Nurseta Satria Karangtirta ; Bagian 86


Darah yang disemburkan itu berubah menjadi sinar merah. Nurseta terkejut juga karena ada hawa yang dahsyat menyambar, mendahului sinar merah itu dan tercium bau yang amis sekali. Dia pun mengerahkan tenaga saktinya dan mendorongkan kedua tangannya ke arah sinar merah yang meluncur ke arah dadanya itu.
"Wuuuuttt.... bresss!!"
Sinar itu membalik dan tubuh Ki Nagakumala terjengkang dan dia tewas seketika karena tenaga dahsyat yang menyerang ke arah Nurseta tadi membalik dan menghantam dirinya sendiri! Melihat betapa kakaknya roboh oleh Nurseta, Ratu Durgamala terkejut dan marah sekali. Dengan seluruh tenaga dan kesaktiannya, ia lalu menyerang Puspa Dewi. Kerisnya menyambar-nyambar bagaikan cakar maut. Puspa Dewi menggunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak, namun Ratu Durgamala yang sudah amat bernapsu untuk membunuh lawan ini terus mendesaknya. Karena desakan itu berbahaya, Puspa Dewi mengesampingkan keraguannya untuk melakukan serangan balasan yang dahsyat. Ketika ia melihat ada lowongan, begitu keris lawan menusuk ke arah ulu hatinya, Puspa Dewi menangkis dengan pengerahan tenaga dari samping. Sang Cundrik Arum berkelebat menjadi sinar putih, menangkis keris Ratu Durgamala.
"Trangggg...!"
Tangkisan itu demikian kuatnya sehingga tubuh Ratu Durgamala terdorong miring. Sebelum ia dapat menegakkan kembali tubuhnya, tangan kiri Puspa Dewi menyambar dengan dahsyatnya. Tamparan tangan kiri itu tampaknya perlahan saja, namun, mengandung hawa sakti yang kuat.
"Plakk!"
Sisi kanan kepala Ratu Durgamala terkena tamparan tangan kiri Puspa Dewi. Ratu Parang Siluman itu mengeluh, tubuhnya terkulai dan ia roboh tak bergerak lagi. Kepalanya sama sekali tidak terluka, namun tamparan yang mengandung tenaga dalam amat kuatnya itu telah mengguncang dan merusak isi kepala sehingga Ratu Durgamala tewas seketika!

Lasmini dan Mandari terkejut dan air mata bercucuran di atas pipi mereka ketika mereka melihat betapa ibu mereka, Ratu Durgamala, dan paman mereka, Ki Nagakumala telah tewas. Mereka lalu menyerang Ki Patih Narotama seperti gila, mengamuk dan membabi-buta.
"Tar-tar r....!"
Cambuk Sarpokenoko di tangan Lasmini menyambar ke arah kepala Ki Patih Narotama dan Mandari juga menusukkan kerisnya ke dada Sang Patih.
"Piakk! Tukk!"
Ujung cambuk dapat ditangkap Ki Patih Narotama dan keris di tangan Mandari mengenai dadanya, namun keris itu seolah menusuk baja sehingga terpental.
"Kalian pergilah!"
Ki Patih Narotama menggunakan kedua telapak tangannya mendorong ke arah dua orang wanita itu. Dorongan ini mendatangkan angin yang kuat sekali seperti badai mengamuk dan dua orang wanita cantik itu terdorong jauh ke belakang dan roboh bergulingan! Akan tetapi mereka tidak terluka karena memang Ki Patih Narotama tidak tega untuk melukai mereka, apalagi membunuh. Lasmini melompat ke dekat jenazah ibunya dan mengangkat jenazah itu ke dalam pondongannya. Mandari yang sayang kepada paman atau juga gurunya itu pun memondong jenazah Ki Nagakumala, kemudian keduanya melarikan diri sambil memondong jenazah ibu dan paman mereka itu.
Ki Patih Narotama memberi isyarat dan para perwira memimpin pasukan mereka untuk menyerbu. Sambil bersorak-sorai pasukan Kahuripan menyerbu, disambut pasukan Parang Siluman sehingga terjadilah perang campuh yang hebat di depan pintu gerbang Kota Raja Parang Siluman. Akan tetapi melihat para pimpinannya sudah kalah, bahkan Sang Ratu telah tewas, demikian pula Ki Nagakumala yang mereka andalkan, juga kedua orang puteri telah melarikan diri, maka para prajurit Parang Siluman melawan dengan semangat menurun. Hai ini ditambah lagi dengan jumlah mereka yang hanya setengahnya dari jumlah pasukan Kahuripan, maka perang campuh itu pun tidak berlangsung terlalu lama. Sebagian mundur ke dalam kota raja dan sebagian lagi sudah roboh atau melarikan diri. Pasukan Kahuripan terus maju mendesak dan menjebol pintu gerbang dan pertempuran di dalam kota raja hanya berlangsung sebentar. Pasukan Parang Siluman yang sudah kocar-kacir itu, sebagian membuang senjata dan menjatuhkan diri berlutut tanda menyerah, sebagian lagi berserabutan melarikan diri keluar kota raja.

