Namun Ki Patih Narotama sekali ini tidak dapat menikmati kemenangan yang telah dicapainya dengan menalukkan Wengker karena dia melihat demikian banyaknya korban manusia yang tewas oleh pertempuran dahsyat itu. Kerajaan Wengker merupakan lawan yang paling gigih selama operasi ini dan menimbulkan banyak korban, baik di pihak Wengker maupun di pihak Kahuripan. Selain itu, dia juga merasa prihatin karena kini tinggal Kerajaan Parang Siluman yang harus dia talukkan. Akan tetapi sampai sekarang belum juga ada berita tentang puteranya yang disandera para pimpinan Parang Siluman! Dia lalu mengumpulkan sisa pasukannya dan mengirim berita kepada Sang Prabu Erlangga di Kahuripan tentang Wengker yang sudah ditalukkan dan mohon kiriman pasukan bantuan untuk memperkuat pasukannya yang sudah berkurang banyak, menghadapi musuh terakhir, yaitu Parang Siluman.
Seorang pemuda
tampan melewati para prajurit yang berjaga di pintu gerbang Kota Raja Parang
Siluman. Seandainya Nurseta belum tertawan, tentu para penjaga itu akan merasa
curiga melihat pemuda tampan yang tidak dikenal sebagai penduduk Kota Raja
Parang Siluman itu. Akan tetapi Nurseta sudah tertawan, maka para penjaga
membiarkan pemuda tampan itu lewat tanpa curiga. Siapa yang mencurigai seorang
pemuda yang tampan, bertubuh kecil dan tampak lemah itu? Pemuda itu adalah
Puspa Dewi yang menyamar. Dengan menyamar sebagai seorang pemuda tampan dan
tampak masih remaja, ia dapat memasuki Parang Siluman dengan mudahnya. Puspa
Dewi bersikap seolah-olah ia seorang pemuda dusun yang baru pertama kali
melihat Kota Raja Parang Siluman. Ia memperlihatkan sikap terkagum-kagum dan
terheran-heran melihat bangunan kompleks istana yang besar, indah dan megah.
Tampaknya ia seorang pemuda dusun yang melihat-lihat istana dan mengaguminya,
padahal tentu saja ia mengelilingi perumahan istana itu untuk melakukan
penyelidikan dan untuk melihat apakah ada jalan masuk yang baik baginya. Ia harus
memasuki istana kalau ingin menemukan tempat disembunyikannya Joko Pekik putera
Ki Patih Narotama. Ia pun tidak tahu di mana adanya Nurseta yang lebih dulu
melakukan tugas menyelamatkan Joko Pekik. Apakah Nurseta sudah berhasil
memasuki istana? Entah sudah berapa kali ia mengelilingi istana sejak masuknya
ke kota raja pagi tadi. Hari sudah siang dan Puspa Dewi masih belum menemukan
jalan terbaik untuk memasuki kompleks istana. Tiba-tiba seorang laki-laki
berpakaian seorang perwira menghampirinya. Perwira itu berusia empat puluh
tahun lebih, wajahnya seperti tikus dan matanya tampak cerdik dan licik sekali.
Tubuhnya juga kurus, namun dia berjalan dengan dada diangkat dan dibusungkan
sehingga tampak lucu. Akan tetapi Puspa Dewi tidak memandang remeh dan ia sudah
siap menghadapi segala kemungkinan. Dengan wajah tenang dan sinar mata penuh
pertanyaan ia berhenti melangkah dan memandang perwira yang bergegas
menghampirinya itu. Kebetulan siang itu panas sekali dan di tempat mereka
bertemu ini agak sunyi, tidak banyak orang berlalu-lalang.
"Kisanak,
aku sejak tadi memperhatikanmu dan melihat betapa Andika sudah tiga kali lewat
di sini. Mengapa Andika berputar-putar mengelilingi istana?"
Diam-diam
Puspa Dewi terkejut akan kejelian mata orang ini. Akan tetapi ia bersikap
tenang dan menjawab dengan suara sungguh-sungguh..
