Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 76


Mana bisa perintah langsung Sang Prabu Erlangga diubah begitu saja oleh Ki Patih Narotama? Saya tidak berani melanggar perintah Gusti Sinuwun, Ni Puspa Dewi."
Puspa Dewi menjadi bingung. Kalau saja tidak ada urusan itu. Kalau saja putera Ki Patih Narotama tidak dijadikan sandera di Parang Siluman. Tentu ia dengan senang hati akan membantu sekuat tenaga kepada Senopati Tanujoyo. Selagi ia kebingungan karena Senopati Tanujoyo sudah menggerakkan kudanya sehingga ia terpaksa mengikutinya, tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu Ki Patih Narotama telah berdiri menghadang di tengah jalan. Wajahnya yang biasanya tenang dan cerah penuh senyum itu kini tampak menyeramkan, matanya mencorong dan alisnya berkerut.
"Berhenti semua! Kakang Senopati Tanujoyo, sudah kukatakan kepadamu. Bawalah pasukanmu ke Wengker dan serang Kadipaten Wengker!"
Senopati Tanujoyo adalah seorang senopati yang setia kepada Sang Prabu Erlangga. Diam-diam dia memang agak marah dan iri kepada Ki Patih Narotama karena dia tidak dipilih untuk membantu dalam gerakan pembersihan pasukan Kahuripan. Kini, melihat Ki Patih Narotama menghalang di jalan, dia lalu melompat turun dari atas punggung kudanya dan menghampiri Patih itu.
"Gusti Patih, apa yang Paduka lakukan ini? Kami melaksanakan perintah Gusti Sinuwun untuk menyerang Parang Siluman, siapa yang berani menghalangi?"
"Aku yang menghalangi! Bawa pasukan ini menyerang Wengker! Kalau Andika lanjutkan menyerang Parang Siluman, aku melarangmu!"
Senopati Tanujoyo menjadi marah. Mukanya berubah kemerahan dan dia melangkah maju menghampiri,
"Hei, Ki Patih Narotama! Andika berani menentang perintah Gusti Sinuwun, berarti Andika hendak memberontak terhadap Sang Prabu Erlangga? Aku tahu, Andika tentu hendak melindungi Lasmini, bekas selir yang kini berada di Parang Siluman!"
"Tutup mulutmu dan pergilah!" bentak KI Patih Narotama.
"Sang Prabu Erlangga telah memberi purbawisesa (wewenang, kekuasaan), siapa yang menentang perintah beliau harus kubinasakan!" Setelah berkata demikian, Senopati Tanujoyo sudah mencabut kerisnya dan menyerang Ki Patih Narotama. Akan tetapi Ki Patih Narotama menyambutnya dengan dorongan tangan dan tubuh senopati itu terpental dan jatuh terjengkang! Dia bangkit lagi dan memberi aba-aba kepada beberapa orang perwira pembantunya.
"Tangkap pengkhianat pemberontak!"
Lima orang perwira maju dengan ragu-ragu untuk menangkap Ki Patih Narotama, akan tetapi dengan beberapa gerakan saja Ki Patih Narotama telah merobohkan mereka dengan tamparan dan tendangannya, tanpa melukai berat apalagi membunuhnya. Senopati Tanujoyo masih ngotot dan hendak menyerang lagi, akan tetapi tiba-tiba Puspa Dewi melompat di depannya.
"Paman Senopati, hentikan semua serangan ini! Andika tidak akan menang melawan Gusti Patih Narotama dan tidak baik berkelahi antara rekan sendiri. Sebaiknya Andika melaporkan hal ini kepada Gusti Sinuwun karena hanya beliau yang berhak untuk memutuskan perkara ini."
Karena jelas bahwa gadis ini tidak akan membantunya mengeroyok Ki Patih Narotama, dan dia harus mengakui bahwa dia dan semua perwira pasti tidak akan mampu mengalahkan Patih itu, dan percuma saja mengerahkan pasukan karena semua prajurit itu pasti tidak akan berani melawan Ki Patih Narotama, maka Senopati Tanujoyo berkata dengan marah.
"Baiklah, akan kulaporkan Andika kepada Gusti Sinuwun, Ki Patih Narotama!"
Setelah berkata demikian, Senopati Tanujoyo menyuruh pasukannya mundur dan untuk sementara berhenti dan membangun perkemahan di situ. Adapun dia sendiri lalu mengajak pasukan pengawal untuk cepat-cepat kembali ke Kota Raja Kahuripan untuk melaporkan larangan Ki Patih Narotama terhadap gerakan pasukannya yang hendak menyerang Parang Siluman itu.

