Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 83


Kaloka dapat menggagalkan kesemuanya kalau sampai dapat sadar dan menceritakan tentang sepak terjangnya kepada para pimpinan Parang Siluman. Setelah menewaskan Kaloka, Puspa Dewi cepat menyusupkan mayat perwira itu ke dalam semak yang tumbuh di situ, kemudian ia segera mencari tempat tahanan yang sudah ia ketahui dari keterangan Kaloka tadi. Ia melihat sebuah ruangan yang terang dan terdengar suara beberapa orang bercakap-cakap. Ia mengintai dan melihat para pimpinan Parang Siluman sedang mengadakan rapat pertemuan dalam ruangan itu. Tampak Ratu Durgamala, Lasmini, Mandari, Ki Nagakumala, dan beberapa orang senopati. Melihat ini, Puspa Dewi cepat menyelinap pergi. Kebetulan sekali, pikirnya. Para pimpinan yang sakti mandraguna berkumpul di ruangan itu sehingga ia dapat bergerak lebih bebas. Tak lama kemudian, Puspa Dewi sudah berada di luar tempat tahanan. Ia melihat tiga orang menjaga di depan pintu besi di mana Nurseta tampak duduk bersila, dan di sekeliling rumah tahanan itu masih ada belasan orang prajurit yang melakukan penjagaan. Terlalu banyak penjaga, pikirnya. Kalau ia menggunakan kekerasan merobohkan mereka, sebelum mereka semua dapat ia robohkan, tentu ada yang berteriak dan ia akan gagal karena harus menghadapi semua tokoh sakti tadi, ditambah pasukan yang ribuan orang banyaknya! Puspa Dewi segera melompat ke atas dan ternyata di atap tempat tahanan itu tidak terjaga orang. Ia membuka atap sehingga berlubang dan dari atas ia dapat melihat Nurseta yang bersila di atas lantai. Puspa Dewi lalu mengerahkan tenaga saktinya dan berbisik dari atas.
"Nurseta...., mengapa engkau tidak segera meloloskan diri? Ini aku... Puspa Dewi....!"
Bisikan ini tidak dapat terdengar oleh orang lain karena hanya merupakan bisikan lirih, namun digetarkan oleh tenaga sakti dan "dikirim" langsung ke arah Nurseta sehingga hanya pemuda ini yang dapat menangkapnya.
Mendengar ini, Nurseta maklum bahwa gadis perkasa itu telah datang hendak menolongnya dan berada di atas atap. Akan tetapi untuk menjawab dengan bisikan yang sama, dia tidak dapat karena begitu mengerahkan tenaga saktinya, racun dalam tubuhnya akan menyerangnya dan dapat menewaskannya. Dia maklum akan keheranan Puspa Dewi. Tentu saja gadis itu merasa heran mengapa dia diam saja dijadikan tawanan, tidak cepat membebaskan diri. Gadis itu tentu saja tidak tahu akan keadaan tubuhnya yang terancam maut oleh racun yang jahat sekali. Dia memperoleh akal lalu berkata-kata dengan suara bisikan, cukup lantang sehingga terdengar oleh Puspa Dewi yang berada di atas atap, juga oleh para penjaga yang berada di luar pintu kamar tahanan Itu.
"Hel, Kisanak yang menjaga di luar." dia memanggil.
Dua muka orang tampak di antara terali pintu kamar itu.
"Andika mau apa?" tanya seorang di antara mereka.
"Tolonglah Andika pergi ke kamar Gusti Puteri Lasmini dan sampaikan permintaanku agar tongkat hitam milikku dikembalikan padaku. Tanpa adanya tongkat hitamku itu, aku akan mati di sini."
Dua orang penjaga itu tertawa.
"Ha-ha, Nurseta. Engkau sungguh manusia rewel dan tak tahu diri. Gusti Puteri sudah memerintahkan agar kami memperlakukanmu baik-baik, menghidangkan makanan yang enak-enak dan tidak menganggumu. Sekarang engkau malah minta yang bukan-bukan. Mana kami berani mengganggu Gusti Puteri dengan permintaanmu itu!"
Puspa Dewi terkejut dan merasa heran sekali mendengar ucapan Nurseta. Mengapa pemuda itu tidak menjawab pertanyaannya melalui suara yang didorong tenaga sakti? Ia memandang dan melihat Nurseta menggunakan kedua tangan menekan ke arah dada lalu mengembangkan kedua tangan dengan gerakan seorang yang tidak berdaya. Lalu jari telunjuknya membuat gerakan menggores ke atas lantai. Puspa Dewi memperhatikan. Ternyata Nurseta membuat gerakan menulis dan ia memperhatikan dengan seksama.
"Pusaka Tunggul Manik." demikian bunyi tulisan itu.

