Melihat adanya selusin prajurit berjaga, Nurseta dan Puspa Dewi mulai timbul harapan besar dan semakin percaya akan keterangan Witarto bahwa gua itu dijadikan tempat disembunyikannya Joko Pekik Satyabudhi. Setelah mengintai beberapa saat lamanya dari kejauhan dan mendapat kenyataan bahwa yang tampak berjaga hanya dua belas orang prajurit itu, sedangkan di seberang lapangan rumput depan guha hanya tampak bayangan beberapa orang saja, Nurseta lalu berbisik kepada Puspa Dewi dan sepuluh orang telik sandi.
"Aku dan
Dewi akan menghadapi dua belas orang prajurit itu. Karena di guha itu tampaknya
hanya ada tiga atau empat orang saja, maka Andika sekalian sepuluh orang harap
langsung saja lari menyerbu ke guha, merobohkan beberapa orang itu dan cepat
mencari Joko Pekik Satyabudhi. Setelah membereskan selusin perajurit itu, kami
akan segera menyusul ke sana."
Siasat ini
dianggap paling tepat, Nurseta dan Puspa Dewi akan menghadapi dua belas orang
prajurit itu agar mereka tidak dapat menghalangi Witarto dan rekan-rekannya
menyerbu ke guha sehingga mereka yang berada di dalam guha tidak mendapat
kesempatan untuk melarikan atau menyembunyikan Joko Pekik. Setelah semua paham
akan rencana itu, Nurseta dan Puspa Dewi lalu melompat dan lari ke arah gardu.
Dua belas orang prajurit Parang Siluman yang melakukan penjagaan adalah
prajurit-prajurit pilihan. Mereka segera berloncatan dan menyambut dua orang
itu dengan serangan pengeroyokan dengan menggunakan senjata golok mereka.
Gerakan mereka gesit dan bertenaga. Namun, mereka berhadapan dengan Nurseta dan
Puspa Dewi. Dalam beberapa gebrakan saja, walaupun hanya menggunakan tangan dan
kaki tanpa senjata, empat orang perajurit telah terpelanting roboh.
Sementara itu,
sepuluh orang telik sandi yang terdiri dari para prajurit dan perwira Kahuripan
itu cepat berlari melintasi padang rumput menuju ke guha. Setelah empat orang
prajurit penjaga roboh lagi, sisanya tinggal empat orang, lalu berlari
melintasi lapangan rumput menuju ke guha pula, seolah melakukan pengejaran
terhadap sepuluh orang telik sandi Kahuripan. Nurseta dan Puspa Dewi setelah
merobohkan delapan orang pengeroyok dan melihat sisa para pengeroyok yang
tinggal empat orang itu lari melintasi lapangan rumput, memandang ke arah guha.
Mereka terbelalak, terkejut bukan main melihat Witarto dan sembilan orang
rekannya itu roboh bergelimpangan ? Di depan guha, dan tampak empat orang
pengejar itu dan empat orang laki-laki yang memang sudah berada di guha, kini
menggunakan golok menyerang para telik sandi yang sudah tak berdaya! Nurseta
dan Puspa Dewi cepat melompat dan berlari cepat ke arah guha, melintasi
lapangan rumput. Setelah tiba di depan guha, Nurseta yang melihat delapan orang
musuh itu membacoki para telik sandi, cepat menerjang dan dalam waktu sebentar
saja dia sudah memukul dan menendang roboh delapan orang musuh itu! Akan
tetapi, dia melihat Puspa Dewi juga terhuyung dan gadis itu kini jatuh
terduduk, lalu bersila dan agaknya menghimpun hawa murni! Setelah delapan orang
lawannya roboh, Nurseta cepat menghampiri Puspa Dewi.
"Engkau
kenapa, Dewi?"
"Keracunan....
melalui telapak kakiku.. tentu menginjak racun ketika melintasi lapangan
rumput..." kata gadis itu.
