Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 78


Sekarang saya ditugaskan oleh Gusti Patih Narotama untuk memata-matai Parang Siluman. Saya sudah menduga bahwa Gusti Patih Narotama pasti tidak mendiamkan saja puteranya dijadikan sandera di sini. Ternyata sekarang Andika yang agaknya diutus untuk berusaha merampas Denmas Joko Pekik, bukan?"
"Benar sekali dugaanmu. Witarto. Tahukah Andika di mana anak itu disimpan?"
"Saya bersama sebelas orang rekan saya sudah beberapa bulan bertugas di kota raja dan kami telah mengetahui bahwa Denmas Joko Pekik disembunyikan dalam sebuah gua yang dijaga ketat sekali. Bahkan kami tidak tahu dengan pasti apakah benar anak itu dikeram di situ, atau itu hanya palsu dan pancingan belaka. Mungkin saja putera Gusti Patih itu masih berada di istana. Kami dua belas orang tidak ada yang memiliki kemampuan untuk melakukan penyelidikan di istana, Denmas. Kebetulan Andika datang dan kiranya hanya Andika yang akan mampu menyusup ke dalam istana."
"Aku akan masuk kota raja, akan tetapi nanti malam karena rasanya tidak mungkin memasuki kota raja pada siang hari. Semua orang akan mengenalku."
”Jangan memasuki kota raja dalam keadaan biasa begitu, Denmas. Hal itu berbahaya sekali dan akan menggagalkan usaha Andika. Tadi pun, biar Andika sudah berganti nama, tetap saja Juhari mengenal Andika. Hampir saja kita celaka karena baru saja Andika pergi, pasukan Parang Siluman muncul dipimpin sendiri oleh Ki Nagakumala yang sakti dan cerdik. Kalau saya tidak cepat-cepat pergi, tentu saya akan ditangkap karena dicurigai. Denmas harus menyamar, dan untuk itu, sayalah ahlinya, Denmas. Saya biasa menyamar sebagai Kartowi yang setengah tua, dan rekan-rekan saya semua menyamar, sehingga kami tidak dikenal. Mari, saya akan mendandani Andika dan percayalah, tak seorang pun akan mengenal Andika sebagai Denmas Nurseta kalau sudah saya dandani."