Seketika Puspa Dewi maklum. Dia mendengar akan tongkat pusaka hitam bernama Tunggul Manik itu. Itu adalah tongkat pusaka milik Ki Patih Narotama yang ampuh dan kabarnya dapat menolak segala macam racun. Nurseta membutuhkan tongkat itu yang berarti bahwa dia keracunan hebat. Pantas saja tidak mampu menjawab pertanyaannya dengan suara yang dikerahkan tenaga sakti. Dan tongkat itu berada di kamar Lasmini! Agaknya tongkat itu tadinya dibawa Nurseta, kemudian dirampas Lasmini. Gadis yang cerdik ini segera mengetahui maksud Nurseta. Ia harus mencari tongkat itu untuk menyembuhkan Nurseta yang keracunan sehingga tidak berdaya meloloskan diri! Cepat ia berkelebat dan pergi mencari kamar tidur Lasmini. Untung Puspa Dewi sudah mendapatkan gambaran yang jelas dari Kaloka tentang kamar-kamar dan ruangan di istana itu sehingga tidak sukar baginya untuk dapat menemukan kamar tidur Puteri Lasmini. Sekitar kamar mewah itu sepi, tidak ada prajurit pengawal yang berjaga. Hal ini dapat dimaklumi karena Lasmini adalah seorang wanita yang sakti, maka tentu saja ia tidak membutuhkan pengawalan para prajurit. Selain itu, puteri yang suka menerima pemuda di dalam kamarnya, tidak ingin ada orang lain mendekati kamarnya dan mengganggu kesenangannya. Maka kamar itu pun sepi dari penjagaan sehingga memudahkan Puspa Dewi untuk memasukinya. Dengan girang ia dapat menemukan tongkat pusaka hitam itu dan cepat ia membawa tongkat itu kembali ke atas atap kamar tahanan Nurseta.
"Nurseta, Tunggul Manik sudah kudapatkan!" Ia berbisik melalui lubang di atap.
Nurseta bersikap tetap tenang walaupun hatinya merasa girang sekali. Ia lalu menulis lagi di atas lantai dengan goresan ujung jarinya, diperhatikan dan dibaca oleh Puspa Dewi dari atas.
"Kerik Tunggul Manik dan lemparkan bubuk kerikannya ke bawah." demikian bunyi tulisan yang dilakukan satu demi satu dan perlahan-lahan sehingga Puspa Dewi dapat mengikuti dan membacanya. Setelah mengetahui maksudnya, Puspa Dewi segera mengambil patrem (keris kecil) Sang Cundrik Arum pemberian Erlangga dan menggunakan senjata pusaka kecil itu untuk mengerik tongkat kayu hitam itu. Untung ia memiliki Cundrik Arum, kalau tidak, akan sulit sekali untuk dapat mengerik tongkat pusaka yang amat kuat itu. Akan tetapi Sang Cundrik Arum juga merupakan pusaka ampuh, maka ia dapat mengerik tongkat hitam itu. Ia membungkus bubuk kerikan hitam itu dengan ujung sabuk yang dipotongnya, lalu ia melemparkan bungkusan itu ke bawah. Lemparannya tepat mengenai pangkuan Nurseta yang segera mengambilnya. Dengan tenang Nurseta bangkit berdiri dan menghampiri bangku di sudut ruangan dekat pintu di mana para penjaga selalu menyediakan tempat air minum dan cawannya. Nurseta menuangkan bubuk hitam ke dalam cawan lalu diisi air minum dan diminumnya. Dua orang pengawal yang mendengar gerakannya, menjenguk dari balik terali akan tetapi melihat Nurseta hanya mengambil air minum, mereka duduk kembali sambil mengobrol melewatkan malam. Nurseta kembali duduk bersila dan dia merasa betapa pengaruh obat bubuk tongkat sakti itu mulai bekerja. Ada hawa panas muncul dari dalam perutnya, menjalar ke seluruh tubuh dan tulang-tulangnya, pada buku-buku dan sambungan, mengeluarkan bunyi berkerotokan!

