Sekarang saya ditugaskan oleh Gusti Patih Narotama untuk memata-matai Parang Siluman. Saya sudah menduga bahwa Gusti Patih Narotama pasti tidak mendiamkan saja puteranya dijadikan sandera di sini. Ternyata sekarang Andika yang agaknya diutus untuk berusaha merampas Denmas Joko Pekik, bukan?"
"Benar
sekali dugaanmu. Witarto. Tahukah Andika di mana anak itu disimpan?"
"Saya
bersama sebelas orang rekan saya sudah beberapa bulan bertugas di kota raja dan
kami telah mengetahui bahwa Denmas Joko Pekik disembunyikan dalam sebuah gua
yang dijaga ketat sekali. Bahkan kami tidak tahu dengan pasti apakah benar anak
itu dikeram di situ, atau itu hanya palsu dan pancingan belaka. Mungkin saja
putera Gusti Patih itu masih berada di istana. Kami dua belas orang tidak ada
yang memiliki kemampuan untuk melakukan penyelidikan di istana, Denmas.
Kebetulan Andika datang dan kiranya hanya Andika yang akan mampu menyusup ke
dalam istana."
"Aku akan
masuk kota raja, akan tetapi nanti malam karena rasanya tidak mungkin memasuki
kota raja pada siang hari. Semua orang akan mengenalku."
”Jangan
memasuki kota raja dalam keadaan biasa begitu, Denmas. Hal itu berbahaya sekali
dan akan menggagalkan usaha Andika. Tadi pun, biar Andika sudah berganti nama,
tetap saja Juhari mengenal Andika. Hampir saja kita celaka karena baru saja
Andika pergi, pasukan Parang Siluman muncul dipimpin sendiri oleh Ki Nagakumala
yang sakti dan cerdik. Kalau saya tidak cepat-cepat pergi, tentu saya akan
ditangkap karena dicurigai. Denmas harus menyamar, dan untuk itu, sayalah
ahlinya, Denmas. Saya biasa menyamar sebagai Kartowi yang setengah tua, dan
rekan-rekan saya semua menyamar, sehingga kami tidak dikenal. Mari, saya akan
mendandani Andika dan percayalah, tak seorang pun akan mengenal Andika sebagai
Denmas Nurseta kalau sudah saya dandani."
Nurseta setuju
dan di tepi anak sungai itu, Witarto yang ahli menyamar itu lalu mengeluarkan
sekantung alat-alatnya mendandani Nurseta. Tak lama kemudian Nurseta sudah
berubah menjadi seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun dengan
rambut berwarna dua dan mukanya dihias keriput! Setelah selesai dan dia melihat
bayangannya sendiri di air, Nurseta merasa kagum bukan main. Dia sendiri pun
tidak mengenal wajah tua itu! Witarto menerangkan banyak hal kepadanya. Keadaan
di kota raja dan terutama di istana. Juga bagaimana dapat menghubungi dia dan
rekan-rekannya. Nurseta dianjurkan menggunakan nama Ki Kambana, sebuah nama
yang umum dan tidak mencolok, berasal dari sebuah dusun kecil di pesisir Kidul.
Setelah itu, Witarto membagi sayur-sayuran menjadi dua pikul dan dia sudah
menyiapkan pikulan dan keranjang sayuran di tepi anak sungai.
"Nah,
sekarang Andika dan saya menjadi dua orang pedagang sayuran, berjualan ke kota
raja. Takkan ada orang yang mencurigai kita."
"Akan
tetapi engkau sendiri? Mengapa engkau tidak menyamar lagi?"
"Wah,
penyamaran saya sebagai Ki Kartowi sudah dikenal orang, bahkan sudah dicurigai
oleh para telik sandi Parang Siluman, Denmas. Malah dengan keadaanku yang asli
seperti ini, tidak akan ada yang mengenalku. Kalau nanti ada orang bertemu
dengan kita selagi berdua, saya akan mengaku sebagai keponakan Denmas dan mulai
sekarang agar terbiasa, saya akan menyebutmu Pakde, dan Andika menyebut saya
Tarto."
