Ratu Durgamala, Ki Nagakumala, Lasmini dan Mandari! Seketika mengertilah dia kini. Semua itu ternyata merupakan pancingan dan jebakan saja! Wanita pelayan tadi pun tentu dipergunakan sebagai pancingan dan mereka berhasil memancing dan menjebaknya! Di belakang empat orang tokoh Parang Siluman yang tertawa-tawa itu berdiri seregu pasukan pengawal, lengkap dengan senjata tombak, pedang, dan busur!
"He-he-he-heh!
Nurseta, sejak engkau melewati gapura istana, kami sudah mengamati dan
mengikuti semua gerak-gerikmu! He-he-heh!" Ratu Durgamala berkata sambil
tersenyum mengejek. Ratu wanita yang sudah janda dan berusia empat puluh tahun
lebih itu. masih tampak cantik jelita, berdiri di samping kedua puterinya itu
ia tampak seperti kakak mereka saja.
Nurseta
menjadi lemas! Kiranya mereka bukan saja berhasil menjebaknya, bahkan
penyamarannya pun tidak dapat mengelabuhi mereka. Mereka sudah mengenalnya! Dia
merasa penasaran sekali, namun dapat bersikap tenang ketika dia bertanya.
"Hemm,
harus kuakui bahwa Andika sekalian memang cerdik sekali. Akan tetapi bagaimana
Andika dapat mengetahui siapa diriku?"
Ki Nagakumala
yang menjawab.
"Hmmm,
apa sukarnya? Permainan anak kecil! Biarpun penyamaranmu memang bagus sekali
dan mula-mula kami tidak mengenalmu, akan tetapi ketika engkau bergerak, kami
mengenal Aji Bayu Sakti dan Aji Sirna Sarira, bahkan kami dapat mengetahui
bahwa engkau adalah utusan Ki Patih Narotama karena kami melihat Tongkat Pusaka
Kyai Tunggul Manik yang berada di pinggangmu itu, Nurseta!"
Nurseta merasa
kagum. Mereka itu cerdik dan licik, juga sakti mandraguna. Dia merasa seperti
harimau dalam kurungan dan dapat menduga bahwa ruangan tahanan itu pasti kokoh
kuat sekali. Pintu besi itu tampak kokoh dan dia menduga bahwa dinding tembok
itu pun tentu dilapis besi. Kiranya tidak mungkin menjebol kamar tahanan itu.
Mereka memang sudah mempersiapkan segalanya!
"Sudahlah,
Kakang Nagakumala, untuk apa berpanjang cerita dengan orang ini? Dia terlalu
berbahaya, sebaiknya dibinasakan sekarang juga!" kata Ratu Durgamala tak
sabar karena ratu ini sudah maklum akan kesaktian Nurseta yang akan
membahayakan kerajaannya.
"Engkau
benar, Yayi Ratu." kata Ki Nagakumala lalu dia memberi perintah kepada dua
lusin prajurit pengawalnya.
"Kalian
kepung tempat ini dan pasang anak panah beracun. Kerocok (hujani) dia dengan
anak panah beracun!"
Dua lusin
perajurit itu maju dan bersiap di depan pintu besi yang lebar itu. Mereka mengambil
posisi, ada yang berjongkok, ada yang berlutut dan ada yang berdiri menodongkan
anak panah, merupakan tiga lapis, bawah, tengah, dan atas. Mereka sudah
memasang anak panah yang ujungnya berwarna hijau kehitaman tanda racun yang
amat kuat, pada busur mereka, siap untuk menarik tali busur dan melepas anak
panah.
"Tahan...!!"
Tiba-tiba Lasmini berseru.
"Jangan
bunuh dia sekarang!"
"Lasmini!
Mengapa engkau melarang?" tanya Ratu Durgamala heran. Juga Ki Nagakumala
memandang Lasmini dengan alis berkerut. Seperti juga adiknya, dia berpendapat
bahwa Nurseta merupakan ancaman bahaya besar bagi Parang Siluman, maka lebih
cepat dibunuh lebih baik.
