Darah yang disemburkan itu berubah menjadi sinar merah. Nurseta terkejut juga karena ada hawa yang dahsyat menyambar, mendahului sinar merah itu dan tercium bau yang amis sekali. Dia pun mengerahkan tenaga saktinya dan mendorongkan kedua tangannya ke arah sinar merah yang meluncur ke arah dadanya itu.
"Wuuuuttt....
bresss!!"
Sinar itu
membalik dan tubuh Ki Nagakumala terjengkang dan dia tewas seketika karena
tenaga dahsyat yang menyerang ke arah Nurseta tadi membalik dan menghantam
dirinya sendiri! Melihat betapa kakaknya roboh oleh Nurseta, Ratu Durgamala
terkejut dan marah sekali. Dengan seluruh tenaga dan kesaktiannya, ia lalu
menyerang Puspa Dewi. Kerisnya menyambar-nyambar bagaikan cakar maut. Puspa
Dewi menggunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak, namun Ratu Durgamala yang
sudah amat bernapsu untuk membunuh lawan ini terus mendesaknya. Karena desakan
itu berbahaya, Puspa Dewi mengesampingkan keraguannya untuk melakukan serangan
balasan yang dahsyat. Ketika ia melihat ada lowongan, begitu keris lawan
menusuk ke arah ulu hatinya, Puspa Dewi menangkis dengan pengerahan tenaga dari
samping. Sang Cundrik Arum berkelebat menjadi sinar putih, menangkis keris Ratu
Durgamala.
"Trangggg...!"
Tangkisan itu
demikian kuatnya sehingga tubuh Ratu Durgamala terdorong miring. Sebelum ia
dapat menegakkan kembali tubuhnya, tangan kiri Puspa Dewi menyambar dengan
dahsyatnya. Tamparan tangan kiri itu tampaknya perlahan saja, namun, mengandung
hawa sakti yang kuat.
"Plakk!"
Sisi kanan
kepala Ratu Durgamala terkena tamparan tangan kiri Puspa Dewi. Ratu Parang
Siluman itu mengeluh, tubuhnya terkulai dan ia roboh tak bergerak lagi.
Kepalanya sama sekali tidak terluka, namun tamparan yang mengandung tenaga
dalam amat kuatnya itu telah mengguncang dan merusak isi kepala sehingga Ratu
Durgamala tewas seketika!
Lasmini dan
Mandari terkejut dan air mata bercucuran di atas pipi mereka ketika mereka
melihat betapa ibu mereka, Ratu Durgamala, dan paman mereka, Ki Nagakumala
telah tewas. Mereka lalu menyerang Ki Patih Narotama seperti gila, mengamuk dan
membabi-buta.
"Tar-tar
r....!"
Cambuk
Sarpokenoko di tangan Lasmini menyambar ke arah kepala Ki Patih Narotama dan
Mandari juga menusukkan kerisnya ke dada Sang Patih.
"Piakk!
Tukk!"
Ujung cambuk
dapat ditangkap Ki Patih Narotama dan keris di tangan Mandari mengenai dadanya,
namun keris itu seolah menusuk baja sehingga terpental.
"Kalian
pergilah!"
Ki Patih
Narotama menggunakan kedua telapak tangannya mendorong ke arah dua orang wanita
itu. Dorongan ini mendatangkan angin yang kuat sekali seperti badai mengamuk
dan dua orang wanita cantik itu terdorong jauh ke belakang dan roboh
bergulingan! Akan tetapi mereka tidak terluka karena memang Ki Patih Narotama
tidak tega untuk melukai mereka, apalagi membunuh. Lasmini melompat ke dekat
jenazah ibunya dan mengangkat jenazah itu ke dalam pondongannya. Mandari yang
sayang kepada paman atau juga gurunya itu pun memondong jenazah Ki Nagakumala,
kemudian keduanya melarikan diri sambil memondong jenazah ibu dan paman mereka
itu.