Nurseta setuju dan di tepi anak sungai itu, Witarto yang ahli menyamar itu lalu mengeluarkan sekantung alat-alatnya mendandani Nurseta. Tak lama kemudian Nurseta sudah berubah menjadi seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun dengan rambut berwarna dua dan mukanya dihias keriput! Setelah selesai dan dia melihat bayangannya sendiri di air, Nurseta merasa kagum bukan main. Dia sendiri pun tidak mengenal wajah tua itu! Witarto menerangkan banyak hal kepadanya. Keadaan di kota raja dan terutama di istana. Juga bagaimana dapat menghubungi dia dan rekan-rekannya. Nurseta dianjurkan menggunakan nama Ki Kambana, sebuah nama yang umum dan tidak mencolok, berasal dari sebuah dusun kecil di pesisir Kidul. Setelah itu, Witarto membagi sayur-sayuran menjadi dua pikul dan dia sudah menyiapkan pikulan dan keranjang sayuran di tepi anak sungai.
"Nah, sekarang Andika dan saya menjadi dua orang pedagang sayuran, berjualan ke kota raja. Takkan ada orang yang mencurigai kita."
"Akan tetapi engkau sendiri? Mengapa engkau tidak menyamar lagi?"
"Wah, penyamaran saya sebagai Ki Kartowi sudah dikenal orang, bahkan sudah dicurigai oleh para telik sandi Parang Siluman, Denmas. Malah dengan keadaanku yang asli seperti ini, tidak akan ada yang mengenalku. Kalau nanti ada orang bertemu dengan kita selagi berdua, saya akan mengaku sebagai keponakan Denmas dan mulai sekarang agar terbiasa, saya akan menyebutmu Pakde, dan Andika menyebut saya Tarto."
"Baiklah, Tarto." kata Nurseta dan orang lain tidak akan mengenal suaranya itu karena dia sudah dilatih oleh Witarto untuk bicara seperti seorang tua, agak serak, agak gemetar, dan tenang perlahan. Keduanya lalu memikul pikulan keranjang sayur mereka dan berangkat menuju Kota Raja Parang Siluman.
Tepat seperti yang telah diperhitungkan Witarto, telik sandi Kahuripan yang biarpun masih muda namun amat cerdik itu, mereka berdua dapat lolos melewati gapura Parang Siluman yang terjaga ketat. Para prajurit penjaga memang memeriksa semua orang yang lewat melalui pintu gapura. Akan tetapi yang mereka cari adalah Nurseta, seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tiga tahun yang berwajah tampan dan Ki Kartowi, seorang laki-laki setengah tua berusia sekitar empat puluh tahun. Akan tetapi Witarto pada saat lewat di situ merupakan pemuda berusia sekitar dua puluh dua tahun yang matanya juling mulutnya agak perot dan pundaknya tinggi sebelah! Sedangkan Ki Kambana adalah seorang kakek berusia sekitar lima puluh tahun yang rambutnya penuh uban dan kakinya timpang (pincang)! Tentu saja keduanya jauh berbeda dari gambaran dua orang yang mereka cari dan dengan mudah mereka berdua lolos masuk ke dalam Kota Raja Parang Siluman. Jangankan para petugas jaga, pra perajurit yang tidak mengenal wajah asli Nurseta. Bahkan para tokohnya yang sudah mengenal betul wajah itu pun tidak akan menduga bahwa kakek berambut ubanan dan kakinya pincang itu adalah Nurseta! Setelah memasuki kota raja, sesuai dengan rencana yang sudah diatur sebelumnya, Nurseta berpisah dari Witarto. Dia hendak menyelidiki ke dalam istana untuk memastikan apakah Joko Pekik Satyabudhi dikeram dalam istana ataukah tidak. Adapun Witarto bersama sebelas orang rekannya akan melakukan penyelidikan ke guha yang mereka duga menjadi tempat untuk menyembunyikan putera Ki Patih Narotama itu.

