Diiringkan suara bende (canang), genderang, tambur dan diikuti sorak sorai gemuruh, pasukan Kahuripan menyerbu dan mendobrak pintu gerbang yang kokoh dan tebal itu, mempergunakan batang pohon yang panjang dan besar, diangkat ratusan orang prajurit dan ditumbukkan ke pintu gerbang. Terdengar suara menggelegar beberapa kali dan akhirnya daun pintu gerbang itu pun runtuh! Kini pasukan kedua pihak bertempur mati-matian di pintu gerbang. Pasukan Kahuripan menyerbu masuk dan pasukan Wengker mempertahankan. Melihat betapa pihaknya terancam bahaya dan berada di ambang kehancuran, Dewi Mayangsari, Linggawijaya dan Resi Bajrasakti menjadi panik. Akan tetapi Linggawijaya membesarkan hati isteri dan gurunya.
"Bapa
Guru Resi Bajrasakti, saya harap Bapa Guru memimpin pasukan pengawal istana
untuk membantu pertahanan pasukan kita. Pertahankan sekuatnya agar musuh jangan
sampai dapat menyerbu masuk. Diajeng Dewi Mayangsari, sebaiknya kalau engkau
membantu Bapa Resi untuk memperkuat pertahanan. Aku akan melakukan persiapan
dan penjagaan terakhir untuk mempertahankan Istana kita!"
Keadaan sudah
mendesak. Teriakan-teriakan menggenggap gempita sudah menggetarkan istana, maka
Resi Bajrasakti dan Dewi Mayangsari tidak mempunyai waktu untuk
memperbincangkan soal pertahanan lebih lama lagi. Mereka berdua segera berlari
keluar, memanggil semua pasukan pengawal istana yang merupakan pasukan istimewa
dan memimpin mereka keluar menuju pintu gerbang dan membantu pasukan
mempertahankan pintu gerbang agar musuh tidak dapat menyerbu masuk.
Bantuan dua
orang sakti ini membuat pertempuran menjadi lebih seru karena selain
sepak-terjang mereka berdua dapat merobohkan banyak prajurit Kahuripan, juga
masuknya dua orang ini membangkitkan semangat para prajurit Wengker. Pasukan
Kahuripan yang berada di bagian depan menjadi gempar ketika Resi Bajrasakti dan
Dewi Mayangsari muncul dan mengamuk. Dalam waktu sebentar saja dua orang ini
telah merobohkan dan menewaskan puluhan orang perajurit Kahuripan! Segera
seorang perwira lari melapor kepada Ki Patih Narotama yang mengatur pasukan.
Mendengar tentang dua orang sakti yang mengamuk itu, Ki Patih Narotama cepat
menuju ke depan dan dia sudah berhadapan dengan Resi Bajrasakti dan Dewi
Mayangsari. Memang sepak terjang dua orang pimpinan Wengker ini amat
menggiriskan. Dengan Aji Wisa Langking, pukulan yang mengeluarkan asap beracun
hitam, Dewi Mayangsari menewaskan prajurit yang berani mendekatinya. Resi
Bajrasakti lebih menyeramkan lagi. Dia membawa sebatang cambuk bergagang
gading. Cambuknya meledak-ledak dan ujungnya mengeluarkan asap. Prajurit yang
terkena lecutan cambuknya, seolah disayat pisau tajam. Kulit daging tersayat,
tulang pun remuk terkena lecutan cambuk itu!
"Tar-tar-tarrr...
plakk...!!"
Tiba-tiba Resi
Bajrasakti terkejut sekali ketika gerakan cambuknya yang meledak-ledak dan
menyambar-nyambar itu bertemu sesuatu yang amat kuat sehingga cambuk nya itu
terpental dan membalik, ketika dia melihat orang yang menangkis cambuknya itu,
dia mengenal Ki Patih Narotama! Tahulah dia bahwa kini dia berhadapan dengan
tokoh Kahuripan yang memang dia takuti. Akan tetapi dalam pertempuran yang
mati-matian itu, dia tidak mungkin dapat menghindar lagi, maka dia pun cepat
melakukan penyerangan dengan dahsyat.
"Tar-tarrr....!"
pecutnya menyambar-nyambar.
