"Wuttt... cappp...!"
Bhagawan
Kalamisani terbelalak, dan berseru kaget.
"...Keris
Pusaka Kolomisani...!" Tubuhnya terjengkang dengan keris itu masih
menancap di ulu hatinya dan dia pun tewas seketika. Keris terbang yang tadi
menyerang Ki Patih Narotama seperti seekor burung, kini pun kehilangan daya
penggeraknya dan keris itu jatuh ke atas tanah.
Ki Patih
Narotama memejamkan mata sebentar sambil merangkap kedua tangan depan dada.
Kemudian dia membuka mata kembali lalu menghampiri mayat Bhagawan Kalamisani
dan mencabut keris pusaka yang menancap di dada pendeta itu, membersihkannya
dan menyimpannya kembali. Ketika dia menengok ke arah pertempuran antara para
perwira pembantunya, dia melihat kini belasan orang senopati Siluman Laut Kidul
telah roboh semua dan di pihak para perwira Kahuripan hanya jatuh kurban lima
orang. Kemenangan ini tentu saja mudah dicapai karena Puspa Dewi membantu para
perwira Kahuripan itu. Ki Patih Narotama lalu berseru dengan suara yang nyaring
melengking sehingga terdengar oleh semua prajurit musuh.
"Hai para
perajurit Siluman Laut Kidul! Para pemimpin kalian telah tewas. Buanglah
senjata dan menyerahlah. Siapa yang menyerah tidak akan dibunuh, akan tetapi
yang melawan akan dibinasakan!"
Dia lalu
memberi isyarat kepada para perwira untuk menggerakkan pasukan Kahuripan yang
maju ke arah gapura Kota Raja Siluman Laut Kidul. Sebagian besar prajurit
Siluman Laut Kidul membuang senjata, berlutut dan menyerah. Mereka yang
melakukan perlawanan, karena jumlahnya tidak banyak, dengan mudah digilas dan
pasukan Kahuripan memasuki kota raja tanpa banyak perlawanan. Ki Patih Narotama
memasuki istana dan semua penghuni istana menjadi tawanan. Karena Kerajaan
Siluman Laut Kidul merupakan kerajaan kecil saja, maka sesuai dengan pesan Sang
Prabu Erlangga, Ki Patih Narotama lalu menempatkan beberapa orang perwira dan
meninggalkan sejumlah pasukan untuk mengatur daerah itu sebagai daerah kekuasaan
Kahuripan. Sejak itu, Kerajaan Siiuman Laut Kidul sudah tidak ada lagi. Bekas
para prajuritnya banyak yang diterima masuk menjadi perajurit Kahuripan.
Setelah
membiarkan pasukannya beristirahat selama beberapa minggu, Ki Patih Narotama
lalu bersiap-siap untuk melanjutkan gerakan pembersihan dilakukan pasukan
Kahuripan. Wura-Wuri sudah ditundukkan, demikian pula Siluman Laut Kidul. Maka
kini tinggal dua buah kadipaten lagi, yang merupakan musuh utama, yaitu
Kadipaten Wengker dan Kadipaten Parang Siluman. Karena dia tak mungkin
menyerang Parang Siluman, melanggar janji dan membahayakan keselamatan nyawa
puteranya, maka dia mengambil keputusan untuk menyerang Kadipaten Wengker lebih
dulu.
Pada pagi hari
itu, semua anggota pasukan telah mengadakan persiapan karena besok pagi-pagi
pasukan akan diberangkatkan ke Kadipaten Wengker. Ki Patih Narotama duduk di
beranda istana Siluman Laut Kidul untuk membicarakan rencana serangan ke
Wengker itu bersama Puspa Dewi dan tujuh orang perwira pembantu yang ditentukan
harus ikut memimpin pasukan.
Tiba-tiba
datang serombongan perwira tinggi dengan pasukan pengawal. Mereka adalah
Senopati Tanujoyo bersama sepuluh orang perwira dan seregu pasukan pengawal
terdiri dari sepuluh lusin perajurit pilihan dari Kahuripan.