"Kanjeng
Ibu, Mbakayu Lasmini benar! Orang ini jangan dibunuh begitu saja. Terlalu enak
dia kalau dibunuh begitu saja!"
"Hemm,
lalu seharusnya bagaimana?" tanya Ratu Durgamala.
"Begini,
Kanjeng Ibu." kata Lasmini sambil tersenyum simpul,
"Lumpuhkan
dia dengan asap pembius. Nanti aku dan Mandari yang akan menangani dan
membereskan dia!"
Ratu Durgamala
tentu saja maklum dan dapat membaca senyum simpul yang berkembang di bibir
manis Lasmini dan Mandari. Kedua orang puterinya itu bukan hanya mewarisi
kecantikannya, akan tetapi juga kelemahannya terhadap gairah nafsunya sendiri
yang membuat wataknya menjadi mata keranjang. Ia pun tersenyum maklum dan
segera memerintahkan kepada para prajurit.
"Lumpuhkan
dia dengan asap pembius!"
Dua lusin
perajurit itu mengganti busur anak panah mereka dengan alat penyemprot dari
bumbung bambu. Nurseta tak dapat menemukan jalan untuk menghindar dari
serangan. Dia tidak berdaya dan maklum bahwa menggunakan kekerasan takkan
menolongnya. Dia tidak takut mati, bahkan dia lalu menghapus penyamarannya
karena kalau dia sampai mati, dia ingin mati sebagai Nurseta, sebagai dirinya
yang aseli, bukan dalam penyamaran. Menyamar pun sekarang tidak ada gunanya
lagi karena rahasianya sudah ketahuan. Segera setelah dua lusin perajurit itu
menyemprotkan asap pembius yang berbau harum menyengat, dia melompat ke atas
pembaringan kecil, duduk bersila dan memejamkan kedua matanya. Dia menahan
panas agar tidak keracunan pembius.
Namun, segera
kamar itu penuh asap dan kurang lebih satu jam kemudian, dia tidak dapat lagi
menahan pernapasannya. Dia bernapas dan asap pembius memasuki rongga dadanya.
Kepalanya terasa pening, semua gelap dan dia pun tidak ingat apa-apa lagi.
Namun, badannya yang terlatih itu tetap duduk bersila walaupun dia pingsan!
Ketika siuman
dari pingsannya, dan membuka matanya, Nurseta mendapatkan dirinya rebah
telentang di atas sebuah pembaringan yang besar, lunak dan indah, dalam sebuah
kamar yang mewah dan berbau harum. Dia memandang ke sekeliling. Di sebelah kiri
terdapat sebuah jendela yang terbuka dan menembus ke sebuah taman yang penuh
tanaman bunga. Ketika dia meraba dengan tangannya, dia mendapatkan badannya
memakai pakaian baru yang indah. Mukanya dan rambutnya bersih bekas dicuci dan
penyamarannya sudah hilang sama sekali. Dia teringat. Dia telah terjebak dalam
kamar dan diserang asap pembius! Diraba pinggangnya. Tongkat Pusaka Tunggul
Manik juga telah hilang! Tiba-tiba terdengar suara tawa di belakangnya.
"Hi-hi-hi-hikl"
Nurseta cepat
memutar tubuh dan dia melihat Lasmini dan Mandari muncul di pintu sambil
memandang kepadanya dan terkekeh-kekeh. Dia marah sekali lalu melompat turun
dengan niat menyerang dua orang wanita itu. Akan tetapi dia mengeluh dan
tubuhnya terpelanting, terhuyung dan dia cepat menjatuhkan diri di atas
pembaringan karena kalau tidak, dia tentu akan terbanting roboh di atas lantai.
Seluruh tubuhnya terasa nyeri, tulang-tulangnya mengeluarkan bunyi ketika dia
tadi mengerahkan tenaga sakti untuk menyerang dua orang wanita itu.
"He-he-he-heh!
Bocah bagus (anak tampan), engkau akan mati kalau mencoba untuk mengerahkan
tenaga dan melawan kami!" kata Mandari sambil tersenyum manis.