"Jahanam
Narotama, mampuslah engkau!" Dewi Mayangsari juga membentak sambil
menyerang dengan kedua tangannya yang mengandung hawa beracun. Ki Patih
Narotama menghindar dari sambaran cambuk dengan lompatan ke kiri dan sengaja
menyambut tamparan tangan Dewi Mayangsari sambil mengerahkan tenaga saktinya.
"Wuuuttt....
dessss....!!"
Tubuh Dewi
Mayangsari terlempar sampai tiga tombak lebih dan wanita perkasa ini cepat menggulingkan
tubuh sehingga tidak terluka ketika terbanting. Ia bangkit berdiri dengan wajah
pucat dan gelung rambutnya terlepas. Ia melihat betapa Resi Bajrasakti yang
dibantu empat orang perwira mengepung dan mengeroyok Ki Patih Narotama, namun
mereka tetap saja terdesak oleh sepak terjang patih yang sakti mandraguna itu.
Hati Dewi Mayangsari menjadi jerih, apalagi melihat kini para prajurit
Kahuripan mulai menerobos masuk dan pertahanan di luar pintu gerbang sudah
jebol. Hanya tinggal menunggu waktu saja istana Wengker tentu akan diserbu. Ia
pun merasa heran mengapa suaminya, Adipati Linggawijaya belum juga tampak
membantu. Karena melihat keadaan gawat dan bahaya mengancam, Dewi Mayangsari
lalu membalikkan tubuh dan lari meninggalkan pertempuran, memasuki istana yang
di sebelah dalamnya sepi karena para pelayan yang lemah melarikan dan
menyembunyikan diri, sedangkan para prajurit pengawal istana sudah berkumpul
semua di depan istana untuk menjaga Istana dari serbuan musuh. Dewi Mayangsari
mencari-cari suaminya, namun Adipati Linggawijaya tidak tampak. Ia
memanggil-manggil dan mencari ke semua ruangan istana.
"Kakangmas
Adipati...!" teriaknya berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Bayangan
suaminya tidak tampak. Ia merasa heran lalu menuju ke belakang. Ketika bertemu
seorang pelayan yang bersembunyi di dapur, ia bertanya.
"Ke mana
perginya Gusti Adipati?"
Pelayan yang
ketakutan itu menuding ke arah belakang dan menjawab.
"Hamba
tadi melihat Gusti Adipati pergi ke kandang kuda, membawa buntalan kain besar
berwarna hitam."
Dewi
Mayangsari cepat berlari ke belakang. Setibanya di belakang, dekat kandang
kuda, ia melihat suaminya, Adipati Linggawijaya dan Tumenggung Suramenggala,
ayah suaminya itu, sedang melompat ke atas dua ekor kuda dan mereka berdua
membawa buntalan kain yang tampak berat. Mudah saja bagi Dewi Mayangsari untuk
menduga bahwa yang mereka bawa itu tentulah barang-barang berharga, perhiasan
dari emas permata. Agaknya ayah dan anak itu hendak melarikan diri! Melihat
mereka mulai melarikan kuda, agaknya hendak mengambil jalan belakang untuk
keluar dari istana melalui pintu rahasia yang berada di bagian belakang
kompleks istana, Dewi Mayangsari berseru.
"Kakangmas,
tunggu....!!"
Akan tetapi,
Linggawijaya sama sekali tidak mempedulikannya. Menoleh pun tidak bahkan
membalapkan kudanya. Melihat ini, Dewi Mayangsari mengerutkan alisnya dan
mukanya berubah merah sekali. Tahulah ia bahwa laki-laki yang menjadi suaminya
itu, adalah seorang yang rendah budi. Kini hendak melarikan diri meninggalkan
Istana dan tidak mempedulikan ia lagi, hendak mencari keselamatan bagi diri
sendiri dan ayahnya, dengan membawa pergi harta kekayaan dari istananya!
"Kakangmas,
tunggu aku....!"