Karena Senopati
Tanujoyo, seorang di antara para senopati muda yang terkenal tangguh dari
Kahuripan datang sebagai utusan Sang Prabu Erlangga, maka Ki Patih Narotama
menyambut rombongan ini dengan gembira dan hormat. Setelah para pendatang
dipersilakan duduk, Ki Patih Narotama memandang wajah Senopati Tanujoyo yang
berusia sekitar empat puluh tahun itu, wajah yang gagah perkasa seperti
Gatutkaca dengan brengos (kumis) melintang sekepal sebelah, dan berkata.
"Kakang
Senopati Tanujoyo, tugas apakah yang diberikan Gusti Sinuwun kepadamu? Adakah
perintah baru dari Gusti Sinuwun untukku?”
"Gusti
Patih Narotama." kata Senopati Tanujoyo dengan sikap hormat.
"Kami
ditugaskan untuk membawa para perwira ini untuk membantu Paduka. Gusti Sinuwun
memerintahkan agar saya membantu Paduka sebagai wakil panglima dan kita
diperintahkan agar segera mengadakan serangan dan menundukkan Kadipaten Parang
Siluman. Perintah ini agar dilaksanakan hari ini juga, Gusti Patih."
Berdebar rasa
jantung Narotama mendengar perintah ini. Menyerang Parang Siluman? Tidak
mungkin! Tidak mungkin dia melakukan itu! Akan tetapi,tidak mungkin pula dia
menolak, membantah atau membangkang terhadap perintah Sang Prabu Erlangga!
"Baiklah,
Kakang Senopati. Akan tetapi tidak sekarang kita memberangkatkan pasukan, melainkan
besok pagi-pagi karena sudah terlanjur kami perintahkan kepada semua perwira
pembantu dan pasukan."
Biarpun dalam
hatinya. Senopati Tanujoyo merasa tidak puas bahwa perintah Sang Prabu Erlangga
agar memberangkatkan hari ini diundur besok pagi oleh Ki Patih Narotama, namun
dia tidak berani ribut atau membantah persoalan kecil itu. Diam-diam Senopati
Tanujoyo mempunyai perasaan tidak senang kepada Ki Patih Narotama. Tidak senang
karena iri bahwa oleh Ki Patih Narotama dia tidak diikut sertakan memimpin
pasukan yang melakukan pembersihan terhadap Empat Kadipaten itu. Dia ingin
membuat jasa dan merasa seolah dihalangi Ki Patih Narotama yang diangkat
sebagai panglima tertinggi tidak mengikutsertakan dia. Padahal, KI Patih
Narotama tidak mengikutsertakan dia karena tidak mau mengosongkan kota raja
yang harus pula dijaga keamanannya. Maka ditinggalkannya beberapa orang
senopati yang dia anggap memiliki kemampuan untuk menjaga keamanan kota raja.
Malam itu Ki
Patih Narotama tidak dapat tidur. Dia gelisah di dalam kamarnya, bingung
sekali. Kemudian dia teringat kepada Puspa Dewi. Urusan pribadinya dengan
Lasmini telah dia ceritakan kepada Nurseta, bahkan dia sudah minta bantuan
Nurseta untuk merampas kembali puteranya yang ditawan dan dijadikan sandera
oleh Lasmini. Sekarang dia harus minta bantuan Puspa Dewi. Hanya gadis itulah
yang akan dapat membantunya dan dapat dipercaya untuk mengetahui rahasianya.
Maka, malam itu dia mendatangi kamar Puspa Dewi dan mengetuk daun pintu kamar
itu.
Suasana malam
itu sudah sunyi, karena malam sudah larut dan semua orang sudah tidur. Namun,
di luar dugaan Ki Patih Narotama, ada sepasang mata yang mengintai, melihat Ki
Patih Narotama mengetuk daun pintu kamar Puspa Dewi!
"Tok-tok-tok!"
"Siapa di
luar?" Suara Puspa Dewi bertanya.
"Puspa
Dewi, ini aku. Ada yang perlu kubicarakan denganmu."
"Ah,
Gusti Patih!" Puspa Dewi membuka pintu kamarnya.
"Puspa
Dewi, boleh aku masuk? Ada urusan penting sekali."
Puspa Dewi
memandang heran. Akan tetapi ia percaya sepenuhnya kepada Ki Patih Narotama.
