Nurseta maklum bahwa tidak mungkin dia melanjutkan perkelahian dengan hanya bertahan saja tanpa dapat balas menyerang. Kalau dilanjutkan apalagi kalau seratus orang perajurit itu ikut mengeroyok, akhirnya dia tentu akan terluka. Maka dia mempertahankan sedapat mungkin untuk mengulur waktu agar memberi kesempatan kepada teman-temannya, terutama Puspa Dewi, agar gadis itu dapat melarikan Joko Pekik keluar tapal batas wilayah Parang Siluman. Benar saja apa yang dikhawatirkan terjadi. Lasmini meneriaki pasukannya untuk membantu dan puluhan batang senjata tajam kini menghujani tubuh Nurseta dari segala jurusan. Nurseta menggerakkan tangan ke belakang dan angin pukulan dahsyat menyambar, merobohkan empat orang sekaligus, akan tetapi pada saat dia memutar tongkat menangkis sambaran cambuk di tangan Lasmini dan pukulan telapak tangan hitam Mandari, tiba-tiba pundaknya tergores cengkeraman tangan Ki Nagakumala.
"Bretttt...!"
Bajunya
terobek. Kulit pundaknya terlindung kekebalan dan racun yang keluar dari
jari-jari tangan Ki Nagakumala itu punah oleh pengaruh Pusaka Tunggul Manik,
akan tetapi karena serangan itu mengandung tenaga sakti yang amat kuat, tidak
urung Nurseta merasa betapa pundaknya nyeri bukan main. Tulang pundaknya tidak
sampai patah, akan tetapi rasa ngilu membuat lengannya untuk sementara tidak
dapat menyalurkan tenaga sakti. Dia maklum bahwa saatnya tiba baginya untuk
melarikan diri. Cepat tubuhnya berkelebat menyelinap di antara para prajurit
yang mengepung bagaikan semut banyaknya. Hal ini malah menguntungkan baginya
karena mudah baginya untuk menyelinap dan berlindung di antara banyak prajurit
itu.
"Tar-tar-tarrr...!"
Ujung sabuk
atau Cambuk Sarpokenoko meledak-ledak, luput mengenai Nurseta malah merobohkan
tiga orang prajurit yang pecah kepala terkena sambaran ujung cambuk! Ketika
Mandari menyusulkan pukulan beracun, juga yang menjadi korban malah dua orang
prajurit Parang Siluman. Lasmini, Mandari, dan Ki Nagakumala menjadi penasaran.
Akan tetapi kini amat sukar mengejar Nurseta yang melarikan diri
menyusup-nyusup di antara para prajurit, merobohkan mereka yang berani
menghalanginya. Akhirnya setelah Nurseta berhasil keluar dari kepungan, barulah
tiga orang sakti Parang Siluman itu dapat mengejarnya lagi, diikuti oleh
pasukan. Akan tetapi cuaca mulai gelap dan mereka tidak mampu mengejar Nurseta
yang larinya cepat bagaikan angin dan setelah cuaca menjadi gelap, terpaksa Ki
Nagakumala dan dua orang keponakannya itu menghentikan pengejaran. Mereka
menjadi penasaran dan kecewa sekali mendengar bahwa pasukan mereka tidak
berhasil menyusul dan tidak berhasil merampas kembali Joko Pekik. Pasukan itu
hanya berhasil menyusul lima orang telik sandi. Akan tetapi Witarto dan empat
orang rekannya melakukan perlawanan sampai mati. Mereka tidak membiarkan diri
ditangkap karena kalau mereka tertangkap, tidak urung mereka akan dibunuh juga,
bahkan melalui penyiksaan. Maka, mereka melawan sampai mati dan menjadi pahlawan-pahlawan
Kahuripan yang berkorban nyawa demi membela Kahuripan.
Ki Nagakumala
dan dua orang keponakannya lalu terpaksa kembali ke kota raja untuk melapor
kepada Ratu Durgamala. Mereka lalu menyusun kekuatan karena dapat menduga bahwa
setelah kini Joko Pekik terlepas dari tangan mereka, Ki Patih Narotama pasti
akan memimpin pasukan datang menyerang!