Kerajaan Parang Siluman ditalukkan. Seperti yang terjadi pada tiga kerajaan lain yang sudah lebih dulu ditaklukkan, Narotama melarang pembunuhan terhadap mereka yang menyerah. Keluarga istana tidak diganggu dan untuk sementara Ki Patih Narotama mengangkat para perwira pembantunya untuk mengurus roda pemerintahan di Parang Siluman. Seperti juga Kadipaten Wengker, Wura-wuri, dan Siluman Laut Kidul, kini Parang Siluman menjadi wilayah Kahuripan. Ki Patih Narotama, Nurseta, Puspa Dewi, membawa pasukan kembali ke Kahuripan dengan gembira karena tugas menaklukkan para kadipaten yang selalu memusuhi dan merongrong Kahuripan telah selesai dengan baik dan pasukan pulang membawa kemenangan. Terutama sekali Ki Patih Narotama bergembira karena puteranya, Joko Pekik Satyabudhi, telah pulang ke pangkuan ibunya dengan selamat. Nurseta pulang ke gedung mendiang Senopati Sindukerta, kakeknya. Dia disambut oleh ayah ibunya dan neneknya. Kedukaan karena gugurnya Senopati Sindukerta dalam perang terobati dengan berita kemenangan pasukan Kahuripan. Keluarga ini lalu mengadakan pesta keluarga untuk menyambut dan merayakan kemenangan itu. Demikian pula Puspa Dewi disambut ayah ibunya dan neneknya. Keluarganya memang masih merasakan kesedihan karena gugurnya Tumenggung Jayatanu dalam perang dan hilangnya Niken Harni. Akan tetapi Puspa Dewi menghibur nenek, ayah dan ibunya dengan mengatakan bahwa kakeknya tewas dengan terhormat sebagai seorang pahlawan pembela negara, sedangkan adiknya, Niken Harni, dibawa oleh nenek sakti mandraguna Nini Bumigarbo dan menjadi muridnya.

