Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 84


Melihat adanya selusin prajurit berjaga, Nurseta dan Puspa Dewi mulai timbul harapan besar dan semakin percaya akan keterangan Witarto bahwa gua itu dijadikan tempat disembunyikannya Joko Pekik Satyabudhi. Setelah mengintai beberapa saat lamanya dari kejauhan dan mendapat kenyataan bahwa yang tampak berjaga hanya dua belas orang prajurit itu, sedangkan di seberang lapangan rumput depan guha hanya tampak bayangan beberapa orang saja, Nurseta lalu berbisik kepada Puspa Dewi dan sepuluh orang telik sandi.
"Aku dan Dewi akan menghadapi dua belas orang prajurit itu. Karena di guha itu tampaknya hanya ada tiga atau empat orang saja, maka Andika sekalian sepuluh orang harap langsung saja lari menyerbu ke guha, merobohkan beberapa orang itu dan cepat mencari Joko Pekik Satyabudhi. Setelah membereskan selusin perajurit itu, kami akan segera menyusul ke sana."
Siasat ini dianggap paling tepat, Nurseta dan Puspa Dewi akan menghadapi dua belas orang prajurit itu agar mereka tidak dapat menghalangi Witarto dan rekan-rekannya menyerbu ke guha sehingga mereka yang berada di dalam guha tidak mendapat kesempatan untuk melarikan atau menyembunyikan Joko Pekik. Setelah semua paham akan rencana itu, Nurseta dan Puspa Dewi lalu melompat dan lari ke arah gardu. Dua belas orang prajurit Parang Siluman yang melakukan penjagaan adalah prajurit-prajurit pilihan. Mereka segera berloncatan dan menyambut dua orang itu dengan serangan pengeroyokan dengan menggunakan senjata golok mereka. Gerakan mereka gesit dan bertenaga. Namun, mereka berhadapan dengan Nurseta dan Puspa Dewi. Dalam beberapa gebrakan saja, walaupun hanya menggunakan tangan dan kaki tanpa senjata, empat orang perajurit telah terpelanting roboh.

Sementara itu, sepuluh orang telik sandi yang terdiri dari para prajurit dan perwira Kahuripan itu cepat berlari melintasi padang rumput menuju ke guha. Setelah empat orang prajurit penjaga roboh lagi, sisanya tinggal empat orang, lalu berlari melintasi lapangan rumput menuju ke guha pula, seolah melakukan pengejaran terhadap sepuluh orang telik sandi Kahuripan. Nurseta dan Puspa Dewi setelah merobohkan delapan orang pengeroyok dan melihat sisa para pengeroyok yang tinggal empat orang itu lari melintasi lapangan rumput, memandang ke arah guha. Mereka terbelalak, terkejut bukan main melihat Witarto dan sembilan orang rekannya itu roboh bergelimpangan ? Di depan guha, dan tampak empat orang pengejar itu dan empat orang laki-laki yang memang sudah berada di guha, kini menggunakan golok menyerang para telik sandi yang sudah tak berdaya! Nurseta dan Puspa Dewi cepat melompat dan berlari cepat ke arah guha, melintasi lapangan rumput. Setelah tiba di depan guha, Nurseta yang melihat delapan orang musuh itu membacoki para telik sandi, cepat menerjang dan dalam waktu sebentar saja dia sudah memukul dan menendang roboh delapan orang musuh itu! Akan tetapi, dia melihat Puspa Dewi juga terhuyung dan gadis itu kini jatuh terduduk, lalu bersila dan agaknya menghimpun hawa murni! Setelah delapan orang lawannya roboh, Nurseta cepat menghampiri Puspa Dewi.
"Engkau kenapa, Dewi?"
"Keracunan.... melalui telapak kakiku.. tentu menginjak racun ketika melintasi lapangan rumput..." kata gadis itu.