Puspa Dewi tinggal di situ sebagai wakil Senopati Tanujoyo untuk memimpin dan mengawasi pasukan. Beberapa kali ia menemui Ki Patih Narotama dan membicarakan urusan itu. Akan tetapi mereka tidak menemukan jalan terbaik untuk mengatasi masalah rumit itu.
"Tidak ada lain jalan bagiku, Puspa Dewi. Aku harus menepati janjiku kepada Lasmini karena aku tidak ingin melihat anakku dibunuh. Pula, aku sudah melepas janji bahwa selama anakku ditahan di Parang Siluman, aku tidak akan menyerangnya. Tidak mungkin aku melanggar janji dan lebih lagi, tidak mungkin aku membiarkan anakku dibunuh."
"Ah, saya ikut merasa prihatin sekali, Gusti Patih."
"Sudahlah, Puspa Dewi, jangan memikirkan urusanku ini. Biar nanti Gusti Sinuwun saja yang mengambil keputusan."
Beberapa hari kemudian seregu pengawal istana datang menunggang kuda, mengiringkan Sang Prabu Erlangga yang diikuti Senopati Tanujoyo dan para senopati lainnya. Senopati Tanujoyo yang merasa sakit hati karena di depan para pasukan dia dirobohkan Ki Patih Narotama, telah melaporkan kepada Sang Prabu Erlangga bahwa Ki Patih Narotama sengaja melarang pasukan menggempur Parang Siluman untuk membela dan melindungi bekas selirnya, yaitu Lasmini! Bahkan Ki Patih Narotama telah memukul roboh dia dan para perwira lainnya, yang hendak mencegah dia memberontak.
Tentu saja Sang Prabu Erlangga marah bukan main. Dia maklum bahwa kalau Narotama memberontak, tidak akan ada yang mampu menandinginya kecuali dia sendiri. Karena itu, Sang Prabu Erlangga segera berangkat ke tempat berhentinya pasukan Kahuripan yang dihadang Narotama itu. Setelah tiba di situ dia mendengar bahwa Narotama berada di balik batu-batu besar yang berada di depan. Sang Prabu Erlangga yang masih marah segera turun dari kudanya, melompat ke depan lalu berseru sambil mengerahkan tenaga saktinya sehingga suaranya terdengar menggelegar.
"Kakang Narotama....! Andika seorang satria, seorang jantan, mengapa bersembunyi? Keluarlah dan hadapi aku!!"
Perlahan-lahan Ki Patih Narotama keluar dari batu besar dan melangkah tenang menghampiri Sang Prabu Erlangga. Pakaiannya kusut, rambutnya juga awut-awutan, dan mukanya pucat, matanya redup dan sayu. Setelah berhadapan dengan Sang Prabu Erlangga, dia lalu menyembah dengan kedua tangan di depan hidungnya.
"Gusti Sinuwun..." Dia hanya menyapa dengan hormat, suaranya gemetar.
"Kakang Narotama, Andika berani berkhianat dan memberontak melawan aku demi untuk membela Lasmini yang telah berkhianat dan berbuat jahat terhadap kita? Untuk perempuan berwatak iblis itu engkau sampai hati mbalelo (memberontak) terhadap aku?"
"Ampun, Gusti Sinuwun. Hamba tidak sekali-kali hendak memberontak terhadap Sinuwun. Paduka, hamba tetap setia kepada Kahuripan, siap mempertaruhkan nyawa demi membela Paduka dan Kahuripan."
"Hemm, kalau engkau tidak mbalelo, mengapa engkau menghalangi pasukan Kahuripan yang akan menyerang Parang Siluman?"
"Ampun, Gusti Sinuwun. Hamba hanya menghendaki agar pasukan kita menyerang Wengker lebih dulu."