Biarpun dia sudah menyamar menjadi Ki Kambana dan tidak akan ada yang dapat menduganya bahwa dia sebetulnya Nurseta, namun Nurseta tentu saja tidak mau bersikap sembrono. Dia tahu bahwa tidaklah mudah untuk dapat menyusup ke dalam istana yang selain terjaga ketat oleh banyak prajurit pengawal, juga di dalamnya terdapat orang-orang sakti mandraguna. Di antara mereka yang sungguh merupakan lawan-lawan yang berat dan berbahaya adalah Durgamala sendiri yang kini menjadi Ratu Parang Siluman menggantikan mendiang ayahnya Raja Dirgabaskara. Lalu kakak kandung Ratu Durgamala yang bernama Ki Nagakumala dengan tingkat kepandaian yang bahkan lebih tinggi daripada tingkat Ratu Durgamala. Kemudian ada dua orang puteri Sang Ratu. atau yang menjadi murid Ki Nagakumala, yaitu Lasmini dan Mandari, dua orang puteri yang cantik jelita masih muda karena usia Lasmini baru dua puluh empat tahun dan Mandari dua puluh dua tahun. Selain memiliki wajah yang luar biasa cantik jelita, kedua orang puteri ini juga memiliki bentuk tubuh yang indah menggairahkan. Selain cantik jelita dan menggairahkan, mereka berdua memiliki kesaktian yang bahkan melampaui kesaktian ibu mereka dan sudah hampir menandingi kesaktian guru mereka karena keduanya pernah mendapat bimbingan Sang Prabu Erlangga yang mengambil Mandari sebagai selir, dan Ki Patih Narotama yang menjadikan Lasmini sebagai selir terkasihnya. Empat orang sakti mandraguna tinggal di istana itu dan mereka sama sekali tidak boleh dipandang ringan, baik oleh Nurseta sekalipun! Di samping mereka berempat, dalam istana itu terdapat pasukan pengawal istimewa, terdiri dari lima lusin prajurit pilihan!
Akan tetapi Nurseta harus mengambil keputusan untuk nekat menyusup ke dalam istana yang megah dan penuh bahaya itu karena kalau dia tidak berani nekat, bagaimana dia dapat memastikan apakah putera Ki Patih Narotama berada di istana ataukah tidak? Dia menunggu sampai datangnya malam gelap tanpa bulan. Setelah malam gelap tiba, Nurseta mempergunakan kesaktiannya untuk menyelinap ke dalam istana Parang Siluman. Dengan Aji Sirna Sarira dan menggunakan kecepatan Aji Bayu Sakti, dia berhasil melewati para penjaga di luar istana. Tubuhnya berkelebat seperti bayangan sehingga dia dapat masuk tanpa terlihat oleh para penjaga yang banyak dan yang melakukan penjagaan ketat. Malam itu gelap sekali. Dengan gerakan yang amat ringan dan gesit, seperti seekor monyet, Nurseta berlompatan ke atas wuwungan bangunan istana, mengintai dari atas dan memeriksa keadaan. Malam itu istana sudah sepi. Agaknya para penghuninya sudah tertidur karena waktu sudah tengah malam. Yang tampak hanya para prajurit pengawal yang mengadakan perondaan. Nurseta tidak mau menangkap prajurit pengawal, untuk memaksanya mengaku di mana adanya Joko Pekik Satyabudhi. Dia maklum bahwa mereka yang diangkat menjadi prajurit pengawal istana pastilah orang yang memiliki kesetiaan tebal dan menaati atasannya sampai mati. Orang-orang seperti para prajurit pengawal istana itu tidak mungkin dapat dibujuk atau diancam. Dan kalau dia sudah menangkap seorang lalu gagal mengancamnya, hal itu bahkan merugikannya, dan mungkin akan menggagalkan penyelidikannya. Maka dia menanti dengan sabar, mencari kesempatan untuk turun ke bawah tanpa diketahui dan melanjutkan penyelidikannya di bawah, yaitu di sebelah dalam istana. Memang berbahaya baginya, akan tetapi kiranya tidak ada jalan lain.
Tiba-tiba mata Nurseta bersinar. Dia melihat seorang wanita setengah tua, dari pakaiannya dapat diduga bahwa wanita itu tentu seorang pelayan istana. Wanita ini lewat dengan perlahan, membawa sebuah baki berisi sebuah poci minuman dan cangkir. Nah, inilah kesempatan terbaik, piker Nurseta. Lebih mudah memaksa wanita pelayan ini membuka mulut dan memberitahu kepadanya di mana adanya anak yang diculik itu daripada memaksa seorang perajurit pengawal! Ketika wanita itu melewati sebuah lorong di mana tidak ada prajurit pengawal yang menjaga, tiba-tiba ia disergap oleh kedua tangan Nurseta yang kuat. Sekali tekan pada tengkuknya, wanita pelayan itu terkulai lemas, tidak mampu bersuara maupun meronta lagi. Nurseta cepat mengambil baki agar jangan jatuh menimbulkan suara. Dia memanggul tubuh wanita itu dan membawanya melompat lagi ke atas wuwungan yang gelap. Setelah, menaruh baki dengan poci dan cangkir ke sudut wuwungan, dia menurunkan tubuh pelayan wanita itu, mendudukkan di atas wuwungan dan berkata lirih dekat telinganya.
"Jangan berteriak dan aku tidak akan mengganggumu. Kalau engkau berteriak, akan kulemparkan ke bawah sana!"
Wanita itu menggigil kengerian dan tidak berani menjerit ketika Nurseta mengurut tengkuknya sehingga ia mampu besuara dan bergerak lagi.
"Ampunkan hamba..." rintihnya lirih ketakutan.
"Katakan terus terang, di mana adanya putera Ki Patih Narotama yang diculik? Di mana dia dikeram? Hayo jawab sejujurnya kalau engkau ingin seIamat" hardik Nurseta sambil memegang kedua lengan wanita itu seolah-olah siap hendak melemparkan ke bawah!
"Ampun... anak itu... anak itu berada di sana..." Wanita itu menudingkan telunjuknya yang menggigil ke bawah.
"Di mana? Yang jelas!"
"Melalui lorong itu ke depan, lalu ada tikungan ke kanan dan dia berada di dalam sebuah kamar yang pintunya bercat hijau terbuat dari besi dan berterali. Anak itu tampak dari luar, akan tetapi dijaga ketat..."
"Engkau tidak bohong? Awas, kalau engkau bohong, aku akan kembali ke sini dan melemparmu ke bawah!"
"Hamba tidak berani berbohong..." Wanita itu meratap.

