Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 82


Namun Ki Patih Narotama sekali ini tidak dapat menikmati kemenangan yang telah dicapainya dengan menalukkan Wengker karena dia melihat demikian banyaknya korban manusia yang tewas oleh pertempuran dahsyat itu. Kerajaan Wengker merupakan lawan yang paling gigih selama operasi ini dan menimbulkan banyak korban, baik di pihak Wengker maupun di pihak Kahuripan. Selain itu, dia juga merasa prihatin karena kini tinggal Kerajaan Parang Siluman yang harus dia talukkan. Akan tetapi sampai sekarang belum juga ada berita tentang puteranya yang disandera para pimpinan Parang Siluman! Dia lalu mengumpulkan sisa pasukannya dan mengirim berita kepada Sang Prabu Erlangga di Kahuripan tentang Wengker yang sudah ditalukkan dan mohon kiriman pasukan bantuan untuk memperkuat pasukannya yang sudah berkurang banyak, menghadapi musuh terakhir, yaitu Parang Siluman.

Seorang pemuda tampan melewati para prajurit yang berjaga di pintu gerbang Kota Raja Parang Siluman. Seandainya Nurseta belum tertawan, tentu para penjaga itu akan merasa curiga melihat pemuda tampan yang tidak dikenal sebagai penduduk Kota Raja Parang Siluman itu. Akan tetapi Nurseta sudah tertawan, maka para penjaga membiarkan pemuda tampan itu lewat tanpa curiga. Siapa yang mencurigai seorang pemuda yang tampan, bertubuh kecil dan tampak lemah itu? Pemuda itu adalah Puspa Dewi yang menyamar. Dengan menyamar sebagai seorang pemuda tampan dan tampak masih remaja, ia dapat memasuki Parang Siluman dengan mudahnya. Puspa Dewi bersikap seolah-olah ia seorang pemuda dusun yang baru pertama kali melihat Kota Raja Parang Siluman. Ia memperlihatkan sikap terkagum-kagum dan terheran-heran melihat bangunan kompleks istana yang besar, indah dan megah. Tampaknya ia seorang pemuda dusun yang melihat-lihat istana dan mengaguminya, padahal tentu saja ia mengelilingi perumahan istana itu untuk melakukan penyelidikan dan untuk melihat apakah ada jalan masuk yang baik baginya. Ia harus memasuki istana kalau ingin menemukan tempat disembunyikannya Joko Pekik putera Ki Patih Narotama. Ia pun tidak tahu di mana adanya Nurseta yang lebih dulu melakukan tugas menyelamatkan Joko Pekik. Apakah Nurseta sudah berhasil memasuki istana? Entah sudah berapa kali ia mengelilingi istana sejak masuknya ke kota raja pagi tadi. Hari sudah siang dan Puspa Dewi masih belum menemukan jalan terbaik untuk memasuki kompleks istana. Tiba-tiba