"Baiklah,
Tarto." kata Nurseta dan orang lain tidak akan mengenal suaranya itu
karena dia sudah dilatih oleh Witarto untuk bicara seperti seorang tua, agak
serak, agak gemetar, dan tenang perlahan. Keduanya lalu memikul pikulan
keranjang sayur mereka dan berangkat menuju Kota Raja Parang Siluman.
Tepat seperti
yang telah diperhitungkan Witarto, telik sandi Kahuripan yang biarpun masih
muda namun amat cerdik itu, mereka berdua dapat lolos melewati gapura Parang
Siluman yang terjaga ketat. Para prajurit penjaga memang memeriksa semua orang
yang lewat melalui pintu gapura. Akan tetapi yang mereka cari adalah Nurseta,
seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tiga tahun yang berwajah tampan dan Ki
Kartowi, seorang laki-laki setengah tua berusia sekitar empat puluh tahun. Akan
tetapi Witarto pada saat lewat di situ merupakan pemuda berusia sekitar dua
puluh dua tahun yang matanya juling mulutnya agak perot dan pundaknya tinggi
sebelah! Sedangkan Ki Kambana adalah seorang kakek berusia sekitar lima puluh
tahun yang rambutnya penuh uban dan kakinya timpang (pincang)! Tentu saja
keduanya jauh berbeda dari gambaran dua orang yang mereka cari dan dengan mudah
mereka berdua lolos masuk ke dalam Kota Raja Parang Siluman. Jangankan para
petugas jaga, pra perajurit yang tidak mengenal wajah asli Nurseta. Bahkan para
tokohnya yang sudah mengenal betul wajah itu pun tidak akan menduga bahwa kakek
berambut ubanan dan kakinya pincang itu adalah Nurseta! Setelah memasuki kota
raja, sesuai dengan rencana yang sudah diatur sebelumnya, Nurseta berpisah dari
Witarto. Dia hendak menyelidiki ke dalam istana untuk memastikan apakah Joko
Pekik Satyabudhi dikeram dalam istana ataukah tidak. Adapun Witarto bersama
sebelas orang rekannya akan melakukan penyelidikan ke guha yang mereka duga
menjadi tempat untuk menyembunyikan putera Ki Patih Narotama itu.
Biarpun dia
sudah menyamar menjadi Ki Kambana dan tidak akan ada yang dapat menduganya
bahwa dia sebetulnya Nurseta, namun Nurseta tentu saja tidak mau bersikap
sembrono. Dia tahu bahwa tidaklah mudah untuk dapat menyusup ke dalam istana
yang selain terjaga ketat oleh banyak prajurit pengawal, juga di dalamnya
terdapat orang-orang sakti mandraguna. Di antara mereka yang sungguh merupakan
lawan-lawan yang berat dan berbahaya adalah Durgamala sendiri yang kini menjadi
Ratu Parang Siluman menggantikan mendiang ayahnya Raja Dirgabaskara. Lalu kakak
kandung Ratu Durgamala yang bernama Ki Nagakumala dengan tingkat kepandaian
yang bahkan lebih tinggi daripada tingkat Ratu Durgamala. Kemudian ada dua
orang puteri Sang Ratu. atau yang menjadi murid Ki Nagakumala, yaitu Lasmini
dan Mandari, dua orang puteri yang cantik jelita masih muda karena usia Lasmini
baru dua puluh empat tahun dan Mandari dua puluh dua tahun. Selain memiliki
wajah yang luar biasa cantik jelita, kedua orang puteri ini juga memiliki
bentuk tubuh yang indah menggairahkan. Selain cantik jelita dan menggairahkan,
mereka berdua memiliki kesaktian yang bahkan melampaui kesaktian ibu mereka dan
sudah hampir menandingi kesaktian guru mereka karena keduanya pernah mendapat
bimbingan Sang Prabu Erlangga yang mengambil Mandari sebagai selir, dan Ki
Patih Narotama yang menjadikan Lasmini sebagai selir terkasihnya. Empat orang
sakti mandraguna tinggal di istana itu dan mereka sama sekali tidak boleh
dipandang ringan, baik oleh Nurseta sekalipun! Di samping mereka berempat,
dalam istana itu terdapat pasukan pengawal istimewa, terdiri dari lima lusin
prajurit pilihan!