Pada hari itu juga, Nurseta dan Puspa Dewi dipanggil Sang Prabu Erlangga. Mereka berdua saling bertemu di istana, sama-sama menghadap Sang Prabu Erlangga yang wajahnya tampak cerah gembira sekali mendengar akan kemenangan yang dicapai pasukannya. Ki Patih Narotama berada pula di situ dan dia telah melaporkan semua hasil yang dicapai pasukannya dengan jelas, juga tidak lupa melaporkan jasa-jasa para pembantunya, termasuk jasa besar Nurseta dan Puspa Dewi. Setelah memuji kedua orang muda itu, Sang Prabu Erlangga yang mengetahui bahwa sejak dahulu dua orang muda ini tidak ingin terikat dengan pangkat, memberi hadiah berupa rumah gedung seisinya.
"Nurseta dan Ni Puspa Dewi, biarpun Andika berdua tidak ingin menjadi pamong praja dan ingin menjadi kawula biasa, namun kami masih mengharapkan bantuan Andika berdua."
Dua orang muda itu menyembah, menghaturkan terima kasih atas hadiah-hadiah yang diberikan oleh Sang Prabu Erlangga, lalu Nurseta menjawab.
"Hamba siap melaksanakan perintah Paduka, Gusti."
"Hamba juga siap membantu, Gusti." kata Puspa Dewi.
"Bagus, kami senang sekali mendengar kesanggupan Andika berdua. Kami hanya ingin agar kalian berdua membantu ditemukannya kembali pusaka kraton Sang Cupu Manik Maya yang hilang dicuri orang. Tadinya kami mengira bahwa yang mencuri tentu orang-orang dari Empat Kadipaten yang memberontak, akan tetapi setelah mereka ditalukkan dan dicari, juga diselidiki, pusaka itu tidak ada pada mereka. Kami minta agar Andika berdua suka membantu Kakang Patih Narotama untuk menemukan kembali pusaka itu."
"Sendika, Gusti." kata Nurseta.
"Hamba siap. Gusti." Kata Puspa Dewi.

Setelah tiba di rumah neneknya, Ki Dharmaguna dan Endang Sawitri berkata kepada Nurseta yang duduk di depan mereka, dihadiri pula oleh Nyi Sindukerta.
"Nurseta, kami bertiga, Nenekmu, Ibumu dan aku sendiri tadi sudah mengadakan perundingan dengan keluarga Adimas Senopati Yudajaya, isterinya, dan Nyai Tumenggung Jayatanu. Kami membicarakan tentang perjodohanmu dengan Puspa Dewi dan mereka menyatakan persetujuan mereka. Oleh karena itu, Nurseta, kami berniat untuk mengajukan pinangan secara resmi. Engkau tentu setuju, bukan?"
"Kanjeng Rama, Kanjeng Ibu, dan Kanjeng Eyang Puteri. Seperti dulu pernah saya jawab, saya serahkan saja urusan perjodohan kepada paduka bertiga. Akan tetapi saya mohon agar pinangan itu jangan diajukan sekarang. Hendaknya paduka bertiga mengetahui bahwa pada saat ini saya dan juga Puspa Dewi masih mengemban tugas penting menaati perintah Gusti Sinuhun, yaitu mencari dan menemukan kembali Sang Cupu Manik Maya yang hilang dicuri orang. Tugas ini penting sekali karena pusaka itu merupakan pusaka keramat sebagai satu di antara Wahyu Kraton, maka tugas membela negara ini harus lebih diutamakan di atas kepentingan pribadi."
Tiga orang tua itu mengangguk-angguk dan tidak dapat membantah. Mereka menyetujui permintaan Nurseta untuk menunda pinangan sampai dapat ditemukannya kembali pusaka Cupu Manik Maya. Di rumah Nyai Tumenggung Jayatanu terdapat adegan yang mirip dengan adegan di rumah keluarga Nyai Senopati Sindukerta. Puspa Dewi juga dihadapi neneknya, ayah dan ibunya yang menyatakan hal yang sama, yaitu tentang disetujuinya oleh para orang tua perjodohan antara Puspa Dewi dengan Nurseta.
"Maafkan, Kanjeng Rama, bukan saya menolak. Nurseta adalah seorang satria yang gagah perkasa dan baik budi, dan tentang perjodohan, saya serahkan kepada paduka bertiga. Akan tetapi, saya ingin melaksanakan tugas-tugas penting saya lebih dulu. Pertama, menaati perintah Gusti Sinuwun untuk menemukan kembali pusaka Cupu Manik Maya yang hilang dicuri orang. Dan kedua, saya harus lebih dulu bertemu dengan Diajeng Niken Harni. Walaupun saya sudah mendengar bahwa ia ikut Nini Bumigarbo dan menjadi muridnya, namun hati saya belum puas kalau belum dapat bertemu sendiri dengannya. Maka, saya mohon agar hal itu ditunda dulu dan beri saya kesempatan untuk menjajagi apakah hati saya setuju menerima dia sebagai suami saya."
Tiga orang tua itu pun tidak dapat membantah dan mereka tahu bahwa Puspa Dewi masih sangsi apakah antara ia dan Nurseta ada perasaan saling mencinta. Sehabis gelap terbitlah terang. Setelah perang usai muncullah tenteram dan damai. Rakyat seluruhnya, termasuk rakyat yang tadinya menjadi kawula Wengker, Siluman Laut Kidul, Wura-wuri, dan Parang Siluman, kini hidup tenteram damai dan sejahtera. Semua ini berkat kebijaksanaan para penguasa, yaitu Sang Prabu Erlangga, Ki Patih Narotama dan menurun sampai ke pamong yang paling rendah pangkatnya. Kebijaksanaan Sang Prabu Erlangga yang dibantu oleh para pamong praja yang dengan sendirinya mencontoh junjungan atau atasan mereka itu bagaikan batang pohon yang subur dan sehat sehingga semua cabang ranting daun kembang dan buahnya juga sehat dan subur. Rakyat seluruh lapisan, dari yang paling atas sampai yang paling bawah, dapat merasakan keadilan dan kemakmuran hidup mereka. Tenteram, damai dan sejahtera. Para penguasa sadar bahwa kekuasaan mereka itu mereka dapat dari rakyat. Rakyat yang memberi kuasa kepada mereka karena tanpa adanya rakyat, tidak akan ada mereka.