seorang laki-laki berpakaian seorang perwira menghampirinya. Perwira itu berusia empat puluh tahun lebih, wajahnya seperti tikus dan matanya tampak cerdik dan licik sekali. Tubuhnya juga kurus, namun dia berjalan dengan dada diangkat dan dibusungkan sehingga tampak lucu. Akan tetapi Puspa Dewi tidak memandang remeh dan ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Dengan wajah tenang dan sinar mata penuh pertanyaan ia berhenti melangkah dan memandang perwira yang bergegas menghampirinya itu. Kebetulan siang itu panas sekali dan di tempat mereka bertemu ini agak sunyi, tidak banyak orang berlalu-lalang.
"Kisanak, aku sejak tadi memperhatikanmu dan melihat betapa Andika sudah tiga kali lewat di sini. Mengapa Andika berputar-putar mengelilingi istana?"
Diam-diam Puspa Dewi terkejut akan kejelian mata orang ini. Akan tetapi ia bersikap tenang dan menjawab dengan suara sungguh-sungguh..
"Baru satu kali ini saya melihat bangunan istana yang begini indahnya. Saya senang dan mengaguminya, tiada bosannya melihat sejak tadi. Apakah ini tidak boleh Kisanak?"
"Hush! Jangan aku sebut Kisanak. Namaku Raden Kaloka dan engkau harus menyebut aku Raden Kaloka, aku perwira terkenal dari pasukan pengawal istana. Tahu?"
"Maaf, Raden Kaloka."
"Nah, sekarang jawab, siapa namamu?" tanya perwira itu dengan nada bangga dan angkuh setelah dia disebut raden.
"Dari mana asalmu?"
Puspa Dewi memang sudah siap dengan nama dan tempat asalnya untuk menjaga kalau kalau ada yang bertanya dan harus dijawab. Maka suaranya datar dan wajar ketika ia menjawab.
"Nama saya Sakri, saya tinggal di daerah Kadipaten Siluman Laut Kidul di pesisir. Ketika tempat saya diserbu dan diduduki pasukan Kahuripan, saya melarikan diri mengungsi dan hari ini tiba di sini untuk mencari pekerjaan."
"Hemm, bagus! Kebetulan sekali, Sakri. Ada pekerjaan yang amat baik untukmu, engkau akan hidup berbahagia sekali, berenang di lautan kenikmatan dan kemewahan, maukah engkau kuberi pekerjaan itu?"
"Wah, tentu saja mau, Raden! Pekerjaan apakah itu?"
"Pekerjaan itu mudah dan menyenangkan, sama sekali tidak berat atau kotor. Bahkan engkau akan selalu mengenakan pakaian yang indah dan bersih, tinggal di kamar yang indahnya belum pernah engkau bayangkan dalam mimpi sekalipun."
"Wah, Raden Kaloka, saya mau mendapatkan pekerjaan itu! Pekerjaan apakah itu?"
"Nanti dulu, berapa usiamu sekarang?"
"Sekitar.... delapan belas tahun."
"Engkau masih perjaka?"

