Selain penjagaannya ketat, terdapat banyak orang sakti di sana dan mereka semua telah mengenal wajahnya.
Pada suatu
senja, Nurseta memasuki sebuah dusun yang sudah tak jauh letaknya dari Kota
Raja Parang Siluman. Dusun itu cukup ramai karena sawah ladang di sekitar dusun
itu subur sehingga dusun Werdoyo ini menjadi pemasok sayur-sayuran dan hasil
bumi yang cukup besar bagi kota raja. Untuk memperkecil bahaya kemungkinan
dikenal orang. Nurseta menjauhi tempat yang ramai dan menyusup di pinggir
dusun. Dia bermaksud melewatkan malam di dusun itu. Tubuhnya lelah dan perutnya
lapar, akan tetapi dia tidak berani sembrono (gegabah) mencari makan di warung
nasi karena tempat seperti itu tentu dikunjungi banyak orang. Ketika dia
melihat sebuah rumah sederhana berdiri terpencil di tepi dusun, agak jauh dari
tetangga karena rumah itu memiliki kebun dan di sekelilingnya penuh dengan
tanaman sayur, dia lalu memasuki pekarangan yang luas dan menghampiri rumah
yang sederhana itu.
Seorang
laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun, bertubuh kokoh kuat dan
berkulit kecoklatan hitam karena setiap hari terbakar sinar matahari,
pakaiannya jelas menunjukkan bahwa dia seorang petani, keluar dari pintu depan
menyambutnya.
"Kisanak,
apakah Andika hendak membeli sayuran? Akan tetapi, mana keranjang dan
pikulanmu?"
"Maaf,
Paman. Aku tidak ingin membeli sayur, akan tetapi ingin mohon diperbolehkan
beristirahat dan melewatkan malam di rumah Paman. Biar aku beristirahat di
bangku itu pun cukuplah." Nurseta menunjuk ke arah bangku panjang yang
terdapat di emper rumah. Dia sengaja bicara dengan bahasa sederhana seperti
biasa dipergunakan penduduk dusun.
Orang itu
mengerutkan alisnya dan menatap wajah Nurseta penuh perhatian.
"Andika
siapakah, dari mana dan hendak kemana?"
"Namaku
Baroto, Paman, datang dari Kidul Gunung. Aku hendak mencari Pamanku bernama
Martoyo yang sebulan lalu katanya hendak pergi ke sini akan tetapi sampai
sekarang belum pulang. Bibiku menyuruh aku mencarinya. Barangkali Paman
mengenalnya?"
Orang itu
menggelengkan kepalanya, memandang Nurseta penuh perhatian, lalu dia tersenyum
ramah sekali.
"Aku
tidak mengenalnya, akan tetapi tentu saja Andika boleh melewatkan malam ini di
sini. Bukan di bangku luar, mari masuk. Aku masih mempunyai sebuah kamar kosong
di bagian belakang rumahku. Mari, Baroto, masuk saja dan jangan sungkan. Namaku
Juhari, duda yang hidup bersama dua orang keponakanku di sini."
Nurseta merasa
girang dan ketika dia memasuki rumah yang telah diterangi lampu gantung dia
melihat bahwa di ruangan yang cukup luas itu terdapat banyak tumpukan jagung,
ada pula keranjang-keranjang berisi wortel dan buncis. Agaknya semua itu hasil
perkebunan yang cukup luas di sekitar rumah sederhana namun ternyata cukup
besar itu. Juhari ternyata seorang yang ramah. Dia menyuruh dua orang
keponakannya, dua orang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun lebih yang tadi
sibuk mengisi keranjang kosong dengan buncis yang masih ditumpuk di atas
lantai, agar menyediakan makan malam.