Akan tetapi
Nurseta harus mengambil keputusan untuk nekat menyusup ke dalam istana yang
megah dan penuh bahaya itu karena kalau dia tidak berani nekat, bagaimana dia
dapat memastikan apakah putera Ki Patih Narotama berada di istana ataukah
tidak? Dia menunggu sampai datangnya malam gelap tanpa bulan. Setelah malam
gelap tiba, Nurseta mempergunakan kesaktiannya untuk menyelinap ke dalam istana
Parang Siluman. Dengan Aji Sirna Sarira dan menggunakan kecepatan Aji Bayu
Sakti, dia berhasil melewati para penjaga di luar istana. Tubuhnya berkelebat
seperti bayangan sehingga dia dapat masuk tanpa terlihat oleh para penjaga yang
banyak dan yang melakukan penjagaan ketat. Malam itu gelap sekali. Dengan
gerakan yang amat ringan dan gesit, seperti seekor monyet, Nurseta berlompatan
ke atas wuwungan bangunan istana, mengintai dari atas dan memeriksa keadaan.
Malam itu istana sudah sepi. Agaknya para penghuninya sudah tertidur karena
waktu sudah tengah malam. Yang tampak hanya para prajurit pengawal yang
mengadakan perondaan. Nurseta tidak mau menangkap prajurit pengawal, untuk
memaksanya mengaku di mana adanya Joko Pekik Satyabudhi. Dia maklum bahwa
mereka yang diangkat menjadi prajurit pengawal istana pastilah orang yang
memiliki kesetiaan tebal dan menaati atasannya sampai mati. Orang-orang seperti
para prajurit pengawal istana itu tidak mungkin dapat dibujuk atau diancam. Dan
kalau dia sudah menangkap seorang lalu gagal mengancamnya, hal itu bahkan
merugikannya, dan mungkin akan menggagalkan penyelidikannya. Maka dia menanti
dengan sabar, mencari kesempatan untuk turun ke bawah tanpa diketahui dan
melanjutkan penyelidikannya di bawah, yaitu di sebelah dalam istana. Memang
berbahaya baginya, akan tetapi kiranya tidak ada jalan lain.
Tiba-tiba mata
Nurseta bersinar. Dia melihat seorang wanita setengah tua, dari pakaiannya
dapat diduga bahwa wanita itu tentu seorang pelayan istana. Wanita ini lewat
dengan perlahan, membawa sebuah baki berisi sebuah poci minuman dan cangkir.
Nah, inilah kesempatan terbaik, piker Nurseta. Lebih mudah memaksa wanita
pelayan ini membuka mulut dan memberitahu kepadanya di mana adanya anak yang
diculik itu daripada memaksa seorang perajurit pengawal! Ketika wanita itu
melewati sebuah lorong di mana tidak ada prajurit pengawal yang menjaga,
tiba-tiba ia disergap oleh kedua tangan Nurseta yang kuat. Sekali tekan pada
tengkuknya, wanita pelayan itu terkulai lemas, tidak mampu bersuara maupun
meronta lagi. Nurseta cepat mengambil baki agar jangan jatuh menimbulkan suara.
Dia memanggul tubuh wanita itu dan membawanya melompat lagi ke atas wuwungan
yang gelap. Setelah, menaruh baki dengan poci dan cangkir ke sudut wuwungan,
dia menurunkan tubuh pelayan wanita itu, mendudukkan di atas wuwungan dan
berkata lirih dekat telinganya.
"Jangan
berteriak dan aku tidak akan mengganggumu. Kalau engkau berteriak, akan
kulemparkan ke bawah sana!"
Wanita itu
menggigil kengerian dan tidak berani menjerit ketika Nurseta mengurut
tengkuknya sehingga ia mampu besuara dan bergerak lagi.
"Ampunkan
hamba..." rintihnya lirih ketakutan.
