Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 77


Selain penjagaannya ketat, terdapat banyak orang sakti di sana dan mereka semua telah mengenal wajahnya.

Pada suatu senja, Nurseta memasuki sebuah dusun yang sudah tak jauh letaknya dari Kota Raja Parang Siluman. Dusun itu cukup ramai karena sawah ladang di sekitar dusun itu subur sehingga dusun Werdoyo ini menjadi pemasok sayur-sayuran dan hasil bumi yang cukup besar bagi kota raja. Untuk memperkecil bahaya kemungkinan dikenal orang. Nurseta menjauhi tempat yang ramai dan menyusup di pinggir dusun. Dia bermaksud melewatkan malam di dusun itu. Tubuhnya lelah dan perutnya lapar, akan tetapi dia tidak berani sembrono (gegabah) mencari makan di warung nasi karena tempat seperti itu tentu dikunjungi banyak orang. Ketika dia melihat sebuah rumah sederhana berdiri terpencil di tepi dusun, agak jauh dari tetangga karena rumah itu memiliki kebun dan di sekelilingnya penuh dengan tanaman sayur, dia lalu memasuki pekarangan yang luas dan menghampiri rumah yang sederhana itu.
Seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun, bertubuh kokoh kuat dan berkulit kecoklatan hitam karena setiap hari terbakar sinar matahari, pakaiannya jelas menunjukkan bahwa dia seorang petani, keluar dari pintu depan menyambutnya.
"Kisanak, apakah Andika hendak membeli sayuran? Akan tetapi, mana keranjang dan pikulanmu?"
"Maaf, Paman. Aku tidak ingin membeli sayur, akan tetapi ingin mohon diperbolehkan beristirahat dan melewatkan malam di rumah Paman. Biar aku beristirahat di bangku itu pun cukuplah." Nurseta menunjuk ke arah bangku panjang yang terdapat di emper rumah. Dia sengaja bicara dengan bahasa sederhana seperti biasa dipergunakan penduduk dusun.
Orang itu mengerutkan alisnya dan menatap wajah Nurseta penuh perhatian.
"Andika siapakah, dari mana dan hendak kemana?"
"Namaku Baroto, Paman, datang dari Kidul Gunung. Aku hendak mencari Pamanku bernama Martoyo yang sebulan lalu katanya hendak pergi ke sini akan tetapi sampai sekarang belum pulang. Bibiku menyuruh aku mencarinya. Barangkali Paman mengenalnya?"
Orang itu menggelengkan kepalanya, memandang Nurseta penuh perhatian, lalu dia tersenyum ramah sekali.
"Aku tidak mengenalnya, akan tetapi tentu saja Andika boleh melewatkan malam ini di sini. Bukan di bangku luar, mari masuk. Aku masih mempunyai sebuah kamar kosong di bagian belakang rumahku. Mari, Baroto, masuk saja dan jangan sungkan. Namaku Juhari, duda yang hidup bersama dua orang keponakanku di sini."
Nurseta merasa girang dan ketika dia memasuki rumah yang telah diterangi lampu gantung dia melihat bahwa di ruangan yang cukup luas itu terdapat banyak tumpukan jagung, ada pula keranjang-keranjang berisi wortel dan buncis. Agaknya semua itu hasil perkebunan yang cukup luas di sekitar rumah sederhana namun ternyata cukup besar itu. Juhari ternyata seorang yang ramah. Dia menyuruh dua orang keponakannya, dua orang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun lebih yang tadi sibuk mengisi keranjang kosong dengan buncis yang masih ditumpuk di atas lantai, agar menyediakan makan malam.
Nurseta lalu diajak makan bersama tiga orang itu. Makanan sederhana dengan sayur dan sambal, namun cukup nikmat bagi Nurseta yang memang sedang lapar. Nurseta lega karena tuan rumah yang baik itu tidak banyak bertanya. Maka untuk memulihkan tenaganya yang banyak terkuras melakukan perjalanan jauh naik turun gunung, dia pamit untuk mengaso lalu memasuki kamar kecil sederhana yang diberikan kepadanya untuk mengaso malam itu. Kamar itu kecil saja, dengan sebuah dipan kayu tua tanpa perabot lain lagi. Ada sebuah jendela kayu dan Nurseta menutupkan daun pintu, lalu merebahkan diri di atas dipan.