Dewi
Mayangsari cepat melompat ke atas seekor kuda dan melakukan pengejaran. Agaknya
Linggawijaya dan Suramenggala yang sudah panik melihat keadaan istana gawat
itu, melarikan diri tanpa menengok lagi, tidak tahu kalau Dewi Mayangsari
melakukan pengejaran, Mereka berdua hanya mempunyai satu keinginan, yaitu cepat
keluar dari istana dan dari Kota Raja Wengker dengan selamat. Setelah berhasil
mengejar dekat, Dewi Mayangsari berseru nyaring,
"Kakangmas
Linggawijaya, berhentilah. Kita harus membela Wengker dengan taruhan
nyawa!"
Tanpa menoleh
Linggawijaya berseru,
"Engkau
boleh tinggal di sini membela Wengker sampai titik darah penghabisan. Aku tidak
ingin mati konyol!" jawaban ini terdengar seperti ejekan yang amat
menyakitkan hati Dewi Mayangsari.
"Jahanam....!"
hatinya memaki dan ia pun mempercepat larinya kuda sehingga dapat mengejar
suaminya. Setelah jaraknya cukup dekat Dewi Mayangsari menggerakkan tangan
kanannya dan sinar hitam menyambar ke arah punggung Linggawijaya!
"Aduh....!!"
Linggawijaya
berteriak dan roboh terjungkal dari atas punggung kudanya yang terus berlari
ketakutan. Biarpun Linggawijaya memiliki kesaktian yang cukup tangguh, akan
tetapi diserang dari belakang secara tiba-tiba dan dia sama sekali tidak
menduga itu, maka dia tidak dapat menghindarkan diri. Pasir Sakti yang
merupakan senjata rahasia ampuh sekali dari Dewi Mayangsari menembus kulit
punggungnya dan memasuki rongga dada. Pasir itu mengandung racun yang amat kuat
karena senjata rahasia itu merupakan senjata rahasia andalan Nini Bumigarbo
yang telah diajarkan nenek itu kepada Dewi Mayangsari.
Melihat
Linggawijaya roboh dari atas kudanya, Tumenggung Suramenggala terkejut, akan
tetapi dia malah makin membalapkan kudanya. Mayangsari yang marah sekali kepada
suaminya, tidak peduli akan larinya Ki Suramenggala. Ia melompat turun dari
atas kudanya, lalu menghampiri Linggawijaya yang roboh miring sambil mencabut
sebatang pedang yang tergantung di punggungnya.
"Jahanam
keparat! Laki-laki pengecut, pengkhianat hina, manusia rendah....!" Dewi
Mayangsari memaki-maki sambil menghampiri dan ia sudah mengangkat pedangnya.
Akan tetapi
pada saat itu, secara tiba-tiba Linggawijaya membalik, mengeluarkan gerengan
seperti binatang buas, tangan kanannya menggerakkan Pecut Tatit Geni yang telah
dia persiapkan, menyerang ke arah dada Dewi Mayangsari.
"Tar-tarrr..."
Tampak kilatan
api dari pecut itu dan dada Dewi Mayangsari yang sama sekali tidak menyangka
akan ada serangan mendadak yang amat dahsyat itu, dihantam ujung pecut. Dewi
Mayangsari mengeluh akan tetapi dengan sisa tenaga yang ada ia menubruk dan
menusukkan pedang di tangannya ke arah dada Linggawijaya yang terkulai setelah
tadi mengerahkan tenaga terakhir untuk menyerang Dewi Mayangsari.
"Blesss...!"
Pedang itu
menancap ulu hati Linggawijaya sampai menembus punggung. Tubuh Dewi Mayangsari
terkulai dan roboh di atas tubuh Linggawijaya. Kedua orang itu tewas dalam saat
yang bersamaan, tubuh mereka tumpang tindih berlepotan darah keduanya.
Sementara itu,
Resi Bajrasakti kewalahan sekali melawan Ki Patih Narotama. Dengan repot dia
mencoba untuk bertahan, mengeluarkan segala macam ilmunya dan mengerahkan
seluruh tenaga saktinya. Akan tetapi tetap saja dia kewalahan dan semakin
terdesak hebat. Ki Patih Narotama yang maklum bahwa kakek ini yang memperkuat
Kerajaan Wengker dan datuk ini sejak dulu terkenal sebagal seorang datuk sesat
yang jahat, kemudian menjadi guru Linggawijaya yang kemudian juga terkenal
jahat, terus mendesaknya.
