Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 80


"Nurseta, keparat sombong! Engkau sudah menolak dua permintaan kami. Engkau sudah menghina kami! Sepatutnya sekarang juga engkau kami bunuh. Akan tetapi terlalu enak kalau engkau dibunuh sekarang, Maka, biarlah kaurasakan siksaan racun Perusak Tulang yang akan menggerogotirnu setiap saat selama satu bulan sampai engkau mati!" Lasmini berkata marah sambil turun dari atas pembaringan.
Mandari juga turun dan membetulkan letak pakaiannya yang kusut dan sebagian terbuka ketika tadi mereka membujuk rayu dan menggoda Nurseta.
"Kecuali kalau engkau berubah pikiran dan mau menaati perintah kami, tentu kami menyelamatkanmu!"

Setelah berkata demikian, dua orang wanita itu memanggil para prajurit pengawal yang berjaga di luar kamar itu. Empat orang prajurit pengawal yang bertubuh tinggi besar masuk dengan sikap hormat.
"Bawa dia ke kamar tahanan di belakang. Awas, jaga ketat jangan sampai dia lolos melarikan diri! Bunuh saja kalau dia mencoba untuk melarikan diri!" kata Lasmini kepada mereka.
"Nyawa kalian taruhannya kalau dia lolosl" kata pula Mandari.
"Akan tetapi perlakukan dia baik-baik, jangan sekali-kali kalian menyiksanya. Mengerti?"
Empat orang itu menyatakan siap dan taat, lalu mereka berempat menuntun dan mengawal Nurseta keluar dari kamar itu dan memasukkannya ke dalam sebuah kamar tahanan di belakang. Kamar tahanan ini kokoh kuat sekali karena dindingnya terbuat dari baja, daun pintunya juga dari besi dengan terali kokoh dari atas ke bawah sehingga keadaan dalam kamar tahanan itu selalu diawasi oleh para perajurit penjaga. Selusin orang prajurit berjaga secara bergiliran di sekitar luar kamar tahanan itu. Begitu dimasukkan kamar tahanan dan daun pintu besi ditutup, Nurseta lalu duduk di atas dipan kayu yang berada di sudut kamar tahanan. Dia tahu bahwa tubuhnya keracunan dan mengerahkan tenaga merupakan hal tidak mungkin. Kalau dia paksakan, tentu tulang-tulangnya akan hancur dan dia tewas seketika. Maka dia membuat tubuhnya lemas, tidak mengeluarkan tenaga. Dia harus banyak beristirahat. Direbahkannya tubuhnya yang lemas dengan muka terasa panas dan pedih oleh tamparan kedua orang wanita tadi. Dia telentang dan merenungkan keadaannya yang terancam bahaya maut yang mengerikan. Para tokoh Parang Siluman itu memang licik dan cerdik sekali. Mengatur jebakan dan pancingan sedemikian halusnya sehingga dia yang sudah berhati-hati itu tetap saja terjebak dan tertawan. Bahkan rasanya tidak ada harapan baginya untuk dapat meloloskan diri. Satu-satunya jalan untuk menghindarkan diri dari kematian yang menyiksa hanyalah kalau dia menuruti kehendak Lasmini dan Mandari!
