindar dari kematian dalam perang besar di Kahuripan itu. Pada suatu malam, Ratu Mayang Gupita, raseksi berusia lima puluh tahun yang sakti mandraguna dan menyeramkan itu, mengundang Bhagawan Kalamisani dan belasan orang perwira pembantunya untuk berunding dalam istananya.
"Paman
Bhagawan, kami merasa khawatir kalau-kalau pasukan Kahuripan akan menyerang ke
sini. Kami sudah mendengar kabar bahwa Wura-Wuri sudah diserang dan diduduki.
Kita hanya mempunyai dua pilihan, Paman. Melarikan diri meninggalkan kadipaten,
atau melawan mati-matian. Bagaimana pendapat Andika Paman Bhagawan?"
Bhagawan
Kalamisani yang bertubuh bongkok itu menjawab sambil mengangguk-angguk.
"Kanjeng
Ratu, sebelum saya mengatakan pendapat saya, saya ingin lebih dulu bertanya
kepada para perwira ini! Heh, kalian para senopati yang setia kepada Kerajaan
Siluman Laut Kidul, bagaimana pendapat kalian dan para prajurit yang kalian
pimpin? Beranikah kalian melawan kalau pasukan Kahuripan menyerang kita?"
Para senopati
itu diwakili seorang senopati tua menjawab dengan tegas.
"Kami dan
para prajurit siap melaksanakan semua perintah Gusti Ratu!"
"Kanjeng
Ratu, setelah mendengar kesanggupan para senopati, menurut pendapat saya, kita
tidak perlu takut kepada pasukan Kahuripan. Saya akan memimpin pasukan melawan
mereka!"
"Harap
Paman berhati-hati, karena saya mendengar bahwa yang memimpin pasukan Kahuripan
adalah Ki Patih Narotama yang amat sakti sehingga Wura-Wuri juga sudah
dikalahkan dan ditaklukkan."
"Heh-heh-heh,
ada apanya sih Si Narotama itu? Bocah kemarin sore yang masih bau pupuk
brambang! Saya tidak takut, Kanjeng Ratu. Asal jangan Sang Prabu Erlangga saja
yang maju memimpin pasukan, karena memang berat untuk menandingi Sang Prabu
Erlangga. Akan tetapi Narotama? Huh, saya tidak takut!"
Seluruh
pasukan di Kerajaan Siluman Laut Kidul dikerahkan untuk menyambut pasukan
Kahuripan yang menurut para penyelidik sudah mulai bergerak menuju Siluman Laut
Kidul. Ki Patih Narotama menaati pesan Sang Prabu Erlangga, yaitu sedapat
mungkin agar menaklukkan penguasa-penguasa daerah itu tanpa harus mengorbankan
banyak nyawa di kedua pihak. Oleh karena itu, ketertiban dan kepatuhan para
prajurit ditekankan sehingga di sepanjang perjalanan menuju Siluman Laut Kidul,
pasukan itu sama sekali tidak pernah mengganggu rakyat di pedusunan yang
dilalui mereka karena siapa berani melanggar larangan itu diancam hukuman
berat. Namun yang membuat para prajurit dapat bersikap tertib dan taat adalah
karena sejak mereka menjadi prajurit, Ki Patih Narotama melalui para senopati
dan perwira telah menanamkan jiwa satria dalam batin mereka.
Akhirnya, saat
yang ditunggu-tunggu oleh Kerajaan Siluman Laut Kidul dengan hati tegang, tiba.
Pasukan Kahuripan telah berada di depan benteng Kota Raja Siluman Laut Kidul.
Pasukan Kahuripan tiga kali lebih besar jumlahnya dari jumlah pasukan Siluman
Laut Kidul, maka melihat jumlah yang demikian besar saja, para prajurit pasukan
Siluman Laut Kidul sudah menjadi gentar. Akan tetapi para perwiranya, dipimpin
oleh Ratu Mayang Gupita sendiri dan didampingi Bhagawan Kalamisani, tidak
merasa gentar dan mereka memimpin pasukan untuk menyambut di luar pintu
gerbang.