Ki Patih
Narotama memberi isyarat dan para perwira memimpin pasukan mereka untuk
menyerbu. Sambil bersorak-sorai pasukan Kahuripan menyerbu, disambut pasukan
Parang Siluman sehingga terjadilah perang campuh yang hebat di depan pintu
gerbang Kota Raja Parang Siluman. Akan tetapi melihat para pimpinannya sudah
kalah, bahkan Sang Ratu telah tewas, demikian pula Ki Nagakumala yang mereka
andalkan, juga kedua orang puteri telah melarikan diri, maka para prajurit
Parang Siluman melawan dengan semangat menurun. Hai ini ditambah lagi dengan
jumlah mereka yang hanya setengahnya dari jumlah pasukan Kahuripan, maka perang
campuh itu pun tidak berlangsung terlalu lama. Sebagian mundur ke dalam kota
raja dan sebagian lagi sudah roboh atau melarikan diri. Pasukan Kahuripan terus
maju mendesak dan menjebol pintu gerbang dan pertempuran di dalam kota raja
hanya berlangsung sebentar. Pasukan Parang Siluman yang sudah kocar-kacir itu,
sebagian membuang senjata dan menjatuhkan diri berlutut tanda menyerah,
sebagian lagi berserabutan melarikan diri keluar kota raja.
Kerajaan
Parang Siluman ditalukkan. Seperti yang terjadi pada tiga kerajaan lain yang
sudah lebih dulu ditaklukkan, Narotama melarang pembunuhan terhadap mereka yang
menyerah. Keluarga istana tidak diganggu dan untuk sementara Ki Patih Narotama
mengangkat para perwira pembantunya untuk mengurus roda pemerintahan di Parang
Siluman. Seperti juga Kadipaten Wengker, Wura-wuri, dan Siluman Laut Kidul,
kini Parang Siluman menjadi wilayah Kahuripan. Ki Patih Narotama, Nurseta,
Puspa Dewi, membawa pasukan kembali ke Kahuripan dengan gembira karena tugas
menaklukkan para kadipaten yang selalu memusuhi dan merongrong Kahuripan telah
selesai dengan baik dan pasukan pulang membawa kemenangan. Terutama sekali Ki
Patih Narotama bergembira karena puteranya, Joko Pekik Satyabudhi, telah pulang
ke pangkuan ibunya dengan selamat. Nurseta pulang ke gedung mendiang Senopati
Sindukerta, kakeknya. Dia disambut oleh ayah ibunya dan neneknya. Kedukaan
karena gugurnya Senopati Sindukerta dalam perang terobati dengan berita
kemenangan pasukan Kahuripan. Keluarga ini lalu mengadakan pesta keluarga untuk
menyambut dan merayakan kemenangan itu. Demikian pula Puspa Dewi disambut ayah
ibunya dan neneknya. Keluarganya memang masih merasakan kesedihan karena
gugurnya Tumenggung Jayatanu dalam perang dan hilangnya Niken Harni. Akan
tetapi Puspa Dewi menghibur nenek, ayah dan ibunya dengan mengatakan bahwa
kakeknya tewas dengan terhormat sebagai seorang pahlawan pembela negara,
sedangkan adiknya, Niken Harni, dibawa oleh nenek sakti mandraguna Nini
Bumigarbo dan menjadi muridnya.
Pada hari itu
juga, Nurseta dan Puspa Dewi dipanggil Sang Prabu Erlangga. Mereka berdua
saling bertemu di istana, sama-sama menghadap Sang Prabu Erlangga yang wajahnya
tampak cerah gembira sekali mendengar akan kemenangan yang dicapai pasukannya.
Ki Patih Narotama berada pula di situ dan dia telah melaporkan semua hasil yang
dicapai pasukannya dengan jelas, juga tidak lupa melaporkan jasa-jasa para
pembantunya, termasuk jasa besar Nurseta dan Puspa Dewi. Setelah memuji kedua
orang muda itu, Sang Prabu Erlangga yang mengetahui bahwa sejak dahulu dua
orang muda ini tidak ingin terikat dengan pangkat, memberi hadiah berupa rumah
gedung seisinya.
"Nurseta
dan Ni Puspa Dewi, biarpun Andika berdua tidak ingin menjadi pamong praja dan
ingin menjadi kawula biasa, namun kami masih mengharapkan bantuan Andika
berdua."