Wajah "pemuda" itu menjadi kemerahan, akan tetapi Puspa Dewi mengangguk dan menjawab sambil tersenyum.
"Tentu saja saya masih perjaka, Raden."
"Bagus, itulah yang mereka inginkan. Perjaka tulen, tampan, sikapnya lembut, kulitnya halus bersih. Wah, engkau akan memenuhi selera mereka dan akan menjadi anak emas, Sakri!" Perwira Itu tampak gembira sekali, menggosok-gosok kedua tangannya.
"Akan tetapi, aku mau memberi pekerjaan itu asalkan engkau mau berjanji bahwa segala yang kau terima dari mereka, akan kauberikan kepadaku separuhnya. Bagaimana, setuju?"
"Saya setuju, Raden. Akan tetapi siapakah mereka itu dan pekerjaan apa yang harus saya lakukan?"
"Engkau harus bersumpah dulu akan membagi penghasilanmu dengan aku, masing-masing separuh."
"Aku bersumpah!" kata Puspa Dewi dengan suara meyakinkah karena ia ingin sekali mengetahui pekerjaan apa yang ditawarkan perwira ini. Siapa tahu pekerjaan itu akan memungkinkan ia melaksanakan tugasnya membantu Nurseta untuk membebaskan Joko Pekik.
"Bagus, nah, sekarang dengarlah baik-baik. Engkau akan kuantar dan kuserahkan kepada dua orang puteri yang cantik seperti bidadari, yaitu bukan lain kedua orang puteri istana, Puteri Lasmini dan Puteri Mandari."
Puspa Dewi tak dapat menahan kegembiraan hatinya yang terpancar pada wajah dan sinar matanya.
"Ahhh...l Apa maksudmu, Raden? Kenapa saya akan diserahkan kepada mereka? Apa yang harus saya kerjakan di sana?"
"Ha-ha-hal Engkau benar-benar masih hijau! Seorang perjaka ting-ting (tulen)! Mereka akan senang sekali menerimamu! Engkau akan bekerja di istana, menjadi pelayan dua orang puteri itu, menjadi penghiburnya, menjadi kekasih mereka dan engkau taati saja semua perintahnya yang pasti akan menyenangkan hatimu, menikmatkan tubuhmu dan engkau akan berenang dalam kemewahan, bahkan kekuasaan karena sebagai kekasih dua orang puteri itu, tidak ada seorang pun berani mengganggumu. Bagaimana?"
Tentu saja Puspa Dewi girang bukan main. Ia akan dimasukkan istana! Tentu saja hal ini akan memudahkan tugasnya menyelidiki di mana adanya Joko Pekik! Akan tetapi bulu tengkuknya meremang ketika ia membayangkan bahwa dirinya harus melayani dua orang puteri itu. Pelayanan apalagi kalau bukan bercumbu-rayu kalau ia akan dijadikan kekasih mereka? Huh! Andaikata ia benar-benar seorang pemuda sekalipun, ia merasa ngeri dengan janji pekerjaan macam itu! Apalagi ia seorang wanita! Tentu penyamarannya akan ketahuan dan keselamatannya terancam berat!
"Wah, saya... saya takut, Raden! Bagaimana mungkin saya dapat diterima di dalam istana kedua orang Gusti Puteri itu? Andika sendiri pun mungkin akan mendapat marah besar dan menerima hukuman karena lancang membawa saya ke sana. Kita berdua akan dihukum berat. Saya takut, Raden Kaloka!"
"Ha-ha-ha, jangan takut, Sakri. Dua orang Gusti Puteri itu tidak akan marah kepadaku, malah mereka akan senang sekali. Kau tahu, akulah satu-satunya perwira pasukan pengawal istana yang mendapatkan kepercayaan dari mereka berdua. Hanya aku yang berhak membawakan pemuda-pemuda tampan yang menjadi penghibur mereka. Sudah sering aku membawa pemuda-pemuda tampan kepada mereka, akan tetapi rasanya belum pernah ada yang seperti engkau. Engkau pasti akan sangat menyenangkan hati mereka dan ini merupakan keuntungan kita berdua, Sakri."
Puspa Dewi melihat kesempatan baik sekali. Ia sengaja memperlihatkan keraguan, lalu berkata.
"Tentu saja saya akan senang sekali mendapatkan pekerjaan itu, Raden Kaloka. Akan tetapi, agar aku dapat bekerja dengan baik dan dapat memuaskan hati kedua orang Gusti Puteri, maka saya perlu mempelajari tentang keadaan dan kebiasaan dalam istana, terutama tentang keadaan dua orang puteri itu. Kalau saya tidak tahu apa-apa, saya akan tampak bodoh sekali dan saya takut melakukan apa-apa."
"Tentu saja! Juga engkau harus berganti pakaian yang bersih dan indah agar tampak tampan dan menarik sekali. Mari kita pergi ke rumahku yang khusus kupergunakan untuk mempersiapkan para pemuda calon pelayan Gusti Puteri Lasmini dan Gusti Puteri Mandari."
Puspa Dewi mengikuti perwira itu dan ternyata rumah milik perwira itu adalah sebuah rumah hanya ditunggu dan dijaga seorang pelayan laki-iaki tua dan di rumah itu tersedia pakaian pemuda yang banyak dan serba indah.

