Kaloka dapat menggagalkan kesemuanya kalau sampai dapat sadar dan menceritakan tentang sepak terjangnya kepada para pimpinan Parang Siluman. Setelah menewaskan Kaloka, Puspa Dewi cepat menyusupkan mayat perwira itu ke dalam semak yang tumbuh di situ, kemudian ia segera mencari tempat tahanan yang sudah ia ketahui dari keterangan Kaloka tadi. Ia melihat sebuah ruangan yang terang dan terdengar suara beberapa orang bercakap-cakap. Ia mengintai dan melihat para pimpinan Parang Siluman sedang mengadakan rapat pertemuan dalam ruangan itu. Tampak Ratu Durgamala, Lasmini, Mandari, Ki Nagakumala, dan beberapa orang senopati. Melihat ini, Puspa Dewi cepat menyelinap pergi. Kebetulan sekali, pikirnya. Para pimpinan yang sakti mandraguna berkumpul di ruangan itu sehingga ia dapat bergerak lebih bebas. Tak lama kemudian, Puspa Dewi sudah berada di luar tempat tahanan. Ia melihat tiga orang menjaga di depan pintu besi di mana Nurseta tampak duduk bersila, dan di sekeliling rumah tahanan itu masih ada belasan orang prajurit yang melakukan penjagaan. Terlalu banyak penjaga, pikirnya. Kalau ia menggunakan kekerasan merobohkan mereka, sebelum mereka semua dapat ia robohkan, tentu ada yang berteriak dan ia akan gagal karena harus menghadapi semua tokoh sakti tadi, ditambah pasukan yang ribuan orang banyaknya! Puspa Dewi segera melompat ke atas dan ternyata di atap tempat tahanan itu tidak terjaga orang. Ia membuka atap sehingga berlubang dan dari atas ia dapat melihat Nurseta yang bersila di atas lantai. Puspa Dewi lalu mengerahkan tenaga saktinya dan berbisik dari atas.
"Nurseta....,
mengapa engkau tidak segera meloloskan diri? Ini aku... Puspa Dewi....!"
Bisikan ini
tidak dapat terdengar oleh orang lain karena hanya merupakan bisikan lirih,
namun digetarkan oleh tenaga sakti dan "dikirim" langsung ke arah
Nurseta sehingga hanya pemuda ini yang dapat menangkapnya.
Mendengar ini,
Nurseta maklum bahwa gadis perkasa itu telah datang hendak menolongnya dan
berada di atas atap. Akan tetapi untuk menjawab dengan bisikan yang sama, dia
tidak dapat karena begitu mengerahkan tenaga saktinya, racun dalam tubuhnya
akan menyerangnya dan dapat menewaskannya. Dia maklum akan keheranan Puspa
Dewi. Tentu saja gadis itu merasa heran mengapa dia diam saja dijadikan
tawanan, tidak cepat membebaskan diri. Gadis itu tentu saja tidak tahu akan
keadaan tubuhnya yang terancam maut oleh racun yang jahat sekali. Dia
memperoleh akal lalu berkata-kata dengan suara bisikan, cukup lantang sehingga
terdengar oleh Puspa Dewi yang berada di atas atap, juga oleh para penjaga yang
berada di luar pintu kamar tahanan Itu.
"Hel,
Kisanak yang menjaga di luar." dia memanggil.
Dua muka orang
tampak di antara terali pintu kamar itu.
"Andika
mau apa?" tanya seorang di antara mereka.
"Tolonglah
Andika pergi ke kamar Gusti Puteri Lasmini dan sampaikan permintaanku agar
tongkat hitam milikku dikembalikan padaku. Tanpa adanya tongkat hitamku itu,
aku akan mati di sini."
Dua orang
penjaga itu tertawa.
"Ha-ha,
Nurseta. Engkau sungguh manusia rewel dan tak tahu diri. Gusti Puteri sudah
memerintahkan agar kami memperlakukanmu baik-baik, menghidangkan makanan yang
enak-enak dan tidak menganggumu. Sekarang engkau malah minta yang bukan-bukan.