Semalam suntuk
Puspa Dewi membawa Joko Pekik Satyabudhi berlari. Anak itu akhirnya tertidur
dalam pondongan-nya. Pada keesokan harinya, ia berhasil keluar dari daerah
Parang Siluman dan bertemu dengan pasukan Kahuripan yang dipimpin Ki Patih
Narotama. Biarpun Ki Patih Narotama belum berani menyerbu Parang Siluman, namun
setelah membiarkan pasukan yang baru saja menaklukkan Wengker beristirahat
beberapa hari lamanya, lalu memimpin pasukannya mendekati Parang Siluman. Dia
belum memasuki wilayah Parang Siluman, melainkan memerintahkan pasukan untuk
berkemah di dekat perbatasan. Ki Patih Narotama hendak menanti berita dari
Nurseta dan Puspa Dewi tentang puteranya. Sebelum mendapat berita itu dia tidak
akan berani menyerang Parang Siluman. Hal ini bukan hanya untuk menjaga
keselamatan nyawa puteranya, melainkan terutama sekali karena dia sudah
berjanji kepada Lasmini bahwa dia tidak akan menyerang Parang Siluman selama
Joko Pekik Satyabudhi masih berada di Parang Siluman! Bagi seorang satria dan
pendekar seperti Ki Patih Narotama, janji merupakan kehormatan dan dia lebih
menghargai kehormatan daripada nyawa sendiri sekalipun. Dia tidak akan
melanggar janji yang sudah dia ucapkan. Sang Prabu Erlangga maklum akan sikap
ini, maka raja yang arif bijaksana ini pun memberi ijin kepada Ki Patih
Narotama untuk menunda penyerangannya terhadap Parang Siluman. Dapat
dibayangkan betapa bahagia dan lega rasa hati Ki Patih Narotama ketika pagi
hari itu Puspa Dewi yang menyamar pria itu muncul sambil memondong Joko Pekik
Satyabudhi! Anak itu berada dalam keadaan selamat dan sehat! Puspa Dewi lalu
menceritakan tentang Nurseta dan pengalaman mereka dalam usaha merampas kembali
Joko Pekik Satyabudhi. Juga ia menceritakan tentang sepuluh orang telik sandi
pimpinan Witarto yang ia perkirakan tewas
semua dalam usaha mereka membantu Nurseta dan Puspa Dewi menyelamatkan
Joko Pekik Satyabudhi. Ki Patih Narotama prihatin sekali mendengar ini dan dia
pun mengambil kebijaksanaan untuk menjamin kesejahteraan keluarga sepuluh orang
itu secukupnya, sesuai dengan para prajurit telik sandi yang telah mengorbankan
nyawa demi menolong Joko Pekik. Pada siang harinya, muncul Nurseta. Ki Patih
Narotama mengucapkan terima kasih kepada Nurseta dan Puspa Dewi, kemudian dia
mengerahkan pasukan dan mulai menyerbu ke daerah Parang Siluman! Nurseta dan
Puspa Dewi tentu saja menjadi pembantu-pembantu utamanya. Seperti dalam
penyerbuan kepada tiga kerajaan lain, sekali ini pun Ki Patih Narotama melarang
keras pasukannya untuk melakukan kekejaman terhadap rakyat daerah Parang
Siluman. Mereka yang tidak melakukan perlawanan, tidak boleh diganggu. Bahkan
musuh yang telah menyerah tidak boleh dibunuh, melainkan menjadi tawanan.
Segala bentuk penyelewengan seperti penyiksaan, perampokan, perkosaan dan
sebagainya dilarang keras dan pelanggarnya akan menerima hukuman berat! Sikap
pasukan Kahuripan ini tentu saja mendapat sambutan baik rakyat daerah Parang
Siluman yang mereka lewati. Melihat pasukan Kahuripan sama sekali tidak
melakukan kekejaman kepada mereka seperti yang semula mereka takuti, membuat
mereka lega dan bahkan mereka menyambut masuknya pasukan itu dengan senyum
ramah!