Dua pasukan
sudah berhadapan, namun Ki Patih Narotama mengangkat tangan ke atas memberi
isyarat kepada para perwira pembantunya agar jangan menggerakkan pasukan. Ki
Patih Narotama kini berhadapan dengan Ratu Mayang Gupita dan Bhagawan
Kalamisani yang diikuti beberapa belas orang perwira mereka. Yang mendampingi
Ki Patih Narotama adalah Puspa Dewi dan beberapa orang senopati dan perwira
pembantu. Untuk menaklukkan Kerajaan Siluman Laut Kidul, Ki Patih Narotama
memang tidak mengerahkan banyak senopati. Bahkan Senopati Wiradana yang
merupakan senopati tua ditinggalkan di Wura-Wuri untuk mengatur daerah yang
baru saja ditalukkan itu.
Kini Ratu
Mayang Gupita dan Bhagawan Kalamisani berhadapan dengan Ki Patih Narotama dan
Puspa Dewi. Dengan suara yang lembut dan tenang namun mengandung wibawa kuat,
Ki Patih Narotama berkata.
"Kanjeng
Ratu Mayang Gupita, atas nama Sang Prabu Erlangga Raja Kahuripan, kami minta
Andika menyerah saja dan menaluk mengakui kekuasaan Sang Prabu Erlangga agar
kami tidak perlu menggunakan kekerasan menimbulkan banyak korban."
"Babo-babo,
Si Keparat Narotama! Kamu bocah kemarin sore berani bersikap sombong di depan
kami! Apa kau kira kami takut menandingimu dan pasukan Kahuripan? Kalau engkau
hendak menaklukkan dan memasuki Gapura Siluman Laut Kidul, langkahi dulu
mayatku!"
Ki Patih
Narotama tersenyum. Dia maklum bahwa Bhagawan Kalamisani yang terkenal sombong
ini tidak mudah dibujuk. Dulupun ketika dia mengikuti Pangeran Erlangga untuk
minta kembali keris pusaka yang dicuri orang ini dari Maha Resi Satyadharma,
orang ini yang dulu bernama Kartika Jenar memandang rendah mereka. Akhirnya
Pangeran Erlangga dapat mengalahkan dia dan merampas kembali Keris Pusaka
Kolomisani dari tangan Kartika Jenar yang memakai nama Sang Bhagawan
Kalamisani. Dia sendiri ketika itu tidak sempat bertanding melawan Si Bongkok
yang sakti mandraguna ini. Ki Patih Narotama maklum bahwa tanpa menundukkan
orang ini, mustahil Kerajaan Siluman Laut Kidul mau taluk.
"Bhagawan
Kalamisani, tantanganmu kuterima. Memang lebih baik begini saja. Kita para
pimpinan yang mengadu kesaktian di sini, tidak perlu mengerahkan pasukan agar
tidak banyak menimbulkan korban di kedua pihak. Engkau majukan para jagoan
Siluman Laut Kidul, akan kami tandingi."
Bhagawan
Kalamisani memberi isyarat kepada Ratu Mayang Gupita dan lima belas orang
senopatinya. Mereka semua, tujuh belas orang, maju dan siap dengan senjata di
tangan. Ki Patih Narotama dan Puspa Dewi maju, diikuti sepuluh orang perwira
pembantu.
"Kami
sudah siap. Kanjeng Ratu Mayang Gupita!" kata Ki Patih Narotama.