Mana kami berani mengganggu Gusti Puteri dengan permintaanmu itu!"
Puspa Dewi
terkejut dan merasa heran sekali mendengar ucapan Nurseta. Mengapa pemuda itu
tidak menjawab pertanyaannya melalui suara yang didorong tenaga sakti? Ia
memandang dan melihat Nurseta menggunakan kedua tangan menekan ke arah dada
lalu mengembangkan kedua tangan dengan gerakan seorang yang tidak berdaya. Lalu
jari telunjuknya membuat gerakan menggores ke atas lantai. Puspa Dewi
memperhatikan. Ternyata Nurseta membuat gerakan menulis dan ia memperhatikan
dengan seksama.
"Pusaka
Tunggul Manik." demikian bunyi tulisan itu.
Seketika Puspa
Dewi maklum. Dia mendengar akan tongkat pusaka hitam bernama Tunggul Manik itu.
Itu adalah tongkat pusaka milik Ki Patih Narotama yang ampuh dan kabarnya dapat
menolak segala macam racun. Nurseta membutuhkan tongkat itu yang berarti bahwa
dia keracunan hebat. Pantas saja tidak mampu menjawab pertanyaannya dengan
suara yang dikerahkan tenaga sakti. Dan tongkat itu berada di kamar Lasmini!
Agaknya tongkat itu tadinya dibawa Nurseta, kemudian dirampas Lasmini. Gadis
yang cerdik ini segera mengetahui maksud Nurseta. Ia harus mencari tongkat itu
untuk menyembuhkan Nurseta yang keracunan sehingga tidak berdaya meloloskan
diri! Cepat ia berkelebat dan pergi mencari kamar tidur Lasmini. Untung Puspa
Dewi sudah mendapatkan gambaran yang jelas dari Kaloka tentang kamar-kamar dan
ruangan di istana itu sehingga tidak sukar baginya untuk dapat menemukan kamar
tidur Puteri Lasmini. Sekitar kamar mewah itu sepi, tidak ada prajurit pengawal
yang berjaga. Hal ini dapat dimaklumi karena Lasmini adalah seorang wanita yang
sakti, maka tentu saja ia tidak membutuhkan pengawalan para prajurit. Selain
itu, puteri yang suka menerima pemuda di dalam kamarnya, tidak ingin ada orang
lain mendekati kamarnya dan mengganggu kesenangannya. Maka kamar itu pun sepi
dari penjagaan sehingga memudahkan Puspa Dewi untuk memasukinya. Dengan girang
ia dapat menemukan tongkat pusaka hitam itu dan cepat ia membawa tongkat itu kembali
ke atas atap kamar tahanan Nurseta.
"Nurseta,
Tunggul Manik sudah kudapatkan!" Ia berbisik melalui lubang di atap.
Nurseta
bersikap tetap tenang walaupun hatinya merasa girang sekali. Ia lalu menulis
lagi di atas lantai dengan goresan ujung jarinya, diperhatikan dan dibaca oleh
Puspa Dewi dari atas.
"Kerik
Tunggul Manik dan lemparkan bubuk kerikannya ke bawah." demikian bunyi
tulisan yang dilakukan satu demi satu dan perlahan-lahan sehingga Puspa Dewi
dapat mengikuti dan membacanya. Setelah mengetahui maksudnya, Puspa Dewi segera
mengambil patrem (keris kecil) Sang Cundrik Arum pemberian Erlangga dan
menggunakan senjata pusaka kecil itu untuk mengerik tongkat kayu hitam itu.