Pikirannya mulai melayang-layang dan Nurseta membiarkan pikirannya bekerja sendiri tanpa dia kendalikan. Mulai terbayanglah dia akan segala yang baru dialaminya, sejak dia melakukan penyelidikan sampai kemudian tertawan dan pengalaman terakhir dalam kamar indah itu pun terbayang-bayang. Betapa cantiknya dua orang puteri Parang Siluman itu! Bukan saja wajah mereka yang cantik manis menggiurkan, bahkan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama pernah terpikat oleh kecantikan mereka! Betapa indah bentuk tubuh mereka dan terbayanglah semua peristiwa tadi, betapa tubuh-tubuh yang lunak hangat lembut itu membelainya, betapa harum semerbak bau rambut dan tubuh mereka. Betapa akan menyenangkan kalau dia memenuhi permintaan mereka. Tidak, itu tidak benar sama sekali, terdengar bisikan halus namun penuh teguran dari dalam dadanya.
"Tidak, Nurseta, hal itu tidak boleh kaulakukan." Hatinya berbisik.
"Uh, mengapa tidak boleh?" suara lain yang parau terdengar dari dalam kepalanya.
"Engkau tidak akan menjadi manusia tolol, Nurseta! Engkau laki-laki, dan mereka itu begitu cantik menarik, bayangkan betapa indah mata dan mulut mereka, betapa mulus dan indah tubuh mereka, betapa akan berbahagianya engkau kalau engkau menerima dan membalas cinta kasih mereka!"
"Hemm, itu bukan cinta kasih." cela suara dalam hatinya.
"Itu hanya gairah nafsu birahi semata yang akan menyeretmu ke dalam dosa, Nurseta. Itu perjinaan namanya dan engkau membiarkan dirimu diseret dan diperbudak napsu birahi yang akan menyengsarakan dirimu sendiri. Seorang satria utama tidak akan sudi melakukan kesesatan itu."
Nurseta mengangguk-angguk.
"Itu benar sekali, aku tidak boleh melakukan perbuatan sesat itu!" katanya lirih walaupun suara bisikannya itu tidak yakin dan tegas benar, masih bercampur keraguan.
"Phuah, omong kosong! Siapa bilang berjina dan dosa? Ini merupakan usaha untuk menyelamatkan diri. Setiap orang manusia berhak untuk mencari keselamatan, menghindar diri dari ancaman maut! Sudah jelas engkau akan mati, tulang-tulangmu akan hancur dan kau tidak akan dapat tertolong lagi! Kalau jalan satu-satunya untuk menghindarkan kematian hanya menuruti kemauan dua orang wanita itu, apanya yang dosa? Itu bukan perjinaan, bukan dosa namanya! Itu hanya cara untuk mempertahankan hidup, hak setiap orang manusia! Bahkan kalau engkau tidak mempertahankan hidupmu, membiarkan dirimu mati tanpa berusaha mencari keselamatan, itu dosa besar namanya! Sudahlah, Nurseta, kau turuti saja kemauan Lasmini dan Mandari. Engkau akan memperoleh kenikmatan, kesenangan, dan juga luput dari kematian!" Suara parau dalam kepalanya semakin lantang.
"Jangan dengarkan bujuk rayu menyesatkan itu, Nurseta." bisikan dalam dadanya membantah.
"Ingat, engkau seorang satria, engkau utusan Ki Patih Narotama dan engkau selalu berpendirian bahwa seribu kali lebih baik mati sebagai seorang satria daripada hidup sebagai seorang budak nafsu yang sesat berdosa!"
"Hua-ha-ha!" Suara dalam kepalanya terbahak.
"Siapa sih manusia hidup di dunia ini yang tidak berdosa? Melakukan dosa untuk mempertahankan hidup itu tidak salah, Nurseta!"
Namun jiwa Nurseta sudah tegar kembali, sepenuhnya menyadari akan kebenaran bisikan dari hatinya tadi.
"Hemm, enyahlah kamu, Nafsu Setan!" bentaknya kepada pikirannya sendiri.
Terdengar suara dalam kepala tadi tertawa bergelak, menertawakan kebodohannya, akan tetapi juga terdengar bisikan suara dalam dadanya.
"Puja-puji tertinggi bagi Sang Hyang Widhi Wasa. Yang Maha Besar dan Maha Kuasa!"