Sang Prabu Erlangga marah. Dia sudah mendapatkan laporan dari Senopati Tanujoyo akan keinginan Narotama menyerang Wengker lebih dulu. Dia mengira bahwa hal itu sengaja dilakukan Narotama untuk menghindarkan Parang Siluman dari serangan, tentu saja karena Narotama masih mencinta Lasmini dan ingin melindunginya.
"Kakang Narotama, jelas bahwa engkau berani melanggar perintahku! Agaknya engkau mengandalkan kedigdayaanmu untuk menentangku! Kalau begitu mari, kita sama-sama laki-laki jantan, kita buktikan siapa yang lebih unggul di antara kita berdua!" Sang Prabu Erlangga menantang. "Kecuali kalau engkau mau mengaku salah dan tidak lagi menghalangi pasukan yang hendak menyerang Parang Siluman!"
"Ampun, Gusti Sinuwun. Untuk hal lain, hamba akan menaati semua perintah Paduka. Akan tetapi untuk yang satu ini, yaitu kalau pasukan hendak menyerang Parang Siluman, terpaksa hamba akan menghalangi."
"Keparat! Kalau begitu terpaksa aku tega kepadamu!" Sang Prabu Erlangga sudah marah sekali dan tubuhnya gemetar mengeluarkan hawa sakti yang menggiriskan. Akan tetapi pada saat itu, Puspa Dewi melompat ke depan dan menjatuhkan diri berlutut di depan Sang Prabu Erlangga.
"Duh Gusti Sinuwun, hamba mohon Paduka bersabar dulu dan sudi mendengarkan keterangan hamba."
Sang Prabu Erlangga mengerutkan alisnya memandang kepada Puspa Dewi dengan sinar mata mencorong.
"Engkau juga, Puspa Dewi? Engkau hendak membela pengkhianat ini yang melindungi Parang Siluman?”
"Ampun, Gusti Sinuwun. Sesungguhnya Gusti Patih Narotama sama sekali tidak melindungi Parang Siluman ataupun Lasmini, akan tetapi beliau hendak melindungi keselamatan nyawa putera beliau, Joko Pekik Satyabudhi..."
"Puspa Dewi...!" seru Ki Patih Narotama.
"Biarlah saya menjelaskannya, Gusti Patih. Semua ini hanya salah paham saja. Gusti Sinuwun, seperti telah diketahui, Joko Pekik Satyabudhi telah diculik orang. Gusti Patih Narotama sudah melakukan pencarian ke Parang Siluman dan ternyata Joko Pekik berada di tangan Lasmini. Lasmini dan para tokoh Parang Siluman mengancam bahwa kalau Gusti Patih Narotama mengerahkan pasukan menyerang Parang Siluman, maka putera beliau akan lebih dulu dibunuh! Mereka memaksa Gusti Patih Narotama berjanji tidak akan membawa pasukan menyerang Parang Siluman dan demi melindungi keselamatan putera beliau, Gusti Patih Narotama terpaksa berjanji dan tentu saja menghalangi kalau pasukan Kahuripan hendak menyerang Parang Siluman sebelum puteranya dapat direbut kembali."
Kemarahan Sang Prabu Erlangga menguap seperti embun terpanggang sinar matahari pagi. Dia memandang ke arah Ki Patih Narotama yang berdiri dengan kepala tunduk.
"Kakang Narotama, benarkah apa yang dikatakan Puspa Dewi itu?"
"Benar, Gusti Sinuwun." kata Ki Patih Narotama lirih.
"Akan tetapi, mengapa engkau tidak mengatakan hal itu kepadaku, dan tidak memberitahukan kepada Kakang Senopati Tanujoyo?".
"Ampun, Gusti. Hamba merasa malu dan takut untuk menceritakan kelemahan hamba kepada Paduka."
"Ah, Kakang Narotama, engkau ini bagaimanakah? Melindungi keselamatan anak bukan suatu kelemahan. Apa kau kira aku sendiri akan tega mengorbankan nyawa Joko Pekik Satyabudhi? Kalau aku mengetahui persoalannya, aku pun tentu akan melarang untuk menyerang Parang Siluman dan menundanya untuk sementara waktu sampai puteramu itu dapat direbut kembali. Dan sekarang apa usahamu untuk merebut puteramu itu?"
"Hamba sudah minta tolong kepada Nurseta untuk berusaha merampas Joko Pekik, Gusti."
"Bagus kalau begitu. Sekarang begini saja, Kakang Patih Narotama. Pimpinlah pasukan dengan bantuan Kakang Senopati Tanujoyo, sedangkan Puspa Dewi kami minta untuk menyusul Nurseta, menyusup ke Parang Siluman dan membantu dia merampas Joko Pekik!"
"Hamba siap melaksanakan perintah Paduka, Gusti." Kata Ki Patih Narotama dengan wajah berseri.
"Hamba juga siap melaksanakan perintah Paduka, Gusti Sinuwun!" kata Senopati Tanujoyo, lalu dia menoleh kepada Ki Patih Narotama dan berkata lirih,
"Gusti Patih Narotama, saya mohon maaf sebesarnya atas sikap saya yang menuduh Paduka berkhianat karena saya tidak tahu duduknya perkara."
"Tidak mengapa, Kakang Senopati Tanujoyo. Salahku sendiri yang tidak bicara terus terang."
"Bagaimana dengan engkau, Puspa Dewi? Sanggupkah engkau membantu Nurseta merebut kembali putera Kakang Patih Narotama?"
"Hamba siap melaksanakan perintah Paduka, walaupun hamba kira tidak akan mudah bagi hamba untuk menyusup ke Parang Siluman. Mereka di sana tentu sudah mengenal hamba sehingga hamba tidak dapat bergerak dengan leluasa."
"Puspa Dewi, mengapa engkau tidak menyamar saja sebagai seorang pria? Dengan demikian engkau tidak akan dikenali orang di sana." kata Ki Patih Narotama dan mendengar usul itu, Puspa Dewi mengangguk sambil tersenyum.
"Gagasan itu baik sekali, Gusti Patih. Akan saya laksanakan!"