Dua orang muda
itu menyembah, menghaturkan terima kasih atas hadiah-hadiah yang diberikan oleh
Sang Prabu Erlangga, lalu Nurseta menjawab.
"Hamba
siap melaksanakan perintah Paduka, Gusti."
"Hamba
juga siap membantu, Gusti." kata Puspa Dewi.
"Bagus,
kami senang sekali mendengar kesanggupan Andika berdua. Kami hanya ingin agar
kalian berdua membantu ditemukannya kembali pusaka kraton Sang Cupu Manik Maya
yang hilang dicuri orang. Tadinya kami mengira bahwa yang mencuri tentu
orang-orang dari Empat Kadipaten yang memberontak, akan tetapi setelah mereka
ditalukkan dan dicari, juga diselidiki, pusaka itu tidak ada pada mereka. Kami
minta agar Andika berdua suka membantu Kakang Patih Narotama untuk menemukan
kembali pusaka itu."
"Sendika,
Gusti." kata Nurseta.
"Hamba
siap. Gusti." Kata Puspa Dewi.
Setelah tiba
di rumah neneknya, Ki Dharmaguna dan Endang Sawitri berkata kepada Nurseta yang
duduk di depan mereka, dihadiri pula oleh Nyi Sindukerta.
"Nurseta,
kami bertiga, Nenekmu, Ibumu dan aku sendiri tadi sudah mengadakan perundingan
dengan keluarga Adimas Senopati Yudajaya, isterinya, dan Nyai Tumenggung
Jayatanu. Kami membicarakan tentang perjodohanmu dengan Puspa Dewi dan mereka
menyatakan persetujuan mereka. Oleh karena itu, Nurseta, kami berniat untuk
mengajukan pinangan secara resmi. Engkau tentu setuju, bukan?"
"Kanjeng
Rama, Kanjeng Ibu, dan Kanjeng Eyang Puteri. Seperti dulu pernah saya jawab,
saya serahkan saja urusan perjodohan kepada paduka bertiga. Akan tetapi saya
mohon agar pinangan itu jangan diajukan sekarang. Hendaknya paduka bertiga
mengetahui bahwa pada saat ini saya dan juga Puspa Dewi masih mengemban tugas
penting menaati perintah Gusti Sinuhun, yaitu mencari dan menemukan kembali
Sang Cupu Manik Maya yang hilang dicuri orang. Tugas ini penting sekali karena
pusaka itu merupakan pusaka keramat sebagai satu di antara Wahyu Kraton, maka
tugas membela negara ini harus lebih diutamakan di atas kepentingan pribadi."
Tiga orang tua
itu mengangguk-angguk dan tidak dapat membantah. Mereka menyetujui permintaan
Nurseta untuk menunda pinangan sampai dapat ditemukannya kembali pusaka Cupu
Manik Maya. Di rumah Nyai Tumenggung Jayatanu terdapat adegan yang mirip dengan
adegan di rumah keluarga Nyai Senopati Sindukerta. Puspa Dewi juga dihadapi
neneknya, ayah dan ibunya yang menyatakan hal yang sama, yaitu tentang
disetujuinya oleh para orang tua perjodohan antara Puspa Dewi dengan Nurseta.
"Maafkan,
Kanjeng Rama, bukan saya menolak. Nurseta adalah seorang satria yang gagah
perkasa dan baik budi, dan tentang perjodohan, saya serahkan kepada paduka
bertiga. Akan tetapi, saya ingin melaksanakan tugas-tugas penting saya lebih
dulu. Pertama, menaati perintah Gusti Sinuwun untuk menemukan kembali pusaka
Cupu Manik Maya yang hilang dicuri orang. Dan kedua, saya harus lebih dulu
bertemu dengan Diajeng Niken Harni. Walaupun saya sudah mendengar bahwa ia ikut
Nini Bumigarbo dan menjadi muridnya, namun hati saya belum puas kalau belum dapat
bertemu sendiri dengannya. Maka, saya mohon agar hal itu ditunda dulu dan beri
saya kesempatan untuk menjajagi apakah hati saya setuju menerima dia sebagai
suami saya."