Puspa Dewi disuruh keramas dah mandi sampai bersih, lalu diberi pakaian baru yang indah. Setelah ia mempersiapkan diri, kini menjadi seorang pemuda yang benar-benar amat tampan menarik, Kaloka yang sebetulnya bukan raden dan bukan keturunan bangsawan itu, lalu memberi keterangan sejelasnya tentang kebiasaan dua orang puteri itu. Dengan cerdik Puspa Dewi memancing dalam pembicaraan itu sehingga Kaloka menceritakan segalanya. Bahkan dia menceritakan pula betapa Puteri Lasmini dan Puteri Mandari sedang kecewa, penasaran dan membutuhkan penghibur karena mereka berdua dikecewakan seorang pemuda yang ditawan akan tetapi pemuda itu menolak untuk menjadi kekasih mereka!
Biarpun jantungnya berdebar, namun Puspa Dewi bertanya secara sambil-lalu dan acuh tak acuh.
"Hemm, Andika bilang bahwa dua orang puteri cantik seperti bidadari. Akan tetapi mengapa seorang pemuda tawanan menolak mereka."
"Hemm, engkau mana tahu? Tawanan itu bukan sembarang orang. Dia adalah Nurseta, jagoan muda dari Kahuripan yang terkenal itu!"
Puspa Dewi tidak mengejar lebih lanjut mengenai Nurseta yang menjadi tawanan agar tidak mendatangkan kecurigaan. Sebaliknya ia memancing agar perwira itu menceritakan lebih jelas keadaan dalam istana, ruangan-ruangannya, lorong-lorong dan taman-tamannya. Ia mencatat dan menggambar dalam hatinya keadaan di dalam istana itu. Bahkan tanpa curiga sedikit pun Kaloka menceritakan di mana adanya tempat tahanan istana dengan jelas. Menjelang senja, setelah sinar matahari melembut karena Raja Siang itu sudah bersembunyi di balik bukit barat, Puspa Dewi mengikuti Kaloka pergi ke istana Parang Siluman. Kaloka memang tadi menanti sampai cuaca remang-remang karena biarpun dia merupakan orang kepercayaan kedua orang puteri untuk mencarikan pemuda-pemuda tampan sebagal penghibur, namun dia masih merasa sungkan kepada para petugas lain. Karena itu, dia tidak ingin tampak mencolok kalau membawa pemuda tampan memasuki istana walaupun tentu saja tidak akan ada prajurit pengawal atau orang lain berani melarangnya.
Begitu memasuki perumahan istana yang luas itu, dia membawa "Sakri" memasuki taman bunga yang luas karena dia akan langsung menuju ke keputren yang letaknya di bagian belakang kompleks bangunan istana. Taman yang luas itu menyambung ke daerah keputren, dan malam itu kebetulan gelap dan sunyi karena angin malam bertiup kencang sehingga hawanya amat dingin. Ketika mereka tiba di tengah taman di mana tumbuh banyak pohon pisang emas, Puspa Dewi melihat keadaan disitu amat sunyi. Cepat ia menggerakkan tangan kirinya. Jari-jari tangan yang lentik itu menyambar tengkuk dan Kaloka mengeluh lalu terguling, tubuhnya terasa lumpuh!
"Diam!"
Puspa Dewi menghardik sambil berjongkok dan mencengkeram leher perwira itu.
"Hayo katakan di mana putera Ki Patih Narotama disembunyikan!"
Kaloka ketakutan. Baru dia menyadari bahwa "pemuda" ini adalah seorang sakti, agaknya utusan Ki Patih Narotama mencari puteranya yang ditawan di Parang Siluman.
"Aku.... aku... tidak tahu..."
"Jangan bohong!" Puspa Dewi memperkuat cekikannya.
"Hayo mengaku, di ruangan mana anak itu ditahan!"
"Tidak... sungguh mati.... tidak disimpan di istana... telah dibawa keluar... akan tetapi entah di mana... karena dirahasiakan...."

Puspa Dewi teringat akan cerita Kaloka tentang Nurseta. Sebaiknya menolong Nurseta lebih dulu lalu bersama-sama nanti mencari Joko Pekik, pikirnya. Ia lalu bangkit berdiri dan menggerakkan tangan ke arah dada Kaloka tanpa menyentuhnya. Akan tetapi perwira itu terkulai dan tewas seketika karena dia telah terkena pukulan jarak jauh yang amat ampuh. Puspa Dewi terpaksa membunuhnya karena kalau tidak dibunuh, Kaloka merupakan bahaya besar bagi dirinya, Nurseta, dan mungkin Joko Pekik.

<<< Bagian 81                                                                                         Bagian 83 >>>

No comments:

Post a Comment