Nurseta
memeriksa dan melihat kedua telapak kaki Puspa Dewi menghitam. Cepat dia
mengambil tongkat pusaka Tunggul Manik, digosok-gosokkannya tongkat itu pada
kedua telapak kaki Puspa Dewi dan sebentar saja warna hitam pada telapak kaki
itu menghilang, hawa beracun sudah terhisap oleh tongkat pusaka itu.
"Dewi,
cepat periksa ke dalam dan cari Joko Pekik. Aku harus mengobati mereka!"
Puspa Dewi
yang sudah sembuh lalu cepat memasuki guha. Nurseta memeriksa Witarto dan
rekan-rekannya. Ternyata, lima orang dari mereka telah tewas dibacoki para
prajurit musuh tadi. Yang lima orang lagi, termasuk Witarto, pingsan dengan
kedua telapak kaki menghitam sampai ke lutut! Nurseta cepat mengobati mereka
dengan menggosok-gosokkan tongkat pusaka Tunggul Manik pada telapak kaki mereka.
Satu demi satu lima orang itu tertolong dan sembuh. Puspa Dewi memasuki guha.
Ternyata guha itu cukup dalam dan di sebelah dalam terdapat cahaya yang
datangnya dari sinar matahari melalui bagian atas guha yang terdapat lubang. Ia
melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar satu setengah tahun. Anak itu
duduk di atas pembaringan dan sedang memegang boneka harimau dari kayu. Biarpun
Puspa Dewi belum pernah melihat Joko Pekik Satyabudhi, namun ia merasa yakin
bahwa anak itu tentulah putera Ki Patih Narotama yang diculik itu.
"Berhenti!
Jangan mendekat atau kutikam anak ini!" Tiba-tiba terdengar bentakan dan
Puspa Dewi melihat seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun, bertubuh
gemuk dan wajahnya lembut, namun kini ia berdiri dekat pembaringan dan tangan
kanannya mengangkat sebatang golok yang siap dibacokkan ke arah anak kecil itu!
Puspa Dewi
memperhitungkan dengan seksama. Ia melihat betapa wanita itu memegang golok
dengan canggung, dan tangan yang memegang gagang golok itu gemetar. Hal ini
menunjukkan bahwa wanita itu tidak biasa menggunakan senjata dan hanya seorang
wanita yang lemah.
"Anak itu
engkau yang menjaga dan melayani, bukan? Tegakah engkau membunuhnya?"
Dengan suara
gemetar dan wajah pucat wanita itu berkata,
"Apa
boleh buat, aku adalah seorang hamba yang patuh dan setia."
Maklum bahwa
wanita itu dapat nekat membunuh Doko Pekik, tiba-tiba tangan Puspa Dewi
bergerak dan ada sinar berkelebat ke arah wanita itu. Wanita itu menjerit,
goloknya terlepas dan ia merintih karena lengannya telah bertembus sebuah
patrem yang dilemparkan Puspa Dewi. Di lain saat Puspa Dewi sudah melompat
dekat wanita itu, mencabut patremnya dan wanita itu jatuh terduduk di lantai,
memegangi lengan kanan yang bercucuran darah sambil menangis. Puspa Dewi tidak
membunuh wanita itu karena mengingat bahwa ia bukanlah seorang prajurit dan
tidak jahat. Kalau tadi ia mengancam akan membunuh Joko Pekik, hal itu
dilakukan karena setianya terhadap keluarga Ratu Parang Siluman. Akan tetapi
Joko Pekik menangis ketika Puspa Dewi mendekatinya.
"Engkau
nakal... engkau jahat...!" Anak itu berkata dengan suara pelo dan
menangis.
Sikap anak ini
saja menunjukkan bahwa tentu biasanya wanita yang bekerja sebagai biyung emban
(inang pengasuh) itu bersikap baik kepada Joko Pekik sehingga tentu saja anak
itu berpihak kepadanya dan menganggap ia yang jahat. Karena tidak ada gunanya
menerangkan kepada anak kecil, ia lalu mengangkat dan memondong anak itu dan
membawanya keluar guha. Anak itu meronta dan menangis. Setibanya di luar, Puspa
Dewi melihat bahwa Nurseta telah berhasil menyembuhkan lima orang telik sandi
yang keracunan. Dewi menceritakan mengapa Joko Pekik menangis.
