Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 74


Memang ada belasan orang perwira, namun kesaktian mereka belum dapat diandalkan. Mereka ini hanya bertugas memimpin sisa pasukan yang terhindar dari kematian dalam perang besar di Kahuripan itu. Pada suatu malam, Ratu Mayang Gupita, raseksi berusia lima puluh tahun yang sakti mandraguna dan menyeramkan itu, mengundang Bhagawan Kalamisani dan belasan orang perwira pembantunya untuk berunding dalam istananya.
"Paman Bhagawan, kami merasa khawatir kalau-kalau pasukan Kahuripan akan menyerang ke sini. Kami sudah mendengar kabar bahwa Wura-Wuri sudah diserang dan diduduki. Kita hanya mempunyai dua pilihan, Paman. Melarikan diri meninggalkan kadipaten, atau melawan mati-matian. Bagaimana pendapat Andika Paman Bhagawan?"
Bhagawan Kalamisani yang bertubuh bongkok itu menjawab sambil mengangguk-angguk.
"Kanjeng Ratu, sebelum saya mengatakan pendapat saya, saya ingin lebih dulu bertanya kepada para perwira ini! Heh, kalian para senopati yang setia kepada Kerajaan Siluman Laut Kidul, bagaimana pendapat kalian dan para prajurit yang kalian pimpin? Beranikah kalian melawan kalau pasukan Kahuripan menyerang kita?"
Para senopati itu diwakili seorang senopati tua menjawab dengan tegas.
"Kami dan para prajurit siap melaksanakan semua perintah Gusti Ratu!"
"Kanjeng Ratu, setelah mendengar kesanggupan para senopati, menurut pendapat saya, kita tidak perlu takut kepada pasukan Kahuripan. Saya akan memimpin pasukan melawan mereka!"
"Harap Paman berhati-hati, karena saya mendengar bahwa yang memimpin pasukan Kahuripan adalah Ki Patih Narotama yang amat sakti sehingga Wura-Wuri juga sudah dikalahkan dan ditaklukkan."
"Heh-heh-heh, ada apanya sih Si Narotama itu? Bocah kemarin sore yang masih bau pupuk brambang! Saya tidak takut, Kanjeng Ratu. Asal jangan Sang Prabu Erlangga saja yang maju memimpin pasukan, karena memang berat untuk menandingi Sang Prabu Erlangga. Akan tetapi Narotama? Huh, saya tidak takut!"
Seluruh pasukan di Kerajaan Siluman Laut Kidul dikerahkan untuk menyambut pasukan Kahuripan yang menurut para penyelidik sudah mulai bergerak menuju Siluman Laut Kidul. Ki Patih Narotama menaati pesan Sang Prabu Erlangga, yaitu sedapat mungkin agar menaklukkan penguasa-penguasa daerah itu tanpa harus mengorbankan banyak nyawa di kedua pihak. Oleh karena itu, ketertiban dan kepatuhan para prajurit ditekankan sehingga di sepanjang perjalanan menuju Siluman Laut Kidul, pasukan itu sama sekali tidak pernah mengganggu rakyat di pedusunan yang dilalui mereka karena siapa berani melanggar larangan itu diancam hukuman berat. Namun yang membuat para prajurit dapat bersikap tertib dan taat adalah karena sejak mereka menjadi prajurit, Ki Patih Narotama melalui para senopati dan perwira telah menanamkan jiwa satria dalam batin mereka.

