Mana bisa perintah langsung Sang Prabu Erlangga diubah begitu saja oleh Ki Patih Narotama? Saya tidak berani melanggar perintah Gusti Sinuwun, Ni Puspa Dewi."
Puspa Dewi
menjadi bingung. Kalau saja tidak ada urusan itu. Kalau saja putera Ki Patih
Narotama tidak dijadikan sandera di Parang Siluman. Tentu ia dengan senang hati
akan membantu sekuat tenaga kepada Senopati Tanujoyo. Selagi ia kebingungan
karena Senopati Tanujoyo sudah menggerakkan kudanya sehingga ia terpaksa
mengikutinya, tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu Ki Patih
Narotama telah berdiri menghadang di tengah jalan. Wajahnya yang biasanya
tenang dan cerah penuh senyum itu kini tampak menyeramkan, matanya mencorong
dan alisnya berkerut.
"Berhenti
semua! Kakang Senopati Tanujoyo, sudah kukatakan kepadamu. Bawalah pasukanmu ke
Wengker dan serang Kadipaten Wengker!"
Senopati
Tanujoyo adalah seorang senopati yang setia kepada Sang Prabu Erlangga.
Diam-diam dia memang agak marah dan iri kepada Ki Patih Narotama karena dia
tidak dipilih untuk membantu dalam gerakan pembersihan pasukan Kahuripan. Kini,
melihat Ki Patih Narotama menghalang di jalan, dia lalu melompat turun dari atas
punggung kudanya dan menghampiri Patih itu.
"Gusti
Patih, apa yang Paduka lakukan ini? Kami melaksanakan perintah Gusti Sinuwun
untuk menyerang Parang Siluman, siapa yang berani menghalangi?"
"Aku yang
menghalangi! Bawa pasukan ini menyerang Wengker! Kalau Andika lanjutkan
menyerang Parang Siluman, aku melarangmu!"
Senopati
Tanujoyo menjadi marah. Mukanya berubah kemerahan dan dia melangkah maju
menghampiri,
"Hei, Ki
Patih Narotama! Andika berani menentang perintah Gusti Sinuwun, berarti Andika
hendak memberontak terhadap Sang Prabu Erlangga? Aku tahu, Andika tentu hendak
melindungi Lasmini, bekas selir yang kini berada di Parang Siluman!"
"Tutup
mulutmu dan pergilah!" bentak KI Patih Narotama.
"Sang
Prabu Erlangga telah memberi purbawisesa (wewenang, kekuasaan), siapa yang
menentang perintah beliau harus kubinasakan!" Setelah berkata demikian,
Senopati Tanujoyo sudah mencabut kerisnya dan menyerang Ki Patih Narotama. Akan
tetapi Ki Patih Narotama menyambutnya dengan dorongan tangan dan tubuh senopati
itu terpental dan jatuh terjengkang! Dia bangkit lagi dan memberi aba-aba
kepada beberapa orang perwira pembantunya.
"Tangkap
pengkhianat pemberontak!"
Lima orang
perwira maju dengan ragu-ragu untuk menangkap Ki Patih Narotama, akan tetapi
dengan beberapa gerakan saja Ki Patih Narotama telah merobohkan mereka dengan
tamparan dan tendangannya, tanpa melukai berat apalagi membunuhnya. Senopati
Tanujoyo masih ngotot dan hendak menyerang lagi, akan tetapi tiba-tiba Puspa
Dewi melompat di depannya.
"Paman
Senopati, hentikan semua serangan ini! Andika tidak akan menang melawan Gusti
Patih Narotama dan tidak baik berkelahi antara rekan sendiri. Sebaiknya Andika
melaporkan hal ini kepada Gusti Sinuwun karena hanya beliau yang berhak untuk
memutuskan perkara ini."
Karena jelas
bahwa gadis ini tidak akan membantunya mengeroyok Ki Patih Narotama, dan dia
harus mengakui bahwa dia dan semua perwira pasti tidak akan mampu mengalahkan
Patih itu, dan percuma saja mengerahkan pasukan karena semua prajurit itu pasti
tidak akan berani melawan Ki Patih Narotama, maka Senopati Tanujoyo berkata
dengan marah.
