Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 85


Nurseta maklum bahwa tidak mungkin dia melanjutkan perkelahian dengan hanya bertahan saja tanpa dapat balas menyerang. Kalau dilanjutkan apalagi kalau seratus orang perajurit itu ikut mengeroyok, akhirnya dia tentu akan terluka. Maka dia mempertahankan sedapat mungkin untuk mengulur waktu agar memberi kesempatan kepada teman-temannya, terutama Puspa Dewi, agar gadis itu dapat melarikan Joko Pekik keluar tapal batas wilayah Parang Siluman. Benar saja apa yang dikhawatirkan terjadi. Lasmini meneriaki pasukannya untuk membantu dan puluhan batang senjata tajam kini menghujani tubuh Nurseta dari segala jurusan. Nurseta menggerakkan tangan ke belakang dan angin pukulan dahsyat menyambar, merobohkan empat orang sekaligus, akan tetapi pada saat dia memutar tongkat menangkis sambaran cambuk di tangan Lasmini dan pukulan telapak tangan hitam Mandari, tiba-tiba pundaknya tergores cengkeraman tangan Ki Nagakumala.
"Bretttt...!"
Bajunya terobek. Kulit pundaknya terlindung kekebalan dan racun yang keluar dari jari-jari tangan Ki Nagakumala itu punah oleh pengaruh Pusaka Tunggul Manik, akan tetapi karena serangan itu mengandung tenaga sakti yang amat kuat, tidak urung Nurseta merasa betapa pundaknya nyeri bukan main. Tulang pundaknya tidak sampai patah, akan tetapi rasa ngilu membuat lengannya untuk sementara tidak dapat menyalurkan tenaga sakti. Dia maklum bahwa saatnya tiba baginya untuk melarikan diri. Cepat tubuhnya berkelebat menyelinap di antara para prajurit yang mengepung bagaikan semut banyaknya. Hal ini malah menguntungkan baginya karena mudah baginya untuk menyelinap dan berlindung di antara banyak prajurit itu.
"Tar-tar-tarrr...!"
Ujung sabuk atau Cambuk Sarpokenoko meledak-ledak, luput mengenai Nurseta malah merobohkan tiga orang prajurit yang pecah kepala terkena sambaran ujung cambuk! Ketika Mandari menyusulkan pukulan beracun, juga yang menjadi korban malah dua orang prajurit Parang Siluman. Lasmini, Mandari, dan Ki Nagakumala menjadi penasaran. Akan tetapi kini amat sukar mengejar Nurseta yang melarikan diri menyusup-nyusup di antara para prajurit, merobohkan mereka yang berani menghalanginya. Akhirnya setelah Nurseta berhasil keluar dari kepungan, barulah tiga orang sakti Parang Siluman itu dapat mengejarnya lagi, diikuti oleh pasukan. Akan tetapi cuaca mulai gelap dan mereka tidak mampu mengejar Nurseta yang larinya cepat bagaikan angin dan setelah cuaca menjadi gelap, terpaksa Ki Nagakumala dan dua orang keponakannya itu menghentikan pengejaran. Mereka menjadi penasaran dan kecewa sekali mendengar bahwa pasukan mereka tidak berhasil menyusul dan tidak berhasil merampas kembali Joko Pekik. Pasukan itu hanya berhasil menyusul lima orang telik sandi. Akan tetapi Witarto dan empat orang rekannya melakukan perlawanan sampai mati. Mereka tidak membiarkan diri ditangkap karena kalau mereka tertangkap, tidak urung mereka akan dibunuh juga, bahkan melalui penyiksaan. Maka, mereka melawan sampai mati dan menjadi pahlawan-pahlawan Kahuripan yang berkorban nyawa demi membela Kahuripan.
Ki Nagakumala dan dua orang keponakannya lalu terpaksa kembali ke kota raja untuk melapor kepada Ratu Durgamala. Mereka lalu menyusun kekuatan karena dapat menduga bahwa setelah kini Joko Pekik terlepas dari tangan mereka, Ki Patih Narotama pasti akan memimpin pasukan datang menyerang!