Sikap pasukan
Kahuripan itu sungguh berbeda seperti bumi dengan langit dibandingkan sikap
para prajurit Parang Siluman kalau sedang melewati pedusunan. Mereka itu suka
mempergunakan kekuasaan untuk bertindak sewenang=wenang terhadap rakyat
kerajaannya sendiri. Merampas harta, mengganggu wanita, bukan hal aneh
dilakukan para perajurit Parang Siluman. Karena rakyat Parang Siluman pada
umumnya mendukung pasukan Kahuripan karena sikap baik mereka, maka pasukan
besar pimpinan Ki Patih Narotama itu tanpa banyak hambatan dan kesulitan dapat
maju terus sampai mereka berada di depan pintu gerbang kota raja Parang
Siluman! Para pimpinan Parang Siluman kini sudah tidak memiliki pegangan untuk
mempengaruhi Ki Patih Narotama. Tentu saja mereka tidak mau menyerah dan mereka
pun bertekad untuk melakukan perlawanan mati-matian terhadap musuh bebuyutan
yang mereka benci itu. Seperti kebiasaan yang lajim dilakukan dalam perang,
sebelum perang campuh antara dua pasukan dimulai, terlebih dulu para senopati
(panglima) kedua belah pihak bertanding mengadu kesaktian. Ratu Durgamala
sendiri, wanita berusia empat puluh dua tahun yang masih cantik seperti seorang
gadis berusia dua puluh tahun, dengan segala kebesaran dan kemewahan
pakaiannya, maju ke medan laga. Dari pihak Kahuripan segera maju Puspa Dewi
untuk menandinginya!
Puspa Dewi
kini tidak lagi menyamar sebagai pria, melainkan merupakan seorang gadis yang
selain tampak cantik manis, juga tampak gagah perkasa dalam pakaian
keprajuritan yang ringkas, bajunya berlengan pendek di atas siku sehingga
tampak lengannya yang berkulit putih halus, juga celananya sampai ke lutut
sehingga betis putih mulus memadi bunting itu tampak indah menarik. Begitu
Puspa Dewi maju menghadapinya, tanpa banyak cakap lagi Ratu Durgamala sudah
menerjang amat cepatnya, menggunakan sebatang keris kecil panjang berbentuk
ular. Puspa Dewi menangkis dengan Patrem Cundrik Arum pemberian Sang Prabu
Erlangga.
"Cringgg....!"
Bunga api
berpijar biru ketika dua batang senjata itu bertemu dan keduanya menarik
senjata masing-masing. Setelah melihat kerisnya tidak rusak, Ratu Durgamala
menyerang lagi dengan dahysat. Puspa Dewi mengelak dan balas menyerang sehingga
kedua orang wanita itu sudah saling serang dengan sengitnya. Terkadang keris
mereka saling bertemu sehingga terdengar bunyi berkencringan disusul meletiknya
bunga api.
Melihat
adiknya sudah maju bertanding, Ki Nagakumala juga melompat maju memegang
sebatang pedang. Melihat ini, atas persetujuan Ki Patih Narotama, Nurseta lalu
maju menghadapi laki-laki berusia lima puluh tahun lebih yang berwajah tampan
gagah dengan kumis melintang seperti Raden Gatutkaca itu.
Melihat
Nurseta maju menghadapinya, Ki Nagakumala marah sekali. Dia membenci pemuda ini
karena Nurseta ini yang membuat siasat Parang Siluman gagal total dengan
terlepasnya Joko Pekik Satyabudhi.
"Keparat,
mampus kau!" bentaknya dan pedangnya menyambar-nyambar dahsyat. Namun
dengan cekatan namun tenang sekali Nurseta mengelak lalu membalas dengan
tamparan tangannya yang juga dapat dielakkan lawan.
Mereka lalu
bertanding, saling serang dengan seru. Kini Lasmini dan Mandari maju bersama
dan Ki Patih Narotama lalu maju menghadapi mereka.
"Huh,
Narotama! Andika curang, mencuri Joko Pekik dari tangan kami!" Mandari
mencela dengan suara mengandung kemarahan dan kebencian. Dengan tenang tanpa
emosi Narotama menjawab.
"Mandari,
puteraku berada di tangan kalian karena kalian curi, kalau sekarang aku
mencurinya kembali, hal itu sudah sepantasnya."