"Baiklah,
akan kulaporkan Andika kepada Gusti Sinuwun, Ki Patih Narotama!"
Setelah
berkata demikian, Senopati Tanujoyo menyuruh pasukannya mundur dan untuk
sementara berhenti dan membangun perkemahan di situ. Adapun dia sendiri lalu
mengajak pasukan pengawal untuk cepat-cepat kembali ke Kota Raja Kahuripan
untuk melaporkan larangan Ki Patih Narotama terhadap gerakan pasukannya yang
hendak menyerang Parang Siluman itu.
Puspa Dewi tinggal
di situ sebagai wakil Senopati Tanujoyo untuk memimpin dan mengawasi pasukan.
Beberapa kali ia menemui Ki Patih Narotama dan membicarakan urusan itu. Akan
tetapi mereka tidak menemukan jalan terbaik untuk mengatasi masalah rumit itu.
"Tidak
ada lain jalan bagiku, Puspa Dewi. Aku harus menepati janjiku kepada Lasmini
karena aku tidak ingin melihat anakku dibunuh. Pula, aku sudah melepas janji
bahwa selama anakku ditahan di Parang Siluman, aku tidak akan menyerangnya.
Tidak mungkin aku melanggar janji dan lebih lagi, tidak mungkin aku membiarkan
anakku dibunuh."
"Ah, saya
ikut merasa prihatin sekali, Gusti Patih."
"Sudahlah,
Puspa Dewi, jangan memikirkan urusanku ini. Biar nanti Gusti Sinuwun saja yang
mengambil keputusan."
Beberapa hari
kemudian seregu pengawal istana datang menunggang kuda, mengiringkan Sang Prabu
Erlangga yang diikuti Senopati Tanujoyo dan para senopati lainnya. Senopati
Tanujoyo yang merasa sakit hati karena di depan para pasukan dia dirobohkan Ki
Patih Narotama, telah melaporkan kepada Sang Prabu Erlangga bahwa Ki Patih
Narotama sengaja melarang pasukan menggempur Parang Siluman untuk membela dan
melindungi bekas selirnya, yaitu Lasmini! Bahkan Ki Patih Narotama telah
memukul roboh dia dan para perwira lainnya, yang hendak mencegah dia
memberontak.
Tentu saja
Sang Prabu Erlangga marah bukan main. Dia maklum bahwa kalau Narotama
memberontak, tidak akan ada yang mampu menandinginya kecuali dia sendiri.
Karena itu, Sang Prabu Erlangga segera berangkat ke tempat berhentinya pasukan
Kahuripan yang dihadang Narotama itu. Setelah tiba di situ dia mendengar bahwa
Narotama berada di balik batu-batu besar yang berada di depan. Sang Prabu
Erlangga yang masih marah segera turun dari kudanya, melompat ke depan lalu
berseru sambil mengerahkan tenaga saktinya sehingga suaranya terdengar
menggelegar.
"Kakang
Narotama....! Andika seorang satria, seorang jantan, mengapa bersembunyi?
Keluarlah dan hadapi aku!!"
Perlahan-lahan
Ki Patih Narotama keluar dari batu besar dan melangkah tenang menghampiri Sang Prabu
Erlangga. Pakaiannya kusut, rambutnya juga awut-awutan, dan mukanya pucat,
matanya redup dan sayu. Setelah berhadapan dengan Sang Prabu Erlangga, dia lalu
menyembah dengan kedua tangan di depan hidungnya.
"Gusti
Sinuwun..." Dia hanya menyapa dengan hormat, suaranya gemetar.
"Kakang
Narotama, Andika berani berkhianat dan memberontak melawan aku demi untuk
membela Lasmini yang telah berkhianat dan berbuat jahat terhadap kita? Untuk
perempuan berwatak iblis itu engkau sampai hati mbalelo (memberontak) terhadap
aku?"
"Ampun,
Gusti Sinuwun. Hamba tidak sekali-kali hendak memberontak terhadap Sinuwun.
