Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 75


"Wuttt... cappp...!"
Bhagawan Kalamisani terbelalak, dan berseru kaget.
"...Keris Pusaka Kolomisani...!" Tubuhnya terjengkang dengan keris itu masih menancap di ulu hatinya dan dia pun tewas seketika. Keris terbang yang tadi menyerang Ki Patih Narotama seperti seekor burung, kini pun kehilangan daya penggeraknya dan keris itu jatuh ke atas tanah.
Ki Patih Narotama memejamkan mata sebentar sambil merangkap kedua tangan depan dada. Kemudian dia membuka mata kembali lalu menghampiri mayat Bhagawan Kalamisani dan mencabut keris pusaka yang menancap di dada pendeta itu, membersihkannya dan menyimpannya kembali. Ketika dia menengok ke arah pertempuran antara para perwira pembantunya, dia melihat kini belasan orang senopati Siluman Laut Kidul telah roboh semua dan di pihak para perwira Kahuripan hanya jatuh kurban lima orang. Kemenangan ini tentu saja mudah dicapai karena Puspa Dewi membantu para perwira Kahuripan itu. Ki Patih Narotama lalu berseru dengan suara yang nyaring melengking sehingga terdengar oleh semua prajurit musuh.
"Hai para perajurit Siluman Laut Kidul! Para pemimpin kalian telah tewas. Buanglah senjata dan menyerahlah. Siapa yang menyerah tidak akan dibunuh, akan tetapi yang melawan akan dibinasakan!"
Dia lalu memberi isyarat kepada para perwira untuk menggerakkan pasukan Kahuripan yang maju ke arah gapura Kota Raja Siluman Laut Kidul. Sebagian besar prajurit Siluman Laut Kidul membuang senjata, berlutut dan menyerah. Mereka yang melakukan perlawanan, karena jumlahnya tidak banyak, dengan mudah digilas dan pasukan Kahuripan memasuki kota raja tanpa banyak perlawanan. Ki Patih Narotama memasuki istana dan semua penghuni istana menjadi tawanan. Karena Kerajaan Siluman Laut Kidul merupakan kerajaan kecil saja, maka sesuai dengan pesan Sang Prabu Erlangga, Ki Patih Narotama lalu menempatkan beberapa orang perwira dan meninggalkan sejumlah pasukan untuk mengatur daerah itu sebagai daerah kekuasaan Kahuripan. Sejak itu, Kerajaan Siiuman Laut Kidul sudah tidak ada lagi. Bekas para prajuritnya banyak yang diterima masuk menjadi perajurit Kahuripan.