Nurseta memeriksa dan melihat kedua telapak kaki Puspa Dewi menghitam. Cepat dia mengambil tongkat pusaka Tunggul Manik, digosok-gosokkannya tongkat itu pada kedua telapak kaki Puspa Dewi dan sebentar saja warna hitam pada telapak kaki itu menghilang, hawa beracun sudah terhisap oleh tongkat pusaka itu.
"Dewi, cepat periksa ke dalam dan cari Joko Pekik. Aku harus mengobati mereka!"
Puspa Dewi yang sudah sembuh lalu cepat memasuki guha. Nurseta memeriksa Witarto dan rekan-rekannya. Ternyata, lima orang dari mereka telah tewas dibacoki para prajurit musuh tadi. Yang lima orang lagi, termasuk Witarto, pingsan dengan kedua telapak kaki menghitam sampai ke lutut! Nurseta cepat mengobati mereka dengan menggosok-gosokkan tongkat pusaka Tunggul Manik pada telapak kaki mereka. Satu demi satu lima orang itu tertolong dan sembuh. Puspa Dewi memasuki guha. Ternyata guha itu cukup dalam dan di sebelah dalam terdapat cahaya yang datangnya dari sinar matahari melalui bagian atas guha yang terdapat lubang. Ia melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar satu setengah tahun. Anak itu duduk di atas pembaringan dan sedang memegang boneka harimau dari kayu. Biarpun Puspa Dewi belum pernah melihat Joko Pekik Satyabudhi, namun ia merasa yakin bahwa anak itu tentulah putera Ki Patih Narotama yang diculik itu.
"Berhenti! Jangan mendekat atau kutikam anak ini!" Tiba-tiba terdengar bentakan dan Puspa Dewi melihat seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun, bertubuh gemuk dan wajahnya lembut, namun kini ia berdiri dekat pembaringan dan tangan kanannya mengangkat sebatang golok yang siap dibacokkan ke arah anak kecil itu!
Puspa Dewi memperhitungkan dengan seksama. Ia melihat betapa wanita itu memegang golok dengan canggung, dan tangan yang memegang gagang golok itu gemetar. Hal ini menunjukkan bahwa wanita itu tidak biasa menggunakan senjata dan hanya seorang wanita yang lemah.
"Anak itu engkau yang menjaga dan melayani, bukan? Tegakah engkau membunuhnya?"
Dengan suara gemetar dan wajah pucat wanita itu berkata,
"Apa boleh buat, aku adalah seorang hamba yang patuh dan setia."
Maklum bahwa wanita itu dapat nekat membunuh Doko Pekik, tiba-tiba tangan Puspa Dewi bergerak dan ada sinar berkelebat ke arah wanita itu. Wanita itu menjerit, goloknya terlepas dan ia merintih karena lengannya telah bertembus sebuah patrem yang dilemparkan Puspa Dewi. Di lain saat Puspa Dewi sudah melompat dekat wanita itu, mencabut patremnya dan wanita itu jatuh terduduk di lantai, memegangi lengan kanan yang bercucuran darah sambil menangis. Puspa Dewi tidak membunuh wanita itu karena mengingat bahwa ia bukanlah seorang prajurit dan tidak jahat. Kalau tadi ia mengancam akan membunuh Joko Pekik, hal itu dilakukan karena setianya terhadap keluarga Ratu Parang Siluman. Akan tetapi Joko Pekik menangis ketika Puspa Dewi mendekatinya.
"Engkau nakal... engkau jahat...!" Anak itu berkata dengan suara pelo dan menangis.

Sikap anak ini saja menunjukkan bahwa tentu biasanya wanita yang bekerja sebagai biyung emban (inang pengasuh) itu bersikap baik kepada Joko Pekik sehingga tentu saja anak itu berpihak kepadanya dan menganggap ia yang jahat. Karena tidak ada gunanya menerangkan kepada anak kecil, ia lalu mengangkat dan memondong anak itu dan membawanya keluar guha. Anak itu meronta dan menangis. Setibanya di luar, Puspa Dewi melihat bahwa Nurseta telah berhasil menyembuhkan lima orang telik sandi yang keracunan. Dewi menceritakan mengapa Joko Pekik menangis.