Berangkatlah pasukan itu, dipimpin Ki Patih Narotama dan Senopati Tanujoyo, menuju Kerajaan Wengker. Sang Prabu Erlangga dikawal pasukan pengawal kembali ke Kahuripan, dan Puspa Dewi seorang diri lalu berangkat ke Parang Siluman dengan menyamar sebagai seorang pemuda ganteng. Sebelum memenuhi permintaan Ki Patih Narotama untuk menyusup ke Parang Siluman dan berusaha membebaskan putera patih itu dari tangan Lasmini, Nurseta telah diberitahu oleh Ki Patih Narotama bahwa dia telah menyebar belasan orang telik-sandi (mata-mata) ke dalam Kerajaan Parang Siluman.
"Mereka adalah perwira-perwira menengah, para pembantuku yang setia dan mereka semua sudah pernah melihatmu. Tentu mereka akan mengenalmu dan dapat membantumu di sana." demikian Ki Patih Narotama memberitahu kepadanya.
Tidak sukar bagi Nurseta untuk memasuki daerah Parang Siluman. Para penduduk pedusunan di daerah itu tidak mengenalnya. Yang sukar, bahkan amat berbahaya baginya adalah memasuki Kota Raja Parang Siluman.

<<< Bagian 75                                                                                          Bagian 77 >>>

No comments:

Post a Comment