"Semua
orang keracunan termasuk aku. Akan tetapi mengapa engkau tidak keracunan dan
juga orang-orang Parang Siluman ini tidak keracunan padahal mereka juga
melintasi lapangan rumput?" tanya Puspa Dewi kepada Nurseta.
"Aku
menjadi kebal racun karena membawa Pusaka Tunggul Manik. Sedangkan orang-orang
Parang Siluman itu, lihat saja kakinya. Mereka melindungi telapak kaki mereka
dengan alas kaki dari kulit kerbau. Tentu mereka sudah menyebar racun di
lapangan rumput sehingga tidak tampak dan meracuni mereka yang melewati
lapangan rumput melalui telapak kaki yang menginjak racun."
"Lalu
bagaimana kita dapat meninggalkan tempat ini? Jalan keluar hanya lapangan
rumput!" kata Puspa Dewi.
"Mudah
saja, Den Roro! Kita naik egrang (jangkungan) untuk melintasi lapangan rumput
ini!" kata Witarto yang cerdik.
Mereka lalu
membuat egrang sebanyak enam pasang untuk lima orang telik sandi dan untuk
Puspa Dewi. Ketika Joko Pekik Satyabudhi melihat Witarto yang sudah sering
dilihatnya ketika perwira muda itu datang ke kepatihan, dia mau dipondong
Witarto dan tidak menangis lagi. Pula, Witarto lebih trampil (cekatan)
menggunakan egrang dibandingkan Puspa Dewi, maka dalam gendongannya, Joko Pekik
lebih aman. Setelah enam orang itu naik egrang, menyeberanglah mereka,
melintasi lapangan rumput yang mengandung racun itu. Nurseta berjalan aman
dilindungi pusaka Tunggul Manik.
"Kita
perlu menyelamatkan dulu Joko Pekik keluar dari daerah Parang Siluman!"
kata Nurseta.
Witarto dan
empat orang rekannya yang lebih mengenal jalan lalu menjadi petunjuk jalan,
diikuti oleh Nurseta dan Puspa Dewi. Mereka melakukan perjalanan cepat menuju
ke perbatasan. Akan tetapi lewat tengah hari, mereka mendengar bunyi derap kaki
banyak kuda mengejar dari belakang!
"Hemm,
agaknya musuh yang melakukan pengejaran sudah dekat. Kita harus berlari lebih
cepat!" kata Nurseta.
Namun sayang,
tingkat kepandaian lima orang telik sandi itu tidaklah begitu tinggi. Andaikata
Nurseta dan Puspa Dewi berdua saja yang dikejar, walaupun pengejarnya berkuda,
mereka tentu akan mampu menghindarkan dan tidak akan tersusul. Maka, derap kaki
kuda itu semakin jelas terdengar, menunjukkan bahwa para pengejar itu sudah
semakin dekat.
"Dewi,
engkau cepat bawa Joko Pekik lari lebih dulu keluar dari daerah Parang Siluman.
Witarto dan empat rekannya agar melarikan diri berpencar, menyelamatkan diri
masing-masing. Aku sendiri akan lari paling akhir dan kalau mereka datang, aku
akan menahan mereka. Dengan demikian, mereka akan menjadi bingung dan Joko
Pekik akan dapat lebih dulu diselamatkan."
Tidak ada yang
membantah siasat ini. Joko Pekik lalu dipondong oleh Puspa Dewi dan agaknya
anak itu pun sudah hilang rasa takutnya terhadap serombongan orang ini karena
di situ terdapat Witarto yang dikenalnya. Ketika dipondong Puspa Dewi, dia
tidak menangis dan Puspa Dewi segera mengerahkan ilmunya berlari cepat sehingga
tubuhnya melesat seperti terbang. Lima orang telik sandi itu pun lari berpencar
namun semua menuju ke perbatasan agar dapat keluar dari daerah musuh. Tak lama
kemudian muncullah Lasmini, Mandari, dan Ki Nagakumala, diikuti ratusan orang
prajurit!