Akhirnya, saat yang ditunggu-tunggu oleh Kerajaan Siluman Laut Kidul dengan hati tegang, tiba. Pasukan Kahuripan telah berada di depan benteng Kota Raja Siluman Laut Kidul. Pasukan Kahuripan tiga kali lebih besar jumlahnya dari jumlah pasukan Siluman Laut Kidul, maka melihat jumlah yang demikian besar saja, para prajurit pasukan Siluman Laut Kidul sudah menjadi gentar. Akan tetapi para perwiranya, dipimpin oleh Ratu Mayang Gupita sendiri dan didampingi Bhagawan Kalamisani, tidak merasa gentar dan mereka memimpin pasukan untuk menyambut di luar pintu gerbang.
Dua pasukan sudah berhadapan, namun Ki Patih Narotama mengangkat tangan ke atas memberi isyarat kepada para perwira pembantunya agar jangan menggerakkan pasukan. Ki Patih Narotama kini berhadapan dengan Ratu Mayang Gupita dan Bhagawan Kalamisani yang diikuti beberapa belas orang perwira mereka. Yang mendampingi Ki Patih Narotama adalah Puspa Dewi dan beberapa orang senopati dan perwira pembantu. Untuk menaklukkan Kerajaan Siluman Laut Kidul, Ki Patih Narotama memang tidak mengerahkan banyak senopati. Bahkan Senopati Wiradana yang merupakan senopati tua ditinggalkan di Wura-Wuri untuk mengatur daerah yang baru saja ditalukkan itu.
Kini Ratu Mayang Gupita dan Bhagawan Kalamisani berhadapan dengan Ki Patih Narotama dan Puspa Dewi. Dengan suara yang lembut dan tenang namun mengandung wibawa kuat, Ki Patih Narotama berkata.
"Kanjeng Ratu Mayang Gupita, atas nama Sang Prabu Erlangga Raja Kahuripan, kami minta Andika menyerah saja dan menaluk mengakui kekuasaan Sang Prabu Erlangga agar kami tidak perlu menggunakan kekerasan menimbulkan banyak korban."
"Babo-babo, Si Keparat Narotama! Kamu bocah kemarin sore berani bersikap sombong di depan kami! Apa kau kira kami takut menandingimu dan pasukan Kahuripan? Kalau engkau hendak menaklukkan dan memasuki Gapura Siluman Laut Kidul, langkahi dulu mayatku!"
Ki Patih Narotama tersenyum. Dia maklum bahwa Bhagawan Kalamisani yang terkenal sombong ini tidak mudah dibujuk. Dulupun ketika dia mengikuti Pangeran Erlangga untuk minta kembali keris pusaka yang dicuri orang ini dari Maha Resi Satyadharma, orang ini yang dulu bernama Kartika Jenar memandang rendah mereka. Akhirnya Pangeran Erlangga dapat mengalahkan dia dan merampas kembali Keris Pusaka Kolomisani dari tangan Kartika Jenar yang memakai nama Sang Bhagawan Kalamisani. Dia sendiri ketika itu tidak sempat bertanding melawan Si Bongkok yang sakti mandraguna ini. Ki Patih Narotama maklum bahwa tanpa menundukkan orang ini, mustahil Kerajaan Siluman Laut Kidul mau taluk.
"Bhagawan Kalamisani, tantanganmu kuterima. Memang lebih baik begini saja. Kita para pimpinan yang mengadu kesaktian di sini, tidak perlu mengerahkan pasukan agar tidak banyak menimbulkan korban di kedua pihak. Engkau majukan para jagoan Siluman Laut Kidul, akan kami tandingi."
Bhagawan Kalamisani memberi isyarat kepada Ratu Mayang Gupita dan lima belas orang senopatinya. Mereka semua, tujuh belas orang, maju dan siap dengan senjata di tangan. Ki Patih Narotama dan Puspa Dewi maju, diikuti sepuluh orang perwira pembantu.
"Kami sudah siap. Kanjeng Ratu Mayang Gupita!" kata Ki Patih Narotama.