Semalam suntuk Puspa Dewi membawa Joko Pekik Satyabudhi berlari. Anak itu akhirnya tertidur dalam pondongan-nya. Pada keesokan harinya, ia berhasil keluar dari daerah Parang Siluman dan bertemu dengan pasukan Kahuripan yang dipimpin Ki Patih Narotama. Biarpun Ki Patih Narotama belum berani menyerbu Parang Siluman, namun setelah membiarkan pasukan yang baru saja menaklukkan Wengker beristirahat beberapa hari lamanya, lalu memimpin pasukannya mendekati Parang Siluman. Dia belum memasuki wilayah Parang Siluman, melainkan memerintahkan pasukan untuk berkemah di dekat perbatasan. Ki Patih Narotama hendak menanti berita dari Nurseta dan Puspa Dewi tentang puteranya. Sebelum mendapat berita itu dia tidak akan berani menyerang Parang Siluman. Hal ini bukan hanya untuk menjaga keselamatan nyawa puteranya, melainkan terutama sekali karena dia sudah berjanji kepada Lasmini bahwa dia tidak akan menyerang Parang Siluman selama Joko Pekik Satyabudhi masih berada di Parang Siluman! Bagi seorang satria dan pendekar seperti Ki Patih Narotama, janji merupakan kehormatan dan dia lebih menghargai kehormatan daripada nyawa sendiri sekalipun. Dia tidak akan melanggar janji yang sudah dia ucapkan. Sang Prabu Erlangga maklum akan sikap ini, maka raja yang arif bijaksana ini pun memberi ijin kepada Ki Patih Narotama untuk menunda penyerangannya terhadap Parang Siluman. Dapat dibayangkan betapa bahagia dan lega rasa hati Ki Patih Narotama ketika pagi hari itu Puspa Dewi yang menyamar pria itu muncul sambil memondong Joko Pekik Satyabudhi! Anak itu berada dalam keadaan selamat dan sehat! Puspa Dewi lalu menceritakan tentang Nurseta dan pengalaman mereka dalam usaha merampas kembali Joko Pekik Satyabudhi. Juga ia menceritakan tentang sepuluh orang telik sandi pimpinan Witarto yang ia perkirakan tewas  semua dalam usaha mereka membantu Nurseta dan Puspa Dewi menyelamatkan Joko Pekik Satyabudhi. Ki Patih Narotama prihatin sekali mendengar ini dan dia pun mengambil kebijaksanaan untuk menjamin kesejahteraan keluarga sepuluh orang itu secukupnya, sesuai dengan para prajurit telik sandi yang telah mengorbankan nyawa demi menolong Joko Pekik. Pada siang harinya, muncul Nurseta. Ki Patih Narotama mengucapkan terima kasih kepada Nurseta dan Puspa Dewi, kemudian dia mengerahkan pasukan dan mulai menyerbu ke daerah Parang Siluman! Nurseta dan Puspa Dewi tentu saja menjadi pembantu-pembantu utamanya. Seperti dalam penyerbuan kepada tiga kerajaan lain, sekali ini pun Ki Patih Narotama melarang keras pasukannya untuk melakukan kekejaman terhadap rakyat daerah Parang Siluman. Mereka yang tidak melakukan perlawanan, tidak boleh diganggu. Bahkan musuh yang telah menyerah tidak boleh dibunuh, melainkan menjadi tawanan. Segala bentuk penyelewengan seperti penyiksaan, perampokan, perkosaan dan sebagainya dilarang keras dan pelanggarnya akan menerima hukuman berat! Sikap pasukan Kahuripan ini tentu saja mendapat sambutan baik rakyat daerah Parang Siluman yang mereka lewati. Melihat pasukan Kahuripan sama sekali tidak melakukan kekejaman kepada mereka seperti yang semula mereka takuti, membuat mereka lega dan bahkan mereka menyambut masuknya pasukan itu dengan senyum ramah!