Sekali lagi
Nutseta mencoba untuk mengerahkan tenaganya, namun rasa nyeri yang luar biasa
membuat dia terpaksa duduk bersila di atas pembaringan dan menarik napas
panjang.
"Apa yang
telah kalian lakukan terhadap diriku?" tanyanya, tetap tenang walaupun dia
tahu bahwa dia telah keracunan secara hebat sekali.
"Engkau
ingin mengetahui, Nurseta? Tubuhmu telah kemasukan racun Perusak Tulang. Kalau
engkau mau menaati kami, engkau akan kami beri obat penawar. Akan tetapi kalau
engkau tidak mau menurut, dalam waktu satu bulan, tulang-tulangmu akan hancur
dan tidak ada obat apa pun di dunia ini yang akan dapat menyelamatkanmu!"
kata Lasmini sambil tersenyum dan mengerling penuh daya pikat.
Nurseta kini
maklum mengapa Tongkat Pusaka Tunggul Manik mereka ambil darinya. Kalau tongkat
itu masih tergantung di pinggangnya, tentu racun itu akan kehilangan dayanya.
"Menaati
dan menurut bagaimana maksud kalian?" tanyanya, sikapnya tetap tenang.
Kakak beradik
yang sama-sama cantik jelita itu saling padang dengan tersenyum. Mereka berdua
sama-sama cantik walaupun kecantikan mereka berbeda, Lasmini berwajah bulat
berkulit putih mulus, mata dan mulutnya penuh gairah, rambutnya panjang hitam
dan lekuk-lengkung tubuhnya nyaris sempurna. Mandari berwajah agak lain, dengan
dagu meruncing wajahnya menjadi bulat telur, anak rambut melingkar-lingkar di
dahi dan pelipis, mulutnya kecil matanya lebar, hidungnya mancung indah.
Biarpun kulitnya tidak seputih kulit Lasmini, namun halus dan jernih. Bentuk
tubuhnya juga amat ramping dan padat. Sukar mengatakan siapa lebih menarik di
antara kedua kakak beradik ini. Daya tarik kecantikan mereka sama-sama kuat dan
menggairahkan karena sikap mereka yang menantang dan genit.
"Pertama,
engkau harus membantu kami, memperkuat Kerajaan Parang Siluman." kata
Mandari sambil tersenyum lebar sehingga tampak deretan giginya yang putih
seperti mutiara tersusun rapi.
"Hemm,
kalau untuk melakukan kebaikan, mendatangkan kesejahteraan dan ketenteraman
kehidupan rakyat, aku siap membantu kerajaan manapun juga. Akan tetapi kalau
untuk mengumbar angkara murka, apalagi untuk memusuhi Kahuripan, tak mungkin
aku dapat membantui kalian." jawab Nurseta tegas.
"Urusan
pertama itu boleh ditunda dulu, akan tetapi sekarang engkau harus menuruti
keinginan kami yang kedua, yaitu kita berpesta dan bersenang-senang dalam kamar
kami ini. Engkau tentu akan suka menemani kami bersenang-senang, bukan?"
Nurseta sudah
mengenal dua orang wanita itu, maklum bahwa kedua orang wanita bekas selir Sang
Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama ini adalah hamba-hamba nafsu berahi. Dia
maklum bahwa mereka mengajak dia berjina! Sambil mengerutkan alisnya dia
menjawab dengan lembut agar tidak menyinggung hati mereka.
"Aku sama
sekali tidak tertarik. Maafkan kalau aku menolak ajakan itu."
Dua orang
puteri itu tidak menjadi marah. Mereka malah tersenyum lebar sehingga tampak
rongga mulut mereka dan lidah mereka yang kemerahan.
"Hi-hi-hik,
engkau tidak akan dapat menolak kami, Nurseta!" kata Mandari, lalu
disambung ucapan Lasmini dengan suara lembut manis namun mengandung wibawa dan
daya pikat amat kuatnya.
"Pandanglah
kami, Nurseta!"