Bhagawan Kalamisani mengeluarkan bentakan dahsyat dan dia sudah menyerang Ki Patih Narotama. Kedua tangannya dikembangkan, lalu menubruk dan bagaikan seekor biruang dia mencengkeram dengan kedua tangan yang menyambar dari kanan kiri. Ki Patih Narotama dengan tenang mengelak dan balas menyerang. Dua orang sakti mandraguna itu sudah saling menyerang dengan hebat. Melihat paman gurunya sudah bertanding melawan Ki Patih Narotama, Ratu Mayang Gupita juga mengeluarkan pekik melengking dan rasaksa wanita yang bertubuh gendut tinggi besar itu menerjang ke arah Puspa Dewi yang ia tahu merupakan gadis yang sakti. Puspa Dewi menyambut serangannya dan dua orang wanita ini pun sudah bertanding dengan dahsyat. Lima belas orang senopati Kerajaan Siluman Laut Kidul bergerak maju disambut sepuluh orang perwira Kahuripan. Terjadilah pertempuran antara tujuh belas orang Siluman Laut Kidul dan dua belas orang Kahuripan itu. Para perajurit kedua pihak tidak ada yang berani maju memulai pertempuran. Pasukan Kahuripan tidak berani bergerak karena tadi Ki Patih Narotama sudah memberi isyarat agar mereka tidak menyerbu sebelum ada tanda darinya. Sedangkan Pasukan Siluman Laut Kidul selain belum mendapat perintah menyerang, juga mereka gentar untuk mulai penyerangan, melihat betapa pasukan musuh jauh lebih besar jumlahnya daripada mereka. Mereka hanya menanti hasil pertempuran antara para pemimpin pasukan kedua pihak. Pertempuran itu berlangsung seru. Biarpun Bhagawan Kalamisani dan Ratu Mayang Gupita merupakan dua orang yang memiliki ilmu hitam sesat, namun keduanya maklum bahwa penggunaan sihir tidak ada gunanya terhadap Ki Patih Narotama dan Puspa Dewi. Maka mereka mengandalkan tenaga sakti dan gerakan serangan mereka yang dahsyat, yang didukung tenaga ilmu hitam mereka. Yang paling hebat adalah pertandingan antara Ki Patih Narotama melawan Bhagawan Kalamisani. Pendeta itu memang memiliki kesaktian yang sudah amat tinggi, hasil dari mempelajari banyak aji kesaktian dari orang-orang pandai. Bahkan dia pernah pula menerima gemblengan dari Sang Maha Resi Satyadharma sendiri karena ketika mudanya, Bhagawan Kalamisani yang bernama Kartika Jenar adalah seorang yang berwatak satria. Akan tetapi setelah menerima banyak ilmu, di antaranya dari datuk-datuk sesat, dia mulai berubah. Daya-daya rendah yang sesat dalam ilmu-ilmu itu mulai menguasai dirinya sehingga dia mulai melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kebenaran. Bahkan dia berani mencuri pusaka milik Sang Maha Resi Satyadharma.
Kini, menghadapi Ki Patih Narotama, Bhagawan Kalamisani mengeluarkan semua ilmunya dan mengerahkan seluruh tenaga saktinya. Mula-mula mereka bertanding dengan tangan kosong, namun semua pukulan mereka mengandung tenaga sakti luar biasa sehingga sekitar tempat mereka bertanding dapat merasakan getaran pukulan mereka. Ki Patih Narotama juga tidak mudah mendesak lawannya yang memang memiliki banyak macam ilmu dan juga tentu saja memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak daripada dia. Hanya dia dapat bertahan karena selain tenaga saktinya dapat mengimbangi lawan, juga dia memiliki daya tahan yang lebih kuat, berkat kehidupannya yang bersih, tidak seperti Bhagawan Kalamisani yang terlalu dikuasai nafsu-nafsunya dan hidup seperti itu tentu saja melemahkan dan merusak daya tahan tubuhnya sendiri.