"Semua orang keracunan termasuk aku. Akan tetapi mengapa engkau tidak keracunan dan juga orang-orang Parang Siluman ini tidak keracunan padahal mereka juga melintasi lapangan rumput?" tanya Puspa Dewi kepada Nurseta.
"Aku menjadi kebal racun karena membawa Pusaka Tunggul Manik. Sedangkan orang-orang Parang Siluman itu, lihat saja kakinya. Mereka melindungi telapak kaki mereka dengan alas kaki dari kulit kerbau. Tentu mereka sudah menyebar racun di lapangan rumput sehingga tidak tampak dan meracuni mereka yang melewati lapangan rumput melalui telapak kaki yang menginjak racun."
"Lalu bagaimana kita dapat meninggalkan tempat ini? Jalan keluar hanya lapangan rumput!" kata Puspa Dewi.
"Mudah saja, Den Roro! Kita naik egrang (jangkungan) untuk melintasi lapangan rumput ini!" kata Witarto yang cerdik.
Mereka lalu membuat egrang sebanyak enam pasang untuk lima orang telik sandi dan untuk Puspa Dewi. Ketika Joko Pekik Satyabudhi melihat Witarto yang sudah sering dilihatnya ketika perwira muda itu datang ke kepatihan, dia mau dipondong Witarto dan tidak menangis lagi. Pula, Witarto lebih trampil (cekatan) menggunakan egrang dibandingkan Puspa Dewi, maka dalam gendongannya, Joko Pekik lebih aman. Setelah enam orang itu naik egrang, menyeberanglah mereka, melintasi lapangan rumput yang mengandung racun itu. Nurseta berjalan aman dilindungi pusaka Tunggul Manik.
"Kita perlu menyelamatkan dulu Joko Pekik keluar dari daerah Parang Siluman!" kata Nurseta.
Witarto dan empat orang rekannya yang lebih mengenal jalan lalu menjadi petunjuk jalan, diikuti oleh Nurseta dan Puspa Dewi. Mereka melakukan perjalanan cepat menuju ke perbatasan. Akan tetapi lewat tengah hari, mereka mendengar bunyi derap kaki banyak kuda mengejar dari belakang!
"Hemm, agaknya musuh yang melakukan pengejaran sudah dekat. Kita harus berlari lebih cepat!" kata Nurseta.
Namun sayang, tingkat kepandaian lima orang telik sandi itu tidaklah begitu tinggi. Andaikata Nurseta dan Puspa Dewi berdua saja yang dikejar, walaupun pengejarnya berkuda, mereka tentu akan mampu menghindarkan dan tidak akan tersusul. Maka, derap kaki kuda itu semakin jelas terdengar, menunjukkan bahwa para pengejar itu sudah semakin dekat.
"Dewi, engkau cepat bawa Joko Pekik lari lebih dulu keluar dari daerah Parang Siluman. Witarto dan empat rekannya agar melarikan diri berpencar, menyelamatkan diri masing-masing. Aku sendiri akan lari paling akhir dan kalau mereka datang, aku akan menahan mereka. Dengan demikian, mereka akan menjadi bingung dan Joko Pekik akan dapat lebih dulu diselamatkan."
Tidak ada yang membantah siasat ini. Joko Pekik lalu dipondong oleh Puspa Dewi dan agaknya anak itu pun sudah hilang rasa takutnya terhadap serombongan orang ini karena di situ terdapat Witarto yang dikenalnya. Ketika dipondong Puspa Dewi, dia tidak menangis dan Puspa Dewi segera mengerahkan ilmunya berlari cepat sehingga tubuhnya melesat seperti terbang. Lima orang telik sandi itu pun lari berpencar namun semua menuju ke perbatasan agar dapat keluar dari daerah musuh. Tak lama kemudian muncullah Lasmini, Mandari, dan Ki Nagakumala, diikuti ratusan orang prajurit!