Baru saja dia layap-layap mendekati pulas, telinganya mendengar suara orang bicara ramai diselingi tawa di luar kamarnya. Nurseta membuka matanya, masih rebah akan tetapi kini dia mendengarkan percakapan itu.
"He, Kartowi, mengapa malam-malam begini engkau datang? Biasanya besok pagi-pagi sekali engkau kulakan (beli untuk dijual lagi) ke sini!"
"Heh-heh-eh, sekali ini aku tidak mau didahului mereka. Kakang Juhari! Sekarang aku hendak mendahului mereka, maka malam-malam aku datang, kulakan dan dapat memilih sayur lebih dulu sehingga mendapatkan yang terbaik, kemudian besok pagi-pagi sekali sebelum mereka datang ke sini mengambil sayur, aku sudah lebih dulu memasuki kota raja menjual daganganku, ha-ha-ha!"
"Ha-ha, engkau cerdik, Kartowi! Tentu engkau akan dapat menjual dengan harga tinggi karena sainganmu belum ada. Dan dua keranjangmu ini... wah, besar amat, dua kali lebih besar dari yang biasa!"
"He-he-heh, Kakang Juhari, setelah berhasil mendahului para penjual sayur lainnya, tentu saja aku harus membawa sebanyak mungkin dagangan agar sekali pikul dapat untung lumayan Betul tidak?"
Dua orang itu lalu tertawa-tawa lagi.
"Akan tetapi Kakang Juhari, engkau tentu tidak tega membiarkan aku malam-malam begini memikul dagangan yang begini berat, bukan? Kalau boleh, aku akan tidur di sini, biar tidur di lantai beralaskan jerami juga tidak mengapa agar besok pagi-pagi benar, sebelum mereka datang kulakan ke sini, aku sudah bisa berangkat."
"Wah, masa sama langganan yang sudah lama aku tega begitu? Tentu saja boleh. Kebetulan sekali, Kartowi. Sebetulnya kamar di belakang itu ditempati seorang tamu, akan tetapi baiknya malam ini dua orang keponakanku ada keperluan keluar rumah sehingga malam ini engkau boleh tidur di kamar mereka."
Nurseta tidak mendengarkan lagi karena sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya, apalagi setelah pedagang sayur itu mendapatkan kamar untuk bermalam. Lewat tengah malam, tiba-tiba Nurseta terbangun oleh suara yang tidak wajar yang datang dari arah pintu kamar.
Penerangan lampu yang redup masih membuat dia dapat melihat sehelai kertas putih melayang masuk ke kamar itu. Agaknya kertas itu dimasukkan dengan cara menyisipkan di antara celah-celah daun pintu. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, Nurseta turun dari pembaringan. Naluri kependekarannya menyadarkannya bahwa tentu terjadi sesuatu yang amat penting, yang membuat dia waspada. Dia mengambil kertas itu dan membawanya ke dekat lampu. Ternyata ada tulisannya, singkat saja namun cukup jelas. JUHARI ADALAH PENYELIDIK PARANG SILUMAN. ANDIKA SUDAH DIKETAHUI. CEPAT PERGI KE BARAT DUSUN, TUNGGU AKU DI TEPI ANAK SUNGAI.