Sikap pasukan Kahuripan itu sungguh berbeda seperti bumi dengan langit dibandingkan sikap para prajurit Parang Siluman kalau sedang melewati pedusunan. Mereka itu suka mempergunakan kekuasaan untuk bertindak sewenang=wenang terhadap rakyat kerajaannya sendiri. Merampas harta, mengganggu wanita, bukan hal aneh dilakukan para perajurit Parang Siluman. Karena rakyat Parang Siluman pada umumnya mendukung pasukan Kahuripan karena sikap baik mereka, maka pasukan besar pimpinan Ki Patih Narotama itu tanpa banyak hambatan dan kesulitan dapat maju terus sampai mereka berada di depan pintu gerbang kota raja Parang Siluman! Para pimpinan Parang Siluman kini sudah tidak memiliki pegangan untuk mempengaruhi Ki Patih Narotama. Tentu saja mereka tidak mau menyerah dan mereka pun bertekad untuk melakukan perlawanan mati-matian terhadap musuh bebuyutan yang mereka benci itu. Seperti kebiasaan yang lajim dilakukan dalam perang, sebelum perang campuh antara dua pasukan dimulai, terlebih dulu para senopati (panglima) kedua belah pihak bertanding mengadu kesaktian. Ratu Durgamala sendiri, wanita berusia empat puluh dua tahun yang masih cantik seperti seorang gadis berusia dua puluh tahun, dengan segala kebesaran dan kemewahan pakaiannya, maju ke medan laga. Dari pihak Kahuripan segera maju Puspa Dewi untuk menandinginya!
Puspa Dewi kini tidak lagi menyamar sebagai pria, melainkan merupakan seorang gadis yang selain tampak cantik manis, juga tampak gagah perkasa dalam pakaian keprajuritan yang ringkas, bajunya berlengan pendek di atas siku sehingga tampak lengannya yang berkulit putih halus, juga celananya sampai ke lutut sehingga betis putih mulus memadi bunting itu tampak indah menarik. Begitu Puspa Dewi maju menghadapinya, tanpa banyak cakap lagi Ratu Durgamala sudah menerjang amat cepatnya, menggunakan sebatang keris kecil panjang berbentuk ular. Puspa Dewi menangkis dengan Patrem Cundrik Arum pemberian Sang Prabu Erlangga.
"Cringgg....!"
Bunga api berpijar biru ketika dua batang senjata itu bertemu dan keduanya menarik senjata masing-masing. Setelah melihat kerisnya tidak rusak, Ratu Durgamala menyerang lagi dengan dahysat. Puspa Dewi mengelak dan balas menyerang sehingga kedua orang wanita itu sudah saling serang dengan sengitnya. Terkadang keris mereka saling bertemu sehingga terdengar bunyi berkencringan disusul meletiknya bunga api.
Melihat adiknya sudah maju bertanding, Ki Nagakumala juga melompat maju memegang sebatang pedang. Melihat ini, atas persetujuan Ki Patih Narotama, Nurseta lalu maju menghadapi laki-laki berusia lima puluh tahun lebih yang berwajah tampan gagah dengan kumis melintang seperti Raden Gatutkaca itu.
Melihat Nurseta maju menghadapinya, Ki Nagakumala marah sekali. Dia membenci pemuda ini karena Nurseta ini yang membuat siasat Parang Siluman gagal total dengan terlepasnya Joko Pekik Satyabudhi.
"Keparat, mampus kau!" bentaknya dan pedangnya menyambar-nyambar dahsyat. Namun dengan cekatan namun tenang sekali Nurseta mengelak lalu membalas dengan tamparan tangannya yang juga dapat dielakkan lawan.
Mereka lalu bertanding, saling serang dengan seru. Kini Lasmini dan Mandari maju bersama dan Ki Patih Narotama lalu maju menghadapi mereka.
"Huh, Narotama! Andika curang, mencuri Joko Pekik dari tangan kami!" Mandari mencela dengan suara mengandung kemarahan dan kebencian. Dengan tenang tanpa emosi Narotama menjawab.
"Mandari, puteraku berada di tangan kalian karena kalian curi, kalau sekarang aku mencurinya kembali, hal itu sudah sepantasnya."
"Narotama, tegakah engkau melukai dan membunuh tubuhku ini yang dulu sering kau belai dengan penuh kasih sayang?" Lasmini bertanya dengan suaranya yang merdu merayu, senyum dan kerlingnya yang dulu pernah membuat Ki Patih Narotama seolah-olah mabok kepayang.
"Lasmini, kalau engkau terluka atau tewas, hal itu hanya terjadi sebagai akibat dari ulahmu sendiri. Tidak ada gunanya menyalahkan orang lain karena semua sebab berada dalam dirimu sendiri."
Baru saja Ki Patih Narotama berhenti bicara, dua orang wanita cantik itu sudah menyerangnya dengan dahsyat. Lasmini menyerang dengan cambuknya yang ampuh. Cambuk Sarpokenoko adalah sebatang cambuk yang ampuh bukan main karena selain kuat sekali, cambuk itu pun sudah "diisi" dengan kekuatan sihir dan juga telah direndam racun yang mematikan. Adapun Mandari menggunakan kerisnya untuk menyerang. Walaupun keris itu hanya merupakan senjata yang kecil dan pendek, namun yang berada di tangan Mandari juga bukan keris biasa, melainkan sebuah benda pusaka ampuh yang telah diisi ilmu hitam dan direndam racun. Sekali saja tergores keris itu sudah cukup untuk membuat nyawa lawan melayang!

