Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 79


Ratu Durgamala, Ki Nagakumala, Lasmini dan Mandari! Seketika mengertilah dia kini. Semua itu ternyata merupakan pancingan dan jebakan saja! Wanita pelayan tadi pun tentu dipergunakan sebagai pancingan dan mereka berhasil memancing dan menjebaknya! Di belakang empat orang tokoh Parang Siluman yang tertawa-tawa itu berdiri seregu pasukan pengawal, lengkap dengan senjata tombak, pedang, dan busur!
"He-he-he-heh! Nurseta, sejak engkau melewati gapura istana, kami sudah mengamati dan mengikuti semua gerak-gerikmu! He-he-heh!" Ratu Durgamala berkata sambil tersenyum mengejek. Ratu wanita yang sudah janda dan berusia empat puluh tahun lebih itu. masih tampak cantik jelita, berdiri di samping kedua puterinya itu ia tampak seperti kakak mereka saja.
Nurseta menjadi lemas! Kiranya mereka bukan saja berhasil menjebaknya, bahkan penyamarannya pun tidak dapat mengelabuhi mereka. Mereka sudah mengenalnya! Dia merasa penasaran sekali, namun dapat bersikap tenang ketika dia bertanya.
"Hemm, harus kuakui bahwa Andika sekalian memang cerdik sekali. Akan tetapi bagaimana Andika dapat mengetahui siapa diriku?"
Ki Nagakumala yang menjawab.
"Hmmm, apa sukarnya? Permainan anak kecil! Biarpun penyamaranmu memang bagus sekali dan mula-mula kami tidak mengenalmu, akan tetapi ketika engkau bergerak, kami mengenal Aji Bayu Sakti dan Aji Sirna Sarira, bahkan kami dapat mengetahui bahwa engkau adalah utusan Ki Patih Narotama karena kami melihat Tongkat Pusaka Kyai Tunggul Manik yang berada di pinggangmu itu, Nurseta!"
Nurseta merasa kagum. Mereka itu cerdik dan licik, juga sakti mandraguna. Dia merasa seperti harimau dalam kurungan dan dapat menduga bahwa ruangan tahanan itu pasti kokoh kuat sekali. Pintu besi itu tampak kokoh dan dia menduga bahwa dinding tembok itu pun tentu dilapis besi. Kiranya tidak mungkin menjebol kamar tahanan itu. Mereka memang sudah mempersiapkan segalanya!
"Sudahlah, Kakang Nagakumala, untuk apa berpanjang cerita dengan orang ini? Dia terlalu berbahaya, sebaiknya dibinasakan sekarang juga!" kata Ratu Durgamala tak sabar karena ratu ini sudah maklum akan kesaktian Nurseta yang akan membahayakan kerajaannya.
"Engkau benar, Yayi Ratu." kata Ki Nagakumala lalu dia memberi perintah kepada dua lusin prajurit pengawalnya.
"Kalian kepung tempat ini dan pasang anak panah beracun. Kerocok (hujani) dia dengan anak panah beracun!"
Dua lusin perajurit itu maju dan bersiap di depan pintu besi yang lebar itu. Mereka mengambil posisi, ada yang berjongkok, ada yang berlutut dan ada yang berdiri menodongkan anak panah, merupakan tiga lapis, bawah, tengah, dan atas. Mereka sudah memasang anak panah yang ujungnya berwarna hijau kehitaman tanda racun yang amat kuat, pada busur mereka, siap untuk menarik tali busur dan melepas anak panah.
"Tahan...!!" Tiba-tiba Lasmini berseru.
"Jangan bunuh dia sekarang!"
"Lasmini! Mengapa engkau melarang?" tanya Ratu Durgamala heran. Juga Ki Nagakumala memandang Lasmini dengan alis berkerut. Seperti juga adiknya, dia berpendapat bahwa Nurseta merupakan ancaman bahaya besar bagi Parang Siluman, maka lebih cepat dibunuh lebih baik.