Puspa Dewi melihat dari atas dan ia maklum bahwa setelah minum bubuk kerikan tongkat itu kini Nurseta sedang mengumpulkan hawa murni untuk membantu bekerjanya obat itu. Ia menanti dengan sabar dan penuh harapan. Beberapa lama lewat dengan menegangkan. Tiba-tiba Puspa Dewi mendengar suara bisikan.
"Dewi, terima kasih. Sekarang aku siap meloloskan diri. Bantulah dari luar!"
"Baik, Nurseta!"
Puspa Dewi gembira sekali karena kini Nurseta bicara melalui pengerahan tenaga sakti, berarti kesehatan pemuda itu telah pulih! Ia lalu berkelebat turun dan memasuki lorong menuju kamar tahanan itu. Begitu masuk, empat orang perajurit penjaga menyambutnya dengan bentakan dan ketika mereka melihat Puspa Dewi sebagai seorang pemuda yang tidak mereka kenal, mereka segera menyerang dengan golok mereka.
Akan tetapi begitu Puspa Dewi menggerakkan kaki tangannya, empat orang itu terpelanting roboh. Puspa Dewi berlari masuk dan tiga orang penjaga di luar pintu besi kamar tahanan itu pun sudah roboh terpukul oleh Nurseta yang menggunakan pukulan jarak jauh.
Melihat munculnya Puspa Dewi, Nurseta terbelalak. Penerangan di situ memang tidak cukup maka dia tidak mengenal pemuda yang berada di luar pintu tahanan itu.
"Siapakah Andika...?" Nurseta bertanya.
Puspa Dewi tertawa.
"Hi-hik, engkau juga tidak mengenalku?"
"Puspa Dewi...!"
"Husssh, mari kita buka pintu besi ini!" Mereka lalu menggabungkan tenaga sakti mereka. Nurseta menarik dan Puspa Dewi mendorong. Jebollah pintu itu dan terbuka ke sebelah dalam. Nurseta melompat keluar.
"Nih, pusakamu!" Puspa Dewi menyerahkan tongkat pusaka Tunggul Manik itu kepada Nurseta.
"Terima kasih, Dewi!"
"Nanti saja terima kasihnya. Masih banyak yang harus kita lakukan."
Pada saat itu, dari luar belasan orang perajurit berlari masuk menyerbu dua orang itu. Nurseta dan Puspa Dewi menerjang ke depan. Dengan mudah mereka merobohkan prajurit yang berani menghadang. Sebentar saja mereka sudah berlari keluar dari rumah tahanan.
"Mari kita keluar dulu dari tempat ini!" kata Nurseta.
"Akan tetapi, kita harus mencari Joko Pekik!"
"Tidak ada di sini! Mari kita pergi cepat!" kata Nurseta.