"Katakan
terus terang, di mana adanya putera Ki Patih Narotama yang diculik? Di mana dia
dikeram? Hayo jawab sejujurnya kalau engkau ingin seIamat" hardik Nurseta
sambil memegang kedua lengan wanita itu seolah-olah siap hendak melemparkan ke
bawah!
"Ampun...
anak itu... anak itu berada di sana..." Wanita itu menudingkan telunjuknya
yang menggigil ke bawah.
"Di mana?
Yang jelas!"
"Melalui
lorong itu ke depan, lalu ada tikungan ke kanan dan dia berada di dalam sebuah
kamar yang pintunya bercat hijau terbuat dari besi dan berterali. Anak itu
tampak dari luar, akan tetapi dijaga ketat..."
"Engkau
tidak bohong? Awas, kalau engkau bohong, aku akan kembali ke sini dan
melemparmu ke bawah!"
"Hamba
tidak berani berbohong..." Wanita itu meratap.
Nurseta
percaya bahwa wanita itu pasti tidak akan berani membohonginya, maka dia lalu
menepuk lagi tengkuknya sehingga wanita itu terkulai, tidak dapat mengeluarkan
suara dan tidak dapat bergerak lagi. Nurseta meninggalkannya di atas wuwungan,
lalu dia melayang turun di bagian yang gelap. Kemudian dengan kecepatan Aji
Bayu Sakti, Nurseta berkelebat mengikuti lorong seperti yang dikatakan pelayan
tadi. Dia tiba di lorong yang berbelok. Dia menuju ke kanan dan benar saja,
dari jauh dia melihat lima orang prajurit pengawal duduk di atas bangku panjang
di depan sebuah kamar yang pintunya terbuat dari besi bercat hijau dan di
bagian atasnya ada teralinya! Dengan jalan memutar dia dapat melihat kamar itu
dari depan, agak jauh. Dalam kamar yang tampak dari terali daun pintu tampak
remang-remang karena hanya ada sebuah lampu kecil dalam kamar itu. Akan tetapi
dia dapat melihat dengan jelas sebuah pembaringan kecil dan seorang anak kecil
tidur di atas pembaringan itu, berselimut merah. Hatinya lega melihat ini. Joko
Pekik Satyabudhi, putera Ki Patih Narotama, ternyata masih hidup
dan dalam
keadaan selamat dan melihat dia tertidur, tentu dia sehat-sehat saja. Nurseta
lalu membuat perhitungan masak sebelum bertindak lebih lanjut. Dia harus
melumpuhkan lima orang prajurit yang berjaga di depan kamar tahanan itu. Dan
hal ini harus dia lakukan dengan cepat dan tidak menimbulkan suara gaduh,
karena kalau sampai terdengar oleh para tokoh sakti di istana dan mereka keburu
datang, usahanya tentu akan gagal. Dia harus sudah dapat membawa anak itu sebelum
para lawan tangguh muncul! Nurseta lalu mengerahkan Aji Sirna Sarira sekuatnya
dan tubuhnya lalu berkelebat ke depan kamar tahanan. Lima orang prajurit itu
hanya melihat bayangan berkelabat. Mereka terkejut dan bangkit berdiri, akan
tetapi tiba-tiba mereka roboh satu demi satu daiam keadaan pingsan tanpa sempat
berteriak! Nurseta cepat mencari dan mengambil kunci dari saku baju seorang
dari mereka, dan membuka gembok (induk kunci) besar pada pintu besi itu. Dengan
mudah dibukanya gembok itu, dibukanya pintu besi dan dia cepat masuk ke dalam
kamar tahanan itu. Dia menghampiri pembaringan .dan.... matanya terbelalak
kaget ketika dia melihat bahwa yang tidur di atas pembaringan tertutup selimut
merah itu hanya sebuah boneka!
"Ha-ha-ha-ha...!”
"He-he-heh...!”
"Hi-hi-hi-hik...!”
Nurseta
menoleh dan membalikkan tubuhnya ke pintu mendengar suara tawa beberapa orang
itu. Dia melihat betapa daun pintu besi itu ditutup dari luar dan digembok
kembali. Dari terali pintu besi dia melihat mereka berempat berdiri di luar
pintu sambil tertawa-tawa.
No comments:
Post a Comment