"Kanjeng Ibu, Mbakayu Lasmini benar! Orang ini jangan dibunuh begitu saja. Terlalu enak dia kalau dibunuh begitu saja!"
"Hemm, lalu seharusnya bagaimana?" tanya Ratu Durgamala.
"Begini, Kanjeng Ibu." kata Lasmini sambil tersenyum simpul,
"Lumpuhkan dia dengan asap pembius. Nanti aku dan Mandari yang akan menangani dan membereskan dia!"

Ratu Durgamala tentu saja maklum dan dapat membaca senyum simpul yang berkembang di bibir manis Lasmini dan Mandari. Kedua orang puterinya itu bukan hanya mewarisi kecantikannya, akan tetapi juga kelemahannya terhadap gairah nafsunya sendiri yang membuat wataknya menjadi mata keranjang. Ia pun tersenyum maklum dan segera memerintahkan kepada para prajurit.
"Lumpuhkan dia dengan asap pembius!"
Dua lusin perajurit itu mengganti busur anak panah mereka dengan alat penyemprot dari bumbung bambu. Nurseta tak dapat menemukan jalan untuk menghindar dari serangan. Dia tidak berdaya dan maklum bahwa menggunakan kekerasan takkan menolongnya. Dia tidak takut mati, bahkan dia lalu menghapus penyamarannya karena kalau dia sampai mati, dia ingin mati sebagai Nurseta, sebagai dirinya yang aseli, bukan dalam penyamaran. Menyamar pun sekarang tidak ada gunanya lagi karena rahasianya sudah ketahuan. Segera setelah dua lusin perajurit itu menyemprotkan asap pembius yang berbau harum menyengat, dia melompat ke atas pembaringan kecil, duduk bersila dan memejamkan kedua matanya. Dia menahan panas agar tidak keracunan pembius.
Namun, segera kamar itu penuh asap dan kurang lebih satu jam kemudian, dia tidak dapat lagi menahan pernapasannya. Dia bernapas dan asap pembius memasuki rongga dadanya. Kepalanya terasa pening, semua gelap dan dia pun tidak ingat apa-apa lagi. Namun, badannya yang terlatih itu tetap duduk bersila walaupun dia pingsan!
Ketika siuman dari pingsannya, dan membuka matanya, Nurseta mendapatkan dirinya rebah telentang di atas sebuah pembaringan yang besar, lunak dan indah, dalam sebuah kamar yang mewah dan berbau harum. Dia memandang ke sekeliling. Di sebelah kiri terdapat sebuah jendela yang terbuka dan menembus ke sebuah taman yang penuh tanaman bunga. Ketika dia meraba dengan tangannya, dia mendapatkan badannya memakai pakaian baru yang indah. Mukanya dan rambutnya bersih bekas dicuci dan penyamarannya sudah hilang sama sekali. Dia teringat. Dia telah terjebak dalam kamar dan diserang asap pembius! Diraba pinggangnya. Tongkat Pusaka Tunggul Manik juga telah hilang! Tiba-tiba terdengar suara tawa di belakangnya.
"Hi-hi-hi-hikl"
Nurseta cepat memutar tubuh dan dia melihat Lasmini dan Mandari muncul di pintu sambil memandang kepadanya dan terkekeh-kekeh. Dia marah sekali lalu melompat turun dengan niat menyerang dua orang wanita itu. Akan tetapi dia mengeluh dan tubuhnya terpelanting, terhuyung dan dia cepat menjatuhkan diri di atas pembaringan karena kalau tidak, dia tentu akan terbanting roboh di atas lantai. Seluruh tubuhnya terasa nyeri, tulang-tulangnya mengeluarkan bunyi ketika dia tadi mengerahkan tenaga sakti untuk menyerang dua orang wanita itu.
"He-he-he-heh! Bocah bagus (anak tampan), engkau akan mati kalau mencoba untuk mengerahkan tenaga dan melawan kami!" kata Mandari sambil tersenyum manis.