Tiga orang tua
itu pun tidak dapat membantah dan mereka tahu bahwa Puspa Dewi masih sangsi
apakah antara ia dan Nurseta ada perasaan saling mencinta. Sehabis gelap
terbitlah terang. Setelah perang usai muncullah tenteram dan damai. Rakyat
seluruhnya, termasuk rakyat yang tadinya menjadi kawula Wengker, Siluman Laut
Kidul, Wura-wuri, dan Parang Siluman, kini hidup tenteram damai dan sejahtera.
Semua ini berkat kebijaksanaan para penguasa, yaitu Sang Prabu Erlangga, Ki
Patih Narotama dan menurun sampai ke pamong yang paling rendah pangkatnya.
Kebijaksanaan Sang Prabu Erlangga yang dibantu oleh para pamong praja yang
dengan sendirinya mencontoh junjungan atau atasan mereka itu bagaikan batang
pohon yang subur dan sehat sehingga semua cabang ranting daun kembang dan
buahnya juga sehat dan subur. Rakyat seluruh lapisan, dari yang paling atas sampai
yang paling bawah, dapat merasakan keadilan dan kemakmuran hidup mereka.
Tenteram, damai dan sejahtera. Para penguasa sadar bahwa kekuasaan mereka itu
mereka dapat dari rakyat. Rakyat yang memberi kuasa kepada mereka karena tanpa
adanya rakyat, tidak akan ada mereka.
Kekuasaan
mereka itu bukan untuk sewenang-wenang mengandalkan kekuasaan, melainkan untuk
membimbing rakyat melaksanakan segala macam pembangunan demi kesejahteraan.
Para penguasa bukan sekedar memperhamba rakyat dan ingin dilayani, melainkan
juga melayani rakyat jelata. Bukan mabok kekuasaan dan menumpuk harta berenang
dalam kemewahan dan kesenangan duniawi, melainkan menujukan semua perjuangan
demi mengangkat kehidupan rakyat yang miskin dan papa menjadi sejahtera, murah
sandang pangan papan. Kalau para penguasa tidak berlumba menumpuk harta dengan
cara yang curang dan korup, kalau para penguasa tidak sewenang-wenang
mengandalkan kekuasaan mencari benar dan menang, kalau para penguasa
benar-benar mencintai dan mementingkan perbaikan nasib rakyat, kalau para
penguasa merupakan manusia-manusia yang taat berbakti kepada Sang Hyang Widhi
Wasa, Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga semua tindakan yang mereka ambil tidak
menyimpang dari kebenaran, kalau semua penguasa menyadari betul bahwa mereka
merupakan alat-alat Yang Maha Adil untuk melaksanakan tugas "memayu
hayuning bhuwana", maka dengan sendirinya, seperti cabang ranting daun
bunga; dan buah batang pohon yang sehat menjadi sehat pula, rakyat jelata pasti
akan tunduk, taat, setia dan mencinta para pemimpinnya yang memegang kendali
pemerintahan.
Pemerintah
Kerajaan Kahuripan di bawah pimpinan Sang Prabu Erlangga menjadi contoh
pemerintahan yang baik. Sang Prabu Erlangga bijaksana, baik budi, tidak
mementingkan diri atau keluarga sendiri, tidak korup, atau singkatnya bertangan
bersih. Maka, dengan sendirinya Ki Patih Narotama juga tidak berani mengotori
tangannya karena tentu akan ditegur dan dihukum oleh rajanya. Demikian pula
kalau tangan Ki Patih Narotama bersih, bawahannya, para senopati juga tidak
berani mengotorkan tangan melakukan korupsi dan sebagainya karena pasti akan
ditegur dan ditekan oleh atasan mereka, yaitu Ki Patih Narotama. Demikian
seterusnya, para senopati yang bertangan bersih akan membuat bawahannya juga
tidak berani mengotori tangan. Kalau ini terus berlanjut sampai pada pamong
praja yang paling rendah kedudukannya, maka pemerintahan itu menjadi bersih,
dipegang orang-orang yang bertangan bersih.
TAMAT