Setelah dua suara yang bertentangan, suara yang muncul dalam pikiran di kepala dan suara dari hati sanubari, menghilang dan keseimbangan dirinya pulih kembali dan tenang, Nurseta termenung. Dia menyadari bahwa suara yang membujuk-bujuknya untuk tunduk memenuhi permintaan Lasmini dan Mandari tadi adalah suara nafsunya yang pada umumnya disebut suara Setan. Akan tetapi, jahatkah Setan yang selalu membujuk-bujuk manusia untuk menyimpang dari kebenaran, untuk melakukan perbuatan yang sesat dan jahat? Nurseta tersenyum sendiri. Sudah tentu saja Setan itu jahat, kalau tidak jahat bukan Setan namanya! Setan itu adalah Si Jahat itu sendiri, maka setan itu tidak bisa jahat lagi karena sudah maha jahat sejak mulanya! Mana mungkin api dapat terbakar? Api dan nyalanya tidak terpisah, seperti setan dan jahatnya. Sudah ditentukan Sang Hyang Widhi bahwa Setan harus menggoda manusia, maka membujuk manusia menyeleweng dari kebenaran merupakan tugas-kewajiban Setan! Kalau Setan tidak menggoda manusia, lalu apa pekerjaannya? Lalu namanya pun bukan setan lagi! Tidak, yang jahat bukanlah setan, melainkan tergantung kepada manusia sendiri bagaimana menghadapi godaan itu. Betapapun hebat setan menggoda, bagaimana kuat pun nafsu-nafsu dalam badan ini membujuk rayu, menjanjikan kesenangan dan kenikmatan yang kalau dituruti akan menyeret kita ke dalam dosa, namun kalau kita tidak menyerah, pasti tidak akan terjadi perbuatan sesat atau dosa! Jelaslah bahwa dosa terjadi karena kelemahan manusia, bukan karena godaan setan. Sudah ditakdirkan bahwa manusia hidup di dunia harus menghadapi banyak sekali godaan dan tantangan, baik tantangan jasmani maupun rohani. Segala macam godaan jasmani mengancam kehidupan kita, misalnya binatang-binatang yang mengganggu seperti nyamuk, lalat, tikus dan masih banyak lagi. Banyak pula peristiwa alam yang mengganggu dan merupakan tantangan kita, seperti banjir, gunung meletus, gempa bumi, badai dan sebagainya. Akan tetapi Sang Hyang Widhi Wasa juga memberi bekal akal budi kepada kita sehingga kita dapat mempergunakannya untuk mengatasi semua gangguan itu.
Demikian pula dengan gangguan rohani yang pada umumnya disebut gangguan setan. Seperti juga kita tidak menyalahkan nyamuk yang mengganggu, mengisap darah kita, karena memang nyamuk sudah ditakdirkan harus hidup dari mengisap darah sehingga nyamuk tidak bersalah, tergantung kepada kita dapat menghindarkan diri atau tidak, maka setan juga tidak bisa disalahkan kalau kita sampai tergelincir ke dalam perbuatan dosa. Kita sendirilah yang bersalah, karena lemah. Memang, melawan bujukan setan berarti melawan nafsu-nafsu diri kita sendiri dan hal ini amatlah sukar. Manusia sendiri tidak akan mampu melawan dan mengatasi musuh besar sepanjang hidup berupa keinginan-keinginan napsunya sendiri. Hanya Sang Hyang Wldhi Wasa yang akan mampu memperkuat kita untuk mengatasi semua godaan itu. Satusatunya jalan hanyalah mohon, kekuatan dari Dia Yang Maha Kuat, dengan penyerahan diri secara total kepada-Nya sehingga kekuatan-Nyalah yang bekerja, bukan lagi kekuatan kita untuk meredam gairah nafsu yang berkobar-kobar. Tuhan Maha Murah dan Maha Adil, segala ciptaan-Nya diberi kebebasan sepenuhnya. Juga manusia selain diberi perlengkapan hidup berupa nafsu-nafsu dan hati akal pikiran serta budi, diberi pula kebebasanv Manusia bebas untuk memilih, kepada siapa kita akan mengabdi. Bebas untuk mengabdi kepada nafsu-nafsu daya rendah Setan atau mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa yang kedua pengabdian itu mendatangkan akibat-akibat tertentu. Akibat lahir dari sebab, ini tak dapat dihindarkan lagi, sudah adil dan sempurna.