Untung ia memiliki Cundrik Arum, kalau tidak, akan sulit sekali untuk dapat mengerik
tongkat pusaka yang amat kuat itu. Akan tetapi Sang Cundrik Arum juga merupakan
pusaka ampuh, maka ia dapat mengerik tongkat hitam itu. Ia membungkus bubuk
kerikan hitam itu dengan ujung sabuk yang dipotongnya, lalu ia melemparkan
bungkusan itu ke bawah. Lemparannya tepat mengenai pangkuan Nurseta yang segera
mengambilnya. Dengan tenang Nurseta bangkit berdiri dan menghampiri bangku di
sudut ruangan dekat pintu di mana para penjaga selalu menyediakan tempat air
minum dan cawannya. Nurseta menuangkan bubuk hitam ke dalam cawan lalu diisi
air minum dan diminumnya. Dua orang pengawal yang mendengar gerakannya,
menjenguk dari balik terali akan tetapi melihat Nurseta hanya mengambil air
minum, mereka duduk kembali sambil mengobrol melewatkan malam. Nurseta kembali
duduk bersila dan dia merasa betapa pengaruh obat bubuk tongkat sakti itu mulai
bekerja. Ada hawa panas muncul dari dalam perutnya, menjalar ke seluruh tubuh
dan tulang-tulangnya, pada buku-buku dan sambungan, mengeluarkan bunyi
berkerotokan!
Puspa Dewi
melihat dari atas dan ia maklum bahwa setelah minum bubuk kerikan tongkat itu
kini Nurseta sedang mengumpulkan hawa murni untuk membantu bekerjanya obat itu.
Ia menanti dengan sabar dan penuh harapan. Beberapa lama lewat dengan
menegangkan. Tiba-tiba Puspa Dewi mendengar suara bisikan.
"Dewi,
terima kasih. Sekarang aku siap meloloskan diri. Bantulah dari luar!"
"Baik,
Nurseta!"
Puspa Dewi
gembira sekali karena kini Nurseta bicara melalui pengerahan tenaga sakti,
berarti kesehatan pemuda itu telah pulih! Ia lalu berkelebat turun dan memasuki
lorong menuju kamar tahanan itu. Begitu masuk, empat orang perajurit penjaga
menyambutnya dengan bentakan dan ketika mereka melihat Puspa Dewi sebagai
seorang pemuda yang tidak mereka kenal, mereka segera menyerang dengan golok
mereka.
Akan tetapi
begitu Puspa Dewi menggerakkan kaki tangannya, empat orang itu terpelanting
roboh. Puspa Dewi berlari masuk dan tiga orang penjaga di luar pintu besi kamar
tahanan itu pun sudah roboh terpukul oleh Nurseta yang menggunakan pukulan
jarak jauh.
Melihat
munculnya Puspa Dewi, Nurseta terbelalak. Penerangan di situ memang tidak cukup
maka dia tidak mengenal pemuda yang berada di luar pintu tahanan itu.
"Siapakah
Andika...?" Nurseta bertanya.
Puspa Dewi
tertawa.
"Hi-hik,
engkau juga tidak mengenalku?"
"Puspa
Dewi...!"
"Husssh,
mari kita buka pintu besi ini!" Mereka lalu menggabungkan tenaga sakti
mereka. Nurseta menarik dan Puspa Dewi mendorong. Jebollah pintu itu dan
terbuka ke sebelah dalam. Nurseta melompat keluar.
"Nih,
pusakamu!" Puspa Dewi menyerahkan tongkat pusaka Tunggul Manik itu kepada
Nurseta.
"Terima
kasih, Dewi!"
"Nanti
saja terima kasihnya. Masih banyak yang harus kita lakukan."
Pada saat itu,
dari luar belasan orang perajurit berlari masuk menyerbu dua orang itu. Nurseta
dan Puspa Dewi menerjang ke depan. Dengan mudah mereka merobohkan prajurit yang
berani menghadang. Sebentar saja mereka sudah berlari keluar dari rumah
tahanan.
"Mari
kita keluar dulu dari tempat ini!" kata Nurseta.
"Akan
tetapi, kita harus mencari Joko Pekik!"
"Tidak
ada di sini! Mari kita pergi cepat!" kata Nurseta.
Sudah
terdengar kentungan tanda bahaya ditabuh orang. Mereka berkelebat lewat taman
dan sebentar saja mereka sudah keluar dari dinding yang mengelilingi kompleks
istana. Begitu melompat turun keluar dinding istana, beberapa sosok bayangan
berkelebat dan terdengar seruan berbisik.