Nurseta percaya bahwa wanita itu pasti tidak akan berani membohonginya, maka dia lalu menepuk lagi tengkuknya sehingga wanita itu terkulai, tidak dapat mengeluarkan suara dan tidak dapat bergerak lagi. Nurseta meninggalkannya di atas wuwungan, lalu dia melayang turun di bagian yang gelap. Kemudian dengan kecepatan Aji Bayu Sakti, Nurseta berkelebat mengikuti lorong seperti yang dikatakan pelayan tadi. Dia tiba di lorong yang berbelok. Dia menuju ke kanan dan benar saja, dari jauh dia melihat lima orang prajurit pengawal duduk di atas bangku panjang di depan sebuah kamar yang pintunya terbuat dari besi bercat hijau dan di bagian atasnya ada teralinya! Dengan jalan memutar dia dapat melihat kamar itu dari depan, agak jauh. Dalam kamar yang tampak dari terali daun pintu tampak remang-remang karena hanya ada sebuah lampu kecil dalam kamar itu. Akan tetapi dia dapat melihat dengan jelas sebuah pembaringan kecil dan seorang anak kecil tidur di atas pembaringan itu, berselimut merah. Hatinya lega melihat ini. Joko Pekik Satyabudhi, putera Ki Patih Narotama, ternyata masih hidup
dan dalam keadaan selamat dan melihat dia tertidur, tentu dia sehat-sehat saja. Nurseta lalu membuat perhitungan masak sebelum bertindak lebih lanjut. Dia harus melumpuhkan lima orang prajurit yang berjaga di depan kamar tahanan itu. Dan hal ini harus dia lakukan dengan cepat dan tidak menimbulkan suara gaduh, karena kalau sampai terdengar oleh para tokoh sakti di istana dan mereka keburu datang, usahanya tentu akan gagal. Dia harus sudah dapat membawa anak itu sebelum para lawan tangguh muncul! Nurseta lalu mengerahkan Aji Sirna Sarira sekuatnya dan tubuhnya lalu berkelebat ke depan kamar tahanan. Lima orang prajurit itu hanya melihat bayangan berkelabat. Mereka terkejut dan bangkit berdiri, akan tetapi tiba-tiba mereka roboh satu demi satu daiam keadaan pingsan tanpa sempat berteriak! Nurseta cepat mencari dan mengambil kunci dari saku baju seorang dari mereka, dan membuka gembok (induk kunci) besar pada pintu besi itu. Dengan mudah dibukanya gembok itu, dibukanya pintu besi dan dia cepat masuk ke dalam kamar tahanan itu. Dia menghampiri pembaringan .dan.... matanya terbelalak kaget ketika dia melihat bahwa yang tidur di atas pembaringan tertutup selimut merah itu hanya sebuah boneka!
"Ha-ha-ha-ha...!”
"He-he-heh...!”
"Hi-hi-hi-hik...!”
Nurseta menoleh dan membalikkan tubuhnya ke pintu mendengar suara tawa beberapa orang itu. Dia melihat betapa daun pintu besi itu ditutup dari luar dan digembok kembali. Dari terali pintu besi dia melihat mereka berempat berdiri di luar pintu sambil tertawa-tawa.

<<< Bagian 77                                                                                          Bagian 79 >>>

No comments:

Post a Comment