"Kejar!" teriak Ki Nagakumala kepada para perwira yang memimpin pasukan,
"mereka lari berpencar, kejar mereka semua!"
"Terutama sekali rampas kembali anak itu!" teriak Lasmini sambil menahan kudanya.
"Paman Nagakumala, Mbakayu Lasmini, mari kita kejar kesana! Anak itu dilarikan seorang pemuda ke arah sana. Kita harus dapat merebutnya kembali!" kata Mandari sambil menunjuk ke arah larinya Puspa Dewi.
Ada pun para perwira membawa pasukan masing-masing berpencar melakukan pengejaran kepada lima orang telik sandi Kahuripan. Akan tetapi tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depan kuda tiga orang sakti yang memimpin pengejaran itu telah berdiri Nurseta!
"Nurseta...!!" Seru Lasmini dan Mandari, marah dan juga heran bagaimana Nurseta yang telah keracunan berat itu telah pulih kembali kesehatannya. Akan tetapi ketika mereka melihat tongkat pusaka Tunggul Manik terselip di ikat pinggang pemuda itu, mereka mengerti walaupun mereka juga heran bagaimana mungkin pusaka itu telah berada di tangan pemuda itu.
"Jahanam!" bentak Ki Nagakumala, marah karena dengan terampasnya Joko Pekik Satyabudhi dari tangan mereka, berarti Parang Siluman kini terancam bahaya besar diserbu pasukan Kahuripan. Pemuda Ini yang menggagalkan semua siasat Parang Siluman dalam usahanya mencegah penyerbuan Kahuripan. Dengan marah dia lalu melompat turun dari atas punggung kudanya. Lasmini dan Mandari juga melompat turun.
"Bunuh dia!" Ki Nagakumala berseru dan dia sudah mengeluarkan gerengan seperti harimau lalu menerjang ke depan, kedua tangannya dikembangkan dengan jari-jari tangan membentuk cakar dan warnanya berubah membiru serta mengeluarkan hawa dingin sekali. Lasmini menyusulkan serangan dengan Cambuk Sarpokenoko. Cambuk itu diputar di atas kepala, membentuk gulungan sinar keemasan dan mengeluarkan bunyi ledakan-ledakan ketika menyambar ke arah kepala Nurseta. Mandari juga tidak tinggal diam. Ia sudah menyerang dengan mengerahkan hawa sakti beracun berupa uap hitam yang keluar dari kedua telapak tangannya. Ia memukul ke arah dada Nurseta.
Pemuda ini bersikap tenang dan waspada. Dia maklum bahwa dia menghadapi tiga orang lawan yang amat tangguh dan memiliki serangan yang amat keji, serangan yang mengandung hawa beracun. Cepat dia mengerahkan Aji Bayu Sakti yang membuat tubuhnya seringan angin dan berkelebatan cepat mengelak serangan tiga orang itu. Dia lalu menggerakkan tubuhnya, bersilat dengan Ilmu Silat Baka Denta.
Tiga orang itu memang merupakan lawan yang amat tangguh, bahkan terlalu kuat bagi Nurseta sekalipun. Kalau melawan mereka satu lawan satu, atau bahkan dua orang mengeroyoknya, mungkin Nurseta masih akan mampu mengatasi mereka. Akan tetapi sekali ini mereka bertiga mengeroyoknya! Dan karena dua orang wanita cantik itu memang merupakan murid-murid dari paman mereka sendiri, maka tiga orang itu dapat bergerak dengan kompak sekali saling bantu, saling melindungi, dan saling mengisi; Nurseta sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk balas menyerang. Dia dihujani serangan dan dia hanya dapat mengandalkan kecepatan gerakannya untuk menghindarkan diri, atau terkadang menangkis dengan tongkat pusaka Tunggul Manik. Apalagi di situ masih terdapat sedikitnya seratus orang prajurit yang mengepung, sisa dari ratusan orang prajurit yang melakukan pengejaran dengan berpencar.

<<< Bagian 83                                                                                         Bagian 85 >>>

No comments:

Post a Comment