Nurseta terkejut. Dia percaya akan isi surat itu. Kalau pengirim surat berniat buruk, untuk apa dia mengirim surat gelap ini? Entah siapa yang mengirim surat ini, akan tetapi yang penting, dia harus cepat pergi meninggalkan rumah ini dan pergi menuju tepi anak sungai seperti yang ditunjuk oleh surat itu. Dia akan hadapi apa pun yang akan terjadi. Dengan cepat Nurseta keluar dari kamarnya melalui jendela. Menutupkan daun jendela kembali dari luar lalu berjalan dalam kegelapan yang remang-remang karena mendapatkan sedikit sinar dari bintang-bintang di langit, menuju ke arah barat setelah keluar dari dusun. Tak lama kemudian dia memasuki sebuah hutan kecil dan akhirnya tibalah dia di tepi sebuah anak sungai yang mengalir deras. Dia berhenti lalu duduk di atas sebuah batu di tepi sungai, menanti dengan sikap waspada yang akan terjadi selanjutnya. Sementara itu, tidak lama setelah Nurseta pergi, menjelang fajar, belasan orang prajurit yang dipimpin sendiri oleh Ki Nagakumala, Senopati Parang Siluman, kakak Sang Ratu Durgamala yang gagah dan tampan, guru Lasmini dan Mandari, berkuda dan memasuki pekarangan rumah Ki Juhari, diikuti pula oleh dua orang muda keponakan Ki Juhari yang semalam meninggalkan rumah itu. Kiranya dua orang muda itu oleh Ki Juhari disuruh pergi melapor ke kota raja tentang kedatangan Nurseta di dusun Werdoyo. Ternyata Ki Juhari adalah seorang mata-mata Parang Siluman yang disebar untuk menjaga keamanan dan menyelidiki kalau-kalau ada musuh menyusup ke daerah Parang Siluman. Biarpun dia sendiri belum pernah melihat Nurseta, namun dia telah mendapat gambaran oleh atasannya tentang orang-orang yang perlu diperhatikan, termasuk Nurseta. Maka, begitu dia bertemu Nurseta, dia sudah menaruh curiga dan cepat menyuruh dua orang keponakannya untuk melapor malam Itu juga ke Kota Raja Parang Siluman. Mendengar laporan bahwa mungkin sekali yang bernama Nurseta muncul di dusun Werdoyo, Ki Nagakumala sendiri lalu memimpin pasukan pengawal pilihan dan malam itu juga pergi ke dusun itu membalapkan kuda mereka. Menjelang fajar mereka tiba di pekarangan rumah itu.
Ki Kartowi, pedagang sayur yang bermalam di rumah Juhari itu sedang mempersiapkan dua buah keranjang besar yang berisi sayur-sayuran dan sudah hendak dipikulnya ketika dia mendengar derap kaki kuda di pekarangan rumah itu. Dia menunda pekerjaannya dan memutar tubuh memandang kepada Ki Juhari yang juga keluar dari kamarnya.
"Kakang Juhari. siapa yang datang itu?"
Akan tetapi Juhari tidak menjawab. Dia bergegas ke depan dan membuka daun pintu. Ki Nagakumala diikuti belasan orang prajurit memasuki rumah. Melihat Kartowi, dia memandang tajam dengan sinar mata penuh selidik dan bertanya kepada Juhari dengan suara keren.
"Juhari, siapakah orang ini?"
Ki Juhari menyembah dengan sikap hormat!
"Gusti, ini adalah Kartowi, seorang pedagang sayur yang menjadi langganan hamba."
Mendengar Juhari menyebut "gusti" kepada pendatang yang gagah dan berpakaian mewah itu, Kartowi menjadi takut dan dia pun membungkuk-bungkuk.
"Hamba... hamba... pedagang sayur Gusti..." katanya dengar suara gemetaran.
"Mana dia, Juhari?"
"Di kamar belakang, Gusti."
Ki Nagakumala segera masuk ke bagian belakang diikuti belasan orang prajurit pengawalnya, disertai Juhari dan dua orang keponakan yang sesungguhnya adalah rekan-rekan atau anak buahnya. Daun pintu kamar yang semalam ditempati Nurseta didorong terbuka, akan tetapi tentu saja mereka hanya menemukan sebuah kamar  kosong! Ki Juhari berseru kaget, lari memasuki kamar dan membuka daun jendela.
"Ah, keparat! Dia telah melarikan diri!"
"Bodoh kamu! Bagaimana dapat melarikan diri? Mengapa tidak kaujaga semalam?" Ki Nagakumala membentak.
"Tapi... tapi.... dia sama sekali tidak tampak curiga dan sudah masuk kamar ini untuk tidur, Gusti..." kata Juhari bingung dan takut.
"Hayo kita cari!" Dengan marah Ki Nagakumala keluar dari kamar. Setibanya di ruangan depan, dia berseru, "He, di mana pedagang sayur tadi?"
Ki Juhari cepat mejawab.
"Dia tentu sudah pergi untuk menjual sayurnya ke kota, Gusti."
"Tolol kau! Orang itu harus diperiksa. Mungkin dia mempunyai hubungan dengan Nurseta!"
"Hamba kira tidak, Gusti. Ki Kartowi itu langganan hamba, dia benar-benar pedagang sayur..."
"Diam kau, bodoh! Cari dia dan tangkap!"