Setelah membiarkan pasukannya beristirahat selama beberapa minggu, Ki Patih Narotama lalu bersiap-siap untuk melanjutkan gerakan pembersihan dilakukan pasukan Kahuripan. Wura-Wuri sudah ditundukkan, demikian pula Siluman Laut Kidul. Maka kini tinggal dua buah kadipaten lagi, yang merupakan musuh utama, yaitu Kadipaten Wengker dan Kadipaten Parang Siluman. Karena dia tak mungkin menyerang Parang Siluman, melanggar janji dan membahayakan keselamatan nyawa puteranya, maka dia mengambil keputusan untuk menyerang Kadipaten Wengker lebih dulu.
Pada pagi hari itu, semua anggota pasukan telah mengadakan persiapan karena besok pagi-pagi pasukan akan diberangkatkan ke Kadipaten Wengker. Ki Patih Narotama duduk di beranda istana Siluman Laut Kidul untuk membicarakan rencana serangan ke Wengker itu bersama Puspa Dewi dan tujuh orang perwira pembantu yang ditentukan harus ikut memimpin pasukan.
Tiba-tiba datang serombongan perwira tinggi dengan pasukan pengawal. Mereka adalah Senopati Tanujoyo bersama sepuluh orang perwira dan seregu pasukan pengawal terdiri dari sepuluh lusin perajurit pilihan dari Kahuripan.
Karena Senopati Tanujoyo, seorang di antara para senopati muda yang terkenal tangguh dari Kahuripan datang sebagai utusan Sang Prabu Erlangga, maka Ki Patih Narotama menyambut rombongan ini dengan gembira dan hormat. Setelah para pendatang dipersilakan duduk, Ki Patih Narotama memandang wajah Senopati Tanujoyo yang berusia sekitar empat puluh tahun itu, wajah yang gagah perkasa seperti Gatutkaca dengan brengos (kumis) melintang sekepal sebelah, dan berkata.
"Kakang Senopati Tanujoyo, tugas apakah yang diberikan Gusti Sinuwun kepadamu? Adakah perintah baru dari Gusti Sinuwun untukku?”
"Gusti Patih Narotama." kata Senopati Tanujoyo dengan sikap hormat.
"Kami ditugaskan untuk membawa para perwira ini untuk membantu Paduka. Gusti Sinuwun memerintahkan agar saya membantu Paduka sebagai wakil panglima dan kita diperintahkan agar segera mengadakan serangan dan menundukkan Kadipaten Parang Siluman. Perintah ini agar dilaksanakan hari ini juga, Gusti Patih."
Berdebar rasa jantung Narotama mendengar perintah ini. Menyerang Parang Siluman? Tidak mungkin! Tidak mungkin dia melakukan itu! Akan tetapi,tidak mungkin pula dia menolak, membantah atau membangkang terhadap perintah Sang Prabu Erlangga!
"Baiklah, Kakang Senopati. Akan tetapi tidak sekarang kita memberangkatkan pasukan, melainkan besok pagi-pagi karena sudah terlanjur kami perintahkan kepada semua perwira pembantu dan pasukan."
Biarpun dalam hatinya. Senopati Tanujoyo merasa tidak puas bahwa perintah Sang Prabu Erlangga agar memberangkatkan hari ini diundur besok pagi oleh Ki Patih Narotama, namun dia tidak berani ribut atau membantah persoalan kecil itu. Diam-diam Senopati Tanujoyo mempunyai perasaan tidak senang kepada Ki Patih Narotama. Tidak senang karena iri bahwa oleh Ki Patih Narotama dia tidak diikut sertakan memimpin pasukan yang melakukan pembersihan terhadap Empat Kadipaten itu. Dia ingin membuat jasa dan merasa seolah dihalangi Ki Patih Narotama yang diangkat sebagai panglima tertinggi tidak mengikutsertakan dia. Padahal, KI Patih Narotama tidak mengikutsertakan dia karena tidak mau mengosongkan kota raja yang harus pula dijaga keamanannya. Maka ditinggalkannya beberapa orang senopati yang dia anggap memiliki kemampuan untuk menjaga keamanan kota raja.