Seolah di luar
kehendaknya, Nurseta memandang mereka dan jantungnya berdegup keras. Dia
melihat betapa Lasmini dan Mandarai tampak luar biasa cantiknya, seolah dua
orang dewi kahyangan. Wajah mereka memancarkan cahaya indah, senyum mulut
mereka mengandung lautan madu, kerling mata mereka seolah menarik-narik
perasaan hatinya. Nurseta segera menyadari bahwa dua orang wanita itu telah
mengerahkan Aji Pameletan Guna Asmara yang amat kuat yang kabarnya dapat
meruntuhkan iman seorang pertapa sekalipun. Nurseta segera berlindung dalam Aji
Sirna Sarira. Aji ini merupakan aji yang meniadakan diri jasmani sehingga tentu
saja tidak dapat terpengaruh segala macam daya tarik nafsu yang menguasai
jasmani. Dia tetap duduk bersila dan sungguhpun dia tidak perlu memejamkan
matanya, namun matanya sama sekali tidak silau oleh daya tarik kecantikan dua
orang wanita itu. Bahkan dia seolah melihat dua tengkorak terbungkus kulit yang
menjijikkan!
Dua orang
wanita yang berpengalaman itu segera mengerti bahwa aji pengasihan mereka tidak
cukup kuat untuk meruntuhkan perasaan hati dan membangkitkan nafsu berahi
Nurseta. Mereka merasa penasaran sekali dan kegagalan mereka itu bahkan
merupakan senjata yang berbalik menyerang diri mereka sendiri. Penolakan pemuda
itu justru membuat napsu mereka menjadi semakin menyala berkobar-kobar membakar
diri mereka! Keduanya menjadi nekat dan mereka menyerbu ke atas pembaringan
yang lebar itu.
Mereka berdua
mulai merayu Nurseta dengan bisikan-bisikan, belaian dan melekatkan tubuh
mereka yang panas penuh gairah itu ke tubuh Nurseta. Namun pemuda itu kini
memejamkan mata dan dia seolah menjadi seperti ketika Arjuna digoda dan diuji
keteguhan batinnya oleh tujuh dewi kahyangan! Arjuna juga sama sekali tidak
terguncang seperti diceritakan dalam Kisah Mahabharata Episode Arjuna
Mintaraga.
Dua orang
wanita cantik itu seperti cacing terkena abu panas! Mereka menggeliat-geliat
merintih-rintih, merayu dan membelai. Namun Nurseta tetap tak tergoyahkan
sedikit pun. Lasmini menjadi semakin penasaran. Ia lalu mengerahkan tenaga
sakti dan sihirnya, menggerakkan jari tangan menotok tengkuk Nurseta lalu
mengurut tulang punggungnya dengan Aji Asmara Kingkin. Totokan ini biasanya amat
ampuh, dapat membangkitkan gairah berahi orang yang ditotoknya. Nurseta, sempat
merasakan tubuhnya panas dingin, namun tubuhnya yang memang terbiasa kuat
menguasai gejolak nafsu-nafsunya, kini juga teguh dan tidak goyah. Dia tetap
duduk bersila memejamkan mata. Akhirnya dua orang wanita itu menjadi kelelahan
sendiri. Napas mereka terengah-engah, wajah mereka merah padam dan senyum manis
tadi berubah menjadi seringai penuh kekesalan, kekecewaan, kemarahan dan juga
ada perasaan malu dan terhina.
"Jahanam...!"
Lasmini menggerakkan tangan menampar.
"Plak...!"
Pipi kanan
Nurseta ditampar. Pemuda yang tidak dapat mengerahkan tenaga sakti itu hampir
terguling terkena tamparan yang membuat dia merasa nyeri, perih dan panas pada
pipi kanannya.
"Keparat...
plakk!" Tangan Mandari menampar pipi kiri Nurseta sehingga kedua pipi
pemuda itu menjadi merah membengkak, ujung bibirnya di kanan kiri sedikit pecah
dan berdarah. Akan tetapi wajah Nurseta tidak menunjukkan perasaan apa pun
tidak ada kerut pada wajahnya, tetap tenang, bahkan kini dia membuka kedua
matanya dan memandang kepada dua orang wanita itu seperti orang yang merasa
iba!
No comments:
Post a Comment