"Tentu
saja, Gusti Patih. Silakan!"
Ki Patih
Narotama masuk kamar dan menutupkan daun pintunya.
"Mengapa
mesti ditutup, Gusti Patih?" Puspa Dewi mulai merasa heran dan mengerutkan
alisnya, karena biarpun patih, Narotama adalah seorang laki-laki, tidak pantas
berdiam di kamar seorang gadis dan menutupkan pintunya!
"Sstt...
ini penting sekali, tak boleh diketahui orang lain." Ki Patih Narotama
lalu berkata dengan suara berbisik. "Ketahuilah, puteraku Joko Pekik
Satyabudhi berada di tangan Lasmini, dan ia mengancam akan membunuhnya kalau
aku memimpin pasukan menyerang Parang Siluman. Maka, tentu saja aku tidak
mungkin dapat memenuhi perintah Gusti Sinuwun untuk menyerang ke sana, hal itu
akan mengorbankan nyawa puteraku."
"Akan
tetapi mengapa Gusti Sinuwun memerintahkan menyerang Parang Siluman kalau
mengetahui bahwa putera Paduka menjadi sandera di sana?"
"Justru
itulah, Puspa Dewi. Aku malu untuk melaporkan tentang janjiku kepada Lasmini
untuk tidak menyerang Parang Siluman. Aku malu.... maka beliau tidak tahu. Aku
sudah diam-diam minta tolong kepada Nurseta untuk merampas kembali puteraku.
Akan tetapi sekarang tiba-tiba Gusti Sinuwun memerintahkan menyerang Parang
Siluman. Tentu saja aku tidak dapat melakukan hal itu dan membiarkan puteraku
terbunuh di depan mataku. Akan tetapi bagaimana pula aku dapat membangkang
terhadap perintah Gusti Sinuwun? Karena itu, engkau bantulah aku, Puspa Dewi.
Aku tidak sanggup memimpin pasukan melanjutkan penyerangan pembersihan ini.
Engkau wakililah aku, dan kau pimpin pasukan ini menyerbu ke Kadipaten Wengker.
Aku sendiri akan pergi menyusul Nurseta untuk berusaha merampas kembali anakku
yang ditawan di Kadipaten Parang Siluman."
Mendengar
cerita Ki Patih Narotama, Puspa Dewi merasa iba sekali. Lasmini sungguh licik
dan curang, menculik Joko Pekik Sataybudhi untuk mengancam dan memaksa Ki Patih
Narotama agar tidak menyerang Parang Siluman. Memimpin pasukan menyerang
Wengker merupakan pekerjaan yang teramat berat karena Wengker merupakan
kadipaten yang kuat. Di sana terdapat orang-orang yang sakti mandraguna. Akan
tetapi tentu saja ia siap membantu Ki Patih Narotama yang sedang menghadapi
keadaan sulit itu.
"Baiklah,
Gusti Patih. Saya siap melaksanakan perintah!"
Ki Patih
Narotama lalu keluar dari kamar Puspa Dewi, kembali ke kamarnya sendiri, tidak
menyadari bahwa sepasang mata Senopati Tanujoyo sejak tadi mengintai, melihat
dia memasuki kamar Puspa Dewi lalu keluar lagi. Pada keesokan harinya,
pagi-pagi semua pasukan sudah siap untuk menerima perintah berangkat. Akan
tetapi ditunggu-tunggu, Ki Patih Narotama belum juga keluar dari kamarnya.
Setelah menunggu beberapa lamanya, akhirnya Senopati Tanujoyo sebagai wakil
panglima, bersama Puspa Dewi yang menjadi pembantu utama Ki Patih Narotama
beserta beberapa orang perwira tinggi, memberanikan diri mengetuk daun pintu
kamar tidur Ki Patih Narotama.
"Tok-toktok!"
"Siapa?"
terdengar suara Ki Patin Narotama bertanya.
"Saya,
Gusti Patih. Senopati Tanujoyo dan para perwira lainnya."
"Masuk
sajalah, pintunya tidak terpalang." kata Ki Patih Narotama.