Sekali lagi Nutseta mencoba untuk mengerahkan tenaganya, namun rasa nyeri yang luar biasa membuat dia terpaksa duduk bersila di atas pembaringan dan menarik napas panjang.
"Apa yang telah kalian lakukan terhadap diriku?" tanyanya, tetap tenang walaupun dia tahu bahwa dia telah keracunan secara hebat sekali.
"Engkau ingin mengetahui, Nurseta? Tubuhmu telah kemasukan racun Perusak Tulang. Kalau engkau mau menaati kami, engkau akan kami beri obat penawar. Akan tetapi kalau engkau tidak mau menurut, dalam waktu satu bulan, tulang-tulangmu akan hancur dan tidak ada obat apa pun di dunia ini yang akan dapat menyelamatkanmu!" kata Lasmini sambil tersenyum dan mengerling penuh daya pikat.
Nurseta kini maklum mengapa Tongkat Pusaka Tunggul Manik mereka ambil darinya. Kalau tongkat itu masih tergantung di pinggangnya, tentu racun itu akan kehilangan dayanya.
"Menaati dan menurut bagaimana maksud kalian?" tanyanya, sikapnya tetap tenang.
Kakak beradik yang sama-sama cantik jelita itu saling padang dengan tersenyum. Mereka berdua sama-sama cantik walaupun kecantikan mereka berbeda, Lasmini berwajah bulat berkulit putih mulus, mata dan mulutnya penuh gairah, rambutnya panjang hitam dan lekuk-lengkung tubuhnya nyaris sempurna. Mandari berwajah agak lain, dengan dagu meruncing wajahnya menjadi bulat telur, anak rambut melingkar-lingkar di dahi dan pelipis, mulutnya kecil matanya lebar, hidungnya mancung indah. Biarpun kulitnya tidak seputih kulit Lasmini, namun halus dan jernih. Bentuk tubuhnya juga amat ramping dan padat. Sukar mengatakan siapa lebih menarik di antara kedua kakak beradik ini. Daya tarik kecantikan mereka sama-sama kuat dan menggairahkan karena sikap mereka yang menantang dan genit.
"Pertama, engkau harus membantu kami, memperkuat Kerajaan Parang Siluman." kata Mandari sambil tersenyum lebar sehingga tampak deretan giginya yang putih seperti mutiara tersusun rapi.
"Hemm, kalau untuk melakukan kebaikan, mendatangkan kesejahteraan dan ketenteraman kehidupan rakyat, aku siap membantu kerajaan manapun juga. Akan tetapi kalau untuk mengumbar angkara murka, apalagi untuk memusuhi Kahuripan, tak mungkin aku dapat membantui kalian." jawab Nurseta tegas.
"Urusan pertama itu boleh ditunda dulu, akan tetapi sekarang engkau harus menuruti keinginan kami yang kedua, yaitu kita berpesta dan bersenang-senang dalam kamar kami ini. Engkau tentu akan suka menemani kami bersenang-senang, bukan?"
Nurseta sudah mengenal dua orang wanita itu, maklum bahwa kedua orang wanita bekas selir Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama ini adalah hamba-hamba nafsu berahi. Dia maklum bahwa mereka mengajak dia berjina! Sambil mengerutkan alisnya dia menjawab dengan lembut agar tidak menyinggung hati mereka.
"Aku sama sekali tidak tertarik. Maafkan kalau aku menolak ajakan itu."
Dua orang puteri itu tidak menjadi marah. Mereka malah tersenyum lebar sehingga tampak rongga mulut mereka dan lidah mereka yang kemerahan.
"Hi-hi-hik, engkau tidak akan dapat menolak kami, Nurseta!" kata Mandari, lalu disambung ucapan Lasmini dengan suara lembut manis namun mengandung wibawa dan daya pikat amat kuatnya.
"Pandanglah kami, Nurseta!"