Paduka, hamba tetap setia kepada Kahuripan, siap mempertaruhkan nyawa demi
membela Paduka dan Kahuripan."
"Hemm,
kalau engkau tidak mbalelo, mengapa engkau menghalangi pasukan Kahuripan yang
akan menyerang Parang Siluman?"
"Ampun,
Gusti Sinuwun. Hamba hanya menghendaki agar pasukan kita menyerang Wengker
lebih dulu."
Sang Prabu
Erlangga marah. Dia sudah mendapatkan laporan dari Senopati Tanujoyo akan
keinginan Narotama menyerang Wengker lebih dulu. Dia mengira bahwa hal itu
sengaja dilakukan Narotama untuk menghindarkan Parang Siluman dari serangan,
tentu saja karena Narotama masih mencinta Lasmini dan ingin melindunginya.
"Kakang
Narotama, jelas bahwa engkau berani melanggar perintahku! Agaknya engkau
mengandalkan kedigdayaanmu untuk menentangku! Kalau begitu mari, kita sama-sama
laki-laki jantan, kita buktikan siapa yang lebih unggul di antara kita
berdua!" Sang Prabu Erlangga menantang. "Kecuali kalau engkau mau
mengaku salah dan tidak lagi menghalangi pasukan yang hendak menyerang Parang
Siluman!"
"Ampun,
Gusti Sinuwun. Untuk hal lain, hamba akan menaati semua perintah Paduka. Akan
tetapi untuk yang satu ini, yaitu kalau pasukan hendak menyerang Parang Siluman,
terpaksa hamba akan menghalangi."
"Keparat!
Kalau begitu terpaksa aku tega kepadamu!" Sang Prabu Erlangga sudah marah
sekali dan tubuhnya gemetar mengeluarkan hawa sakti yang menggiriskan. Akan
tetapi pada saat itu, Puspa Dewi melompat ke depan dan menjatuhkan diri
berlutut di depan Sang Prabu Erlangga.
"Duh
Gusti Sinuwun, hamba mohon Paduka bersabar dulu dan sudi mendengarkan
keterangan hamba."
Sang Prabu
Erlangga mengerutkan alisnya memandang kepada Puspa Dewi dengan sinar mata
mencorong.
"Engkau
juga, Puspa Dewi? Engkau hendak membela pengkhianat ini yang melindungi Parang
Siluman?”
"Ampun,
Gusti Sinuwun. Sesungguhnya Gusti Patih Narotama sama sekali tidak melindungi
Parang Siluman ataupun Lasmini, akan tetapi beliau hendak melindungi
keselamatan nyawa putera beliau, Joko Pekik Satyabudhi..."
"Puspa
Dewi...!" seru Ki Patih Narotama.
"Biarlah
saya menjelaskannya, Gusti Patih. Semua ini hanya salah paham saja. Gusti
Sinuwun, seperti telah diketahui, Joko Pekik Satyabudhi telah diculik orang.
Gusti Patih Narotama sudah melakukan pencarian ke Parang Siluman dan ternyata
Joko Pekik berada di tangan Lasmini. Lasmini dan para tokoh Parang Siluman
mengancam bahwa kalau Gusti Patih Narotama mengerahkan pasukan menyerang Parang
Siluman, maka putera beliau akan lebih dulu dibunuh! Mereka memaksa Gusti Patih
Narotama berjanji tidak akan membawa pasukan menyerang Parang Siluman dan demi
melindungi keselamatan putera beliau, Gusti Patih Narotama terpaksa berjanji
dan tentu saja menghalangi kalau pasukan Kahuripan hendak menyerang Parang
Siluman sebelum puteranya dapat direbut kembali."
Kemarahan Sang
Prabu Erlangga menguap seperti embun terpanggang sinar matahari pagi. Dia
memandang ke arah Ki Patih Narotama yang berdiri dengan kepala tunduk.
"Kakang
Narotama, benarkah apa yang dikatakan Puspa Dewi itu?"
"Benar,
Gusti Sinuwun." kata Ki Patih Narotama lirih.