Malam itu Ki Patih Narotama tidak dapat tidur. Dia gelisah di dalam kamarnya, bingung sekali. Kemudian dia teringat kepada Puspa Dewi. Urusan pribadinya dengan Lasmini telah dia ceritakan kepada Nurseta, bahkan dia sudah minta bantuan Nurseta untuk merampas kembali puteranya yang ditawan dan dijadikan sandera oleh Lasmini. Sekarang dia harus minta bantuan Puspa Dewi. Hanya gadis itulah yang akan dapat membantunya dan dapat dipercaya untuk mengetahui rahasianya. Maka, malam itu dia mendatangi kamar Puspa Dewi dan mengetuk daun pintu kamar itu.
Suasana malam itu sudah sunyi, karena malam sudah larut dan semua orang sudah tidur. Namun, di luar dugaan Ki Patih Narotama, ada sepasang mata yang mengintai, melihat Ki Patih Narotama mengetuk daun pintu kamar Puspa Dewi!
"Tok-tok-tok!"
"Siapa di luar?" Suara Puspa Dewi bertanya.
"Puspa Dewi, ini aku. Ada yang perlu kubicarakan denganmu."
"Ah, Gusti Patih!" Puspa Dewi membuka pintu kamarnya.
"Puspa Dewi, boleh aku masuk? Ada urusan penting sekali."
Puspa Dewi memandang heran. Akan tetapi ia percaya sepenuhnya kepada Ki Patih Narotama.
"Tentu saja, Gusti Patih. Silakan!"
Ki Patih Narotama masuk kamar dan menutupkan daun pintunya.
"Mengapa mesti ditutup, Gusti Patih?" Puspa Dewi mulai merasa heran dan mengerutkan alisnya, karena biarpun patih, Narotama adalah seorang laki-laki, tidak pantas berdiam di kamar seorang gadis dan menutupkan pintunya!
"Sstt... ini penting sekali, tak boleh diketahui orang lain." Ki Patih Narotama lalu berkata dengan suara berbisik. "Ketahuilah, puteraku Joko Pekik Satyabudhi berada di tangan Lasmini, dan ia mengancam akan membunuhnya kalau aku memimpin pasukan menyerang Parang Siluman. Maka, tentu saja aku tidak mungkin dapat memenuhi perintah Gusti Sinuwun untuk menyerang ke sana, hal itu akan mengorbankan nyawa puteraku."
"Akan tetapi mengapa Gusti Sinuwun memerintahkan menyerang Parang Siluman kalau mengetahui bahwa putera Paduka menjadi sandera di sana?"
"Justru itulah, Puspa Dewi. Aku malu untuk melaporkan tentang janjiku kepada Lasmini untuk tidak menyerang Parang Siluman. Aku malu.... maka beliau tidak tahu. Aku sudah diam-diam minta tolong kepada Nurseta untuk merampas kembali puteraku. Akan tetapi sekarang tiba-tiba Gusti Sinuwun memerintahkan menyerang Parang Siluman. Tentu saja aku tidak dapat melakukan hal itu dan membiarkan puteraku terbunuh di depan mataku. Akan tetapi bagaimana pula aku dapat membangkang terhadap perintah Gusti Sinuwun? Karena itu, engkau bantulah aku, Puspa Dewi. Aku tidak sanggup memimpin pasukan melanjutkan penyerangan pembersihan ini. Engkau wakililah aku, dan kau pimpin pasukan ini menyerbu ke Kadipaten Wengker. Aku sendiri akan pergi menyusul Nurseta untuk berusaha merampas kembali anakku yang ditawan di Kadipaten Parang Siluman."
Mendengar cerita Ki Patih Narotama, Puspa Dewi merasa iba sekali. Lasmini sungguh licik dan curang, menculik Joko Pekik Sataybudhi untuk mengancam dan memaksa Ki Patih Narotama agar tidak menyerang Parang Siluman. Memimpin pasukan menyerang Wengker merupakan pekerjaan yang teramat berat karena Wengker merupakan kadipaten yang kuat. Di sana terdapat orang-orang yang sakti mandraguna. Akan tetapi tentu saja ia siap membantu Ki Patih Narotama yang sedang menghadapi keadaan sulit itu.
"Baiklah, Gusti Patih. Saya siap melaksanakan perintah!"
Ki Patih Narotama lalu keluar dari kamar Puspa Dewi, kembali ke kamarnya sendiri, tidak menyadari bahwa sepasang mata Senopati Tanujoyo sejak tadi mengintai, melihat dia memasuki kamar Puspa Dewi lalu keluar lagi. Pada keesokan harinya, pagi-pagi semua pasukan sudah siap untuk menerima perintah berangkat. Akan tetapi ditunggu-tunggu, Ki Patih Narotama belum juga keluar dari kamarnya. Setelah menunggu beberapa lamanya, akhirnya Senopati Tanujoyo sebagai wakil panglima, bersama Puspa Dewi yang menjadi pembantu utama Ki Patih Narotama beserta beberapa orang perwira tinggi, memberanikan diri mengetuk daun pintu kamar tidur Ki Patih Narotama.
"Tok-toktok!"
"Siapa?" terdengar suara Ki Patin Narotama bertanya.
"Saya, Gusti Patih. Senopati Tanujoyo dan para perwira lainnya."
"Masuk sajalah, pintunya tidak terpalang." kata Ki Patih Narotama.
Senopati Tanujoyo, Puspa Dewi, dan beberapa orang perwira memasuki kamar itu. Ki Patih Narotama masih rebah telentang di atas pembaringannya. Puspa Dewi sudah dapat menduga bahwa tentu Ki Patih Narotama akan berpura-pura sakit agar dapat melepaskan tugas memimpin pasukan menyerang musuh. Maka gadis ini pun bersikap tenang saja. Senopati Tanujoyo menghampiri pembaringan.
"Gusti Patih, Paduka kenapakah?! Apakah Paduka sakit?"
Ki Patih Narotama mengangguk.
"Badanku rasanya tidak sehat, panas dingin dan kepala rasanya pening. Karena itu, aku serahkan pimpinan pasukan kepadamu, Puspa Dewi. Pimpinlah pasukan kita untuk menyerang Wengker."
"Baik, Gusti Patih. Saya siap melaksanakan perintah!" kata Puspa Dewi tegas.
"Nanti dulu, Gusti Patih!" Senopati Tanujoyo berseru dengan alis berkerut.
"Saya mendapat perintah langsung dari Kanjeng Gusti Sinuwun untuk menjadi wakil Gusti Patih memimpin pasukan menyerang dan menundukkan Parang Siluman! Gusti Sinuwun sendiri yang mengangkat saya menjadi wakil Paduka. Kalau sekarang Paduka sakit dan tidak dapat memimpin pasukan, sesuai dengan perintah Gusti Sinuwun, semestinya saya yang mewakili Paduka memimpin pasukan. Mengapa Paduka serahkan kepada Ni Puspa Dewi? Ini berarti menyangkal perintah Gusti Sinuwun, dan saya tidak berani melakukan itu! Pula, Gusti Sinuwun, memerintahkan agar pasukan menyerang Parang Siluman, bukan Wengker lebih dulu. Maka, maafkan, Gusti Patih, terpaksa saya tidak menyetujui perintah Paduka. Ni Puspa Dewi memang gagah perkasa dan sudah berjasa terhadap Kahuripan, akan tetapi maaf, ia bukan senopati, maka tidak selayaknya memimpin pasukan Kahuripan. Sekarang, saya yang berhak menggantikan kedudukan Paduka dan memimpin pasukan! Ni Puspa Dewi, kalau suka membantu Kahuripan, akan menjadi pembantu utama saya. Maaf, Gusti Patih, sekarang saya akan memberangkatkan pasukan. Mari, Ni Puspa Dewi!"