"Hyaaaaahhhhh....!"
Tiba-tiba dia
mengeluarkan pekik melengking dan dengan nekat dia mengerahkan seluruh
tenaganya, menggunakan pukulan Aji Gelap Sewu dan mendorongkan kedua tangannya
ke arah dada Ki Patih Narotama. Ki Patih Narotama menyambut dengan sikap
tenang, mendorongkan kedua tangan dan juga mengerahkan tenaga saktinya.
“SYYUUUUTTT...
blarrr...!"
Sekali ini, Ki
Patih Narotama mengerahkan seluruh tenaganya. Pertemuan hebat kedua tenaga
sakti itu terasa getarannya oleh semua prajurit yang sedang bertempur di
sekeliling tempat itu, bahkan yang terdekat terpelanting roboh disambar getaran
itu. Tubuh Resi Bajrasakti sendiri terpental jauh, terjengkang dan terbanting roboh,
tak bergerak lagi. Dari hidung dan mulutnya mengalir darah segar dan dia tewas
seketika oleh tenaga saktinya sendiri yang membalik dan merusak isi dada dan
perutnya.
Melihat Resi
Bajrasakti yang menjadi andalan mereka itu roboh dan tewas, semua perwira
Wengker menjadi panik dan ketakutan. Banyak di antara mereka lalu meninggalkan
pertempuran dan melarikan diri. Melihat ini, tentu saja anak buah mereka, para
prajurit juga kehilangan semangat dan ketakutan. Dengan sendirinya pasukan
Kahuripan mendapat angin dan mereka terus menyerbu ke dalam. Setelah Ki Patih
Narotama memimpin para perwira pembantu dan pasukan memasuki istana, dia tidak
menemukan perlawanan sama sekali. Mereka semua merasa heran karena tidak
melihat adanya Adipati Linggawijaya dan Dewi Mayangsari di dalam istana. Akan
tetapi seorang prajurit datang melaporkan kepada Ki Patih Narotama bahwa suami
isteri itu ternyata telah tewas dalam keadaan mengerikan di dekat kandang kuda.
Ki Patih Narotama cepat pergi ke belakang dan dia menemukan mayat kedua orang
itu bertumpang tindih mandi darah. Linggawijaya masih memegang senjata
pecutnya, dan Dewi Mayangsari masih memegang gagang pedangnya yang menembus
dada Linggawijaya. Di dekat mereka terdapat buntalan berisi perhiasan emas
permata berserakan. Ki Patih Narotama menghela napas panjang. Sekali lagi dia
menjadi saksi akan datangnya akibat dari perbuatan buruk yang menjadi sebabnya.
Lebih jelas lagi bukti terjadinya hukum karma ini ketika seorang perwira
melaporkan bahwa Ki Suramenggala yang melarikan diri menunggang kuda melalui
jalan rahasia di belakang istana, bertemu dengan para prajurit Wengker yang
sedang melarikan diri pula dan para prajurit itu melihat Ki Suramenggala lari
membawa harta benda, lalu mengeroyok dan membunuhnya, dan buntalan harta benda
itu menjadi rebutan!
"Tidak
ada kejahatan yang mendatangkan kebahagiaan." katanya lirih, didengarkan
oleh para perwira dalam ruangan istana itu. "Cepat atau lambat, hukum itu
pasti dating menuntut pelakunya. Hukuman akibat perbuatan jahat yang datang
selagi masih hidup, masih amat ringan dibandingkan dengan hukuman sebagai
akibat yang datang setelah pelakunya mati. Perbuatan jahat hanya mendatangkan
kesenangan lahiriah, kesenangan jasmani yang sifatnya fana. Sebaliknya
perbuatan yang baik akan mendatangkan kebahagiaan kekal walaupun mungkin di
waktu hidupnya si pelaku belum menikmati hasilnya." Semua yang
mendengarkan menundukkan kepala karena mereka semua yakin akan kebenaran ucapan
Ki Patih Narotama dan apa yang terjadi itu merupakan contoh dan pelajaran yang
baik sekali bagi mereka.
No comments:
Post a Comment