"Kejar!"
teriak Ki Nagakumala kepada para perwira yang memimpin pasukan,
"mereka
lari berpencar, kejar mereka semua!"
"Terutama
sekali rampas kembali anak itu!" teriak Lasmini sambil menahan kudanya.
"Paman
Nagakumala, Mbakayu Lasmini, mari kita kejar kesana! Anak itu dilarikan seorang
pemuda ke arah sana. Kita harus dapat merebutnya kembali!" kata Mandari
sambil menunjuk ke arah larinya Puspa Dewi.
Ada pun para
perwira membawa pasukan masing-masing berpencar melakukan pengejaran kepada
lima orang telik sandi Kahuripan. Akan tetapi tiba-tiba tampak bayangan
berkelebat dan tahu-tahu di depan kuda tiga orang sakti yang memimpin
pengejaran itu telah berdiri Nurseta!
"Nurseta...!!"
Seru Lasmini dan Mandari, marah dan juga heran bagaimana Nurseta yang telah
keracunan berat itu telah pulih kembali kesehatannya. Akan tetapi ketika mereka
melihat tongkat pusaka Tunggul Manik terselip di ikat pinggang pemuda itu,
mereka mengerti walaupun mereka juga heran bagaimana mungkin pusaka itu telah
berada di tangan pemuda itu.
"Jahanam!"
bentak Ki Nagakumala, marah karena dengan terampasnya Joko Pekik Satyabudhi
dari tangan mereka, berarti Parang Siluman kini terancam bahaya besar diserbu
pasukan Kahuripan. Pemuda Ini yang menggagalkan semua siasat Parang Siluman
dalam usahanya mencegah penyerbuan Kahuripan. Dengan marah dia lalu melompat
turun dari atas punggung kudanya. Lasmini dan Mandari juga melompat turun.
"Bunuh
dia!" Ki Nagakumala berseru dan dia sudah mengeluarkan gerengan seperti
harimau lalu menerjang ke depan, kedua tangannya dikembangkan dengan jari-jari
tangan membentuk cakar dan warnanya berubah membiru serta mengeluarkan hawa
dingin sekali. Lasmini menyusulkan serangan dengan Cambuk Sarpokenoko. Cambuk
itu diputar di atas kepala, membentuk gulungan sinar keemasan dan mengeluarkan
bunyi ledakan-ledakan ketika menyambar ke arah kepala Nurseta. Mandari juga
tidak tinggal diam. Ia sudah menyerang dengan mengerahkan hawa sakti beracun
berupa uap hitam yang keluar dari kedua telapak tangannya. Ia memukul ke arah
dada Nurseta.
Pemuda ini
bersikap tenang dan waspada. Dia maklum bahwa dia menghadapi tiga orang lawan
yang amat tangguh dan memiliki serangan yang amat keji, serangan yang
mengandung hawa beracun. Cepat dia mengerahkan Aji Bayu Sakti yang membuat
tubuhnya seringan angin dan berkelebatan cepat mengelak serangan tiga orang itu.
Dia lalu menggerakkan tubuhnya, bersilat dengan Ilmu Silat Baka Denta.
Tiga orang itu
memang merupakan lawan yang amat tangguh, bahkan terlalu kuat bagi Nurseta
sekalipun. Kalau melawan mereka satu lawan satu, atau bahkan dua orang
mengeroyoknya, mungkin Nurseta masih akan mampu mengatasi mereka. Akan tetapi
sekali ini mereka bertiga mengeroyoknya! Dan karena dua orang wanita cantik itu
memang merupakan murid-murid dari paman mereka sendiri, maka tiga orang itu
dapat bergerak dengan kompak sekali saling bantu, saling melindungi, dan saling
mengisi; Nurseta sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk balas menyerang.
Dia dihujani serangan dan dia hanya dapat mengandalkan kecepatan gerakannya
untuk menghindarkan diri, atau terkadang menangkis dengan tongkat pusaka
Tunggul Manik. Apalagi di situ masih terdapat sedikitnya seratus orang prajurit
yang mengepung, sisa dari ratusan orang prajurit yang melakukan pengejaran
dengan berpencar.
No comments:
Post a Comment