Sudah terdengar kentungan tanda bahaya ditabuh orang. Mereka berkelebat lewat taman dan sebentar saja mereka sudah keluar dari dinding yang mengelilingi kompleks istana. Begitu melompat turun keluar dinding istana, beberapa sosok bayangan berkelebat dan terdengar seruan berbisik.
"Cepat, Andika berdua ikuti kami!"
"Witarto...!" Seru Nurseta yang mengenal suara telik sandi Kahuripan itu.
Puspa Dewi yang tadinya sudah siap siaga hilang kecurigaannya dan bersama Nurseta ia berlari mengikuti bayangan tiga orang itu. Mereka menuju ke sebuah rumah bilik di daerah pinggiran kota raja, daerah yang sepi karena itu merupakan persawahan. Dalam rumah itu terdapat sepuluh orang laki-laki. Mereka adalah para telik sandi Kahuripan yang sudah lama menyusup dan bertugas di Parang Siluman, dipimpin oleh Witarto yang biarpun usianya baru dua puluh dua tahun, namun terkenal cerdik dan memiliki keahlian menyamar.
"Wah, beruntung sekali Andika dapat melepaskan diri, Denmas Nurseta. Kami semua sudah menjadi gelisah sekali mendengar bahwa Andika tertawan dan tidak tahu bagaimana harus menolong karena istana terkepung penjagaan yang amat ketat. Siapakah Kisanak ini?" Witarto menunjuk ke arah Puspa Dewi.
Nurseta tersenyum.
"Ia yang telah menolong dan membebaskanku. Andika sebagai ahli penyamaran benar-benar tidak mengenalnya, Witarto?"
"Nanti dulu...!" Witarto mengambil lampu dari atas meja dan mendekat Puspa Dewi sehingga dia dapat meliha jelas wajah gadis yang menyamar itu.
"Ah...! Hebat sekali! Bukankah Andika ini Den Roro Puspa Dewi?"
"Hemm, penglihatanmu tajam sekali! Nurseta, siapakah Kisanak ini?" tanya Puspa Dewi kagum.
"Dewi, dia adalah Witarto yang memimpin para telik sandi yang dikirim Gusti Patih Narotama menyusup ke sini."
"Akan tetapi aku tidak mengenal dia! Bagaimana dia dapat mengetahui bahwa aku..."
"Den Roro, Andika dan Denmas Nurseta adalah dua orang tokoh muda yang dikenal semua perajurit Kahuripan. Biarpun saya baru satu kali melihat Andika, tentu saja saya dapat mengenal Andika. Sekarang, marilah kita berangkat dan membebaskan Raden Joko Pekik Satyabudhi!"
"Witarto, Andika sudah tahu di mana anak itu disembunyikan?"
"Saya sudah mengetahui. Dia disembunyikan dalam sebuah guha yang terjaga ketat di luar kota raja. Tempat itu berbahaya sekali. Ketika menyelidiki ke sana, kami telah kehilangan dua orang rekan sehingga kini jumlah kami tinggal sepuluh orang."
"Hemm, menjadi selusin lagi ditambahi kami berdua." Kata Nurseta.
"Mari kita berangkat, anak itu harus cepat-cepat dapat kita rampas dari tangan mereka."

Mereka semua lalu keluar dari rumah dan dalam kegelapan waktu lewat tengah malam itu mereka keluar dari kota raja melalui dinding yang tidak terjaga, yang sudah dikenal oleh Witarto yang sudah lama menjadi telik sandi di situ. Mereka dapat lolos tanpa diketahui para prajurit. Matahari telah naik tinggi ketika mereka tiba di bukit di mana terdapat guha besar yang menjadi tempat disembunyikannya Joko Pekik Satyabudhi itu. Guha itu besar dan dari jauh tampak sebagai mulut raksasa yang ternganga, siap mencaplok siapa saja yang berani memasukinya. Di depan guha terdapat rumpun bambu yang lebat dan untuk menghampiri guha itu orang harus melalui lapangan rumput yang luas. Di luar lapangan rumput, agak jauh dari guha, tampak sebuah gardu dan di situ terdapat dua belas orang prajurit melakukan penjagaan.

<<< Bagian 82                                                                                         Bagian 84 >>>

No comments:

Post a Comment