Bhagawan
Kalamisani mengeluarkan bentakan dahsyat dan dia sudah menyerang Ki Patih
Narotama. Kedua tangannya dikembangkan, lalu menubruk dan bagaikan seekor
biruang dia mencengkeram dengan kedua tangan yang menyambar dari kanan kiri. Ki
Patih Narotama dengan tenang mengelak dan balas menyerang. Dua orang sakti
mandraguna itu sudah saling menyerang dengan hebat. Melihat paman gurunya sudah
bertanding melawan Ki Patih Narotama, Ratu Mayang Gupita juga mengeluarkan
pekik melengking dan rasaksa wanita yang bertubuh gendut tinggi besar itu
menerjang ke arah Puspa Dewi yang ia tahu merupakan gadis yang sakti. Puspa
Dewi menyambut serangannya dan dua orang wanita ini pun sudah bertanding dengan
dahsyat. Lima belas orang senopati Kerajaan Siluman Laut Kidul bergerak maju disambut
sepuluh orang perwira Kahuripan. Terjadilah pertempuran antara tujuh belas
orang Siluman Laut Kidul dan dua belas orang Kahuripan itu. Para perajurit
kedua pihak tidak ada yang berani maju memulai pertempuran. Pasukan Kahuripan
tidak berani bergerak karena tadi Ki Patih Narotama sudah memberi isyarat agar
mereka tidak menyerbu sebelum ada tanda darinya. Sedangkan Pasukan Siluman Laut
Kidul selain belum mendapat perintah menyerang, juga mereka gentar untuk mulai
penyerangan, melihat betapa pasukan musuh jauh lebih besar jumlahnya daripada
mereka. Mereka hanya menanti hasil pertempuran antara para pemimpin pasukan
kedua pihak. Pertempuran itu berlangsung seru. Biarpun Bhagawan Kalamisani dan
Ratu Mayang Gupita merupakan dua orang yang memiliki ilmu hitam sesat, namun
keduanya maklum bahwa penggunaan sihir tidak ada gunanya terhadap Ki Patih
Narotama dan Puspa Dewi. Maka mereka mengandalkan tenaga sakti dan gerakan
serangan mereka yang dahsyat, yang didukung tenaga ilmu hitam mereka. Yang
paling hebat adalah pertandingan antara Ki Patih Narotama melawan Bhagawan
Kalamisani. Pendeta itu memang memiliki kesaktian yang sudah amat tinggi, hasil
dari mempelajari banyak aji kesaktian dari orang-orang pandai. Bahkan dia
pernah pula menerima gemblengan dari Sang Maha Resi Satyadharma sendiri karena
ketika mudanya, Bhagawan Kalamisani yang bernama Kartika Jenar adalah seorang
yang berwatak satria. Akan tetapi setelah menerima banyak ilmu, di antaranya
dari datuk-datuk sesat, dia mulai berubah. Daya-daya rendah yang sesat dalam
ilmu-ilmu itu mulai menguasai dirinya sehingga dia mulai melakukan perbuatan
yang bertentangan dengan kebenaran. Bahkan dia berani mencuri pusaka milik Sang
Maha Resi Satyadharma.
Kini,
menghadapi Ki Patih Narotama, Bhagawan Kalamisani mengeluarkan semua ilmunya
dan mengerahkan seluruh tenaga saktinya. Mula-mula mereka bertanding dengan
tangan kosong, namun semua pukulan mereka mengandung tenaga sakti luar biasa
sehingga sekitar tempat mereka bertanding dapat merasakan getaran pukulan
mereka. Ki Patih Narotama juga tidak mudah mendesak lawannya yang memang
memiliki banyak macam ilmu dan juga tentu saja memiliki pengalaman yang jauh
lebih banyak daripada dia. Hanya dia dapat bertahan karena selain tenaga
saktinya dapat mengimbangi lawan, juga dia memiliki daya tahan yang lebih kuat,
berkat kehidupannya yang bersih, tidak seperti Bhagawan Kalamisani yang terlalu
dikuasai nafsu-nafsunya dan hidup seperti itu tentu saja melemahkan dan merusak
daya tahan tubuhnya sendiri.
Berbeda dengan
Ki Patih Narotama yang agak sukar mengalahkan lawan, Puspa Dewi dapat mendesak
Ratu Mayang Gupita setelah mereka saling serang mati-matian selama tiga puluh
jurus lebih. Mulailah Puspa Dewi mendesaknya. Biarpun Puspa Dewi sudah mewarisi
semua aji kesaktian yang diajarkan guru pertamanya, Nyi Dewi Durgakumala, ia
tidak akan mampu menandingi kedigdayaan Ratu Mayang Gupita kalau saja ia tidak
menerima bimbingan Sang Maha Resi Satyadharma selang tiga bulan. Bimbingan itu
selain mengubah wataknya yang keras dan mengubah sifat-sifat yang sesat dari
ilmu-ilmunya, juga memperdalam ilmu itu dan terutama sekali menguatkan tenaga
saktinya. Gadis ini memang berwatak satria. Ia memiliki sebuah cundrik atau
patrem (keris kecil), yaitu Sang Cundrik Arum, pusaka pemberian Sang Prabu Erlangga.