Mereka semua lalu keluar dari rumah untuk mencari dua orang itu. Pemuda yang mengaku bernama Baroto akan tetapi yang diduga adalah Nurseta orangnya, dan Ki Kartowi pedagang sayur yang dicurigai Ki Nagakumala sebagai orang yang ada hubungan dengan Nurseta. Akan tetapi mereka tidak mencari ke arah barat karena siapa yang mengira orang-orang yang dicari itu akan memasuki hutan yang sunyi itu? Mereka menduga bahwa tentu dua orang yang dicurigai itu akan menuju ke Kota Raja Parang Siluman. Karena itu Ki Nagakumala kembali ke kota raja untuk memperketat penjagaan di sana agar tidak memungkinkan orang yang bernama Baroto dan diduga Nurseta adanya itu dapat menyelundup ke kota raja. Sementara itu, Nurseta duduk di tepi anak sungai sampai datang fajar. Tiba-tiba dia melihat seorang laki-laki memikul dua buah keranjang berisi sayur-sayuran. Setelah orang itu tiba dekat, dia melihat bahwa orang itu seorang laki-laki bertubuh sedang, berusia sekitar empat puluh tahun dan begitu tiba di depannya, langsung menurunkan pikulannya dan menyeka keringat.
"Denmas Nurseta..."
Nurseta terkejut.
"Andika mengenal saya, Paman?"
"He-he-he, jangan sebut saya Paman, Denmas!" Orang itu tertawa lalu menggosok-gosok muka dan rambutnya dengan sehelai kain. Nurseta terbelalak ketika melihat betapa orang yang tadinya tampak setengah tua, berusia sekitar empat puluh tahun itu kini berubah menjadi seorang pemuda yang sebaya dengan dia!
"Hemm, siapakah Andika, Kisanak?"
"Saya bernama Witarto, Denmas..."
“Jangan sebut aku Denmas!"
"Ah, tentu saja Andika harus disebut Denmas karena Andika adalah cucu mendiang Gusti Senopati Slndukerta, Denmas Nurseta. Juga saya tahu bahwa Andika telah membuat banyak jasa terhadap Kerajaan Kahuripan, kepercayaan Gusti Sinuwun dan Gusti Patih!"
"Hemm, agaknya Andika mengenal betul keadaanku, Witarto. Sebenarnya siapakah Andika dan tentu Andika yang semalam mengirim surat peringatan kepadaku itu, bukan?"
"Benar, Denmas. Dahulu saya menjadi perwira muda membantu mendiang Gusti Senopati Sindukerta dan tugas saya adalah menjadi telik sandi (mata-mata).

<<< Bagian 76                                                                                          Bagian 78 >>>

No comments:

Post a Comment