Kekuasaan mereka itu bukan untuk sewenang-wenang mengandalkan kekuasaan, melainkan untuk membimbing rakyat melaksanakan segala macam pembangunan demi kesejahteraan. Para penguasa bukan sekedar memperhamba rakyat dan ingin dilayani, melainkan juga melayani rakyat jelata. Bukan mabok kekuasaan dan menumpuk harta berenang dalam kemewahan dan kesenangan duniawi, melainkan menujukan semua perjuangan demi mengangkat kehidupan rakyat yang miskin dan papa menjadi sejahtera, murah sandang pangan papan. Kalau para penguasa tidak berlumba menumpuk harta dengan cara yang curang dan korup, kalau para penguasa tidak sewenang-wenang mengandalkan kekuasaan mencari benar dan menang, kalau para penguasa benar-benar mencintai dan mementingkan perbaikan nasib rakyat, kalau para penguasa merupakan manusia-manusia yang taat berbakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga semua tindakan yang mereka ambil tidak menyimpang dari kebenaran, kalau semua penguasa menyadari betul bahwa mereka merupakan alat-alat Yang Maha Adil untuk melaksanakan tugas "memayu hayuning bhuwana", maka dengan sendirinya, seperti cabang ranting daun bunga; dan buah batang pohon yang sehat menjadi sehat pula, rakyat jelata pasti akan tunduk, taat, setia dan mencinta para pemimpinnya yang memegang kendali pemerintahan.
Pemerintah Kerajaan Kahuripan di bawah pimpinan Sang Prabu Erlangga menjadi contoh pemerintahan yang baik. Sang Prabu Erlangga bijaksana, baik budi, tidak mementingkan diri atau keluarga sendiri, tidak korup, atau singkatnya bertangan bersih. Maka, dengan sendirinya Ki Patih Narotama juga tidak berani mengotori tangannya karena tentu akan ditegur dan dihukum oleh rajanya. Demikian pula kalau tangan Ki Patih Narotama bersih, bawahannya, para senopati juga tidak berani mengotorkan tangan melakukan korupsi dan sebagainya karena pasti akan ditegur dan ditekan oleh atasan mereka, yaitu Ki Patih Narotama. Demikian seterusnya, para senopati yang bertangan bersih akan membuat bawahannya juga tidak berani mengotori tangan. Kalau ini terus berlanjut sampai pada pamong praja yang paling rendah kedudukannya, maka pemerintahan itu menjadi bersih, dipegang orang-orang yang bertangan bersih.
TAMAT

<<< Bagian 85                                                                       Badai Laut Selatan >>>