Berbeda dengan Ki Patih Narotama yang agak sukar mengalahkan lawan, Puspa Dewi dapat mendesak Ratu Mayang Gupita setelah mereka saling serang mati-matian selama tiga puluh jurus lebih. Mulailah Puspa Dewi mendesaknya. Biarpun Puspa Dewi sudah mewarisi semua aji kesaktian yang diajarkan guru pertamanya, Nyi Dewi Durgakumala, ia tidak akan mampu menandingi kedigdayaan Ratu Mayang Gupita kalau saja ia tidak menerima bimbingan Sang Maha Resi Satyadharma selang tiga bulan. Bimbingan itu selain mengubah wataknya yang keras dan mengubah sifat-sifat yang sesat dari ilmu-ilmunya, juga memperdalam ilmu itu dan terutama sekali menguatkan tenaga saktinya. Gadis ini memang berwatak satria. Ia memiliki sebuah cundrik atau patrem (keris kecil), yaitu Sang Cundrik Arum, pusaka pemberian Sang Prabu Erlangga. Sebuah pusaka yang ampuh. Akan tetapi Puspa Dewi tidak mau menggunakannya karena lawannya juga tidak menggunakan senjata. Bertanding dengan tangan kosong saja, Ratu Mayang Gupita yang mula-mula mampu mengimbangi, perlahan-lahan terdesak. Karena semakin lama merasa semakin terdesak dan repot melawan gadis cantik itu dan akan membahayakan nyawanya, Ratu Mayang Gupita menjadi penasaran dan marah. Tiba-tiba ia melompat ke belakang, mengeluarkan teriakan melengking yang memekakkan telinga dan menggetarkan jantung, mendorongkan kedua tangannya. Tampak bola api menyambar ke arah Puspa Dewi didahului suara ledakan.
"Darrr....!!"
Bola api itu menyambar ke arah kepala Puspa Dewi. Akan tetapi gadis itu telah siap siaga. Ia mengeluarkan pekik yang dahsyat, yaitu Aji Guruh Bairawa dan kedua tangannya juga mendorong dan menyambut bola api itu. Ada cahaya berapi meluncur dari kedua telapak tangannya, menyambut bola api dari lawannya.
"Pyarrr—!"
Kedua tenaga sakti yang berhawa panas sekali itu bertemu di udara, bertumbukan dan tampak bunga api muncrat merupakan kembang api yang menyilaukan mata dan terdengar Ratu Mayang Gupita menjerit, tubuhnya roboh terjengkang dan dari mulut dan hidungnya mengalir darah. Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul itu tewas seketika terpukul tenaga saktinya sendiri yang membalik setelah bertabrakan dengan tenaga sakti Puspa Dewi yang ternyata lebih kuat. Setelah lawannya roboh Puspa Dewi lalu membantu para perwira Kahuripan menghadapi para senopati Siluman Laut Kidul. Tentu saja begitu Puspa Dewi masuk ke dalam pertempuran itu, pihak para senopati lawan terdesak hebat dan beberapa orang senopati roboh oleh tamparan Puspa Dewi. Tentu saja Bhagawan Kalamisani terkejut bukan main melihat Sang Ratu, murid keponakannya itu, roboh dan tewas. Dia lalu mengerahkan tenaga saktinya, diperkuat dengan ilmu sihir, dan begitu dia mencabut kerisnya, keris itu dilontarkan dan terbang ke arah Ki Patih Narotama! Orang ke dua dari Kerajaan Kahuripan ini terkejut juga. Dia cepat mengelak dari sambaran keris yang ujungnya bernyala itu. Akan tetapi, keris berapi itu begitu luput dan lewat, langsung membalik dan menyambarnya dari belakang, seolah keris itu hidup dan memiliki mata! Setelah tiga kali mengelak, Narotama lalu mencabut Keris Pusaka Megantoro yang berluk tujuh dari ikat pinggangnya. Keris pusaka Megantoro ini merupakan pusaka yang setingkat dengan Keris Pusaka Megatantra milik Sang Prabu Erlangga, ampuh bukan main. Begitu keris terbang itu menyambar lagi, Ki Patih Narotama tidak mengelak melainkan menangkis dengan keris Megantoro.
"Cringg...!"
Keris terbang yang berapi itu terpental, akan tetapi menyerang lagi dengan lebih ganas karena keris itu seolah "dikendalikan" oleh Bhagawan Kalamisani! Ki Patih Narotama menangkis berkali-kali sehingga terdengar bunyi nyaring berkencringan dan bunga api berpljar-pijar. Melihat ini, Bhagawan Kalamisani melompat dan menubruk ke arah Ki Patih Narotama yang sedang sibuk menangkis serangan keris terbang itu. Ki Patih melihat kesempatan baik dan tidak mau menyia-nyiakan. Tangan kirinya menghunus Keris Pusaka Kolomisanl yang dipinjamnya dari Nurseta dan menyambut terkaman Bhagawan Kalamisani itu dengan keris pusaka itu.

<<< Bagian 73                                                                                          Bagian 75 >>>

No comments:

Post a Comment