"Cepat,
Andika berdua ikuti kami!"
"Witarto...!"
Seru Nurseta yang mengenal suara telik sandi Kahuripan itu.
Puspa Dewi
yang tadinya sudah siap siaga hilang kecurigaannya dan bersama Nurseta ia
berlari mengikuti bayangan tiga orang itu. Mereka menuju ke sebuah rumah bilik
di daerah pinggiran kota raja, daerah yang sepi karena itu merupakan
persawahan. Dalam rumah itu terdapat sepuluh orang laki-laki. Mereka adalah
para telik sandi Kahuripan yang sudah lama menyusup dan bertugas di Parang
Siluman, dipimpin oleh Witarto yang biarpun usianya baru dua puluh dua tahun,
namun terkenal cerdik dan memiliki keahlian menyamar.
"Wah,
beruntung sekali Andika dapat melepaskan diri, Denmas Nurseta. Kami semua sudah
menjadi gelisah sekali mendengar bahwa Andika tertawan dan tidak tahu bagaimana
harus menolong karena istana terkepung penjagaan yang amat ketat. Siapakah
Kisanak ini?" Witarto menunjuk ke arah Puspa Dewi.
Nurseta tersenyum.
"Ia yang
telah menolong dan membebaskanku. Andika sebagai ahli penyamaran benar-benar
tidak mengenalnya, Witarto?"
"Nanti
dulu...!" Witarto mengambil lampu dari atas meja dan mendekat Puspa Dewi
sehingga dia dapat meliha jelas wajah gadis yang menyamar itu.
"Ah...!
Hebat sekali! Bukankah Andika ini Den Roro Puspa Dewi?"
"Hemm,
penglihatanmu tajam sekali! Nurseta, siapakah Kisanak ini?" tanya Puspa
Dewi kagum.
"Dewi,
dia adalah Witarto yang memimpin para telik sandi yang dikirim Gusti Patih
Narotama menyusup ke sini."
"Akan
tetapi aku tidak mengenal dia! Bagaimana dia dapat mengetahui bahwa
aku..."
"Den
Roro, Andika dan Denmas Nurseta adalah dua orang tokoh muda yang dikenal semua
perajurit Kahuripan. Biarpun saya baru satu kali melihat Andika, tentu saja
saya dapat mengenal Andika. Sekarang, marilah kita berangkat dan membebaskan
Raden Joko Pekik Satyabudhi!"
"Witarto,
Andika sudah tahu di mana anak itu disembunyikan?"
"Saya
sudah mengetahui. Dia disembunyikan dalam sebuah guha yang terjaga ketat di
luar kota raja. Tempat itu berbahaya sekali. Ketika menyelidiki ke sana, kami
telah kehilangan dua orang rekan sehingga kini jumlah kami tinggal sepuluh
orang."
"Hemm,
menjadi selusin lagi ditambahi kami berdua." Kata Nurseta.
"Mari
kita berangkat, anak itu harus cepat-cepat dapat kita rampas dari tangan
mereka."
Mereka semua
lalu keluar dari rumah dan dalam kegelapan waktu lewat tengah malam itu mereka
keluar dari kota raja melalui dinding yang tidak terjaga, yang sudah dikenal
oleh Witarto yang sudah lama menjadi telik sandi di situ. Mereka dapat lolos
tanpa diketahui para prajurit. Matahari telah naik tinggi ketika mereka tiba di
bukit di mana terdapat guha besar yang menjadi tempat disembunyikannya Joko
Pekik Satyabudhi itu. Guha itu besar dan dari jauh tampak sebagai mulut raksasa
yang ternganga, siap mencaplok siapa saja yang berani memasukinya. Di depan
guha terdapat rumpun bambu yang lebat dan untuk menghampiri guha itu orang
harus melalui lapangan rumput yang luas. Di luar lapangan rumput, agak jauh
dari guha, tampak sebuah gardu dan di situ terdapat dua belas orang prajurit
melakukan penjagaan.
No comments:
Post a Comment