Sebuah pusaka yang ampuh. Akan tetapi Puspa Dewi tidak mau menggunakannya
karena lawannya juga tidak menggunakan senjata. Bertanding dengan tangan kosong
saja, Ratu Mayang Gupita yang mula-mula mampu mengimbangi, perlahan-lahan
terdesak. Karena semakin lama merasa semakin terdesak dan repot melawan gadis
cantik itu dan akan membahayakan nyawanya, Ratu Mayang Gupita menjadi penasaran
dan marah. Tiba-tiba ia melompat ke belakang, mengeluarkan teriakan melengking
yang memekakkan telinga dan menggetarkan jantung, mendorongkan kedua tangannya.
Tampak bola api menyambar ke arah Puspa Dewi didahului suara ledakan.
"Darrr....!!"
Bola api itu
menyambar ke arah kepala Puspa Dewi. Akan tetapi gadis itu telah siap siaga. Ia
mengeluarkan pekik yang dahsyat, yaitu Aji Guruh Bairawa dan kedua tangannya
juga mendorong dan menyambut bola api itu. Ada cahaya berapi meluncur dari
kedua telapak tangannya, menyambut bola api dari lawannya.
"Pyarrr—!"
Kedua tenaga
sakti yang berhawa panas sekali itu bertemu di udara, bertumbukan dan tampak
bunga api muncrat merupakan kembang api yang menyilaukan mata dan terdengar
Ratu Mayang Gupita menjerit, tubuhnya roboh terjengkang dan dari mulut dan
hidungnya mengalir darah. Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul itu tewas seketika
terpukul tenaga saktinya sendiri yang membalik setelah bertabrakan dengan
tenaga sakti Puspa Dewi yang ternyata lebih kuat. Setelah lawannya roboh Puspa
Dewi lalu membantu para perwira Kahuripan menghadapi para senopati Siluman Laut
Kidul. Tentu saja begitu Puspa Dewi masuk ke dalam pertempuran itu, pihak para
senopati lawan terdesak hebat dan beberapa orang senopati roboh oleh tamparan
Puspa Dewi. Tentu saja Bhagawan Kalamisani terkejut bukan main melihat Sang
Ratu, murid keponakannya itu, roboh dan tewas. Dia lalu mengerahkan tenaga
saktinya, diperkuat dengan ilmu sihir, dan begitu dia mencabut kerisnya, keris
itu dilontarkan dan terbang ke arah Ki Patih Narotama! Orang ke dua dari
Kerajaan Kahuripan ini terkejut juga. Dia cepat mengelak dari sambaran keris
yang ujungnya bernyala itu. Akan tetapi, keris berapi itu begitu luput dan
lewat, langsung membalik dan menyambarnya dari belakang, seolah keris itu hidup
dan memiliki mata! Setelah tiga kali mengelak, Narotama lalu mencabut Keris
Pusaka Megantoro yang berluk tujuh dari ikat pinggangnya. Keris pusaka
Megantoro ini merupakan pusaka yang setingkat dengan Keris Pusaka Megatantra
milik Sang Prabu Erlangga, ampuh bukan main. Begitu keris terbang itu menyambar
lagi, Ki Patih Narotama tidak mengelak melainkan menangkis dengan keris
Megantoro.
"Cringg...!"
Keris terbang
yang berapi itu terpental, akan tetapi menyerang lagi dengan lebih ganas karena
keris itu seolah "dikendalikan" oleh Bhagawan Kalamisani! Ki Patih
Narotama menangkis berkali-kali sehingga terdengar bunyi nyaring berkencringan
dan bunga api berpljar-pijar. Melihat ini, Bhagawan Kalamisani melompat dan
menubruk ke arah Ki Patih Narotama yang sedang sibuk menangkis serangan keris
terbang itu. Ki Patih melihat kesempatan baik dan tidak mau menyia-nyiakan.
Tangan kirinya menghunus Keris Pusaka Kolomisanl yang dipinjamnya dari Nurseta
dan menyambut terkaman Bhagawan Kalamisani itu dengan keris pusaka itu.
No comments:
Post a Comment