Nurseta lalu
diajak makan bersama tiga orang itu. Makanan sederhana dengan sayur dan sambal,
namun cukup nikmat bagi Nurseta yang memang sedang lapar. Nurseta lega karena
tuan rumah yang baik itu tidak banyak bertanya. Maka untuk memulihkan tenaganya
yang banyak terkuras melakukan perjalanan jauh naik turun gunung, dia pamit
untuk mengaso lalu memasuki kamar kecil sederhana yang diberikan kepadanya
untuk mengaso malam itu. Kamar itu kecil saja, dengan sebuah dipan kayu tua
tanpa perabot lain lagi. Ada sebuah jendela kayu dan Nurseta menutupkan daun
pintu, lalu merebahkan diri di atas dipan.
Baru saja dia
layap-layap mendekati pulas, telinganya mendengar suara orang bicara ramai
diselingi tawa di luar kamarnya. Nurseta membuka matanya, masih rebah akan
tetapi kini dia mendengarkan percakapan itu.
"He,
Kartowi, mengapa malam-malam begini engkau datang? Biasanya besok pagi-pagi
sekali engkau kulakan (beli untuk dijual lagi) ke sini!"
"Heh-heh-eh,
sekali ini aku tidak mau didahului mereka. Kakang Juhari! Sekarang aku hendak
mendahului mereka, maka malam-malam aku datang, kulakan dan dapat memilih sayur
lebih dulu sehingga mendapatkan yang terbaik, kemudian besok pagi-pagi sekali
sebelum mereka datang ke sini mengambil sayur, aku sudah lebih dulu memasuki
kota raja menjual daganganku, ha-ha-ha!"
"Ha-ha,
engkau cerdik, Kartowi! Tentu engkau akan dapat menjual dengan harga tinggi
karena sainganmu belum ada. Dan dua keranjangmu ini... wah, besar amat, dua
kali lebih besar dari yang biasa!"
"He-he-heh,
Kakang Juhari, setelah berhasil mendahului para penjual sayur lainnya, tentu
saja aku harus membawa sebanyak mungkin dagangan agar sekali pikul dapat untung
lumayan Betul tidak?"
Dua orang itu
lalu tertawa-tawa lagi.
"Akan
tetapi Kakang Juhari, engkau tentu tidak tega membiarkan aku malam-malam begini
memikul dagangan yang begini berat, bukan? Kalau boleh, aku akan tidur di sini,
biar tidur di lantai beralaskan jerami juga tidak mengapa agar besok pagi-pagi
benar, sebelum mereka datang kulakan ke sini, aku sudah bisa berangkat."
"Wah,
masa sama langganan yang sudah lama aku tega begitu? Tentu saja boleh.
Kebetulan sekali, Kartowi. Sebetulnya kamar di belakang itu ditempati seorang
tamu, akan tetapi baiknya malam ini dua orang keponakanku ada keperluan keluar
rumah sehingga malam ini engkau boleh tidur di kamar mereka."
Nurseta tidak
mendengarkan lagi karena sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya,
apalagi setelah pedagang sayur itu mendapatkan kamar untuk bermalam. Lewat
tengah malam, tiba-tiba Nurseta terbangun oleh suara yang tidak wajar yang
datang dari arah pintu kamar.
Penerangan
lampu yang redup masih membuat dia dapat melihat sehelai kertas putih melayang
masuk ke kamar itu. Agaknya kertas itu dimasukkan dengan cara menyisipkan di
antara celah-celah daun pintu. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, Nurseta
turun dari pembaringan. Naluri kependekarannya menyadarkannya bahwa tentu
terjadi sesuatu yang amat penting, yang membuat dia waspada. Dia mengambil
kertas itu dan membawanya ke dekat lampu. Ternyata ada tulisannya, singkat saja
namun cukup jelas. JUHARI ADALAH PENYELIDIK PARANG SILUMAN. ANDIKA SUDAH
DIKETAHUI. CEPAT PERGI KE BARAT DUSUN, TUNGGU AKU DI TEPI ANAK SUNGAI.