Kerajaan Wengker geger! Pasukan Kahuripan yang besar jumlahnya dipimpin sendiri oleh Ki Patih Narotama datang menyerbu bagaikan banjir bandang! Ki Patih Narotama menyerbu Kerajaan Wengker dengan semangat yang menggebu-gebu, bagaikan api berkobar menyala dan membakar apa saja yang menghalangi. Dia ingin cepat-cepat menguasai Wengker agar dapat mencurahkan seluruh perhatiannya terhadap penyelamatan puteranya yang berada di tangan para pimpinan Parang Siluman, kemudian setelah puteranya dapat dirampas kembali, menundukkan Kerajaan Parang Siluman. Namun ternyata Kerajaan Wengker tidak seperti Kerajaan Wura-Wuri dan Kerajaan Siluman Laut Kidul yang mudah ditaklukkan. Kerajaan Wengker melakukan perlawanan mati-matian! Biarpun jumlah pasukan Wengker kalah banyak, namun Wengker mengerahkan seluruh kekuatan dan melakukan perlawanan dengan gigih. Dewi Mayangsari, Adipati Linggawijaya, dan Resi Bajrasakti merupakan tiga orang sakti yang pandai memimpin pasukan mereka. Pandai pula memberi dorongan semangat sehingga pasukan Wengker melawan dengan nekat. Pertempuran antara kedua pasukan terjadi sampai berhari-hari. Pertempuran yang amat dahsyat, ganas dan buas! Yang ada hanya membunuh atau dibunuh! Mayat-mayat kedua pihak berserakan memenuhi lapangan pertempuran di luar tembok Kota Raja Wengker!
Semua serangan yang dilakukan Dewi Mayangsari, Linggawijaya, dan Resi Bajrasakti melalui ilmu pertempuran, aji kesaktian, bahkan sihir ilmu hitam, semua dapat digagalkan Ki Patih Narotama. Mereka bertiga memang jerih untuk berhadapan langsung melawan Ki Patih Narotama dan hanya mempergunakan berbagai muslihat untuk menghancurkan Pasukan Kahuripan. Namun, pasukan Kahuripan bertempur penuh semangat walaupun banyak pula di antara mereka yang terluka atau tewas.
Senopati Tanujoyo yang diperbantukan kepada Ki Patih Narotama, juga memperlihatkan keahliannya memimpin pasukan. Demikian pula para perwira pembantu, dengan penuh semangat mendorong pasukan sehingga setelah berhari-hari bertempur, akhirnya pasukan Kahuripan dapat mendesak pasukan Wengker sehingga mereka terpaksa mundur dan memasuki kota raja, menutupkan pintu gerbang dan melakukan pertahanan dari dalam benteng kota raja.
Ternyata pertahanan Wengker memang kuat sekali. Benteng itu kuat dan usaha pasukan Kahuripan untuk mendekat benteng, selalu disambut hujan anak panah beracun!. Terpaksa pasukan Kahuripan menjauh, berlindung di balik perisai dan membalas dengan serangan anak panah. Pertempuran anak panah berlangsung berhari-hari. Akan tetapi Ki Patih Narotama memperketat pengepungan sehingga tidak memungkinkan Wengker mendatangkan ransum dari luar. Sementara itu, banyak penyelidik diselundupkan. Di antara mereka, banyak yang tertangkap dan dibunuh, akan tetapi masih ada beberapa orang berhasil menyusup masuk dan mereka lalu mengadakan aksi pembakaran gudang-gudang ransum. Mereka memang tertangkap dan terbunuh, namun mereka berhasil membakar sebagian besar persediaan ransum. Tidak adanya penambahan bahan pangan membuat para pimpinan Wengker menjadi panik. Juga sisa pasukannya menjadi gentar dan turun semangatnya. Melihat berkurangnya semangat pasukan Wengker yang tampak dari semakin melemahnya penjagaan mereka, juga serangan balasan anak panah mereka kini hanya jarang dan semakin berkurang, tanda bahwa mungkin mereka kehabisan anak panah, setelah mengepung beberapa pekan lamanya, Ki Patih Narotama lalu memberi komando kepada pasukannya untuk menyerbu!

<<< Bagian 79                                                                                          Bagian 81 >>>

No comments:

Post a Comment