"Baru
satu kali ini saya melihat bangunan istana yang begini indahnya. Saya senang
dan mengaguminya, tiada bosannya melihat sejak tadi. Apakah ini tidak boleh
Kisanak?"
"Hush!
Jangan aku sebut Kisanak. Namaku Raden Kaloka dan engkau harus menyebut aku
Raden Kaloka, aku perwira terkenal dari pasukan pengawal istana. Tahu?"
"Maaf,
Raden Kaloka."
"Nah,
sekarang jawab, siapa namamu?" tanya perwira itu dengan nada bangga dan
angkuh setelah dia disebut raden.
"Dari
mana asalmu?"
Puspa Dewi
memang sudah siap dengan nama dan tempat asalnya untuk menjaga kalau kalau ada
yang bertanya dan harus dijawab. Maka suaranya datar dan wajar ketika ia
menjawab.
"Nama
saya Sakri, saya tinggal di daerah Kadipaten Siluman Laut Kidul di pesisir.
Ketika tempat saya diserbu dan diduduki pasukan Kahuripan, saya melarikan diri
mengungsi dan hari ini tiba di sini untuk mencari pekerjaan."
"Hemm,
bagus! Kebetulan sekali, Sakri. Ada pekerjaan yang amat baik untukmu, engkau
akan hidup berbahagia sekali, berenang di lautan kenikmatan dan kemewahan,
maukah engkau kuberi pekerjaan itu?"
"Wah,
tentu saja mau, Raden! Pekerjaan apakah itu?"
"Pekerjaan
itu mudah dan menyenangkan, sama sekali tidak berat atau kotor. Bahkan engkau
akan selalu mengenakan pakaian yang indah dan bersih, tinggal di kamar yang
indahnya belum pernah engkau bayangkan dalam mimpi sekalipun."
"Wah,
Raden Kaloka, saya mau mendapatkan pekerjaan itu! Pekerjaan apakah itu?"
"Nanti
dulu, berapa usiamu sekarang?"
"Sekitar....
delapan belas tahun."
"Engkau
masih perjaka?"
Wajah
"pemuda" itu menjadi kemerahan, akan tetapi Puspa Dewi mengangguk dan
menjawab sambil tersenyum.
"Tentu
saja saya masih perjaka, Raden."
"Bagus,
itulah yang mereka inginkan. Perjaka tulen, tampan, sikapnya lembut, kulitnya
halus bersih. Wah, engkau akan memenuhi selera mereka dan akan menjadi anak
emas, Sakri!" Perwira Itu tampak gembira sekali, menggosok-gosok kedua
tangannya.
"Akan
tetapi, aku mau memberi pekerjaan itu asalkan engkau mau berjanji bahwa segala
yang kau terima dari mereka, akan kauberikan kepadaku separuhnya. Bagaimana,
setuju?"
"Saya
setuju, Raden. Akan tetapi siapakah mereka itu dan pekerjaan apa yang harus
saya lakukan?"
"Engkau
harus bersumpah dulu akan membagi penghasilanmu dengan aku, masing-masing
separuh."
"Aku
bersumpah!" kata Puspa Dewi dengan suara meyakinkah karena ia ingin sekali
mengetahui pekerjaan apa yang ditawarkan perwira ini. Siapa tahu pekerjaan itu
akan memungkinkan ia melaksanakan tugasnya membantu Nurseta untuk membebaskan
Joko Pekik.
"Bagus,
nah, sekarang dengarlah baik-baik. Engkau akan kuantar dan kuserahkan kepada
dua orang puteri yang cantik seperti bidadari, yaitu bukan lain kedua orang
puteri istana, Puteri Lasmini dan Puteri Mandari."
Puspa Dewi tak
dapat menahan kegembiraan hatinya yang terpancar pada wajah dan sinar matanya.
"Ahhh...l
Apa maksudmu, Raden? Kenapa saya akan diserahkan kepada mereka? Apa yang harus
saya kerjakan di sana?"