Nurseta
terkejut. Dia percaya akan isi surat itu. Kalau pengirim surat berniat buruk,
untuk apa dia mengirim surat gelap ini? Entah siapa yang mengirim surat ini,
akan tetapi yang penting, dia harus cepat pergi meninggalkan rumah ini dan
pergi menuju tepi anak sungai seperti yang ditunjuk oleh surat itu. Dia akan
hadapi apa pun yang akan terjadi. Dengan cepat Nurseta keluar dari kamarnya
melalui jendela. Menutupkan daun jendela kembali dari luar lalu berjalan dalam
kegelapan yang remang-remang karena mendapatkan sedikit sinar dari bintang-bintang
di langit, menuju ke arah barat setelah keluar dari dusun. Tak lama kemudian
dia memasuki sebuah hutan kecil dan akhirnya tibalah dia di tepi sebuah anak
sungai yang mengalir deras. Dia berhenti lalu duduk di atas sebuah batu di tepi
sungai, menanti dengan sikap waspada yang akan terjadi selanjutnya. Sementara
itu, tidak lama setelah Nurseta pergi, menjelang fajar, belasan orang prajurit
yang dipimpin sendiri oleh Ki Nagakumala, Senopati Parang Siluman, kakak Sang
Ratu Durgamala yang gagah dan tampan, guru Lasmini dan Mandari, berkuda dan
memasuki pekarangan rumah Ki Juhari, diikuti pula oleh dua orang muda keponakan
Ki Juhari yang semalam meninggalkan rumah itu. Kiranya dua orang muda itu oleh
Ki Juhari disuruh pergi melapor ke kota raja tentang kedatangan Nurseta di
dusun Werdoyo. Ternyata Ki Juhari adalah seorang mata-mata Parang Siluman yang
disebar untuk menjaga keamanan dan menyelidiki kalau-kalau ada musuh menyusup
ke daerah Parang Siluman. Biarpun dia sendiri belum pernah melihat Nurseta,
namun dia telah mendapat gambaran oleh atasannya tentang orang-orang yang perlu
diperhatikan, termasuk Nurseta. Maka, begitu dia bertemu Nurseta, dia sudah
menaruh curiga dan cepat menyuruh dua orang keponakannya untuk melapor malam
Itu juga ke Kota Raja Parang Siluman. Mendengar laporan bahwa mungkin sekali
yang bernama Nurseta muncul di dusun Werdoyo, Ki Nagakumala sendiri lalu
memimpin pasukan pengawal pilihan dan malam itu juga pergi ke dusun itu
membalapkan kuda mereka. Menjelang fajar mereka tiba di pekarangan rumah itu.
Ki Kartowi,
pedagang sayur yang bermalam di rumah Juhari itu sedang mempersiapkan dua buah
keranjang besar yang berisi sayur-sayuran dan sudah hendak dipikulnya ketika
dia mendengar derap kaki kuda di pekarangan rumah itu. Dia menunda pekerjaannya
dan memutar tubuh memandang kepada Ki Juhari yang juga keluar dari kamarnya.
"Kakang
Juhari. siapa yang datang itu?"
Akan tetapi
Juhari tidak menjawab. Dia bergegas ke depan dan membuka daun pintu. Ki
Nagakumala diikuti belasan orang prajurit memasuki rumah. Melihat Kartowi, dia
memandang tajam dengan sinar mata penuh selidik dan bertanya kepada Juhari
dengan suara keren.
"Juhari,
siapakah orang ini?"
Ki Juhari
menyembah dengan sikap hormat!
"Gusti,
ini adalah Kartowi, seorang pedagang sayur yang menjadi langganan hamba."
Mendengar
Juhari menyebut "gusti" kepada pendatang yang gagah dan berpakaian
mewah itu, Kartowi menjadi takut dan dia pun membungkuk-bungkuk.
"Hamba...
hamba... pedagang sayur Gusti..." katanya dengar suara gemetaran.
"Mana dia,
Juhari?"
"Di kamar
belakang, Gusti."