"Narotama,
tegakah engkau melukai dan membunuh tubuhku ini yang dulu sering kau belai
dengan penuh kasih sayang?" Lasmini bertanya dengan suaranya yang merdu
merayu, senyum dan kerlingnya yang dulu pernah membuat Ki Patih Narotama
seolah-olah mabok kepayang.
"Lasmini,
kalau engkau terluka atau tewas, hal itu hanya terjadi sebagai akibat dari
ulahmu sendiri. Tidak ada gunanya menyalahkan orang lain karena semua sebab
berada dalam dirimu sendiri."
Baru saja Ki
Patih Narotama berhenti bicara, dua orang wanita cantik itu sudah menyerangnya
dengan dahsyat. Lasmini menyerang dengan cambuknya yang ampuh. Cambuk
Sarpokenoko adalah sebatang cambuk yang ampuh bukan main karena selain kuat
sekali, cambuk itu pun sudah "diisi" dengan kekuatan sihir dan juga
telah direndam racun yang mematikan. Adapun Mandari menggunakan kerisnya untuk
menyerang. Walaupun keris itu hanya merupakan senjata yang kecil dan pendek,
namun yang berada di tangan Mandari juga bukan keris biasa, melainkan sebuah
benda pusaka ampuh yang telah diisi ilmu hitam dan direndam racun. Sekali saja
tergores keris itu sudah cukup untuk membuat nyawa lawan melayang!
Ki Patih
Narotama tentu saja mengenal ketangguhan bekas selirnya dan juga Mandari. Dia
tidak memandang rendah walaupun tentu saja tingkat kepandaiannya jauh lebih
tinggi. Juga, bagaimanapun dia tidak tega untuk melukai atau membunuh Lasmini.
Kecantikan dan kepribadian bekas selirnya yang menarik itu masih saja memiliki
daya pesona yang kuat kepada kejantanannya. Juga dia ingat bahwa Mandari dulu
pernah menjadi selir tercinta Sang Prabu Erlangga, maka dia pun merasa segan
untuk melukai atau membunuhnya. Karena itu, dia menghadapi serangan mereka
dengan tenaga lunak. Dia mengelak dan terkadang menangkis senjata mereka dengan
tiupan hawa pukulan kedua tangannya. Biarpun tangannya tidak sampai menyentuh
kedua senjata itu, akan tetapi angin pukulannya saja cukup membuat
senjata-senjata itu terpental.
Lasmini dan
Mandari juga memaklumi akan kesaktian patih itu. Mereka berdua maklum bahwa
bagaimanapun mereka berusaha dan mengeluarkan semua aji kesaktian mereka,
mengerahkan seluruh tenaga, tetap saja mereka tidak akan mampu mengalahkan Ki
Patih Narotama. Mereka merasa serba salah. Tidak melawan salah karena sebagai
puteri-puteri istana, tentu saja mereka berdua harus mempertahankan kerajaan
ibu mereka. Melawan pun salah karena sudah pasti mereka tidak akan menang. Di samping
itu, mereka memang benci sekali kepada Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih
Narotama. Hal inilah yang membuat dua orang puteri cantik jelita itu menjadi
nekat dan mereka menyerang Ki Patih Narotama secara mati-matian.
Sementara itu,
Ki Nagakumala makin terdesak oleh Nurseta. Dia sudah mengeluarkan semua ilmu
yang dikuasai, mengerahkan seluruh tenaganya, namun semua serangannya dapat
dipatahkan Nurseta. Bahkan ketika Ki Nagakumala mengeluarkan semua ilmu
sihirnya, tidak ada satu pun yang mampu mempengaruhi pemuda itu. Tiba-tiba,
saking penasaran dan marahnya, Ki Nagakumala mengeluarkan aji pamungkasnya
(ilmu terakhir menentukan). Dia berkemak-kemik menggigit lidah sendiri sehingga
berdarah dan dia menyemburkan darah itu ke arah Nurseta. Itulah Aji Wisa Ludira,
darah yang mengandung hawa beracun, ilmu yang didasari sihir dan juga tenaga
sakti.
No comments:
Post a Comment