"Ha-ha-hal
Engkau benar-benar masih hijau! Seorang perjaka ting-ting (tulen)! Mereka akan
senang sekali menerimamu! Engkau akan bekerja di istana, menjadi pelayan dua
orang puteri itu, menjadi penghiburnya, menjadi kekasih mereka dan engkau taati
saja semua perintahnya yang pasti akan menyenangkan hatimu, menikmatkan tubuhmu
dan engkau akan berenang dalam kemewahan, bahkan kekuasaan karena sebagai
kekasih dua orang puteri itu, tidak ada seorang pun berani mengganggumu.
Bagaimana?"
Tentu saja
Puspa Dewi girang bukan main. Ia akan dimasukkan istana! Tentu saja hal ini akan
memudahkan tugasnya menyelidiki di mana adanya Joko Pekik! Akan tetapi bulu
tengkuknya meremang ketika ia membayangkan bahwa dirinya harus melayani dua
orang puteri itu. Pelayanan apalagi kalau bukan bercumbu-rayu kalau ia akan
dijadikan kekasih mereka? Huh! Andaikata ia benar-benar seorang pemuda
sekalipun, ia merasa ngeri dengan janji pekerjaan macam itu! Apalagi ia seorang
wanita! Tentu penyamarannya akan ketahuan dan keselamatannya terancam berat!
"Wah,
saya... saya takut, Raden! Bagaimana mungkin saya dapat diterima di dalam
istana kedua orang Gusti Puteri itu? Andika sendiri pun mungkin akan mendapat
marah besar dan menerima hukuman karena lancang membawa saya ke sana. Kita
berdua akan dihukum berat. Saya takut, Raden Kaloka!"
"Ha-ha-ha,
jangan takut, Sakri. Dua orang Gusti Puteri itu tidak akan marah kepadaku,
malah mereka akan senang sekali. Kau tahu, akulah satu-satunya perwira pasukan
pengawal istana yang mendapatkan kepercayaan dari mereka berdua. Hanya aku yang
berhak membawakan pemuda-pemuda tampan yang menjadi penghibur mereka. Sudah
sering aku membawa pemuda-pemuda tampan kepada mereka, akan tetapi rasanya
belum pernah ada yang seperti engkau. Engkau pasti akan sangat menyenangkan
hati mereka dan ini merupakan keuntungan kita berdua, Sakri."
Puspa Dewi
melihat kesempatan baik sekali. Ia sengaja memperlihatkan keraguan, lalu
berkata.
"Tentu
saja saya akan senang sekali mendapatkan pekerjaan itu, Raden Kaloka. Akan
tetapi, agar aku dapat bekerja dengan baik dan dapat memuaskan hati kedua orang
Gusti Puteri, maka saya perlu mempelajari tentang keadaan dan kebiasaan dalam
istana, terutama tentang keadaan dua orang puteri itu. Kalau saya tidak tahu
apa-apa, saya akan tampak bodoh sekali dan saya takut melakukan apa-apa."
"Tentu
saja! Juga engkau harus berganti pakaian yang bersih dan indah agar tampak
tampan dan menarik sekali. Mari kita pergi ke rumahku yang khusus kupergunakan
untuk mempersiapkan para pemuda calon pelayan Gusti Puteri Lasmini dan Gusti
Puteri Mandari."
Puspa Dewi
mengikuti perwira itu dan ternyata rumah milik perwira itu adalah sebuah rumah
hanya ditunggu dan dijaga seorang pelayan laki-iaki tua dan di rumah itu
tersedia pakaian pemuda yang banyak dan serba indah.
Puspa Dewi
disuruh keramas dah mandi sampai bersih, lalu diberi pakaian baru yang indah.
Setelah ia mempersiapkan diri, kini menjadi seorang pemuda yang benar-benar
amat tampan menarik, Kaloka yang sebetulnya bukan raden dan bukan keturunan
bangsawan itu, lalu memberi keterangan sejelasnya tentang kebiasaan dua orang puteri
itu. Dengan cerdik Puspa Dewi memancing dalam pembicaraan itu sehingga Kaloka
menceritakan segalanya. Bahkan dia menceritakan pula betapa Puteri Lasmini dan
Puteri Mandari sedang kecewa, penasaran dan membutuhkan penghibur karena mereka
berdua dikecewakan seorang pemuda yang ditawan akan tetapi pemuda itu menolak
untuk menjadi kekasih mereka!