Ki Nagakumala
segera masuk ke bagian belakang diikuti belasan orang prajurit pengawalnya,
disertai Juhari dan dua orang keponakan yang sesungguhnya adalah rekan-rekan
atau anak buahnya. Daun pintu kamar yang semalam ditempati Nurseta didorong
terbuka, akan tetapi tentu saja mereka hanya menemukan sebuah kamar kosong! Ki Juhari berseru kaget, lari
memasuki kamar dan membuka daun jendela.
"Ah,
keparat! Dia telah melarikan diri!"
"Bodoh
kamu! Bagaimana dapat melarikan diri? Mengapa tidak kaujaga semalam?" Ki
Nagakumala membentak.
"Tapi...
tapi.... dia sama sekali tidak tampak curiga dan sudah masuk kamar ini untuk
tidur, Gusti..." kata Juhari bingung dan takut.
"Hayo
kita cari!" Dengan marah Ki Nagakumala keluar dari kamar. Setibanya di
ruangan depan, dia berseru, "He, di mana pedagang sayur tadi?"
Ki Juhari
cepat mejawab.
"Dia
tentu sudah pergi untuk menjual sayurnya ke kota, Gusti."
"Tolol
kau! Orang itu harus diperiksa. Mungkin dia mempunyai hubungan dengan
Nurseta!"
"Hamba
kira tidak, Gusti. Ki Kartowi itu langganan hamba, dia benar-benar pedagang
sayur..."
"Diam
kau, bodoh! Cari dia dan tangkap!"
Mereka semua
lalu keluar dari rumah untuk mencari dua orang itu. Pemuda yang mengaku bernama
Baroto akan tetapi yang diduga adalah Nurseta orangnya, dan Ki Kartowi pedagang
sayur yang dicurigai Ki Nagakumala sebagai orang yang ada hubungan dengan
Nurseta. Akan tetapi mereka tidak mencari ke arah barat karena siapa yang
mengira orang-orang yang dicari itu akan memasuki hutan yang sunyi itu? Mereka
menduga bahwa tentu dua orang yang dicurigai itu akan menuju ke Kota Raja
Parang Siluman. Karena itu Ki Nagakumala kembali ke kota raja untuk memperketat
penjagaan di sana agar tidak memungkinkan orang yang bernama Baroto dan diduga
Nurseta adanya itu dapat menyelundup ke kota raja. Sementara itu, Nurseta duduk
di tepi anak sungai sampai datang fajar. Tiba-tiba dia melihat seorang
laki-laki memikul dua buah keranjang berisi sayur-sayuran. Setelah orang itu
tiba dekat, dia melihat bahwa orang itu seorang laki-laki bertubuh sedang,
berusia sekitar empat puluh tahun dan begitu tiba di depannya, langsung
menurunkan pikulannya dan menyeka keringat.
"Denmas
Nurseta..."
Nurseta
terkejut.
"Andika
mengenal saya, Paman?"
"He-he-he,
jangan sebut saya Paman, Denmas!" Orang itu tertawa lalu menggosok-gosok
muka dan rambutnya dengan sehelai kain. Nurseta terbelalak ketika melihat
betapa orang yang tadinya tampak setengah tua, berusia sekitar empat puluh
tahun itu kini berubah menjadi seorang pemuda yang sebaya dengan dia!
"Hemm,
siapakah Andika, Kisanak?"
"Saya
bernama Witarto, Denmas..."
“Jangan sebut
aku Denmas!"
"Ah,
tentu saja Andika harus disebut Denmas karena Andika adalah cucu mendiang Gusti
Senopati Slndukerta, Denmas Nurseta. Juga saya tahu bahwa Andika telah membuat
banyak jasa terhadap Kerajaan Kahuripan, kepercayaan Gusti Sinuwun dan Gusti
Patih!"
"Hemm,
agaknya Andika mengenal betul keadaanku, Witarto. Sebenarnya siapakah Andika
dan tentu Andika yang semalam mengirim surat peringatan kepadaku itu,
bukan?"
"Benar,
Denmas. Dahulu saya menjadi perwira muda membantu mendiang Gusti Senopati
Sindukerta dan tugas saya adalah menjadi telik sandi (mata-mata).
No comments:
Post a Comment