Ki Patih Narotama tentu saja mengenal ketangguhan bekas selirnya dan juga Mandari. Dia tidak memandang rendah walaupun tentu saja tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi. Juga, bagaimanapun dia tidak tega untuk melukai atau membunuh Lasmini. Kecantikan dan kepribadian bekas selirnya yang menarik itu masih saja memiliki daya pesona yang kuat kepada kejantanannya. Juga dia ingat bahwa Mandari dulu pernah menjadi selir tercinta Sang Prabu Erlangga, maka dia pun merasa segan untuk melukai atau membunuhnya. Karena itu, dia menghadapi serangan mereka dengan tenaga lunak. Dia mengelak dan terkadang menangkis senjata mereka dengan tiupan hawa pukulan kedua tangannya. Biarpun tangannya tidak sampai menyentuh kedua senjata itu, akan tetapi angin pukulannya saja cukup membuat senjata-senjata itu terpental.
Lasmini dan Mandari juga memaklumi akan kesaktian patih itu. Mereka berdua maklum bahwa bagaimanapun mereka berusaha dan mengeluarkan semua aji kesaktian mereka, mengerahkan seluruh tenaga, tetap saja mereka tidak akan mampu mengalahkan Ki Patih Narotama. Mereka merasa serba salah. Tidak melawan salah karena sebagai puteri-puteri istana, tentu saja mereka berdua harus mempertahankan kerajaan ibu mereka. Melawan pun salah karena sudah pasti mereka tidak akan menang. Di samping itu, mereka memang benci sekali kepada Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Hal inilah yang membuat dua orang puteri cantik jelita itu menjadi nekat dan mereka menyerang Ki Patih Narotama secara mati-matian.
Sementara itu, Ki Nagakumala makin terdesak oleh Nurseta. Dia sudah mengeluarkan semua ilmu yang dikuasai, mengerahkan seluruh tenaganya, namun semua serangannya dapat dipatahkan Nurseta. Bahkan ketika Ki Nagakumala mengeluarkan semua ilmu sihirnya, tidak ada satu pun yang mampu mempengaruhi pemuda itu. Tiba-tiba, saking penasaran dan marahnya, Ki Nagakumala mengeluarkan aji pamungkasnya (ilmu terakhir menentukan). Dia berkemak-kemik menggigit lidah sendiri sehingga berdarah dan dia menyemburkan darah itu ke arah Nurseta. Itulah Aji Wisa Ludira, darah yang mengandung hawa beracun, ilmu yang didasari sihir dan juga tenaga sakti.

<<< Bagian 84                                                                                         Bagian 86 >>>

No comments:

Post a Comment