Seolah di luar kehendaknya, Nurseta memandang mereka dan jantungnya berdegup keras. Dia melihat betapa Lasmini dan Mandarai tampak luar biasa cantiknya, seolah dua orang dewi kahyangan. Wajah mereka memancarkan cahaya indah, senyum mulut mereka mengandung lautan madu, kerling mata mereka seolah menarik-narik perasaan hatinya. Nurseta segera menyadari bahwa dua orang wanita itu telah mengerahkan Aji Pameletan Guna Asmara yang amat kuat yang kabarnya dapat meruntuhkan iman seorang pertapa sekalipun. Nurseta segera berlindung dalam Aji Sirna Sarira. Aji ini merupakan aji yang meniadakan diri jasmani sehingga tentu saja tidak dapat terpengaruh segala macam daya tarik nafsu yang menguasai jasmani. Dia tetap duduk bersila dan sungguhpun dia tidak perlu memejamkan matanya, namun matanya sama sekali tidak silau oleh daya tarik kecantikan dua orang wanita itu. Bahkan dia seolah melihat dua tengkorak terbungkus kulit yang menjijikkan!
Dua orang wanita yang berpengalaman itu segera mengerti bahwa aji pengasihan mereka tidak cukup kuat untuk meruntuhkan perasaan hati dan membangkitkan nafsu berahi Nurseta. Mereka merasa penasaran sekali dan kegagalan mereka itu bahkan merupakan senjata yang berbalik menyerang diri mereka sendiri. Penolakan pemuda itu justru membuat napsu mereka menjadi semakin menyala berkobar-kobar membakar diri mereka! Keduanya menjadi nekat dan mereka menyerbu ke atas pembaringan yang lebar itu.
Mereka berdua mulai merayu Nurseta dengan bisikan-bisikan, belaian dan melekatkan tubuh mereka yang panas penuh gairah itu ke tubuh Nurseta. Namun pemuda itu kini memejamkan mata dan dia seolah menjadi seperti ketika Arjuna digoda dan diuji keteguhan batinnya oleh tujuh dewi kahyangan! Arjuna juga sama sekali tidak terguncang seperti diceritakan dalam Kisah Mahabharata Episode Arjuna Mintaraga.
Dua orang wanita cantik itu seperti cacing terkena abu panas! Mereka menggeliat-geliat merintih-rintih, merayu dan membelai. Namun Nurseta tetap tak tergoyahkan sedikit pun. Lasmini menjadi semakin penasaran. Ia lalu mengerahkan tenaga sakti dan sihirnya, menggerakkan jari tangan menotok tengkuk Nurseta lalu mengurut tulang punggungnya dengan Aji Asmara Kingkin. Totokan ini biasanya amat ampuh, dapat membangkitkan gairah berahi orang yang ditotoknya. Nurseta, sempat merasakan tubuhnya panas dingin, namun tubuhnya yang memang terbiasa kuat menguasai gejolak nafsu-nafsunya, kini juga teguh dan tidak goyah. Dia tetap duduk bersila memejamkan mata. Akhirnya dua orang wanita itu menjadi kelelahan sendiri. Napas mereka terengah-engah, wajah mereka merah padam dan senyum manis tadi berubah menjadi seringai penuh kekesalan, kekecewaan, kemarahan dan juga ada perasaan malu dan terhina.
"Jahanam...!" Lasmini menggerakkan tangan menampar.
"Plak...!"
Pipi kanan Nurseta ditampar. Pemuda yang tidak dapat mengerahkan tenaga sakti itu hampir terguling terkena tamparan yang membuat dia merasa nyeri, perih dan panas pada pipi kanannya.
"Keparat... plakk!" Tangan Mandari menampar pipi kiri Nurseta sehingga kedua pipi pemuda itu menjadi merah membengkak, ujung bibirnya di kanan kiri sedikit pecah dan berdarah. Akan tetapi wajah Nurseta tidak menunjukkan perasaan apa pun tidak ada kerut pada wajahnya, tetap tenang, bahkan kini dia membuka kedua matanya dan memandang kepada dua orang wanita itu seperti orang yang merasa iba!

<<< Bagian 78                                                                                         Bagian 80 >>>

No comments:

Post a Comment