Senopati
Tanujoyo, Puspa Dewi, dan beberapa orang perwira memasuki kamar itu. Ki Patih
Narotama masih rebah telentang di atas pembaringannya. Puspa Dewi sudah dapat
menduga bahwa tentu Ki Patih Narotama akan berpura-pura sakit agar dapat
melepaskan tugas memimpin pasukan menyerang musuh. Maka gadis ini pun bersikap
tenang saja. Senopati Tanujoyo menghampiri pembaringan.
"Gusti
Patih, Paduka kenapakah?! Apakah Paduka sakit?"
Ki Patih
Narotama mengangguk.
"Badanku
rasanya tidak sehat, panas dingin dan kepala rasanya pening. Karena itu, aku
serahkan pimpinan pasukan kepadamu, Puspa Dewi. Pimpinlah pasukan kita untuk
menyerang Wengker."
"Baik,
Gusti Patih. Saya siap melaksanakan perintah!" kata Puspa Dewi tegas.
"Nanti
dulu, Gusti Patih!" Senopati Tanujoyo berseru dengan alis berkerut.
"Saya
mendapat perintah langsung dari Kanjeng Gusti Sinuwun untuk menjadi wakil Gusti
Patih memimpin pasukan menyerang dan menundukkan Parang Siluman! Gusti Sinuwun
sendiri yang mengangkat saya menjadi wakil Paduka. Kalau sekarang Paduka sakit
dan tidak dapat memimpin pasukan, sesuai dengan perintah Gusti Sinuwun, semestinya
saya yang mewakili Paduka memimpin pasukan. Mengapa Paduka serahkan kepada Ni
Puspa Dewi? Ini berarti menyangkal perintah Gusti Sinuwun, dan saya tidak
berani melakukan itu! Pula, Gusti Sinuwun, memerintahkan agar pasukan menyerang
Parang Siluman, bukan Wengker lebih dulu. Maka, maafkan, Gusti Patih, terpaksa
saya tidak menyetujui perintah Paduka. Ni Puspa Dewi memang gagah perkasa dan
sudah berjasa terhadap Kahuripan, akan tetapi maaf, ia bukan senopati, maka
tidak selayaknya memimpin pasukan Kahuripan. Sekarang, saya yang berhak
menggantikan kedudukan Paduka dan memimpin pasukan! Ni Puspa Dewi, kalau suka
membantu Kahuripan, akan menjadi pembantu utama saya. Maaf, Gusti Patih,
sekarang saya akan memberangkatkan pasukan. Mari, Ni Puspa Dewi!"
Senopati
Tanujoyo keluar dari kamar diikuti para perwira yang tentu saja membenarkan dia
dan tidak berani mengubah perintah Sang Prabu Erlangga. Puspa Dewi ragu-ragu
dan bingung, memandang kepada Ki Patih Narotama. Ki Patih Narotama menghela
napas panjang dan berkata kepada Puspa Dewi.
"Pergi
dan taatilah dia, Puspa Dewi, karena dia itu menurut hukum benar. Tidak baik
bagimu menganggap aku lebih penting dari Sang Prabu Erlangga yang harus engkau
taati perintahnya."
Puspa Dewi
keluar dan terpaksa ia membantu Senopati Tanujoyo yang mengerahkan pasukannya,
bukan ke Wengker melainkan ke Parang Siluman! Setibanya di jalan simpang dan
melihat pasukan hendak dibelokkan ke Parang Siluman, Puspa Dewi mencoba untuk
mengingatkan Senopati Tanujoyo.
"Paman
Senopati, maaf, apakah tidak keliru mengambil jalan? Bukankah seharusnya kita
mengambil jalan itu yang menuju ke Wengker seperti dipesan Gusti Patih
Narotama?"
"Ni Puspa
Dewi, seorang punggawa kerajaan hanya patuh dan setia kepada atasannya, dalam
hal ini yang paling tinggi dan harus dipatuhi adalah Sang Prabu Erlangga. Kalau
tidak ada perintah langsung dari Gusti Sinuwun, tentu saja saya akan patuh
kepada perintah Gusti Patih Narotama sebagai atasan saya. Akan tetapi ada
perintah langsung yang sudah jelas dari Sang Prabu Erlangga, yaitu agar pasukan
kita menyerang Parang Siluman lebih dulu.
No comments:
Post a Comment