"Akan
tetapi, mengapa engkau tidak mengatakan hal itu kepadaku, dan tidak
memberitahukan kepada Kakang Senopati Tanujoyo?".
"Ampun,
Gusti. Hamba merasa malu dan takut untuk menceritakan kelemahan hamba kepada
Paduka."
"Ah,
Kakang Narotama, engkau ini bagaimanakah? Melindungi keselamatan anak bukan
suatu kelemahan. Apa kau kira aku sendiri akan tega mengorbankan nyawa Joko
Pekik Satyabudhi? Kalau aku mengetahui persoalannya, aku pun tentu akan
melarang untuk menyerang Parang Siluman dan menundanya untuk sementara waktu
sampai puteramu itu dapat direbut kembali. Dan sekarang apa usahamu untuk
merebut puteramu itu?"
"Hamba
sudah minta tolong kepada Nurseta untuk berusaha merampas Joko Pekik,
Gusti."
"Bagus
kalau begitu. Sekarang begini saja, Kakang Patih Narotama. Pimpinlah pasukan
dengan bantuan Kakang Senopati Tanujoyo, sedangkan Puspa Dewi kami minta untuk
menyusul Nurseta, menyusup ke Parang Siluman dan membantu dia merampas Joko
Pekik!"
"Hamba
siap melaksanakan perintah Paduka, Gusti." Kata Ki Patih Narotama dengan
wajah berseri.
"Hamba
juga siap melaksanakan perintah Paduka, Gusti Sinuwun!" kata Senopati
Tanujoyo, lalu dia menoleh kepada Ki Patih Narotama dan berkata lirih,
"Gusti
Patih Narotama, saya mohon maaf sebesarnya atas sikap saya yang menuduh Paduka
berkhianat karena saya tidak tahu duduknya perkara."
"Tidak
mengapa, Kakang Senopati Tanujoyo. Salahku sendiri yang tidak bicara terus
terang."
"Bagaimana
dengan engkau, Puspa Dewi? Sanggupkah engkau membantu Nurseta merebut kembali
putera Kakang Patih Narotama?"
"Hamba
siap melaksanakan perintah Paduka, walaupun hamba kira tidak akan mudah bagi
hamba untuk menyusup ke Parang Siluman. Mereka di sana tentu sudah mengenal
hamba sehingga hamba tidak dapat bergerak dengan leluasa."
"Puspa
Dewi, mengapa engkau tidak menyamar saja sebagai seorang pria? Dengan demikian
engkau tidak akan dikenali orang di sana." kata Ki Patih Narotama dan
mendengar usul itu, Puspa Dewi mengangguk sambil tersenyum.
"Gagasan
itu baik sekali, Gusti Patih. Akan saya laksanakan!"
Berangkatlah
pasukan itu, dipimpin Ki Patih Narotama dan Senopati Tanujoyo, menuju Kerajaan
Wengker. Sang Prabu Erlangga dikawal pasukan pengawal kembali ke Kahuripan, dan
Puspa Dewi seorang diri lalu berangkat ke Parang Siluman dengan menyamar
sebagai seorang pemuda ganteng. Sebelum memenuhi permintaan Ki Patih Narotama
untuk menyusup ke Parang Siluman dan berusaha membebaskan putera patih itu dari
tangan Lasmini, Nurseta telah diberitahu oleh Ki Patih Narotama bahwa dia telah
menyebar belasan orang telik-sandi (mata-mata) ke dalam Kerajaan Parang
Siluman.
"Mereka
adalah perwira-perwira menengah, para pembantuku yang setia dan mereka semua
sudah pernah melihatmu. Tentu mereka akan mengenalmu dan dapat membantumu di
sana." demikian Ki Patih Narotama memberitahu kepadanya.
Tidak sukar
bagi Nurseta untuk memasuki daerah Parang Siluman. Para penduduk pedusunan di
daerah itu tidak mengenalnya. Yang sukar, bahkan amat berbahaya baginya adalah
memasuki Kota Raja Parang Siluman.
No comments:
Post a Comment