Biarpun
jantungnya berdebar, namun Puspa Dewi bertanya secara sambil-lalu dan acuh tak
acuh.
"Hemm,
Andika bilang bahwa dua orang puteri cantik seperti bidadari. Akan tetapi
mengapa seorang pemuda tawanan menolak mereka."
"Hemm,
engkau mana tahu? Tawanan itu bukan sembarang orang. Dia adalah Nurseta, jagoan
muda dari Kahuripan yang terkenal itu!"
Puspa Dewi
tidak mengejar lebih lanjut mengenai Nurseta yang menjadi tawanan agar tidak
mendatangkan kecurigaan. Sebaliknya ia memancing agar perwira itu menceritakan
lebih jelas keadaan dalam istana, ruangan-ruangannya, lorong-lorong dan
taman-tamannya. Ia mencatat dan menggambar dalam hatinya keadaan di dalam
istana itu. Bahkan tanpa curiga sedikit pun Kaloka menceritakan di mana adanya
tempat tahanan istana dengan jelas. Menjelang senja, setelah sinar matahari
melembut karena Raja Siang itu sudah bersembunyi di balik bukit barat, Puspa
Dewi mengikuti Kaloka pergi ke istana Parang Siluman. Kaloka memang tadi
menanti sampai cuaca remang-remang karena biarpun dia merupakan orang
kepercayaan kedua orang puteri untuk mencarikan pemuda-pemuda tampan sebagal
penghibur, namun dia masih merasa sungkan kepada para petugas lain. Karena itu,
dia tidak ingin tampak mencolok kalau membawa pemuda tampan memasuki istana
walaupun tentu saja tidak akan ada prajurit pengawal atau orang lain berani
melarangnya.
Begitu
memasuki perumahan istana yang luas itu, dia membawa "Sakri" memasuki
taman bunga yang luas karena dia akan langsung menuju ke keputren yang letaknya
di bagian belakang kompleks bangunan istana. Taman yang luas itu menyambung ke
daerah keputren, dan malam itu kebetulan gelap dan sunyi karena angin malam
bertiup kencang sehingga hawanya amat dingin. Ketika mereka tiba di tengah
taman di mana tumbuh banyak pohon pisang emas, Puspa Dewi melihat keadaan
disitu amat sunyi. Cepat ia menggerakkan tangan kirinya. Jari-jari tangan yang
lentik itu menyambar tengkuk dan Kaloka mengeluh lalu terguling, tubuhnya
terasa lumpuh!
"Diam!"
Puspa Dewi
menghardik sambil berjongkok dan mencengkeram leher perwira itu.
"Hayo
katakan di mana putera Ki Patih Narotama disembunyikan!"
Kaloka
ketakutan. Baru dia menyadari bahwa "pemuda" ini adalah seorang sakti,
agaknya utusan Ki Patih Narotama mencari puteranya yang ditawan di Parang
Siluman.
"Aku....
aku... tidak tahu..."
"Jangan
bohong!" Puspa Dewi memperkuat cekikannya.
"Hayo
mengaku, di ruangan mana anak itu ditahan!"
"Tidak...
sungguh mati.... tidak disimpan di istana... telah dibawa keluar... akan tetapi
entah di mana... karena dirahasiakan...."
Puspa Dewi
teringat akan cerita Kaloka tentang Nurseta. Sebaiknya menolong Nurseta lebih
dulu lalu bersama-sama nanti mencari Joko Pekik, pikirnya. Ia lalu bangkit
berdiri dan menggerakkan tangan ke arah dada Kaloka tanpa menyentuhnya. Akan
tetapi perwira itu terkulai dan tewas seketika karena dia telah terkena pukulan
jarak jauh yang amat ampuh. Puspa Dewi terpaksa membunuhnya karena kalau tidak
dibunuh, Kaloka merupakan bahaya besar bagi dirinya, Nurseta, dan mungkin Joko
Pekik.
No comments:
Post a Comment