Senopati Tanujoyo keluar dari kamar diikuti para perwira yang tentu saja membenarkan dia dan tidak berani mengubah perintah Sang Prabu Erlangga. Puspa Dewi ragu-ragu dan bingung, memandang kepada Ki Patih Narotama. Ki Patih Narotama menghela napas panjang dan berkata kepada Puspa Dewi.
"Pergi dan taatilah dia, Puspa Dewi, karena dia itu menurut hukum benar. Tidak baik bagimu menganggap aku lebih penting dari Sang Prabu Erlangga yang harus engkau taati perintahnya."
Puspa Dewi keluar dan terpaksa ia membantu Senopati Tanujoyo yang mengerahkan pasukannya, bukan ke Wengker melainkan ke Parang Siluman! Setibanya di jalan simpang dan melihat pasukan hendak dibelokkan ke Parang Siluman, Puspa Dewi mencoba untuk mengingatkan Senopati Tanujoyo.
"Paman Senopati, maaf, apakah tidak keliru mengambil jalan? Bukankah seharusnya kita mengambil jalan itu yang menuju ke Wengker seperti dipesan Gusti Patih Narotama?"
"Ni Puspa Dewi, seorang punggawa kerajaan hanya patuh dan setia kepada atasannya, dalam hal ini yang paling tinggi dan harus dipatuhi adalah Sang Prabu Erlangga. Kalau tidak ada perintah langsung dari Gusti Sinuwun, tentu saja saya akan patuh kepada perintah Gusti Patih Narotama sebagai atasan saya. Akan tetapi ada perintah langsung yang sudah jelas dari Sang Prabu Erlangga, yaitu agar pasukan kita menyerang Parang Siluman lebih dulu.

<<< Bagian 74                                                                                          Bagian 76 >>>

No comments:

Post a Comment